Ganesha Civic Education Journal Volume 7. Number 2. Oktober 2025, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index DARI IRIGASI KE INTEGRASI SOSIAL : TELAAH SUBAK WINGIN DALAM MEMUPUK TOLERANSI DI BANJAR DINAS BUKIT SARI DESA TEGALINGGAH Rasyid Ridho 1 * . Sukadi2 Universitas Pendidikan Ganesha. Indonesia ARTICLE INFO Article history: Received 04 Juni 2025 Accepted 12 Oktober 2025 Available online 30 Oktober Kata Kunci: Subak Wingin. Toleransi. Masyarakat Multietnis. Musyawarah Mufakat. Kearifan Lokal Keywords: Subak Wingin. Tolerance. Multiethnic Society. Consensus Building. Local Wisdom ABSTRAK Penelitian ini mengkaji peran Subak Wingin di Banjar Dinas Bukit Sari. Desa Tegalinggah. Buleleng. Bali, dalam memupuk nilai toleransi di masyarakat yang multietnis, multikultur, dan multiagama. Subak, sistem irigasi tradisional, adalah entitas sosio-religius yang mengintegrasikan pengelolaan air dengan nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual Bali, berlandaskan filosofi Tri Hita Karana. Pemilihan lokasi ini relevan karena Bali, meskipun dianggap homogen, telah lama dihuni beragam etnis dan Penelitian kualitatif dengan studi kasus ini mendeskripsikan peran Subak Wingin dalam menumbuhkan toleransi dan integrasi sosial. Hasilnya, nilai toleransi diterapkan konkret dalam pembagian air yang adil berdasarkan kebutuhan dan musyawarah. Hasilnya, nilai toleransi diterapkan konkret dalam pembagian air yang adil berdasarkan kebutuhan dan musyawarah. Toleransi juga terlihat dalam musyawarah yang melibatkan anggota lintas agama (Hindu dan Isla. ABSTRACT This study examines the role of Subak Wingin in Banjar Dinas Bukit Sari. Tegalinggah Village. Buleleng. Bali, in fostering tolerance in a multi-ethnic, multi-cultural, and multi-religious society. Subak, a traditional irrigation system, is a socio-religious entity that integrates water management with Balinese social, cultural, and spiritual values, based on the Tri Hita Karana philosophy. This location selection is relevant because Bali, although considered homogeneous, has long been inhabited by diverse ethnicities and religions. This qualitative research with a case study describes the role of Subak Wingin in fostering tolerance and social As a result, the value of tolerance is concretely applied in the fair distribution of water based on need and deliberation. As a result, the value of tolerance is concretely applied in the fair distribution of water based on need and deliberation. Tolerance is also evident in deliberations involving members of various religions (Hindu and Musli. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: rasyid@student. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Pendahuluan Selama ini masyarakat Bali dikenal sebagai masyarakat homogen, yakni etnik Bali yang identik dengan budaya Bali dan agama Hindu. Kenyataannya tidaklah demikian, sejak masa lampau Pulau Bali telah dihuni beberapa etnik dan agama berbeda (Armini, 2. Selain penduduk Bali yang memeluk agama Hindu, juga terdapat beragam etnik lain seperti Etnik Tionghoa yang mengikuti Agama Buddha dan Kong Fu Tse (Konghuch. Etnik Bugis dan Sasak yang beragama Islam, serta Etnik Eropa dan Bali yang menganut Kristen (Katolik dan Protesta. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dari masa lalu hingga saat ini, masyarakat Bali bukanlah masyarakat yang seragam, melainkan masyarakat yang beragam dengan kondisi multietnis, multikultur, dan multiagama yang cukup kompleks Subak, sebagai sistem irigasi tradisional yang telah menjadi tulang punggung pertanian di Bali selama berabad-abad, bukan sekadar infrastruktur pengelolaan air. Lebih dari itu. Subak merupakan sebuah entitas sosio-religius yang utuh, mengintegrasikan dimensi pengelolaan air dengan nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Bali(Niswatin & Mahdalena, 2. Dalam Subak, filosofi Tri Hita Karana - hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan sesama, serta manusia dan alam - terwujud dalam praktik-praktik seperti musyawarah, upacara keagamaan di pura Subak, serta distribusi air yang adil. Ini menciptakan keteraturan dan keberlanjutan ekologis. Sistem ini mencerminkan kearifan lokal yang mendalam dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan memperkuat solidaritas sosial di antara para petani. Hilangnya budaya lokal di Indonesia menjadi perhatian serius seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi global. Kemajuan teknologi memungkinkan masyarakat khususnya generasi muda mudah untuk terpapar budaya asing melalui platform media sosial, film, dan musik. Fenomena ini diperkuat oleh pernyataan Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia . , yang menyatakan bahwa budaya lokal Indonesia mulai terkikis akibat pengaruh globalisasi, di mana tren budaya asing dengan cepat Hilangnya Budaya Lokal di Era saat ini menggantikan nilai-nilai dan praktik local (Aisya Putri Handayani et al. , 2. Jika tidak ada langkah serius dan nyata untuk melindungi warisan budaya, maka keberlangsungan identitas nasional akan semakin terancam di masa mendatang. Budaya lokal adalah warisan turun-temurun yang menjadi ciri khas suatu kelompok masyarakat yang mencakup nilai-nilai, kebiasaan, serta cara hidup yang dipelajari dan dipraktekkan dari generasi ke generasi. Hampir semua suku di Indonesia memiliki kearifan lokal. Bahasa yang digunakan di setiap daerah berbeda, jadi cara orang menyebut kearifan lokal juga berbeda. Namun, artinya hampir sama, yaitu tidak terlepas dari pelajaran yang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, kearifan lokal ini adalah produk budaya yang dibuat oleh nenek moyang kita, jadi itu adalah warisan leluhur yang harus kita tafsirkan kembali. Kearifan lokal adalah nilai-nilai yang tetap ada dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Walaupun adat dan budaya dari setiap daerah itu berbeda-beda, namun secara umum memiliki nilai-nilai esensi yang Falsafah adat dan budaya yang berkembang di berbagai pelosok tanah air bangsa Indonesia, rata-rata menanamkan sikap dan perilaku moralitas yang baik dan positif (Affandy, 2. Nilainilai lokal adalah nilai-nilai yang tetap ada dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Toleransi antar umat beragama adalah salah satu contoh nilai kearifan lokal di komunitas Subak wingin Desa tegalinggah. Nilai toleransi merupakan nilai yang didasarkan pada kedamaian, menghargai dan kesadaran. Toleransi diartikan sebagai sikap saling menghormati, saling menerima, dan saling menghargai di tengah keragaman budaya. Toleransi dalam kehidupan bermasyarakat memiliki dua bentuk, yaitu toleransi agama dan toleransi social (Wiediharto et al. , 2. Toleransi agama adalah sikap lapang dada dalam memberi kesempatan setiap individu untuk agama yang benar-benar diyakini. Selanjutnya, toleransi sosial adalah sikap saling menghargai antar individu atau kelompok-kelompok dalam masyarakat. Toleransi harus didukung oleh cakrawala pengetahuan yang luas dan bersikap terbuka. Toleransi yang diimplementasikan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari akan mengantarkan kedamaian antar individu dalam hidup bermasyarakat. Penelitian ini memfokuskan perhatian pada Subak Wingin di Banjar Dinas Bukit Sari. Desa Tegalinggah. Kecamatan Sukasada. Buleleng. Bali. Pemilihan lokasi ini didasari oleh dugaan awal Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. bahwa Subak Wingin, meskipun berada di tengah arus modernisasi, masih memainkan peran penting dalam memelihara nilai-nilai sosial seperti toleransi dan gotong royong di antara Kondisi geografis dan dinamika sosial di daerah Buleleng, yang mungkin memiliki karakteristik berbeda dengan wilayah selatan Bali yang lebih padat pariwisatanya, menjadikan Subak Wingin sebagai kasus spesifik yang menarik untuk diteliti. Identifikasi sejauh mana Subak Wingin mampu mempertahankan nilai-nilai tersebut di tengah berbagai tantangan zaman, seperti perubahan mata pencarian anggota dan pengaruh budaya luar, akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai resiliensi kearifan lokal dalam menghadapi tekanan modernisasi. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan dengan mendeskripiskan secara holistik dan mendalam terhadap subjek/ partisipan dengan konteks khusus pada latar yang alamiah dengan memanfaatkan metode yang alamiah juga(Alaslan et al. , 2. dengan studi kasus untuk menelaah peran Subak Wingin dalam memupuk toleransi di Banjar Dinas Bukit Sari. Desa Tegalinggah. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam fenomena sosial yang kompleks, yaitu integrasi sosial dan toleransi yang terbangun melalui sistem irigasi tradisional Subak. Kami akan menggali makna dan interpretasi dari pengalaman para anggota Subak, serta bagaimana praktik-praktik mereka berkontribusi pada harmoni sosial. Studi ini menggunakan metodologi kualitatif deskriptif. Kami ingin menjelaskan secara menyeluruh bagaimana Subak Wingin mendorong toleransi dan integrasi sosial, bukan untuk menguji hipotesis atau mengukur variabel. Kami akan membahas berbagai hal, seperti struktur organisasi Subak, proses pengambilan keputusan, dan hubungan sehari-hari antara anggota. Metode ini memungkinkan kami untuk melihat aspek-aspek yang mungkin terlewatkan oleh pendekatan kuantitatif, seperti emosi, nilai, dan pengalaman subjektif yang membentuk toleransi dalam komunitas Subak. Banjar Dinas Bukit Sari di Desa Tegalinggah akan menjadi lokasi penelitian. Lokasi ini merupakan pilihan yang sangat penting karena di sinilah Subak Wingin beroperasi dan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat. Lokasi ini juga dipilih karena potensi Subak untuk menjaga keseimbangan sosial Subjek penelitian kami meliputi berbagai pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan Subak Wingin. Mereka adalah sumber utama informasi kami dengan wawancara, studi dokumen dan observasi secara langsung. Hasil dan pembahasan Subak Ae Organisasi Tradisional Pengelolaan Irigasi Lahan Pertanian Subak adalah organisasi yang anggotanya adalah petani, dan tugas utamanya adalah mengelola penggunaan air secara proporsional bagi anggotanya. Subak tidak hanya merupakan organisasi pertanian, tetapi juga berfungsi untuk . mengatur pembagian air bagi anggotanya sehingga masing-masing menerima jumlah air yang adil untuk kesejahteraan . mewajibkan pemeliharaan sumber air. mengatur jenis padi yang ditanam, menetapkan wak penyiapan lahan, penaburan benih dan tanam - juga merupakan aktivitas sosial karena melibatkan kerjasama, gotong royong antarpetani tidak saja dengan sesama anggota dalam satu kelompok, termasuk juga kerjasama antarsubakk misalnya dalam sistem meminjam air irigasi(Riyadi et al. , 2. Organisasi subak ini memiliki kelengkapan organisasi seperti berikut: peraturan atau awig-awig yang mengikat anggota untuk melakukan hak dan kewajiban, termasuk sanksi untuk melanggarnya. pengurus atau pekaseh, yang bertanggung jawab untuk mengatur penggunaan air serta bekerja sama dengan pimpinan lembaga lain di sekitarnya, seperti desa adat, dinas, dan lembaga pemerintahan. Selain itu. Subak juga merupakan suatu entitas religius, dengan memiliki Pura Bedugul, yang dipandang sebagai mekanisme kontrol terhadap pengelolaan air irigasi dan secara rutin menyelenggarakan upacara keagamaan Upacara yang dilakukan berkaitan dengan kesuburan untuk peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat. Dalam struktur kepengurusannya subak hampir sama dengan struktur organisasi pada umumnya yaitu terdapat ketua, wakil ketua, sekretaris dan bendahara. Pada organisasi subak GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. dipimpin oleh pekaseh . impinan suba. yang dibantu oleh beberapa orang petajuh . Petajuh ini biasanya melaksanakan tugas rangkap sebagai petengen / bendahara dan penyarikan / juru tulis. Apabila subak memiliki wilayah yang luas dan jumlah anggotanya ratusan maka akan dibagi lagi dalam bentuk tempekan yang dipimpin oleh kelian tempekan(Nopitasari & Putrawan, 2. Untuk mengatur anggota-anggotanya subak memiliki aturan tersendiri yang disebut awig-awig subak. Awig-awig subak dibuat berdasarkan hasil dari musyawarah para anggota subak atau lebih dikenal dengan sangkepan. Aturan subak berisi perintah, larangan dan kebolehan serta sanksi dalam kelembagaan subak. Bentuk dari awig-awig subak ada dua yaitu awig-awig tertulis yang berisi aturan pokok dan pararem tertulis yang sifatnya lebih fleksibel sebagai aturan pelaksana. Nilai Toleransi Secara etimologis, tolceran berasal dari bahasa Inggris yaitu toleration yang berarti Dalam bahasa Arab yaitu altassamuh yang berarti sikap tenggang rasa, teposelero, dan sikap membiarkan. Sedangkan secara terminologis, toleransi ialah memperbolehkan orang lain dalam melakukan sesuatu yang sesuai dengan kepentingan masing-masing(Fitriani. Toleransi didefinisikan dalam konteks sosial, budaya, dan agama sebagai sikap dan tindakan yang melarang diskriminasi terhadap kelompok yang berbeda dalam masyarakat. Dalam dunia nyata, konflik menjadi hal yang tidak dapat dihindari dan kreatif. Konflik sendiri dapat diselesaikan tanpa jalur kekerasan, dan masing-masing pihak harus terlibat. Konflik juga dapat berguna untuk membangun kerukunan. Konflik diperlukan untuk menunjukkan masalah, mendorong perubahan yang lebih baik dan diperlukan, dan memperbaiki solusi. Dalam kehidupan bermasyarakat, toleransi diperlukan karena berguna untuk membangun Toleransi menjadi salah satu bentuk untuk saling menghormati sesama dan tidak memaksakan kehendak. Manusia yang menganggap dirinya lebih tinggi, baik, dan benar justru cenderung akan menimbulkan sikap yang anti toleran Toleransi yang menjadi harapan orang seharusnya melahirkan perdamaian dan meneguhkan kemanusiaan sebagai isu global semua agama. Maka bila toleransi yang diharapkan adalah toleransi semacam ini diperlukan sebuah paradigma kesamaan sebagai wujud dari pada manifestasi egalitarianisme. Bila asas toleransi yang ditekankan dan diorientasikan untuk isu kemanusiaan setidaknya sekat-sekat perbedaan itu hilang perlahan. Prinsip egalitarianisme sebagaimana dimaksud Cak Nur adalah peneguhan kesamaan semua derajat manusia di mana Tuhan yang mutlak. yang Perlu ditekankan dalam prinsip ini adalah tidak ada lagi isu superioritas antara pemeluk agama, pencinta budaya, pemilik ras dan etnis yang dapat menegangkan hubungan sosial sebagai wujud kemanusiaan yang mendasar. Hingga mendapatkan kesimpulan bahwa semua ras, suku, budaya hingga agama sama kedudukannya di hadapan hukum yang sah dan berlaku di Indonesia(Rifki Rosyad. Zaky Mubarok. Taufiq Rahman, 2. Untuk mengatasi masalah perdamaian ini, kelompok primordial harus bersikap terbuka. Spirit persaudaraan, atau persaudaraan, akan menghasilkan paradigm damai yang tidak lagi diragukan lagi. Nilai toleransi, yang mencerminkan filosofi Tri Hita Karana, adalah pilar utama dalam sistem subak Bali yang mendukung keberlanjutan dan keharmonian. Toleransi terlihat dalam pembagian air yang adil melalui musyawarah, di mana setiap pekaseh mengutamakan kepentingan bersama dan mempertimbangkan kebutuhan petani di hilir lainnya. Selain itu, kematangan toleransi dalam menghadapi perbedaan ditunjukkan oleh penghargaan terhadap adat dan ritual keagamaan yang beragam di antara anggota subak serta proses penyelesaian konflik melalui musyawarah mufakat yang mengutamakan persatuan. Selain itu, subak mengajarkan toleransi antargenerasi melalui pewarisan kearifan lokal dan praktik pertanian berkelanjutan yang mengajarkan toleransi terhadap lingkungan. Ini menegaskan bahwa keberhasilan komunitas bergantung pada kemampuan anggota komunitas untuk saling menghargai dan berkompromi untuk kepentingan bersama. Nilai Toleransi dalam subak wingin Toleransi, yaitu kemampuan untuk menghormati dan menerima perbedaan, merupakan pilar utama dalam membangun masyarakat yang rukun. Di Bali, nilai ini tampak jelas dalam sistem Subak, yakni organisasi pengelolaan irigasi tradisional yang telah diakui sebagai Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. warisan budaya dunia oleh UNESCO. Subak tidak hanya berfungsi sebagai sistem distribusi air bagi lahan pertanian, tetapi juga mencerminkan filosofi Tri Hita KaranaAisuatu ajaran yang menekankan pentingnya harmoni antara manusia dengan Tuhan (Parahyanga. , sesama manusia (Pawonga. , dan lingkungan alam (Palemaha. Dari dasar nilai tersebut, sikap toleran diwujudkan dalam praktik sehari-hari Subak, yang bertujuan menjaga keseimbangan serta kelangsungan hidup bersama anggotanya (Wasistha, 2. Lebih jauh lagi, nilai toleransi dalam Subak juga tampak pada aspek-aspek pentingnya. Salah satunya adalah pembagian air, yang merupakan inti dari sistem ini. Air, sebagai sumber daya penting namun terbatas, dibagikan secara adil oleh pekaseh atau pimpinan Subak berdasarkan kebutuhan masing-masing, bukan berdasarkan letak sawah semata. Petani yang berada di daerah hulu rela membagikan air lebih dulu kepada petani di hilir, meskipun hal itu bisa mengakibatkan keterlambatan pengairan di lahan mereka sendiri. Tindakan ini mencerminkan sikap rela berkorban dan empati demi kebaikan bersama. Saat terjadi kekurangan air, para anggota Subak akan bermusyawarah untuk mencari solusi terbaik, biasanya dengan membagi air secara merata dan mengurangi jatah semua pihak agar seluruh lahan tetap mendapat suplai, yang menunjukkan semangat kolektivitas dan toleransi dalam pengambilan keputusan. Disamping dalam pembagian air yang dilakukan dengan saling bertoleransi antar anggota, hal yang lain dapat dilihat saat para anggota dan pengurus subak wingin Banjar Dinas Bukit sari Desa Tegalinggah melakukan musyawarah ( pau. yang dimana para anggota dan pengurus menggunakan pakaian adat masing masing baik islam maupun hindu Pekaseh dan penyarikan . ekretaris Suba. membantu menyelesaikan konflik melalui Mereka mendorong percakapan dan mencari solusi yang menguntungkan semua pihak daripada mengejar pemenang dan pecundang. Salah satu bukti kuat dari nilai toleransi yang mengakar adalah keengganan anggota untuk menerima putusan musyawarah, meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginan mereka pada awalnya. Ini menunjukkan kemampuan untuk bertoleransi, menerima pendapat yang berbeda, dan memprioritaskan persatuan komunitas daripada kepentingan pribadi atau kelompok Krama subak juga mengarahkan untuk bergotong royong membersihkan got yang airnya itu akan menuju kebun. Selanjutnya adalah hubungan yang harus dijaga adalah hubungan manusia dengan manusia(SaThierbach et al. , 2. Dalam hal ini, krama subak sendiri harus mampu berkomunikasi yang baik antara anggota subak yang satu dengan anggota subak yang lainnya. Apalagi dalam organisasi subak Wingin ni terdapat umat lain yaitu umat islam yang juga menjadi anggota subak Wingin ini. Umat yang satu dengan umat yang lain harus mampu menyelaraskan tujuan untuk membangun subak wingin yang lebih Simpulan dan saran Subak Wingin yang terletak di Banjar Dinas Bukit Sari. Desa Tegalinggah. Buleleng, memiliki peran penting dalam menumbuhkan sikap toleransi di tengah masyarakat yang beragam etnis. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. budaya, dan agama. Walaupun Bali kerap diasosiasikan sebagai wilayah yang homogen, faktanya daerah ini telah lama menjadi tempat tinggal bagi kelompok-kelompok etnis dan agama yang beragam, seperti komunitas Tionghoa . enganut Buddha dan Konghuc. Bugis dan Sasak . eragama Isla. , serta warga Eropa dan Bali sendiri yang memeluk agama Kristen. Subak bukan hanya sekadar sistem irigasi tradisional, melainkan juga sebuah lembaga sosial dan spiritual yang menyatukan pengelolaan air dengan nilai-nilai budaya, sosial, dan religius khas Bali, terutama yang bersumber dari ajaran Tri Hita Karana. Hasil dari penelitian kualitatif ini menunjukkan bahwa nilai-nilai toleransi dalam Subak Wingin diterapkan secara nyata, misalnya dalam pembagian air yang dilakukan secara adil berdasarkan kebutuhan petani dan keputusan bersama lewat musyawarah. Selain itu, forum-forum diskusi yang melibatkan anggota dari latar belakang agama berbeda juga menjadi contoh konkret dari praktik sosial yang menjunjung tinggi sikap saling menghargai. Tak hanya itu, toleransi di Subak Wingin juga terlihat dari cara penyelesaian konflik yang dilakukan secara damai oleh tokoh-tokoh Subak seperti pekaseh dan penyarikan. Proses penyelesaian tersebut selalu mengedepankan semangat kebersamaan dan kompromi. Kehadiran anggota Muslim dalam struktur Subak Wingin memperkuat pentingnya komunikasi yang baik serta keselarasan tujuan lintas agama demi kemajuan bersama. Selain itu. Subak Wingin turut menanamkan nilai toleransi lintas generasi dengan meneruskan kearifan lokal dan budaya gotong royong kepada generasi muda, sehingga nilai-nilai solidaritas dan harmoni sosial tetap terjaga meski dihadapkan pada arus globalisasi dan modernisasi yang berpotensi menggerus budaya tradisional. Daftar Rujukan Affandy. Installation of local wisdom values in improving studentsAo religious behavior. Atthulab: Islamic Religion Teaching and Learning Journal, 2. , 69Ae93. https://journal. id/index. php/atthulab/article/view/3391 Aisya Putri Handayani. Jap Tji Beng. Febynola Tiara Salsabilla. Stefania Morin. Thalia Syahrunia Suci Ardhia, & Valensia Audrey Rusli. Hilangnya Budaya Lokal di Era Modern dan Upaya Pelestariannya dalam Perspektif Pancasila. Dewantara : Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora, 3. , 178Ae188. https://doi. org/10. 30640/dewantara. Alaslan. Suharti. Laxmi. Rustandi. Sutrisno. , & Rahmi. Penelitian Metode Kualitatif. https://osf. io/preprints/thesiscommons/smrbh Armini. Tolerance of multi-ethnics and multi-religions in subak organization in Bali. Patanjala, 5. , 39Ae53. Fitriani. Keberagaman dan Toleransi Antar Umat Beragama. Analisis: Jurnal Studi Keislaman, 20. , 179Ae192. https://doi. org/10. 24042/ajsk. Niswatin. , & Mahdalena. Nilai Kearifan Lokal AuSubakAy Sebagai Modal Sosial Transmigran Etnis Bali. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 171Ae188. https://doi. org/10. 18202/jamal. Nopitasari. , & Putrawan. Konsep Tri Hita Karana Dalam Subak. E-Jurnal Ilmu Hukum Kerta Desa. I, 1Ae5. Rifki Rosyad. Zaky Mubarok. Taufiq Rahman. Toleransi Beragama Dan Harmoniasasi Sosial. In Bandung: Lekkas (Vol. Issue Apri. Riyadi. Prabowo. , & Hakim. Peran Bhinneka Tunggal Ika Dalam Keberagaman Adat Budaya di Indonesia. Jaksa: Jurnal Kajian Ilmu Hukum Dan Politik, 2. , 34Ae49. https://doi. org/10. 51903/jaksa. SaThierbach. Petrovic. Schilbach. Mayo. Perriches. Rundlet. Jeon. Collins. Huber. Lin. Paduch. Koide. Lu. Fischer. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Hurt. Koide. Kossiakoff. Hoelz. Hawryluk-gara. A Hoelz. Toleransi Antar Umat Beragama Dalam Struktur Organisasi Subak Air Satang Desa Medewi Kecamatan Pekutatan Kabupaten Jembrana (Perspektif Pendidikan Agama Hind. Proceedings National Academy Sciences, 3. , 1Ae15. http://dx. org/10. 1016/j. 056https://academic. com/bioinformatics /article-abstract/34/13/2201/4852827internal-pdf://semisupervised3254828305/semisupervised. ppthttp://dx. org/10. 1016/j. //dx. org/10. Wasistha. Merawat Ingatan Sejarah: Toleransi Nyama Bali Nyama Slam Di Desa Bukit. Karangasem. Bali. Jurnal Widya Citra, 3(Apri. , 16Ae24. https://ejournal2. id/index. php/JUWITRA/article/view/1102https://ejour id/index. php/JUWITRA/article/download/1102/573 Wiediharto. Ruja. , & Purnomo. Nilai-Nilai Kearifan Lokal Tradisi Suran. Diakronika, 20. , 13. https://doi. org/10. 24036/diakronika/vol20-iss1/122 GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304