Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 1-9 Available at http://jurnal. id/jpterpadu Jurnal Perikanan Terpadu P-ISSN: 2599-154X E-ISSN: 2745-6587 Studi Pemanfaatan Limbah Crustacea Menjadi Produk Kitosan Komersial Study of the Ultilization of Crustacean Waste into Commercial Chitosan Products Diana Syafni1. Cindyta Prastari2* Jurusan Ilmu Lingkungan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. Pekanbaru. Riau. Indonesia. Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Jurusan Teknologi Industri Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Tanjungpinang. Kepulauan Riau. Indonesia. *Korespondensi: cindytiaprastari@umrah. Article Information Submitted Revised Accepted Published 22/05/2025 11/06/2025 14/06/2025 15/16/2025 Keywords : Economic valuation. Chitosan. Circular economy. MSMEs. Seafood waste Abstract Seafood shell waste from restaurants is often discarded or used as animal feed, despite its considerable untapped economic potential. One promising high-value utilization is processing this waste into chitosan, a biopolymer widely demanded in the pharmaceutical, cosmetic, and agricultural industries. This study aims to assess the financial potential of producing chitosan from seafood shell waste in small businesses. We gathered 500 grams of shell waste from multiple seafood restaurants in Pekanbaru over the course of seven days. The waste was NaOH solution stirred for 90 minutes at 70AC. The resulting Vannamei shrimp chitosan was a white powder with 2. 8% moisture content and solubility in acetic acid. Meanwhile, the chitosan derived from mangrove crab shells appeared as an off-white powder with 4. 34% moisture content, also soluble in acetic acid. We conducted an economic analysis by calculating the total production cost and comparing it to the market prices of chitosan on various e-commerce platforms. The results indicate that the chitosan produced has a significantly higher market value than its production cost. These findings indicate that seafood shell waste is not merely an environmental issue but also a promising economic opportunity for MSMEs. Waste-to-chitosan conversion presents an innovative strategy to promote circular economy principles and empower small-scale Syafni. , & Prastari. Studi pemanfaatan limbah crustacea menjadi produk kitosan komersial. Jurnal Perikanan Terpadu 6. : 1-9. PENDAHULUAN Berkembang pesatnya usaha perikanan seperti restoran seafood menimbulkan sejumlah persoalan seperti permasalahan limbah. Limbah atau sisa buangan kegiatan perikanan berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan tepat. Menurut Syamsir . dalam Judhaswati Page | 1 Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 1-9 et al, . usaha perikanan selain menghasilkan nilai ekonomis yang tinggi, juga ikut berperan dalam menghasilkan limbah. Pesatnya produksi udang dan kepiting untuk konsumsi dan kebutuhan usaha menyebabkan volume limbah kulit udang dan cangkang kepiting yang dihasilkan Menurut Rais et al . , kulit udang dan cangkang kepiting merupakan limbah pengolahan yang besarnya mencapai 50-60% berat utuh. Limbah cangkang kepiting memiliki dampak yang beragam terhadap lingkungan. Dampak negatifnya dapat menyebabkan polusi dan merusak ekosistem. Oleh karena itu, penting untuk mengelola limbah ini dengan tepat agar manfaatnya bisa maksimal tanpa merusak lingkungan. Limbah kulit udang dan cangkang kepiting menghasilkan kitin yang memiliki manfaat yang Menurut Ifa et al . , peningkatan nilai ekonomis dilakukan dengan melakukan pengolahan menjadi kitin dan kitosan. Kumari dan Rath . dalam penelitiannya menyebutkan komposisi kitin dan kitosan pada limbah krustase dapat mencapai 30-40%. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan komposisi kitin pada limbah organisme lainya. Kitosan dapat dimanfaatkan di berbagai bidang, diantaranya dapat dijadikan koagulan alami penjernih air pengganti koagulan sintetik. Kitosan menjadi salah satu alternatif koagulan alami yang memiliki keunggulan di antaranya tidak beracun, dan mudah terdegradasi. Dengan demikian produksi kitosan dari limbah krustase dapat meningkatkan nilai ekonomis limbah ini (Gaib, 2. Sedangkan penggunaan bahan sintetis sebagai koagulan pada perairan tercemar menimbulkan berbagai dampak tidak baik terutama bagi kesehatan. Koagulan yang sering digunakan merupakan koagulan sintesis atau koagulan kimia seperti alum dan Poly Aluminium Chloride (PAC). Menurut Hendrawati et al . , polimer organik sintetik seperti PAC dan alum memiliki sifat neurotoksisitas/berpangaruh buruk terhadap kesehatan. Terdapat sejumlah penelitian yang mengkaji tentang pemanfaatan kitosan dari kulit udang dan cangkang kepiting sebagai koagulan alami di antaranya penelitian Aulia . , yang pemanfaatan kitosan dari cangkang kepiting pada perbaikan limbah industri tahu dapat menurunkan kadar Total Suspended Solid (TSS) 90,84%. Chemical Oxygen Demand (COD) sebesar 79,09%. Selanjutnya penelitian Okey-Onyesolu et al . , kitosan bersumber dari cangkang kepiting dapat menurunkan kadar TSS senilai 94,80% dan kadar COD sebesar 96,00% pada limbah rumah potong hewan. Untuk kitosan yang bersumber dari kulit udang menurut penelitian Kau et al . , dapat menurunkan TSS sebesar 81% dan COD sebesar 78,10% pada limbah perusahaan pulp and paper di India. Urgensi penelitian ini adalah hitungan modal produksi skala Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam 500 gram limbah udang dan kepiting, hitungan potensi dan valuasi ekonomi limbahnya. Page | 2 Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 1-9 METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Juni 2024 bertempat di Desa Rimbo Panjang. Kecamatan Tambang. Kabupaten Kampar. Provinsi Riau. Laboratorium Kimia Hasil Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau dan Laboratorium Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Riau. Bahan dan Alat Alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu ATK dan handphone Analisis Data Analisis biaya produksi kitosan Kajian ekonomi pada penelitian ini didapatkan dengan menganalisa potensi ekonomi yang dihasilkan produk kitosan yang bersumber dari limbah kulit udang vaname, cangkang kepiting bakau dan gabungan keduanya. Preparasi sampel dimulai dari pengambilan limbah kulit udang vaname dan cangkang kepiting bakau ke restoran seafood, ditimbang dalam keadaan basah, kemudian dilakukan penjemuran dan ditimbang dalam keadaan kering. Setelah itu limbah tersebut diekstraksi menjadi kitosan dilakukan analisis ekonominya. Analisa ekonomi dilakukan dengan menetapkan modal tetap, modal kerja dan biaya produksi kitosan yang Analisis data pada parameter ekonomi dilakukan secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi Limbah Kulit Udang Vaname dan Cangkang Kepiting Bakau dari Restoran Seafood Terdapat empat titik lokasi pengambilan limbah kulit udang vaname dan cangkang kepting bakau di restoran seafood. Lokasi pertama berada di Jalan Taman Karya. Kelurahan Tuah Karya. Kecamatan Tampan. Kota Pekanbaru. Restoran ke 2 berlokasi di Jalan Kaharuddin Nasution. Kelurahan Perhentian Marpoyan. Kecamatan Bukit Raya. Kota Pekanbaru. Restoran ke 3 berlokasi Jalan HR. Soebrantas. Kelurahan Tuah Karya. Kecamatan Tampan. Kota Pekanbaru. Selanjutnya restoran ke 4 berlokasi Jalan Merak. Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai. Pekanbaru. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh adanya potensi limbah kulit udang vaname dan cangkang kepiting bakau di restoran seafood yang ada di Kota Pekanbaru untuk diolah menjadi produk kitosan dengan nilai ekonomi tinggi. Limbah yang bersumber dari empat restoran seafood yang ada di Kota Pekanbaru dikumpulkan setiap hari selama tujuh hari pada bulan Februari-Maret Page | 3 Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 1-9 Drying crab shells, shrimp shells and other types of seafood Weighing of Figure 1. Seafood restaurant waste Proses pengambilan limbah dari restoran seafood dilakukan selama tujuh hari di Kota Pekanbaru seperti tertera pada Gambar 1. Limbah kemudian ditimbang dalam keadaan basah sebanyak 500 gram, selanjutnya dilakukan penjemuran selama lima hari, lalu ditimbang dalam keadaan kering menjadi rata-rata 250 gram. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik restoran seafood yang berlokasi di Jalan Taman Karya. Pekanbaru. Toni . melaporkan restorannya menyiapkan bahan baku setiap harinya sebanyak 10 kg udang, 10 kg kepiting, 10 kg kerang dara, 10 kg kerang hijau dan 10 kg cumi. Penjualan seafood di restorannya bervariasi tergantung harga jual dari masing- masing item makanan. Jika tidak habis terjual maka seafood disimpan dalam keadaan beku untuk kembali dijual pada keesokan harinya. Limbah restoran bisa menghasilkan dua kantong lebih sampah ketika menunya terjual. Limbah seafood yang dihasilkan bermacam-macam jenisnya, limbah-limbah tersebut kebanyakan berasal dari limbah restoran seafood (Rahmawati & Firdiansyah, 2. Hasil wawancara dengan masyarakat sekitar restoran berlokasi di Jalan Merak Pekanbaru. Rudi . melaporkan keberadaan limbah restoran seafood selama ini tidak terlalu mengganggu. Hanya saja, jika petugas kebersihan terlambat mengangkut sampah hingga berhari-hari, maka akan menimbulkan bau dan mendatangkan lalat. Semakin banyaknya jumlah limbah yang masuk ke lingkungan tanpa pengolahan menyebabkan semakin berat beban lingkungan untuk menampung dan melakukan degradasi . elf purificatio. terhadap limbah tersebut. Jika kemampuan lingkungan penerima limbah sudah terlampaui, maka akan mengakibatkan pencemaran dan terjadi akumulasi limbah di lingkungan Page | 4 Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 1-9 Potensi Limbah Kulit Udang Vaname dan Cangkang Kepiting Bakau dari Restoran Seafood Preperasi sampel dilakukan dengan menggunakan 500 gram kulit udang vaname dan 500 gram cangkang kepiting bakau yang diambil dari 4 restoran seafood di Kota Pekanbaru. Produksi kitosan dilakukan melalui tiga tahapan yakni demineralisasi, deproteinasi dan deasetilasi menggunakan pelarut NaOH konsentrasi 40% . yang mengacu pada metode Kandile et al . Figure 2. Appearance of mangrove crab waste . and vannamei shrimp . Figure 3. Appearance of chitosan from mangrove crab shells . and chitosan from vannamei shrimp shells . Biaya Produksi Kitosan Limbah kulit udang vaname dan cangkang kepiting bakau dari empat restoran seafood selama 7 hari diolah menjadi produk kitosan dengan perhitungan biaya dikakukan dengan asumsi produksi kitosan skala home industri menggunakan dua orang pekerja. Usaha skala home industri merujuk pada jenis usaha atau bisnis yang dijalankan dalam skala kecil, biasanya dilakukan di rumah atau tempat tinggal. Usaha pembuatan produk kitosan diasumsikan menggunakan bangunan milik Modal tetap yang diperlukan hanya untuk pembelian peralatan yang berkaitan dengan Page | 5 Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 1-9 produksi usaha karena dianggap usaha tersebut dilakukan di rumah sendiri. Modal kerja merupakan modal yang diperlukan untuk menjalankan usaha dengan waktu tertentu. Perhitungan gaji menggunakan standar upah pekerja UMKM yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpp. Cipta Kerja Tahun 2022. Upah Minimum = Angka Garis Kemiskinan Provinsi . % X Angka Garis Kemiskinan Provins. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2023, garis kemiskinan di Provinsi Riau sebesar Rp 658. 611 per kapita per bulan. Upah minimun : Rp 658. % X Rp 658. Upah minimun : Rp 658. 611 Rp 164. Upah minimum : Rp823. Upah minimum : Rp27. Table 1. Details of chitosan production capital from mangrove crab shell waste Capital Cost Components Working Fixed Raw material crab shell NaOH Chemicals Amounts Rp10. 000/41 Kg x Rp10. HCl . Kg x Rp10. Wages for 2 workers Rp410. Rp410. Rp40. Rp50. Rp20. Rp300. Rp200. Rp 50. Bucktet Water reservoir Tray Oven Blender Measuring cup Plastic bags Electricity Total Production Costs Rp300. Rp1. Perhitungan biaya produksi didapatkan dengan asumsi dari 41 kg cangkang kepiting bakau didapatkan sebanyak 57% kitosan yakni sebesar 23,37 kg kitosan. Maka didapatkan perhitungan biaya sebagai berikut Biaya Produksi = Modal Tetap (Modal Kerja/Kapasitas Produks. Page | 6 Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 1-9 Biaya produksi : Rp 1. 000/23,37 kg Biaya produksi : Rp 78. 904/kg Biaya produksi . alam 1 gra. : Rp 78,9 Biaya produksi 1 kilogram kitosan dari cangkang kepiting bakau yang diproduksi berskala kecil sebesar Rp 78. 904/kg lebih murah dibandingkan harga kitosan komersial yang berkisar antara Rp 200. 000 hingga Rp 500. Harga kitosan komersial didapatkan dari observasi sejumlah platform jual beli daring . arket plac. Terdapat perbedaan harga yang signifikan antara kitosan yang diproduksi dengan model bisnis sederhana dibandingkan harga jual pasar. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya modal produksi yang kecil seperti bahan baku cangkang kepiting didapatkan secara gratis dari restoran, peralatan dan fasilitas yang sederhana tidak menggunakan kecanggihan teknologi, tenaga kerja yang terbatas, serta distribusinya. Sedangkan kitosan yang dijual secara komersil melalui proses distribusi yang panjang, diproduksi secara massal oleh perusahaan, menggunakan teknologi, bahan dan fasilitas yang lengkap sehingga harga jualnya tinggi di pasaran. Table 2. Details of capital for making chitosan from vaname shrimp shells Capital Working capital Cost Components 1 Raw material crab shell 2 NaOH (Rp 10. 000 x 6. 9 K. 3 HCl Rp 10. 000 x 6. 9 K. 4 Wages for 2 workers Fixed capital Bucktet Water reservoir Tray Oven Blender Measuring cup Plastic bags Electicitry Total Production Costs Amounts Rp 69. Rp 69. Rp 120. Rp 20. Rp 50. Rp 20. Rp 300. Rp 200. Rp 50. Rp 10. Rp 50. Rp. Perhitungan biaya produksi didapatkan dengan asumsi dari 6,9 kg kulit udang vaname didapatkan sebanyak 23% kitosan yakni sebanyak 1,58 kg kitosan. Berikut rincian biaya produksi 1 kg kulit udang vaname Biaya Produksi = Modal Tetap (Modal Kerja/Kapasitas Produks. Biaya produksi : Rp 958. 000/1,58 kg Biaya produksi : Rp 606. 000/1 kg kitosan Biaya produksi/gram : Rp 606 Page | 7 Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 1-9 Biaya produksi 1 kilogram kitosan dari kulit udang vaname yang diproduksi berskala kecil sebesar Rp 606. 000 lebih besar dibandingkan harga kitosan komersial yang berkisar antara Rp 000 hingga Rp 500. Hal ini didasarkan karena jumlah bahan baku kulit udang vaname yang didapat dari restoran seafood sangat sedikit sedangkan modal produksi seperti peralatan yang digunakan cukup besar hampir sama dengan modal produksi kitosan dari cangkang kepiting bakau. Terbatasnya bahan baku kulit udang vaname akan berdampak pada proses dan hasil produksi Table 3. Details of Chitosan Production Capital from a Combination of Shrimp Shell Waste and Mangrove Crab Shells Capital Working capital Cost Components 1 Raw material crab and shripm shell 2 NaOH (Rp 10. 000 x 47. 9 K. 3 HCl Rp 10. 000 x 47. 9 K. 4 Wages for 2 workers Fixed capital Bucktet Water reservoir Tray Oven Blender Measuring cup Plastic bags Electicitry Total Production Costs Amounts Rp 479. Rp 479. Rp 300. Rp 40. Rp 50. Rp 20. Rp 300. Rp 200. Rp 50. Rp 14. Rp 50. Rp. Potensi produksi kitosan cangkang kepiting bakau dari 4 restoran seafood selama periode 1 bulan hari sebesar sebesar 93,48 kg. Untuk kulit udang vaname ada potensi sebesar 6,3 kg. Biaya produksi 1 kilogram kitosan dari gabungan kulit kulit udang vaname dan cangkang kepiting bakau yang diproduksi berskala kecil sebesar Rp 77. 434 jauh lebih murah dibandingkan harga kitosan komersial yang berkisar antara Rp 200. 000 hingga Rp 500. Hal ini didasarkan karena jumlah bahan baku gabungan kitosan, volumenya bertambah sedangkan modal produksi seperti peralatan, upah pekerja dan lainnya juga digunakan secara bersamaan sehingga menekan biaya produksi kitosan tersebut dari ke tiga model perhitungan kitosan, modal produksi kitosan terbaik ada pada kitosan gabungan kulit udang dan cangkang kepiting sebesar Rp 77. 434 per 1 kilogram, selanjutnya modal produksi cangkang kepiting sebesar Rp Rp 78. 904 per satu kilogram, diposisi ketiga ada modal produksi kitosan kulit udang Rp 606. 000 per 1 kilogram kitosan. Penggunaan kitosan dari gabungan kulit udang vaname dan cangkang kepiting bakau lebih ekonomis dibandingkan dua kitosan lainnya. Pada sektor usaha yang bergerak di bidang produksi, biaya produksi atau harga pokok produksi merupakan faktor yang berpengaruh pada penentuan harga jual. Penentuan harga pokok produksi harus tepat dan akurat agar menunjukkan harga pokok yang sesungguhnya (Hetika dan Sari, 2. Page | 8 Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 1-9 KESIMPULAN Potensi produksi kitosan cangkang kepiting bakau dari 4 restoran seafood selama periode 1 bulan hari sebesar sebesar 93,48 kg. Untuk kulit udang vaname ada potensi sebesar 6,3 . Biaya produksi kitosan cangkang kepiting bakau sebesar Rp78. 904/kg, modal produksi kitosan kulit udang vaname sebesar Rp606. 000/kg. Modal produksi untuk gabungan kitosan kulit udang dan cangkang kepiting yakni sebesar Rp77. 434/kg DAFTAR PUSTAKA