EFEKTIVITAS MEDIA SOSIAL DALAM PENCEGAHAN DAN PENGELOLAAN DIABETES: STUDI LITERATUR EFFECTIVENESS OF SOCIAL MEDIA IN DIABETES PREVENTION AND MANAGEMENT: A LITERATURE STUDY Triananda Putri* . Zaituni. Ainol Mardiah Universitas Bumi Persada. Aceh. Indonesia trianandaputri386@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan media sosial dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit diabetes mellitus (DM). Rumusan masalah yang diajukan adalah sejauh mana media sosial dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit diabetes, mempengaruhi perubahan perilaku, dan mengatasi tantangan dalam proses penyembuhannya. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis dengan pendekatan PRISMA, yang mencakup pencarian artikel melalui Google Scholar dengan queri yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial, terutama platform seperti TikTok. WhatsApp, dan Zoom, efektif dalam meningkatkan pengetahuan tentang penyakit diabetes. Namun, meskipun terdapat peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku yang nyata seperti kepatuhan terhadap pengobatan atau diet sehat, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan interaktif guna memperoleh dampak yang lebih nyata. Oleh karena itu, disarankan agar pihak terkait memanfaatkan media sosial sebagai bagian dari strategi pencegahan yang lebih komprehensif, yang mencakup konseling tatap muka, pengingat rutin, dan dukungan sosial yang berkelanjutan. Disamping itu, untuk meningkatkan efektivitas, kualitas konten, serta keterlibatan audiens dalam berintegrasi dengan media sosial diharapkan dapat lebih memperhatikan sisi edukasi. Kata kunci: media sosial, diabetes mellitus, pencegahan, pengelolaan, edukasi ABSTRACT The aims of the study is to evaluate the effectiveness of social media use in the prevention and management of Diabetes Mellitus (DM). The research questions raised were to what extent social media can enhance public knowledge about diabetes, influence behavior change, and address the challenges in its utilization. The study employed a systematic literature review method with the PRISMA approach, which includes article searches through Google Scholar using relevant The results showed that social media, particularly platforms like TikTok. WhatsApp, and Zoom, is effective in improving knowledge about diabetes. However, despite the increase in knowledge, deeper behavior changes, such as adherence to medication or a healthy diet, require a more holistic and interactive Therefore, it is recommended that social media be used as part of a more comprehensive prevention strategy, which includes face-to-face counseling, regular reminders, and sustained social support. Besides, to improve effectiveness, the quality of content, audience engagement, and integration with other approaches should be considered when designing social media-based education programs. Keywords: Social media. Diabetes Mellitus, prevention, management, health PENDAHULUAN Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi perhatian global karena prevalensi yang terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah penderita diabetes di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya dan akan mencapai 19,9% (Retta et Penyakit diabetes terjadi disebabkan oleh karena gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik, dan Dengan meningkatnya jumlah penderita diabetes, upaya pencegahan dini menjadi sangat penting untuk mengurangi dampak negatif dari penyakit tersebut. Pencegahan dini diabetes dapat dilakukan baik pada tingkat individu maupun pada sistem Salah satu pendekatan efektif yang paling banyak digunakan dalam dekade terakhir adalah pemanfaatan media sosial untuk menyampaikan masyarakat luas (Mustofa & Sani. Dalam sepuluh tahun terakhir, media sosial telah menunjukkan potensinya sebagai platform yang efektif untuk promosi kesehatan. Media sosial mampu menjangkau audiens yang luas dan menciptakan interaksi yang lebih aktif jika konvensional (Kaplan & Haenlein. Tommy et al. Selain itu, informasi kesehatan berbasis bukti dapat disebarluaskan dengan cepat melalui media sosial, meskipun terdapat tantangan seperti validitas informasi dan literasi digital yang belum merata (Sarjito, 2024. Vosoughi et al. Oleh karena itu, literasi media sosial yang merupakan kemampuan individu dalam mengakses, menganalisis, dan tetap berpikir kritis terhadap konten yang diterima, sangatlah penting bagi setiap individu (Hantrais et al. Parwati & Darmansyah, 2. Meskipun sejumlah penelitian telah dilakukan terkait peran media sosial dalam promosi kesehatan,akan tetapi kajian yang secara khusus mengeksplorasi efektivitas media sosial dalam pencegahan diabetes masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan analisis literatur yang kesenjangan penelitian ini. Studi literatur ini berupaya untuk memberikan kontribusi kebaruan dengan meninjau berbagai literatur terkini yang membahas efektivitas media sosial dalam pencegahan Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana media sosial dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap mendorong perubahan perilaku tidak sehat ke arah gaya hidup sehat, serta mengatasi berbagai tantangan dalam pemanfaatan media sosial sebagai alat intervensi kesehatan. Dengan memberikan rekomendasi berbasis bukti, artikel ini diharapkan mampu mendukung pengembangan strategi pencegahan diabetes yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kajian ini didasari pada teori komunikasi kesehatan, seperti Health Belief Model (Rosenstock, 1. , persepsi risiko dan manfaat dalam mendorong perilaku preventif. Dalam konteks media sosial, teori ini relevan informasi mengenai risiko diabetes dan cara pencegahannya dapat disampaikan secara efektif melalui konten yang edukatif dan interaktif. Selain itu, teori difusi inovasi (Rogers, 2. digunakan untuk seperti kampanye kesehatan berbasis media sosial, dapat menyebar dan memengaruhi perilaku kelompok Berdasarkan teori dan literatur yang ada, penelitian ini wawasan baru bagi kebijakan dan praktisi kesehatan dalam memaksimalkan potensi media sosial untuk pencegahan diabetes METODE PENELITIAN Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and MetaAnalyse. Kerangka kerja ini memberikan panduan bagi peneliti untuk menyusun ulasan sistematis secara komprehensif dan transparan, dilakukannya ulasan, metodologi yang digunakan, serta hasil yang diperoleh dari analisis mereka. Artikel yang dipilih untuk tinjauan lebih lanjut berasal dari Google Scholar. Dalam proses pencariannya, peneliti memanfaatkan logika Boolean dan (Proximity Operator. Logika Boolean mencakup tiga operator utama, yaitu AND. OR, dan NOT. AND digunakan untuk menggabungkan konsep, ide, mempersempit strategi pencarian. berfungsi untuk menghubungkan sinonim atau konsep yang terkait, sehingga memperluas hasil pencarian. NOT digunakan untuk mengecualikan memfokuskan pencarian lebih tajam. Penggunaan tanda kurung dalam strategi pencarian memungkinkan hasil yang lebih presisi, karena mesin pencari memprioritaskan istilah di dalam tanda kurung sebelum memastikan hasil pencarian lebih Dalam penelitian ini, peneliti ("EfektivitasA. AND ("Media Sosial" OR AuMedsosA. AND ("Pencegahan Diabetes"). Pencarian menghasilkan 36 artikel yang relevan. Selanjutnya, untuk mempersempit seleksi artikel yang akan ditinjau, peneliti menetapkan kriteria inklusi pertimbangan yang telah dirumuskan. Kriteria untuk inklusi dan eksklusi artikel yang ditinjau didasarkan pada pertimbangan yang dirangkum dalam gambar di bawah ini: Tabel 1. Kriteria Inklusi dan Ekslusi Studi Literatur Kriteria Inklusi Dapat diakses Artikel lima tahun terakhir dari 2020 Prosiding Buku Skripsi, tesis, dan disertasi Jurnak yang tidak dapat diakses Oo Oo Screening Identifikasi Berdasarkan kriteria yang telah disebutkan sebelumnya, peneliti kemudian mengorganisasi artikel- Eksklusi artikel tersebut ke dalam diagram alur PRISMA, yang diilustrasikan sebagai Identifikasi Database Literatur diidentifikasi dari*: Google Scholar . Artikel yang dihapus sebelum penyaringan: Artikel yang ditandai tidak memenuhi syarat oleh alat otomatis: rentang tahun . Hasil screening . Artikel yang dikeluarkan . Artikel yang dicari untuk diambil . Artikel yang dikeluarkan . Included Artikel yang dinilai kelayakannya . Artikel yang dikeluarkan: Alasan 1 . =16 selain jurnal Prosiding. Buku. Skripsi. Tesis dan Disertasi. Pernyataan. Modu. Alasan 2 . =2 jurnal tidak dapat diakse. Alasan 3 . =13 jurnal tidak sesuai topik sasara. Artikel yang dimasukkan ke dalam peninjauan . Gambar 2. Diagram Alur PRISMA Tinjauan Sistematis Mencakup Pencarian Basis Data (Page et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan media sosial dalam pencegahan dan pengelolaan diabetes mellitus (DM). Berdasarkan tinjauan literatur yang menunjukkan bahwa media sosial memiliki potensi yang besar dalam masyarakat, serta dapat memperbaiki pola perilaku dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan diabetes. Salah satu penelitian yang relevan adalah yang dilakukan oleh Maharani et al. yang menggunakan TikTok sebagai media edukasi tentang pengelolaan diabetes. Penelitian ini menunjukkan hasil yang signifikan dalam peningkatan pengetahuan mahasiswa tentang diabetes setelah diberikan edukasi melalui video TikTok. Sebelum intervensi, hanya 36% mahasiswa yang memiliki pengetahuan baik mengenai diabetes, namun setelah menonton video edukasi, persentase ini meningkat Uji menunjukkan bahwa perubahan ini signifikan dengan nilai p = 0. yang menegaskan bahwa media sosial berbasis video pendek seperti TikTok informasi kesehatan kepada audiens Keunggulan utama TikTok terletak pada kemampuannya untuk mengemas informasi dalam format yang menarik, cepat, dan mudah Konten yang visual dan menggunakan bahasa yang sederhana memahami topik yang kompleks seperti diabetes dan pengelolaannya. Meski demikian, kualitas sumber informasi yang disampaikan harus tetap diperhatikan untuk menghindari penyebaran informasi yang tidak Penelitian lain yang relevan dilakukan oleh Kusuma et al. yang mengeksplorasi penggunaan Zoom untuk memberikan edukasi tentang pencegahan dan pengelolaan diabetes tipe 2. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan mengikuti sesi edukasi online. Namun, menunjukkan bahwa perbedaan antara pre-test dan post-test tidak signifikan . = 0. , yang mengindikasikan bahwa meskipun pengaruhnya terhadap perubahan perilaku atau penerapan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari belum terlihat dengan jelas. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah langsung, dimana hal tersebut sangat pemahaman dan komitmen peserta terhadap perubahan perilaku. Hal ini menggarisbawahi pentingnya metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok atau sesi konsultasi pribadi, untuk mendukung perubahan perilaku yang lebih nyata. Dalam konteks konseling gizi. Ismed WhatsApp konseling gizi sebagai metode yang pengetahuan pasien diabetes tentang pola makan yang sehat. Namun, pengetahuan, penelitian ini tidak signifikan dalam kepatuhan diet Hal tersebut mengindikasikan bahwa meskipun informasi dapat disampaikan dengan efektif, faktor lain seperti motivasi pribadi dan dukungan sosial masih menjadi Penggunaan WhatsApp komunikasi yang fleksibel dan panjang diperlukan pendekatan yang lebih intens. Pemberian pengingat rutin, pemantauan, dan dukungan sosial yang berkelanjutan adalah faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam merancang program edukasi berbasis media Sebuah studi di Puskesmas Padang Selasa Palembang juga menunjukkan bahwa pemberian edukasi gizi melalui video dan leaflet secara online dapat meningkatkan pengetahuan pasien tentang diabetes, akan tetapi tidak ada kepatuhan diet pasien. Ini menyoroti merupakan langkah awal yang penting dalam pengelolaan diabetes, akan tetapi perubahan perilaku yang pendekatan yang lebih komprehensif. Kepatuhan terhadap diet diabetes tidak hanya bergantung pada pengetahuan, tetapi juga pada faktorfaktor seperti pengingat rutin, motivasi diri, dan dukungan sosial yang kuat. Oleh karena itu, media sosial sebaiknya digunakan sebagai bagian dari pendekatan yang lebih luas yang melibatkan interaksi berkelanjutan dan pengawasan yang lebih intensif. Di sisi lain, penelitian oleh Saswita et al. tentang penggunaan telefarmasi melalui WhatsApp menunjukkan bahwa intervensi tersebut dapat secara signifikan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan dan Penggunaan WhatsApp sarana konsultasi dan pemantauan terapi obat memungkinkan pasien untuk berinteraksi langsung dengan Temuan ini mengindikasikan bahwa aplikasi berbasis pesan instan dapat memperbaiki pengelolaan diabetes pada penderita diabetes, terutama dalam hal kepatuhan terhadap pengobatan. Pemberian informasi yang lebih personal dan langsung, seperti pengingat dan konsultasi rutin, dapat memotivasi pasien untuk lebih disiplin dalam Secara keseluruhan, hasil-hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran penting dalam edukasi dan pengelolaan efektivitasnya sangat bergantung pada cara penyampaian informasi, tingkat keterlibatan pengguna, serta adanya pendekatan yang intens dalam mengubah perilaku pasien. Meskipun media sosial dapat meningkatkan pengetahuan secara cepat, faktor motivasi, dukungan sosial, dan pengawasan yang berkelanjutan perlu diperhatikan untuk mencapai hasil yang optimal dalam pencegahan dan pengelolaan diabetes. Oleh karena itu, kombinasi media sosial dengan metode edukasi dan pemantauan lainnya seperti konseling tatap muka, pengingat rutin, dan dukungan sosial dapat menjadi strategi yang lebih efektif dalam mengelola diabetes KESIMPULAN Berdasarkan hasil kajian literatur yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa media sosial memiliki potensi yang signifikan dalam pencegahan dan pengelolaan diabetes mellitus (DM), bergantung pada berbagai faktor. Media sosial, terutama platform berbasis video pendek seperti TikTok, serta aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Zoom, terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit diabetes Namun, pengetahuan, perubahan perilaku pengobatan atau diet sehat, strategi tersebut memerlukan pendekatan yang lebih holistik dan interaktif agak mendapatkan hasil yang maksimal. Media sosial dapat mempercepat penyebaran informasi kesehatan dengan cara yang menarik dan mudah diakses, namun tantangan utama terletak pada validitas informasi, literasi digital, serta kebutuhan untuk pendekatan yang berkelanjutan dan lebih personal. Penggunaan media sosial sebaiknya dipadukan dengan metode edukasi lainnya, seperti konseling tatap muka, pengingat rutin, serta dukungan sosial yang perubahan perilaku yang positif. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pengelolaan diabetes melalui media sosial, penting untuk memperhatikan kualitas konten, keterlibatan audiens, serta integrasi dengan pendekatan lain yang mendukung pengawasan dan motivasi pasien dalam jangka UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para responden yang telah bersedia Kontribusi kesediaan para responden dalam memberikan data dan informasi sangat berharga bagi keberhasilan penelitian ini. Penulis juga berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan dalam penggunaan data untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. DAFTAR PUSTAKA