Journal of Science Education and Management Business (JOSEAMB) Vol. No. 1, tahun 2026, hlm. ISSN: 2828-3031 PEMETAAN STRATEGIS POTENSI KEMITRAAN SENTRA IKM TENUN DAN OLAHAN IKAN DI KABUPATEN MANGGARAI BARAT Septian Hutagalung1. Marius Yosef Seran2*. Andy Iwan Iswanto3. Fitri Ciptosari4 Politeknik eLBajo Commodus. Indonesia Info Artikel ABSTRAK Sejarah artikel: Pembangunan sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) menjadi salah satu strategi penting dalam memperkuat struktur ekonomi daerah dan meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal. Namun, keberlanjutan sentra IKM tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur fisik, tetapi juga perlu dilanjutkan dan diperkuat dengan kemitraan antar pemangku kepentingan terkait. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan secara strategis potensi kemitraan yang ada pada sentra IKM Tenun Molas Poco Lembor dan sentra IKM Olahan Ikan ITABAJO yang ada di Kabupaten Manggarai Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus komparatif, melalui teknik pengumpulan data dengan observasi lapangan, wawancara mendalam dan telaah dokumen. Analisis dilakukan menggunakan kerangka pemetaan kepentingan dan pengaruh pemangku Hasil penelitian menunjukkan bhawa pemerintah daerah dan pengelola sentra berperan sebagai aktor kunci, pelaku usaha pariwisata dan lembaga keuangan sebagai aktor strategis, serta akademisi dan lembaga pelatihan sebagai aktor pendukung. Temuan ini juga menegaskan bahwa penguatan tata kelola kemitraan berbasis peran aktor menjadi kunci dalam meningkatkan keberlanjutan dan kinerja sentra IKM. Penelitian ini turut memberikan kontribusi konseptual dan praktis bagi perumusan strategi pengembangan sentra IKM berbasis kolaborasi multipihak. Received: 15 Jan 2026 Revised: 30 Jan 2026 Accepted: 6 Feb 2026 Published: 9 Feb 2026 Kata kunci: Strategi Pemetaan Potensi Kemitraan Sentra IKM IKM Tenun IKM Olahan Ikan Manggarai Barat Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC BY-SA. Penulis yang sesuai: Septian Hutagalung 1. Marius Yosef Seran 2*. Andy Iwan Iswanto 3. Fitri Ciptosari 4 Program Studi Diploma Tiga Ekowisata. Politeknik eLBajo Commodus. Labuan Bajo. Indonesia Program Studi Diploma Empat Manajemen Pemasaran Internasional. Politeknik eLBajo Commodus. Labuan Bajo. Indonesia Email: rioseran19@poltekelbajocommodus. PENDAHULUAN Pemerintah Indonesia masih terus berupaya melakukan pembangunan dan pemberdayaan Industri Kecil Menengah (IKM). Pemberdayaan IKM ini menjadi salah satu kebijakan dan upaya Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang terencana, terarah, dan terukur untuk memampukan dan memandirikan pelaku IKM secara partisipatif sehingga mampu mewujudkan IKM yang berdaya saing dan berperan signifikan dalam penguatan struktur industri dan pengentasan kemiskinan melalui perluasan kesempatan kerja, serta mampu menghasilkan barang dan jasa industri yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Untuk mewujudkan IKM sebagaimana dimaksud, maka diperlukan juga upaya penguatan kapasitas kelembagaan sentra IKM. Homepage jurnal: https://rcf-indonesia. org/jurnal/index. php/JOSEAMB/index JOSEAMB ISSN: 2828-3031 Sejak tahun 2023 di Kabupaten Manggarai Barat telah dibangun dua sentra IKM, yaitu sentra IKM Tenun di desa Poco Rutang, kecamatan Lembor dan sentra IKM Olahan Ikan di desa Batu Cermin. Kecamatan Komodo. Berdasarkan hasil penilaian profil sentra IKM disimpulkan bahwa kedua sentra IKM tersebut memerlukan pendampingan yang intens dan berkelanjutan agar dapat berkembang sesuai dengan visi misi dari hadirnya sentra IKM (Iswanto et al. , 2. Secara spesifik, pada sentra IKM Olahan Ikan ITABAJO, aspek penguatan yang perlu diperhatikan terkait dengan spesifikasi dan riwayat produk, kualitas produk dan pengendalian lingkungan. Sedangkan, pada aspek peningkatan difokuskan pada produk dan pengembangan produk, manajemen dan pengembangan masyarakat. Adapun aspek perbaik yang perlu diperhatikan adalah berkaitan dengan promosi dan pemasaran. Sedangkan pada sentra IKM Tenun Molas Poco Lembor, aspek penguatan yang perlu diperhatikan adalah kualitas produk, pengembangan produk dan pengendalian Sedangkan aspek peningkatan difokuskan pada spesifikasi dan riwayat produk dan Adapun aspek perbaikan yang perlu diperhatikan adalah berkaitan dengan produk dan Gambar 1. Rekap hasil penilaian profil sentra IKM di Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2025 Berangkat dari kondisi empiris pada kedua sentra IKM ini maka rumusan permasalahan adalah sebagai berikut: Bagaimana strategi pemetaan potensi kemitraan yang tepat untuk mendukung penguatan dan pengembangan sentra IKM di Kabupaten Manggarai Barat? Pemangku kemitraan mana yang berpotensi menjadi mitra strategis bagi masing-masing sentra IKM? Bagaimana strategi pemetaan potensi kemitraan dapat dirumuskan agar sejalan dengan karakteristik, kebutuhan dan visi pengembangan masing-masing sentra IKM? Untuk menjawab sejumlah pertanyaan ini maka penelitian ini menawarkan suatu pendekatan strategis berbasis pemetaan, bukan sekedar rekomendasi Lebih lanjut, di dalam penelitian ini ditawarkan model strategi pemetaan potensi kemitraan yang mencakup didalamnya pemetaan potensi internal, pemetaan kemitraan dengan pemangku kepentingan terkait, analisis kebutuhan spesifik sentra, dan perumusan strategi pemetaan kemitraan. Dengan demikian maka kebaruan penelitian ini terletak pada strategi pemetaan potensi kemitraan sebagai tahapan awal dan kunci pengembangan sentra, pemetaan pemangku kepentingan dan analisis kebutuhan sentra sebagai suatu pendekatan penelitian, serta kontribusi empiris aktual dimana penelitian dilakukan pada dua sentra yang baru dibangun di Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi super prioritas pariwisata di Indonesian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi, baik secara teoritis dalam kaitannya dengan kajian mengenai strategi kemitraan dan juga praktis, bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait dalam merumuskan kebijakan pengembangan IKM berbasis potensi lokal yang sedang dikembangkan. TINJAUAN LITERATUR Sejumlah literatur terdahulu telah menunjukkan bahwa IKM memiliki kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan penyerapan tenaga kerja, khususnya di daerah-daerah yang sedang berkembang (Nurcahyo, 2. Penelitian Tambunan menyimpulkan bahwa IKM di Indonesia mempunyai peran penting sebagai tulang punggu perekonomian nasional, walaupun masih memiliki sejumlah tantangan seperti keterbatasan akses permodalan, teknologi dan pasar (Tambunan, 2. Di sini penguatan kelembagaan dan dukungan kebijakan menjadi salah satu faktor kunci dalam pengembangan IKM tersebut. Terdapat juga penelitian dari Ade Septiany, dkk. ( 2. yang menemukan bahwa pengembangan IKM berbasis potensi lokal mampu meningkatkan nilai tambah produk serta memperkuat daya saing daerah. Tentunya keberhasilan dari pengembangan ini juga sangat bergantung pada sinergi antar pelaku usaha, pemerintah dan lembaga pendukung lainnya (Amirullah et al. , 2024. Novitasari et al. , 2. Dengan kata lain, sentra IKM yang didukung oleh kebijakan pemerintah dan jejaring kemitraan memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan A ISSN: 2828-3031 IKM yang tidak terintegrasi (Guimaraes et al. , 2. Hal ini menegaskan juga pentingnya pemetaan aktor dan potensi dalam pengembangan sentra industri. Lebih lanjut, kemitraan lintas sektor mampu meningkatkan efektivitas program Pembangunan ekonomi lokal melalui pembagian peran dan sumber daya. Akan tetapi kemitraan ini perlu didasarkan pada pemetaan kebutuhan dan potensi sehingga dapat berkelanjutan (Pertiwi et al. Di tahap awal, identifikasi terkait kepentingan dan pengaruh pemangku kepentingan menjadi Langkah awal dalam merancang strategi pengembangan yang efektif. Pemetaan yang baik terhadap pemangku kepentingan mampu meningkatkan efektivitas kebijakan dan program pendampingan. Sejumlah penelitian sebagaimana telah disebutkan sebelumnya juga menempatkan kemitraan sebagai variabel pendukung, tanpa menguraikan secara sistematis terkait potensi kemitraan tersebut diidentifikasi, dipetakan, dan disesuaikan dengan karakter masing-masing IKM (Kim & Liang, 2023. Nabovati et al. , 2. Dengan kata lain, kajian terkait kemitraan umumnya berfokus pada dampak kemitraan terhadap kinerja usaha, akses pasar atau peningkatan kualitas Selain itu, penelitian mengenai sentra IKM di Indonesia cenderung menggunakan pendekatan sektoral atau regional yang bersifat homogen dan belum membandingkan dengan potensi kemitraan yang memiliki karakteristik usaha yang berbeda. Sebab dalam kenyataannya, perbedaan karakteristik produk, rantai pasok dan orientasi pasar juga menuntut strategi pemetaan kemitraan yang berbeda juga. Di sisi lain, kajian yang mengintegrasikan analisis potensi internal sentra IKM dengan lingkungan eksternal, termasuk juga dalam hubungannya dengan kebijakan nasional dan peran pemangku kepentingan di tingkat lokal, masih relatif terbatas. Banyak penelitian belum secara eksplisit mengaitkan antara strategi pengembangan IKM dengan kerangka kebijakan nasional dan lokal, sehingga dasar perumusan rekomendasi strategis menjadi lebih terarah dan aplikatif. METODE Desain studi kasus komparatif dengan pendekatan kualitatif menjadi pendekatan utama dari penelitian ini (Poltak & Widjaja, 2. Pendekatan ini dipilih dengan tujuan untuk memahami secara mendalam potensi kemitraan, peran pemangku kepentingan, serta strategi pemetaan kemitraan sentra IKM dalam konteks sosial, ekonomi dan kebijakan yang spesifik. Desain studi kasus komparatif juga memungkinkan eksplorasi fenomena secara kontekstual dan holistik serta sesuai dengan rumusan pertanyaan yang diajukan. Studi kasus komparatif digunakan untuk membandingkan dua sentra IKM dengan karakteristik usaha yang berbeda, sehingga dapat memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai variasi strategi pemetaan kemitraan yang dibutuhkan oleh masing-masing sentra. Adapun lokasi penelitian ini adalah dua sentra IKM yang ada di Kabupaten Manggarai Barat yaitu sentra IKM Tenun Molas Poco Lembor dan sentra IKM Olahan Ikan ITABAJO. Kedua sentra IKM ini dipilih karena memiliki karakteristik usaha, kebutuhan pengembangan serta tantangan kemitraan yang berbeda sehingga relevan untuk dianalisis secara komparatif. Dengan demikian maka populasi penelitian ini mencakup seluruh aktor yang terlibat atau memiliki keterkaitan langsung dengan pengembangan sentra IKM. Obyek penelitian ini adalah potensi kemitraan sentra IKM, yang mencakup aktor kemitraan, bentuk kerjasama, peluang, serta tantangan dalam pengembangan Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dimana informan yang dipilih berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan keterlibatan langsung dalam pengembangan sentra IKM. Kriteria pemilihan informan meliputi pelaku IKM aktif pada masing-masing sentra, pengurus sentra IKM, perwakilan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Manggarai Barat, perwakilan dari lembaga keuangan, pelatihan, akademisi sebagai lembaga pendukung, serta mitra potensial dari sektor pemasaran dan pariwisata. Dalam penelitian ini jumlah informan tidak ditentukan di awal, melainkan disesuaikan hingga mencapai kejenuhan data. Pengumpulan data terdiri dari wawancara mendalam, observasi lapangan dan studi dokumentasi. Wawancara mendalam digunakan untuk menggali informasi mengenai potensi internal sentra IKM, pengalaman kemitraan, kebutuhan pengembangan, serta persepsi terhadap peluang kemitraan strategis. Untuk observasi lapangan sendiri dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap aktivitas produksi, pola Kerjasama, kondisi sarana prasarana, serta interaksi antar pelaku dalam sentra IKM. Studi dokumentasi yang dilakukan JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 JOSEAMB ISSN: 2828-3031 mencakup analisis dokumen kebijakan, laporan program pengembangan IKM, data sentra IKM, regulasi daerah dan nasional, serta penelitian-penelitian terdahulu yang terkait dengan kedua sentra IKM tersebut. Tabel 1. Tabel Operasional Penelitian Konsep Utama Potensi Internal Sentra IKM Variabel/Aspek Karakteristik Produk Kapasitas SDM Ketersediaan Bahan Baku Sarana Prasarana Lingkungan Eksternal Akses Pasar Dukungan Kebijakan Dukungan Lembaga Pemangku Kepentingan (Stakeholder. Identifikasi Aktor Peran Aktor Kepentingan Aktor Tingkat Pengaruh Potensi Kemitraan Bentuk Kemitraan Peluang Kemitraan Tantangan Kemitraan Indikator Sumber Data Jenis produk, kualitas keunikan/kearifan lokal, standar produksi Keterampilan produksi, kemampuan manajerial Sumber bahan baku, biaya bahan baku Peralatan akses teknologi Saluran Program regulasi terkait IKM Peran lembaga keuangan. Pemerintah, akademisi, komunitas Fasilitator, pendamping, pembiaya, pemasaran Kepentingan ekonomi, sosial, kebijakan Tinggi, sedang, rendah terhadap pengembangan Produksi, pembiayaan, pelatihan Potensi kerja sama yang belum dimanfaatkan Hambatan Pelaku IKM. Teknik Pengumpulan Data Wawancara Teknik Analisis Analisis Pelaku IKM. Pelaku IKM Wawancara Analisis Wawancara. Analisis Pelaku IKM. Pelaku IKM. Observasi. Analisis Wawancara. Analisis Pemerintah Studi Wawancara Analisis Wawancara. Stakeholder Lembaga Seluruh Pelaku IKM. Wawancara Analisis Analisis Analisis InterestAe Power Matrix Analisis Analisis Analisis HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengkaji potensi kemitraan pada dua sentra IKM di Kabupaten Manggarai Barat. Data dianalisis secara deskriptif dan komparatif untuk mengidentifikasi kapasitas internal, dukungan lingkungan eksternal dan tingkat kesiapan masing-masing sentra. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua sentra IKM masih berada pada tahap awal pengembangan dengan karakteristik kekuatan dan kelemahan yang berbeda pada setiap dimensi penilaian. Sentra IKM Olahan Ikan ITABAJO menunjukkan fondasi yang relatif kuat pada aspek spesifikasi dan penelusuran produk, kualitas produk, serta pengendalian lingkungan. Akan tetapi, masih terdapat juga kelemahan pada kapasitas manajerial, pengembangan masyarakat, serta promosi dan pemasaran. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan produksi telah terbentuk, tetapi integrasi ke dalam ratai nilai hilir masih cukup terbatas. Di sisi lain, sentra IKM Tenun Molas Poco Lembor telah memiliki keunggulan pada nilai budaya, kualitas produk dan potensi pengembangan A ISSN: 2828-3031 Namun, terdapat kelemahan pada sistem manajemen usaha, dokumentasi produk dan aspek Hal ini turut menunjukkan bahwa aset budaya dan keunikan produk belum sepenuhnya dikonversi menjadi daya saing pasar yang terstruktur. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa kedua sentra IKM memiliki persepsi yang relatif seragam terkait dengan manfaat keberadaan sentra, sekalipun masing-masing sentra juga menunjukkan perbedaan dalam hal tingkat kesiapan dan pengalaman membangung kemitraan. Pada sentra IKM Olahan Ikan ITABAJO, pelaku IKM menilai bahwa fasilitas produk telah membantu dalam meningkatkan kualitas dan higienitas produk. Sekalipun terdapat juga keterbatasan, khususnya dalam aspek manajemen dan pemasaran, sebagaimana diungkapkan sebagai berikut: AuKalau soal produksi, kami sudah terbantu dengan seluruh alat dan fasilitas yang ada di sentra. Yang menjadi PR adalah urusan menjual produk, yang selama ini dilakukan adalah dari rumah ke rumah, kenalan atau lewat media sosial kami masing-masingAy. Sementara itu pada sentra IKM Tenun Molas Poco Lembor, hasil wawancara mengungkapkan bahwa kekuatan utama sentra terletak pada keterampilan menenun dan nilai budaya produk (Jangku et al. , 2. Perhatian untuk pengembangan sentra perlu difokuskan pada sistem manajemen usaha yang belum cukup berjalan dengan baik, sebagaimana diungkapkan sebagai berikut: AuUntuk kemampuan menenun dan menjahit itu sudah tidak perlu diragukan, tetapi soal pengelolaan usaha kami masih perlu bantuan dan pendampingan dari seluruh pihak terkaitAy. Hal ini turut menunjukkan bahwa kapasitas produksi berbasis kearifan lokal belum diiringi dengan penguatan kelembagaan dan tata kelola usaha. Gambar 2. Produk tenun dan olahan ikan yang ada di sentra IKM Selanjutnya, terkait dengan persepsi pemangku kepentingan terhadap kemitraan, hasil wawancara dengan pengelola sentra dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa kemitraan dipahami sebagai tujuan penting, namun membutuhkan kerangka operasional yang jelas dan terukur. Dalam wawancara dengan pejabat dinas terkait diungkapkan bahwa Aukedua sentra ini memang diarahkan untuk bisa menjalin kemitraan, tetapi memang belum ada model kemitraan yang baku. Intervensi pendampingan selama ini masih bergantung pada program dan kegiatan yang sudah diagendakanAy. Di sisi lain, pelaku usaha pariwisata yang diwawancarai juga menyampaikan minat terhadap produk IKM lokal dan peluang untuk kerjasama, tetapi juga menyoroti sejumlah aspek seperti konsistensi kualitas, kapasitas produk dan model kerjasama. Hal ini sebagaimana diungkapkan sebagai berikut: AuKami sebagai mitra seluruh berupaya untuk menggunakan produk lokal, tetapi masih concern juga dengan jumlah kebutuhan dan kualitas serta bagaimana menciptakan model kerjasama yang samasama menguntungkan kedua belah pihakAy. Berdasarkan hasil wawancara ini maka dapat disimpulkan bahwa kemitraan masih bersifat program-based, bukan system-based, sehingga keberlanjutan masih sangat bergantung pada intervensi proyek yang ada. Selain itu kesiapan kemitraan tidak hanya ditentukan oleh minat pasar atau industri, tetapi juga erat berkaitan dengan kesiapan internal sentra itu sendiri (Setyaningrum & Hakim, 2. JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 JOSEAMB ISSN: 2828-3031 Hasil analisis komparatif juga menunjukkan bahwa kedua sentra membutuhkan strategi kemitraan yang berbeda. Sentra IKM Olahan Ikan ITABAJO lebih siap untuk kemitraan yang berfokus pada standarisasi produk, distribusi dan integrasi dalam rantai pasok pangan berbasis Sedangkan, pada sentra IKM Tenun Molas Poco Lembor, kemitraan yang potensial terletak pada sektor ekonomi kreatif, pariwisata budaya dan penguatan merek produk. Perbedaan ini ditegaskan juga oleh pernyataan dari pengelola sentra sebagai berikut: AuKalau untuk tenun memiliki cerita budaya yang kuat, sedangkan untuk olahan ikan, sangat kental dengan suplai mulai dari laut di wilayah Labuan Bajo hingga ke hotel, restoran, warung, dan juga rumah masyarakat sendiriAy. Lebih lanjut, pemetaan pemangku kepentingan menggunakan kerangka kepentingan dan pengaruhnya menunjukkan bahwa pemerintah daerah dan pengelola sentra berperan sebagai aktor kunci, pelaku usaha pariwisata dan lembaga keuangan berperan sebagai aktor strategis, dan akademisi dan lembaga pelatihan berperan sebagai aktor pendukung. Dalam kenyataannya, kemitraan yang ada sejauh ini masih terfragmentasi dan belum terintegrasi secara strategis. Gambar 3. Pemetaan Pemangku Kepentingan Pengembangan sentra IKM Temuan penelitian ini mengonfirmasi perspektif teoretis pengembangan IKM yang menekankan pentingnya kapasitas kelembagaan dan jejaring antarorganisasi dalam meningkatkan daya saing. Sejalan dengan temuan pada sejumlah penelitian terdahulu dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa sentra IKM umumnya relatif kuat pada aspek produksi, tetapi memiliki keterbatasan dalam hal fungsi manajerial dan orientasi pasar. Dari sisi kebijakan, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pembangunan sentra IKM secara fisik belum cukup untuk menjamin keberlanjutan pengembangannya. Temuan ini boleh jadi bertentangan dengan asumsi awal yang menyatakan bahwa penyediaan infrastruktur akan secara otomatis meningkatkan kesiapan kemitraan. Sebab, dalam kenyataannya, pendampingan pasca pembangunan infrastruktur, terkhususnya dalam hal penguatan manajemen dan fasilitasi kemitraan, menjadi suatu hal yang vital dan krusial (Audretsch et al. , 2. Berdasarkan seluruh pemetaan dan temuan yang ada, maka dilakukan perumusan strategi pengembangan kemitraan dengan mempertimbangkan tingkat kepentingan dan pengaruh dari masing-masing pemangku kepentingan. Pertimbangan ini dibuat dengan tujuan untuk memastikan keterlibatan aktor secara proporsional dan berkelanjutan sesuai dengan peran strategisnya masingmasing (Castellani et al. , 2. Adapun perumusan strategi pengembangan kemitraan sentra IKM sebagaimana terdapat dalam tabel 2 berikut ini. ISSN: 2828-3031 Tabel 2. Strategi Pengembangan Kemitraan Sentra IKM Berbasis Pemetaan Pemangku Kepentingan Kelompok Aktor Aktor Kunci Pemangku Kepentingan Pemerintah Daerah Pengelola Sentra Aktor Strategis Aktor Pendukung Pelaku Usaha Pariwisata otel, agen wisat. Lembaga Keuangan Akademisi Lembaga Pelatihan Lintas Aktor Seluruh Pemangku Kepentingan Peran Utama Orkestrator & pembuat Manajer Penggerak pasar atau Penyedia sumber daya Transfer Pengembang Mitra Strategi Kunci Penguatan tata kelola sentra Koordinasi dan fasilitasi Integrasi IKM dalam rantai Pembiayaan Pendampingan berbasis riset Penguatan Sinkronisasi dan evaluasi Program/Kegiatan Operasional Penyusunan SOP pengelolaan sentra dan kemitraan Pembentukan sentra IKM Kerja suplai produk IKM Output yang Diharapkan Tata kelola Kolaborasi lintas aktor Akses pasar Indikator Keberhasilan SOP tersedia Forum aktif Jumlah Skema mikro/kelompok berbasis sentra Pelatihan inovasi produk Pelatihan produksi, pengemasan, dan standar mutu Monitoring evaluasi kemitraan Akses modal Kapasitas SDM Jumlah IKM Peningkatan IKM Kualitas Keberlanjutan Produk standar pasar Kinerja sentra DISKUSI Pada prinsipnya, penelitian ini bertujuan untuk memetakan potensi kemitraan sentra IKM di Kabupaten Manggarai Barat dengan studi kasus pada sentra IKM Tenun Molas Poco Lembor dan sentra IKM Olahan Ikan ITABAJO. Secara khusus, penelitian ini berupaya mengidentifikasi kapasitas internal sentra, peran pemangku kepentingan dan kebutuhan penguatan kemitraan yang kontekstual dan berkelanjutan. Dalam prosesnya, penelitian ini juga mengungkap adanya kesenjangan antara kebijakan nasional terkait pengembangan IKM yang menekankan ekosistem industri terintegrasi dengan implementasinya di tingkat daerah. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme kemitraan di tingkat sentra masih bersifat informal dan belum didukung oleh strategi yang sistematis. Adapun hasil penelitian secara umum telah menunjukkan bahwa kedua sentra IKM memiliki potensi kemitraan namun dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Perbedaan ini menegaskan bahwa strategi kemitraan tidak dapat dirancang secara seragam, tetapi harus disesuaikan dengan profil dan tahap perkembangan masing-masing sentra. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menekankan pentingnya pendekatan berbasis konteks dalam pengembangan IKM dan klister Studi-studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa kelemahan utama IKM umumnya terletak pada aspek manajerial dan pemasaran, meskipun sudah memiliki kapasitas produksi yang relatif Dengan kata lain, hasil penelitian ini juga memperkuat bukti empiris bahwa penguatan kemitraan harus diarahkan pada aspek tata kelola usaha dan akses pasar, tidak hanya sebatas aspek teknis produksi semata. Temuan lain yang tidak kalah pentingnya adalah terkait dengan belum adanya kemitraan yang terstruktur dan berkelanjutan sekalipun kedua sentra IKM telah dilengkapi dengan fasilitas infrastruktur yang memadai. Sejumlah alasan dari kelemahan ini antara lain disebabkan terbatasnya pendampingan pasca pembangunan, lemahnya koordinasi antar pemangku kepentingan, dan belum belum adanya mekanisme formal yang menjembatani kepentingan pelaku IKM dengan mitra Lebih lanjut, dalam pengelolaan sentra IKM dibutuhkan peran aktif seluruh pihak pengelola sebagai hub kemitraan, tidak hanya sebatas pada pengelola fasilitas produksi saja. Dalam hal ini maka pemerintah daerah dan pengelola sentra perlu mengembangkan sistem manajemen JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 JOSEAMB ISSN: 2828-3031 kemitraan yang mencakup pemetaan aktor, perumusan peran, serta fasilitasi kerjasama lintas sektor, khususnya dengan sektor pariwisata, lembaga keuangan dan institusi pendukung lainnya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kedua sentra memiliki potensi kemitraan yang signifikan, namun berada pada tahap kesiapan yang berbeda dan memerlukan strategi pengembangan yang berbeda pula. Sentra IKM Olahan Ikan ITABAJO berpotensi untuk dikembangkan dalam konteks rantai pasok pangan dan pariwisata dan sentra IKM Tenun Molas Poco Lembor berpotensi untuk diselaraskan dengan perkembangan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya. Sekalipun memiliki perbedaan dalam orientasi dan strategi kemitraan namun terdapat faktor kunci yang mempengaruhi efektivitas kemitraan yaitu kapasitas kelembagaan sentra, kualitas manajemen dan kemampuan mengintegrasikan aktor-aktof pendukung dalam jejaring kerjasama yang berkelanjutan. Strategi pemetaan potensi kemitraan sentra IKM ini juga menjadi salah satu instrumen penting yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memiliki implikasi kebijakan dan manajerial yang signifikan bagi pengembangan sentra IKM secara khususnya dan pengembangan ekonomi daerah pada umumnya. BATASAN Penelitian ini memiliki keterbatasan yang perlu diperhatikan yaitu bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus pada dua sentra IKM sehingga perlu kehati-hatian dalam membuat generalisasi ke konteks yang lebih luas. Data yang digunakan dalam penelitian ini juga bersifat deskriptif kualitatif dan belum mengukur secara kuantitatif dampak kemitraan terhadap kinerja ekonomi sentra IKM. Keterbatasan ini tentu dapat mempengaruhi validitas eksternal dari temuan penelitian. Sehubungan dengan ini maka penelitian selanjutnya diarahkan untuk menggunakan pendekatan mixed methods dengan melibatkan indikator kinerja yang terukur dan termasuk juga dalam hal jumlah sentra IKM. Penelitian selanjutnya juga dapat mengeksplorasi dinamika kemitraan dalam jangka waktu tertentu serta peran aktor kunci dalam membangun ekosistem IKM yang berkualitas dan berkelanjutan. REFERENSI