SIMBOL BUDAYA DAN NILAI EDUKATIF DALAM RITUAL MOLANGGU: STUDI ETNOGRAFIS KUALITATIF Hanisah Hanafi1* Merry Balango2. Rusni Podungge3 1*Universitas Negeri Gorontalo. Indonesia 2Universitas Negeri Gorontalo. Indonesia 3Universitas Negeri Gorontalo. Indonesia Abstrak Accept 15 Mei 2025 Penelitian ini mengkaji praktik pengobatan tradisional Molanggu di Gorontalo sebagai warisan budaya yang sarat nilai-nilai edukatif dan berpotensi dikembangkan dalam pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan elemen etnografi, dilakukan di Kabupaten Bone Bolango. Provinsi Gorontalo. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan informan utama terdiri dari dukun Molanggu, tokoh adat, serta warga lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Molanggu bukan sekadar praktik penyembuhan, tetapi merupakan sistem simbolik yang kaya akan makna spiritual, nilai sosial, dan identitas budaya. Prosedur penyembuhan dalam Molanggu memadukan tradisi lisan, sistem kepercayaan, dan nilai komunal yang mencerminkan keharmonisan dengan alam, penghormatan terhadap leluhur, serta kedisiplinan moral. Temuan ini mengindikasikan bahwa Molanggu mengandung prinsip-prinsip etnopedagogi dan dapat dijadikan sebagai sarana edukatif dalam pembelajaran kontekstual. Persepsi masyarakat menunjukkan bahwa praktik ini relevan sebagai media pewarisan nilai budaya lintas generasi dan mampu menumbuhkan kebanggaan identitas lokal pada generasi muda. Studi ini memberikan kontribusi terhadap diskursus pendidikan responsif budaya dengan memposisikan praktik penyembuhan lokal sebagai sumber pendidikan karakter kontekstual. Selain itu, artikel ini menawarkan perspektif strategis bagi pemangku kepentingan pendidikan dan budaya dalam merevitalisasi praktik tradisional melalui pengembangan kurikulum, program sekolah budaya, dan edukasi berbasis komunitas. Kebaruan penelitian ini terletak pada kerangka pemikiran yang memandang Molanggu tidak semata sebagai praktik budaya, melainkan sebagai media pendidikan yang berakar pada epistemologi lokal. Published 9 August Kata kunci: Molanggu. pengobatan tradisional. kearifan lokal. pendidikan karakter. Gorontalo. Volume 6 Edisi 1 *Autor . hanisahhanafi65@gmail Submit 4 mei Hanafi. Balango, , & Podungge. Simbol Budaya dan NilaiNilai Edukasi dalam Ritual Molanggu: Sebuah Studi Etnografi Kuantatif. Center of Education Journal (CEJo. , 6. Retrieved from https://ejournal. id/index. php/cejou/article/vie w/897. Abstract This study explores the traditional healing practice of Molanggu in Gorontalo as a cultural heritage that contains educational values relevant to character education and contextual learning. Utilizing a qualitative descriptive design with ethnographic elements, the research was conducted in Bone Bolango Regency. Gorontalo Province, through observation, in-depth interviews, and documentation. Key informants included dukun Molanggu, cultural figures, and local community members. The findings reveal that Molanggu is not only a therapeutic ritual but also a symbolic system rich with local wisdom, spiritual meaning, and cultural identity. The healing procedure integrates elements of oral tradition, belief systems, and communal values that reflect harmony with nature, respect for elders, and moral The analysis shows that Molanggu embodies the core of ethnopedagogical principles and can serve as a pedagogical tool for integrating local wisdom into formal education. Furthermore, the communityAos perception affirms the relevance of Molanggu in preserving intergenerational knowledge and fostering cultural pride among the The study contributes to the discourse on culturally responsive education by positioning local healing traditions as sources of contextual character education. It also offers a strategic perspective for policymakers and educators to revitalize local cultural practices through curriculum development, cultural workshops, and communitybased education initiatives. The novelty of this research lies in framing Molanggu not merely as a cultural practice but as an educational medium grounded in indigenous epistemology. Keywords: Molanggu. traditional healing. local wisdom. character education. Gorontalo culture. PENDAHULUAN Pada era globalisasi dan modernisasi, pelestarian warisan budaya tak benda . ntangible cultural heritage/ICH) menjadi suatu isu krusial di tingkat nasional dan internasional (Yuniwati et al. , 2. Di Indonesia. ICH sering kali menyentuh dimensi pendidikan dan karakter peserta didik, termasuk praktik-praktik seperti pengobatan tradisional Molanggu di Gorontalo (Sah et al. , 2. Terintegrasinya elemen budaya lokal dalam sistem pendidikan terbukti mampu meningkatkan literasi budaya, membangun identitas lokal, dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik (Zhang, 2020. Wijayanti et al. , 2. Simbol Budaya dan Nilai Edukatif dalam Ritual Molanggu: Studi Etnografis Kualitatif Simbol Budaya dan Nilai Edukatif dalam Ritual Molanggu: Studi Etnografis Kualitatif Namun demikian, terdapat kesenjangan antara tingkat pelestarian budaya lokal dengan integrasi dalam dunia pendidikan formal (Alduais et al. , 2025. Hermida & Dos Santos, 2023. Syaifuddin et al. , 2. Meskipun berbagai penelitian telah membahas pengenalan literasi budaya melalui sejumlah metodeAiseperti Auculture-based educationAy dan ethnopedagogiAi masih sedikit yang secara spesifik meneliti model kurikulum berbasis Molanggu atau praktik serupa di Sulawesi Utara (Ferdi Hasan et al. , 2024. Mansyur et al. , 2. Selain itu, implementasi karakter pendidikan berbasis budaya lokal juga menghadapi tantangan seperti keterbatasan bahan ajar, dukungan kebijakan, dan rendahnya pemahaman guru tentang warisan budaya daerah (Hidayatuloh, 2020. Sari et al. , 2. Secara teori, pengintegrasian ICH ke dalam pendidikan formal dapat dimotori oleh pendekatan experiential learning dan cultural literacy, yang dipandu oleh pemikiran Kolb dan Hirsch (Zhang, 2020. UNESCO, 2. Pendekatan budaya karakter dalam pendidikan . haracter educatio. juga mengemuka sebagai landasan konseptual kuat untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal (Lickona, 1991. Hastuti & Marsigit, 2. Dengan pendekatan kualitatif berbasis kajian literatur, penelitian ini merujuk model integrasi Molanggu sebagai media pembelajaran budaya dan karakter, sehingga menciptakan sinergi antara aspek ritual budaya dan teori pendidikan kontemporer. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini dirancang dengan tujuan berikut (Chutia & Baruah. Sugiarni et al. , 2. : . mengeksplorasi nilai-nilai edukatif dan karakter yang terkandung dalam praktik Molanggu. merancang model integrasi pendidikan yang menggabungkan Molanggu dalam kurikulum Muatan Lokal/Bahasa Indonesia/Kebudayaan (Darmayanti et al. , 2. mengidentifikasi tantangan dan peluang implementasi model tersebut di tingkat sekolah dasar dan menengah. Rumusan masalahnya meliputi: Apa nilai edukatif Molanggu dan bagaimana mengonseptualisasikannya ke dalam proses belajar mengajar? serta strategi apa yang efektif untuk mengintegrasikan praktik ini ke dalam pendidikan formal? Sebagai sumbangan ilmiah, penelitian ini menghadirkan kebaruan dalam bentuk: . pemanfaatan praktik Molanggu sebagai studi kasus ICH dalam pendidikan. pengembangan model kurikulum adaptif berbasis budaya dan karakter (Ahmed et al. , 2021. Wulandari et al. , 2. kontribusi empiris terhadap diskursus nasional tentang pembelajaran kontekstual dan penguatan karakter (Ferdi Hasan et al. , 2024. Mansyur et al. Sari et al. , 2. Dengan demikian, artikel ini tidak hanya memperkaya literatur tentang pendidikan berbasis budaya di Indonesia, tetapi juga menawarkan model pedagogis inovatif untuk pembelajaran karakter yang berakar pada kearifan lokal. Penggabungan antara praktik budaya lokal dengan dunia pendidikan melahirkan konsep penting seperti ethnoscience dan ethnopedagogy (Bashir et al. , 2023. Dhelim et al. , 2. yang menjadi fondasi teoritik dalam studi ini. Ethnopedagogy merujuk pada pendekatan pembelajaran yang berakar pada sistem nilai dan pengetahuan lokal untuk memperkuat pendidikan karakter, sedangkan ethnoscience mempelajari bagaimana masyarakat tradisional mengonstruksi pengetahuan berdasarkan pengamatan terhadap fenomena alam dan budaya (Anjarwati et al. , 2. Putra et al. menekankan bahwa integrasi antara kedua pendekatan ini tidak hanya memperkuat pendidikan karakter (Anjarwati et al. , 2. tetapi juga membuka ruang pembelajaran kontekstual yang relevan dengan realitas siswa di lingkungan lokal mereka (Putra et al. , 2. Melalui lensa inilah praktik pengobatan tradisional seperti Molanggu di Gorontalo dapat dipahami secara lebih utuh sebagai media edukatif dan transformatif dalam pembentukan nilai-nilai kultural dan spiritual. Penelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa penerapan unsur lokal dalam pendidikan berdampak positif terhadap pemahaman siswa terhadap nilai-nilai budaya dan moral (Eram et al. , 2024. Mustafa et al. , 2. Misalnya, integrasi etnosains dalam pembelajaran IPA di Maluku Utara membantu siswa memahami gejala alam melalui perspektif budaya mereka sendiri (Hasan et al. , 2. Di ranah lain. Kusnadi . mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis batik sebagai warisan budaya lokal mampu memperkuat identitas dan etos kerja siswa sekolah dasar di Pekalongan (Kusnadi, 2. Studi Ramadani dan Fitrisia . mengenai sastra lisan Minangkabau juga memperlihatkan bagaimana nilainilai dalam seloko . mampu membentuk karakter siswa secara efektif dalam pembelajaran bahasa Inggris (Ramadani & Fitrisia, 2. Temuan-temuan ini memperkuat 117/125 Simbol Budaya dan Nilai Edukatif dalam Ritual Molanggu: Studi Etnografis Kualitatif argumentasi bahwa praktik lokal bukan hanya berfungsi dalam ranah budaya, tetapi juga memegang peranan strategis dalam mendukung pendidikan formal. Kendati demikian, terdapat kesenjangan dalam literatur, khususnya yang berkaitan dengan praktik pengobatan tradisional sebagai sumber pembelajaran pendidikan karakter di tingkat Sebagian besar studi masih berfokus pada artefak budaya seperti tarian, kain tradisional, atau sastra lisan, sementara bentuk praktik non-material seperti ritual penyembuhan belum banyak dijadikan objek kajian pendidikan (Suastra et al. , 2. Padahal, menurut Masrukhi et al. , kegiatan ekstrakurikuler yang berbasis kearifan lokal terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, terutama dalam konteks spiritualitas dan gotong royong (Masrukhi et al. , 2. Dengan demikian, praktik seperti Molanggu yang memiliki kandungan simbolik-spiritual yang kaya, layak diteliti sebagai bagian dari pendekatan pedagogis berbasis budaya. Artikel ini berupaya mengisi celah tersebut dengan menjadikan praktik Molanggu sebagai objek utama untuk mengkaji bagaimana tradisi lokal dapat direkontekstualisasi dalam ranah pendidikan, khususnya untuk memperkuat pemahaman spiritualitas, nilai-nilai sosial, dan refleksi diri siswa. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan culturally responsive teaching yang dikemukakan oleh Lee dan Gay . , bahwa pengajaran yang adaptif terhadap budaya peserta didik akan meningkatkan keterlibatan dan relevansi pembelajaran, serta membentuk rasa hormat terhadap keragaman budaya (Lee & Gay, 2. Di sisi lain, pendekatan ini juga memungkinkan peserta didik untuk merefleksikan hubungan antara tradisi lokal dan nilai-nilai universal yang diajarkan dalam kurikulum nasional. Metodologis yang digunakan dalam studi ini juga mengacu pada tren literatur terkini, di mana penelitian pendidikan berbasis kualitatif dan literatur kian banyak digunakan untuk mengkaji dinamika kearifan lokal dalam pembelajaran (Wibowo & Wahyuni, 2. Studi tersebut mengungkap bahwa pendekatan ethnopedagogical memungkinkan guru untuk mendekatkan materi ajar dengan lingkungan dan pengalaman hidup siswa (Wibowo & Wahyuni, 2. Selain itu. Yuliana dan Hafid . menambahkan bahwa integrasi budaya lokal dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Pendidikan Kewarganegaraan dapat memperkuat nilai nasionalisme dan identitas kebangsaan peserta didik (Yuliana & Hafid, 2. Dalam konteks ini, praktik Molanggu dapat dijadikan sebagai materi kontekstual untuk pendidikan karakter berbasis spiritualitas dan budaya. Dengan mengacu pada pendekatan konseptual yang telah diuraikan, artikel ini membangun sintesis bahwa praktik tradisional seperti Molanggu bukan sekadar bentuk pengobatan alternatif, melainkan sarana transmisi nilai-nilai lokal dan spiritual yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendidikan karakter. Konsep-konsep seperti ethnopedagogy, culturally responsive teaching, serta model pembelajaran berbasis kearifan lokal menjadi kerangka konseptual utama yang menyatukan antara kajian budaya dan pendidikan. Pendekatan ini juga selaras dengan prinsip-prinsip qualitative data analysis sebagaimana dikembangkan oleh Miles et al. , di mana analisis tidak hanya bertumpu pada deskripsi data, tetapi juga interpretasi mendalam terhadap simbol, nilai, dan makna di balik praktik budaya (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Dengan demikian, praktik Molanggu dapat dibaca ulang sebagai narasi pendidikan alternatif yang kontekstual, spiritual, dan transformative. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi pustaka . iterature revie. berbasis analisis interpretatif terhadap sumber-sumber ilmiah dan budaya yang relevan (Carrete-Maryn & Domingo-Peyafiel, 2022. Khan et al. , 2023. Rizki et al. , 2. Strategi ini dipilih karena topik yang dikajiAiyakni praktik Molanggu dalam kerangka pendidikan karakter berbasis kearifan lokalAimemerlukan pemahaman mendalam terhadap makna budaya dan nilai-nilai simbolik yang tidak dapat diukur secara kuantitatif. Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, pendekatan ini memungkinkan peneliti mengeksplorasi kedalaman makna, struktur nilai, dan implikasi edukatif dari praktik budaya secara sistemik dan reflektif (Cao et al. , 2023. Sugianto et al. , 2022. Sutoyo et al. , 2. Sumber data dalam penelitian ini dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu data primer, sekunder dan data literatur ilmiah. Data primer berasal dari tamolanggu, orang yang melakukan praktrek Data sekunder meliputi dokumen budaya, narasi lisan, dan deskripsi etnografis 118/125 Simbol Budaya dan Nilai Edukatif dalam Ritual Molanggu: Studi Etnografis Kualitatif mengenai praktik Molanggu di Gorontalo, yang diperoleh dari hasil dokumentasi dan pengamatan sebelumnya yang tersedia secara terbuka. Adapun data literatur ilmiah terdiri atas artikel jurnal nasional dan internasional bereputasi yang membahas topik-topik terkait seperti ethnopedagogy, ethnoscience, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, serta pendekatan kualitatif dalam studi budaya. Literatur yang digunakan merupakan publikasi lima tahun terakhir untuk menjaga relevansi dan kebaruan data, sebagaimana disarankan dalam pendekatan integrative literature review (Snyder, 2019. https://doi. org/10. 1016/j. Teknik pengumpulan data dilakUkan melalui document analysis dan systematic literature Peneliti menggunakan repositori akademik terbuka seperti DOAJ. Google Scholar, dan database jurnal SINTA untuk menelusuri sumber-sumber ilmiah dengan kata kunci seperti AuethnopedagogyAy. Aulocal wisdomAy. Aucharacter educationAy, dan Autraditional healingAy. Selain itu, peneliti juga mengidentifikasi narasi-narasi budaya mengenai Molanggu dari buku lokal dan catatan etnografi sebagai bagian dari triangulasi data. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah data extraction matrix, yang disusun untuk memetakan tema, konsep, lokasi studi, dan relevansi teoritis dari setiap sumber yang digunakan ((Khoiriyah et al. , 2. Kriteria inklusi dalam pemilihan data meliputi: . artikel ilmiah yang dipublikasikan antara tahun 2019Ae2024. jurnal dengan akses terbuka dan peer-reviewed. literatur yang membahas aspek pendidikan, budaya lokal, dan nilai karakter. dokumen atau narasi budaya yang mengandung praktik Molanggu atau praktik serupa dalam konteks kultural Indonesia. Sementara itu, kriteria eksklusi meliputi: . artikel populer atau non-ilmiah. publikasi yang tidak menyertakan kajian pendidikan atau budaya lokal. referensi yang bersifat deskriptif semata tanpa analisis kritis. Proses seleksi dilakukan secara manual dan sistematis untuk memastikan validitas dan kecocokan sumber data dengan fokus penelitian (Okoli, 2015. https://doi. org/10. 1016/j. Unit analisis dalam penelitian ini bukan berupa individu atau responden lapangan, melainkan berupa representasi simbolik dan pedagogis dari praktik Molanggu yang dianalisis dalam kerangka pendidikan karakter. Representasi ini dilihat sebagai konstruksi budaya yang mencerminkan nilai-nilai lokal yang dapat dialihfungsikan ke dalam ranah pendidikan formal maupun non-formal. Analisis ini tidak hanya berfokus pada isi literal dari praktik tersebut, tetapi juga mencakup nilai-nilai implisit yang terkandung di dalamnya, seperti spiritualitas, solidaritas sosial, dan refleksi diri, yang menjadi bagian penting dari karakter peserta didik. Teknik analisis data yang digunakan adalah thematic analysis dengan pendekatan Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang mencakup proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Data yang telah diekstraksi dikodekan secara manual dan dikategorisasikan ke dalam tema-tema utama yang berkaitan dengan pendidikan karakter, nilai lokal, dan pendekatan pedagogis. Selain itu, analisis dilakukan secara interpretatif dengan mengacu pada teori culturally responsive pedagogy dan ethnopedagogical framework. Untuk membantu proses pengkodean dan pemetaan tema, digunakan perangkat lunak bantu NVivo 14, yang memungkinkan analisis visual dan sistematis terhadap sumber teks yang kompleks ((Axelsson & Jakobson, 2020. Lasekan et , 2. Dengan demikian, metode yang digunakan dalam studi ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif, kontekstual, dan teoritis terhadap praktik budaya Molanggu, sekaligus mengelaborasi potensinya sebagai instrumen pendidikan karakter berbasis kearifan Pendekatan ini sejalan dengan prinsip-prinsip penelitian kualitatif yang menekankan pada kekayaan makna, kedalaman konteks, dan relevansi budaya dalam membangun landasan pedagogis yang otentik (Marles et al. , 2021. Wang et al. , 2. HASIL RISET Bagian ini menyajikan hasil penelitian kualitatif deskriptif mengenai praktik pengobatan tradisional Molanggu di Kabupaten Bone Bolango(Firetto et al. , 2023. Wang et al. , 2. Provinsi Gorontalo(Gebre & Polman, 2020. Salvatori & Cherubini, 2. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan dukun Molanggu, tokoh adat, dan warga setempat (Granjou et al. , 2023. Wijanarko, 2021. Yusuf et al. , 2. , serta diperkuat dengan hasil observasi partisipatif dan dokumentasi praktik. Temuan dianalisis dengan pendekatan tematik 119/125 Simbol Budaya dan Nilai Edukatif dalam Ritual Molanggu: Studi Etnografis Kualitatif untuk mengidentifikasi pola makna dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam praktik Molanggu (Hoptovy, 2020. Matviichuk et al. , 2. Hasil penelitian ini dikelompokkan ke dalam empat tema utama: . prosedur dan ritus Molanggu, . simbolisme budaya dalam praktik, . persepsi dan partisipasi masyarakat, dan . nilai-nilai pendidikan budaya yang 1 Prosedur dan Ritus Molanggu Praktik Molanggu dimulai dengan prosesi penyucian diri oleh pelaku pengobatan . dan Observasi menunjukkan bahwa proses ini dilakukan secara sakral dengan memanfaatkan air dari sumber tertentu yang diyakini memiliki energi spiritual. Tahapan inti dari Molanggu melibatkan pembacaan mantra . oa bahasa daera. , pengusapan ramuan alami ke tubuh pasien, dan penggunaan alat-alat tradisional seperti bambu, daun sirih, dan minyak kelapa murni. Wawancara dengan salah satu informan, seorang dukun berusia 67 tahun, mengungkapkan bahwa "proses Molanggu bukan hanya soal menyembuhkan sakit fisik, tetapi juga membersihkan jiwa dan menjaga keseimbangan dengan alam. " Hal ini menunjukkan bahwa Molanggu merupakan praktik yang holistik, melibatkan aspek tubuh, jiwa, dan lingkungan. 2 Simbolisme Budaya dalam Praktik Molanggu Molanggu bukan sekadar praktik pengobatan, melainkan juga sebuah representasi simbolik dari hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas. Salah satu simbol utama dalam Molanggu adalah penggunaan daun wuluh . ejenis tanaman loka. yang melambangkan harapan dan pembersihan. Ramuan alami yang digunakan dalam Molanggu tidak hanya dipilih karena khasiat medisnya, tetapi juga karena nilai magisnya dalam kosmologi lokal. Dalam salah satu sesi pengamatan, terlihat bahwa ritual Molanggu dilakukan di bawah pohon besar yang dianggap sakral oleh masyarakat. Lokasi ini diyakini sebagai titik energi yang menjadi penghubung antara dunia nyata dan dunia leluhur. Simbol-simbol ini mengandung makna mendalam mengenai pandangan hidup masyarakat Gorontalo yang menempatkan keseimbangan antara dunia material dan spiritual sebagai dasar harmoni kehidupan. Walaupun akhir-akhir ini lokasi tersebut tidak lagi menjadi persyaratan utama. Mengingat bahwa pohon-pohon besar tersebut sudah banyak yang mati karena usia, atau bahkan ditebang karena perkembangan daerah. Dengan demikian, pengobatan tersebut sekarang bisa dilakukan di dalam rumah. 3 Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Mayoritas informan dari kalangan masyarakat menunjukkan bahwa Molanggu masih dipercaya sebagai bentuk pengobatan alternatif yang sah, terutama di daerah pedesaan yang belum sepenuhnya dijangkau layanan kesehatan modern. Salah seorang tokoh masyarakat menyatakan bahwa "meskipun sekarang banyak dokter, tapi untuk penyakit-penyakit tertentu kami tetap percaya Molanggu karena ini sudah diwariskan secara turun-temurun. Partisipasi masyarakat dalam praktik ini juga masih kuat, terbukti dari keterlibatan keluarga pasien dalam persiapan ritual dan peran aktif pemuda dalam membantu pelaksanaan Keterlibatan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual, karena mereka percaya bahwa keberhasilan pengobatan tergantung pada ketulusan dan keyakinan kolektif. Namun demikian, sebagian generasi muda mulai mempertanyakan legitimasi Molanggu karena pengaruh pendidikan modern dan media sosial. Meskipun demikian, sebagian besar dari mereka tetap menghormati praktik tersebut sebagai bagian dari warisan budaya yang layak dilestarikan. 4 Nilai-Nilai Pendidikan Budaya dalam Molanggu Dari hasil analisis, ditemukan bahwa praktik Molanggu mengandung sejumlah nilai pendidikan budaya yang relevan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran karakter. Nilai pertama adalah spiritualitas dan religiositas. Molanggu mengajarkan pentingnya hubungan manusia dengan Tuhan dan kekuatan yang lebih tinggi melalui doa dan niat suci. Nilai kedua adalah kepedulian sosial dan solidaritas. Praktik ini menunjukkan bentuk kepedulian masyarakat terhadap anggota komunitas yang sakit, serta kerjasama dalam mendukung proses penyembuhan. 120/125 Simbol Budaya dan Nilai Edukatif dalam Ritual Molanggu: Studi Etnografis Kualitatif Nilai ketiga adalah penghargaan terhadap alam dan lingkungan. Pemanfaatan bahan alami dan pemahaman ekologis lokal dalam praktik Molanggu menunjukkan bahwa masyarakat Gorontalo memiliki cara pandang ekologis yang mendalam. Nilai-nilai ini selaras dengan prinsip-prinsip pendidikan karakter berbasis kearifan lokal seperti yang dikembangkan dalam model ethnopedagogy (Wibowo & Wahyuni, 2. , serta menguatkan gagasan tentang culturally responsive education yang mengakui dan menghargai identitas lokal siswa (Lee & Gay, 2. 5 Peran Dukun Sebagai Transmitor Pengetahuan Lokal Dukun Molanggu tidak hanya bertindak sebagai penyembuh, tetapi juga sebagai penjaga dan pewaris nilai-nilai budaya. Ia memainkan peran penting dalam mentransmisikan cerita leluhur, filosofi hidup, serta teknik penyembuhan yang diwariskan secara lisan dari generasi ke Proses pewarisan ini dilakukan melalui magang informal, di mana calon dukun belajar langsung dengan menyaksikan dan membantu praktik ritual. Hal ini menunjukkan bahwa Molanggu tidak hanya sebagai praktik kesehatan, tetapi juga sistem pedagogik informal yang mengandung dimensi edukatif yang kuat. Dalam konteks pendidikan, proses ini mencerminkan prinsip learning by doing dan pembelajaran kontekstual yang berbasis pengalaman serta kearifan lokal. 6 Praktik Molanggu sebagai Warisan Budaya Pendidikan Nonformal. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Molanggu berfungsi sebagai instrumen pendidikan nonformal yang efektif dalam membentuk karakter dan identitas budaya generasi muda. Meskipun tidak dilakukan dalam institusi pendidikan formal, praktik ini mengandung dimensi pembelajaran yang mencakup nilai, norma, dan pengetahuan lokal. Keterlibatan anak-anak dan remaja dalam menyaksikan atau membantu pelaksanaan Molanggu menjadi wahana internalisasi nilai budaya yang tidak diperoleh dari kurikulum nasional. Fenomena ini memperkuat gagasan bahwa pendidikan karakter tidak hanya harus disampaikan secara formal di sekolah, tetapi juga bisa dihidupkan melalui praktik budaya yang otentik di tengah masyarakat. Maka dari itu. Molanggu dapat dianggap sebagai media pendidikan karakter berbasis komunitas, sekaligus sebagai bentuk pelestarian budaya yang terintegrasi dengan pembangunan nilai bangsa. 7 Hubungan Temuan dengan Teori Temuan penelitian ini mengafirmasi kekuatan ethnopedagogy sebagai pendekatan yang tidak hanya menghargai kearifan lokal, tetapi juga mampu menjembatani nilai-nilai budaya dengan praktik pendidikan karakter. Dalam konteks Molanggu, praktik pengobatan tradisional yang menyatukan unsur spiritual, sosial, dan ekologis ini menunjukkan bahwa proses penyembuhan masyarakat Gorontalo tidak sekadar bersifat fisik, melainkan juga menjadi medium pendidikan budaya yang transgenerasional. Hal ini konsisten dengan pandangan Wibowo dan Wahyuni . bahwa pendekatan ethnopedagogical mendasarkan proses pendidikan pada nilai-nilai, tradisi, dan praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat. Proses pewarisan pengetahuan melalui interaksi informal antara dukun dan generasi muda dalam praktik Molanggu menunjukkan adanya struktur pedagogis yang tidak diformalkan secara institusional, namun kuat dalam substansi nilai. Pola pembelajaran ini sejajar dengan teori culturally responsive teaching yang menekankan pentingnya koneksi antara pengalaman hidup peserta didik dengan materi pembelajaran (Gay, 2018. Lee & Gay, 2. Dalam kerangka ini, praktik Molanggu tidak hanya relevan sebagai pengobatan alternatif, tetapi juga sebagai wahana pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai religiositas, solidaritas sosial, dan kecintaan terhadap alam. HASIL DAN DISKUSI PEMBAHASAN PENELITIAN Hasil penelitian ini menegaskan bahwa Penelitian ini mendukung dan memperluas studi sebelumnya mengenai integrasi nilai-nilai budaya dalam pendidikan karakter (Paternina-Borja & Juyrez-Ruiz, 2023. Xuanyuan et al. , 2025. Yan et al. , 2. Misalnya. Masrukhi et al. menekankan bahwa pelibatan kearifan lokal dalam kegiatan pendidikan ekstrakurikuler mampu memperkuat Profil Pelajar Pancasila. Temuan serupa juga disampaikan oleh Ramadani dan Fitrisia . dalam konteks tradisi seloko Minangkabau, yang menunjukkan 121/125 Simbol Budaya dan Nilai Edukatif dalam Ritual Molanggu: Studi Etnografis Kualitatif bahwa ekspresi budaya lisan dapat menjadi media efektif dalam menanamkan nilai karakter. Namun demikian, temuan penelitian ini juga menunjukkan perluasan makna, di mana praktik Molanggu tidak hanya menjadi alat untuk menyampaikan nilai, tetapi juga membentuk sistem pembelajaran tersendiri yang berlangsung secara komunitarian dan lintas generasi. Jika dibandingkan dengan studi Hasan et al. yang lebih menekankan pada penggunaan etnosains dalam konteks pembelajaran IPA berbasis lokal di Maluku Utara. Molanggu menunjukkan dimensi spiritual dan sosial yang lebih kompleks dan melibatkan sistem pengetahuan holistik. Selain itu. Putra et al. mengungkapkan pentingnya integrasi ethnoscience dan ethnopedagogy untuk membentuk landasan pendidikan karakter yang otentik. Penelitian ini memperkuat posisi tersebut dengan bukti konkret bahwa praktik lokal seperti Molanggu secara alami mengandung kerangka nilai dan pengetahuan yang bisa dikembangkan sebagai basis pendidikan karakter yang berakar pada budaya. Implikasi utama dari temuan ini adalah perlunya pengakuan bahwa praktik-praktik budaya lokal memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada pendidikan nasional, khususnya dalam pengembangan pendidikan karakter berbasis konteks lokal. Dalam konteks pendidikan. Molanggu dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar berbasis proyek atau studi kasus dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Bahasa Indonesia, maupun Seni Budaya. Hal ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran berbasis kearifan lokal . ocal wisdom-based educatio. yang diyakini mampu meningkatkan relevansi dan kebermaknaan proses belajar (Suastra et al. , 2. Dari sisi budaya , temuan ini memberikan kontribusi terhadap pelestarian warisan takbenda masyarakat Gorontalo yang selama ini rentan terlupakan akibat modernisasi dan globalisasi. Memasukkan praktik Molanggu ke dalam kurikulum muatan lokal atau program ekstrakurikuler dapat menjadi strategi revitalisasi budaya yang tidak hanya simbolis, tetapi juga substantif dalam membentuk identitas dan jati diri peserta didik. Secara teoritis, penelitian ini menegaskan bahwa ethnopedagogy bukan hanya sebuah metode pembelajaran, tetapi juga kerangka konseptual yang mampu menjelaskan bagaimana proses pendidikan berlangsung secara alami dalam konteks komunitas lokal yang sarat nilai, simbol, dan praktik spiritual. Oleh karena itu, kajian ini dapat memperkaya diskursus teori pendidikan dengan memperluas wilayah epistemologisnya ke ranah praktik budaya lokal. Keterbatasan dan Saran untuk Penelitian Lanjutan Meskipun penelitian ini berhasil mengungkap dimensi pendidikan dan budaya dari praktik Molanggu, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu dicermati. Pertama, penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan belum menjangkau eksplorasi mendalam terhadap dampak praktik Molanggu dalam ranah formal pendidikan. Kedua, keterbatasan waktu dan akses menyebabkan belum semua varian praktik Molanggu di wilayah Gorontalo dapat terjaring sebagai data. Ketiga, sensitivitas budaya dalam mengungkap proses spiritual secara terbuka membatasi kedalaman wawancara pada beberapa informan. Untuk itu, studi lanjutan dapat diarahkan pada upaya pengembangan model pembelajaran berbasis adat dan budaya yang dapat diimplementasikan dalam konteks pendidikan formal, khususnya di sekolah-sekolah di kawasan Gorontalo. Penelitian eksperimental atau designbased research dapat dilakukan untuk menilai efektivitas integrasi praktik budaya ini dalam kurikulum, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Selain itu, pendekatan participatory action research dapat melibatkan komunitas lokal dalam merancang materi ajar berbasis budaya, sehingga terjadi dialog yang setara antara ilmu pengetahuan akademik dan kebijaksanaan lokal . ndigenous knowledg. Penelitian ini juga membuka ruang untuk memperluas wilayah kajian ke praktik-praktik sejenis di daerah lain yang belum terjamah studi Dengan demikian, akan tercipta peta kekayaan budaya Indonesia yang bukan hanya dilestarikan secara simbolik, tetapi juga diberdayakan sebagai sumber daya pendidikan yang otentik dan kontekstual. 122/125 Simbol Budaya dan Nilai Edukatif dalam Ritual Molanggu: Studi Etnografis Kualitatif KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PRAKTIS 1 Kesimpulan Penelitian ini menegaskan bahwa praktik pengobatan tradisional Molanggu di Gorontalo bukan sekadar warisan medis lokal, melainkan juga sebuah sistem pengetahuan budaya yang mengandung nilai-nilai edukatif, spiritual, dan sosial yang kuat. Dalam bingkai pendekatan ethnopedagogical, praktik ini menunjukkan potensi besar sebagai medium pembelajaran karakter yang berakar pada kearifan lokal dan menghidupkan kembali nilai-nilai kolektif yang mulai tergerus oleh arus modernisasi. Temuan menunjukkan bahwa Molanggu tidak hanya mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kekuatan transenden, tetapi juga menyimpan struktur pedagogis yang berlangsung secara turun-temurun melalui praktik lisan dan ritual komunitarian. sinilah letak kontribusi ilmiah dari penelitian ini: mengangkat dimensi pendidikan dari praktik budaya yang selama ini dianggap terbatas pada aspek spiritual atau kesehatan tradisional. Dengan demikian. Molanggu dapat diposisikan sebagai sumber belajar kontekstual yang memperkaya pendekatan pendidikan karakter di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang masih memiliki hubungan erat dengan budaya lokal. Secara reflektif, hasil penelitian ini menekankan pentingnya memperluas paradigma pendidikan nasional untuk lebih mengakomodasi kearifan lokal sebagai bagian dari pembentukan identitas peserta didik. Pendidikan tidak lagi cukup hanya mengandalkan pendekatan rasional-modern, tetapi perlu berpijak pada realitas sosial budaya tempat peserta didik tumbuh dan berkembang. Molanggu, dalam hal ini, berperan sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan pendidikan yang berbasis nilai, budaya, dan spiritualitas. 2 Implikasi Praktis Temuan dari penelitian ini memberikan sejumlah implikasi konkret yang dapat dijadikan dasar kebijakan dan program aplikatif dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan pengembangan masyarakat lokal. Bagi praktisi pendidikan. Molanggu dapat dijadikan sebagai bahan ajar kontekstual dalam mata pelajaran seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Bahasa Indonesia, maupun Seni Budaya. Guru dapat merancang proyek pembelajaran berbasis budaya lokal dengan mengajak siswa untuk mengeksplorasi nilai-nilai dalam Molanggu, seperti gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan spiritualitas, melalui kegiatan literasi budaya, wawancara etnografi mini, atau presentasi multimodal. Pemerhati budaya dan komunitas adat dapat mengembangkan program revitalisasi Molanggu sebagai bagian dari pemeliharaan warisan budaya takbenda. Salah satu bentuk konkret adalah penyelenggaraan AuSekolah Budaya MolangguAy berbasis komunitas yang mempertemukan generasi muda dengan para pelaku budaya, termasuk dukun dan tetua adat, dalam sesi-sesi berbagi pengetahuan dan praktik budaya. Program ini dapat disinergikan dengan kegiatan wisata edukatif dan dokumentasi digital agar praktik Molanggu tetap lestari dan dikenal luas. Bagi pemerintah daerah dan pengembang kebijakan pendidikan, hasil penelitian ini menjadi pijakan penting untuk mendorong integrasi nilai-nilai Molanggu ke dalam kurikulum muatan Pemerintah dapat bekerja sama dengan dinas pendidikan dan kebudayaan setempat untuk menyusun modul ajar berbasis kearifan lokal Gorontalo yang tidak hanya mengenalkan praktik Molanggu, tetapi juga menginternalisasi pesan-pesan moral yang dikandungnya dalam sistem pendidikan formal. 6 REFERENSI