BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal Volume 2 Nomor 2. July 2023 E-ISSN: 2807-7857. P-ISSN: 2807-9078 Meningkatkan Konsentrasi Belajar Melalui Kegiatan Ice Breaking Pada Anak Usia 5-6 Tahun di TK Nurul Iman Samarinda Afifah1*. Asty Rastiya2. NafiAoah3. Sabaniah4. Kautsar Eka Wardhana5 1,2,3,4,5 UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Received: July 8th, 2023. Revised: July 10th, 2023. Accepted: July 11th, 2023. Published: July 11th, 2023 Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kegiatan ice breaking di TK Nurul Iman Samarinda meningkatan konsentrasi belajar anak. TK Nurul Iman Samarinda menjadi lokasipenelitian proyek Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Ada tiga metode untuk mengumpulkan data yaitu: dokumntasi, wawancara, dan observasi. Peserta didik berjumlah 20 anak dengan 13 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Dalam enelitian ini dilaksanakan 1 siklus dalam 2 kali pertemuan. Kegiatan ice breaking menggunakan indicator: melakukan koordinasi gerakan mata, kaki, tangan dan kepala dalam menirukan tepuk ice breaking serta menstimulus motorik anak, anak-anak mengekspresikan dengan bernyanyi sambil bertepuk tangan, menyanyikan lagu dengan sikap yang benar, mengenal perasaan sendiri . yang perlu di lakukan saat bosan dan mengendalikan diri secara wajar, mengembalikan konsentrasi anak dalam belajar. Sebelum melakukan tindakan atau prasiklus, konsentrasi anak masih 40% dan setelah melakukan tindakan, konsentrasi anak mulai meningkat pada siklus 1 menjadi 95%. Oleh karena itu, kegiatan ice breaking ini dapat membantu anak-anak di TK Nurul Iman Samarinda dalam memberiakan perhatian lebih baik. Kata kunci: konsentarsi anak, ice breacking Abstract The aim of this research is to determine whether ice-breaking activities at TK Nurul Iman Samarinda enhance children's learning concentration. TK Nurul Iman Samarinda serves as the location for the Classroom Action Research (CAR) project. Three methods were employed to collect data: documentation, interviews, and observations. There were 20 participants, comprising 13 boys and 7 The research consisted of one cycle conducted in two meetings. The ice-breaking activities utilized indicators such as coordinating eye, foot, hand, and head movements while imitating the clapping in icebreaking, stimulating children's motor skills. The children expressed themselves by singing while clapping, singing songs with the correct posture, recognizing their own feelings . when feeling bored, and managing themselves appropriately to regain focus in learning. Before the intervention or pre-cycle, the children's concentration was at 40%, and after the intervention, the concentration increased to 95% in the first cycle. Therefore, the ice-breaking activities can assist children at TK Nurul Iman Samarinda in achieving better attention. Keywords: Child concentration. Ice breaking Copyright . 2023 Afifah. Asty Rastiya. NafiAoah. Sabaniah. Kautsar Eka Wardhana * Correspondence: Afifah Email Address: afiafifah2111@gmail. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 2. July 2023 Afifah. Asty Rastiya. NafiAoah. Sabaniah. Kautsar Eka Wardhana Pendahuluan Pada masa ini anak-anak melalui tahap perkembangan penting usia dini yang membentuk kepribadian dan karakter mereka, tahap ini disebut juga dengan masa emas (Andi Arif RifaAoi, 2. Salah satu aspek terpenting atau mendasar mendalam kehidupan manusia adalah pendidikan. (Rahmat Hidayat & Abdillah, 2. Pembelajaran di Tk Islam Nurul Iman sudah berjalan sesuai dengan RPP yang di buat guru kelas, tetapi banyak anak yang tidak fokus terhadap pembelajaran yang di sampaikan guru kelas, anak-anak terlibat dalam aktivitasnya mereka lebih suka fokus pada tugas mereka sendiri daripada mendengarkan guru saat mereka menyajikan pelajaran. Setiap siswa ingin belajar karena alasan yang berbeda-beda dan memiliki definisi yang berbeda-beda tentang apa itu konsentrasi (Feby Puspitasari & Ismail Marzuki, 2. Pada saat melaksanakan pembelajaran di Tk Islam Nurul Iman nyatanya masih banyak anak yang konsentrasi terganggu, bahkan banyak anak yang mengobrol dengan teman nya saat pembelajaran kegiatan inti di laksanakan, konsentrasi sangat penting karena anak perlu memusatkan pikirannya pada satu bahkan beberapa topik dan dapat mengesampingkan topik topik diluar pembelajaran. Pengelolaan konsentrasi belajar memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses pembelajaran. Tingkat konsentrasi yang optimal membantu peserta didik untuk mrmusatkan perharian pada materi pembelajaran, menghilangkan distraksi yang tidak relevan, dan meningkatkan kemampuan pemahaman (Siska Kusumawardani & Ajeng Larasati, 2. Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan persiapan pembelajaran yang Seorang anak yag menganggap pembelajaran menyenangkan akan memberikan respon yang lebih bai terhadap semua kegiatan pembelajaran dan guru akan lebih mudah menjelaskan materi. Dengan menerapkan teknik ice breaking, dapat menciptakan kesiapan belajar dan pengalaman pembelajaran yang menyenangkan bagi anak usia dini. Hal ini membantu mencegah rasa jenuh dan kebosanan selama proses Teknik ice breaking yang digunakan dalam pembelajaran yang menyenangkan juga dapat membantu anak mengatasi kebosanan dan meningkatkan efektifitas kegiatan belajar (Yenda Puspita, 2. Anak-anak di Taman Kanak-kanak masih mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian, mereka lebih cenderung menikmati kegiatan pribadi masing-masing, sering berbicara dengan teman-temannya, kesulitan untuk tenang di dalam kelas, dan velum mampu menyelesaikan tugas yang diberikan ole guru selama proses pembelajaran (Annisa Dio Ismi dkk, 2. Apabila kondisi ini di biarkan maka semua anak di Tk Islam Nurul Iman akan kehilangan fokus belajar nya sampai dewasa, perlu adanya perubahan dan cara mengembalikan konsentrasi anak. Penerapan kegiatan ice breaking memiliki peran penting dalam mengatasi masalah anak-anak yang mengalami kesulitan dalam berinteraksi dan berhubungan sosial. Melalui ice breaking kebekuan yang ada pada anak dapat dihilangkan, sehingga mereka dapat saling mengenal dengan lebih akrab. Hal ini berdampak positif pada perbaikan hubungan komunikasi diantara mereka, memungkinkan pemahaman yang lebih baik, serta memperkuat hubungan antar anak dalam kelas tanpa ada anak yang merasa terisolasi dari kelompok tertentu. Implementasi ice breaking diharapkan dapat menciptakan lingkungan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, menciptakan kondisi kelas yang kondusif, serta merangsang minat dan motivasi peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran (Hanim Aulia Maghfiroti dkk, 2. Kondisi senang pada anak diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan menjadi sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran. Satu opsi solusi untuk mengatasi masalah di atas yaitu dengan menerapkan ice breaking yang beragam selama proses kegiatan inti, agar konstrasi anak kembali guru kelas bisa menerapkan ice breaking tidak di awal dan akhir kegiatan saja tetapi di tengah-tengah kegiatan pembelajaran melakaukan ice breaking agar konstruksi anak di Tk Islam Nurul BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 2. July 2023 Meningkatkan Konsentrasi Belajar Melalui Kegiatan Ice Breaking Pada Anak Usia 5-6 Tahun di TK Nurul Iman Samarinda Iman bisa kembali dan anak tidak merasa bosan mendengar kan cerita dari guru kelas. Anak usia 4-5 tahun memang mempunyai konsentrasi yang bagus seperti orang dewasa tetapi sebagai guru harus bisa mengembalikan lagi konsentrasi anak didiknya. Tinjauan Pustaka Anak Usia Dini Masa anak usia dini mengacu pada mereka yang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun kognitif dengan cepat (Lailatul et al. , 2. Alasan mengapa masa bayi dini disebut sebagai Aumasa keemasanAy adalah karena anak-anak tumbuh dan berkembang dengan cepat pada masa ini, yang tidak dapat terulang kembali di kemudian hari. Diana mendefinisikan anak usia dini sebagai periode antara usia 0 dan 6 tahun, dimana anak mendapatkan stimulasi pendidikan untuk mendorong peningkatan perkembangan anak. Anak usia dini di sisi lain didefinisikan oleh NAEYC (Nation Association Education for Young Childre. sebagai kelompok usia antara 0 dan 8 tahun yang terdaftar di pusat penitipan anak, panti asuhan keluarga, dan pendidikan pra-sekolah (Dian dkk, 2. Menurut Montessori fase absormind atau tahap menyerap pikiran adalah tahap awal Anak-anak dapat memahami apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya dengan mudah pada tahap ini. Setiap pengetahuan yang dipelajari anak akan berdampak pada perkembangannya di kemudian hari. Anak pada tahap ini akan menjadi lebih matang secara fisik, psikologis dan siap untuk melanjutkan ke tahap berikutnya jika diberikan stimulus yang tepat sesuai dengan tahap perkembangannya. Selain itu menurut Hartant (Shofia Maghfiroh dan Dadan Suryana, 2. , anak usia din, mempunyai beberapa karakteristik yaitu rasa ingin tahu yang tinggi, kepribadian yang unik, suka meniru, mempunyai banyak fantasi dan imajinasi, keinginan untuk bereksplorasi, kesempatan terbesar belajar, menunjukkan diri sebagai makhluk social. Anak usia dini pada dasarnya meniru apa yang mereka lihat dan dengar karena mereka adalah peniru alami. Orang tua dan pendidik perlu memberi contoh. Anak usia dini suka melakukan kesalahan saat menyelidiki lingkungan sekitarnya. Kegemaran anak usia sini bermain dan berinteraksi dengan teman sekelasnya menjadi bukti bahwa mereka adalah makhluk sosial di masa awal hidupnya. Anak-anak mulai belajar bagaimana menunggu waktunya, berbagi, dan mengalah pada temannya. Anak belajar berbaur dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar melalui kontak sosial. Berdasarkan uraian di atas bahwa seorang anak adalah masa dimana mereka mempunyai kesempatan paling besar untuk belajar dan mencapai potensi maksimalnya. Oleh karena itu, penting untuk memberikan mereka stimulasi sebanyak-banyaknya untuk memaksimalkan setiap elemen perkembangan mereka. Karena setiap anak berbeda dengan anak lainnya dan mempunyai kualitas yang berbeda-beda, maka stimulus pun harus diubah agar sesuai dengan sifat dan tahap perkembangan anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuannya. Konsentrasi Konsentrasi belajar terdiri dari dua kata: konsentrasi dan belajar. Istilah "fokus" berasal dari kata bahasa Inggris "concentrate", yang berarti "konsentrasi". Konsentrasi merupakan versi kata kerja dari kata AumengajarAy yang berarti belajar adalah usaha yang dilakukan untuk memperoleh akal atau keterangan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menurut Maulana, perolehan perhatian merupakan faktor psikologis yang seringkali sulit dipahami oleh orang yang tidak sedang belajar. Sebab, apa yang diamati melalui perilaku seseorang tidak selalu sesuai dengan keyakinan orang tersebut. Kesulitan fokus berkaitan dengan permasalahan hambatan belajar yang dihadapi siswa karena menjadi penghambat pencapaian hasil belajar yang diinginkan (Riinawati, 2. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 2. July 2023 Afifah. Asty Rastiya. NafiAoah. Sabaniah. Kautsar Eka Wardhana Konsentrasi belajar seorang siswa dipengaruhi oleh kemampuan otak setiap siswa dalam fokus belajar pada apa yang sedang di pelajari. Tujuan dari perhatian ini adalah untuk meningkatkan kesempatan siswa menerima dan memahami informasi yang diberikan. Menurut seorang ilmuwan ahli psikologis kemampuan belajar seseorang menurun setelah 30 menit, sehingga disarankan kepda guru untuk istirahat beberapa menit (Afdalilah dkk. Fokus belajar adalah ciri psikologis yang mungkin sulit dipahami oleh orang yang tidak sedang belajar. Supriyo mengartikan konsentrasi sebagai pemusatan perhatian pada satu hal dan membuang segala pikiran asing lainnya. Fokus belajar sulit dicapai siswa karena ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi konsentrasi siswa saat belajar. Dibutuhkan waktu yang lama untuk dapat membantu siswa berkonsentrasi dalam belajar. Kesabaran guru dalam menghadapi siswa, serta pengawasan dan perhatian guru dapat meningkatkan konsentrasi siswa yang sedang belajar (Riinawati, 2. Secara teori, kurangnya konsentrasi seorang siswa akan berdampak pada rendahnya prestasi belajar dan dapat mengakibatkan kurangnya keseriusan dalam belajar. Kurangnya keseriusan akan mengganggu kemampuan seseorang dalam memahami materi. Padahal, modal utama siswa dalam memperoleh materi pembelajaran dan menunjukkan keberhasilan penerapan pembelajaran adalah konsentrasi. Meningkatkan konsentrasi belajar anak dapat dilakukan dengan berbagai cara. Menurut Isnawati, kesiapan belajar seorang anak dapat dilihat dari kondisi fisik dan psikis yang mempengaruhi kemampuan Selain itu, konsentrasi belajar seorang anak dapat dipengaruhi oleh minat dan lingkungan belajar yang baik dan mendukung. Untuk memaksimalkan konsentrasi belajar anak, metode belajar dan waktu istirahat harus diperhatikan (Rahmah Novianti. Dinda Marega. Desvi Wahyuni, 2. Ice Breaking Ice breaking berasal dari kata bahasa inggris break, yang berarti pecah, sedangkan ice berasal dari kata es. Secara gabungan, ice Breaking dapat diartikan sebagai tindakan memecaahkan es, yang pada konteksnya mengacu pada upaya mengatasi kebekuan atau hampahan dalam pembelajaran. Ice breaking menjadi metode untuk mengatasi situasi kebekan atau kaku di antara siswa, dengar tujuan menciptakan suasana belajar yang dinamis dan penuh semangat. Dengan demikian, ice breaking tidak hanya sekedar memecahkan kehampaan pembelajaran, tetapi juga berfungsi sebagai alat untuk membangaun interaksi yang positif dan energik di dalam kelas. (Aam Amalia, 2. Permainan atau aktivitas yang disebut ice breaking membantu mengubah suasana kebekuan dalam suatu kelompok. Sebelum suatu acara berlangsung, biasanya diperlukan satu atau lebih ice breaking untuk memecahkan kebekuan di awal kegiatan tersebut. Ice breaking dapat terjadi secara spontan atau tanpa persiapan khusus. Fungsinya adalah sebagai transisi dari keadaan yang membosankan, mengantuk, menjenuhkan, dan tegang menjadi suasana yang lebih rileks, bersemangat, tidak mengundang kantuk, penuh perhatian, serta menciptakan kegembiraan untuk mendengarkan atau melihat orang yang berbicara di depan kelas (Sinar dkk, 2. Menurut M. Said dalam Sunarto Ice Breaking adalah kegiatan yang memiliki tujuan untuk mengubah suasana kebekuan. Ucu Sulastri mendefisinisikan ice breaking sebagai suatu cara untuk beralih dari situasi yang membosankan, mengantuk, dan tegang menjadi suasana yang ceria dan menyenagkan melalui penggunaan permainan sederhana. Aktivitas seperti permainan dapat menciptakan suasana belajar yang tidak jenuh agar materi yang disampaikan oleh guru dapat di serap dengan baik oleh anak (Akhmad Afnan Fajarudin dkk, 2. Sunarto juga mencatat bahwa terdapat berbagai jenis permainan ice breaking yang dapat diobservasi, diikuti, dan dimodifikasi. Seperti permainan, yang dapat memberikan kesegaran pada peserta didik. Melalui permainan siswa menjadi lebih BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 2. July 2023 Meningkatkan Konsentrasi Belajar Melalui Kegiatan Ice Breaking Pada Anak Usia 5-6 Tahun di TK Nurul Iman Samarinda bersemangat, kelelahan dan sikap apatis dapat berubah menjadi keaktifan sehingga kondisi belajar menjadi lebih konsusif (Maharir dkk, 2. Ice breaking dalam proses pembelajaran bertujuan untuk menciptakan legembiraan dan kepuasan seswa selama pembelajaran. Dalam ice breaking, guru memiliki kesempatan untuk menyajikan aktivitas tersebut sesuai dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa. Sehingga peserta didik menikmati pembelajaran dan materi yang disampaikan oleh guru dapat tersampaikan kepada peserta didik. Proses pembelajaran yang efektif memerlukan konsentrasi belajar dari peserta didik (Leta Marzatifa, 2. Teriakan, permainan, nyanyian, tepuk tangan, komedi, dan bahasa tubuh adalah beberapa contoh kegiatan ice breaking yang dapat digunakan (May Muna Harianja & Sapri, 2. Latihan pemecah kebekuan akan memainkan peran utama dalam menumbuhkan lingkungan belajar yang positif, signifikan, menyenangkan, imajinatif, hidup, dan dialogis. Anak akan lebih kreatif dan dinamis dalam lingkungan belajar yang positif. Konsentrasi anak akan terlatih dan terpacu apabila pembelajaran dijalin dengan kegiatan ice breaking. Fokus anak-anak dapat dipulihkan melalui aktivitas pemecah kebekuan yang hadir dalam berbagai bentuk dan ekspresi (Annisa Qomariah dkk, 2. Metodologi TK Islam Nurul Iman yang berlokasi di Samarinda Jl. Revolusi. Desa Lok Bahu. Kecamatan Sungai Kunjang. Kota Samarinda. Kalimantan Timur, dengan nomor pos 75243 menjadi lokasi penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober dan November 2023. Peneliti menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK) sebagai metode penyelidikannya. Peneliti menggunakan daftar observasi, wawancara, dan cheklist sebagai metode pengumulan data. Data kuantitatif dan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Tabel 1. KisiAekisi Instrument Penelitian Tentang Konsentrasi Anak Usia 5Ae6 Tahun Melalui Ice Breaking Aspek penilaian BB MB BSH BSB Mampu berkoordinasi antara gerakan mata kaki tangan dan kepala saat mengikuti tepuk ice breaking, serta menstimulus motorik anak. Anak-anak mengekspresikan dengan bernyanyi sambil bertepuk tangan. Anak mampu bernyanyi dengan lagu serta sikap yang baik. Mengenal perasaan sendiri . yang perlu di lakukan saat bosan dan mengendalikan diri secara wajar. Mengembalikan konsentrasi anak dalam belajar. Pengumpulan data dengan menggunakan checklist, instrumen penelitiannya berupa checklist yang meliputi penilaian Berkembang Sangat Baik (BSB). Berkembang Sesuai Harapan (BSH). Mulai Berkembang (MB), dan Belum Berkembang (BB). Tabel indikator munculnya konsentrasi anak disajikan di bawah ini. Tabel 2. Ketentuan Intensitas Penilaian Jawaban Skor Berkembang Sangat Baik Berkembang Sesuai Harapan Mukai Berkembang Belum Berkembang BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 2. July 2023 Afifah. Asty Rastiya. NafiAoah. Sabaniah. Kautsar Eka Wardhana Hasil dan Pembahasan Temuan dari sebuah studi yang dilakukan pada tahun akademik 2023 pada Mhasiswa di semester 5 program studi S1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Fakultas Tarbiyah dan ilmu keguruan. Universitar Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda tahun ajaran 2023 Hasil penelitian yang dilakukan pada mahasiswa Semester V Prodi S1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Fakultas Tadris Ilmu Keguruan. Universitas Islam Negri Sultan Aji Muhammad Idrius Samarinda tahun ajaran 2023, menunjukkan bahwa penerapan metode ice breaking mampu meningkatkan tingkat konsentrasi belajar anak pada kelas kelompok B di TK Nurul Iman Samarinda, dengan skor keseluruhan mencaoai Jasil analisis data dalam penelitin ini bertujuan untuk mengamati efektivitas penerapan kegiatan ice breaking dalam meningkatkan konsentrasi belajar anak. Sebelum melaksanakan PTK, peneliti melakukan langkah awal dengan melakukan pengamatan terhadap permasalahan utama, yaitu kehilangan konsentrasi anak saat guru menjelaskan pembelajaran kelas, bahkan saat guru menggunakan metode bercerita tetap banyak anak yang tidak memperhatikan gurunya. Dari hasil yang kami observasi di awal pemebelajaran anak tetap memperhatikan guru dengan serius setelah beberapa menit anak menjadi rebut bercerita dengan teman dan tidak mau memperhatikan guru, ada guru pendamping yang menegur di belakang tetapi hanya 2 menit mereka mendengarkan setelah itu mereka akan berbicara lagi dan bahkan suara guru kelas yang sedang menjelaskan materi hamper tidak terdengar, oleh sebab itu kami peneliti menyarankan agar menggunakan ice breaking yang asik dengan bernyanyi dan bertepuk tangan lagu aram sam sam, peel banana dan menepuk tangan mampu meningkatkan konsentrasi anak agar bisa mengembalikan konsentrasi anak. Hasil penilaian autentik peningkatan konsentrasi melalui kegiatan ice breaking pada prasiklus dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 3. Hasil Observasi Perkembangan konsentrasi anak Prasiklus Nama 1 Abdillah 2 Alfin 3 Alwi 4 Azam 5 Fahri 6 Ghazy 7 Gibran 8 Gya 9 Hilya 10 Mizan 11 Nabil 12 Nadia 13 Nafeza 14 Radika 15 Rafi 16 Raihan 17 Roneey 18 Salsa 19 Shela 20 Syarif Jumlah Rata-rata Butir Keterangan Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 2. July 2023 Meningkatkan Konsentrasi Belajar Melalui Kegiatan Ice Breaking Pada Anak Usia 5-6 Tahun di TK Nurul Iman Samarinda Dari beberapa indikator diatas, pada indikator Melakukan koordinasi gerakan mata kaki tangan dan kepala dalam menirukan tepuk ice breaking, serta menstimulus motorik anak 54%. Pada indikator Anak-anak mengespresikan bersenandung atau bernyanyi sambil bertepuk tangan 53%. Pada indikator Menyanyikan lagu dengan sikap yang benar Pada indicator Mengenal perasaan sendiri . yang perlu di lakukan saat bosan dan mengelolanya secara wajar . engendalikan diri secara waja. Pada indikator Mengembalikan konsentrasi anak dalam belajar 48%. Adapun hasil rata-rata keberhasilan kelas dalam perkembangan konsentrasi belajar anak prasiklus ini adalah 40%. Pada pra siklus ini hampir semua anak tidak mau memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi pembelajaran hari ini, meskipun ada guru pendamping yang menegur tetapi beberapa anak ada yang mau diam dan kembai berbicara setelah guru pergi dan ada juga anak yang tetap berbicara terus. Dari data hasil observasi Prasiklus dapat diperjelas melalui grafik dibawah ini: Prasiklus Gambar 1: Grafik Persentase Perkembangan Konsentrasi Belajar Prasiklus Dari grafik konstrasi anak pada Prasiklus, terlihat dari lima indikator masih termasuk dalam kategori kurang, dengan persentasi berkisar antara 45%-54%. Oleh karena itu, peneliti akan melakukan tindakan dengan menerapkan kegiatan ice breaking yang melibatkan bernyayi dan bertepuk tangan, dengan tujuan untuk meningkatkan serta mengembalikan konsentrasi anak. Tindakan Pada Siklus I dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan pembelajaran dilakukan selama 3 jam pelajaran ( 3x 60 meni. yang dimulai dari pukul 08. 00-11:00 WITA. Siklus ini menggunakan empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil refleksi ini dijadikan dasar apabi l a pada si kl us I anak -anak bel um m em enuhi standar rat a -rat a yang kam i inggin kan sert a agar m enj di acuan untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya. Setiap pertemuan siklus I anak melaksanakan kegiatan pembelajaran seperti biasa dan di sela-sela akan di isi ice breaking untuk mengembalikan konsentrasi mereka. sebelumnya guru dan peneliti telah mempersiapakan rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan. Dari data hasil observasi Siklus I dapat diperjelas melalui grafik dibawah ini: BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 2. July 2023 Afifah. Asty Rastiya. NafiAoah. Sabaniah. Kautsar Eka Wardhana Tabel 4. Hasil Observasi Perkembangan konsentrasi anak Siklus I Nama Abdillah Alfin Alwi Azam Fahri Ghazy Gibran Gya Hilya 10 Mizan 11 Nabil 12 Nadia 13 Nafeza 14 Radika 15 Rafi 16 Raihan 17 Roneey 18 Salsa 19 Shela 20 Syarif Jumlah Rata-rata Butir 95% 97% 93% 91% 98% Keterangan Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Berdasarkan data tabel diatas pencapaian konsentrasi anak diketahui bahwa setiap anak mengalami peningkatan dan kegiatan ice breaking melalui lagu aram sam sam, peel banana dan menepuk tangan mampu meningkatkan konsentrasi anak. Secara bertahap pada 3 hari oertemuan siklus I anak-anak cepat dalam menghafal lagu yang di berikan guru, apabila terlihat anak mulai merasa bosan, berbicara dengan teman dan rebut sendiri maka guru memberikan ice breaking sebentar agar anak-anak mau memperhatikan guru. Pada siklus pertama, kami peneliti dan guru kelas sudah mandapatkan standar hasil yang ingin kami capai. Pada pelaksanaan siklus I, ketika melihat indikator diatas, nilai terrendah diperoleh sebesar 91%, sementara itu nilai tertinggi mencapai 98%, dengan rata-rata presentase pada siklus I mencapai 95 %. Sebelum prasilus, presentase hanya mencapai Terjadi peningkatan yang segnifikan dalam kategori Meningkat. Konsentrasi anak telah mengalami perkembangan dan mampu dikembalikan pada saat pembelajaran berlangsung, serta guru kelas tidak lagi kesusahan menegur anak yang sulit untuk di kondisikan, dengan memberikan kegiatan ice breaking sebagai cara refresing sejenak konsentrasi anak. Hasil ini memberikan kesimpulan bahwa penelitian tidak perlu dilanjutkan dengan pemberian tindakan pada siklus II karena peneliti dan guru sudah mencapai target yang diinginkan. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 2. July 2023 Meningkatkan Konsentrasi Belajar Melalui Kegiatan Ice Breaking Pada Anak Usia 5-6 Tahun di TK Nurul Iman Samarinda Siklus I Gambar 2: Grafik Persentase Perkembangan Konsentrasi Belajar Siklus I Pembanding Prasiklus dan Siklus 1 Prasiklus Siklus 1 Gambar 3: Grafik Persentase Perkembangan Konsentrasi Perbandingan Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan kegiatan ice breaking efektif dalam meningkatkan konsentrasi anak di dalam kelas. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Nadila Adiansa dkk, 2. , yang menyatakan bahwa penggunaan ive breaking memberikan beberapa manfaat, seperti melatih kemampuan berfikir anak, memfasilitasi interaksi antar anak, mengurangi rasa jenuh saat proses pembelajaran, membantu anak untuk kembali fokus, meredahkan suasana tegang selama pembelajaran, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, dan membangun kedekatan antara guru dan anak peserta didik. Selaras dengan Erma Ratnasari dkk . , peningkatan motivasi belajar anak melalui penerapan strategi ice breaking dilakukan sesuai dengan rencana tindakan, dengan kreteria penilaian mencangkup kemampuan memusatkan perhatian selama proses pembelajaran, tanggung jawab dalam meyelesaikan tugas, serta kemampuan mencari dan memecahkan masalah. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 2. July 2023 Afifah. Asty Rastiya. NafiAoah. Sabaniah. Kautsar Eka Wardhana Kesimpulan Berdasarkan temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa upaya meningkatkan konsentrasi anak khususnya mengembalikan konsentrasi belajar anak pada kelompok B TK Islam Nurul Iman Kota Samarinda dapat ditingkatkan melalui kegiatan ice breaking. Pada hasil observasi pra siklus banyak anak yang tidak bisa di kembalikan konsentrasinya untuk memperhatikan guru kelasnya yang membuat guru kelas kesusahan menegur 20 anak, persentasenya sebesar 40%. Setelah dilakukan nya siklus I mengalami peningkatan yang sanggat bagus mencapai persentase penilainya 95%. Hal tersebut dapat dilihat dari . Melakukan koordinasi gerakan mata kaki tangan dan kepala dalam menirukan tepuk ice breaking, serta menstimulus motorik anak. Anak-anak mengespresikan bersenandung atau bernyanyi sambil bertepuk tangan. Menyanyikan lagu dengan sikap yang benar. Mengenal perasaan sendiri . yang perlu di lakukan saat bosan dan mengelolanya secara wajar . engendalikan diri secara waja. Mengembalikan konsentrasi anak dalam Sejatinya dunia anak adalah bermain di usia anak 6 tahun maka kefokusan anak juga sebentar dengan cara menegur anak satu persatu akan mem buat kesusahan guru maka mengembalikan konsentrasi mereka bisa menggunakan ice breaking tepuk tangan dan menggunakan lagu, kegembiraan dan keasikan anak saat bernyanyi dan bertepuk tangan akan membuat konsentrasi mereka kembali dan mau memperhatikan gurunya. Kegiatan ice breaking tidak hanya di lakukan saat anak merasa bosan dan tidak memperhatikan guru, kegiatan ini bisa dilakukan mulai dari kegiatan pembuka pembelajaran kemudan saat kegiatan inti dan saat kegiatan penutup. References