e-ISSN:2715-6451 Vol 7. : 68 Ae 78. Des 2025 Doi: 10. 46918/eboni. Journal Eboni KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PAKAN LEBAH Trigona sp. PADA KAWASAN BUDIDAYA KELOMPOK TANI HUTAN LESTARI DESA GANTARANG KABUPATEN SINJAI SULAWESI SELATAN Diversity of Bee Forage Plants (Trigona sp. ) In The Bee Cultivation Area of The Lestari Forest Farmers Group. Gantarang Village. Sinjai Regency Muhammad Usman, 1Asjulia, 1Muh Ichwan Kadir, 2Dea Ekaputri Andraini Affiliation Program Studi Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Makassar Fakultas Pertanian. Universitas Islam Makassar Coresponding author: *muhusmanrasyd099@gmail. Abstract Indonesia has strong potential for apiculture development due to its rich biodiversity and favorable climate. Trigona sp. is a stingless bee that plays an important role in pollination and produces high-quality honey. This study aimed to identify and assess the diversity of bee forage plants and their seasonal flowering patterns in a stingless bee cultivation area managed by the Hutan Lestari Farmers Group in Gantarang Village. The study was conducted in May 2025 in Gantarang Village. Central Sinjai District, using nested-plot vegetation analysis. Five 20 y 20 m plots were established to assess vegetation at the tree, pole, sapling, and seedling stages. The data were analyzed using the Importance Value Index (IVI) and ShannonAeWiener Diversity Index (HA). Eleven bee forage plant species were recorded. The highest IVI values were found for Gmelina arborea at the tree . 50%) and sapling . 74%) stages and Myristica fragrans at the pole . 37%) and seedling . 71%) stages. Diversity index values ranged from 1. 43 to 1. indicating moderate species diversity. Major forage plantsAiincluding nutmeg, clove. Arabica coffee, cocoa, rambutan, jackfruit, langsat, and mangosteenAishowed staggered flowering periods throughout the year. Overall, the study area has sufficient forage plant diversity to support Trigona However, increasing species diversity at the seedling and sapling stages is necessary to maintain the long-term availability of bee forage resources. Submit: 2025-8-24 Accepted: 2025-12-28 COPYRIGHT A 2025 by Journal Eboni. This Work is licenced under a Creative Commons Atribution 4. 0 International License Keywords apiculture. community forest. Myristica fragrans. Shannon-Wiener. stingless bee Pendahuluan Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah spesies lebah asli terbanyak di dunia menurut Food and Agriculture Organisation (FAO). Keanekaragaman tersebut mencakup berbagai jenis seperti lebah hutan (Apis dorsat. , lebah lokal (Apis ceran. , dan kelompok lebah tak bersengat dalam genus Trigona (Erwan et al. , 2. Tingginya keragaman spesies ini mencerminkan besarnya peluang pengembangan usaha perlebahan secara berkelanjutan dan berbasis lokal. Lebah Trigona sp. atau lebah tanpa sengat memiliki peran penting dalam ekosistem sebagai polinator dan lebih efisien dalam mengumpulkan pollen dan nektar dibandingkan lebah madu biasa. Produk dari lebah ini seperti madu Trigona sp. sangat dihargai karena manfaat kesehatan dan keunikannya yang berasal dari berbagai jenis tanaman hutan yang mereka kunjungi (Azizah et ,2. Pengelolaan hutan kemasyarakatan (HK. memberikan peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK), termasuk produk lebah. Hutan kemasyarakatan diIndonesia telah berkembang sebagai model pengelolaan yang memadukan konservasi dengan pemanfaatan ekonomi berkelanjutan. Salah satu kawasan yang memiliki prospek tinggi Adalah Hutan Kemasyarakatan Desa Gantarang di Sulawesi Selatan yang telah mengembangkan budidaya lebah Trigona sp. sebagai sumber pendapatan alternatif Masyarakat (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2. Keberhasilan budidaya lebah sangat bergantung pada ketersediaan sumber pakan berupa nektar dan pollen dari berbagai jenis tumbuhan berbunga. Keanekaragaman vegetasi pakan lebah menjadi Jurnal Eboni Vol. : 68-78. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. faktor kunci dalam menentukan produktivitas dan kualitas madu yang dihasilkan. Penelitian terdahulu mengenai vegetasi pakan lebah sebagian besar berfokus pada lebah bersengat seperti Apis mellifera di kawasan hutan alam (Lengka et al. , 2. atau pada perencanaan tata tanam pekarangan berbasis agroforestri (Andraini & Nasir, 2. , sementara kajian kuantitatif mengenai komposisi dan struktur vegetasi pakan lebah Trigona sp. pada berbagai strata pertumbuhan . ohon, tiang, pancang, dan sema. di kawasan hutan kemasyarakatan (HK. masih sangat terbatas. Padahal, informasi mengenai struktur vegetasi pada seluruh strata regenerasi sangat penting untuk menilai keberlanjutan sumber pakan jangka panjang, tidak hanya kondisi vegetasi dewasa. Kesenjangan inilah yang mendasari penelitian ini, yang secara khusus mengintegrasikan analisis Indeks Nilai Penting (INP) pada empat strata pertumbuhan dengan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener serta pola sebaran temporal . alender berbung. tumbuhan pakan lebah Trigona sp. di kawasan HKm. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis tumbuhan pakan lebah Trigona sp. dan menganalisis pola sebaran temporalnya di kawasan Hutan Kemasyarakatan Desa Gantarang. Kabupaten Sinjai. Sulawesi Selatan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah untuk pengembangan model pengelolaan hutan kemasyarakatan berbasis apikultur yang berkelanjutan. Methode Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2025 di kawasan Hutan Kemasyarakatan Desa Gantarang. Kecamatan Sinjai Tengah. Kabupaten Sinjai. Sulawesi Selatan. Lokasi penelitian terletak pada koordinat 5A8'S - 5A12'S dan 120A10'E - 120A15'E dengan ketinggian 100-800 m dpl. Topografi lokasi bervariasi dari landai hingga berbukit dengan kemiringan 2-40%. Iklim termasuk tipe B2-D3 menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson dengan curah hujan tahunan 2. 000 mm. Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Tahapan Penelitian Penentuan Plot Penelitian Penentuan plot penelitian menggunakan metode purposive sampling dengan mempertimbangkan tiga kriteria utama, yaitu: . keberadaan sarang aktif lebah Trigona sp. yang dibudidayakan oleh anggota Kelompok Tani Hutan Lestari dalam radius jelajah pakan lebah (A500 m dari titik budiday. , . keterwakilan variasi tutupan vegetasi dan topografi kawasan HKm, serta . aksesibilitas lokasi untuk pengambilan data. Berdasarkan kriteria tersebut, ditetapkan sebanyak 5 plot berukuran 20 m y 20 m Jurnal Eboni Vol. : 68-78. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. dengan jarak minimal 50 m antar plot untuk menghindari tumpang tindih pengambilan data dan memastikan independensi sampel. Pengambilan Data Vegetasi Analisis vegetasi dilakukan menggunakan metode petak bersarang . ested samplin. dengan pembagian sub-plot sebagai berikut: A Tingkat pohon . iameter Ou20 c. : plot 20 m y 20 m A Tingkat tiang . iameter 10-19,9 cm, tinggi Ou1,5 . : plot 10 m y 10 m A Tingkat pancang . iameter 2-9,9 cm, tinggi Ou1,5 . : plot 5 m y 5 m A Tingkat semai . inggi <1,5 . : plot 2 m y 2 m Parameter yang diamati meliputi nama jenis, jumlah individu, diameter setinggi dada/dbh . ntuk tingkat pohon dan tian. , tinggi tanaman . ntuk tingkat pancang dan sema. , serta kondisi pertumbuhan Identifikasi jenis tumbuhan dilakukan secara langsung di lapangan berdasarkan ciri morfologi vegetatif dan generatif . entuk daun, batang, bunga, dan bua. dengan bantuan buku identifikasi flora, serta dikonfirmasi melalui wawancara semi-terstruktur dengan anggota Kelompok Tani Hutan Lestari yang berpengalaman mengelola budidaya lebah Trigona sp. di lokasi tersebut. Setiap jenis yang teridentifikasi didokumentasikan dalam bentuk foto morfologi sebagai bahan verifikasi. Data pola sebaran waktu berbunga . alender berbung. tumbuhan pakan lebah disusun berdasarkan kombinasi hasil pengamatan fenologi langsung selama survei lapangan bulan Mei 2025, wawancara recall dengan anggota Kelompok Tani Hutan Lestari mengenai pola berbunga sepanjang tahun sebelumnya, serta triangulasi dengan data sekunder dari literatur fenologi tumbuhan budidaya setempat (Andraini & Nasir, 2025. Rohman et al. , 2. untuk melengkapi periode di luar waktu survei. Analisis Data Analisis Vegetasi Analisis vegetasi dilakukan untuk menggambarkan struktur, komposisi, dominansi, dan tingkat keanekaragaman jenis pada setiap tingkat pertumbuhan. Parameter yang dihitung meliputi kerapatan, kerapatan relatif, frekuensi, frekuensi relatif, dominansi, dominansi relatif. Indeks Nilai Penting (INP), dan Indeks Keanekaragaman ShannonAeWiener. Perhitungan setiap parameter dilakukan secara terpisah pada tingkat semai, pancang, tiang, dan pohon menggunakan rumus sebagaimana disajikan pada Tabel Tabel 1. Rumus parameter analisis vegetasi No. Parameter Rumus ycAycn 1 Kerapatan (K) yaycn = ya 2 Kerapatan Relatif (KR) 3 Frekuensi (F) 4 Frekuensi Relatif (FR) Keterangan (N_. = jumlah individu jenis ke. (A) = luas total plot Menunjukkan persentase kerapatan suatu jenis terhadap kerapatan seluruh jenis (P_. = jumlah plot tempat jenis ke-. (P) = jumlah total plot Menunjukkan persentase frekuensi suatu jenis terhadap frekuensi seluruh jenis 5 Luas Bidang Dasar (LBD) . = diameter batang 6 Luas Bidang Dasar dalam mA Digunakan apabila diameter diukur dalam sentimeter 7 Dominansi (D) Digunakan khusus untuk tingkat tiang dan pohon 8 Dominansi Relatif (DR) Menunjukkan persentase dominansi suatu jenis terhadap dominansi seluruh jenis Nilai maksimum INP = 200% 9 INP Semai dan Pancang 10 INP Tiang dan Pohon Nilai maksimum INP = 300% Jurnal Eboni Vol. : 68-78. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. 11 Indeks H' = -. i y ln. ] Keanekaragaman H' = Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener pi = proporsi nilai penting jenis ke-i, yaitu pi = INPi / INP Hasil Dan Pembahasan Komposisi Jenis Tumbuhan Pakan Lebah Tingkat Pohon Hasil analisis vegetasi pada tingkat pohon di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HK. Desa Gantarang menunjukkan (Tabel . bahwa terdapat 11 jenis tumbuhan pakan lebah. Jenis-jenis tersebut terdiri atas tanaman kehutanan, perkebunan, dan tanaman buah yang berpotensi menyediakan sumber nektar, polen, maupun resin bagi lebah. Komposisi dan tingkat penguasaan setiap jenis ditentukan berdasarkan nilai kerapatan, frekuensi, dominansi, serta Indeks Nilai Penting (INP). Tabel 2. Analisis vegetasi tingkat pohon di kawasan HKm Desa Gantarang Nama Jenis Nama Ilmiah (%) Jati putih Pala Cengkeh Nangka Kakao Karet Rambutan Langsat Kopi arabika Manggis Pangi Gmelina Myristica Syzygium Artocarpus Theobroma Hevea Nephelium Lansium Coffea arabica Garcinia Pangium (%) (%) INP (%) Sumber: Data Primer 2025. Keterangan: K = kerapatan . nd/h. KR = kerapatan relatif. F = frekuensi. FR = frekuensi relatif. D =dominansi . A/h. DR = dominansi relatif. INP = indeks nilai penting Berdasarkan Tabel 2, jati putih (Gmelina arbore. memiliki nilai INP tertinggi, yaitu 89,50%, terutama karena nilai dominansi relatifnya mencapai 54,88%. Hal ini menunjukkan bahwa jati putih memiliki tingkat penguasaan ruang tumbuh dan ukuran bidang dasar yang lebih besar dibandingkan jenis lainnya. Pala (Myristica fragran. menempati urutan kedua dengan INP sebesar 57,79% dan memiliki kerapatan relatif tertinggi, yaitu 28,85%, serta ditemukan pada seluruh plot pengamatan dengan nilai frekuensi 1,00. Cengkeh (Syzygium aromaticu. juga memiliki penyebaran yang luas karena ditemukan pada seluruh plot, dengan nilai frekuensi relatif sebesar 19,23% dan INP sebesar 47,90%. Jenis lain yang memiliki nilai INP cukup tinggi adalah kakao (Theobroma caca. sebesar 23,63% dan nangka (Artocarpus heterophyllu. sebesar 20,03%. Sementara itu, langsat, kopi arabika, dan manggis memiliki nilai INP paling rendah, masing-masing sebesar 7,24%, 6,66%, dan 6,71%, yang menunjukkan bahwa keberadaan jenis tersebut relatif terbatas pada lokasi Hasil analisis vegetasi tingkat pohon menunjukkan terdapat 11 jenis tumbuhan dengan INP tertinggi adalah jati putih (Gmelina arbore. sebesar 89,50%. Dominasi jati putih terutama disebabkan oleh nilai dominansi relatif yang tinggi . ,88%), mengindikasikan ukuran batang yang besar. Kondisi ini sejalan dengan pola suksesi hutan tanaman campuran, di mana jenis berpertumbuhan cepat dan berdiameter besar cenderung mendominasi struktur tegakan atas (Odum, 1993. Kusumawati, 2. Meskipun demikian, jati putih bukanlah sumber pakan utama lebah Trigona sp. karena jarang menghasilkan bunga Jurnal Eboni Vol. : 68-78. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. yang mengandung nektar berkualitas. Pala (Myristica fragran. menempati posisi kedua dengan INP 57,79% dan merupakan sumber pakan utama lebah karena menghasilkan bunga jantan yang kaya Periode berbunga pala yang panjang (September-Januar. menjadikannya sebagai tumbuhan strategis dalam mendukung keberlanjutan pakan lebah (Nurkhan et al. , 2. Tingkat Tiang Hasil analisis vegetasi pada tingkat tiang (Tabel . di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HK. Desa Gantarang menunjukkan bahwa terdapat sembilan jenis tumbuhan pakan lebah dengan jumlah keseluruhan sebanyak 38 individu. Komposisi dan tingkat penguasaan setiap jenis dianalisis berdasarkan kerapatan, frekuensi, dominansi, dan Indeks Nilai Penting (INP ). Tabel 3. Analisis vegetasi tingkat tiang di kawasan HKM Desa Gantarang No Nama Nama Ilmiah Jml Jenis (%) (%) Jati putih Gmelina Pala Myristica Cengkeh Syzygium Nangka Artocarpus Kopi Coffea arabica Kakao Theobroma Manggis Garcinia Rambutan Nephelium Langsat Lansium (%) INP (%) Sumber: Data Primer 2025. Keterangan: K = kerapatan . nd/h. KR = kerapatan relatif. F = frekuensi. FR = frekuensi relatif. D =dominansi . A/h. DR = dominansi relatif. INP = indeks nilai penting Berdasarkan Tabel 3, pala (Myristica fragran. memiliki nilai INP tertinggi, yaitu 83,37%. Tingginya nilai tersebut didukung oleh kerapatan relatif sebesar 34,21% dan dominansi relatif sebesar 32,49%, yang juga merupakan nilai tertinggi dibandingkan jenis lainnya. Pala ditemukan sebanyak 13 individu dengan frekuensi sebesar 0,60, sehingga menunjukkan bahwa jenis ini memiliki tingkat penguasaan yang paling besar pada vegetasi tingkat tiang. Jati putih (Gmelina arbore. menempati urutan berikutnya dengan nilai INP sebesar 53,53%. Meskipun jumlah individunya hanya empat, jati putih memiliki frekuensi tertinggi, yaitu 0,80, dengan frekuensi relatif sebesar 22,22%. Hal ini menunjukkan bahwa jati putih tersebar lebih merata pada plot pengamatan. Cengkeh (Syzygium aromaticu. memiliki nilai INP yang hampir sama, yaitu 52,48%, dengan kerapatan relatif sebesar 23,68% dan dominansi relatif sebesar 17,69%. Jenis lain yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap struktur vegetasi tingkat tiang adalah kakao (Theobroma caca. dengan INP sebesar 41,21% dan rambutan (Nephelium lappaceu. sebesar 27,57%. Sementara itu, manggis (Garcinia mangostan. memiliki nilai INP terendah, yaitu 9,76%, diikuti kopi arabika (Coffea arabic. dan langsat (Lansium domesticu. yang masing-masing memiliki INP sebesar 9,93%. Rendahnya nilai INP tersebut berkaitan dengan jumlah individu dan penyebarannya yang terbatas pada plot pengamatan. Pada tingkat tiang, pala (Myristica fragran. mendominasi dengan INP 83,37%, menunjukkan regenerasi yang sangat baik. Hal ini menguntungkan bagi keberlanjutan budidaya lebah karena pala merupakan sumber nektar berkualitas tinggi. Keberadaan 13 individu pala pada tingkat tiang mengindikasikan potensi peningkatan sumber pakan di masa mendatang, sejalan dengan Rohman et al. yang menyatakan bahwa tingginya jumlah individu muda suatu jenis pakan menjadi indikator potensi keberlanjutan sumber pakan pada strata yang lebih matang. Jurnal Eboni Vol. : 68-78. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Tingkat Pancang Hasil analisis vegetasi tingkat pancang (Tabel . di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HK. Desa Gantarang menunjukkan bahwa terdapat enam jenis tumbuhan pakan lebah dengan jumlah keseluruhan sebanyak 16 individu. Komposisi dan tingkat penguasaan masing-masing jenis dianalisis berdasarkan nilai kerapatan, frekuensi, dominansi, dan Indeks Nilai Penting (INP). Tabel 4. Analisis vegetasi tingkat pancang di kawasan HKM Desa Gantarang Nama Nama Jml Jenis Ilmiah (%) (%) 1 Jati putih Gmelina 2 Nangka Artocarpus 3 Pala Myristica 4 Kopi Coffea 5 Kakao Theobroma 6 Cengkeh Syzygium (%) INP (%) Sumber: Data Primer 2025. Keterangan: K = kerapatan . nd/h. KR = kerapatan relatif. F = frekuensi. FR = frekuensi relatif. D =dominansi . A/h. DR = dominansi relatif. INP = indeks nilai penting Berdasarkan Tabel 4, jati putih (Gmelina arbore. memiliki nilai INP tertinggi, yaitu 105,74%. Tingginya nilai tersebut terutama dipengaruhi oleh dominansi relatif sebesar 54,07%, yang merupakan nilai tertinggi dibandingkan jenis lainnya. Jati putih ditemukan sebanyak empat individu dengan kerapatan relatif sebesar 25,00% dan frekuensi relatif sebesar 26,67%. Hal ini menunjukkan bahwa jati putih memiliki penguasaan ruang tumbuh yang paling besar serta tersebar cukup luas pada plot pengamatan. Cengkeh (Syzygium aromaticu. menempati urutan kedua dengan nilai INP sebesar 78,35%. Jenis ini memiliki jumlah individu terbanyak, yaitu lima individu, dengan kerapatan relatif tertinggi sebesar 31,25%. Cengkeh juga memiliki frekuensi relatif sebesar 26,67% dan dominansi relatif sebesar 20,44%, yang menunjukkan bahwa jenis ini merupakan salah satu penyusun utama vegetasi tingkat pancang. Pala (Myristica fragran. memiliki nilai INP sebesar 44,72%, dengan kerapatan relatif sebesar 18,75% dan frekuensi relatif sebesar 20,00%. Selanjutnya, kakao (Theobroma caca. memiliki nilai INP sebesar 38,40%. Meskipun hanya ditemukan sebanyak dua individu, kakao memberikan kontribusi dominansi relatif sebesar 12,57%. Nangka (Artocarpus heterophyllu. dan kopi arabika (Coffea arabic. memiliki nilai INP paling rendah, masing-masing sebesar 16,68% dan 16,11%. Kedua jenis tersebut masing-masing hanya ditemukan sebanyak satu individu dan memiliki frekuensi relatif sebesar 6,67%, sehingga keberadaannya tergolong terbatas pada lokasi pengamatan. Tingkat pancang didominasi oleh jati putih (INP 105,74%) diikuti cengkeh (INP 78,35%). Dominasi jati putih yang konsisten pada berbagai strata mengindikasikan spesies ini memiliki adaptabilitas tinggi terhadap kondisi lingkungan setempat, namun perlu pengelolaan untuk memberikan ruang bagi tumbuhan pakan lebah. Pola ini konsisten dengan Lengka et al. yang menemukan bahwa dominansi jenis non-pakan pada strata muda dapat menghambat regenerasi tumbuhan penghasil nektar apabila tidak dikelola melalui penjarangan Tingkat Semai Hasil analisis vegetasi tingkat semai di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HK. Desa Gantarang menunjukkan bahwa terdapat lima jenis tumbuhan pakan lebah dengan jumlah keseluruhan sebanyak 14 individu. Struktur dan tingkat penguasaan masing-masing jenis ditentukan berdasarkan nilai kerapatan, frekuensi, serta Indeks Nilai Penting (INP), sebagaimana disajikan pada Tabel 5. Jurnal Eboni Vol. : 68-78. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Tabel 5. Analisis vegetasi tingkat semai di kawasan HKM Desa Gantarang Nama Jenis Nama Ilmiah Jml (%) Jati putih Kopi arabika Pala Cengkeh Gmelina arborea Coffea arabica Myristica fragrans Syzygium aromaticum Kakao Theobroma cacao INP (%) (%) Sumber: Data Primer 2025. Keterangan: K = kerapatan . nd/h. KR = kerapatan relatif. F = frekuensi. FR = frekuensi relatif. D =dominansi . A/h. DR = dominansi relatif. INP = indeks nilai penting Berdasarkan Tabel 5, pala (Myristica fragran. memiliki nilai INP tertinggi, yaitu 85,71%. Jenis ini ditemukan sebanyak enam individu dan memiliki kerapatan relatif sebesar 42,86% serta frekuensi relatif sebesar 42,86%. Tingginya nilai INP tersebut menunjukkan bahwa pala merupakan jenis yang paling dominan pada tingkat semai dan memiliki kemampuan regenerasi yang relatif lebih baik dibandingkan jenis lainnya. Jati putih (Gmelina arbore. menempati urutan kedua dengan nilai INP sebesar 42,86%. Jenis ini ditemukan sebanyak tiga individu dengan kerapatan relatif dan frekuensi relatif masing-masing sebesar 21,43%. Kopi arabika (Coffea arabic. dan kakao (Theobroma caca. memiliki nilai INP yang sama, yaitu 28,57%. Kedua jenis tersebut masing-masing ditemukan sebanyak dua individu serta memiliki kerapatan relatif dan frekuensi relatif sebesar 14,29%. Cengkeh (Syzygium aromaticu. memiliki nilai INP terendah, yaitu 14,29%. Jenis ini hanya ditemukan sebanyak satu individu dengan kerapatan relatif dan frekuensi relatif masing-masing sebesar 7,14%. Rendahnya nilai INP menunjukkan bahwa regenerasi alami cengkeh pada lokasi pengamatan relatif lebih terbatas dibandingkan jenis lainnya Pada tingkat semai, pala mendominasi dengan INP 85,71%, menunjukkan regenerasi alami yang sangat baik. Tingginya jumlah semai pala . mengindikasikan kondisi habitat yang sesuai dan potensi keberlanjutan sumber pakan lebah jangka Hasil ini mendukung pernyataan Nurkhan et al. bahwa keberhasilan regenerasi jenis pakan utama pada tingkat semai menjadi indikator penting keberlanjutan sumber pakan lebah Trigona jangka panjang. Indeks Keanekaragaman Vegetasi Indeks keanekaragaman vegetasi dihitung menggunakan Indeks ShannonAeWiener ((H')) pada setiap tingkat pertumbuhan. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai keanekaragaman vegetasi pakan lebah Trigona sp. pada tingkat pohon, tiang, pancang, dan semai termasuk dalam kategori sedang, sebagaimana disajikan pada Tabel 6. Tabel 06. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener vegetasi pakan lebah Trigona sp. Tingkat Pertumbuhan Jumlah Jenis Kategori Pohon 1,93 Sedang Tiang 1,79 Sedang Pancang 1,63 Sedang Semai 1,43 Sedang Sumber: Data Primer 2025. Nilai indeks keanekaragaman tertinggi ditemukan pada tingkat pohon, yaitu sebesar 1,93, dengan jumlah 11 jenis. Tingkat tiang memiliki nilai (H') sebesar 1,79 dengan sembilan jenis, sedangkan tingkat pancang memiliki nilai (H') sebesar 1,63 dengan enam jenis. Nilai keanekaragaman terendah ditemukan pada tingkat semai, yaitu sebesar 1,43, dengan jumlah lima Secara umum, nilai indeks keanekaragaman menunjukkan kecenderungan menurun dari tingkat pohon menuju tingkat semai. Kondisi tersebut sejalan dengan berkurangnya jumlah jenis pada setiap tingkat pertumbuhan. Meskipun seluruh tingkat pertumbuhan berada dalam kategori sedang, vegetasi tingkat pohon memiliki komposisi jenis yang lebih beragam dibandingkan tingkat Indeks keanekaragaman pada semua tingkat pertumbuhan tergolong sedang . ,43-1,. Jurnal Eboni Vol. : 68-78. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Penurunan nilai H' dari pohon ke semai mengindikasikan berkurangnya keragaman jenis pada tahap regenerasi awal, sejalan dengan pola umum suksesi hutan tropis yang dikemukakan Odum . , di mana tekanan lingkungan dan kompetisi pada fase awal pertumbuhan cenderung menyeleksi jumlah jenis yang mampu beregenerasi. Hal ini perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan untuk mempertahankan diversitas vegetasi pakan lebah. Sebaran Temporal Tumbuhan Pakan Lebah Sebaran temporal tumbuhan pakan lebah dianalisis berdasarkan periode berbunga setiap jenis sepanjang tahun. Kalender pembungaan ini digunakan untuk menggambarkan kontinuitas potensi ketersediaan nektar dan polen bagi lebah Trigona sp. di kawasan HKm Desa Gantarang. Pola pembungaan masing-masing jenis disajikan pada Tabel 7. Tabel 07. Kalender berbunga tumbuhan pakan lebah Trigona sp. di HKM Desa Gantarang Jenis Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Tumbuhan Pala a a a Cengkeh a a Kopi arabika a a U Kakao a a a a a a a a a a a Rambutan a U a Nangka a Manggis a a a U Langsat a a a U Keterangan: a = masa berbunga utama. a = berbunga sporadis. U = tidak berbunga Des a a U a a a a U Berdasarkan Tabel 7, waktu pembungaan tumbuhan pakan lebah bervariasi antarjenis. Pala (Myristica fragran. memiliki masa berbunga utama pada Januari serta September hingga Desember. Cengkeh (Syzygium aromaticu. berbunga terutama pada OktoberAeDesember, sedangkan kopi arabika (Coffea arabic. memiliki masa berbunga utama yang relatif singkat, yaitu pada AprilAeMei. Langsat (Lansium domesticu. berbunga pada JuniAeAgustus. Beberapa jenis tanaman buah menunjukkan periode pembungaan yang hampir bersamaan. Rambutan (Nephelium lappaceu. dan nangka (Artocarpus heterophyllu. berbunga pada NovemberAeJanuari, sedangkan manggis (Garcinia mangostan. memiliki masa berbunga yang lebih panjang, yaitu pada DesemberAeMaret. Kakao (Theobroma caca. menunjukkan pola yang berbeda karena dapat berbunga secara sporadis sepanjang tahun. Kalender pembungaan tersebut menunjukkan bahwa tumbuhan pakan lebah memiliki pola berbunga yang saling melengkapi antarbulan. Pada FebruariAe Maret, sumber bunga utama berasal dari manggis. AprilAeMei dari kopi arabika. JuniAeAgustus dari September dari pala. serta OktoberAeJanuari dari kombinasi pala, cengkeh, rambutan, nangka, dan manggis. Di samping itu, pembungaan kakao yang berlangsung secara sporadis sepanjang tahun berpotensi menjadi sumber pakan tambahan ketika jenis lainnya tidak berada pada puncak pembungaan. Secara umum, keberagaman pola pembungaan menunjukkan adanya potensi ketersediaan sumber pakan bagi lebah Trigona sp. sepanjang tahun. Periode NovemberAeJanuari memiliki keragaman jenis berbunga yang relatif lebih tinggi, sedangkan AprilAeAgustus cenderung bergantung pada lebih sedikit jenis tumbuhan. Oleh karena itu, pemeliharaan jenis dengan periode berbunga berbeda diperlukan untuk menjaga kesinambungan sumber nektar dan polen, terutama pada bulan-bulan dengan jumlah jenis berbunga yang lebih terbatas. Sebaran temporal menunjukkan ketersediaan sumber pakan yang relatif berkelanjutan sepanjang tahun. Periode Oktober-Januari merupakan masa ketersediaan pakan tertinggi dengan berbunga simultan pala, cengkeh, rambutan, nangka, dan manggis. Periode April-Agustus menjadi masa kritis dengan ketersediaan pakan terbatas, hanya mengandalkan kopi arabika dan kakao. Pola ketersediaan pakan musiman ini sejalan dengan Andraini & Nasir . yang menekankan pentingnya perencanaan tata tanam untuk menjaga kontinuitas sumber pakan lebah sepanjang tahun. Impikasi Pengelolaan Hasil penelitian menunjukkan bahwa vegetasi pakan lebah di kawasan HKm Desa Gantarang memiliki komposisi yang berbeda pada setiap tingkat pertumbuhan. Pala (Myristica fragran. Jurnal Eboni Vol. : 68-78. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. memiliki nilai INP tertinggi pada tingkat tiang dan semai, sedangkan jati putih (Gmelina arbore. lebih dominan pada tingkat pohon dan pancang. Keberadaan pala pada tingkat semai dan tiang menunjukkan adanya potensi regenerasi jenis tersebut. Kondisi ini dapat mendukung keberlanjutan sumber pakan lebah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat apabila pemeliharaan dan regenerasinya dikelola dengan baik. Dominasi jati putih pada tingkat pohon dan pancang menunjukkan besarnya kontribusi jenis tersebut terhadap struktur tegakan. Meskipun demikian, tingginya dominansi tidak langsung menunjukkan bahwa jati putih menghambat pertumbuhan jenis pakan lebah lainnya. Oleh karena itu, tindakan seperti penjarangan selektif perlu didasarkan pada evaluasi lebih lanjut terhadap kerapatan tajuk, intensitas cahaya, persaingan ruang tumbuh, dan kondisi regenerasi jenis lain. Pengelolaan tegakan sebaiknya diarahkan pada pemeliharaan struktur vegetasi campuran dengan tetap mempertahankan jenis yang telah ada serta memberikan ruang bagi pala, cengkeh, kopi, kakao, dan tanaman buah lainnya untuk tumbuh dan beregenerasi. Kalender pembungaan menunjukkan bahwa sumber bunga tersedia pada waktu yang berbeda sepanjang tahun. Periode NovemberAeJanuari memiliki jumlah jenis berbunga relatif lebih banyak, sedangkan AprilAeAgustus hanya didukung oleh beberapa jenis, terutama kopi arabika pada AprilAeMei, langsat pada JuniAeAgustus, serta kakao yang berbunga secara sporadis sepanjang tahun. Dengan demikian, periode tersebut lebih tepat disebut sebagai periode dengan keragaman sumber bunga yang relatif rendah, bukan periode tanpa pakan sama sekali. Upaya pengayaan vegetasi dapat dilakukan dengan menanam jenis yang berbunga pada bulan-bulan ketika sumber bunga relatif terbatas. Pemilihan jenis perlu mengutamakan tumbuhan lokal atau jenis yang telah beradaptasi dengan kondisi ekologis kawasan, terbukti dimanfaatkan oleh lebah Trigona sp. , serta tidak berpotensi menjadi invasif. Kapuk randu (Ceiba pentandr. , johar (Senna siame. , soka (Ixora spp. ), dan lantana (Lantana camar. dapat dipertimbangkan setelah dilakukan penilaian kesesuaian lokasi dan risiko ekologis. Khusus lantana, penggunaannya perlu dikaji secara hati-hati karena jenis ini dapat berkembang agresif pada beberapa habitat. Pola tanam campuran dapat diterapkan dengan mengombinasikan tumbuhan kehutanan, perkebunan, buah-buahan, dan tanaman berbunga bawah tajuk. Pengaturan komposisi tanaman berdasarkan periode pembungaan dapat meningkatkan kesinambungan sumber nektar dan polen. Selain mendukung budidaya lebah, pola tersebut berpotensi menghasilkan manfaat ekonomi melalui pemanfaatan pala, cengkeh, kopi, kakao, rambutan, nangka, manggis, dan langsat. Pengelolaan ini perlu disertai pemeliharaan regenerasi alami, pembatasan penggunaan pestisida yang berisiko terhadap lebah, serta pemantauan kalender berbunga secara berkala. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pengamatan dilakukan pada kawasan yang terbatas sehingga hasilnya belum dapat menggambarkan kondisi vegetasi pakan lebah pada seluruh wilayah HKm atau kawasan lain dengan karakteristik lingkungan berbeda. Penilaian potensi pakan juga masih didasarkan pada keberadaan jenis, struktur vegetasi, dan kalender pembungaan, tanpa mengukur secara langsung jumlah bunga, produksi nektar dan polen, kadar gula nektar, serta intensitas kunjungan lebah pada setiap jenis tumbuhan. Oleh karena itu, jenis dengan INP tinggi belum tentu menjadi sumber pakan yang paling banyak dimanfaatkan oleh Kalender pembungaan yang digunakan juga belum menggambarkan variasi antartahun serta pengaruh curah hujan, suhu, kelembapan, dan perubahan musim terhadap awal, puncak, dan lama pembungaan. Selain itu, penelitian belum menghubungkan komposisi vegetasi dengan jumlah koloni, aktivitas pencarian pakan, produksi madu, propolis, maupun kondisi kesehatan koloni. Konsistensi perhitungan pada setiap tingkat pertumbuhan juga perlu diperiksa kembali, terutama pada penggunaan komponen dominansi dalam perhitungan INP tingkat pancang serta nilai frekuensi yang secara teoritis seharusnya berada pada rentang 0Ae1. Penelitian selanjutnya disarankan melakukan pengamatan fenologi selama sedikitnya satu tahun penuh dan, apabila memungkinkan, dilanjutkan selama beberapa tahun untuk menangkap variasi musim. Pengukuran sebaiknya mencakup kelimpahan bunga, volume dan Jurnal Eboni Vol. : 68-78. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. konsentrasi gula nektar, ketersediaan polen, frekuensi kunjungan lebah, serta kontribusi setiap jenis terhadap produktivitas koloni. Analisis polen pada madu atau polen yang dibawa lebah juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi tumbuhan yang benar-benar dimanfaatkan sebagai sumber pakan. Penelitian lanjutan juga perlu membandingkan lokasi dengan komposisi vegetasi yang berbeda, menguji hubungan antara jarak tanaman pakan dan lokasi sarang, serta mengevaluasi efektivitas pengayaan jenis pada periode pembungaan rendah. Dengan pendekatan tersebut, rekomendasi pengelolaan dapat disusun berdasarkan tidak hanya dominansi vegetasi, tetapi juga kontribusi nyata setiap jenis terhadap kontinuitas pakan dan produktivitas lebah Trigona sp. KESIMPULAN Kawasan Hutan Kemasyarakatan Desa Gantarang memiliki potensi yang baik untuk pengembangan budidaya lebah Trigona sp. dengan ditemukannya 11 jenis tumbuhan pakan. Dominasi Myristica fragrans . pada tingkat tiang (INP 83,37%) dan semai (INP 85,71%) menunjukkan prospek keberlanjutan sumber pakan yang baik. Indeks keanekaragaman vegetasi tergolong sedang pada semua tingkat pertumbuhan (H' = 1,43-1,. Sebaran temporal menunjukkan ketersediaan pakan optimal pada periode Oktober-Januari dan defisit pada periode April-Agustus. Pengelolaan HKm perlu diarahkan pada peningkatan diversitas vegetasi melalui penjarangan selektif jati putih dan introduksi spesies berbunga pada periode defisit untuk optimalisasi produktivitas budidaya lebah Trigona sp. DAFTAR PUSTAKA