(Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. Vol. No. Desember 2025 . e-ISSN 2614-3135 p-ISSN 2615-739X https://w. id/e-journal/index. php/kurios Dialektika ontologis Aumiskin dalam rohAy dan Aukaya di hadapan AllahAy: Reevaluasi filologis Matius 5:3 dan Lukas 12:21 terhadap terjemahan LAI Robinson Rimun Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia Correspondence: robinsonrimun@stbi. DOI: https://doi. 30995/kur. Article History Submitted: July 16, 2025 Reviewed: Nov. 20, 2025 Accepted: Dec. 30, 2025 Keywords: Luke 12:21. Matthew 5:3. poverty in spirit. sermon on the mount. synoptic theology. khotbah di bukit. Lukas 12:21. Matius 5:3. miskin dalam roh. teologi sinoptik Copyright: A2025. Authors. License: Abstract: Matthew 5:3 serves as the theological prolegomenon to the Sermon on the Mount and undergoes semantic shifts in Indonesian translation. This article critically evaluates the Indonesian Bible Society's (LAI) translation of "poor before God" by comparing it with the Greek text ptschoi ts pneumati (NA. Employing grammatical-historical hermeneutics and redaction criticism, this study identifies a gap in Indonesian biblical discourse that neglects the syntactic function of the dative of respect in the grammatical structure of Matthew 5. The analysis encompasses participial clauses and the dialogical-imperative framework that constructs the message of "better righteousness" and compares it with Luke 12:21 regarding the orientation of being "rich toward God" . loutsn eis theo. Findings indicate that while LAI's translation has pragmatic-relational value, the terminology "poor in spirit" more accurately preserves the introspective inward dimension and ontological status of the ideal disciple in Matthew's Narrative. This research challenges prosperity theology and proposes a transformation of ecclesiological praxis oriented toward social justice as the fruit of genuine spiritual poverty. Abstrak: Matius 5:3 merupakan prolegomena khotbah di Bukit yang mengalami pergeseran semantik dalam penerjemahan Indonesia. Artikel ini mengevaluasi kritis pilihan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) "miskin di hadapan Allah" melalui komparasi dengan teks Yunani ptschoi ts pneumati (NA. Menggunakan hermeneutika gramatikal-historis dan kritik redaksi, penelitian ini mengidentifikasi kesenjangan dalam diskursus biblika Indonesia yang mengabaikan fungsi sintaksis dativus of respect dalam struktur gramatikal Matius 5. Analisis mencakup klausa partisipial dan bingkai dialogis-imperatif yang membangun pesan "kebenaran yang lebih baik", serta komparasi dengan Lukas 12:21 mengenai orientasi "kaya terhadap Allah" . loutsn eis theo. Temuan menunjukkan bahwa meskipun terjemahan LAI memiliki nilai pragmatis-relasional, terminologi "miskin dalam roh" lebih akurat dalam mempertahankan dimensi introspektif batiniah dan status ontologis murid ideal dalam narasi Matius. Penelitian ini menantang teologi kemakmuran dan mengusulkan transformasi praksis eklesiologis berorientasi keadilan sosial sebagai buah kemiskinan spiritual sejati. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 901 R. Rimun. Dialektika ontologis Aumiskin dalam rohAyA Pendahuluan Frasa Matius 5:3 menempati posisi strategis sebagai fondasi teologis Khotbah di Bukit yang membingkai identitas dan keberadaan warga Kerajaan Surga. Diungkapkan Widiyanto, sebagai bentuk implementasi prinsip-prinsip etika Kerajaan Allah dengan menjadi miskin di hadapan Allah atau hidup berserah dan mengandalkan Tuhan, menujukkan sikap lemah lembut, menampilkan kemurahan hati dan mampu menjadi pembawa damai sebagai identitas warga kerajaan Allah. 1 Hal ini menurut Doffou sebagai beatitude pembuka,2 di mana ayat ini merumuskan prasyarat eksistensial yang secara fundamental menantang dan membalikkan sistem nilai duniawi yang mapan. Di Indonesia, terjemahan yang dominan selama beberapa dekade adalah versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dalam Terjemahan Baru (TB), edisi pertama dan kedua yang berbunyi: AuBerbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Ay Pilihan frasa Audi hadapan AllahAy merupakan sebuah keputusan hermeneutis yang signifikan, mengingat mayoritas versi internasional standar . eperti KJV. ESV. NASB, hingga NIV), yang secara konsisten mempertahankan frasa literal Aupoor in spiritAy . iskin dalam ro. Setiap pilihan kata dalam terjemahan Alkitab membawa muatan teologis yang mendalam. Pengalihan dari ranah "roh" . ke ranah "posisi" . , dalam LAI mengundang pertanyaan akademik yang serius: Apakah substitusi ini merupakan bentuk penyederhanaan yang melucuti kedalaman introspektif dari teks aslinya? Ataukah ini merupakan upaya ekuivalensi fungsional yang diperlukan untuk audiens Indonesia guna menghindari misinterpretasi "miskin secara batin" dalam pengertian patologis? Penerjemahan LAI tampaknya dipengaruhi oleh keinginan untuk menghindari dualisme Yunani yang memisahkan roh dan materi, namun dalam prosesnya, ini berisiko mengaburkan intensi Matius yang sengaja mengarahkan fokus pada interioritas manusia sebagai prasyarat ketaatan moral. Diskursus mengenai kemiskinan dalam teologi biblika di Indonesia pada dua dekade terakhir menunjukkan kecenderungan polarisasi hermeneutis. Di satu sisi, pendekatan yang dipengaruhi teologi pembebasan menekankan dimensi kemiskinan material dan kerap melakukan harmonisasi yang tidak kritis antara Matius 5:3 dan Lukas 6:20, sehingga perbedaan redaksional dan teologis kedua Injil tersebut kurang mendapat perhatian serius 3. Di sisi lain, pendekatan pietistik-spiritual cenderung mereduksi frasa AEON E AAsAAE menjadi kualitas moral individual yang abstrak, terlepas dari implikasi struktural dan sosiologisnya bagi relasi antaranggota komunitas Kerajaan Allah. Kajian-kajian yang sudah dilakukan umumnya menempatkan Matius 5:3 sebagai dasar etika Kerajaan Allah yang terwujud dalam praksis relasional dan pembentukan karakter interpersonal. 5 Namun, sebagian besar kajian tersebut berhenti pada level tematik-etis dan normatif tanpa analisis filologis yang memadai terhadap teks Yunani. Secara khusus, belum terdapat kajian yang secara sistematis mengevaluasi efikasi terjemahan LAI Audi hadapan AllahAy dalam 1 Mikha Agus Widiyanto dan Armin Sukri. AuPerwujudan Kebahagiaan dalam Relasi Interpersonal: Implementasi Etika Kerajaan Allah Berdasarkan Matius 5:3Ae9,Ay KURIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 8, no. : 175Ae193. 2 Jean Benjamin Yavo Doffou. AuAnalysis of the Beatitudes in Matthew 5: 1-12,Ay Dare: Holy Trinity College Theological Journal 12, no. : 42Ae49. 3 Parulian Hutasoit and Junior Natan Silalahi. AuPengaruh Pengajaran Kerajaan Surga Dalam Persepektif Injil Matius Bagi Pertumbuhan Iman Jemaat,Ay Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 7, no. : 1-14. 4 Widiyanto and Sukri. AuPerwujudan Kebahagiaan Dalam. Ay 5 Widiyanto and Sukri. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 902 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 terang fungsi dativus respectus (E AAsAAE) serta struktur predikat nominatif a yang diletakkan di awal kalimat sebagai penanda fokus teologis dan deklaratif. Dengan demikian, terdapat celah penelitian yang signifikan dalam memahami bagaimana struktur gramatikal Matius 5:3 berfungsi bukan hanya sebagai fondasi etika interpersonal, tetapi sebagai deklarasi ontologis yang menetapkan identitas eksistensial warga kerajaan Surga dan secara radikal membalikkan tatanan nilai duniawi sejak pembukaan khotbah di Bukit. Penelitian ini mempertanyakan mengapa terminologi Aumiskin dalam rohAy memiliki akurasi filologis yang lebih unggul dibandingkan ekuivalensi fungsional Audi hadapan AllahAy dalam Matius 5:3. Fokus diarahkan pada fungsi dativus respectus (E AAsAAE) dan perannya dalam struktur predikat nominatif a. Kajian ini menelaah bagaimana struktur gramatikal makro Matius pasal 5 membentuk pesan teologis Injil. Fokus diberikan pada peran klausa partisipial, subordinat, dan bingkai dialogis dalam mengonstruksi karakter murid ideal. Selanjutnya, analisis sintaksis Lukas 12:21 mengenai orientasi Aukaya terhadap AllahAy (AC AU) dievaluasi sebagai penyeimbang dialektis bagi konsep Aumiskin dalam rohAy. Akhirnya, penelitian ini menguji sejauh mana reevaluasi filologis tersebut memiliki daya korektif terhadap teologi kemakmuran dan patologisasi kemiskinan dalam konteks teologi Indonesia kontemporer. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif-deskriptif dengan pendekatan hermeneuttika gramatikal-historis dan kritik redaksi. Sebagaimana ditegaskan oleh Zaluchu, desain penelitian dalam manuskrip jurnal ilmiah keagamaan harus mampu menunjukkan dialektika yang jelas antara teks dan konteks melalui prosedur analisis yang sistematis. 6 Pendekatan ini memastikan bahwa eksplorasi terhadap unit leksikal Yunani dan struktur gramatikal dilakukan dengan akurasi akademik yang dapat dipertanggungjawabkan guna menyingkapkan kedalaman makna teologis. Adapun tahapan penelitian dilakukan sebagai berikut: Pertama, analisis mikro-filologis, yakni melakukan eksegesis mendalam terhadap unit leksikal teks asli Yunani (NA. Matius 5:3 dan Lukas 12:21. Analisis mencakup bedah kasus gramatikal . ativus of respec. , analisis klausa subordinat kausatif, serta studi semantik kata kunci . tschos, pneuma, makario. Kedua, kajian sintaksis makro, yakni dengan membedah struktur Matius 5 secara keseluruhan, termasuk penggunaan klausa partisipial, klausa segmen, dan bingkai imperatif-dialogis. Peneliti memperhatikan bagaimana elemen-elemen ini berkontribusi pada pesan teologis ketaatan batiniah. Ketiga, kajian tekstual dan sejarah tradisi, yakni meninjau konsistensi manuskrip utama seperti Sinaiticus dan Vaticanus . C) untuk memastikan stabilitas tekstual frasa ts pneumati. Analisis juga melibatkan penelusuran sejarah tradisi konsep Anawim guna memahami nuansa kemiskinan yang religius. Sintesis teologis-kontekstualnya mengevaluasi dampak teologis dari variasi terjemahan dalam konteks eklesiologi Indonesia, dengan menggunakan teori penerjemahan ekuivalensi formal versus fungsional sebagai kerangka evaluatif. Anatomi Filologis Matius 5:3: Akurasi Sintaksis dan Supremasi "Dalam Roh" Matius membuka perikop ini dengan penggunaan adjektiva jamak a . alam kasus nominatif yang berfungsi sebagai predikat, yang secara sengaja ditempatkan di posisi awal kalimat melalui teknik fronting untuk memberi penekanan teologi. Penempatan ini bukan sekadar pilihan sintaktis, melainkan perangkat retoris yang menegaskan status keberkatan seSonny Eli Zaluchu. AuMetode Penelitian Di Dalam Manuskrip Jurnal Ilmiah Keagamaan,Ay Jurnal Teologi Berita Hidup 3, no. : 249-266. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 903 R. Rimun. Dialektika ontologis Aumiskin dalam rohAyA bagai realitas teologis yang primer. Dengan demikian, identitas murid ditetapkan terlebih dahulu oleh deklarasi ilahi sebelum kondisi atau respons manusia dijabarkan. Keberkatan tidak dipahami sebagai akibat moral atau ganjaran eskatologis semata. Sebaliknya, keberkatan berfungsi sebagai deklarasi ilahi yang mendahului dan membingkai deskripsi karakter etis para Secara sintaksis, ucapan bahagia ini diperluas dan dipertegas oleh klausa subordinat yang diawali dengan konjungsi IE . , yang berfungsi menjelaskan dasar atau alasan deklarasi makarios tersebut. Dalam linguistik Yunani, klausa subordinat merupakan konstruksi yang mengandung subjek dan verba, namun tidak memiliki kemandirian proposisional dan bergantung pada klausa utama untuk makna lengkapnya. 7 Oleh karena itu, klausa IE dalam Matius 5:3 berperan sebagai elemen komplementer yang secara semantis menjelaskan dasar teologis keberkatan, sekaligus sebagai suplemen sintaktis yang mengaitkan status berbahagia dengan realitas kerajaan Allah, sebagaimana lazim dalam konstruksi diskursif injil sinoptik. Moulton dan Turner dalam Angami, menjelaskan bahwa dalam Matius 5:3 klausa subordinat IE aE aEE EA E aA berfungsi memberikan dasar kausatif bagi maklumat a. Walaupun konjungsi IE . dalam Yunani Alkitabiah dapat memiliki rentang fungsi semantis yang luas, penggunaannya dalam konteks ini secara nuansial menunjuk pada relasi sebab . ausal subordinatio. , yakni alasan mengapa subjek dinyatakan berbahagia. 8 Karena itu, keberkatan tidak berdiri sebagai pernyataan terpisah, melainkan secara intrinsik ditopang oleh realitas teologis yang dinyatakan dalam klausa subordinat tersebut. Lebih lanjut, pernyataan bahwa Aumilik merekalah Kerajaan SurgaAy menegaskan bahwa kepemilikan kerajaan bukanlah upah eskatologis yang sepenuhnya futuristik, melainkan dasar teologis yang berlaku pada masa kini. Pemahaman ini sejalan dengan kajian Sianipar. Daliman, dan Lumintang, yang menegaskan bahwa AuKingdom of HeavenAy dalam Injil Matius tidak dimaksudkan sebagai tujuan geografis atau politis di masa depan, melainkan sebagai realitas spiritual yang telah hadir melalui karya dan kuasa Yesus Kristus. 9 Ketika kuasa Kristus dinyatakan dalam kehidupan para murid, kerajaan tersebut dialami sebagai presentia, yakni kehadiran aktif pemerintahan Allah dalam realitas historis sekarang. Dalam kerangka ini, ucapan bahagia (Mat. 5:3Ae. berfungsi sebagai indikator teologis kehadiran kerajaan,10 bukan sekadar janji eskatologis yang ditangguhkan. Secara gramatikal, struktur adjektiva jamak a yang diikuti oleh nomina definit dalam klausa IE aE aEE EA E aA memperkuat pemahaman tentang status eskatologis yang sudah hadir . lready presen. , 11 sebagaimana ditekankan juga oleh Broadus. 12 Perspektif ini juga sejalan dengan analisis Lioy, yang melihat makarisme sebagai penanda keadaan AukeberkatanAy yang bersifat aktual dan dialami pada masa kini oleh mereka yang hidup selaras dengan nilai-nilai Kerajaan. 13 Dalam praktik penerjemahan Alkitab, relasi teologis semacam ini sering diperjelas dengan mengonversi klausa subordinat menjadi klausa Rodney J Decker. Reading Koine Greek: An Introduction and Integrated Workbook (Baker Academic, 2. , 7. Zhodi Angami. Tribals. Empire and God: A Tribal Reading of the Birth of Jesus in MatthewAos Gospel (Bloomsbury Publishing, 2. , 246. 9 Rosmaida Sianipar et al. AuBiblical Studies about the Kingdom of Heaven Based on the Gospel of Mattew and Its Implication at Borneo Evangelical Mission (BEM) Miri Sarawak Church,Ay European Journal of Theology and Philosophy 5, no. : 5-11. 10 Widiyanto and Sukri. AuPerwujudan Kebahagiaan Dalam. Ay 11 Luz Ulrich. AuMatthew 1-7: A CommentaryAy (Minneapolis (MN). Fortress Press. Hermeneia, 2. , 192. 12 John Broadus. Commentary on Matthew (Christian Classics Reproductions, 2. , 93. 13 Dan Lioy. AuA Comparative Analysis of Psalm 1 and the Beatitudes in Matthew 5:3Ae12,Ay Conspectus: The Journal of the South African Theological Seminary 22, no. : 141Ae182. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 904 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 kausatif yang eksplisit. Penambahan unsur seperti AukarenaAy menolong menonjolkan hubungan sebab antara status keberkatan dan kepemilikan kerajaan. Strategi ini dilakukan tanpa mengaburkan makna teologis yang terkandung dalam teks sumber. Subjek artikular AEON . oi ptscho. menggunakan adjektiva substantival yang menunjuk pada kelompok miskin yang berada dalam kondisi kemiskinan total dan ketidakberdayaan ekstrem. Akar leksikal ptschos secara etimologis merujuk pada tindakan AumeringkukAy atau Aumenyembunyikan diri,Ay yang mencerminkan keadaan keterdesakan dan ketergantungan Dengan demikian, istilah ini tidak sekadar menggambarkan kekurangan material, tetapi suatu status eksistensial yang menandai kerapuhan manusia di hadapan realitas hidup. Pilihan leksikal ini berakar pada konsep Ibrani AuanAwymAy . , sebuah realitas historis yang menurut rekonstruksi arkeologi dan etnografi terbaru merupakan kelompok yang mengalami perjuangan eksistensial keras, kerentanan kesehatan, dan marginalisasi sosial yang ekstrem. 15 Kondisi sosiologis yang menekan ini memaksa mereka menempatkan seluruh kepercayaan hanya kepada Allah, yang oleh redaksi Matius dikembangkan menjadi sebuah itinerary spiritual melalui penambahan frasa E AAsAAti . s pneumat. Penambahan sengaja ini menggeser fokus dari sekadar kemiskinan material menuju orientasi batin yang mendefinisikan ulang konfigurasi manusia dalam relasinya dengan Allah. 16 Dengan demikian, kemiskinan tersebut bertransformasi dari sekadar status sosiologis menjadi sebuah kerangka keberadaan . ase of existenc. yang membentuk identitas murid sebagai pribadi yang sepenuhnya bergantung pada Allah. Identifikasi terminologi 'miskin dalam roh' semakin diperkuat oleh kemiripannya dengan tradisi literatur intertestamentaria, khususnya dalam manuskrip Qumran, seperti 4Q525 dan 1QHa. Penemuan ini menunjukkan adanya interdependensi literatur yang menempatkan Aoucapan bahagiaAo Matius dalam sebuah genre sastra yang mapan, di mana logika redaksionalnya sengaja mengaitkan status 'miskin' dengan kesalehan batiniah yang spesifik. 17 Dalam tradisi eksegesis klasik. Agustinus menegaskan bahwa identitas orang miskin yang sejati tidak dapat dipisahkan dari kerendahan hati dan ketaatan mutlak kepada kehendak ilahi. Bagi Agustinus, kemiskinan ini merupakan langkah awal dalam perjalanan spiritual menuju Allah, sebuah pengosongan diri yang menjadi prasyarat untuk dipenuhi oleh kasih karunia-Nya. Dalam kerangka ini. Yesus secara radikal membedakan murid-Nya dari mereka yang merasa AukayaAy secara moral atau religius . he piou. , yakni kelompok yang mengandalkan prestasi kesalehan diri sebagai dasar pembenaran. Sebaliknya, sebagaimana ditegaskan Porras, orientasi batin yang miskin dalam roh menandai sebuah disposisi etis-spiritual yang membuka diri terhadap pemerintahan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, identitas murid tidak ditentukan oleh klaim atas keunggulan etis tertentu, melainkan oleh sikap ketergantungan total kepada Allah, yang menjadi fondasi eksistensial bagi kehidupan dalam mengikut Kristus. 14 Barclay Moon Newman and Eugene Albert Nida. A Handbook on the Acts of the Apostles (United Bible Societies, 1. , 541. 15 Kevin J. Boyle. Au David A. Fiensy. The Archaeology of Daily Life: Ordinary Persons in Late Second Temple Israel ,Ay Bulletin for Biblical Research 33, no. : 547-548. 16 Carolina Vila Porras dan Ivyn D. Toro-Jaramillo. AuThe Ethical and Spiritual Considerations of MatthewAos Beatitudes: Configuration of the Human Being in Companies,Ay Verbum et Ecclesia 41, no. : 1Ae8. 17 Constantin Pogor. AuLes byatitudes du Nouveau Testament (Mt 5, 3Ae12a. Lc 6, 20bAe. y la lumiyre de celles de Qumryn . Q525 2 ii 1Ae6. 1QHa VI 13Ae. et de la littyrature intertestamentaire,Ay Biblische Zeitschrift 66, 1 . : 76Ae92. 18 Enrique A. Eguiarte B. AuSearching the True Poor: Augustine interprets the text of Mt 5:3,Ay Mayyutica 49, 108 . : 387-408. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 905 R. Rimun. Dialektika ontologis Aumiskin dalam rohAyA Frasa E AAsAAE . s pneumat. dalam Matius 5:3 berfungsi sebagai dativus of respect . atif referens. yang secara gramatikal membatasi ranah kemiskinan yang dimaksud. 19 Dengan fungsi ini, kemiskinan tidak dipahami secara umum atau material, melainkan secara spesifik Audalam hal roh,Ay sehingga frasa tersebut paling tepat dipahami sebagai Aumiskin secara spiritual. Ay Pembatasan ranah ini menegaskan bahwa makna kemiskinan tidak bersifat ambigu, tetapi diarahkan pada dimensi interior yang menjadi locus utama relasi manusia dengan Allah. Hal ini diperdalam oleh Bernard McGinn melalui analisisnya terhadap Meister Eckhart, yang memandang 'miskin dalam roh' sebagai proses dekreasi diri melalui tiga peniadaan radikal: tidak berkehendak, tidak mengetahui, dan tidak memiliki . iht enwil, niht enweiz, niht enhy. Dalam kerangka ini, kemiskinan roh adalah anihilasi ego agar manusia sepenuhnya dipenuhi oleh kehadiran Allah. Secara teknis, konstruksi ini merepresentasikan suatu status ontologis yang berakar pada sensus fidei, yakni karunia atau karisma dari Roh Kudus yang memberikan 'naluri iman' untuk menangkap kebenaran supernatural melampaui kapasitas diskursus logis. Kondisi ini bukan sekadar sikap batin hasil usaha moral, melainkan sebuah kapasitas eksistensial untuk mendengar dan menerima firman Allah yang lahir dari partisipasi nyata dalam kehidupan anugerah. Pemahaman ini menolak reduksi makna menjadi sekadar disposisi psikologis atau prestasi rohani voluntaristik, karena 'miskin dalam roh' merupakan postur batin yang memberikan 'mata iman' bagi orang percaya untuk memahami realitas ilahi secara mendalam. Dalam kerangka kritik terjemahan, substitusi terjemahan LAI dengan frasa Audi hadapan AllahAy secara signifikan menggeser fokus dari ranah internal . pirit/ro. menuju posisi relasional eksternal. Pergeseran ini berpotensi melemahkan penekanan ontologis teks Yunani dan mengarahkan pembaca pada pemahaman forensik atau situasional. Padahal, terminologi Aumiskin dalam rohAy menuntut suatu introspeksi batin yang radikal, yakni pengakuan bahwa pada inti eksistensinya manusia tidak memiliki moral standing atau aset rohani yang dapat diandalkan di hadapan kekudusan Allah. Keunikan frasa E AAsAAti ini semakin menonjol mengingat konstruksi tersebut tidak ditemukan dalam literatur Yunani lainnya, ini menandakan sebuah terminologi teknis yang sengaja diciptakan untuk menunjuk pada keutamaan kerendahan hati sebagai fondasi kemuridan. Kondisi ini dipandang bukan sekadar sikap mental, melainkan sebuah cara hidup yang memampukan manusia menangkap realitas supernatural melalui sensus fidei sebagai karunia Roh Kudus. Karunia ini lahir dari partisipasi nyata dalam kehidupan anugerah dan pengosongan diri, yang memungkinkan orang percaya memiliki intuisi iman untuk memahami misteri kerajaan surga secara lebih jernih dibandingkan diskursus logis semata. Dalam menguji konsistensi manuskrip Matius 5:3, perlu dicatat bahwa meskipun secara teoretis banyaknya salinan meningkatkan potensi variasi tekstual, kualitas pelestarian teks sangat ditentukan oleh kompetensi para penyalin. 23 Anggapan awal bahwa papirus-papirus awal disalin secara sembrono telah dikoreksi oleh penelitian mutakhir yang menunjukkan 19 Thomas M Tehan and David Abernathy. An Exegetical Summary of the Sermon on the Mount (SIL international, 2. , 89. 20 Bernard McGinn. Au Niht Enwil Und Niht Enweiz Und Niht Enhyt: EckhartAos Triple Negation and Its History ,Ay Medieval Mystical Theology 30, no. : 2-16. 21 Leon Sawicki. AuSensus Fidei as a Gift of the Holy Spirit to the Church,Ay Studia Theologica Varsaviensia . : 361-378, https://doi. org/10. 21697/stv. 22 Sawicki. 23 Aldorio Flavius Lele. AuMelampaui Batas Tradisi: Kritik Teks Terhadap Ayat-Ayat Tambahan Dalam Perjanjian Baru,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 8, no. : 699Ae717. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 906 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 bahwa sebagian besar papirus tersebut disalin oleh penyalin yang literat atau setidaknya semiprofesional. 24 Fakta ini meningkatkan kepercayaan terhadap stabilitas tekstual perikop ini. Codex Vaticanus (B) dan kodeks utama lainnya secara konsisten menggunakan frasa E AAsAAE. Kehadiran frasa ini secara stabil dalam tradisi manuskrip utama . C) memperkuat kesimpulan bahwa dimensi interioritas bukanlah tambahan belakangan, melainkan intensi redaksional Matius yang dipertahankan secara konsisten dalam transmisi teks. Dalam teks asli, tidak ditemukan unsur eksplisit "di hadapan," seperti enspion atau preposisi spasial lainnya. Penyertaan unsur AuAllahAy dalam terjemahan LAI dapat dipahami sebagai penjelasan interpretatif tambahan, bukan sebagai padanan leksikal langsung dari teks Yunani. Secara filologis, unsur ini tidak hadir dalam teks sumber. Pilihan ini melampaui data gramatikal yang tersedia. Hal ini berpotensi mengaburkan fokus introspektif dari dativus of respect Formulasi yang lebih akurat adalah Auorang-orang yang miskin dalam rohAy atau Aumiskin secara rohani. Ay Hal ini sejalan dengan analisis Merlo yang menegaskan bahwa kemiskinan roh bagi kaum Valdesius, yakni seorang saudagar Lyons abad ke-12 yang melepaskan kekayaannya demi ketaatan radikal, merupakan 'prakondisi ontologis' untuk mengalami otoritas Firman secara murni. Bagi gerakan ini, status poor in spirit menjadi tindakan pengosongan diri dari jaminan duniawi agar manusia memiliki kapasitas batin untuk menerima kedaulatan kerajaan Allah sepenuhnya. 25 Hal ini merefleksikan dativus of respect secara literal. Pilihan LAI "di hadapan Allah" membantu pembaca awam, namun mengurangi ketajaman aspek batiniah yang sengaja dibangun Matius. Struktur Gramatikal Makro Matius 5: Karakterisasi dan Moralitas Matius pasal 5 dibangun di atas struktur gramatikal yang kompleks guna mendukung pesan mengenai "kebenaran yang lebih baik" . etter righteousnes. Analisis sintaksis makro menyingkapkan bagaimana komponen teks membangun argumen teologis Yesus mengenai moralitas Kerajaan. Rangkaian Beatitudes dalam Matius 5:3Ae12 didominasi oleh penggunaan klausa partisipial yang menyampaikan aksi maupun keadaan eksistensial, seperti AAEAC . oi penthountes, mereka yang berduk. dan AAEAC . oi peinsntes, mereka yang lapa. Partisipel-partisipel ini berfungsi secara substantival, sehingga tidak sekadar menggambarkan tindakan temporer, melainkan menetapkan identitas yang relatif stabil bagi komunitas murid. Dengan demikian. Beatitudes membentuk potret kolektif tentang siapa murid itu, bukan hanya apa yang mereka lakukan, suatu konfigurasi identitas yang bersifat komunal dan teologis. Lebih jauh lagi, penggunaan istilah AumakyriosAy dalam diskursus kehormatan sering kali lebih tepat diterjemahkan sebagai maklumat 'sungguh terhormat!,' sebuah proposisi yang menekankan relevansi teologis dan sosialnya bagi komunitas yang hidup dalam budaya berbasis rasa malu. Dalam kerangka ini. Aoucapan bahagiaAo berfungsi sebagai 'teodise praktis' yang memberikan status terhormat secara ilahi kepada mereka yang secara duniawi dianggap rendah atau teraniaya. Edward D Andrews. How To Study Your Bible: Rightly Handling the Word of God (Christian Publishing House, 2. , 24. 25 Grado Giovanni Merlo. AuValdo . r Valdesiu. of Lyons and the Poor in Spirit,Ay in A Companion to the Waldenses in the Middle Ages . : 11Ae33. 26 Carolina Vila Porras dan Ivyn D. Toro-Jaramillo. AuThe Ethical and Spiritual Considerations of MatthewAos Beatitudes: Configuration of the Human Being in Companies,Ay Verbum et Ecclesia 41, no. : 1Ae8. 27 Myriam G. Klinker-De Klerck. AuPersecution Is No Blessing: Matthew 5:10Ae12 as a AoPractical Theodicy,AoAy In die Skriflig/In Luce Verbi 60, no. : 7. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 907 R. Rimun. Dialektika ontologis Aumiskin dalam rohAyA Dalam kerangka ini, status keberkatan . tidak dipresentasikan sebagai ganjaran etis yang sepenuhnya futuristik, melainkan sebagai realitas eskatologis yang sudah dialami pada masa kini oleh mereka yang hidup selaras dengan nilai-nilai Kerajaan. Lioy menunjukkan bahwa dimensi etis dan eskatologis dalam Beatitudes saling berkelindan untuk menegaskan keberkatan sebagai kondisi aktual yang membingkai kehidupan murid sejak sekarang. Oleh karena itu, penggunaan partisipel dalam Beatitudes tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga performatif. Partisipel-partisipel tersebut membentuk identitas murid sebagai komunitas yang telah hidup dalam realitas Kerajaan Allah yang hadir, meskipun belum mencapai kepenuhannya. Secara sintaktis, partisipel substantival dalam konstruksi ini dapat berfungsi sebagai klausa subordinat dengan nuansa kausatif, khususnya ketika bergantung pada predikat penilaian atau deklarasi seperti a. 29 Dalam konteks ini, partisipel-partisipel tersebut menjelaskan alasan atau dasar keberkatan yang dinyatakan, bukan sekadar konsekuensi etis. Struktur ini memperlihatkan hubungan logis antara deklarasi keberkatan dan kondisi eksistensial para murid yang disebutkan secara berurutan. Sepanjang Matius 5. Yesus secara konsisten menggunakan bingkai dialogis yang khas. AuKamu telah mendengar A tetapi Aku berkata kepadamu,Ay yang menempatkan-Nya sebagai subjek otoritatif dalam diskursus penafsiran Taurat. Pola ini didominasi oleh penggunaan verba imperatif yang tidak hanya bersifat preskriptif, tetapi juga performatif, karena ucapan Yesus sendiri menetapkan norma etis Kerajaan. Hal ini sejalan dengan analisis Yatsyshyn yang memandang diskursus dalam Matius 5:3-16 sebagai sebuah jaringan komunikasi yang Teks tersebut secara implisit memprogram respons pembaca pada level pragmatis agar pesan teologis tidak sekadar berhenti sebagai peristiwa tutur. Pesan tersebut kemudian bertransformasi menjadi kriteria tindakan dan gaya hidup nyata bagi setiap warga kerajaan Surga. 30 Strategi argumentasi ini mengintegrasikan komponen sintaksis-semantik teks dengan tujuan aktualisasi program Kerajaan dalam keseharian. Analisis terhadap klausa-klausa segmental dan frasa-frasa preposisional dalam bagian antitesis . 21Ae. menunjukkan bahwa tuntutan ketaatan yang Yesus ajukan bergerak melampaui ranah perilaku eksternal. Ketaatan tersebut meresap hingga ke motivasi batiniah, yang diekspresikan melalui klausa-klausa introspektif dan subordinat yang membentuk kondisi moral baru. Sebagai contoh, larangan membunuh tidak lagi dibatasi pada tindakan fisik, tetapi diperluas ke ranah amarah dan sikap hati, sehingga standar etis Kerajaan bersifat internal dan radikal. Dalam kerangka ini, deklarasi Aumiskin dalam rohAy . berfungsi sebagai prasyarat teologis bagi seluruh tuntutan etis yang dikemukakan sepanjang pasal ini. Kesadaran akan kebangkrutan rohani memungkinkan ketaatan batiniah yang sejati, karena ketaatan tersebut tidak berakar pada kepercayaan diri moral, melainkan pada ketergantungan total kepada Allah. Dengan demikian, etika Kerajaan yang diajarkan Yesus terhindar dari legalisme lahiriah dan berakar pada transformasi interior yang konsisten dengan identitas murid. Meskipun frasa Aumiskin dalam rohAy secara jelas mengandung dimensi spiritual, konsep ini tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari realitas ekonomi yang konkret. Dalam dunia yang telah jatuh, kondisi kemiskinan rohani kerap beririsan dengan pengalaman keterpinggiran sosial dan material, sehingga mereka yang Aumiskin dalam rohAy sering kali juga berada dalam siLioy. AuA Comparative Analysis of Psalm 1 and the Beatitudes in Matthew 5:3-12. Ay Pierluigi Cuzzolin. AuSubordination,Ay dalam Encyclopedia of Ancient Greek Language and Linguistics, vol. (Leiden: Brill, 2. , 335Ae341. 30 Andriy Yatsyshyn. AuCommunicative-Pragmatic Aspects Discourse of Jesus Christ in the Gospel of Matthew 5:3-16,Ay Volynskyi Blahovisnyk 11 . : 376. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 908 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 tuasi ketidakberdayaan ekonomi. 31 Kekayaan, sebaliknya, membawa bahaya spiritual yang nyata karena berpotensi menumbuhkan ilusi kemandirian dan mengaburkan kebutuhan eksistensial manusia akan Allah. Penelitian empiris oleh Ibyyez et al. menunjukkan bahwa, meskipun pernyataan Lukas mengenai kebahagiaan orang miskin secara material sulit dibuktikan dalam realitas sosial yang keras, pernyataan Matius mengenai 'miskin dalam roh' justru menemukan dukungan data yang kuat. Temuan lapangan menunjukkan bahwa individu yang mengidentifikasi diri sebagai Aumiskin spiritual,Ay yakni yang bergantung sepenuhnya kepada Allah, memiliki kesejahteraan batin dan kebahagiaan yang lebih stabil. Sebaliknya, ketergantungan semata pada status ekonomi cenderung tidak menghasilkan stabilitas kebahagiaan yang sama. 32 Kemiskinan dalam roh (Mat. mendapatkan keseimbangan teologisnya dalam Lukas 12:21. Jika Matius menekankan "pengosongan ego" . Lukas menunjukkan "tujuan hidup" . dari pengosongan tersebut: menjadi kaya terhadap Allah. Teks Yunani Lukas 12:21 berbunyi "iEOC A EIAO cIE AA AC A AIE,Ay yang secara sintaktis membentuk sebuah kalimat nominal eliptis evaluatif tanpa kehadiran verba eksplisit. Konstruksi ini berfungsi sebagai penilaian normatif terhadap tipe manusia tertentu, bukan sekadar deskripsi naratif. Kehadiran subjek partisipial A EIAO yang dipadukan dengan partisipel negatif AA A AIE membingkai karakter subjek secara kontrasif: menimbun bagi diri sendiri tetapi gagal menjadi kaya di hadapan Allah. Adverbia iEOC (AudemikianlahA. berperan sebagai adverbia cara atau sarana yang menggeneralisasi kegagalan tokoh Auorang kaya bodohAy menjadi sebuah prinsip universal. Secara implisit, struktur ini menuntut pembacaan verba kopulatif aEE sebagai elemen yang dipahami bersama . mplied copul. , sehingga maknanya adalah Audemikianlah keadaan orang yangAAy. Dengan demikian, elipsis verbal tersebut justru memperkuat daya evaluatif teks, menegaskan status eksistensial subjek di hadapan Allah, bukan sekadar hasil tindakan ekonominya. Subjek A EIAO . artisipel presens akti. menggambarkan gaya hidup akumulatif yang bersifat habitual, menunjukkan bahwa tindakan menimbun kekayaan bagi diri sendiri merupakan pola yang terus-menerus dilakukan. Kehadiran datif refleksif cIE berfungsi secara benefaktif, yakni Auuntuk dirinya sendiri,Ay yang menegaskan orientasi tindakan yang berpusat pada diri. Hal ini memperlihatkan egoisme teologis, di mana kepentingan pribadi ditempatkan di atas relasi dengan Allah dan sesama. Analisis naratologis oleh Adewale mempertegas bahwa pola akumulasi habitual ini merupakan bentuk kegagalan karakter . yang fatal di hadapan Yesus. Adewale menunjukkan bahwa perilaku AumenimbunAy sering menciptakan kontras sosial yang tajam dan menyakitkan. Sementara individu atau institusi mengejar kemewahan eksotis, sesamanya justru hidup di ambang kelangsungan hidup. Dengan demikian, pesan Lukas bukan sekadar kritik terhadap kepemilikan harta, melainkan panggilan bagi komunitas beriman untuk mentransformasi kekayaan menjadi instrumen aksi sosial yang memerdekakan kaum miskin. Jeffrey A. Gibbs. Matthew 1:1Ae11:1 (Concordia Publishing House, 2. , 547. Franklin Ibyyez et al. AuFelices los pobres (Mt 5, . ? Evidencia empyrica para confrontar una promesa evangylica,Ay Veritas 47 . : 231Ae251. 33 Olubiyi A. Adewale. AuNarratological Reading of Poverty-Related Parables (Lk 12:13Ae21. 14:15Ae24. 16:19Ae . ,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 77, no. : 1-10. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 909 R. Rimun. Dialektika ontologis Aumiskin dalam rohAyA Frasa EIAO cIE tampaknya merupakan kreasi redaksional Lukas,34 kemungkinan terinspirasi oleh tradisi sumber Q, yang disusun untuk menekankan kritik terhadap akumulasi yang berpusat pada diri sendiri. Dengan struktur ini. Lukas tidak sekadar mengomentari tindakan ekonomi, tetapi menyoroti konsekuensi spiritual dari pola hidup yang mengutamakan diri sendiri, sekaligus memperkuat pesan etis tentang tanggung jawab manusia di hadapan Allah. Kalimat kunci teologis dalam ayat ini adalah AA AC A AIE, yang menegaskan orientasi eksistensial subjek terhadap Allah. Partisipel AIE berdiri paralel secara kontras dengan EIAO, sehingga menyoroti perbedaan antara menimbun kekayaan bagi diri sendiri dan menjadi kaya Auterhadap Allah. Ay Penggunaan preposisi AC akusatif (AU) menekankan arah relasional, yakni orientasi hidup yang diarahkan menuju atau kepada Allah, bukan sekadar hadir atau berada di hadapan-Nya. Menjadi kaya terhadap Allah berarti menjadikan Allah sebagai pusat dan tujuan dari seluruh aset hidup, sehingga seluruh kekayaan materi dialihkan untuk memenuhi kehendak-Nya dan melayani sesama. Sejalan dengan perspektif teologi sinoptik terbaru, kekayaan yang berorientasi teosentris . loutsn eis theo. bermanifestasi secara konkret melalui transformasi aset pribadi menjadi instrumen aksi sosial bagi komunitas yang terabaikan. 35 Kekayaan semacam ini secara radikal berbeda dari akumulasi egoistik, karena hanya orientasi hidup yang diarahkan kepada Allah yang mampu bertahan melampaui pemeriksaan ilahi. Dalam kerangka ini, kebermaknaan hidup seorang murid tidak lagi diukur dari kelimpahan materi yang dikumpulkan secara habitual, melainkan dari sejauh mana seluruh aspek eksistensinya digunakan sebagai sarana kesetiaan kepada Allah dan pelayanan kepada sesama. Darrell L. Bock mengkritik akumulasi kekayaan egoistik melalui kerangka analisis perumpamaan orang kaya bodoh, yang menyoroti empat dosa utama dalam dialektika hubungan manusia dengan harta. 37 Pertama, hoarding atau menimbun kekayaan tanpa sirkulasi berkat, menunjukkan ketidakmauan untuk berbagi dan menjadikan harta sebagai sarana pelayanan. Kedua, possessive security atau ilusi keamanan, yakni keyakinan salah bahwa kepemilikan materi dapat menjamin hidup, mengabaikan ketergantungan pada Allah. Selain itu. Bock menekankan property as own atau penolakan kedaulatan Allah, yaitu pandangan bahwa harta sepenuhnya milik diri sendiri tanpa memperhitungkan otoritas dan tujuan ilahi. Keempat, personal gain atau akumulasi demi kemuliaan diri sendiri, memperlihatkan motif egoistik yang menempatkan kepentingan pribadi di atas kesejahteraan orang lain dan kehendak Allah. Bersama-sama, keempat aspek ini menyoroti bahaya akumulasi egoistik dan membingkai ajaran Yesus mengenai kekayaan teosentris yang bertahan hingga penghakiman Kemiskinan dalam roh (Mat. adalah tindakan "pengosongan" dari akumulasi egoistik, sementara menjadi kaya terhadap Allah (Luk. adalah tindakan "pengisian" melalui relasi teosentris. Alkitab mendukung pernyataan bahwa seharusnya manusia itu "kaya terhadap Allah," namun kekayaan ini hanya dapat diterima oleh mereka yang mengakui kebang- Steven R. Johnson. Seeking the Imperishable Treasure: Wealth. Wisdom, and a Jesus Saying (Eugene. OR: Cascade Books, 2. , 48. 35 Adewale. AuNarratological Reading of Poverty-Related Parables (Lk 12:13Ae21. 14:15Ae24. 16:19Ae. Ay 36 Nikita Aleksandrovich Valianov. AuReconstruction of the Gospel Narrative in O. PavlovAos Short Story AoEnd of the CenturyAo . owards the Motivic Structure of the Narrativ. ,Ay Philology. Theory & Practice 18, no. 37 Darrell L. Bock. Luke: 9:51Ae24:53. Baker Exegetical Commentary on the New Testament (Baker Academic, 1. , iv. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 910 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 krutan batinnya . iskin dalam ro. Tanpa "kemiskinan roh," manusia akan terus menimbun bagi dirinya sendiri. Implikasi Praktis Reevaluasi Terjemahan Matius 5:3 bagi Konteks Gereja di Indonesia Pada bagian ini menyentuh implikasi praktis reevaluasi ini bagi konteks gereja di Indonesia sebagai kritik terhadap deviasi teologis modern, khususnya teologi kemakmuran dan spiritualitas individualistik. Tafsir Aumiskin dalam rohAy secara radikal menantang sesat pikir teologi kemakmuran . rosperity theolog. , yang sering menyamakan berkat ilahi dengan keberhasilan 38 Jika pintu masuk kerajaan Allah adalah kebangkrutan batin, maka kesuksesan finansial atau status ekonomi bukanlah indikator perkenanan ilahi. Kekayaan materi justru berpotensi mematikan ketergantungan manusia kepada Allah, karena menciptakan ilusi kemandirian dan menggeser fokus dari relasi eksistensial dengan Sang Pemberi Berkat. Pentingnya pemahaman yang akurat mengenai kemiskinan spiritual juga ditekankan oleh Kii dan Kusnandar, yang mencatat bahwa kekeliruan dalam menafsirkan kemiskinan sering kali berujung pada kekecewaan dan keraguan jemaat terhadap Allah. Oleh karena itu, mendefinisikan 'miskin di hadapan Allah' sebagai sikap ketergantungan total kepada Allah menjadi krusial agar orang percaya tidak terombang-ambing oleh situasi ekonomi semata. Selain itu, konsep Aumiskin dalam rohAy juga mengoreksi meritokrasi religius, yakni keyakinan bahwa keselamatan atau keberkatan dapat diperoleh melalui prestasi spiritual atau kesalehan lahiriah . ious outward religiousnes. Menjadi miskin dalam roh berarti mengakui ketiadaan aset moral atau rohani sendiri. manusia adalah pengemis yang sepenuhnya bergantung pada anugerah Allah . ola grati. Dalam perspektif ini. Kerajaan Allah tidak diperoleh melalui pencapaian diri, tetapi diterima sebagai hadiah ilahi yang hanya dapat dimasuki melalui sikap ketergantungan total dan rendah hati. Reevaluasi hermeneutis terhadap frasa Aumiskin dalam rohAy dalam konteks terjemahan LAI menekankan pentingnya akurasi teologis dalam menafsirkan teks Injil, terutama untuk mencegah spiritualitas yang individualistik dan solipsistik. Pengakuan akan kemiskinan roh di hadapan Allah harus diterjemahkan menjadi orientasi praktis yang mendorong solidaritas dengan mereka yang miskin secara struktural, baik secara material maupun sosial. 41 Menjadi Aumiskin dalam rohAy dapat mencakup pengalaman ketidaksanggupan yang holistik. Tafsir yang akurat menegaskan bahwa kemiskinan ini bukan sekadar fenomena moral atau persoalan individu. Sebaliknya, hal itu merupakan realitas eksistensial yang menuntut respons iman yang konkret dan berorientasi pada solidaritas. Jembatan antara perdebatan dimensi material dan spiritual, kajian terbaru menunjukkan bahwa kemiripan antara Yakobus 2:5 dan Matius 5:3 mencerminkan adanya tradisi lisan yang stabil dalam komunitas Kristen awal mengenai status istimewa orang miskin. 42 Temuan ini memperkuat tesis bahwa konsep kemiskinan dalam Injil Matius bukanlah sekadar inovasi re- Lorena M. Parrish. We Have Plenty: A Womanist Theology for the Black Church (Fortress Press. , 2. , 260. Gibbs. Matthew 1:1Ae11:1. 40 Frederika Ina Kii and Yotam Teddy Kusnandar, "Kajian Teologis Istilah Miskin Di Hadapan Allah Menurut Matius 5: 3 dan Aplikasinya bagi Orang Percaya," Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani 1, no. : 62-74. 41 David J. Anslow. , & Neville. Fulfilling the Law and the Prophets: The Prophetic Vocation of Jesus in the Gospel of Matthew. (Pickwick Publications. , 2. , 162. 42 Chris Armitage. AuJesus Remembered in James: James 2:5 and Matthew 5:3/Luke 6:20b as a Test Case of Social Memory in James,Ay Australian Biblical Review 69 . : 81-99. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 911 R. Rimun. Dialektika ontologis Aumiskin dalam rohAyA daksional sepihak, melainkan bagian integral dari identitas kolektif komunitas murid Yesus yang dipelihara melalui ingatan sosial. Dalam perspektif teologi Amerika Latin. Buttelli mengingatkan bahwa pemisahan yang kaku antara dimensi spiritual dan material dalam memahami kemiskinan dapat terjebak dalam logika neoliberal yang melumpuhkan perjuangan keadilan sosial. Sebaliknya, konsep 'miskin dalam roh' harus dipandang sebagai fondasi bagi model hubungan ekonomi dan politik yang berkeadilan, di mana ketaatan kepada Kristus diwujudkan seperti melalui transformasi relasi kekuasaan dan pemberdayaan masyarakat di Hemisfer Selatan. 43 Meskipun teologi Amerika Latin secara tepat menolak pemisahan kaku antara dimensi spiritual dan material, kemiskinan tidak boleh direduksi atau dipaksakan semata-mata ke dalam kerangka sosial-politik tertentu. Prinsip Alkitabiah harus tetap menjadi norma utama, di mana keadilan sosial dipahami sebagai buah dari orientasi hidup yang benar kepada Allah, bukan sebagai fondasi teologi itu sendiri. Gereja memegang peran sentral dalam mewujudkan keadilan ekonomi melalui reorientasi fungsinya sebagai instrumen berkat bagi kelompok marginal. Hal ini menuntut adanya transisi radikal dari prinsip ekonomi sekuler menuju nilai-nilai Kerajaan Allah yang berlandaskan pada kasih dan kepedulian sosial. Konteks gereja di Indonesia, pemahaman ini menantang deviasi teologis modern, seperti teologi kemakmuran, yang sering memisahkan keberkatan dari relasi sosial dan ketergantungan pada Allah. Gereja dipanggil untuk tidak memandang kemiskinan sekadar sebagai AunasibAy atau Augangguan sistem. Ay Sebaliknya, kemiskinan harus dilihat sebagai isu struktural yang memerlukan jawaban melalui kekayaan yang berorientasi kepada Allah untuk menegakkan keadilan dan menguatkan mereka yang termarjinalkan. 45 Kaum yang memiliki privilese dalam gereja dituntut berinteraksi dengan kaum miskin dengan kerendahan hati, mendengarkan pengalaman mereka secara langsung, dan mengakui keberadaan serta kepemimpinan mereka dalam komunitas iman. Lebih jauh, gereja harus memosisikan dirinya sebagai tanda dan perwujudan historis kerajaan Allah, yakni komunitas yang mengakui kehampaan dan ketergantungannya pada Allah. Dalam kondisi ini, gereja dipenuhi oleh kekayaan anugerah-Nya yang mengalir keluar melalui tindakan keadilan dan pemberdayaan. Pemberdayaan ini mencakup memberikan ruang bagi suara marjinal, menghargai wawasan kepemimpinan mereka, dan menolak memandang mereka sebagai AuotherAy dalam relasi sosial. 47 Dengan demikian, reevaluasi hermeneutis terhadap Aumiskin dalam rohAy bukan hanya memperbaiki ketepatan teologis terjemahan LAI, tetapi juga menegaskan panggilan praktis gereja di Indonesia untuk hidup dalam solidaritas, kerendahan hati, dan keadilan yang aktif. Perjalanan menuju salib menegaskan bahwa kemiskinan spiritual manusia mengungkapkan inadekuasi eksistensial secara penuh, sekaligus membuka ruang bagi anugerah Allah 43 Felipe Gustavo Koch Buttelli. AuAoPoor in SpiritAo: Economy in the Gospel of Matthew,Ay REFLEXUS: Revista Semestral de Teologia e Ciyncias das ReligiyAes 9, no. : 131Ae149. 44 Yushak Soesilo. AuMewujudkan Keadilan Ekonomi Melalui Perpuluhan di Era Revolusi Industri 4. 0,Ay PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 17, no. : 107Ae120. 45 Alexandre A Martins. AuAn Interdisciplinary Theological Method from the Knowledge of the Forgotten,Ay Journal of Moral Theology 12, no. SI 1 . : 42Ae61. 46 Simon. Auw Tammy Yulianto, and Daniel Ronda. AuPotret Solidaritas Yesus Bagi Kaum Miskin Dan Relevansinya Bagi Rohaniawan,Ay Manna Rafflesia 9, no. : 234Ae247. 47 Rob A. Fringer and Dean G Smith. A Plain Account of Christian Faithfulness: Essays in Honor of David B. McEwan (Wipf and Stock Publishers, 2. , 59. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 912 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 yang transformatif. 48 Dalam konteks ini, salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi menjadi titik perjumpaan di mana manusia yang miskin dalam roh dipeluk dan diampuni, menghadirkan pengalaman keselamatan yang mengubah hidup. Di salib, orang berdosa yang miskin dalam roh tidak hanya diterima sebagai pelayan, tetapi disambut sebagai sahabat Allah, menandai partisipasi manusia dalam kekayaan sejati yang bersumber dari kasih dan anugerah-Nya. 49 Kekayaan ini bersifat rehumanisasi, yakni mengembalikan martabat . ignitas huma-n. dan nilai eksistensial manusia melalui partisipasi penuh di dalam Kristus. Dengan demi-kian, perjalanan iman tidak berhenti pada kesadaran akan kekurangan diri . onscientia inopia. , tetapi diarahkan menuju pemulihan . dan kehidupan yang transformatif. Keseluruhan pengalaman ini menegaskan prinsip teologis gratia regenerans, yaitu anugerah yang memulihkan dan membentuk ulang eksistensi manusia dalam persatuan dengan Allah. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa terminologi Aumiskin dalam rohAy memiliki supremasi filologis yang lebih unggul dibandingkan terjemahan "di hadapan Allah" karena secara presisi menghormati fungsi dativus of respect yang menunjuk pada lokus introspektif batiniah manusia. Didukung oleh integritas sintaksis makro dalam Matius pasal 5, yang meliputi penggunaan klausa partisipial, subordinat kausatif, dan bingkai dialogis, teks ini menegaskan koherensi teologis khotbah di Bukit. Struktur tersebut memperlihatkan bahwa kebahagiaan sejati berakar pada kerendahan hati spiritual batiniah. Sikap ini menjadi prasyarat fundamental bagi moralitas kerajaan Allah dan transformasi karakter murid yang ideal. Secara teologis, konsep Aumiskin dalam rohAy membangun sebuah dialektika eksistensial yang krusial, di mana tindakan pengosongan diri . menjadi syarat mutlak bagi manusia agar mampu menjadi Aukaya terhadap AllahAy . loutsn eis theo. Melalui studi komparatif dengan Lukas 12:21, terlihat bahwa pengakuan akan kebangkrutan batin merupakan antitesis radikal terhadap akumulasi harta yang egoistik, sehingga memungkinkan setiap pribadi untuk melepaskan ilusi kemandirian diri dan menemukan kekayaan sejati hanya di dalam Allah. Tafsiran ini memberikan daya korektif yang kuat terhadap fenomena teologi kemakmuran dan meritokrasi religius di Indonesia dengan menetapkan bahwa berkat sejati bersumber dari anugerah Allah semata. Oleh karena itu, terminologi Aumiskin dalam rohAy harus diprioritaskan sebagai standar akurasi akademik dan doktrinal yang menuntut setiap warga kerajaan untuk hidup dalam orientasi teosentris, yang secara tak terelakkan akan mewujud dalam solidaritas sosial serta perjuangan keadilan bagi sesama manusia. Referensi