Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 FAKTOR RISIKO ABORTUS: PENELITIAN KASUS-KONTROL BERBASIS RUMAH SAKIT Ana Setiyorini1. Wulan Mei Mustika Dewi 2 STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401. Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. Email: ana_setiyorini@stikespantirapih. Rumah Sakit Panti Rapih. Jl. Cik Di Tiro No. Samirono. Terban. Gondokusuman. Yogyakarta. Indonesia. Email: musyika50@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Insiden abortus secara klinis dinyatakan sekitar 15-20% dari semua kehamilan. Rata-rata terjadi 114 kasus abortus setiap jam dan dapat mendekati 50%. Faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian abortus adalah faktor janin, ibu, dan eksternal. Tujuan: Mengetahui besarnya risiko terjadinya abortus pada ibu dengan riwayat abortus sebelumnya dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kejadian abortus yaitu usia ibu saat hamil, paritas, jarak Metode: Penelitian observasional dengan rancangan case control di Rumah Sakit Swasta Yogyakarta. Jumlah kasus ada 50 orang . bortus dengan usia kehamilan <20 mingg. dan kontrol yang diambil secara random ada 100 orang . ersalinan ater. Analisis univariat, bivariat dengan Chi Square pada tingkat kemaknaan p<0,05, 95% CI. Analisis multivariat model regresi logistik untuk memperkirakan odds ratio dan 95% CI risiko riwayat abortus terhadap kejadian abortus. Hasil: Analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa ibu dengan riwayat abortus sebelumnya memiliki risiko lebih rendah mengalami abortus dibandingkan ibu yang belum pernah abortus (OR = 0,39. 95% CI: 0,17Ae0,. Faktor yang meningkatkan risiko abortus secara signifikan adalah usia ibu saat hamil <20 atau >35 tahun (OR = 2,69. 95% CI: 1,17Ae6,. , paritas tinggi (OR = 11,15. 95% CI: 1,32Ae93,. , dan jarak kehamilan yang terlalu dekat atau jauh (OR = 3,30. 95% CI: 1,48Ae7,. Simpulan: Riwayat abortus ditemukan sebagai faktor protektif terhadap kejadian abortus dan memerlukan kajian lebih lanjut untuk memahami mekanismenya. Kata kunci : case control, faktor risiko, kejadian abortus, riwayat abortus ABSTRACT Background: The incidence of abortion is clinically stated to be around 15-20% of all pregnancies. On average, there are 114 cases of abortion every hour and can approach 50%. Factors that are thought to be associated with the incidence of abortion are fetal, maternal, and external factors. Objective: Knowing the magnitude of the risk of abortion in mothers with a previous history of abortion and other factors that affect the incidence of abortion, namely maternal age at pregnancy, parity, and pregnancy distance. Methods: Observational study with case control design at Yogyakarta Private Hospital. There were 50 cases . bortion with gestational age <20 week. and 100 randomly drawn controls . t term labo. Univariate, bivariate analysis with Chi Square at the level of significance p<0. 05, 95% CI. Multivariate analysis of logistic regression models to estimate the odds ratio and 95% CI of the risk of history of abortion on the incidence of abortion. Results: Multivariate logistic regression analysis showed that mothers with a previous history of abortion had a lower risk of having an abortion than mothers who had never had an abortion (OR = 95% CI: 0. 17Ae0. Factors that significantly increased the risk of abortion were maternal age at pregnancy <20 or >35 years (OR = 2. 95% CI: 1. , high parity (OR = 11. 95% CI: 1. , and pregnancy spacing that was too close or far apart (OR = 3. 95% CI: 1. Faktor Risiko Abortus: Penelitian Kasus-Kontrol Berbasis Rumah Sakit Ana Setiyorini. Wulan Mei Mustika Dewi Conclusion: A history of abortion was found to be a protective factor for the incidence of abortion and requires further study to understand its mechanism. Keywords: case control, history of abortion, incidence of abortion, risk factors,. PENDAHULUAN Derajat kesehatan masyarakat sebuah Insiden aborsi secara klinis dinyatakan negara dapat dilihat dari angka kematian ibu sekitar 15-20% dari semua kehamilan. Rata- (AKI) karena kondisi ini mencerminkan rata, ada 114 kasus aborsi setiap jamnya dan bisa mendekati 50% (Prawirohardjo, 2. pelayanan kesehatan. AKI masuk di dalam Komplikasi perdarahan pada jalan lahir pada target tujuan pembangunan berkelanjutan, ibu hamil usia 15-49 tahun (WUS) di dimana pada tahun 2030 rasio angka Indonesia adalah 2,6%, merupakan urutan kematian ibu secara global diharapkan ke-4 setelah hipertensi, ketuban pecah dini. Pendarahan kelahiran hidup (WHO, 2. AKI dapat terjadi pada masa kehamilan akibat dari kehamilan terbanyak, dengan persentase segala sesuatu yang terkait dengan atau yang sedikit meningkat dari SDKI 2007 ke memperbesar kehamilan, atau perawatannya SDKI 2017 . % ke 5%). Daerah Istimewa dan tentunya berdampak pada kesehatan Yogyakarta janin (Kemenkes. I, 2. dengan kasus kehamilan dengan perdarahan Perkembangan (DIY) . ,4%) kandungan sangat tergantung pada kondisi provinsi lain (BKKBN, 2018. Litbangkes, kesehatan ibu. Kesehatan ibu yang terganggu Komplikasi ini dapat menyebabkan kematian pada ibu. Di DIY, kematian ibu perkembangan janin. Selama kehamilan, ibu didominasi oleh adanya perdarahan . dapat mengalami berbagai macam gangguan atau komplikasi kehamilan yang dapat kehamilan . dan infeksi . mengancam janin. Salah satu komplikasi (Dinkes. DIY, 2. kehamilan adalah keguguran atau abortus. Abortus dapat disebabkan oleh berbagai Abortus adalah pengeluaran lengkap atau Faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian abortus dapat oleh karena faktor janin, ibu, dan eksternal. Dari faktor kehamilan kurang dari 20 minggu, berat janin, sekitar 50% dari keguguran trimester kurang dari 500 gram, panjang kurang dari 16,5 cm (Desmarnita & Larasati 2. kromosom (Adeniran et al. , 2. Dari Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 faktor ibu, ibu yang hamil dengan usia antara kasus . bortus dengan usia kehamilan kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun <20 mingg. dan kontrol . ersalinan ater. berisiko terjadinya keguguran sebesar 7,9 Kriteria inklusi untuk kasus adalah memiliki kali dibanding yang berusia 20-35 tahun rekam medis lengkap terkait catatan riwayat obstetri dan tidak mengalami intervensi (Hikmah & Sari, 2. Dari faktor eksternal, medis untuk mengakhiri kehamilan. Adapun salah satu penyebabnya adalah paparan asap rokok (Purwaningrum & Fibriana, 2. , diambil 100 sampel. Teknik sampling yang berpengaruh adalah paritas (Handayani, diambil 50 sampel dan jumlah kontrol yang Faktor risiko lain yang turut catatan riwayat obstetri. Jumlah kasus yang toksik serta mempunyai efek vasoaktif memiliki rekam medis lengkap terkait yang diketahui mengandung ratusan unsur dengan systematic simple random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan (Purwaningrum & Fibriana, 2. , dan jarak data sekunder dengan lembar check list yang kehamilan (Prihandini et al. , 2. dibuat oleh peneliti berdasarkan tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Instrumen pengumpulan data mengetahui besarnya risiko terjadinya abortus terdiri dari 4 variabel yang diteliti dan telah pada ibu dengan riwayat abortus sebelumnya diisi sesuai dengan data obstetri yang tertera dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kejadian abortus yaitu usia ibu saat hamil, paritas, jarak kehamilan. Rumah Sakit Swasta Square digunakan untuk menghitung Odds Ratio (OR) yang merupakan perbandingan antara control retrospektif dengan mengambil data Odds abortus dan Odds persalinan aterm dari rekam medis pasien yang mengkaji hubungan antara efek tertentu . Chi kemaknaan ditetapkan p<0,05. Tabel 2x2 epidemiologik analitik observasional case Yogyakarta. Uji statistik yang digunakan Penelitian ini merupakan penelitian untuk mengetahui pengaruh antara 2 variabel METODE PENELITIAN pada bagian rekam medis pasien. Penelitian (CI) Analisis multivariabel dilakukan dengan . iwayat pemodelan regresi logistik yang disusun Populasi dari penelitian ini adalah seluruh ibu dengan minimal kehamilan dua variabel-variabel yang diteliti yaitu riwayat kali atau Gravida 2 dan sudah mengalami abortus, kejadian abortus, usia ibu saat hamil, abortus untuk kasus dan persalinan untuk paritas, dan jarak kehamilan. Sampel dengan perbandingan 1:2 Faktor Risiko Abortus: Penelitian Kasus-Kontrol Berbasis Rumah Sakit Ana Setiyorini. Wulan Mei Mustika Dewi HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariabel Tabel 4. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Abortus Persalinan Aterm Responden (%) (%) Usia Ibu Saat Hamil <20>35 Total Gravida Total Paritas Rendah Tinggi . Total Riwayat AB Belum Pernah . Pernah . Total Anak Hidup Total Jarak Kehamilan Dekat atau Jauh . Ideal Total Sumber: Data sekunder Berdasarkan tabel 1. Separuh kelompok Hampir Total (%) . %) dan lebih dari separuh abortus . %) dan kontrol . %) telah kelompok kontrol . %) berada dalam mengalami kehamilan dua kali. Riwayat rentang usia 20Ae35 tahun. Rentang usia ini kehamilan yang lebih banyak (Gravid. dianggap sebagai usia reproduktif optimal sering dikaitkan dengan peningkatan risiko dengan risiko komplikasi yang lebih rendah komplikasi obstetri, termasuk abortus (Hu et dibandingkan usia remaja atau di atas 35 , 2018. Sulastri et al. , 2. Kaitan ini diperberat jika disertai faktor risiko lain (Desmarnita Larasati Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 seperti paritas, riwayat abortus sebelumnya, sedangkan pada kelompok kontrol, hampir atau penyakit penyerta lainnya. Sebagian separuh . %) memiliki dua anak hidup. besar ibu dalam kelompok abortus . %) Jumlah dan kontrol . %) memiliki paritas rendah. Paritas rendah sering dikaitkan dengan seorang ibu dan berkaitan dengan jarak Hal ini dapat berpengaruh pada optimal untuk kehamilan berulang, yang dapat meningkatkan risiko abortus. Namun Lebih dari separuh ibu dalam demikian, yang sering dikaitkan dengan kelompok abortus . %) memiliki jarak abortus adalah ibu dengan paritas tinggi kehamilan yang terlalu dekat atau terlalu (Maya et al. , 2. Lebih dari separuh ibu jauh, sedangkan dalam kelompok kontrol, lebih dari separuh . %) memiliki jarak sebagian besar kontrol . %) belum pernah kehamilan yang ideal. Jarak kehamilan yang mengalami abortus sebelumnya. Riwayat terlalu dekat atau jauh sering dikaitkan abortus sebelumnya sering disebut sebagai faktor risiko penting bagi abortus berulang obstetri, termasuk abortus spontan dan (Desmarnita & Larasati 2. Lebih dari kelahiran prematur (Maya et al. , 2024. separuh ibu . %) memiliki satu anak hidup. Purwaningrum & Fibriana, 2. %) Analisis Bivariabel Tabel 2 Hubungan Antara Faktor Risiko Dengan Kejadian Abortus Abortus Persalinan Aterm p-value VARIABEL (%) (%) Riwayat Abortus O0,001* Belum pernah 27 . Pernah 23 . 0,26 Usia Ibu Saat Hamil 0,034* <20 dan >35 25 . 2,13 Paritas Rendah 0,016* 12,25 Tinggi 1 . Jarak Kehamilan O0,00* Dekat atau Jauh 35 . 5,19 Ideal Keterangan: *: p value <0. CI: Confidence Interval Berdasarkan tabel 2, hasil analisis 95% CI ,12-0,. ,06-4,. ,59-94,. ,48-10,. abortus secara statistik memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian abortus. Faktor Risiko Abortus: Penelitian Kasus-Kontrol Berbasis Rumah Sakit Ana Setiyorini. Wulan Mei Mustika Dewi Ibu mengalami abortus dibandingkan ibu yang sebelumnya memiliki risiko 0,26 lebih hamil pada usia 20-35 tahun (OR = 2,13. fek protekti. mengalami abortus penelitian ini sejalan dengan penelitian CI: 1,06-4,26. Hasil mengalami abortus (OR = 0,26. 95% CI: 0,12-0,55. p O 0,. Hasil penelitian ini kejadian abortus meningkat risikonya pada tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya ibu dengan usia <20 atau >35 tahun yang menyatakan bahwa riwayat abortus (Hashemi et al. , 2024. Hikmah & Sari, 2017. Maya et al. , 2024. Purwaningrum & Fibriana, 2017. Supanji et al. , 2. Pada usia remaja, sistem reproduksi wanita belum biasanya dikaitkan dengan adanya kerusakan berkembang secara sempurna. Pada usia pada jaringan uterus, faktor hormonal, atau lebih dari 35 tahun, risiko komplikasi p=0,. (Adeniran Purwaningrum Fibriana, berikutnya (Desmarnita & Larasati 2. penurunan kualitas sel telur dan peningkatan Namun, hasil penelitian ini sejalan dengan penyakit penyerta seperti hipertensi dan penelitian sebelumnya yang menyatakan Namun demikian, kejadian abortus bahwa riwayat abortus merupakan faktor bergantung pada kondisi fisik dari ibu dan protektif terhadap kejadian abortus berulang faktor pemicu lain yang mempengaruhinya (Gunanegara et al. , 2015. Hu et al. , 2. Abortus berulang dapat disebabkan oleh kesehatan ibu, tingkat aktivitas fisik, kondisi banyak faktor. Secara umum, ibu yang emosional (Reeder et al. , 2. mengalami abortus akan lebih berhati-hati Paritas tinggi secara statistik memiliki dan akan melakukan pemeriksaan kehamilan hubungan yang bermakna dengan kejadian berikutnya secara rutin (Desmarnita & Ibu dengan paritas tinggi memiliki Larasati 2021. Prawirohardjo, 2. Faktor risiko 12,25 kali lebih tinggi mengalami abortus dibandingkan ibu dengan paritas rendah (OR = 12,25. 95% CI: 1,59-94,17. penelitian ini. p=0,. Beberapa penelitian menunjukkan Hamil pada usia <20 tahun atau >35 bahwa semakin tinggi jumlah kehamilan tahun secara statistik memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian abortus. Ibu yang hamil pada usia <20 tahun atau >35 (Handayani, 2015. Maya et al. , 2024. tahun memiliki risiko 2,13 kali lebih tinggi Supanji et al. , 2. Ibu dengan paritas Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 tinggi berisiko lebih tinggi mengalami terhadap kejadian abortus (Maya et al. , 2024. Hal ini dapat terjadi karena Purwaningrum kelelahan fisik, perubahan struktur uterus Kehamilan akibat kehamilan berulang, dan gangguan menyebabkan kekurangan cadangan nutrisi sirkulasi darah pada plasenta (Desmarnita & dan energi, sedangkan jarak yang terlalu Larasati 2. Penurunan fungsi reproduksi dapat mengakibatkan serviks menjadi tidak kompeten dalam mempertahankan hasil implantasi janin (Desmarnita & Larasati Prawirohardjo, 2. Sesuai dengan (Prawirohardjo, 2. Fibriana, yang disarankan WHO bahwa kriteria jarak Ibu dengan jarak kehamilan dekat atau kehamilan yang baik adalah 2-5 tahun jauh memiliki hubungan yang bermakna karena jarak kehamilan kurang dari dua secara statistik dengan kejadian abortus. Ibu tahun atau lebih dari lima tahun akan dengan jarak kehamilan yang terlalu dekat atau terlalu jauh memiliki risiko 5,19 kali maternal dan perinatal (Satriyandari, 2. Kehamilan dengan jarak 2-5 tahun, sangat dibandingkan ibu dengan jarak kehamilan baik untuk ibu karena kondisi rahim ibu ideal (OR = 5,19. 95% CI: 2,48-10,87. sudah kembali normal dan endometrium pO0,. Hasil penelitian ini sejalan dengan telah siap menerima dan memberikan nutrisi penelitian sebelumnya yang menyatakan pada hasil konsepsi (Desmarnita & Larasati Analisis Multivariabel Variabel Tabel 3 Perkiraan Odds Ratio Hasil Analisis Multivariabel Dengan Pemodelan Regresi Logistik Tentang Kejadian Abortus Kejadian Abortus Model 1 Model 2 Model 3 95% CI 95% CI 95% CI Riwayat Abortus Belum Pernah Pernah Usia Ibu Saat Hamil <20 dan >35 0,26* . ,120,. 0,25* 2,25* . ,110,. ,084,. 3,44* . ,150,. ,567,. Model 4 0,39* 2,69* ,17 ,17 Faktor Risiko Abortus: Penelitian Kasus-Kontrol Berbasis Rumah Sakit Ana Setiyorini. Wulan Mei Mustika Dewi Paritas Rendah Tinggi 16,28* . ,99133,. Jarak Kehamilan Dekat atau Jauh 11,15* 3,30* Ideal (-. Log -178,26 -173,50 X2 perubahan 4,76 Keterangan: *: p value <0,05 . CI: Confidence Interval ,32 ,48 -160,70 -151,96 17,56 26,30 Berdasarkan tabel 3, analisis multivariat dan jarak kehamilan, risiko kejadian abortus dilakukan 4 model dengan 5 variabel, yaitu 1 pada ibu dengan paritas tinggi tetap tinggi, variabel bebas . ejadian abortu. , 1 variabel walaupun turun dari OR = 12,25. 95% CI: iwayat abortu. dan 3 variabel 1,59-94,17. p=0,016 menjadi OR = 11,15. sia ibu saat hamil, paritas, dan 95% CI: 1,32-93,99. Risiko abortus akibat jarak kehamilan terhadap kejadian abortus diambil untuk model 4 karena secara menjadi menurun yaitu 3,30 (OR = 3,30. signifikan saling berpengaruh. 95% CI: 1,48-7,. dibanding sebelum Analisis Setelah dikontrol dengan variabel usia dikontrol dengan variabel riwayat abortus, ibu saat hamil, paritas, dan jarak kehamilan, usia ibu saat hamil, dan paritas (OR = 5,19. risiko riwayat abortus terhadap kejadian 95% CI: 2,48-10,87. p O 0,. abortus melemah, yaitu dari OR = 0,26. Pengaruh dari variabel pengganggu CI: 0,12-0,55. pO 0,001 menjadi OR = 0,39. yaitu faktor usia ibu saat hamil, paritas, dan 95% CI: 0,17-0,90, tetapi tetap signifikan. jarak kehamilan terlihat bahwa pada ibu Risiko ibu dengan usia <20 atau >35 tahun yang mempunyai riwayat abortus terjadi peningkatan OR: 0,26 . % CI 0,12-0,. menjadi 2,69 kali lipat (OR = 2,69. 95% CI: pada model 1 menjadi OR: 0,39 . % CI 1,17-6,. dari OR = 2,13. 95% CI: 1,06- 0,17-0,. pada model 4, namun masih 4,26. p=0,034, setelah dikontrol dengan bersifat protektif. Nilai -2Log likelihood: - variabel riwayat abortus, paritas, dan jarak 178,26 pada model 1 berubah menjadi - 151,96 pada model 4. Dengan model ini, variabel riwayat abortus, usia ibu saat hamil, kemampuan riwayat abortus memprediksi Setelah Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 kejadian abortus sebesar 26,30%. Hal ini Yogyakarta adalah usia ibu saat hamil, berarti bahwa 73,70% kejadian abortus dapat disebabkan oleh faktor lain. Hasil ini dan jarak Riwayat memprediksi berpengaruh terhadap kejadian abortus sebesar 26,30% jika ditambah abortus berikutnya, tetapi ketika faktor usia dengan faktor ibu yang <20 atau >35, paritas tinggi, dan jarak diperhitungkan, hubungan ini menjadi lebih mempunyai usia kehamilan dekat atau jauh. Penelitian ini menunjukkan bahwa Petugas kesehatan perlu memberikan faktor lain yaitu usia ibu, paritas, dan jarak penjelasan kepada ibu hamil dengan riwayat abortus agar dalam merencanakan kehamilan meningkatkan risiko abortus. Hubungan dari memperhatikan usia saat hamil, paritas, dan banyak faktor ini sejalan dengan penelitian merencanakan kehamilan secara baik dengan kejadian abortus dapat disebabkan oleh memperhatikan usia saat hamil, paritas, dan berbagai faktor yang saling berhubungan jarak kehamilan. Peneliti selanjutnya dapat yaitu usia ibu, paritas, jarak kehamilan, penyakit penyerta, dan jumlah kehamilan jumlah kehamilan (Desmarnita & Larasati untuk memperkuat temuan yang terkait Hashemi et al. , 2024. Hu et al. , 2018. dengan risiko abortus sesuai dengan temuan Maya et al. , 2024. Purwaningrum & Fibriana, peneliti sebelumnya dan belum disertakan Sulastri et al. , 2019. Supanji et al. dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA