Vol 6 No 1 . P ISSN 2615-160X || E ISSN 2987-5501 DOI: 10. 54180/joeces. Strategi Pembiasaan Guru Menumbuhkan Nasionalisme Anak Usia Dini melalui Bermain Edukatif di PAUD Cahya Mentari Aditia Luluk Salsabila1. Syifa Fauziah2. Swantyka Ilham Prahesti3. Nufitriani Kartika Dewi4 *aditialuluk1408@gmail. com1 syifafauziah@unw. id2, swantykailham@unw. nufitrianikartika@unw. *Universitas Ngudi Waluyo. Jawa Tengah. Indonesia ABSTRAK Penanaman nilai nasionalisme sejak usia dini menjadi urgensi di tengah tantangan globalisasi yang berpotensi memengaruhi identitas kebangsaan anak. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter melalui pembiasaan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi pembiasaan guru dalam menumbuhkan rasa nasionalisme serta menganalisis bentuk penerapan kegiatan bermain edukatif sebagai media pembiasaan nilai nasionalisme di PAUD Cahya Mentari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembiasaan nasionalisme dilaksanakan melalui keteladanan guru, rutinitas harian bernuansa kebangsaan, serta integrasi nilai dalam interaksi bermain. Adapun bentuk penerapan bermain edukatif meliputi bermain peran dan simbol kebangsaan, permainan kolaboratif, serta integrasi budaya lokal. Pembiasaan nasionalisme berbasis bermain terbukti efektif karena mengintegrasikan aspek keteladanan, habituasi, dan pengalaman sosial yang bermakna. Penelitian ini menghasilkan model konseptual pembiasaan nasionalisme berbasis bermain sebagai kontribusi terhadap pengembangan pendidikan karakter pada jenjang PAUD. Kata Kunci: Bermain Edukatif. Nasionalisme. PAUD. Pembiasaan. Pendidikan Karakter ABSTRACT Instilling nationalism values in early childhood has become increasingly urgent amid globalization challenges that may influence childrenAos national identity. Early Childhood Education (ECE) plays a strategic role in character formation through developmentally appropriate habituation practices. This study aims to describe teachersAo habituation strategies in fostering nationalism and to analyze the implementation of educational play activities as a medium for instilling nationalism values at PAUD Cahya Mentari. This research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through observation, interviews, and documentation. Data were analyzed using Miles and HubermanAos interactive model, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that nationalism habituation was implemented through teacher modeling, daily routines infused with national values, and the integration of values within play interactions. Educational play activities included role-playing with national symbols, collaborative games, and the integration of local cultural elements. Play-based habituation proved effective as it integrates modeling, systematic reinforcement, and meaningful social experiences. This study proposes a conceptual model of play-based nationalism habituation as a contribution to character education development in early childhood settings. Keywords: Educational Play. Nationalism. Early Childhood Education. Habituation. Character Education 1 Ae JOECES PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter dan identitas kebangsaan anak (Utari, 2. Pada fase ini, anak berada pada periode perkembangan yang sangat peka terhadap stimulasi nilai dan pembiasaan perilaku. Namun, di tengah arus globalisasi dan penerobosan budaya digital yang semakin masif, penguatan nilai nasionalisme sejak usia dini menjadi tantangan sekaligus kebutuhan strategis dalam menjaga identitas dan karakter bangsa (Akbar Brahma, 2. Meningkatnya arus globalisasi berdampak pada pergeseran nilai budaya pada anak, sedangkan paparan budaya global tanpa penguatan nilai lokal dapat memengaruhi orientasi sikap dan identitas kebangsaan anak. Kondisi ini menunjukkan adanya permasalahan mendasar dalam pendidikan anak usia dini, yaitu belum optimalnya strategi penanaman nilai nasionalisme yang kontekstual dan berkelanjutan . Nasionalisme pada anak usia dini tidak dimaknai sebagai pemahaman ideologis yang abstrak, melainkan sebagai pembiasaan sikap cinta tanah air, kebanggaan terhadap simbol bangsa, semangat persatuan, dan penghargaan terhadap keberagaman (Nur Amalia, 2. Penanaman nilai tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak. Piaget menjelaskan bahwa anak usia 5Ae6 tahun berada pada tahap praoperasional, di mana pembelajaran lebih efektif dilakukan melalui pengalaman konkret dan simbolik (Kuswanto, 2. Hal ini diperkuat bahwa pembelajaran pada anak usia dini perlu menekankan pengalaman langsung, eksplorasi, dan interaksi sosial sebagai sarana internalisasi nilai. Pembelajaran berbasis budaya menjadi sarana efektif dalam menanamkan nilai nasionalisme karena memberikan pengalaman langsung yang bermakna bagi anak, sehingga mereka mampu memahami dan menghargai warisan budaya secara lebih mendalam (Menyimak, 2. Dengan demikian, pendekatan pembelajaran yang digunakan harus bersifat kontekstual dan berbasis pengalaman anak. Dalam perspektif teori belajar, pembiasaan menjadi pendekatan yang relevan dalam membentuk perilaku anak, terutama pada fase perkembangan awal yang sangat responsif terhadap stimulus lingkungan. Skinner melalui teori behavioristik menjelaskan bahwa perilaku terbentuk melalui hubungan stimulusAerespon yang diperkuat oleh pemberian reinforcement secara konsisten, baik dalam bentuk penguatan positif maupun negatif (Nursaadah et al. , 2. Proses penguatan yang berulang ini memungkinkan terbentuknya kebiasaan yang relatif stabil dalam diri individu, sehingga perilaku yang diharapkan dapat muncul secara otomatis tanpa perlu instruksi berulang. Sementara itu. Bandura melalui social learning theory menekankan bahwa proses belajar tidak hanya terjadi melalui pengalaman langsung, tetapi juga melalui observasi terhadap perilaku orang Anak cenderung meniru . perilaku figur signifikan yang dianggap memiliki otoritas atau kedekatan emosional, terutama ketika perilaku tersebut terlihat mendapatkan konsekuensi positif atau penghargaan (Mushab Al Umairi, 2. Dalam konteks ini, konsep vicarious reinforcement menjadi penting, di mana anak belajar dari konsekuensi yang dialami orang lain tanpa harus mengalaminya secara langsung. Dengan demikian, pembiasaan perilaku tidak hanya bergantung pada penguatan yang diberikan secara langsung, tetapi juga pada kualitas lingkungan sosial yang menyediakan model perilaku yang layak ditiru. Dalam konteks pendidikan, guru memiliki peran sentral sebagai teladan sekaligus fasilitator pembelajaran, karena interaksi yang 2 Ae JOECES intens antara guru dan siswa menjadikan guru sebagai figur utama dalam proses internalisasi nilai dan pembentukan karakter (Listiana, 2. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai melalui tindakan nyata yang diamati dan ditiru oleh siswa dalam keseharian pembelajaran. Karenanya, konsistensi sikap dan perilaku guru menjadi faktor kunci dalam keberhasilan strategi pembiasaan di lingkungan sekolah. Salah satu pendekatan yang relevan dalam implementasi pembiasaan adalah melalui kegiatan bermain edukatif (Bermain, 2. Bermain merupakan kebutuhan esensial bagi anak usia dini karena melalui aktivitas bermain anak mengembangkan potensi kognitif, motorik, sosial, emosional, dan kepribadian secara menyeluruh (Zahra Nur Aziza et al. , 2. Semua aspek perkembangan anak dapat terstimulasi melalui bermain. Hal ini menjadikan anak memiliki rasa percaya diri yang tinggi, mereka juga merasa nyaman, dan memiliki keyakinan diri yang positif. Meskipun permainan sangat berpengaruh besar terhadap berbagai aspek perkembangan anak usia dini, namun beberapa belum tentu dapat digunakan. Oleh karena itu permainan edukatif sangatlah Alat permainan edukatif adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat atau sarana untuk bermain yang mengandung nilai edukatif, atau pendidikan, dan memiliki kemampuan untuk meningkatkan seluruh kemampuan anak (Fadlilah et al. , 2. Alat permainan edukatif merupakan salah satu solusi untuk membuat pembelajaran anak lebih menyenangkan, harapannya anak bisa melihat secara nyata tidak hanya melalui imajinasinya saja. Sedangkan fungsi Alat Permainan Edukatif (APE) adalah memotivasi peserta didik untuk bersifat konstruktif dan aktif atau memberikan pengalaman baru. Media digital, seperti cerita bergambar interaktif, mampu meningkatkan keterlibatan dan minat belajar anak karena menggabungkan unsur visual, audio, dan naratif yang menarik. Penggunaan media tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian materi, tetapi juga sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, dan emosional anak secara terpadu (Nia & Setyowati, 2. Ketika anak-anak mendengarkan dan menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu nasional, mereka mengamati dan meniru nilai-nilai yang terkandung dalam lirik lagu tersebut, seperti persatuan, toleransi, dan cinta tanah air. Dengan menggunakan musik sebagai media pendidikan, anak-anak dapat belajar dan menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama dengan cara yang alami dan menyenangkan. Selain itu, keterampilan guru dalam mengembangkan media pembelajaran yang kreatif dan berbasis teknologi terbukti dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan kontekstual bagi anak usia dini. Dengan demikian, bermain tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga merupakan proses pembelajaran yang bermakna dalam menanamkan nilai karakter, termasuk nasionalisme. Dalam perspektif konstruktivisme. Vygotsky menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan kolaborasi (Mushab Al Umairi, 2. Oleh karena itu, kegiatan bermain seperti bermain peran, permainan kolaboratif, dan aktivitas berbasis budaya lokal dapat menjadi sarana efektif dalam menanamkan nilai persatuan dan kebanggaan terhadap identitas Interaksi sosial dalam kegiatan belajar membantu anak mengonstruksi pemahaman nilai secara lebih mendalam. Hal ini diperkuat oleh integrasi nilai Pancasila melalui kegiatan bermain dan pembiasaan harian efektif dalam membentuk karakter kebangsaan anak secara konkret dan 3 Ae JOECES menyenangkan. Kolaborasi antara guru dan orang tua terbukti memiliki peran signifikan dalam mendukung perkembangan anak usia dini, khususnya dalam aspek kemampuan berbahasa. Bentuk kolaborasi tersebut diwujudkan melalui komunikasi dua arah yang aktif, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah, serta konsistensi penerapan strategi pembelajaran di rumah dan di Anak-anak yang mendapatkan stimulasi secara berkelanjutan dari kedua lingkungan tersebut menunjukkan peningkatan dalam keberanian berbicara, penguasaan kosakata, serta kemampuan menyampaikan gagasan secara lebih terstruktur. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi tidak hanya bersifat formal, tetapi menjadi praktik nyata yang berdampak langsung terhadap perkembangan anak. Meskipun demikian, kajian dalam lima tahun terakhir masih didominasi oleh penelitian pendidikan karakter secara umum, seperti religiusitas, disiplin, dan tanggung jawab. Penelitian yang secara spesifik mengkaji strategi pembiasaan guru dalam menumbuhkan nasionalisme melalui kegiatan bermain edukatif di satuan PAUD tertentu masih relatif terbatas. Pengembangan media pembelajaran tanpa mengkaji secara mendalam strategi implementasi pembiasaan dalam praktik sehari-hari. Selain itu, dalam konteks Kurikulum Merdeka, penguatan Profil Pelajar Pancasila menjadi agenda penting, namun implementasi konkret di tingkat PAUD masih belum banyak didokumentasikan secara empiris. Permasalahan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep pendidikan karakter dan praktik implementasi di lapangan, khususnya dalam penanaman nilai nasionalisme melalui strategi pembiasaan berbasis bermain. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis, kontekstual, dan berbasis pengalaman anak untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu rencana penyelesaian yang ditawarkan dalam penelitian ini adalah mengkaji secara mendalam strategi pembiasaan guru dalam menumbuhkan nasionalisme melalui kegiatan bermain edukatif di PAUD, sehingga diperoleh gambaran empiris mengenai praktik yang efektif dan dapat Lebih lanjut, pendekatan berbasis bermain dipandang relevan karena sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini yang belajar melalui aktivitas konkret, interaktif, dan Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai karakter, termasuk nasionalisme, dalam kegiatan bermain mampu meningkatkan internalisasi nilai secara lebih natural dibandingkan pendekatan instruksional yang bersifat formal. Selain itu, strategi pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari juga terbukti berkontribusi terhadap pembentukan karakter anak melalui proses pengalaman langsung dan pengulangan yang bermakna. Selain itu, dalam implementasi pembelajaran, guru dituntut untuk mampu menyesuaikan strategi dengan kebutuhan dan karakteristik anak. Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesesuaian strategi dengan kebutuhan peserta didik serta ketersediaan fasilitas pendukung. Lingkungan sosial yang kondusif berperan penting dalam membentuk empati, kreativitas, dan sikap sosial anak. Lebih lanjut. Guru memiliki peran strategis sebagai teladan, pembimbing, dan fasilitator dalam membangun kebiasaan positif melalui pembiasaan yang konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan penanaman nilai nasionalisme sangat bergantung pada strategi pembiasaan yang dirancang dan diimplementasikan oleh guru. 4 Ae JOECES Dengan demikian, urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya penguatan nilai nasionalisme sejak usia dini melalui strategi pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan dunia anak. Penelitian ini menjadi penting karena tidak hanya memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan kajian pendidikan karakter berbasis pembiasaan dan bermain, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi guru PAUD dalam merancang pembelajaran yang efektif. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi pembiasaan guru dalam menumbuhkan rasa nasionalisme pada anak usia dini melalui kegiatan bermain edukatif serta menganalisis bentuk penerapan kegiatan bermain edukatif sebagai media pembiasaan nilai nasionalisme di PAUD Cahya Mentari. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif (Arianto, 2. Pendekatan ini dipilih karena bertujuan untuk memahami secara mendalam strategi pembiasaan guru dalam menumbuhkan rasa nasionalisme pada anak usia dini melalui kegiatan bermain edukatif, serta menganalisis bentuk penerapannya dalam konteks pembelajaran nyata di satuan PAUD. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti menggali makna, proses, dan dinamika yang terjadi secara alamiah dalam lingkungan pendidikan. Penelitian dilaksanakan di PAUD Cahya Mentari dengan subjek penelitian meliputi guru kelas TK B serta anak usia 5Ae6 tahun sebagai partisipan utama dalam praktik pembiasaan. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive dengan mempertimbangkan keterlibatan langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembiasaan nasionalisme. Fokus penelitian diarahkan pada praktik pembelajaran seharihari yang mengintegrasikan nilai kebangsaan melalui kegiatan bermain edukatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi (Listiana, 2. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran faktual mengenai perilaku guru kelas dan anak selama kegiatan pembiasaan dan bermain berlangsung. Wawancara semi-terstruktur dilakukan kepada guru kelas, kepala sekolah, rekan guru sejawat, serta orang tua anak untuk menggali pemahaman, strategi, serta refleksi mereka terhadap implementasi pembiasaan nasionalisme. Dokumentasi berupa foto kegiatan. RPPH, serta arsip kegiatan sekolah digunakan sebagai data pendukung untuk memperkuat hasil observasi dan Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi (Moleong J lexy. Pada tahap reduksi data, peneliti melakukan proses seleksi, kategorisasi, dan pengkodean terhadap data mentah untuk mengidentifikasi tema dan subtema yang relevan dengan fokus Tahap penyajian data dilakukan melalui penyusunan narasi tematik yang sistematis agar pola strategi pembiasaan dan bentuk kegiatan bermain edukatif dapat terlihat secara jelas. Selanjutnya, penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap dengan proses verifikasi berkelanjutan selama penelitian berlangsung. 5 Ae JOECES Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari guru kelas, kepala sekolah, rekan guru sejawat, dan orang tua anak sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses ini bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas dan konsistensi temuan penelitian. Dengan pendekatan tersebut, penelitian ini berupaya menghasilkan deskripsi yang komprehensif dan analitis mengenai strategi pembiasaan guru serta bentuk penerapan kegiatan bermain edukatif dalam menumbuhkan rasa nasionalisme pada anak usia dini di PAUD Cahya Mentari. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan keseluruhan temuan penelitian, strategi pembiasaan nasionalisme di PAUD Cahya Mentari menunjukkan pola yang terintegrasi antara keteladanan guru, rutinitas harian bernuansa kebangsaan, serta integrasi nilai dalam interaksi bermain. Ketiga strategi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dalam membentuk proses internalisasi nilai yang Keteladanan guru menjadi fondasi afektif awal, rutinitas harian berfungsi sebagai mekanisme habituasi yang sistematis, sedangkan integrasi dalam bermain menjadi ruang kontekstual tempat nilai nasionalisme dialami secara langsung oleh anak. Strategi pembiasaan guru di PAUD Cahya Mentari dilaksanakan melalui kegiatan bermain edukatif yang terintegrasi dalam rutinitas harian, seperti menyanyikan lagu kebangsaan, mengenal simbol negara melalui permainan puzzle, bermain peran tokoh pahlawan, serta kegiatan kolaboratif bertema budaya Indonesia. Kegiatan tersebut dirancang secara sistematis agar nilai nasionalisme tertanam melalui pengalaman langsung. Di sisi lain, bentuk penerapan kegiatan bermain edukatif melalui bermain peran dan simbol kebangsaan, permainan kolaboratif, serta integrasi budaya lokal menunjukkan bahwa nasionalisme pada anak usia dini berkembang melalui pengalaman konkret, sosial, dan emosional. Bermain peran memperkuat pemahaman simbolik sesuai tahap praoperasional (Piage. , permainan kolaboratif membangun kesadaran kolektif melalui interaksi sosial (Vygotsk. , sedangkan integrasi budaya lokal menumbuhkan identitas kebangsaan yang berakar pada pengalaman kultural yang dekat dengan kehidupan anak. Pembelajaran pada jenjang PAUD seharusnya berfokus pada pengembangan aspek kognitif, sosial, emosional, dan moral anak secara holistik. Karenanya, penanaman nilai nasionalisme tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi secara verbal, tetapi melalui kegiatan yang melibatkan pengalaman langsung anak. Kegiatan berbasis proyek atau aktivitas kolaboratif memungkinkan anak terlibat aktif dalam proses pembelajaran, sehingga nilai seperti tanggung jawab, kerjasama, dan kepedulian sosial dapat berkembang secara alami. Dengan demikian, pembelajaran karakter pada anak usia dini menjadi lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan anak dalam kegiatan proyek secara signifikan mampu meningkatkan keterampilan sosial, komunikasi, serta 6 Ae JOECES kemampuan bekerja sama dalam kelompok. Dalam situasi kolaboratif tersebut, anak tidak hanya belajar menyelesaikan tugas, tetapi juga belajar memahami perspektif orang lain, mengelola konflik sederhana, serta membangun sikap empati dan toleransi. Selain itu, implementasi pembelajaran berbasis proyek pada pendidikan anak usia dini juga terbukti berkontribusi terhadap penguatan karakter melalui pembiasaan perilaku positif yang dilakukan secara berulang dalam konteks yang bermakna. Aktivitas yang dirancang secara kolaboratif mendorong anak untuk berpartisipasi aktif, mengambil peran, serta bertanggung jawab terhadap hasil bersama, sehingga nilai-nilai karakter tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga diinternalisasi melalui pengalaman nyata. Oleh karena itu, integrasi kegiatan berbasis proyek dalam pembelajaran anak usia dini menjadi strategi yang potensial untuk mengoptimalkan pengembangan karakter secara Pendekatan ini tidak hanya menempatkan anak sebagai subjek pembelajaran, tetapi juga sebagai individu yang aktif membangun pengetahuan dan nilai melalui interaksi sosial yang autentik dan bermakna. Dengan demikian, strategi pembiasaan guru melalui bermain edukatif tidak hanya membentuk pemahaman tentang simbol dan identitas bangsa, tetapi juga membangun keterikatan emosional anak terhadap nilai-nilai nasionalisme. Nasionalisme tidak hanya dibangun pada dimensi kognitif, tetapi juga pada dimensi afektif dan sosial. Proses ini menunjukkan bahwa pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, kontekstual, dan berbasis pengalaman langsung lebih efektif dalam membentuk karakter anak usia dini. Keteladanan Guru sebagai Fondasi Pembiasaan Nasionalisme Temuan penelitian menunjukkan bahwa keteladanan guru menjadi fondasi utama dalam pembiasaan nilai nasionalisme di PAUD Cahya Mentari. Guru tidak hanya menyampaikan nilai kebangsaan secara verbal, tetapi menampilkan sikap nasionalistik secara konsisten dalam aktivitas Salah satu guru menyatakan. AuAyo berdiri rapi seperti Ibu GuruAy (Observasi Guru Kela. Guru tidak menghentikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan tetap menunjukkan sikap Anak-anak kemudian menyesuaikan sikapnya. Pernyataan ini menegaskan kesadaran guru terhadap perannya sebagai model perilaku. Gambar. Keteladanan Guru sebagai Fondasi Pembiasaan Nasionalisme 7 Ae JOECES Observasi memperlihatkan bahwa saat menyanyikan lagu kebangsaan, guru berdiri tegap, menunjukkan ekspresi khidmat, serta memberikan isyarat nonverbal agar anak mengikuti dengan tertib (Dokumentasi Kegiatan Haria. Sikap tersebut direspons anak melalui peniruan spontan, yang menunjukkan terjadinya proses imitasi sebagai mekanisme pembelajaran sosial. Secara teoretis, praktik ini selaras dengan Social Learning Theory (Bandur. , yang menekankan bahwa perilaku anak terbentuk melalui observasi dan modeling. Keteladanan yang konsisten memperkuat internalisasi nilai karena anak memperoleh pengalaman konkret yang melibatkan dimensi visual dan emosional. Dengan demikian, nasionalisme tidak ditanamkan sebagai konsep abstrak, melainkan dibangun melalui pengalaman langsung yang diamati dan Rutinitas Harian sebagai Mekanisme Habituasi Nilai Kebangsaan Selain keteladanan, pembiasaan nasionalisme diperkuat melalui rutinitas harian yang terstruktur dan berkelanjutan. Kepala sekolah menjelaskan. AuA. kita juga kenalkan lagu-lagu nasional itu biasanya kita jadwalkan, misalnya untuk bulan ini itu lagu nasional yang muncul apa sesuai jadwalnya yang pembiasaan setiap hari itu to Mba ada lagu Indonesia Raya. Pancasila, terus lagu Garuda PancasilaAy (Wawancara Kepala Sekola. Gambar. Jadwal Lagu Nasional Gambar. Jadwal Lagu Daerah Dokumentasi jadwal pemutaran lagu nasional dan lagu daerah menunjukkan bahwa kegiatan bernuansa kebangsaan dirancang secara sistematis dalam perencanaan pembelajaran (Dokumentasi Jadwal Lagu Nasional & Daera. Observasi memperlihatkan bahwa anak menunjukkan sikap hormat kepada bendera merah putih saat kegiatan upacara bendera secara otomatis ketika lagu kebangsaan dinyanyikan, bahkan tanpa instruksi langsung dari guru. Respons ini mengindikasikan terbentuknya kebiasaan melalui pengulangan yang konsisten. Dalam perspektif behavioristik (Skinne. , pembiasaan melalui stimulus berulang dan penguatan positif membentuk pola perilaku yang relatif stabil. Penguatan tidak hanya berupa pujian verbal, tetapi juga pengakuan sosial yang memperkuat respons anak. Dengan demikian, 8 Ae JOECES rutinitas harian berfungsi sebagai mekanisme habituasi yang menanamkan nilai nasionalisme secara bertahap dan berkelanjutan. Integrasi Nilai Nasionalisme dalam Interaksi Bermain Pembiasaan nasionalisme tidak berhenti pada aktivitas rutin, tetapi diintegrasikan dalam interaksi bermain. Guru memanfaatkan dinamika sosial anak sebagai ruang refleksi nilai. Salah satu guru menyampaikan. AuSaat anak berebut mainan, saya menanamkan sikap berbagi dengan mengingatkan bahwa kita semua adalah temanAy (Wawancara Guru Kela. Gambar. Wawancara Guru Kelas Observasi menunjukkan bahwa konflik kecil dalam permainan dimediasi melalui dialog reflektif yang menekankan kebersamaan dan persatuan (Catatan Observasi Interaksi Bermai. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa nasionalisme dipraktikkan dalam konteks sosial konkret, bukan sekadar simbolik. Gambar. Dokumentasi Observasi Interaksi Bermain Praktik tersebut selaras dengan konstruktivisme sosial Vygotsky, di mana pembelajaran terjadi melalui interaksi dan scaffolding. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu anak 9 Ae JOECES memahami nilai melalui pengalaman sosial yang bermakna. Dengan demikian, internalisasi nasionalisme berlangsung dalam ruang partisipatif dan dialogis. Sintesis temuan ini memperlihatkan adanya integrasi tiga landasan teoretis utama, yaitu behavioristik . abituasi dan reinforcemen. , social learning . , serta konstruktivisme sosial . nteraksi dan pengalaman bermakn. Ketiganya terwujud dalam praktik pedagogis yang berorientasi pada pembiasaan berbasis bermain. Temuan ini memperluas kajian sebelumnya yang cenderung memisahkan pendekatan pembiasaan dan bermain sebagai dua strategi berbeda. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembiasaan yang efektif justru terjadi ketika nilai nasionalisme diinternalisasikan melalui aktivitas bermain yang dirancang secara reflektif dan kontekstual. Berdasarkan sintesis tersebut, penelitian ini mengusulkan suatu model konseptual pembiasaan nasionalisme berbasis bermain pada anak usia dini yang terdiri atas tiga komponen . Fondasi Keteladanan Guru, . Mekanisme Habituasi melalui Rutinitas Bernuansa Kebangsaan, dan . Internalisasi Nilai melalui Bermain Edukatif. Ketiga komponen ini saling berinteraksi secara dinamis dalam membentuk sikap nasionalisme anak. Keteladanan menyediakan contoh konkret yang diamati anak, rutinitas memperkuat konsistensi perilaku melalui pengulangan, sedangkan bermain menjadi medium internalisasi nilai secara sosial dan Model ini menegaskan bahwa pembentukan nasionalisme pada anak usia dini tidak efektif apabila hanya mengandalkan pengenalan simbol negara atau kegiatan seremonial semata. Internalisasi nilai memerlukan kombinasi antara contoh nyata, pengulangan sistematis, serta pengalaman sosial yang bermakna. Dengan demikian, pembiasaan nasionalisme berbasis bermain dapat dipahami sebagai pendekatan pedagogis yang holistik, yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan sosial dalam proses pembelajaran PAUD. Secara konseptual, model ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendidikan karakter di PAUD dengan menempatkan bermain bukan sebagai aktivitas pendukung, melainkan sebagai medium utama internalisasi nilai kebangsaan. Temuan ini juga memperkuat urgensi peran guru sebagai agen strategis dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga sarat makna dan berorientasi pada pembentukan identitas nasional sejak dini. Secara lebih mendalam, strategi pembiasaan guru dalam menu mbuhkan nasionalisme melalui kegiatan bermain edukatif menunjukkan bahwa internalisasi nilai tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses pengulangan yang konsisten dan bermakna. Pembiasaan yang dilakukan setiap hari, seperti menyanyikan lagu kebangsaan, mengenal simbol negara, serta bermain peran tokoh pahlawan, membentuk pola perilaku yang secara perlahan menjadi bagian dari karakter anak. Proses ini sejalan dengan teori behavioristik yang menekankan pentingnya penguatan . dalam pembentukan perilaku. Ketika guru memberikan apresiasi terhadap perilaku yang mencerminkan sikap cinta tanah air, anak cenderung mengulang perilaku tersebut dalam kesempatan berikutnya. 10 Ae JOECES Namun demikian, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pembiasaan tidak hanya bersifat stimulusAerespon semata. Interaksi sosial dalam kegiatan bermain berperan signifikan dalam memperkuat pemaknaan nilai nasionalisme. Anak-anak belajar bekerja sama, bergiliran, serta menghargai perbedaan saat terlibat dalam permainan kelompok bertema budaya Indonesia. Dalam konteks ini, pendekatan konstruktivistik Vygotsky menjadi relevan, karena nilai kebangsaan dikonstruksi melalui dialog, kerja sama, dan pengalaman sosial yang konkret. Dengan kata lain, nasionalisme tidak diajarkan secara doktrinal, tetapi dibangun melalui pengalaman sosial yang menyenangkan. Selain itu, dimensi afektif menjadi aspek yang menonjol dalam temuan penelitian ini. Anakanak menunjukkan ekspresi bangga ketika mengenakan atribut bernuansa merah putih atau ketika berhasil menyusun puzzle lambang negara. Respons emosional tersebut mengindikasikan bahwa pembelajaran yang dirancang melalui bermain mampu menyentuh ranah perasaan anak. Hal ini penting karena nasionalisme pada anak usia dini lebih efektif ditumbuhkan melalui pengalaman emosional positif dibandingkan melalui penjelasan konseptual yang abstrak. Di sisi lain, penelitian ini juga mengungkap bahwa keberhasilan strategi pembiasaan sangat bergantung pada konsistensi dan kreativitas guru dalam merancang aktivitas bermain. Guru yang mampu mengintegrasikan nilai kebangsaan ke dalam berbagai jenis permainan menunjukkan hasil yang lebih optimal dibandingkan dengan pendekatan yang bersifat monoton. Dengan demikian, kompetensi pedagogik guru menjadi faktor kunci dalam efektivitas pembiasaan nilai nasionalisme di PAUD. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa strategi pembiasaan melalui bermain edukatif merupakan pendekatan yang relevan dan kontekstual dalam menumbuhkan rasa nasionalisme pada anak usia dini. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat aspek kognitif, tetapi juga membangun keterikatan emosional dan kebiasaan perilaku yang berkelanjutan. Oleh karena itu, praktik pembelajaran berbasis pembiasaan yang dirancang secara sistematis perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan karakter kebangsaan di satuan PAUD. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pembiasaan guru dalam menumbuhkan rasa nasionalisme pada anak usia dini di PAUD Cahya Mentari dilaksanakan melalui pendekatan yang terintegrasi antara keteladanan, rutinitas harian bernuansa kebangsaan, serta integrasi nilai dalam interaksi bermain. Keteladanan guru berfungsi sebagai fondasi afektif dalam pembentukan sikap nasionalisme melalui proses modeling yang konsisten. Rutinitas harian yang dilakukan secara sistematis memperkuat habituasi nilai kebangsaan melalui pengulangan dan penguatan positif. Sementara itu, integrasi nilai dalam interaksi bermain memungkinkan anak menginternalisasi nasionalisme secara kontekstual, sosial, dan bermakna. Bentuk penerapan kegiatan bermain edukatif sebagai media pembiasaan nilai nasionalisme diwujudkan melalui bermain peran dan penggunaan simbol kebangsaan, permainan kolaboratif, serta integrasi budaya lokal dalam aktivitas pembelajaran. Bermain peran membantu anak 11 Ae JOECES memahami simbol dan makna kebangsaan secara konkret sesuai tahap perkembangannya, permainan kolaboratif menumbuhkan semangat persatuan melalui pengalaman bekerja sama, dan integrasi budaya lokal memperkuat identitas nasional yang berakar pada pengalaman kultural yang dekat dengan kehidupan anak. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pembiasaan nasionalisme pada anak usia dini lebih efektif ketika dilakukan melalui pendekatan berbasis bermain yang mengintegrasikan keteladanan, habituasi, dan pengalaman sosial yang bermakna. Model konseptual pembiasaan nasionalisme berbasis bermain yang dihasilkan dalam penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan praktik pendidikan karakter di PAUD dengan menempatkan bermain sebagai medium utama internalisasi nilai kebangsaan sejak usia dini. DAFTAR PUSTAKA