MAHSEER: Vol 4 No 2 Juli 2025 23-30 e-ISSN: 2809-8234. p-ISSN : 2809-8374 Received 5 Mei 2025 / Revised 19 Juni 2025 / Accepted 9 Juli 2021 Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan https://jurnal. id/index. php/mahseer Pengaruh Padat Tebar Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticu. Dalam Sistem Akuakultur Ekstensif. Semi Intensif Dan Intensif [The Effect of Stocking Density on the Growth Rate of Oreochromis niloticus in Extensive. Semi Intensive, and Intensive Aquaculture System. Ayi Yustiati1. Rizka Wachida Arhab2 Lecturer in Master Program in Fisheries. Padjadjaran University Master of Fisheries Program Students. Padjajaran University *Email Korespondensi: rizka21004@mail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh padat tebar terhadap pertumbuhan ikan nila dalam berbagai kategori padat tebar. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan, dengan mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan kesehatan ikan nila. Padat tebar yang terlalu tinggi dapat menyebabkan persaingan sumber daya, stres, dan penurunan kualitas air, yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan ikan. Sebaliknya, padat tebar yang terlalu rendah dapat mengakibatkan pemanfaatan ruang yang tidak optimal. Padat tebar optimal bervariasi tergantung pada sistem budidaya yang digunakan. Pada sistem ekstensif, padat tebar disesuaikan dengan ketersediaan pakan alami, sedangkan pada sistem semi intensif dan intensif, padat tebar yang lebih tinggi dapat diterapkan dengan pengelolaan kualitas air dan pakan yang lebih baik. Kata Kunci: Budidaya. Ikan Nila. Ekstensif. Semi Intensif. Intensif ABSTRACT This study aims to examine the effect of stocking density on the growth of tilapia in various stocking density The research method used is a literature review, involving the collection and analysis of data from various relevant previous studies. The results indicate that stocking density significantly affects the growth, survival, and health of tilapia. Excessively high stocking density can lead to competition for resources, stress, and reduced water quality, negatively impacting fish growth. Conversely, excessively low stocking density may result in suboptimal space utilization. The optimal stocking density varies depending on the cultivation system In extensive systems, stocking density is adjusted according to the availability of natural feed, while in semi-intensive and intensive systems, higher stocking densities can be applied with proper water and feed quality management. Keywords: Cultivation. Tilapia. Extensive. Semi-Intensive. Intensive PENDAHULUAN Ikan (Oreochromis permintaan yang terus meningkat (Pardiansyah et Budidaya ikan nila telah tersebar luas di Indonesia dan sejumlah negara Asia dengan pendekatan budidaya semi intensif, dan intensif. Produksi ikan nila mengalami fluktuasi setiap tahunnya, seperti yang tercatat oleh KKP . 732 ton pada 2019, turun menjadi 495 ton pada 2020, dan meningkat menjadi 946 ton pada 2021. Peningkatan ini dicapai melalui budidaya intensif yang memperhatikan berbagai aspek pendukung, termasuk toleransi lingkungan yang tinggi, kemudahan dalam pembiakan, dan pertumbuhan yang cepat (Nugroho et al. , 2. Ikan nila memiliki nilai ekonomis tinggi dan telah dibudidayakan secara massal, karena salah satu sifatnya yang memiliki daya toleransi tinggi terhadap lingkungannya dan mudah dipelihara diberbagai media pemeliharaan (Eka Selain itu, reproduksi atau pembibitan dari ikan nila terbilang mudah karena reproduksi dapat terjadi pada setiap bulan (Zaldi et al. Dalam Yustiati, et al. Pengaruh Padat Tebar Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis Niloticu. Dalam Sistem Akuakultur Ekstensif. Semi Intensif Dan Intensif budidaya ikan nila, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan produksi, seperti manajemen kualitas air, manajemen pakan, dan padat penebaran yang optimal (Zaldi et al. Pertumbuhan, kelangsungan hidup atau kematian ikan dipengaruhi oleh kualitas air, yang berfungsi sebagai media hidup mereka. Untuk mendukung pertumbuhan ikan, pakan yang diberikan juga harus mengandung nutrisi yang lengkap (Eka 2. Selain itu, padat tebar juga merupakan faktor penting dalam budidaya ikan nila yang dapat mempengaruhi pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan kesehatan ikan (Husain et Padat tebar yang tinggi dapat menyebabkan persaingan untuk mendapatkan pakan dan ruang. Sehingga dapat menyebabkan stres, dan penurunan kualitas air, yang pada gilirannya dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit (Zaldi et al. Akuakultur ekstensif, semi intensif dan intensif merupakan sistem budidaya yang umum digunakan untuk produksi ikan nila. Sistem ekstensif dicirikan dengan metode budidaya HASIL DAN PEMBAHASAN Ikan nila memiliki kemampuan adaptasi terhadap salinitas cukup tinggi, sehingga keberadaannya juga sering ditemukan di perairan payau (Zaldi et al. Selain itu, ikan ini juga dapat tumbuh subur di lingkungan dengan kadar oksigen rendah karena mereka mudah menyerap oksigen dari udara di sekitarnya (Eka 2. Untuk mendukung pertumbuhan ikan, padat tebar menjadi faktor penting dalam budidaya ikan nila kelangsungan hidup, dan kesehatan ikan (Husain et Dalam budidaya ikan nila sistem akuakultur ekstensif, semi intensif, dan intensif menjadi sistem budidaya yang umum digunakan pagi para pembudidaya. Sistem Akuakultur Ekstensif Sistem akuakultur ekstensif merupakan metode budidaya perikanan yang masih sederhana dan belum menggunakan teknologi modern secara Pada sistem ekstensif, pakan alami memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan biota, sehingga produktivitasnya relatif rendah. Biaya operasional yang rendah membuat sistem ini cocok untuk pemula atau skala kecil, tetapi hasil panennya belum optimal karena ketergantungan pada faktor alam dan kurangnya kontrol terhadap lingkungan budidaya. Sistem ini memiliki kelemahan seperti risiko kehilangan benih akibat hama dan kurangnya kontrol terhadap kualitas air, sehingga produktivitasnya cenderung perikanan yang masih sederhana dan belum menggunakan teknologi modern, sedangkan intensif dicirikan oleh padat tebar yang tinggi, pemberian pakan buatan, dan kontrol lingkungan, sementara itu sistem semi intensif melibatkan padat tebar yang lebih rendah, pemberian pakan alami dan buatan, dan kontrol lingkungan yang lebih sedikit (Husain dan Damis 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh padat tebar terhadap pertumbuhan ikan nila dalam sistem akuakultur ekstensif, semi, dan intensif dan METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan metode studi Data-data yang didapatkan pada penelitian ini bersumber dari penelitian terdahulu yang telah dipublikasikan. Teknik penelitian studi pustaka merupakan serangkaian tindakan ilmiah yang dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah informasi yang relevan dengan subjek atau masalah yang akan dipelajari (I Made dan Cahyaningrum 2. Meskipun demikian, sistem ekstensif memiliki kelebihan seperti kemampuannya untuk memanfaatkan sumber daya lokal dan mengurangi biaya operasional. Meskipun hasil produksinya mungkin tidak setinggi sistem intensif, metode ini tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan. Di Kecamatan Wanayasa, misalnya, produksi benih ikan nila sudah cukup tinggi dan telah didistribusikan ke berbagai kota, menunjukkan potensi besar dari budidaya ini dalam meningkatkan ekonomi lokal (Dewi et al. Sistem Akuakultur Semi Intensif Sistem akuakultur semi intensif adalah metode budidaya ikan yang menggabungkan unsur-unsur tradisional dan modern, dengan tujuan meningkatkan produktivitas tanpa bergantung penuh pada teknologi canggih. Budidaya ikan nila (Oreochromis niloticu. , sistem semi intensif umumnya melibatkan penggunaan kolam tanah atau tambak dengan padat tebar yang lebih tinggi dibandingkan sistem ekstensif, berkisar antara 10 hingga 30 ekor/m2. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan penggantian air secara rutin dan pemberian pakan digabungkan menggunakan pakan alami dan pakan komersial (Rizky et al. Dalam penelitian Diansari et al. dilakukan perbandingan mengenai kepadatan yang berbeda terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan ikan nila pada sistem resirkulasi dengan filter zeolite pada sistem akuakultur semi intensif. Ikan MAHSEER: Vol 7 No 2 Juli 2025 25-30 nila yang digunakan merupakan benih ikan nila ukuran 4-6 cm dengan padat tebar 10 . erlakuan A), 15 . erlakuan B), dan 20 . erlakuan C) ekor. Rata-rata pertumbuhan panjang ikan nila tertinggi pada perlakuan A sebesar 3,53A0,06 cm, yang terendah pada perlakuan C sebesar 2,57A0,06 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kepadatan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan panjang mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (SGR). Pada kepadatan rendah, ruang gerak yang tersedia lebih baik dibandingkan pada kepadatan tinggi. Hal ini memungkinkan terjadinya persaingan antar individu untuk memperebutkan ruang gerak dan pakan, sehingga individu yang kalah akan terganggu pertumbuhannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Pardiansyah et al. yang mengungkapkan bahwa padat tebar yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan berat ikan nila. Penggunaan sistem akuakultur semi intensif memungkinkan adanya pemanfaatan ruang secara optimal bagi ikan. Selain itu, dalam sistem ini peternak memiliki kontrol yang lebih baik terhadap kualitas air dan lingkungan kolam. Penggunaan aerator dan pengelolaan pakan dapat membantu menjaga kualitas air tetap stabil, sehingga mendukung pertumbuhan ikan membantu meningkatkan kesehatan ikan secara keseluruhan (Rizky et al. , 2. Sistem Akuakultur Intensif Sistem akuakultur intensif merupakan metode budidaya perikanan yang ditandai oleh padat tebar yang tinggi, penggunaan pakan buatan secara teratur, serta pengelolaan yang cermat untuk menjaga kualitas air. Dalam konteks budidaya ikan nila (Oreochromis niloticu. , sistem ini memungkinkan peningkatan produksi yang signifikan dibandingkan dengan sistem akuakultur Pada sistem intensif, ikan ditempatkan dalam kolam yang dirancang khusus, sering kali terbuat dari beton, untuk memudahkan pengelolaan dan pemantauan. Penggunaan teknologi seperti aerator untuk meningkatkan kadar oksigen dalam air dan sistem penggantian air yang rutin menjadi bagian dari praktik ini. Dalam budidaya ikan nila secara intensif, pakan buatan menjadi sumber utama nutrisi, yang dirancang dengan komposisi ideal untuk mendukung pertumbuhan ikan. Dengan pengelolaan yang baik, sistem ini dapat menghasilkan panen yang tinggi dalam waktu singkat, meskipun memerlukan investasi awal yang lebih besar dan keterampilan manajemen yang lebih tinggi. Namun, tantangan seperti akumulasi limbah organik dan potensi pencemaran lingkungan juga perlu diperhatikan. Oleh karena itu, keberhasilan sistem akuakultur intensif sangat bergantung pada penerapan teknologi yang tepat dan praktik manajemen yang berkelanjutan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem sekitar (Ekasari 2. Agar ikan dapat tumbuh secara efisien dan sehat dalam sistem akuakultur intensif yang dicirikan oleh pemeliharaan ikan dengan kepadatan tinggi, pengelolaan lingkungan yang optimal sangat diperlukan. Faktor lingkungan yang paling penting adalah kualitas air. Pengelolaan limbah ikan dan sisa pakan, sirkulasi oksigen, dan kontrol kualitas air sangat dipengaruhi oleh desain kolam. Kolam yang dirancang dengan baik akan mengurangi kemungkinan perubahan drastis pada metrik kualitas air, mencegah stagnasi air yang dapat menyebabkan penumpukan sampah organik, dan memfasilitasi distribusi oksigen yang merata di seluruh kolam. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan ikan nila pada sistem akuakultur intensif sangat dipengaruhi oleh desain kolam yang terbaik (Gulo dan Waruwu Padat tebar yang tinggi dalam sistem budidaya intensif membutuhkan sistem aerasi yang berfungsi dengan baik di dalam kolam untuk mempertahankan tingkat oksigen terlarut yang Ikan akan kekurangan oksigen jika tidak ada sistem aerasi yang memadai, yang dapat membuat mereka stres dan memperlambat laju Sistem akuaponik merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas air dan mengurangi penggunaan air untuk budidaya ikan sehingga diharapkan dapat menjadi metode alternatif dalam mengontrol kualitas air sehingga kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan. Berdasarkan hasil penelitian Azhari dan Tomasoa . , pertumbuhan ikan nila pada akuakultur intensif dengan menggunakan sistem akuaponik mengalami pertumbuhan lebih besar dibandingkan dengan sistem konvensional selama 30 hari masa Menurut data, selama periode penelitian, ikan yang dibesarkan dalam sistem akuaponik tumbuh dengan kecepatan 1,4%, sedangkan ikan yang dibesarkan dalam sistem konvensional tumbuh dengan kecepatan 0,22%. Hal ini menunjukkan bahwa, petumbuhan ikan nila pada sistem akuakultur intensif dapat optimal apabila kualitas air baik. Melalui konversi pakan yang tinggi menjadi biomassa tubuh, kualitas air yang baik dapat menstimulasi pertumbuhan, yang pada akhirnya berdampak pada masa hidup ikan yang dibudidayakan (Azhari dan Tomasoa 2. Yustiati, et al. Pengaruh Padat Tebar Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis Niloticu. Dalam Sistem Akuakultur Ekstensif. Semi Intensif Dan Intensif Kelebihan dan Kelemahan Sistem Akuakultur Ekstensif. Semi Intensif, dan Intensif Sistem akuakultur ekstensif, semi intensif dan intensif yang digunakan untuk budidaya ikan nila memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Berikut merupakan kelemahan dan kelebihan sistem akuakultur ekstensif, semi intensif, dan intensif yang ditampilkan pada Tabel 1 (Soedibyo dan Pramono 2. Tabel 1. Kelebihan dan Kelemahan Sistem Akuakultur Sistem Akuakultur Ekstensif Semi Intensif Intensif Pengaruh Padat Pertumbuhan Kelebihan Kelemahan Produksi ikan rendah dan tidak menentu Biaya operasional rendah Ketergantungan tinggi pada kondisi alam karena penggunaan teknologi dan musim sederhana dan pakan alami Tidak cocok untuk skala komersial besar Produksi ikan lebih tinggi Membutuhkan infrastruktur irigasi yang dibandingkan sistem ekstensif Penggunaan pakan tambahan Memerlukan pengelolaan kualitas air yang lebih intensif meningkatkan efisiensi Biaya Dapat dibandingkan sistem ekstensif terpadu dengan usaha tani lain Produksi ikan sangat tinggi, 1. Biaya investasi dan operasional tinggi sesuai dengan kebutuhan pasar 2. Memerlukan teknologi canggih dan Pengendalian lingkungan dan pengetahuan teknis yang mendalam kualitas air lebih baik Risiko penyakit lebih tinggi akibat Pertumbuhan ikan lebih cepat kepadatan ikan yang tinggi Tebar Laju Padat tebar merupakan jumlah individu ikan yang ditempatkan per satuan luas atau volume media budidaya. Dalam kondisi ideal, kepadatan tebar dapat meningkatkan hasil produksi dan memanfaatkan ruang budidaya secara maksimal. Namun, individu-individu ikan akan lebih bersaing untuk mendapatkan sumber daya seperti pakan dan oksigen jika kepadatan tebar terlalu tinggi. Di sisi lain, pemanfaatan infrastruktur dan ruang budidaya yang tidak efisien akan terjadi akibat kepadatan tebar yang terlalu rendah (Tillah et al. Laju pertumbuhan ikan merupakan tanda penting keberhasilan akuakultur. Banyak faktor, seperti ketersediaan pakan, kualitas air, dan jumlah ruang yang mereka miliki untuk hidup, memengaruhi pertumbuhan ikan. Pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup spesies ikan tertentu secara langsung dipengaruhi oleh padat tebar. Perkembangan ikan sering kali terhambat pada padat tebar yang terlalu tinggi, karena meningkatnya persaingan untuk mendapatkan pakan dan kualitas air yang memburuk akibat penumpukan limbah metabolisme (Tillah et al. Pertumbuhan ikan nila dipengaruhi oleh faktor internal seperti kemampuan pemanfaatan makanan dan ketahanan terhadap penyakit, serta faktor eksternal seperti kondisi fisika, kimia, dan biologi perairan (Hidayat dan Sasanti 2. Kualitas air menjadi kunci dalam pengelolaan pertumbuhan optimal. Penggunaan sistem resirkulasi dan filter air menjadi alternatif efektif dalam menjaga kualitas air agar tetap optimal selama masa pemeliharaan ikan (Tanjung et al. Budidaya Ikan Nila saat ini telah banyak dilakukan oleh pembudidaya lokal di Indonesia. Budidaya Ikan Nila dapat dilakukan secara ekstensif, semi intensif, dan intensif yang dibedakan dengan padat tebar dan teknologi yang Berikut merupakan gambaran mengenai pengaruh padat tebar terhadap laju pertumbuhan ikan nila yang ditampilkan pada Tabel 2. Data produksi budidaya Ikan Nila mengalami peningkatan setiap tahunnya (KKP Peningkatan hasil produksi Ikan Nila diperoleh melalui budidaya secara intensif dengan memperhatikan aspek-aspek pendukung terhadap keberlangsungan hidup ikan tersebut (Mulqan et al. Peningkatan budidaya Ikan Nila tidak terlepas pula dari keunggulan yang dimiliki seperti tingkat toleransi yang tinggi terhadap lingkungan, mudah dikembangbiakan dan pertumbuhannya yang cepat (Nugroho et al. Pertumbuhan ikan merupakan pertambahan panjang dan berat ikan yang dapat dilihat dari perubahan ukuran panjang dan berat dalam satuan waktu. Menurut Hidayat dan Sasanti . pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor MAHSEER: Vol 7 No 2 Juli 2025 25-30 Pengelolaan terhadap lingkungan budidaya perlu dilakukan demi memperoleh pertumbuhan ikan yang optimal. Kualitas air yang baik menjadi satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan lingkungan budidaya. Tabel 2. Pengaruh Padat Tebar terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Nila Padat Tebar kor/m. Kategori Padat Tebar 25, 30, 35 Intensif 50, 100, 150 Intensif Intensif 20, 30, 40, 50, Intensif 20, 25, 30, 35 Semi intensif 30, 50, 70, 90 Semi intensif 10, 20, 30 Semi intensif Laju Pertumbuhan Pertumbuhan optimal pada padat tebar 35 ekor/30 L dengan pemberian pakan pelet Pertumbuhan optimal pada padat tebar 50 ekor/m3 Pakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pellet protein 25%. Parameter pertumbuhan ikan seperti pertumbuhan berat dan panjang ikan dan kelulushidupan tergolong cukup baik karena tidak melebihi ambang batas namun untuk rasio konversi pakan masih tergolong cukup tinggi yaitu sebesar 2,54. Ikan dipelihara dalam sistem kangkung dan pakcoy Pertumbuhan terbaik pada padat tebar 50 ekor/m3 Pakan yang digunakan pakan buatan pelet dengan kandungan protein 31-33%, kadar lemak 3-5%, kadar abu 10-13% dan kadar air 1113%. Tingkat kepadatan yang ideal adalah pada perlakuan dengan kepadatan 30 ekor/m3 Ikan nila dipelihara dengan sistem akuaponik dan diberi pakan buatan Pertumbuhan terbaik pada padat tebar 50 ekor/m3 Budidaya ikan dilakukan dengan sistem KJA Pakan yang digunakan berupa pelet ikan grower kadar protein min. dengan dosis 3% Pertumbuhan menurun seiring peningkatan padat tebar Pertumbuhan optimal pada padat tebar 10 ekor/m3 dengan pemberian pakan pelet yang Sumber Sinaga et al. Zaldi et al. Priyanto et al. Pardiansyah et al. Arsad et al. Sarmila et al. Husain et al. Yustiati, et al. Pengaruh Padat Tebar Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis Niloticu. Dalam Sistem Akuakultur Ekstensif. Semi Intensif Dan Intensif Padat Tebar kor/m. Kategori Padat Tebar Ekstensif 2, 3, 4 Ekstensif Ekstensif Laju Pertumbuhan memiliki kandungan protein sekitar Pemeliharaan ikan dilakukan pada wadah yang menampung 36L Pertumbuhan optimal pada padat tebar 18 ekor dengan pemberian pakan pelet Pertumbuhan optimal pada padat tebar 2 ekor/L Pemeliharaan ikan dilakukan pada sistem polikultur dalam media bioflok dan diberi pakan buatan Kolam tanah yang digunakan dalam pengamatan teknik pembesaran ikan nila jatimbulan dengan sistem semi intensif ini, mengandung menunjang kehidupan ikan dan bermanfaat sebagai pakan alami bagi oragnisme budidaya sehingga nilai FCR pada kegiatan budidaya ini lebih rendah. Ikan dipelihara dengan diberikan pakan alami dan komersil penambahan kincir air pada kolam dapat mengimbangi tingginya padat tebar pada kegiatan budidaya ini sehingga produktivitas ikan tinggi dan SR tinggi. Data produksi budidaya Ikan Nila mengalami peningkatan setiap tahunnya (KKP Peningkatan hasil produksi Ikan Nila diperoleh melalui budidaya secara intensif dengan memperhatikan aspek-aspek pendukung terhadap keberlangsungan hidup ikan tersebut (Mulqan et al. Peningkatan budidaya Ikan Nila tidak terlepas pula dari keunggulan yang dimiliki seperti tingkat toleransi yang tinggi terhadap lingkungan, mudah dikembangbiakan dan pertumbuhannya yang cepat (Nugroho et al. Pertumbuhan ikan merupakan pertambahan panjang dan berat ikan yang dapat dilihat dari perubahan ukuran panjang dan berat dalam satuan waktu. Menurut Hidayat dan Sasanti . pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor Pengelolaan terhadap lingkungan budidaya perlu dilakukan demi memperoleh pertumbuhan ikan yang optimal. Kualitas air yang Sumber Tambunan et al. Amin et al. Rizky et al. baik menjadi satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan lingkungan budidaya. KESIMPULAN Padat tebar merupakan faktor penting dalam budidaya ikan nila yang dapat mempengaruhi pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan kesehatan Berdasarkan berbagai penelitian, pengaruh padat tebar terhadap laju pertumbuhan ikan nila bervariasi tergantung pada sistem budidaya yang Sistem Ekstensif . -30 ekor/mA): Padat tebar rendah memberikan pertumbuhan optimal karena ketersediaan pakan alami yang cukup dan persaingan yang rendah. FCR cenderung lebih rendah karena kontribusi pakan alami dalam sistem ini. Sistem Semi Intensif . -50 ekor/mA): Padat tebar sedang . ekitar 30 ekor/mA) memberikan hasil pertumbuhan yang MAHSEER: Vol 7 No 2 Juli 2025 25-30 optimal dengan pengelolaan kualitas air dan pemberian pakan kombinasi . lami dan buata. yang baik. Sistem Intensif (>50 ekor/mA): Padat tebar tinggi . ekor/mA) dapat diterapkan dengan pertumbuhan optimal melalui pengelolaan kualitas air yang intensif, sistem aerasi yang baik, dan pemberian pakan buatan berkualitas tinggi. Namun, padat tebar yang terlalu tinggi . ekor/mA) dapat menghasilkan FCR yang tinggi . , menunjukkan efisiensi pakan yang rendah. Kepadatan tebar yang terlalu tinggi dapat menyebabkan persaingan sumber daya, stres, dan penurunan kualitas air, yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan ikan. Sebaliknya, kepadatan tebar yang terlalu rendah dapat mengakibatkan pemanfaatan ruang yang Untuk pertumbuhan yang optimal dan produksi yang berkelanjutan, pemilihan sistem akuakultur dan pengelolaan padat tebar harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan, kapasitas teknologi, dan kemampuan pengelolaan budidaya. DAFTAR PUSTAKA