Jurnal Peduli Masyarakat Volume 6 Nomor 3. September 2024 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM MEDIA PENERAPAN LOGO THERAPY GUNA MENCAPAI KESEJAHTERAAN MENTAL ANAK PENGIDAP KANKER Wasilatur Rahmah Siftia Rusydi1*. Farah Nikmatus Sania. Hayyin Farihatul Mauliyah2 . Fikriyatul Mufidah2 . Faisol1. Bakhrudin All Habsy1 Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya. Lidah Wetan. Surabaya. Jawa Timur 60213. Indonesia Fakultas Psikologi. Universitas Negeri Surabaya. Lidah Wetan. Surabaya. Jawa Timur 60213. Indonesia *wasilatur. 22092@mhs. ABSTRAK Kanker merupakan salah satu penyakit yang mematikan, sehingga memerlukan penanganan serius. Namun, tidak hanya dari sisi medis saja, pengidap kanker juga memerlukan intervensi berupa konseling atau pendampingan psiklogis lainnya. Anak pengidap kanker rentan megalami stres saat sebelum atau pasca terapi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan di Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) Surabaya, dengan menggunakan metode Community Development. Tim PKM berinisiatif memberikan konseling dengan teknik Logo Therapy yang bertujuan anak pengidap kanker di YPKAI Surabaya dapat menemukan makna dan tujuan hidupnya. Dari 7 anak yang mendapatkan penanganan, hasil menunjukkan bahwa 2 anak tidak memerlukan konseling individu, 1 anak menunjukkan hasil yang lebih baik setelah mendapatkan konseling individu, 1 anak hanya mendapatkan latihan sensori motorik dan 3 orang anak lainnya membutuhkan penanganan lanjutan berupa konseling Diadakan pula pelatihan dan pembentukan kader Harchilwell sebagai bentuk keberlanjutan Kata kunci: konseling. pengabdian kepada masyarakat. pengidap kanker. terapi logo. YPKAI Surabaya MEDIA FOR IMPLEMENTING LOGO THERAPY TO ACHIEVE MENTAL WELL-BEING IN CHILDREN WITH CANCER ABSTRACT Cancer is a deadly disease that requires serious treatment. However, cancer patients also need psychological support, including counseling. Children with cancer are particularly prone to stress before or after therapy. Community service activities at the Indonesian Child Cancer Care Foundation (YPKAI) Surabaya employ the Community Development method. The PKM team initiated counseling using the Logo Therapy technique to help children with cancer at YPKAI Surabaya find meaning and purpose in their lives. Out of the seven children who received treatment, the results showed that two did not need individual counseling, one showed better results after receiving individual counseling, one only received sensory motor training, and three needed further individual counseling. Additionally, training and the formation of Harchilwell cadres were conducted to ensure program sustainability. Keywords: cancer sufferer. community service. logo therapy. YPKAI Surabaya PENDAHULUAN Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama dengan Yayasan Viva Anak Kanker Indonesia menyepakati kerja sama atas peningkatan perawatan bagi anak-anak pengidap kanker yang menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada Senin 15 Januari 2024, hal ini sebagai upaya dukungan untuk perawatan bagi pengidap kanker pada anak. Menurut data dari Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. Septembe 2024 Global Health Science Group Globocan pada tahun 2020, jumlah pengidap kanker pada anak dari 0-19 tahun sebanyak 11. dan yang menempati posisi pertama adalah jenis kanker leukimia sebanyak 34,8% . , getah bening 5,7% . dan masih banyak jenis lainnya (Rokom, 2. Kanker sendiri merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar dan salah satu tingginya penyebab kematian. Pengidap kanker di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun yang dirasa cukup mengkhawatirkan. 34,4% pasien kanker di Indonesia mengalami depresi, dengan 26% depresi terjadi pada pasien yang menjalani kemoterapi dan/atau operasi (Kompas. id, 2. Hasil riset tersebut membuktikan bahwa pengidap kanker tidak hanya memerlukan penanganan secara medis, namun juga membutuhkan pendampingan dan intervensi psikologis. Menurut Romadhoni dan Setyawati . dalam (Lempang et al. , 2. beberapa orang yang didiagnosis menderita penyakit sering merasakan frustrasi, putus asa, kemarahan, dan merasa ragu terhadap hasil diagnosis dokter. Di kota Surabaya sendiri telah ada salah satu lembaga sosial yang menerima dan menyambut anak-anak pengidap kanker, yaitu Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) biasa disebut juga sebagai rumah singgah yang menyambut dengan terbuka dan hangat atas kedatangan anakanak pengidap kanker dan tumor. YPKAI berlokasi di Jl. Dharmahusada Indah Timur IX Blok L124. Mulyorejo. Surabaya. Jawa Timur 60115. Indonesia. Yayasan tersebut merupakan rumah singgah bagi 300 anak pengidap kanker, namun setiap harinya tidak dapat dipastikan jumlah anak yang datang ke YPKAI Surabaya, karena umumnya anak akan datang ke rumah singgah apabila mendekati jadwal terapi di RSUD Dr. Soetomo. Sistem YPKAI sendiri adalah rumah singgah yang ditempati oleh anak-anak sebelum atau sesudah kemoterapi dan tidak dipungut biaya sepersen pun. Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow mengatakan bahwa manusia cenderung tidak dapat mencapai tingkatan tertinggi apabila kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi. Anak dengan pengidap kanker memiliki kondisi kesehatan fisik yang dapat menghambat aktivitasnya karena adanya ketidakmampuan untuk menjalani aktivitas tersebut. Ketidakmampuan ini akan mempengaruhi tingkatan hierarki selanjutnya, apalagi kebutuhan fisiologi merupakan kebutuhan dasar manusia. Bahkan ketidakmampuan tersebut juga dapat mempengaruhi kualitas hidup karena ketidakmampuan dapat menyebabkan keputusasaan (Dewi & Widari, 2. Sejalan dengan permasalahan yang terjadi, maka Tim PKM menunjukkan kepedulian untuk dapat memecahkannya dengan kegiatan mendukung psikososial anak pengidap kanker salah satunya yaitu konseling. Selain itu, konseling untuk mereduksi stres pra dan pasca terapi merupakan intervensi primer untuk kesembuhan kanker. Menurut Mufida dan Nurul . (Istati & Rahmi, 2. konseling anak dimaksudnya untuk membantu anak dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan hal ini sejalan dengan kondisi di YPKAI yang membutuhkan pendampingan guna mendukung psikososial pada anak pengidap kanker agar kesehatan mentalnya tidak terganggu. Untuk dapat menanggulangi masalah yang terjadi pada mitra. Tim PKM memberikan inovasi berupa program konseling Logo Therapy. Logo Therapy atau dalam bahasa Indonesia berarti makna hidup, memiliki filosofi bahwa kehidupan selalu memiliki makna dalam situasi apapun, bahkan dalam kondisi yang paling menyakitkan sekalipun (Marshall & Ph, 2. Namun pemahaman dan kapasitas manusia sangat terbatas, sehingga tidak selalu memiliki persepsi untuk mencari AumaknaAy dalam setiap keadaan yang dilalui. Sebagian orang yang berada dalam situasi yang tidak diinginkan, seperti didiagnosis mengidap penyakit berbahaya cenderung akan kehilangan semangat bahkan eksistensi dirinya. Konseling Logo Therapy dapat mengisi kekosongan eksistensial, yaitu dengan menemukan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. Septembe 2024 Global Health Science Group sesuatu yang bermakna untuk diselesaikan dapat membantu menangkal reaksi neurotik ke gejala atau krisis (Frankl, n. Sehingga apabila telah menemukan makna hidup, diharapkan orang tersebut akan lebih fokus untuk menikmati dan mencapai tujuannya daripada fokus pada masalah atau situasi yang tidak diinginkan. Logo Therapy memiliki tiga landasan filosofis, yaitu: . The freedom of will, . The will to meaning, dan . the meaning of life. Terdapat tujuh teknik Logo Therapy yang umum digunakan antara lain Dereflection. Family Logo Therapy. Paradoxical Intention. Socratic Dialogue. Medical Ministry. Appealing Tehnique, dan Modification of Attitudes (Hayati & Aminah, 2. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mencapai poin Good health and Well-being dalam Sustainable Development Goals yang diharapkan dapat menunjukkan kepedulian terhadap kondisi mental anak pengidap kanker, khususnya di Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia Surabaya. METODE Pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode pengembangan masyarakat atau yang disebut dengan Community Development, metode tersebut adalah metode yang sistematis dan terencana dengan tujuan untuk mengingkatkan kualitas hidup masyarakat (Suswanto et al. , 2. Dalam hal ini, sasaran pengabdian kepada masyarakat adalah anak-anak pengidap kanker di Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia. Surabaya yang berjumlah 8 dengan satu anak berusia satu tahun. Sehingga pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menyejahterakan mental anak-anak tersebut, dengan cara memberikan konseling Logo Therapy. Konseling Logo Therapy yang dirancang oleh tim PKM merupakan konseling kelompok, namun saat pelaksanaan dikondisikan sesuai dengan jumlah anak yang singgah di yayasan. Selain itu, dilakukan pelatihan dan pembentukan kader Harchilwell . ader kesehatan menta. yang terdiri atas orang tua dan pengurus yayasan, agar pemberian konseling bagi anak-anak yang memerlukan pemdampingan psikologis tetap dapat terlaksana walau program pengabdian kepada masyarakat berakhir. Berikut proses perealisasian program: Gambar 1. Metode Perealisasian Program Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. Septembe 2024 Global Health Science Group HASIL DAN PEMBAHASAN Pengabdian kepada masyarakat diawali dengan sosialisasi program yang bertujuan untuk menjelaskan konsep dengan lebih rinci. Setelah tim dengan pengurus yayasan sepakat, tim PKM memilih dan membuat media yang cocok sebagai media konseling untuk anak-anak. Pemilihan media didasarkan pada kecocokan media dan aktivitas untuk kelompok usia 14 tahun, sehingga terpilihlah 5 media, yaitu: . Boneka, . Monopoli Harchilwell . onopoli modifikas. , . Buku cerita pop up book, . Lego, dan . Media menggambar (Geldard & Geldard, 2012. Guna meyakinkan mitra, sebelum dilakukan konseling, kelima media tersebut diuji aksepsibilitas media terlebih dahulu. Konseling dilaksanakan selama tiga kali, dengan rancangan awal konseling kelompok namun dalam praktiknya menyesuaikan jumlah anak yang singgah di Untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah diberikan layanan konseling, sebagai bahan evaluasi sesuai dengan indikator keberhasilan program, digunakan catatan anekdot sebagai angket pretest dan posttest yang diisi oleh pengamat . nternal tim PKM). Catatan anekdot merupakan instrumen psikologis non-tes yang digunakan untuk mencatat setiap perilaku tidak biasa pada anak (Purwasih, 2. Instrumen tersebut dipilih karena anak sasaran layanan konseling adalah anak-anak. Berikut merupakan Analisis Hasil Konseling yang telah dilakukan: Tabel 1. Analisis Hasil Konseling Nama N . R . K . N . E . Skor kondisi sebelum Skor kondisi setelah konseling Ajn . Adm . Z . Keterangan Tidak berhasil, butuh lanjutan Berhasil, beberapa hal perlus dievaluasi Sangat berhasil Sangat berhasil Konseli belum bisa diberikan konseling karena terlalu muda dan belum bisa berbicara. Hasil pengamatan konselor serta hasil wawancara dengan orang tua menunjukkan bahwa konseli memiliki perkembangan yang baik serta tidak menunjukkan gejala stress dan ketakutan berlebih saat akan berobat Sangat berhasil Sangat berhasil Berhasil, beberapa hal perlu dievaluasi Gambar 2. Grafik Hasil Analisis Konseling Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. Septembe 2024 Global Health Science Group Pelaksanaan konseling pertama dilakukan konseling kelompok karena terdapat tiga anak yang sedang singgah di yayasan. Pada awalnya, konselor yang bertugas di hari itu berencana untuk mengajak konseli menari sebagai ice breaking dalam konseling kelompok, namun ternyata dua anak merupakan penyandang disabilitas kaki, maka konsep tersebut dihapus. Selain itu, hasil konseling pertama menunjukkan bahwa terdapat dua anak dengan inisial R dan N membutuhkan tindak lanjut, namun setelah analisis hasil selesai, anak inisial R pulang ke rumahnya di Mojokerto sedangkan anak inisial N sedang proses kemoterapi, sehingga harus menunggu proses Pelaksanaan konseling kedua direncanakan sebagai konseling kelompok, namun anak yang singgah di yayasan hanya dua orang yang terpaut jarak usia sangat jauh, sehingga tidak memungkinkan untuk dilaksanakan konseling kelompok. Sehingga dilakukan konseling individu untuk anak inisial N, sebagai bentuk tindak lanjut konseling yang tertunda karena proses Dilakukan latihan sensori motorik untuk anak inisial E karena umurnya yang masih satu tahun, disamping itu, konselor juga berbincang-bincang dengan orang tua anak inisial E untuk mengetahui keseharian E dan mengetahui perasaan orang tua anak tersebut. Pelaksanaan konseling ketiga dilakukan konseling kelompok, dengan media monopoli, boneka, pop up book, dan lego. Konseli dengan inisial Z cukup mengganggu proses konseling ketiga karena sering kali memotong pembicaraan dan terkesan cari perhatian, sehingga perhatian konselor cenderung memusat pada konseli tersebut. Selain itu, konseli dengan inisial Z hanya singgah sebentar dan pulang ke Jakarta, sehingga tidak dapat diberikan tindak lanjut secara Pertimbangan dalam penentuan pemberian tindak lanjut ditinjau dari perbandingan hasil pretest dan posttest, serta kesaksian orang tua dan pengurus yayasan Hal tersebut lalu dibandingkan dengan indikator keberhasilan program konseling yang telah dibuat sebelumnya. Indikator keberhasilan konseling merupakan pernyataan yang digunakan untuk mengukur sejauh mana keberhasilan suatu program. Dalam hal ini, keberhasilan program mengacu pada tujuan yang telah ditentukan. Apabila tujuan tercapai maka program dapat dikatakan berhasil. Tujuan tersebut diadaptasi dari buku Konseling Anak-anak, terdapat empat tingkatan tujuan, yaitu: . Tujuan Dasar, . Tujuan Orang tua, . Tujuan yang Dirumuskan Oleh Konselor, dan . Tujuan anak (Geldard & Geldard, 2012. Detailnya adalah sebagai berikut: Tabel 2. Tujuan Konseling Sebagai Indikator Keberhasilan Konseling Tujuan Tujuan tingkat 1 1. ujuan dasa. Tujuan tingkat 2 1. ujuan orangtu. Tujuan tingkat 3 1. ujuan Keterangan Memungkinkan anak menghadapi masalah emosional yang menyakitkan Memungkinkan anak memperoleh tingkat keharmonisan dalam pikiran, emosi, dan tingkah laku Memungkinkan anak merasa nyaman dengan dirinya sendiri Memungkinkan anak menerima keterbatasannya dan kekuatan serta merasa OK Memungkinkan anak mengubah tingkah laku yang mempunyai akibat negatif Memungkinkan anak berfungsi dengan nyaman dan beradaptasi dengan lingkungan Memaksimalkan kesempatan bagi anak tersebut untuk mengejar tonggak Memungkinkan anak menerima dirinya sendiri Memungkinkan anak menerima keadaan yang dialaminya Memungkinkan anak tetap percaya dengan dirinya sendiri Memungkinkan anak dapat mengekspresikan perasaannya Memungkinkan anak tetap semangat menjalani kehidupan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. Septembe 2024 Global Health Science Group Tujuan Keterangan Memungkinkan anak tetap bersemangat menggapai cita-citanya Memungkinkan anak mengetahui keinginannya Memungkinkan anak mengetahui kemampuannya Memungkinkan anak mengetahui tujuan hidupnya (Tujuan tingkat . Memungkinkan anak mencapai keinginannya tujuan anak Dilihat dari tabel analisis hasil konseling, anak yang tidak memerlukan konseling lanjutan adalah anak yang telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan keterangan: Tabel 3. Keterangan terkait Kebutuhan Konseling Tidak berhasil, butuh lanjutan Berhasil, butuh lanjutan Berhasil, beberapa hal perlu dievaluasi Sangat berhasil Anak dengan inisial K tidak memerlukan konseling individu sebagai bentuk tindak lanjut karena telah mencapai tujuan tingkat 3 yaitu telah mengetahui cita-cita . serta tujuan Anak dengan inisial N mendapatkan konseling kelompok sebagai intervensi pertamanya, lalu diberikan tindak lanjut berupa konseling individu karena belum mencapai indikator yang Setelah pemberian konseling individu, terdapat peningkatan yaitu telah mampu beradaptasi dengan kondisinya yang sekarang, sehingga telah mulai perlahan untuk menerima dirinya yang diamputasi karena kepentingan terapi kankernya. Terakhir, anak dengan inisial Ajn tidak membutuhkan tindak lanjut berupa konseling individu karena anak tersebut memperlihatkan sikap yang semangat saat mengikuti konseling. Selain ketiga anak yang telah disebutkan di atas, anak dengan inisial R. Adm, dan Z dinilai memerlukan tindak lanjut untuk memperbaiki beberapa hal yang kurang sesuai. Sementara anak berinisial E tidak mendapatkan konseling karena masih berumur 1 tahun, sehingga hanya diberikan latihan sensori motorik agar perkembangannya semakin optimal. Di sisi lain, konselor juga memberikan arahan dan penguatan kepada pendamping anak tersebut dengan menyisipkan nilai Logo Therapy. Berikut merupakan dokumentasi kegiatan yang telah dilakukan: Gambar 3. Dokumentasi Pelaksanaan Konseling Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. Septembe 2024 Global Health Science Group Setelah kegiatan konseling selesai, harus dilakukan monitoring untuk memantau semua anak yang telah diberikan penanganan berupa konseling. Namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tidak ada yang tau pasti kapan anak tersebut akan kembali singgah di yayasan. Sehingga tim PKM berinisiatif untuk mengadakan pelatihan dan pembentukan kader Harchilwell sebagai bentuk keberlanjutan program. Pelatihan yang dimaksud adalah dengan memberikan materi dan latihan tentang pentingnya kesehatan mental anak pengidap kanker, keterampilan dasar konseling, serta cara penerapan teknik konseling Logo Therapy. Sasaran pelatihan dan kader Harchilwell adalah pengurus yayasan dan pendamping anak yang ada di yayasan saat pelatihan tersebut diadakan, dengan harapan program konseling dapat berlanjut walaupun tim PKM sudah tidak lagi datang untuk memberikan konseling kepada anak-anak di yayasan. Orang tua anak pengidap kanker perlu diberikan pelatihan karena terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa dukungan keluarga dapat mengurangi kecemasan anak pengidap kanker (Hermono et al. SIMPULAN Konseling atau pendampingan psikologis lainnya bagi anak pengidap kanker merupakan intervensi primer dalam proses kesembuhannya. Konseling yang dilakukan menangani 7 anak yaitu: N. Ajn. Adm, dan Z. Seluruh anak mengalami meningkatan skor ke arah positif, namun anak dengan inisial E tidak mendapatkan koneling karena terlalu belia. Sebagai bentuk keberlanjutan program, dilakukan pelatihan dan pembentukan kader Harchilwell dengan harapan pengurus yayasan dan pendamping anak yang hadir dapat melanjutkan inovasi program yang telah digagas oleh tim PKM-PM Harchilwell. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih kepada mitra, yaitu Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) Surabaya karena telah bersedia untuk menjadi mitra dalam pengabdian kepada masyarakat kali ini. Terima kasih pula kepada Ibu Iis selaku pengurus yayasan karena telah menyambut tim dengan sangat Selain itu, tim PKM berterima kasih kepada perguruan tinggi asal, yaitu Universitas Negeri Surabaya atas bimbingan, pendampingan, serta dukungan materil dan non materil yang telah diberikan kepada tim PKM. Terakhir, terima kasih kepada Belmawa Ristekdikti karena telah mendanai program kreativitas pengabdian kepada masyarakat ini. Harapannya, artikel ini dapat menjadi referensi dan motivasi untuk pengabdian kepada masyarakat selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA