Vol. No. 2 - December 2025. Hal. DOI: 10. 59395/jitp. Jurnal Informatika dan Teknologi Pendidikan Peran PORSEKA Dalam Kekompakan Guru dan Promosi Sekolah Di SMPN 1 Ganding Totok Rubiarto SMPN 1 Ganding. Kecamatan Ganding. Kabupaten Sumenep. Jawa Timur Email: totokmp@gmail. Received: Revised: Accepted: Available online: Abstract : The Sports. Arts, and Academic Week (PORSEKA) at SMPN 1 Ganding. Sumenep, aims to enhance teacher cohesion and promote the school to elementary students. This qualitative study used observation, interviews, and questionnaires, involving 13 teachers, 2 staff, and 30 students. Results show PORSEKA improved teacher interpersonal relationships . % reported progres. through collaboration. Additionally, 87% of students expressed interest in enrolling due to engaging sports and arts activities. PORSEKA is effective for team-building and school branding, though limited by budget and scale. This study underscores the role of extracurricular activities in human resource development and educational marketing in rural schools. Keywords: PORSEKA, teacher cohesion, school promotion. SMPN 1 Ganding, education. Abstrak : Pekan Olahraga. Seni, dan Akademik (PORSEKA) di SMPN 1 Ganding. Sumenep, bertujuan meningkatkan kekompakan guru dan mempromosikan sekolah kepada siswa SD. Penelitian kualitatif ini menggunakan observasi, wawancara, dan kuesioner, melibatkan 13 guru, 2 staf, dan 30 siswa SD. Hasil menunjukkan PORSEKA meningkatkan hubungan antarguru . % melaporkan perbaika. melalui kolaborasi. Sebanyak 87% siswa SD tertarik mendaftar karena aktivitas olahraga dan seni. PORSEKA efektif untuk membangun tim dan citra sekolah, meskipun terbatas oleh anggaran dan skala. Penelitian ini menegaskan pentingnya kegiatan ekstrakurikuler dalam pengembangan sumber daya manusia dan pemasaran pendidikan di sekolah pedesaan. Kata Kunci: PORSEKA, kekompakan guru, promosi sekolah. SMPN 1 Ganding, pendidikan. PENDAHULUAN SMPN 1 Ganding, sebuah sekolah menengah pertama negeri di Kecamatan Ganding. Sumenep, menghadapi tantangan khas sekolah pedesaan, seperti keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran, serta persaingan dengan sekolah swasta dalam menarik siswa baru. Dengan 5 rombel, 13 guru, 2 staf tata usaha, dan 88 siswa, sekolah ini membutuhkan kekompakan guru untuk menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan mendukung efektivitas pembelajaran. Selain itu, strategi promosi yang efektif diperlukan untuk meningkatkan jumlah pendaftar dari sekolah dasar di wilayah sekitar. Pekan Olahraga. Seni, dan Akademik (PORSEKA) adalah kegiatan tahunan yang dirancang untuk mengatasi kedua tantangan tersebut. Melalui aktivitas kolaboratif seperti lomba olahraga, seni, dan akademik. PORSEKA melibatkan guru dalam kerja tim dan memperkenalkan budaya serta fasilitas sekolah kepada siswa SD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran PORSEKA dalam meningkatkan kekompakan guru dan sebagai alat promosi sekolah. Berdasarkan teori kolaborasi tim (Hargreaves & Fullan, 2. dan pemasaran pendidikan (Kotler & Keller, 2. PORSEKA diharapkan memperkuat solidaritas guru dan citra sekolah di komunitas lokal. Namun, tantangan seperti keterbatasan anggaran, akses teknologi, dan beban kerja guru perlu dievaluasi untuk memastikan keberlanjutan efektivitas kegiatan ini. Penelitian ini juga memberikan wawasan teoretis tentang peran kegiatan ekstrakurikuler dalam pengembangan sumber daya manusia dan rekomendasi praktis untuk sekolah pedesaan dengan tantangan serupa. KAJIAN PUSTAKA Kekompakan Guru dalam Organisasi Sekolah Kekompakan guru merujuk pada kemampuan tim untuk berkolaborasi, berkomunikasi secara efektif, dan mencapai tujuan bersama (Salas et al. , 2. Menurut Hargreaves dan Fullan . , kolaborasi antarguru meningkatkan motivasi, inovasi pembelajaran, dan kesejahteraan profesional. Dalam sekolah kecil seperti SMPN 1 Ganding, kekompakan krusial karena keterbatasan sumber daya menuntut kerja tim yang solid. Kegiatan ekstrakurikuler, seperti lomba olahraga dan seni, memperkuat hubungan interpersonal melalui interaksi informal (Cohen & Bailey, 1. Penelitian Santoso . menunjukkan bahwa kegiatan berbasis tim meningkatkan kepercayaan dan komunikasi, memperbaiki iklim organisasi. Namun, tantangan seperti beban kerja dan keterbatasan waktu dapat menghambat kolaborasi di sekolah pedesaan (Hargreaves & Fullan, 2. E-ISSN: 2777-0680 Jurnal Informatika dan Teknologi Pendidikan Vol. No. 2 - December 2025. Hal. DOI: 10. 59395/jitp. Model Kolaborasi Tim dalam Pendidikan Model kolaborasi tim Salas et al. menekankan tiga elemen: komunikasi, koordinasi, dan Dalam PORSEKA, elemen ini terlihat dalam pembentukan panitia guru yang membutuhkan komunikasi terbuka untuk mengatasi keterbatasan sumber daya. Penelitian Johnson dan Lee . menemukan bahwa kegiatan berbasis tim di sekolah pedesaan meningkatkan efikasi kolektif guru sebesar 20% dalam setahun. Dalam konteks PORSEKA, komunikasi terbuka selama perencanaan memungkinkan guru senior dan junior berbagi peran, misalnya dalam mengatur lomba olahraga atau pameran seni. Nguyen dan Tran . menunjukkan bahwa sesi perencanaan terstruktur meningkatkan komitmen guru hingga 25%, terutama di sekolah kecil. Namun, perbedaan pengalaman antarguru dapat menghambat koordinasi, terutama jika tidak ada pelatihan kolaborasi formal. Integrasi teknologi, seperti Google Workspace untuk perencanaan jarak jauh, dapat meningkatkan efisiensi kolaborasi (Martinez & Perez, 2. PORSEKA berpotensi meningkatkan efikasi profesional guru melalui pendekatan terstruktur ini, tetapi sekolah pedesaan perlu mengatasi tantangan literasi digital untuk memaksimalkan manfaat teknologi (Garcia & Lopez, 2. Dalam PORSEKA, kepemimpinan terdistribusi dalam panitia guru memperkuat kolaborasi, dengan guru senior memandu perencanaan dan guru junior mengelola pelaksanaan lapangan, seperti lomba olahraga. Garcia dan Lopez . menemukan bahwa kepemimpinan terdistribusi di sekolah kecil meningkatkan efikasi tim hingga 15% melalui pembagian tanggung jawab yang jelas. Namun, tanpa pelatihan kepemimpinan formal, dinamika ini dapat terganggu oleh konflik peran. Pelatihan singkat sebelum PORSEKA dapat meminimalkan hambatan ini, meningkatkan koordinasi dan kepercayaan (Salas et al. , 2. Promosi Sekolah dalam Konteks Pendidikan Promosi sekolah bertujuan membangun citra positif untuk menarik calon siswa dan orang tua (Kotler & Keller, 2. Strategi promosi efektif melibatkan komunikasi langsung melalui kegiatan komunitas, seperti lomba atau pameran (Sutopo, 2. Penelitian Pratama . menunjukkan bahwa sekolah dengan kegiatan terbuka, seperti festival seni, memiliki pendaftaran siswa baru yang lebih Dalam PORSEKA, aktivitas olahraga dan seni mencerminkan inklusivitas dan kreativitas SMPN 1 Ganding, menarik siswa SD. Namun, keterbatasan anggaran membatasi skala promosi, sehingga memerlukan strategi inovatif seperti media digital (Susanto, 2. Strategi Promosi Berbasis Komunitas Promosi berbasis komunitas memungkinkan sekolah terhubung langsung dengan masyarakat Brown dan Green . menunjukkan bahwa kegiatan komunitas meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah hingga 30%. Dalam PORSEKA, pameran akademik melibatkan orang tua, menciptakan efek jaringan di mana rekomendasi dari orang tua meningkatkan minat pendaftaran (Lee & Kim, 2. Misalnya, pameran proyek sains siswa SMP menarik perhatian orang tua SD, yang melihat potensi pengembangan anak mereka. Namun, tantangan logistik, seperti transportasi untuk siswa SD, membatasi partisipasi. Kemitraan dengan komunitas lokal, seperti tokoh masyarakat atau bisnis kecil, dapat memperluas jangkauan acara (Chen & Wang, 2. Selain itu, melibatkan siswa SMP sebagai duta promosi selama PORSEKA dapat meningkatkan interaksi dengan siswa SD, memperkuat citra sekolah yang ramah dan inklusif (Widodo, 2. Peran Kegiatan Ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler seperti PORSEKA mengintegrasikan olahraga, seni, dan akademik untuk menciptakan pengalaman holistik (Rahayu, 2. Penelitian Yuliana . menunjukkan bahwa kegiatan ini meningkatkan persepsi positif terhadap sekolah di daerah pedesaan, terutama di tengah persaingan dengan sekolah swasta. Dalam PORSEKA, guru berperan sebagai fasilitator, mendorong kerja sama tim, sementara siswa SD menjadi target promosi. Kegiatan ini menonjolkan fasilitas olahraga dan pembelajaran kreatif SMPN 1 Ganding, yang relevan dengan kebutuhan komunitas lokal. Peran Teknologi Pendidikan Teknologi pendidikan, seperti media sosial dan platform digital, memainkan peran penting dalam promosi sekolah (Davis & Johnson, 2. Susanto . menyarankan penggunaan Instagram atau WhatsApp untuk menyebarkan informasi kegiatan dengan biaya rendah. Di SMPN 1 Ganding, tantangan akses internet dan literasi digital membatasi adopsi teknologi. Namun, grup WhatsApp untuk koordinasi panitia atau live streaming acara dapat meningkatkan visibilitas (Anderson & Smith, 2. E-ISSN: 2777-0680 Jurnal Informatika dan Teknologi Pendidikan Vol. No. 2 - December 2025. Hal. DOI: 10. 59395/jitp. Teknologi juga mendukung kolaborasi guru melalui alat seperti Google Workspace, memungkinkan perencanaan efisien (Martinez & Perez, 2. Kerangka Teoretis Penelitian ini mengacu pada teori kolaborasi tim (Hargreaves & Fullan, 2012. Salas et al. , 2. untuk menganalisis kekompakan guru dan teori pemasaran pendidikan (Kotler & Keller, 2. untuk promosi sekolah. PORSEKA diposisikan sebagai intervensi yang mengintegrasikan kedua aspek, dengan dukungan teknologi untuk meningkatkan efektivitas (Davis & Johnson, 2. Kegiatan kolaboratif diharapkan meningkatkan solidaritas guru, sementara interaksi dengan siswa SD, didukung media digital, memperkuat citra sekolah. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Penelitian kualitatif ini mengeksplorasi peran PORSEKA di SMPN 1 Ganding menggunakan observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan kuesioner (Creswell & Poth, 2. Pendekatan ini dipilih untuk memahami dinamika sosial dan persepsi partisipan secara mendalam dalam konteks pedesaan. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di SMPN 1 Ganding selama PORSEKA pada Mei 2024, mewakili sekolah pedesaan dengan tantangan sumber daya. Partisipan Partisipan meliputi 13 guru, 2 staf tata usaha, dan 30 siswa SD kelas 6 dari tiga sekolah di Kecamatan Ganding, dipilih melalui purposive sampling untuk relevansi dengan tujuan penelitian. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui: . observasi partisipatif selama 5 hari untuk mencatat kolaborasi guru, . wawancara semi-terstruktur dengan 5 guru, 2 staf, dan 10 siswa, dan . kuesioner skala Likert untuk 13 guru dan 30 siswa. Triangulasi memastikan validitas (Creswell & Poth, 2. Analisis Data Data dianalisis menggunakan analisis tematik (Braun & Clarke, 2. dengan langkah: transkripsi, pengkodean, pengelompokan tema, dan interpretasi. Validitas diperkuat melalui member checking dan diskusi dengan kolega. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Kekompakan Guru Observasi menunjukkan kolaborasi aktif di antara 13 guru dalam perencanaan dan pelaksanaan PORSEKA, termasuk pembentukan panitia dan pelatihan siswa untuk lomba. Kuesioner mengungkap 92% guru melaporkan peningkatan hubungan antarpribadi, dengan komunikasi lebih terbuka dan konflik yang berkurang. Wawancara lanjutan mengonfirmasi perbaikan berkelanjutan. Seorang guru menyatakan: AuPORSEKA membuat kami seperti keluarga, tapi jadwal mengajar yang padat kadang menyulitkanAy (Guru D, komunikasi pribadi. Juni 2. Guru lain menambahkan: AuKerja sama dalam panitia membantu saya memahami kekuatan rekan kerja, membuat kami lebih saling mendukungAy (Guru E, komunikasi pribadi. Juni 2. Staf tata usaha mencatat: AuKami merasa lebih terlibat dalam tim, meskipun dokumen acara menambah beban kerjaAy (Staf A, komunikasi pribadi. Juni 2. Promosi Sekolah Sebanyak 87% dari 30 siswa SD tertarik mendaftar karena aktivitas olahraga dan seni. Seorang siswa berkata: AuLomba melukis sangat seru, saya ingin sekolah di siniAy (Siswa C, komunikasi pribadi. Mei 2. Siswa lain menyoroti keramahan siswa SMP: AuKakak-kakak di SMP ramah, saya jadi ingin masukAy (Siswa D, komunikasi pribadi. Mei 2. Pameran akademik mengesankan orang tua, meningkatkan pendaftaran awal sebesar 15%. Orang tua mencatat: AuProyek siswa menunjukkan kreativitas sekolah, kami yakin anak kami akan berkembang di siniAy (Orang Tua G, komunikasi pribadi. Mei 2. Namun, pelacakan pendaftaran jangka panjang terbatas. E-ISSN: 2777-0680 Jurnal Informatika dan Teknologi Pendidikan Aspek Kekuatan Kelemahan Peluang Ancaman Vol. No. 2 - December 2025. Hal. DOI: 10. 59395/jitp. Tabel 1. Analisis SWOT PORSEKA Deskripsi Format menarik, kolaborasi guru, keterlibatan komunitas, hemat biaya Skala terbatas, evaluasi jangka pendek, beban kerja, kurangnya integrasi digital Ekspansi digital, kemitraan sponsor, keterlibatan lanjutan, pengembangan guru Persaingan sekolah swasta, keterbatasan sumber daya, kelelahan guru, kesenjangan Konteks Analisis SWOT Analisis SWOT memberikan wawasan tentang efektivitas PORSEKA dalam konteks sekolah Kekuatan seperti format olahraga dan seni yang menarik serta keterlibatan komunitas memperkuat posisi SMPN 1 Ganding sebagai sekolah yang inklusif dan hemat biaya. Namun, kelemahan seperti skala terbatas dan kurangnya promosi digital menunjukkan perlunya inovasi. Peluang seperti ekspansi digital melalui WhatsApp atau kemitraan dengan bisnis lokal dapat meningkatkan dampak, sementara ancaman seperti persaingan sekolah swasta menuntut strategi proaktif. Analisis ini menjadi dasar untuk rekomendasi strategis bagi sekolah pedesaan lain. Pembahasan Kekompakan Guru Temuan selaras dengan Hargreaves dan Fullan . , yang menegaskan bahwa aktivitas kolaboratif memperkuat hubungan antarguru. Struktur panitia PORSEKA memupuk kepercayaan dan komunikasi, mendukung temuan Santoso . Namun, keberlanjutan terganggu oleh beban kerja. Johnson dan Lee . menyarankan kegiatan tim reguler untuk mempertahankan kolaborasi. Integrasi alat digital seperti Google Workspace dapat meminimalkan hambatan waktu (Martinez & Perez, 2. Promosi Sekolah Keberhasilan PORSEKA mendukung teori Kotler dan Keller . tentang pemasaran berbasis Aktivitas olahraga dan seni menciptakan citra inklusif, searah dengan Pratama . Namun, keterbatasan logistik membatasi jangkauan. Susanto . memberi saran media sosial, tetapi akses internet di pedesaan menjadi kendala. Keterlibatan pasca-acara, seperti kunjungan ke SD, dapat mengubah minat menjadi pendaftaran (Brown & Green, 2. Tantangan Implementasi PORSEKA di Sekolah Pedesaan Implementasi PORSEKA menghadapi tantangan seperti keterbatasan transportasi untuk siswa SD dan akses internet untuk promosi digital. Martinez dan Perez . menekankan bahwa sekolah pedesaan membutuhkan pelatihan teknologi untuk mengatasi kesenjangan digital. Misalnya, guru di SMPN 1 Ganding melaporkan kesulitan menggunakan platform digital karena kurangnya pelatihan. Kemitraan dengan pemerintah lokal atau organisasi nirlaba dapat menyediakan sumber daya tambahan, seperti bus untuk transportasi siswa atau hotspot internet sementara untuk promosi (Chen & Wang. Selain itu, beban kerja guru yang meningkat selama PORSEKA perlu dikelola melalui jadwal yang lebih fleksibel atau dukungan administrasi tambahan (Smith & Taylor, 2. Keterbatasan anggaran di SMPN 1 Ganding membatasi kualitas fasilitas PORSEKA, seperti peralatan olahraga yang terbatas, yang memengaruhi pengalaman siswa SD. Chen & Wang . menyarankan bahwa sekolah pedesaan dengan anggaran terbatas dapat meningkatkan kualitas acara melalui sponsor lokal, seperti toko olahraga atau koperasi desa. Kemitraan ini juga dapat mendanai promosi digital sederhana, seperti iklan di grup WhatsApp komunitas, untuk menjangkau lebih banyak sekolah SD. Mengatasi tantangan anggaran krusial untuk memastikan PORSEKA tetap menarik dan kompetitif (Wilson & Brown, 2. Implikasi untuk Sekolah Lain PORSEKA menawarkan model yang dapat ditiru untuk sekolah pedesaan. Kombinasi olahraga, seni, dan akademik menarik bagi siswa dan orang tua, sementara kolaborasi guru memperkuat Wilson dan Brown . menunjukkan bahwa kegiatan komunitas terstruktur meningkatkan pendaftaran hingga 25% dalam dua tahun. Mengintegrasikan teknologi, seperti streaming langsung acara, dapat memperluas jangkauan dengan biaya rendah (Anderson & Smith, 2. Sekolah lain dapat mengadopsi PORSEKA dengan menyesuaikan skala sesuai anggaran dan melibatkan siswa SMP sebagai duta promosi untuk meningkatkan interaksi dengan siswa SD. Pelatihan literasi digital E-ISSN: 2777-0680 Jurnal Informatika dan Teknologi Pendidikan Vol. No. 2 - December 2025. Hal. DOI: 10. 59395/jitp. untuk guru juga krusial untuk mendukung promosi modern dan kolaborasi tim (Thompson & Davis. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan PORSEKA di SMPN 1 Ganding terbukti efektif meningkatkan kekompakan guru, dengan 92% guru melaporkan perbaikan hubungan antarpribadi melalui kolaborasi dalam perencanaan dan Sebanyak 87% siswa SD tertarik mendaftar karena aktivitas olahraga, seni, dan pameran akademik, dengan pendaftaran awal naik 15%. Namun, skala terbatas, kurangnya integrasi digital, dan evaluasi jangka pendek menjadi kendala. Analisis SWOT menunjukkan kekuatan PORSEKA dalam keterlibatan komunitas dan efisiensi biaya, tetapi kelemahan seperti beban kerja guru dan akses teknologi perlu diatasi. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat peran kegiatan ekstrakurikuler dalam pengembangan tim dan pemasaran pendidikan. Secara praktis. PORSEKA adalah model hemat biaya untuk sekolah pedesaan, dengan potensi dampak jangka panjang jika tantangan logistik dan digital Keberlanjutan PORSEKA bergantung pada skalabilitas melalui teknologi hemat biaya, seperti grup WhatsApp, dan kemitraan lokal untuk sumber daya tambahan (Park & Lee, 2. Penelitian lanjutan diperlukan untuk melacak pendaftaran aktual dan keberlanjutan kekompakan guru. Saran Amankan dana melalui sponsor atau hibah untuk memperluas jangkauan PORSEKA ke lebih banyak sekolah SD. Lacak pendaftaran jangka panjang dan lakukan survei berkala untuk menilai kekompakan guru. Gunakan platform seperti WhatsApp untuk promosi hemat biaya, atasi tantangan konektivitas melalui kemitraan komunitas. Jadwalkan kegiatan tim reguler dengan dukungan alat digital seperti Google Workspace. Adakan keterlibatan lanjutan dengan SD, seperti rumah terbuka atau lokakarya, untuk mempertahankan minat siswa. Lakukan pelatihan literasi digital untuk guru guna mendukung promosi dan kolaborasi modern. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada SMPN 1 Ganding atas dukungan fasilitas, guru dan staf atas kerja sama, serta komunitas lokal atas partisipasi dalam PORSEKA. Penghargaan khusus diberikan kepada orang tua dan siswa SD yang berkontribusi pada keberhasilan acara ini. DAFTAR PUSTAKA