ANALISIS BIAYA DAN PENDAPATAN PETANI CABAI MERAH KERITING (CAPSICUM ANNUUM L. ) DI KECAMATAN SEMBAWA KABUPATEN BANYUASIN Analysis of Costs and Income of Curly Red Chili (Capsicum annuum L. ) Farmers in Sembawa District. Banyuasin Regency Agoes Thony Ak. Kuwatno1 . Sukardi1 . Muhammad Tasrip2 . Dhiary Yessi Andarastuti3 Program Pascasarjana Universitas Sjakhyakirti. Palembang SMK PP Negeri Sembawa. Kabupaten Banyuasin Program Studi Agribisnis. Universitas IBA Palembang Email : agoes_thony@unisti. id1 , kuwatnosemarang@gmail. com1 , boengsoe060777@gmail. muhammadtasrip260683@gmail. com2 , dhiaryyessi@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kelayakan usahatani cabai merah keriting berdasarkan perbandingan antara total penerimaan dan total biaya produksi melalui perhitungan R/C Komoditas cabai merah keriting dipilih karena merupakan salah satu produk hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar yang stabil sepanjang tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei deskriptif kuantitatif, dengan pengumpulan data primer melalui wawancara dan penyebaran kuesioner kepada 30 petani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa. Kabupaten Banyuasin. Provinsi Sumatera Selatan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menghitung biaya tetap, biaya variabel, total biaya produksi, penerimaan, keuntungan, serta efisiensi usaha (R/C rati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total biaya produksi sebesar Rp104. 930,00 per hektar, sedangkan rata-rata penerimaan mencapai Rp175. 000,00 per Dengan demikian, diperoleh keuntungan sebesar Rp70. 070,00 per hektar dan nilai R/C ratio sebesar 1,68. Nilai ini menunjukkan bahwa setiap satu rupiah biaya produksi menghasilkan penerimaan sebesar Rp1,68, sehingga dapat disimpulkan bahwa usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa layak dan menguntungkan untuk diusahakan. Kata Kunci: Cabai Merah Keriting. Kelayakan Usaha. Biaya Produksi. Penerimaan. R/C Ratio. Abstract This study aims to analyze the feasibility level of curly red chili farming based on the comparison between total revenue and total production costs through the calculation of the R/C ratio. Curly red chili was chosen as the research commodity because it is one of the horticultural products with high economic value and stable market demand throughout the year. The research method used is a descriptive quantitative survey method, with primary data collected through interviews and questionnaires distributed to 30 curly red chili farmers in Sembawa District. Banyuasin Regency. South Sumatra Province. The data obtained were analyzed by calculating fixed costs, variable costs, total production costs, revenue, profit, and business efficiency (R/C rati. The resul ts showed that Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti the average total production cost was IDR 104,259,930 per hectare, while the average revenue reached IDR 175,000,000 per hectare. Thus, a profit of IDR 70,740,070 per hectare was obtained with an R/C ratio value of 1. This value indicates that every one rupiah of production cost generates a revenue of IDR 1. Therefore, it can be concluded that curly red chili farming in Sembawa District is feasible and profitable to cultivate. Keywords: Curly Red Chili. Business Feasibility. Production Cost. Revenue. R/C Ratio. PENDAHULUAN Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia karena memiliki peran strategis dalam penyediaan pangan, bahan baku industri, penyerapan tenaga kerja, serta peningkatan pendapatan masyarakat. Dari sekian banyak subsektor pertanian, subsektor hortikultura menjadi salah satu yang sangat potensial untuk Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan pasar terhadap komoditas hortikultura baik di tingkat domestik maupun internasional, serta nilai jualnya yang relatif tinggi dibandingkan dengan komoditas pangan lainnya. Komoditas hortikultura juga memiliki keunggulan dalam diversifikasi produk dan fleksibilitas pasar yang menjadikannya sebagai sumber pendapatan yang menjanjikan bagi petani. Salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan yang stabil sepanjang tahun adalah cabai merah (Capsicum annuum L. Cabai merah termasuk bahan pokok pelengkap yang sangat dibutuhkan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun sebagai bahan baku industri makanan dan olahan. Selain berfungsi sebagai penyedap rasa, cabai merah juga memiliki kandungan gizi seperti vitamin A. C, dan E yang bermanfaat bagi kesehatan, sehingga penggunaannya sangat luas dalam berbagai jenis masakan Nusantara. Menurut Rostini . , cabai merah merupakan salah satu komoditas sayuran utama yang memiliki prospek pengembangan sangat baik. Hal senada dikemukakan oleh Cahyono . yang menyatakan bahwa cabai merah merupakan tanaman hortikultura unggulan yang berpotensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Permintaan terhadap cabai merah di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya daya beli masyarakat, dan berkembangnya industri pengolahan makanan. Warisno . menyebutkan bahwa tingkat konsumsi cabai merah mencapai sekitar empat kilogram per kapita per tahun. Tingginya tingkat konsumsi ini menjadikan cabai merah sebagai salah satu komoditas strategis yang sensitif terhadap fluktuasi harga. Lonjakan harga cabai sering kali memengaruhi inflasi nasional, sehingga pemerintah menjadikan komoditas ini sebagai salah satu indikator kestabilan ekonomi. Secara nasional, produksi cabai merah menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke Pada tahun 2018 produksi cabai merah mencapai 795. 827 ton, meningkat sebesar 325 ton dibandingkan tahun 2017. Tahun 2019 produksi kembali meningkat menjadi 345 ton, dan pada tahun 2020 naik lagi menjadi 858. 962 ton (Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, 2. Peningkatan produksi tersebut sebagian besar berasal dari daerah sentra seperti Jawa Timur. Jawa Tengah. Jawa Barat. Sumatera Barat. Nusa Tenggara Barat, dan Bali. Meski demikian, peningkatan produksi nasional tersebut belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan domestik, sehingga Indonesia masih melakukan impor cabai merah setiap tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi produksi cabai merah nasional. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti yang seharusnya dapat mencapai 10Ae20 ton per hektar, belum dimanfaatkan secara optimal (Ditjen Bina Produksi Hortikultura, 2. Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar dalam pengembangan tanaman hortikultura, termasuk cabai merah. Dengan kondisi agroklimat yang mendukung, lahan yang luas, dan ketersediaan tenaga kerja pertanian. Sumatera Selatan mampu menghasilkan berbagai komoditas sayur-mayur unggulan. Data Badan Pusat Statistik . menunjukkan bahwa produksi sayur-mayur di provinsi ini pada tahun 2020 mencapai 221. 620 ton. Dari jumlah tersebut, komoditas kubis menyumbang 794 ton . ,30%) dan cabai merah sebesar 28. 440 ton . ,83%). Produksi cabai merah di Provinsi Sumatera Selatan juga mengalami peningkatan signifikan, dari 11. 826 ton pada tahun 2016 menjadi 28. 440 ton pada tahun 2020. Salah satu daerah yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap produksi cabai merah di Sumatera Selatan adalah Kabupaten Banyuasin, khususnya di Kecamatan Sembawa. Wilayah ini memiliki potensi lahan pertanian yang luas dengan kondisi tanah yang sesuai untuk pengembangan tanaman hortikultura. Selain itu, dukungan sumber daya manusia dan pengalaman petani dalam budidaya sayur-mayur juga menjadi modal penting bagi peningkatan produktivitas cabai merah keriting di daerah tersebut. Namun demikian, di tengah potensi tersebut, petani masih menghadapi berbagai kendala seperti fluktuasi harga, serangan hama dan penyakit, serta tingginya biaya produksi. Faktor-faktor ini berpengaruh terhadap besarnya keuntungan yang diterima dan kelayakan usahatani cabai merah di tingkat Oleh karena itu, diperlukan suatu analisis ekonomi usahatani cabai merah keriting yang komprehensif untuk mengetahui sejauh mana kegiatan usahatani ini memberikan keuntungan dan efisiensi yang layak secara finansial. Analisis ini penting untuk menilai tingkat keberlanjutan dan prospek pengembangannya di masa depan. Melalui kajian terhadap biaya produksi, penerimaan, dan efisiensi usaha (R/C rati. , hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai kondisi ekonomi usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa serta menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengembangan hortikultura yang lebih tepat sasaran. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk: . Menganalisis besarnya biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin, . Menganalisis besarnya penerimaan yang diperoleh dari hasil usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin, . Menganalisis tingkat keuntungan dan efisiensi (R/C rati. usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin untuk menilai kelayakan usaha. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan metode survei yang bersifat deskriptif analitis, yaitu suatu pendekatan penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan karakteristik populasi atau bidang tertentu (Nazir. Metode survei digunakan karena sesuai untuk memperoleh data primer langsung dari responden melalui wawancara dan kuesioner, sehingga dapat memberikan gambaran nyata tentang kondisi aktual usahatani cabai merah keriting di lapangan. Pendekatan deskriptif analisis dalam penelitian ini digunakan untuk menggambarkan permasalahan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya terjadi berdasarkan fakta yang baru saja berlangsung atau bersifat ex post facto. Menurut Sugiyono . , metode deskriptif analisis ex post facto digunakan Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian menelusuri kembali faktor-faktor penyebabnya, tanpa melakukan manipulasi terhadap variabel yang diteliti. Dengan demikian, penelitian ini tidak memberikan perlakuan . seperti dalam eksperimen, tetapi menganalisis kondisi nyata dari kegiatan usahatani yang telah berjalan. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive . di Kecamatan Sembawa. Kabupaten Banyuasin. Provinsi Sumatera Selatan, dengan pertimbangan bahwa wilayah ini merupakan salah satu sentra produksi cabai merah keriting yang memiliki potensi pengembangan cukup tinggi dan jumlah petani yang relatif banyak. Pemilihan lokasi tersebut juga didasarkan pada ketersediaan lahan pertanian yang produktif serta keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan hortikultura. Menurut Moleong . , pemilihan lokasi secara purposive dilakukan apabila peneliti memiliki pertimbangan tertentu terkait dengan relevansi dan kemudahan memperoleh data yang dibutuhkan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani cabai merah keriting yang berada di Kecamatan Sembawa. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Kabupaten Banyuasin tahun 2024, jumlah populasi petani cabai merah keriting di wilayah tersebut mencapai sekitar 150 orang. Karena luas lahan yang dikuasai oleh masing-masing petani bervariasi, maka penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling, yaitu pengambilan sampel secara acak sederhana di mana setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel (Sugiyono, 2. Teknik ini dipilih untuk menghindari terjadinya bias dan memastikan bahwa data yang diperoleh dapat mewakili kondisi populasi secara proporsional. Menurut Arikunto . , apabila jumlah populasi kurang dari 100 orang, maka sebaiknya seluruh anggota populasi dijadikan responden sehingga penelitian bersifat sensus. Namun, apabila populasi berjumlah lebih dari 100 orang, maka pengambilan sampel dapat dilakukan antara 10% hingga 25% dari jumlah populasi, tergantung pada tingkat homogenitas populasi dan luasnya wilayah penelitian. Berdasarkan pedoman tersebut, dengan jumlah populasi sebanyak 150 petani, maka diambil 20% dari total populasi sebagai sampel penelitian. Dengan demikian, jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 petani cabai merah keriting yang dipilih secara acak dari beberapa desa di Kecamatan Sembawa. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang disusun berdasarkan indikator biaya produksi, penerimaan, dan efisiensi usaha. Selain itu, dilakukan juga wawancara langsung dengan petani untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai kendala, pengalaman, serta persepsi mereka terhadap usahatani cabai merah keriting. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait seperti Dinas Pertanian Kabupaten Banyuasin. Badan Pusat Statistik (BPS), serta literatur ilmiah lainnya yang relevan dengan topik penelitian ini. Menurut Nazir . , kombinasi antara data primer dan sekunder akan memperkuat validitas dan reliabilitas hasil penelitian karena mampu memberikan gambaran yang komprehensif terhadap fenomena yang diteliti. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden dan kondisi umum usahatani, sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk menghitung biaya produksi, penerimaan, keuntungan, serta efisiensi usaha melalui perhitungan R/C ratio. Menurut Soekartawi . , analisis R/C ratio merupakan salah satu metode ekonomi usahatani yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kelayakan usaha dengan membandingkan antara total penerimaan dan total biaya produksi. Nilai R/C ratio > 1 menunjukkan bahwa usahatani layak untuk dijalankan, sedangkan R/C ratio < 1 menandakan bahwa usaha Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti tersebut tidak efisien dan merugikan. Dengan pendekatan ini, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi ekonomi usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa, sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah, lembaga penyuluhan, dan pelaku pertanian dalam merumuskan strategi peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha hortikultura di masa mendatang. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani Cabai Merah Keriting Biaya Tetap Dalam analisis ekonomi usahatani, perhitungan biaya produksi merupakan aspek penting yang menentukan tingkat keuntungan dan efisiensi suatu usaha. Biaya usahatani secara umum dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu biaya tetap . ixed cos. dan biaya variabel . ariable cos. Pembagian ini bertujuan untuk memahami struktur biaya dan kemampuan petani dalam mengelola input produksi agar usaha yang dijalankan tetap efisien dan berkelanjutan (Frontiers in Sustainable Food Systems, 2. Biaya tetap . ixed cos. merupakan biaya yang jumlahnya relatif konstan meskipun terjadi perubahan dalam volume produksi. Biaya ini tetap harus dikeluarkan oleh petani meskipun tingkat produksi menurun, bahkan ketika proses produksi tidak dilakukan. Dengan kata lain, biaya tetap tidak tergantung pada besar kecilnya hasil produksi yang diperoleh. Menurut Open Agriculture Journal . , biaya tetap merupakan komponen yang penting dalam menjaga keberlanjutan usaha tani, karena mencerminkan komitmen modal terhadap aset produksi yang digunakan secara terus-menerus. Biaya tetap biasanya meliputi penyusutan alat, pajak lahan, asuransi pertanian, dan sewa tanah. Dalam konteks usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa, biaya tetap yang dikeluarkan petani relatif kecil dibandingkan biaya variabel seperti benih, pupuk, dan tenaga kerja. Namun demikian, biaya tetap tetap perlu dihitung karena menjadi bagian dari total biaya produksi yang digunakan dalam analisis keuntungan dan efisiensi usaha. Komponen biaya tetap dalam penelitian ini meliputi Nilai Penyusutan Alat (NPA) dan pajak bumi dan bangunan (PBB). Nilai penyusutan alat dihitung berdasarkan umur ekonomis alat pertanian yang digunakan petani, seperti cangkul, sprayer, ember, dan peralatan lainnya yang tidak habis dipakai dalam satu kali musim tanam. Penelitian oleh Kim et al. menunjukkan bahwa perhitungan penyusutan alat memiliki peran penting dalam menilai keberlanjutan ekonomi petani kecil, karena penggunaan alat dan mesin pertanian jangka panjang dapat menekan biaya variabel serta meningkatkan efisiensi tenaga kerja. Sementara itu, pajak bumi dan bangunan merupakan kewajiban tahunan yang harus dibayarkan oleh petani atas kepemilikan atau penggunaan lahan pertanian, dan sifatnya tetap karena besarannya tidak berubah seiring dengan volume Selain itu, hasil penelitian Alemu et al. di Ethiopia menunjukkan bahwa biaya tetap seperti sewa lahan, pajak, dan depresiasi alat memiliki kontribusi sekitar 10Ae15% terhadap total biaya produksi usahatani sayuran. Proporsi ini menunjukkan bahwa walaupun jumlahnya kecil, biaya tetap tetap berpengaruh terhadap profitabilitas usaha, terutama bagi petani dengan skala lahan terbatas. Demikian pula penelitian Rachmawati dan Supriyono . pada usaha sayuran hidroponik di Surabaya menegaskan pentingnya memperhitungkan depresiasi alat secara akurat untuk menggambarkan efisiensi ekonomi usaha hortikultura. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti Dengan demikian, perhitungan biaya tetap menjadi komponen penting dalam menentukan total biaya produksi . otal cos. , yang nantinya akan digunakan untuk menganalisis tingkat keuntungan dan efisiensi usaha melalui perhitungan R/C ratio (Revenue-Cost Rati. Nilai R/C ratio yang akurat hanya dapat diperoleh apabila seluruh komponen biaya, termasuk biaya tetap dan biaya variabel, dihitung secara lengkap dan Rata-rata nilai penyusutan alat pertanian yang digunakan oleh petani responden cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa dapat dilihat pada Tabel 1 berikut. Tabel 1. Rata-rata Nilai Penyusutan Alat (NPA) Petani Responden Cabai Merah Keriting di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin. Total Biaya / Ha No. Jenis Alat (Rp. ) / musim tanam Cangkul 333,35 Pacul 655,47 Sprayer 591,06 Jumlah 579,88 Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata jumlah Nilai Penyusutan Alat (NPA) yang dikeluarkan oleh petani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin sebesar Rp4. 579,88 per hektar. Komponen penyusutan alat ini meliputi beberapa peralatan utama yang digunakan dalam proses budidaya, yaitu cangkul, pacul, dan sprayer. Alat-alat tersebut merupakan sarana kerja pokok yang dibutuhkan dalam setiap tahap kegiatan usahatani, mulai dari pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman, hingga pengendalian hama dan penyakit. Hasil survei terhadap 30 orang petani responden menunjukkan bahwa penyusutan alat sprayer merupakan komponen dengan nilai tertinggi di antara alat lainnya. Hal ini disebabkan karena sprayer digunakan secara intensif dalam kegiatan penyemprotan pestisida dan pupuk cair untuk menjaga kualitas dan produktivitas tanaman cabai merah keriting. Berdasarkan data lapangan, harga awal sprayer yang dibeli oleh petani responden berkisar Rp1. 000 per unit, sedangkan harga sisa . ilai sekaran. setelah masa pemakaian selama dua tahun berada pada kisaran Rp400. 000 hingga Rp1. 000 per unit. Dengan demikian, diperoleh rata-rata nilai penyusutan alat sprayer sebesar Rp3. 591,06 per hektar, yang menunjukkan kontribusi signifikan terhadap total biaya tetap. Tingginya nilai penyusutan sprayer dibandingkan alat lainnya memperlihatkan bahwa alat tersebut memiliki tingkat penggunaan dan keausan yang tinggi. Menurut Kim et al. dalam Sustainability, tingkat penggunaan alat pertanian yang intensif tanpa perawatan berkala dapat mempercepat depresiasi dan menambah beban biaya tetap jangka panjang. Sementara itu. Alemu et al. menegaskan bahwa pengelolaan aset pertanian, termasuk perawatan dan penggantian alat tepat waktu, berpengaruh langsung terhadap efisiensi dan keberlanjutan ekonomi usaha tani hortikultura. Selain penyusutan alat, komponen biaya tetap dalam usahatani cabai merah keriting juga mencakup biaya pajak bumi dan bangunan (PBB). Berdasarkan hasil penelitian, ratarata pajak yang dikeluarkan oleh petani responden di Kecamatan Sembawa sebesar Rp75. 350,12 per hektar per musim tanam. Pajak ini bersifat tetap karena nilainya tidak Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti dipengaruhi oleh volume produksi, harga jual, maupun tingkat keuntungan petani. Menurut Rachmawati & Supriyono . , biaya tetap seperti pajak dan depresiasi alat merupakan faktor yang harus diperhitungkan dalam analisis kelayakan usaha pertanian, karena berpengaruh terhadap kemampuan petani dalam mengelola struktur modal kerja secara Dengan demikian, total rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan oleh petani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa sebesar Rp4. 930,00 per hektar, yang terdiri dari komponen penyusutan alat dan pajak. Biaya tetap ini menjadi dasar penting dalam perhitungan total biaya produksi dan efisiensi usaha tani. Menurut Nasution et al. pemahaman terhadap proporsi biaya tetap dan variabel sangat penting untuk menentukan strategi efisiensi produksi serta mengukur tingkat keuntungan (R/C rati. dalam usahatani Tabel 2. Hasil Rekapitulasi Rata-rata Biaya Tetap dan Pajak yang Dikeluarkan Oleh Petani Cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin. Uraian Total Biaya Tetap / Ha (Rp. Nilai Penyusutan Alat (NPA) 579,88 Pajak 350,12 Jumlah 930,00 Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2024 Tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata total Nilai Penyusutan Alat (NPA) adalah sebesar Rp. 579,88/ha, pajak yang di bayar per tahun oleh petani responden di Kecamatan Sembawa berkisar antara Rp. 500- Rp. Adapun rata-rata yang didapatkan adalah Rp. 350,12/ha dari petani responden berjumlah 21 orang. Jadi total rataAerata biaya tetap yaitu Rp. 930,00/ha. Biaya Variabel Biaya variabel merupakan salah satu komponen penting dalam analisis biaya produksi usahatani yang mencerminkan besarnya pengeluaran yang berubah-ubah sesuai dengan tingkat produksi yang dihasilkan. Menurut Soekartawi . , biaya variabel adalah biaya yang besarnya tergantung pada volume produksi, di mana semakin besar produksi maka semakin besar pula biaya yang dikeluarkan. Biaya variabel pada usahatani cabai merah keriting meliputi biaya yang digunakan untuk input-input produksi seperti benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, serta sarana pendukung lainnya. Dalam konteks penelitian ini, biaya variabel dihitung berdasarkan total pengeluaran petani responden selama satu musim tanam per hektar, yang terdiri atas biaya pembelian benih, penggunaan pupuk anorganik dan organik, pestisida, tenaga kerja, hingga pengeluaran pendukung seperti instalasi pengairan dan mulsa. Data rekapitulasi rata-rata biaya variabel usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin dapat dilihat pada Tabel 3 berikut. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti Tabel 3. Hasil Rekapitulasi Rata-rata Biaya Variabel Usahatani Cabai Merah Keriting di Kec. Sembawa Kabupaten Banyuasin. Uraian Biaya Benih Biaya Kapur Pertanian/Dolomit Biaya Pupuk Kandang Biaya Pupuk TSP Biaya Pupuk KCL Biaya Pupuk NPK 16. Biaya Pupuk ZA Biaya Pupuk MKP Biaya Pupuk Vigo Amino Biaya Pupuk Tropicote (Calsiu. Biaya Mulsa Hitam Perak Biaya Pupuk Organik Cair Biaya Instalasi Pengairan Biaya Insektisida Biaya Perekat. Penembus. Perata Biaya Ajir Tanaman Biaya Herbisida Biaya Tali Rafia Biaya Fungisida Biaya Solar dan Oli Mesin Air Biaya Tenaga Kerja Olah Lahan Biaya Tenaga Kerja Penanaman Biaya Tenaga Kerja Pemupukan Biaya Tenaga Kerja Penyiangan Biaya Tenaga Kerja Pasang Ajir Biaya Tenaga Kerja Rempel Tunas Air Biaya Tenaga Kerja Spray H&P Tanaman Biaya Tenaga Kerja Penyiraman Tanaman Biaya Tenaga Kerja Panen Jumlah Total Biaya Variabel / Ha (R. 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2024 Tabel di atas menunjukkan bahwa total rata-rata biaya variabel usahatani cabai merah keriting per hektar mencapai Rp 100. 000,00. Komponen biaya tertinggi terdapat pada Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti biaya tenaga kerja panen sebesar Rp 16. 000,00/ha. Tingginya biaya panen ini disebabkan karena proses panen cabai dilakukan secara bertahap dan berulang, sehingga membutuhkan tenaga kerja yang intensif. Upah tenaga kerja harian (HOK) perempuan dengan waktu kerja A7 jam per hari berkisar antara Rp 80. 000,00AeRp 100. 000,00/HOK, tergantung pada tingkat kesulitan dan ketersediaan tenaga kerja. Sementara itu, biaya terendah yang dikeluarkan oleh petani responden terdapat pada biaya tenaga kerja perempelan tunas air, yaitu sebesar Rp 500. 000,00/ha. Aktivitas ini dilakukan dalam jangka waktu singkat dan dengan tenaga kerja yang relatif sedikit. Berdasarkan hasil analisis, struktur biaya variabel menunjukkan bahwa tenaga kerja memiliki porsi pengeluaran terbesar dalam kegiatan usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa, sedangkan pengeluaran terkecil berasal dari kegiatan pemeliharaan ringan seperti perempelan tunas air. Temuan ini sejalan dengan penelitian Rahayu et al. yang menyatakan bahwa dalam usahatani hortikultura, tenaga kerja dan pupuk merupakan komponen biaya terbesar yang sangat memengaruhi tingkat produktivitas dan pendapatan petani. Selain itu. Kusnadi & Hartono . menambahkan bahwa semakin intensif pola budidaya yang dilakukan, maka semakin tinggi pula proporsi biaya variabel, terutama pada komponen tenaga kerja dan sarana produksi. Pendapatan Usahatani Cabai Merah Keriting Pendapatan usahatani merupakan indikator utama yang mencerminkan keberhasilan dan efisiensi ekonomi suatu kegiatan pertanian. Menurut Soekartawi . , pendapatan usahatani dapat diartikan sebagai selisih antara penerimaan total dan seluruh biaya produksi yang dikeluarkan petani selama satu siklus usaha. Dengan kata lain, pendapatan menunjukkan besarnya keuntungan yang diterima petani setelah dikurangi seluruh pengeluaran baik tetap maupun variabel. Pendapatan yang tinggi menjadi tolok ukur keberlanjutan dan kesejahteraan petani, serta berperan penting dalam mendorong peningkatan produksi di musim tanam berikutnya. Dalam konteks penelitian ini, pendapatan usahatani cabai merah keriting dihitung dengan menggunakan rumus dasar: Pendapatan (PD)=Total Penerimaan (TR)OeTotal Biaya Produksi (TC Total penerimaan (TR) merupakan hasil kali antara jumlah produksi (Y) dengan harga jual per satuan hasil (PY). Sedangkan total biaya produksi (TC) terdiri dari biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC). Pendekatan ini banyak digunakan dalam penelitian ekonomi pertanian untuk mengukur efisiensi finansial suatu usahatani (Rachman et al. , 2. Berikut ini disajikan hasil analisis biaya dan pendapatan usahatani cabai merah keriting berdasarkan hasil survei terhadap 30 petani responden di Kecamatan Sembawa. Kabupaten Banyuasin. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti Tabel 4. Analisis Biaya dan Pendapatan Untuk Seluruh Petani Responden Usahatani Cabai Merah Keriting di Kec. Sembawa. Uraian Penerimaan (TR) = Y. Produksi Harga Produksi Total Penerimaan Biaya Biaya Variabel (VC) Biaya Benih Biaya Kapur Pertanian/Dolomit Biaya Pupuk Kandang Biaya Pupuk TSP Biaya Pupuk KCL Biaya Pupuk NPK 16. Biaya Pupuk ZA Biaya Pupuk MKP Biaya Pupuk Vigo Amino Biaya Pupuk Tropicote (Calsiu. Biaya Mulsa Hitam Perak Biaya Pupuk Organik Cair Biaya Instalasi Pengairan Biaya Insektisida Biaya Perekat. Penembus. Perata Biaya Ajir Tanaman Biaya Herbisida Biaya Tali Rafia Biaya Fungisida Biaya Solar dan Oli Mesin Air Biaya Tenaga Kerja Olah Lahan Biaya Tenaga Kerja Penanaman Biaya Tenaga Kerja Pemupukan Biaya Tenaga Kerja Penyiangan Biaya Tenaga Kerja Pasang Ajir Biaya Tenaga Kerja Rempel Tunas Air Biaya Tenaga Kerja Spray H&P Tanaman Biaya Tenaga Kerja Penyiraman Satuan Jumlah (R. / Ha 7,000,00 000/kg 000,00 Pcs Sak Sak Roll Liter Liter Liter Batang Liter Roll Liter Liter HOK HOK HOK HOK HOK HOK 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 HOK 000,00 HOK 000,00 Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti Tanaman Biaya Tenaga Kerja Panen Total Biaya Variabel Biaya Tetap (FC) - Pajak - Penyusutan Alat Cangkul Pacul/Sabit/arit Sprayer Total Biaya Tetap Total Biaya (TC) = VC FC Biaya variabel Biaya tetap Total Biaya Produksi Pendapatan (PD) = TR Ae TC Penerimaan Total Biaya Total Pendapatan 000,00 000,00 350,12 333,35 655,47 591,06 930,00 000,00 930,00 930,00 000,00 930,00 070,00 Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2024 Berdasarkan Tabel diatas bahwa produksi yang di hasilkan cabai merah keriting 000,00 kg per hektar, jarak tanam yang di tanami petani 50 cmAe60 cm dan luas lahan berkisar 0,2 haAe0,50 ha. Petani responden memanen tanaman cabai merah keritingnya 35 kali panen dan setelah panen cabai merah keriting tersebut di jual langsung ke pedagang pengumpul dengan harga Rp. 000/kg. Rata-rata penerimaan yang di perolah sebesar Rp. 000,00/ha. Biaya produksi yang di keluarkan petani responden diantaranya biaya variabel dan biaya tetap, biaya variabel terdiri dari bibit, pupuk, pestisida dan biaya tenaga kerja pengelolahan. Pupuk yang di gunakan oleh petani yaitu pupuk KCL. TSP. NPK. ZA. MKP. Vigo Amino dan Tropicote (Calsiu. dengan biaya yang di keluarkan petani sebesar Rp. 000,00/ha, penggunaan pupuk di lakukan 3 kali dalam sebulan agar kembali meningkatkan dan mempercepat proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pestisida yang di gunakan pada tanaman cabai merah keriting terdiri dari Herbisida. Insektisida dan Fungisida dengan biaya sebesar Rp. 000,00/ha, penyemprotan pestisida di lakukan sebanyak 2 kali dalam seminggu, banyaknya insektisida di gunakan oleh petani responden karena di daerah tersebut terdapat banyak hama kutu daun. Tenaga kerja pengolahan lahan terdiri dari persiapan lahan . embersihan lahan, pengolahan lahan, dan pembuatan bedenga. , penanaman, pemupukan, penyiangan, pemasangan ajir, perempelan tunas air, spray herbisida, spray Rp. 000,00/ha, jumlah keseluruhan biaya variabel petani respoden sebesar Rp. 000,00/ha dan biaya tetap terdiri dari biaya penyusutan alat dan pajak yang Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti di keluarkan petani responden dalam satu tahun, biaya tetap yang dikeluarkan sebesar Rp. 930/ha. Jadi total biaya produksi yang di keluarkan petani responden sebesar Rp. 930,00/ha. Biaya variabel yang paling besar di keluarkan oleh petani yaitu biaya tenaga kerja panen dan biaya terendah yang di keluarkan petani yaitu biaya tenaga kerja perempelan tunas air sedangkan biaya tetap yang paling besar biayanya yaitu biaya penyusutan alat Dengan demikian rata-rata pendapatan yang diperoleh dari 30 petani responden sebesar Rp. 070,00/ha. Analisis Kelayakan Usahatani Cabai merah keriting Analisis kelayakan usaha tani merupakan salah satu aspek penting untuk menilai apakah suatu kegiatan budidaya layak dilaksanakan secara ekonomi. Menurut Suryani & Harjanto . , kelayakan usaha tani dapat diukur melalui rasio penerimaan terhadap biaya (R/C Rati. yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan biaya dalam menghasilkan Semakin besar nilai R/C Ratio, maka semakin tinggi pula keuntungan yang diperoleh petani. Selain itu. Fauzi et al. menyatakan bahwa analisis kelayakan usaha tani berfungsi untuk memberikan gambaran mengenai efisiensi alokasi sumber daya dan tingkat keuntungan relatif dari suatu kegiatan produksi pertanian. Dalam konteks ini, usahatani cabai merah keriting merupakan salah satu usaha hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun juga membutuhkan biaya produksi yang relatif besar. Oleh karena itu, penghitungan kelayakan menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan dan profitabilitas usaha tersebut. Hasil analisis kelayakan usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin disajikan pada tabel berikut: Tabel 5. Analisis Kelayakan Petani Responden Usahatani Cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa Kab. Banyuasin Uraian Nilai (R. /ha Penerimaan 000,00 Biaya Produksi Biaya Variabel 100. 000,00 Biaya Tetap 930,00 Total Biaya Produksi 930,00 Keuntungan 070,00 Kelayakan (R/C Rati. 1,68 Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2024 Dar i Tabel an bahwa n sebesar Rp. 000,00 dan total produksi sebesar Rp. 930,00/ha. Rasio penerimaan (R/C) diperoleh dari jumlah penerimaan dibagi dengan jumlah biaya produksi yang di keluarkan yaitu sebesar 1,68 artinya setiap Rp 1,- yang di keluarkan oleh petani responden akan diperoleh keuntungan sebesar Rp. 1,68. Dengan demikian, analisis kelayakan usahatani tanaman cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin tersebut layak untuk diusahan atau menguntungkan karena R/C >1. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Cabai Merah Keriting (Capsicum Annuum L. Di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Agoes Thony Ak. Kuwatno. Sukardi. Muhammad Tasrip. Dhiary Yessi Andarastuti SIMPULAN Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan yaitu pada luasan satu hektar usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin memerlukan biaya rata-rata sebesar Rp. 930,00, memperoleh penerimaan rata-rata sebesar Rp. 000,00 dan menerima keuntungan rata-rata sebesar Rp. 070,00 serta diperoleh R/C sebesar 1,68 maka usahatani layak untuk diusahakan dan menguntungkan. DAFTAR PUSTAKA