Representasi Kekerasan Dalam Drama Korea The Glory (Analisis Semiotika Roland Barthe. Jetri Putri Jayanti . Yanto . Martha Heriniazwi Dianthi . 1,2,. Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial. Universitas Dehasen Bengkulu Email: . marthaheriniazwidianthi@unived. Yanto@unived. ARTICLE HISTORY Received . Oktober 2. Revised . November 2. Accepted . Desember 2. KEYWORDS Representation. Violence. Semiotics. Korean Drama. This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Kekerasan merupakan suatu perbuatan secara individu maupun kelompok yang dapat menyebabkan korban mengalami rasa sakit seacara fisik dan non fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kekerasan dalam drama Korea The Glory yang dilakukan oleh para pemeran dalam drama Korea The Glory. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes dengan teori kekerasan Sanford H. Khadis. Drama Korea The Glory dapat merepresentasikan dari 5 bentuk kekeresan menurut klasifikasi Sanford H. Kadish. Dalam drama Korea The Glory mengandung kekerasan yang disajikan dalam 9 scene yang terdapat pada adegan-adegan para pemeran drama ini. Setiap bentuk ataupun jenis kekerasan yang direpresentasikan dalam drama ini menunjukan adanya tanda makna denotasi, konotasi dan mitos dalam semiotika Roland Barthes. ABSTRACT Violence is an act by individuals or groups that can cause victims to experience physical and non-physical pain. This study aims to analyze the representation of violence in the Korean drama The Glory committed by the cast in the Korean drama The Glory. This research uses a qualitative approach using the Roland Barthes semiotic analysis method with Sanford H. Khadis' theory of violence. Korean drama The Glory can represent 5 forms of violence according to Sanford H. Kadish's In the Korean drama The Glory contains violence presented in 9 scenes contained in the scenes of the cast of this drama. Each form or type of violence represented in this drama shows a sign of denotation, connotation and myth in Roland Barthes' semiotics. PENDAHULUAN Tindakan kekerasan dalam masyarakat semakin meresahkan, seringkali digunakan untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang tidak sehat. Menurut Stewart dan Sandeen, kekerasan merupakan ekspresi marah atau permusuhan yang mengarah pada hilangnya kendali diri, yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Di Korea Selatan, tingkat kekerasan terus meningkat dengan lebih dari 19. 000 kasus pada tahun 2019, sebagian besar melibatkan penyerangan. Hal ini telah mendorong munculnya kekerasan dalam berbagai bentuk seni, termasuk serial drama, yang semakin populer di masyarakat, terutama di Indonesia. Drama Korea telah menjadi media yang sangat diminati, dengan banyak penggemar di Indonesia. Survei IDNTimes pada tahun 2020 menunjukkan bahwa sebagian besar penonton drama Korea adalah perempuan, dan mereka lebih aktif menonton drama Korea dibandingkan sinetron. Selain menjadi hiburan, drama Korea sering digunakan untuk menyampaikan kritik sosial, pendidikan, dan menciptakan ruang diskusi bagi penonton. Salah satu tema yang sering diangkat dalam drama Korea adalah kekerasan, yang digambarkan untuk menggambarkan realitas sosial yang ada di masyarakat. Beberapa drama Korea yang menggambarkan kekerasan antara lain "Penthouse", "My Name", dan "Revenge of Others". Drama-drama ini menampilkan berbagai bentuk kekerasan, mulai dari balas dendam antar kelompok hingga kekerasan dalam konteks sekolah. Namun, "The Glory" menonjol dengan tema kekerasan yang lebih mendalam, menggambarkan balas dendam seorang wanita. Moon Dong-Eun, yang menjadi korban bullying semasa sekolah. Drama ini mengangkat kekerasan fisik, psikologis, dan seksual sebagai bagian dari cerita balas dendam yang direncanakan dengan cermat. Drama "The Glory" menjadi fenomenal di Korea dan Indonesia, dengan rating tinggi di IMDb dan Rotten Tomatoes. Rilis pada Desember 2022, drama ini mengisahkan tentang Moon Dong-Eun yang, setelah mengalami kekerasan saat masih remaja, merencanakan balas dendam terhadap para pelaku bullying yang menghancurkan hidupnya. Kekerasan dalam drama ini tidak hanya melibatkan fisik, tetapi juga psikologi dan sosial, menciptakan dampak yang mendalam bagi karakter-karakternya. Penonton dapat menyaksikan bagaimana kekerasan di dalam cerita menggambarkan trauma dan balas dendam yang kompleks. Jurnal Professional. Vol. 11 No. 2 Desember 2024 page: 763 Ae 768 | 763 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes untuk menganalisis tanda-tanda kekerasan dalam "The Glory". Barthes membagi semiotika menjadi tiga kategori: denotasi, konotasi, dan Denotasi merujuk pada makna harfiah dari sebuah tanda, sementara konotasi adalah makna yang lebih dalam dan subjektif. Mitos dalam konteks Barthes menggambarkan bagaimana budaya dan kelas sosial mendefinisikan fenomena, termasuk kekerasan, dalam masyarakat. Dalam drama ini, kekerasan dapat dipahami sebagai produk dari ketidakadilan sosial dan trauma yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tanda-tanda kekerasan dalam drama Korea The Glory merepresentasikan realitas kekerasan yang terjadi di masyarakat. Meskipun berlatar belakang budaya Korea yang berbeda dengan Indonesia, kekerasan tetap merupakan tindakan yang salah dan Melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, penelitian ini menganalisis denotasi, konotasi, dan mitos kekerasan dalam adegan-adegan drama pada episode 1 hingga 16. Penelitian ini juga mengacu pada teori klasifikasi kekerasan dari Sanford H. Khadish. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang konsep kekerasan dalam media melalui analisis semiotika di bidang ilmu komunikasi. Secara praktis, penelitian ini memberikan wawasan bagi mahasiswa dan peneliti yang tertarik pada isu sosial dalam serial drama, khususnya kekerasan, serta dapat menjadi referensi untuk penelitian lebih lanjut dan memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap fenomena kekerasan dalam The Glory serta dampaknya terhadap penonton. LANDASAN TEORI T Roland Barthes: Tokoh Penting dalam Semiotika Roland Barthes merupakan salah satu tokoh terkemuka yang memiliki peran besar dalam perkembangan ilmu semiotika. Menurut Barthes, semiotika adalah cabang ilmu yang berfokus pada studi mengenai simbol dan tanda, termasuk cara manusia menafsirkannya. Simbol-simbol ini mencakup berbagai bentuk komunikasi, mulai dari bahasa, gambar, benda, hingga ekspresi wajah dan gerak tubuh. Bahasa, misalnya, merupakan sistem tanda yang kompleks, berisi berbagai pesan yang digunakan oleh masyarakat untuk menyampaikan informasi, nilai, dan budaya. Selain itu, elemen-elemen lain seperti lagu, not balok, dan benda-benda tertentu juga dapat menjadi simbol yang menyampaikan pesan Salah satu kontribusi Barthes yang paling dikenal adalah konsep model analisis signifikasi dua tingkat, yang sering disebut sebagai two orders of signification. Dalam model ini. Barthes membagi proses pemaknaan menjadi dua tingkatan, yaitu denotasi dan konotasi. Kedua tingkatan ini menggambarkan bagaimana sebuah tanda dapat memiliki makna literal maupun makna yang lebih dalam berdasarkan konteks sosial atau budaya. Tingkat Pertama: Denotasi Denotasi merupakan tingkat pertama dalam analisis Barthes. Pada tingkat ini, makna sebuah tanda dihubungkan dengan wujud nyata atau literalnya. Denotasi dapat dianggap sebagai makna dasar atau makna yang paling langsung dari sebuah tanda. Misalnya, gambar seekor kucing secara denotatif merujuk pada hewan yang disebut kucing. Dalam pandangan Barthes, makna denotasi ini cenderung bersifat universal dan dapat dipahami oleh sebagian besar masyarakat tanpa memerlukan interpretasi yang mendalam. Dengan kata lain, denotasi mencerminkan realitas yang paling nyata dari tanda Makna denotasi ini juga sering kali dianggap lebih objektif karena tidak terpengaruh oleh konteks emosional, budaya, atau pengalaman pribadi. Namun. Barthes mengingatkan bahwa meskipun denotasi tampak sederhana, pemahaman terhadapnya tetap bergantung pada kemampuan seseorang dalam mengenali tanda dan relasinya dengan realitas. Tingkat Kedua: Konotasi Setelah denotasi. Barthes memperkenalkan tingkat kedua dalam analisis tanda, yaitu konotasi. Konotasi mengacu pada makna yang lebih kompleks dan subjektif dari sebuah tanda. Makna ini muncul dari interaksi antara tanda tersebut dengan emosi, perasaan, pengalaman, serta nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh individu atau kelompok masyarakat. Sebagai contoh, gambar kucing yang sama pada tingkat denotasi dapat memiliki konotasi berbeda bagi orang yang menganggap kucing sebagai simbol keberuntungan, kebebasan, atau bahkan kemalangan, tergantung pada konteks budayanya. Konotasi, menurut Barthes, beroperasi pada tingkat subjektivitas sehingga sering kali kehadirannya tidak disadari oleh pembaca. Hal ini menyebabkan makna konotatif sering diterima begitu saja sebagai sesuatu yang alami, padahal makna tersebut sebenarnya merupakan hasil dari proses interpretasi yang kompleks. 764 | Jetri Putri Jayanti. Yanto. Martha Heriniazwi Dianthi . Representasi Kekerasan Dalam Drama . Barthes menyebutkan bahwa konotasi sangat dipengaruhi oleh budaya dan ideologi yang berlaku di Dengan demikian, pemahaman terhadap konotasi membutuhkan pengetahuan yang mendalam mengenai konteks sosial dan budaya yang melingkupinya. Mitos: Makna Tingkat Kedua dalam Budaya Pada tingkat kedua ini pula. Barthes memperkenalkan konsep mitos. Menurut Barthes, mitos bukan sekadar cerita rakyat atau legenda, melainkan bagian dari budaya yang membantu manusia memahami berbagai aspek realitas atau fenomena alam. Mitos berfungsi untuk menciptakan narasinarasi yang menjelaskan dunia di sekitar kita berdasarkan nilai-nilai dan ideologi tertentu. Dalam konteks ini, mitos sering kali mencerminkan pandangan atau kepentingan dari kelompok sosial yang dominan. Sebagai contoh, mitos tentang maskulinitas dan feminitas mencerminkan bagaimana masyarakat memahami peran gender. Maskulinitas sering dikaitkan dengan kekuatan, keberanian, dan dominasi, sedangkan feminitas dihubungkan dengan kelembutan, keindahan, dan kepatuhan. Narasi-narasi seperti ini bukan hanya merupakan hasil konstruksi budaya, tetapi juga berfungsi untuk memperkuat nilai-nilai yang ada di masyarakat. Barthes juga menjelaskan bahwa mitos dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari cerita rakyat hingga simbol-simbol modern seperti iklan dan film. Sebagai contoh, mitos modern tentang kesuksesan pribadi sering kali menggambarkan kesuksesan sebagai hasil kerja keras dan individualisme, tanpa mempertimbangkan faktor struktural yang turut memengaruhi. Dalam pandangan Barthes, mitosmitos ini berperan dalam mempertahankan ideologi tertentu dan sering kali tidak disadari oleh Relevansi Semiotika Roland Barthes Pemikiran Barthes tentang semiotika tetap relevan hingga saat ini, terutama dalam menganalisis fenomena komunikasi modern. Dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh media visual dan digital, kemampuan untuk memahami tanda dan simbol menjadi semakin penting. Dengan menggunakan pendekatan denotasi, konotasi, dan mitos, kita dapat menggali makna yang lebih dalam dari pesanpesan yang disampaikan melalui berbagai medium, mulai dari iklan hingga media sosial. Sebagai kesimpulan. Roland Barthes telah memberikan kontribusi besar dalam bidang semiotika melalui pemikirannya tentang signifikasi dua tingkat. Model analisis ini tidak hanya membantu kita memahami makna literal dari sebuah tanda, tetapi juga makna yang lebih kompleks dan simbolis yang dipengaruhi oleh budaya dan ideologi. Dengan memahami konsep ini, kita dapat menjadi pembaca yang lebih kritis terhadap berbagai tanda dan pesan yang ada di sekitar kita. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes untuk mengkaji representasi kekerasan dalam drama Korea The Glory. Data yang dikumpulkan berupa dialog dan gambar dari adegan-adegan dalam drama yang menggambarkan kekerasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam adegan-adegan kekerasan, serta menganalisis simbol-simbol kekerasan dalam drama tersebut. Dengan mengacu pada teori klasifikasi kekerasan Sanford H. Khadish, penelitian ini menilai dampak sosial yang ditimbulkan oleh representasi kekerasan dalam media. Subjek penelitian ini adalah drama Korea The Glory, sedangkan objek penelitian adalah konsep kekerasan yang digambarkan dalam drama tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Observasi dilakukan dengan mengamati adegan-adegan yang menggambarkan kekerasan, sementara dokumentasi mencatat gambar atau cuplikan adegan Penelitian kepustakaan dilakukan untuk mengumpulkan referensi dari buku, jurnal, dan sumber lainnya yang relevan dengan topik kekerasan dalam media. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis semiotika, yang berfokus pada tanda-tanda dan simbol-simbol dalam drama The Glory. Tahapan analisis meliputi reduksi data, pencermatan tandatanda kekerasan, penyusunan data untuk analisis lebih lanjut, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan indikator denotasi, konotasi, dan mitos dalam analisis untuk memahami bagaimana kekerasan direpresentasikan dalam drama tersebut, serta untuk menemukan pesan-pesan yang dapat mempengaruhi pemahaman penonton terhadap isu kekerasan. Jurnal Professional. Vol. 11 No. 2 Desember 2024 page: 763 Ae 768 | 765 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis data dari drama Korea The Glory, terdapat beberapa bentuk kekerasan yang digambarkan sesuai dengan klasifikasi kekerasan oleh Kadish . Drama ini merepresentasikan lima dari enam bentuk kekerasan yang tercatat, dengan total delapan adegan yang menggambarkan kekerasan yang dilakukan oleh para pemeran. Kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan struktural menjadi fokus utama dalam representasi tersebut. Kekerasan Fisik (Physical Violenc. digambarkan melalui adegan-adegan seperti pemukulan, penyerangan, dan kecelakaan yang menyebabkan cedera serius. Sebagai contoh, dalam episode pertama. Moon Dong Eun menjadi korban kekerasan fisik berupa luka bakar dari Park Yeon Jin dan teman-temannya, yang memicu trauma mendalam. Kekerasan fisik juga muncul dalam adegan lain, seperti pemukulan kepala dengan botol kaca dan kecelakaan yang disebabkan oleh kekerasan fisik. Kekerasan ini sering dipicu oleh emosi seperti kemarahan, kecemasan, dan agresivitas, yang menggambarkan bagaimana perasaan tersebut dapat mengarah pada tindakan kekerasan. Kekerasan Psikologis (Psychological Violenc. lebih sulit dideteksi karena tidak meninggalkan bekas fisik, namun dampaknya pada korban sangat mendalam. Dalam drama ini, kekerasan psikologis muncul melalui ancaman, penghinaan, dan manipulasi emosional. Contohnya. Moon Dong Eun mengancam Park Yeon Jin dengan menyatakan bahwa anak Park Yeon Jin akan menjadi "hukuman" bagi dirinya, sebuah ancaman yang menimbulkan rasa takut dan kecemasan berlebihan. Kekerasan psikologis ini mencerminkan kekuatan verbal yang dapat mengganggu kestabilan mental seseorang, seperti yang dialami oleh Park Yeon Jin setelah ancaman tersebut. Kekerasan Seksual (Sexual Violenc. juga ditemukan dalam drama ini, salah satunya melalui pelecehan seksual yang dialami oleh Moon Dong Eun saat mengajar les privat. Meskipun kekerasan seksual ini hanya muncul dalam beberapa adegan, dampaknya sangat besar, mengingat kekerasan seksual sering kali membawa trauma yang mendalam baik secara fisik maupun psikologis. Hal ini mencerminkan realitas bahwa kekerasan seksual terus terjadi, dengan perempuan sering kali menjadi korban, sementara laki-laki sering menjadi pelaku, seperti yang terlihat dalam penggambaran pelecehan seksual dalam drama ini. Kekerasan Struktural (Structural Violenc. mengacu pada bentuk kekerasan yang muncul akibat ketidakadilan sistem sosial, ekonomi, dan politik. Dalam The Glory, kekerasan struktural direpresentasikan melalui adegan yang melibatkan peredaran narkoba, di mana Moon Dong Eun menjebak Lee Sara dengan narkoba yang diperdagangkan di penjara. Kekerasan struktural ini menggambarkan bagaimana ketidakadilan sosial dan sistem yang korup dapat menciptakan kondisi yang mempermudah terjadinya kekerasan, yang seringkali tidak terlihat langsung tetapi memiliki dampak besar pada individu dan masyarakat. Drama Korea The Glory secara efektif menggambarkan berbagai bentuk kekerasan yang terjadi dalam kehidupan sosial, berdasarkan klasifikasi kekerasan oleh Kadish . Kekerasan fisik muncul melalui adegan-adegan yang melibatkan pemukulan, penyerangan, dan kecelakaan yang menyebabkan luka serius, seperti yang dialami oleh Moon Dong Eun yang dibakar oleh Park Yeon Jin dan temantemannya. Kekerasan fisik ini menggambarkan bagaimana emosi negatif seperti marah, cemas, dan agresif dapat mendorong individu untuk melakukan tindakan destruktif. Misalnya, dalam adegan lain, pemukulan dengan botol kaca dan kecelakaan fatal juga mencerminkan bagaimana kekerasan sering dipicu oleh ketegangan emosional yang meluap. Selain kekerasan fisik, drama ini juga menampilkan kekerasan psikologis yang lebih sulit dideteksi karena tidak meninggalkan bekas fisik namun memiliki dampak psikologis yang mendalam. Contoh nyata dari kekerasan ini adalah ancaman yang dilontarkan oleh Moon Dong Eun kepada Park Yeon Jin, dengan mengancam keselamatan anaknya sebagai balasan atas masa lalu yang kelam. Kekerasan psikologis ini memanfaatkan manipulasi emosional dan penghinaan verbal yang dapat merusak kestabilan mental Penggambaran ini menekankan bagaimana ancaman dan intimidasi bisa menimbulkan rasa takut dan cemas yang berkepanjangan, bahkan tanpa tindakan fisik yang jelas. Drama ini juga mengangkat kekerasan seksual dan kekerasan struktural sebagai bagian dari dinamika kekerasan yang terjadi dalam masyarakat. Kekerasan seksual dalam The Glory menggambarkan pelecehan yang dialami oleh Moon Dong Eun dalam adegan tertentu, menunjukkan betapa besar trauma yang ditimbulkan oleh tindakan ini baik secara fisik maupun psikologis. Kekerasan struktural juga muncul melalui peredaran narkoba yang melibatkan Moon Dong Eun dan Lee Sara, yang menggambarkan bagaimana ketidakadilan sistem sosial, ekonomi, dan politik dapat memfasilitasi terjadinya kekerasan. Kekerasan struktural ini menyoroti dampak luas dari ketidakadilan yang 766 | Jetri Putri Jayanti. Yanto. Martha Heriniazwi Dianthi . Representasi Kekerasan Dalam Drama . tersembunyi di balik sistem yang tidak adil, yang seringkali tidak terlihat tetapi mempengaruhi kehidupan banyak orang. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Drama Korea The Glory menggambarkan berbagai bentuk kekerasan yang terjadi dalam kehidupan seorang wanita yang ingin membalas dendam kepada para pelaku perundungan yang dialaminya semasa sekolah. Berdasarkan analisis menggunakan teori semiotika Roland Barthes, terdapat lima representasi kekerasan yang terlihat dalam drama ini, yaitu kekerasan fisik berupa pemukulan, pembunuhan, dan luka fisik lainnya yang disebabkan oleh emosi yang tidak terkontrol dan kekerasan psikologis dalam bentuk ancaman dan manipulasi emosional yang dilakukan oleh Moon Dong Eun. kekerasan seksual berupa pelecehan yang dilakukan oleh seorang siswa les terhadap Moon Dong Eun. kekerasan struktural yang terlihat dalam peredaran narkoba yang dikendalikan oleh Moon Dong Eun. dan kekerasan kultural yang muncul dalam kebiasaan kekerasan yang dilakukan oleh tokohtokoh seperti Park Yeon Jin. Lee Sara, dan Hye Jeong. Setiap bentuk kekerasan ini menunjukkan tanda-tanda makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam semiotika Barthes, di mana tindakan-tindakan kekerasan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari alur cerita, tetapi juga menggambarkan kenyataan sosial yang ada di Korea Selatan, di mana balas dendam terhadap trauma masa lalu sering kali dihubungkan dengan tindakan kekerasan. Drama ini menyajikan kedalaman representasi kekerasan dalam delapan adegan yang menggambarkan bagaimana kekerasan dapat menjadi respons terhadap trauma dan ketidakadilan, serta bagaimana hal tersebut menciptakan mitos sosial tentang balas dendam dan keadilan. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti memberikan dua saran utama. Pertama, saran teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya referensi bagi mahasiswa jurusan ilmu komunikasi, khususnya dalam studi semiotika, dengan mengungkap makna tersirat dalam representasi kekerasan dalam drama. Peneliti berharap penelitian ini dapat mendorong mahasiswa untuk lebih mendalami analisis semiotika dan menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. Kedua, saran praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu komunikasi di Indonesia, khususnya terkait representasi kekerasan dalam media, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kritik terhadap tindakan kekerasan serta langkah-langkah yang tepat untuk menangani dan menghentikan kekerasan yang ada di masyarakat. DAFTAR PUSTAKA