Fajar Historia Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan https://e-journal. id/index. php/fhs/index ISSN: 2549-5585 . Vol. 8 No. 1 2024, hal 160-172 Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural LR Retno Susanti,1* Husnul Fatihah,1 Mariyani,1 Mailiza Hidayanti,1 Tia Oktarina1 Universitas Sriwijaya. retno_susanti@fkip. Korespondensi Dikirim: 30-10-2023. Direvisi: 16-05-2024. Diterima: 16-05-2024. Diterbitkan: 17-05-2024 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keberadaan dan perkembangan agama Hindu-Budha di Kedatuan Sriwijaya mempengaruhi struktur sosial, budaya dan nilai-nilai masyarakat pada saat itu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur, pengumpulan data lapangan, analisis arkeologi, dan wawancara dengan pakar sejarah dan budaya. Kehidupan keagamaan pada Kerajaan Sriwijaya yang didirikan sekitar abad ke-7 hingga ke-14 M didominasi oleh agama Hindu dan Budha. Pada periode tersebut, kedua agama ini berperan penting dalam membentuk budaya, masyarakat, dan politik Sriwijaya. Sosial budaya yang menjadi awal mula Integrasi Budaya Warisan HinduBuddha mencerminkan solidnya integrasi budaya antara agama-agama tersebut dengan budaya lokal di Kedatuan Sriwijaya. Kerukunan Umat Beragama: peninggalan ini menunjukkan adanya kerukunan antar pemeluk agama tersebut dalam masyarakat Sriwijaya. Ekspansi Keagamaan: pada bagian ini, kerajaan Sriwijaya berperan penting dalam menyebarkan agama Buddha di Asia Tenggara. Pusat Pendidikan Biksu dan Brahmana yang berkunjung ke Sriwijaya membawa ilmu agama dan budaya serta mempengaruhi pendidikan Ekonomi dan Perdagangan dimulai dengan strategi Sriwijaya dalam mengembangkan sektor perdagangan dengan membangun armada kapal yang besar dan menguasai pelabuhan perdagangan yang kuat. Kemudian, peninggalan seni, peninggalan seni dan arsitektur HinduBuddha di Sriwijaya mencerminkan pengaruh budaya dan keyakinan agama yang Kata Kunci: Hindu-Buddha. Kedatuan Sriwijaya. sosio-kultural Abstract: This research aims to discover how the existence and development of the HinduBuddhist religion in Kedatuan Sriwijaya influenced society's social structure, culture and values at that time. The methods used in this research are literature study, field data collection, archaeological analysis, and interviews with historical and cultural experts. Religious life in the Srivijaya Kingdom, founded around the 7th to 14th centuries AD, was dominated by Hinduism and Buddhism. In that period, these two religions played an important role in shaping the culture, society, and politics of Sriwijaya. Socio-cultural, the start of the Cultural Integration of Hindu-Buddhist Heritage, reflects the solid cultural integration between these religions and local culture in Kedatuan Sriwijaya. Religious Harmony: this relic shows the existence of harmony between followers of these religions in Sriwijaya society. Religious Expansion: in this section, the Srivijaya chiefdom was essential in spreading Buddhism in Southeast Asia. Education Center Monks and Brahmins who visited Sriwijaya brought religious and cultural knowledge and influenced religious education. Economy and Trade started with Sriwijaya's strategy of developing the trade sector by building a substantial fleet of ships and controlling robust trading ports. Then, the artistic heritage. Hindu-Buddhist artistic and architectural heritage in Sriwijaya reflects the influence of the culture and religious beliefs that inspired it. DOI: https://doi. org/10. 29408/fhs. Page 160 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural Keywords: heritage. Hindu-Buddhist. social culture. Sriwijaya Sultanate This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. Pendahuluan Sriwijaya merupakan nama dari sebuah kerajaan yang dikenal sebagai maritim. Hal ini karena wilayah kekuasaannya disebut-sebut menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional pada selat Malaka. Selat Sunda dan Laut Jawa. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan bahari yang pernah berdiri di Nusantara. Satu hal yang menarik adalah bahwa kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan tertua dan terbesar yang pernah hadir secara politis di Nusantara, namun kerajaan ini juga merupakan kerajaan termuda jika dikaitkan dengan penemuannya apabila dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di pulau Jawa (Rachmad, 2. Sriwijaya merupakan titik pertemuan antara jalan internasional dengan jalan pelayaran perniagaan antara Nusantara dan Asia Tenggara (Safitri, 2. Sejak akhir abad ke-7 M Sriwijaya telah secara intensif mengendalikan perdagangan di wilayah ini. Kedatuan Sriwijaya memiliki stategi ekonomi yang sangat baik, dengan cara menjadikan Palembang sebagai pusat kekuasaan juga berfungsi sebagai bandar dagang utama (Ardiwidjaya. Utomo, & Rangkuti, 2. Menurut Hamid, pada pertengahan abad ke-7 masehi, terdapat dua pusat perdagangan di pantai Tenggara Sumatera yaitu Palembang dan Jambi. Bandar Srwiijaya tempat bertemunya para pedagang dari daerah pedalaman membawa dagangan mereka dengan memakai jalur anak-anak sungai Musi bertemu dengan kapal-kapal dari negeri jauh . apal asin. yang berlabuh di sana. Palembang menjadi bandar yang ramai terkenal sampai ke negeri India. Arab dan China (Sholeh, 2. Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu Kemaharajaan maritim yang kuat di Pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja. Thailand. Semenanjung Malaka. Sumatera. Jawa. Kalimantan, dan Sulawesi (Pradani, 2. Kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-7 hingga ke-14 Masehi dan telah meninggalkan banyak peninggalan keagamaan Hindu-Buddha yang kini menjadi bagian bersejarah dan budaya Indonesia. Beberapa peninggalan keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya yaitu Candi Muara Takus. Candi Muara Takus adalah salah satu peninggalan keagamaan Buddha terkenal di Kedatuan Sriwijaya. Candi ini terletak di Kabupaten Kampar. Riau. Sumatera. Candi ini merupakan kompleks candi Buddha yang terdiri dari beberapa stupa dan bangunan suci lainnya. Candi ini mencerminkan pengaruh agama Buddha di wilayah tersebut. Kemudian ada Candi Biaro Bahal: Candi Biaro Bahal terletak di Kabupaten Padang Lawas. Sumatera Utara, dan juga merupakan situs keagamaan Buddha. Candi ini dikenal dengan arsitektur candi khas Budha, termasuk stupa-stupa dan reliefrelief yang menggambarkan ajaran Buddha. Selanjutnya yaitu Prasasti Karang Brahi. Prasastiprasasti batu adalah sumber bersejarah penting yang memberikan informasi tentang kehidupan dan agama di Kedatuan Sriwijaya. Prasasti Karang Brahi adalah salah satu prasasti Page 161 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural yang mencatat dukungan raja-raja Sriwijaya terhadap ajaran Buddha. Disisi lain ada juga peninggalan berpa Prasasti Telaga Batu. Prasasti Telaga Batu adalah prasasti yang mengungkapkan pengaruh kuat agama Hindu dan Buddha di Kedatuan Sriwijaya. Prasasti ini berisi ajaran moral dan etika yang diharapkan diikuti oleh rakyat pada saat itu. Selanjutnya ada Arca-arca. Arca-arca Buddha dan Hindu ditemukan di berbagai lokasi di wilayah bekas Kedatuan Sriwijaya. Arca-arca ini mencerminkan pengaruh budaya dan agama yang ada pada masa itu. Peninggalan-peninggalan ini adalah bukti sejarah kuat tentang pengaruh agama Hindu dan Buddha di wilayah Kedatuan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya memainkan peran penting dalam penyebaran agama Buddha di wilayah Asia Tenggara, dan peninggalan-peninggalan ini adalah warisan berharga yang menjadi bagian dari sejarah dan budaya Indonesia. Dari peninggalan keagamaa Hindu-Budha pada masa Kedatuan Sriwijaya akan lebih menarik jika ditinjau dengan perspektif Sosio-Kultural. Peninggalan keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya memiliki makna yang dalam dari perspektif sosio-kultural. Mereka mencerminkan bagaimana agama-agama ini memengaruhi dan membentuk budaya dan masyarakat di wilayah ini selama berabad-abad. Penelitian mengenai kerajaan Sriwijaya telah banyak dilakukan, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Rezeki . yang berjudul AuPembangunan Pada Masa Kedatukan SriwijayaAy. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Siregar . yang berjudul AuPersebaran Situs-Situs Hindu-Buddha dan Jalur Perdagangan di Daerah Sumatera Selatan (Indikasi Jejak-Jejak Perdagangan di Daerah Aliran Sungai Mus. Ay. Selain itu penelitian dari Wicahyah, et al. yang berjudul AyThe Relationship between Buddhist education in Sriwijaya and Buddhist education in IndiaAy. Berdasarkan penelitian penelitian diatas maka telah banyak melakukan riset mengenai kerajaan sriwijaya dari berbagai sisi dan kajiannya, sehingga penulis memiliki ketertarikan melakukan riset kerajaan Sriwijaya dari Perspektif sosio-kultural. Penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya, dimana penelitian ini akan melakukan tinjauan menganalisis peninggalan seperti candi, prasasti, seni, dan artefak lainnya yang berasal dari era ini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan perkembangan agama Hindu-Budha di Kedatuan Sriwijaya mempengaruhi struktur sosial, budaya dan nilai-nilai masyarakat pada saat itu. Perspektif sosio-kultural digunakan untuk memahami bagaimana keberadaan dan perkembangan agama Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya memengaruhi struktur sosial, budaya, dan nilai-nilai masyarakat pada masa itu. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa studi pustaka, pengumpulan data lapangan (Gunawan, 2. Metode pada artikel ini menggunakan metode dengan pengumpulan data dengan cara memahami dan mempelajari teori-teori dari berbagai literatur yang berhubungan dengan penelitian tersebut. Ada Empat tahap studi pustaka dalam Page 162 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural penelitian yaitu menyiapkan perlengkapan alat yang diperlukan, menyiapkan bibliografi kerja, mengorganisasikan waktu dan membaca atau mencatat bahan penelitian (Zed,2. Pengumpulan data tersebut menggunakan cara mencari sumber dan menkontruksi dari berbagai sumber riset-riset yang sudah pernah dilakukan yaitu dari penelitian Rezeki . Siregar . , dan Wicahyah, et al. Hasil penelitian diharapkan akan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana agama Hindu-Buddha membentuk dan memengaruhi struktur sosial dan budaya di masa lalu, serta relevansinya dalam konteks sejarah dan budaya Indonesia. Hasil Penelitian Kedatuan Sriwijaya terletak di wilayah Palembang, merupakan salah satu kerajaan maritim di Nusantara. Artinya ekonomi kedatuan Sriwijaya berpusat pada perdagangan, sehingga adanya interaksi antara Sriwijaya dan para pedagang, salah satunya pedagang yang beragama Hindu. Letak kedatuan Sriwijaya juga sangat strategis dekat dengan sungai Musi yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan antar wilayah, sehingga membuat kerajaan Sriwijaya menjadi Bandar Dagang pada masa itu (Budisantoso, 2. Kehidupan beragama di Kerajaan Sriwijaya, yang berdiri sekitar abad ke-7 hingga ke14 Masehi, didominasi oleh agama Hindu dan Buddha. Berikut adalah beberapa aspek kehidupan beragama di Kerajaan Sriwijaya pertama yaitu adanya Ajaran dan Praktik Agama Hindu-Buddha dimana Penduduk di Kerajaan Sriwijaya mengamalkan ajaran agama Hindu dan Buddha. Mereka mengikuti ritual-ritual keagamaan, menghormati dewa-dewa Hindu dan Buddha, serta mengikuti ajaran moral dan etika yang diajarkan oleh agama-agama ini. Kemudian peninggalan berupa Candi dan Stupa, yang mana Sriwijaya memiliki sejumlah candi Hindu dan stupa Buddha yang menjadi tempat ibadah dan meditasi. Contohnya adalah Candi Muara Takus dan Candi Biaro Bahal, yang digunakan untuk upacara keagamaan dan sebagai tempat pemujaan. Kemudian tidak juga lupa dengan peranan Raja dalam Agama, dikarenakan bahwa peranan Raja di Kerajaan Sriwijaya dianggap sebagai pelindung agama. Mereka memainkan peran penting dalam memelihara dan mempromosikan agama Hindu dan Buddha. Prasasti-prasasti batu sering kali mencatat dukungan raja-raja terhadap agama-agama Tonggak kehidupan budaya masyakarat Sriwijaya yang sangat dibanggakan adalah pada saat Sriwijaya menjadi pusat pengajaran ajaran Buddha di Asia Tenggara (Putra, 2. Para pendeta yang berasal dari wilayah sebelah timur Sriwijaya, seperti Cina dan Tibet banyak yang menetap di Sriwijay. Tujuan mereka adalah belajar ajaran Buddha sebelum mereka belajar di tanah asal lahirnya ajaran itu (Indi. Pada tahun 1011Ae 1023, datang seorang pendeta Buddha dari Tibet untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama Buddha di Sriwijaya. Pendeta itu bernama Atisa dan menerima bimbingan langsung dari guru besaragama Buddha di Sriwijaya, yaitu Dharmakitri. Disisi lain mengenai adanya pemberitaan bahwa pada tahun 1006. Raja Sriwijaya. Sanggram Wijayatunggawarman mendirikan sebuah wihara di India Selatan, yaitu di Nagipattana (Nurrohim, 2. Wihara ini dilengkapi dengan asrama yang dikhususkan bagi tempat tinggal para biksu yang berasal dari Sriwijaya yang tengah Page 163 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural memperdalam ajaran Buddha di India. Secara budaya, hal ini jelas menunjukkan bahwa rajaraja Sriwijaya memiliki perhatian yang besar pada sektor pendidikan, khususnya mengenai Pendidikan pengajaran agama Buddha, walaupun Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai pusat agama Buddha, tidak banyak peninggalan purbakala seperti candi-candi atau arca-arca sebaga tanda kebesaran Kerajaan Sriwijaya dalam bidang kebudayaan. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang menganut agama Buddha. Hal tersebut dapat diketahui dari buktibukti tertulis yang ditemukan seperti dalam prasasti. Walalupun data yang didapatkan sampai saat ini sangat sedikit dan tidak lengkap benar. Bagian yang diungkapkan adalah bagian yang penting saja, misalnya jasa seorang raja dalam dharma-nya. Prasasti Sriwijaya pertama yang mengandung dan menggambarkan kehidupan keagamaan adalah Prasasti Kedukan Bukit. Berdasarkan hasil transkripsi oleh Coedes dan Damais . pada baris pertama sampai ketiga disebutkan bahwa. Auswasti ur uakawaiAtta 605 ekAdau uu klapaka wulan waiuAkha dapunta hiyang nAyik li sAmwau maEgalap siddhayAtra di saptam uuklapakaAy yang terjemahannya kira-kira berarti: mudah-mudahan di sini tenteram dan makmur, pada 604 saka yang telah lewat, tanggal sebelas paro terang bulan waisakha Dapunta Hyang naik sebuah perahu untuk mangalap siddhayatra (Utomo, 1. Kata siddhayatra dapat diartikan sebagai ziarah dalam bulan waisak di bangunan suci Budhis (Dinas Pendidikan Nasional Museum Negeri Sumatera Selatan, 2. Berdasarkan isi dan maksud kalimat hasil transkripsi G. Coedes dan Damais . di atas, jelas bahwa pada tanggal 11 bulan waisakha Dapunta Hyang berangkat menuju sebuah kuil Buddha untuk merayakan hari suci umat Buddha sembari memohon restu untuk keselamatan ekspedisi yang akan dilakukannya. Sebagai seorang penganut agama Buddha tentunya Dapunta Hyang melakukan upacara keagamaan terlebih dahulu sebelum melaksanakan dharma-nya sebagai seorang ksatria. Prasasti lainnya yang menjelaskan mengenai kehidupan keagamaan di Kerajaan Sriwijaya tersiratkan pada Prasasti Talang Tuo. Prasasti Talang Tuo merupakan prasasti yang ditemukan di daerah Talang Tuo, di sebelah barat kota Palembang sekarang, oleh Residen Westenenk pada tahun 1920. Prasasti Talang Tuo berangka tahun 23 Maret 684 Masehi. Isi Prasasti Talang Tuo antara lain mengenai pembuatan taman Sriksetra atas perintah Dapunta Hyang Sri Jayanasa, untuk kemakmuran semua makhluk. Di samping itu ada juga doa dan harapan yang jelas menunjukkan sifat agama Buddha (Utomo, 1. Pendapat tersebut diperjelas lagi bahwa Prasasti Talang Tuwo menguraikan ajaran-ajaran agama Buddha Mahayana (Dinas Pendidikan Nasional Museum Negeri Sumatera Selatan, 2. Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan maritim, tidak banyak peningalan berupa candi dari kerajaan sriwijaya yang dapat ditemukan. Pada sektor ekonomi membangun perekonomian kerajaannya hingga menjadi kerajaan besar di Nusantara berasal dari sektor Strategi Sriwijaya dalam membangun sektor perdagangan tersebut yaitu dengan membangun armada kapal laut yang kuat dan menguasai pelabuhan-pelabuhan dagang yang Adapun penggunaan kapal laut/ perahu sendiri sudah tertuliskan di dalam Prasasti Kedukan Bukit bahwa Dapunta Hyang berangkat dari Minanga ke Mukha Upang dengan menggunakan perahu. Dan adapun mengenai penguasaan daerah pelabuhan dagang yang vital dijelaskan dalam Prasasti Karang Brahi secara tersirat yaitu penaklukkan daerah Jambi Page 164 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural (Melay. Wilayah Jambi merupakan wilayah yang sangat penting untuk dikuasai oleh Sriwijaya mengingat Jambi harus dikuasai sebagai batu loncatan untuk menguasai jalur pelayaran dan perdagangan di wilayah Selat Malaka. Bukti penaklukan Jambi (Melay. menjadi wilayah Sriwijaya adalah pernyataan I-tsing ketika pulang dari India (Naland. tahun 685 Masehi yang menyatakan bahwa Jambi atau Melayu sudah menjadi bagian dari Sriwijaya (Muljana, 2. Penaklukkan wilayah Jambi tersebut merupakan penaklukkan yang sangat penting bagi Sriwijaya untuk menguasai perekonomian maritim Nusantara denagn berkebangnya sekotor dagang, dimana ditiap tiap pesisir berkembangnya Bandar Bandar dagang dijumpai oleh berbagai negara untuk melakukan jual beli bahan pokok seperti kapur barus, kayu cendana sehingga deengan menjadikan Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat Sriwijaya diakui sebagai kerajaan maritim terbesar di nusantara (Taim, 2. Rachmad, 2019. Nurrohim, 2. , dengan banyaknya pedagang asing dari Arab. India, dan Tiongkok yang singgah melalui (Rahim, 2. Sriwijaya juga demikian dikenal sebagai salah satu lokasi terpenting di Asia Tenggara untuk mempelajari dan mengajar agama Buddha Sansekerta. Hasil, banyak biksu dari luar Sriwijaya yang berkunjung, dan tak terbayangkan kalau ke sana adalah organisasi kemasyarakatan selain agama Budha yang ada di pusat Sriwijaya, seperti Islam. Hindu, dan agama lokal lainnya. Prasasti, arca, peninggalan candi Bumiayu, berita luar negeri (Cina dan Ara. , dan data arkeologi dengan banyak bukti terkini digunakan sebagai referensi kajian kehidupan beragama di Riwijaya. Isi prasasti Talang Tuo mengungkap keberadaan Mahayana agama Buddha. Selain itu beliau juga menjelaskan cara membuat taman yang menampilkan doa dan harapan bagi masyarakat keselamatan semua Prasasti Sriwijaya lain yang menjelaskan mengenai kehidupan perekonomian tertulis di dalam Prasasti Talang Tuwo yang menyebutkan tentang pembangunan taman Sriksetra yang di dalamnya terdapat berbagai macam tumbuhan yang dimanfaatkan untuk kehidupan ekonomi pribadi Sriwijaya dan juga pembangunan telaga, bendungan, kolam, dan kebun yang dapat meningkatkan kemakmuran taraf ekonomi masyarakat Sriwijaya. Hal tersebut didukung oleh pendapat bahwa pembangunan taman ini disertai dengan harapan semoga taman dan tanamannya bermanfaat bagi semua makhluk dan semoga seluruh masyarakat diberikan kemakmuran (Dinas Pendidikan Nasional Museum Negeri Sumatera Selatan, 2. Didalam Prasasti Talang Tuwo juga disebutkan tanaman yang ditanam yaitu seperti pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon lainnya. Hasil tanaman tersebut diperkirakan tidak hanya dimanfaatkan di dalam kerajaan Sriwijaya melainkan juga menjadi komoditi dagang salah satunya yaitu pinang. Hal ini sesuai dengan berita Cina dan berita Arab yang menjelaskan komoditas yang diperdagangkan oleh Sriwijaya yaitu pinang, cengkeh, kapulaga, lada, kayu gaharu, kayu sapan, rempah-rempah, penyu, emas, dan perak (Suryanegara, 2. Kegiatan keagamaan di kawasan Kedatuan Sriwijaya tidak hanya terbatas pada Mahayana saja agama Buddha. agama-agama lain mempunyai kemungkinan untuk berkembang juga. Di Kecamatan Kedatuan Riwijaya, bukti arkeologi berupa patung batu yang menggambarkan agama Hindu dan Tantris juga ada telah ditemukan. Di Palembang Page 165 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural terdapat arca Hindu berbentuk Ganea . bad ke-9 M) dan berhala Siwa ditemukan di samping patung Buddha. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat komunitas Hindu di sana bersama komunitas Budha di kota Riwijaya. Data ini menunjukkan bahwa ada agama keharmonisan antara masyarakat mayoritas beragama Buddha dan masyarakat minoritas Hindu (Izza, 2019. Kaswati. Hapsari, & Amalina, 2. Candi Bumiayu juga terdapat sisa-sisa arca bermotif Hindu yang menambah kekokohan keberagaman Sriwijaya pada toleransi beragama. Islam masuk ke Sumatera Selatan pada abad ke-7 Masehi, dibawa langsung dari Arab oleh para pedagang muslim. Berita Arab memberitakan bahwa raja Sriwijaya diutus seorang duta besar untuk Khalifah Bani Umayyah Umar ibn 'Abd Al-Aziz. Isi surat itu menekankan hal tersebut pemberian hadiah dari Sriwijaya sebagai simbol persahabatan, serta permintaan pengiriman amubaleq dari Dinasti Bani Umayyah untuk menjabat sebagai salah satu penasihat raja. Bukan hanya agama Buddha, tapi hidup bersama secara damai, menjaga toleransi dengan agama lain seperti Islam. Hindu, dan Agama Buddha (Sumarto, 2. , sedang dikembangkan dan dibina di jantung kerajaan Sriwijaya (Utami, et al. , 2018. Widiya, et al. , 2. Isi surat menekankan pemberian hadiah dari Sriwijaya sebagai simbol persahabatan, serta meminta seorang mubaleq dari Dinasti Bani Umayyah untuk diutus sebagai salah satu penasehat raja di Sriwijaya. Bukan hanya agama Buddha, tapi hidup bersama secara damai, menjaga toleransi dengan agama lain seperti Islam. Agama Hindu, dan Budha, sedang dikembangkan dan dibina di jantung kerajaan Sriwijaya (Vebrian & Hartono, 2016. (Yenrizal. Apriana & Heryati, 2. Sriwijaya telah lama memiliki hubungan pelayaran dagang dengan pedagang Muslim (Ara. (Berkah, 2017. Wandiyo. Suryani, & Sholeh, 2. Orang Cina mengucapkan bahasa Arab nama Ta-shih atau Ta-shih K'uo, yang juga dikenal sebagai Arab. Koneksi persahabatan dan perdagangan menyertai hubungan pelayaran dan perdagangan bangsa Arab dengan Sriwijaya. Dakwah Islam sejak dini raja-raja kerajaan Sriwijaya (Kan-to-l. dan mendapat sambutan baik. Berdasarkan raja Kan-to-li, salah satu alasannya adalah karena Islam merupakan ajaran monoteistik yangmirip dengan pandangan bangsawan Kan-to-li. Ajaran Braham bersifat monoteistik kepercayaan pada Kan-to-li . jaran monoteisme nabi Ibrahi. Terdapat salah satu candi yang bercorak Budha dengan struktur candi berbentuk sebuah stupa dalam kondisi utuh yang sudah dikenal sebagai situs budaya Sriwijaya bercorak Hindu. Dalam agama Buddha (Suswandari, et al. , 2021. , stupa adalah suatu benda atau bangunan Hubungan baik dengan raja-raja Hindu tetap terjaga tidak hanya dengan penguasa Jawa saja, tetapi juga dengan penguasa wilayah-wilayah pendudukan Sriwijaya lainnya. Beberapa tanah bawahan Sriwijaya berada di pesisir atau sungai, sedangkan sebagian lagi berada di Daerah bawahan Sriwijaya misalnya terletak di bagian dalam dan bercorak Hindu, khususnya pada area situs Candi Bumiayu, yang terletak tidak jauh dari sungai Lematang (Budisantoso, 2006. Sholeh, 2. Monarki Sriwijaya yang menjadikan rakyatnya taat pada ajaran yang diterimanya, tidak melecehkan, mengusir, membunuh, atau melakukan hal-hal di Sriwijaya yang membuat tidak nyaman agama lain, menjadi faktor utama penyebabnya terwujudnya kehidupan yang mendukung toleransi beragama. Raja Sriwijaya adalah seorang Page 166 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural Contoh seorang penguasa yang mempunyai kebijakan untuk saling menghargai perbedaan yang ada menjalankan agamanya masing-masing (Suswandari, et al. Selanjutnya dikaji dengan analisis bahwa adanya perpustakaan dan pendidikan agama, pada kerajaan Sriwijaya memiliki perpustakaan dan pusat pendidikan agama dimana ajaranajaran agama, sastra agama, dan pengetahuan agama disimpan dan diajarkan. Para cendekiawan dan biksu mengajar ajaran agama dan filosofi kepada penduduk. Disisi lain terciptanya sikap Toleransi Agama. Kedatuan Sriwijaya dikenal karena toleransi agama. Pemeluk Hindu dan Buddha hidup berdampingan dengan relatif damai, dan budaya Sriwijaya mencerminkan integrasi antara ajaran-ajaran agama tersebut. Disisi lain yaitu pengaruh budaya dan seni Agama Hindu dan Buddha memiliki pengaruh yang kuat pada seni dan arsitektur Sriwijaya. Arca-arca, relief-relief, dan seni-seni lainnya sering menggambarkan tema-tema agama dan mitologi Hindu-Buddha. Kemudian adanya hubungan dengan Kerajaan lain. Sriwijaya menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha di wilayah Asia Tenggara dan India Selatan. Hubungan ini memfasilitasi pertukaran budaya dan agama (Utama, 2. Kehidupan beragama di Kerajaan Sriwijaya mencerminkan Hinduisme dan Buddha tidak hanya menjadi sistem kepercayaan spiritual tetapi juga memberikan dasar bagi nilainilai moral dan etika yang memandu perilaku sehari-hari dan peraturan sosial. Kehidupan beragama ini menjadi elemen integral dalam perkembangan kerajaan ini. Sosio kultural yaitu dimulainya Integrasi Budaya Peninggalan Hindu-Buddha mencerminkan integrasi budaya yang kuat antara agama-agama ini dengan budaya lokal di Kedatuan Sriwijaya. Agama Hindu dan Buddha tidak hanya membawa ajaran agama, tetapi juga nilai-nilai, ritus, dan praktik-praktik kebudayaan yang terkait. Kerukunan Agama, peninggalan ini menunjukkan adanya kerukunan antara pemeluk agama-agama tersebut dalam masyarakat Sriwijaya. Hinduisme dan Buddha ada bersama-sama, dan peninggalan keagamaan ini mencerminkan toleransi agama dan pluralisme yang ada dalam masyarakat Ekspansi Agama, pada bagian ini Kedatuan Sriwijaya berperan penting dalam penyebaran agama Buddha di wilayah Asia Tenggara. Peninggalan keagamaan seperti stupastupa dan candi-candi menggambarkan upaya untuk mempromosikan dan menjaga ajaran Buddha di wilayah tersebut. Dari kajian penliti lakukan yaitu melalui Prasasti yang menjelaskan mengenai kehidupan keagamaan di Kerajaan Sriwijaya tersiratkan pada Prasasti Talang Tuo. Prasasti Talang Tuo merupakan prasasti yang ditemukan di daerah Talang Tuo, di sebelah barat kota Palembang sekarang, oleh Residen Westenenk pada tahun 1920. Prasasti Talang Tuo berangka tahun 23 Maret 684 Masehi. Isi Prasasti Talang Tuo antara lain mengenai pembuatan taman Sriksetra atas perintah Dapunta Hyang Sri Jayanasa, untuk kemakmuran semua makhluk. Di samping itu ada juga doa dan harapan yang jelas menunjukkan sifat agama Buddha (Utomo, 1. Pendapat tersebut diperjelas lagi bahwa Prasasti Talang Tuwo menguraikan ajaran-ajaran agama Buddha Mahayana (Dinas Pendidikan Nasional Museum Negeri Sumatera Selatan, 2. Page 167 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural Kemudian Pusat Pendidikan. Sriwijaya menjadi pusat pendidikan agama Hindu dan Buddha. Para biksu dan brahmana yang berkunjung ke Sriwijaya membawa pengetahuan agama dan budaya, dan ini memengaruhi pendidikan agama di wilayah tersebut. Peneliti juga mengkritisi bahwa sebagai pusat pendidikan, yaitu Tonggak kehidupan pendidikan masyakarat Sriwijaya yang sangat dibanggakan adalah pada saat Sriwijaya menjadi pusat pengajaran ajaran Buddha di Asia Tenggara. Para pendeta yang berasal dari wilayah sebelah timur Sriwijaya, seperti Cina dan Tibet banyak yang menetap di Sriwijaya. Tujuan mereka adalah belajar ajaran Buddha sebelum mereka belajar di tanah asal lahirnya ajaran itu (Indi. Pada tahun 1011Ae1023, datang seorang pendeta Buddha dari Tibet untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama Buddha di Sriwijaya. Pendeta itu bernama Atisa dan menerima bimbingan langsung dari guru besaragama Buddha di Sriwijaya, yaitu Dharmakitri. Hal lain yang berkaitan dengan itu ialah mengenai adanya pemberitaan bahwa pada tahun 1006. Raja Sriwijaya. Sanggram Wijayatunggawarman mendirikan sebuah wihara di India Selatan, yaitu di Nagipattana. Wihara ini dilengkapi dengan asrama yang dikhususkan bagi tempat tinggal para biksu yang berasal dari Sriwijaya yang tengah memperdalam ajaran Buddha di India. Secara budaya, hal ini jelas menunjukkan bahwa rajaraja Sriwijaya memiliki perhatian yang besar pada pengembangan budaya dan pendidikan, khususnya mengenai Pendidikan pengajaran agama Buddha, walaupun Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai pusat agama Buddha, tidak banyak peninggalan purbakala seperti candicandi atau arca-arca sebaga tanda kebesaran Kerajaan Sriwijaya dalam bidang kebudayaan. Kemudian Ekonomi dan Perdagangan. Kedatuan Sriwijaya adalah pusat perdagangan yang penting, dan agama-agama ini juga memainkan peran dalam aspek ekonomi. Peneliti mengkaji dari sisi kritis bahwa Ekonomi dan Perdagangan mulai dengan strategi Sriwijaya dalam membangun sektor perdagangan tersebut yaitu dengan membangun armada kapal laut yang kuat dan menguasai pelabuhan-pelabuhan dagang yang kuat. Adapun penggunaan kapal laut/ perahu sendiri sudah tertuliskan di dalam Prasasti Kedukan Bukit bahwa Dapunta Hyang berangkat dari Minanga ke Mukha Upang dengan menggunakan perahu. Dan adapun mengenai penguasaan daerah pelabuhan dagang yang vital dijelaskan dalam Prasasti Karang Brahi secara tersirat yaitu penaklukkan daerah Jambi (Melay. Wilayah Jambi merupakan wilayah yang sangat penting untuk dikuasai oleh Sriwijaya mengingat Jambi harus dikuasai sebagai batu loncatan untuk menguasai jalur pelayaran dan perdagangan di wilayah Selat Malaka. Bukti penaklukan Jambi (Melay. menjadi wilayah Sriwijaya adalah pernyataan I-tsing ketika pulang dari India (Naland. tahun 685 Masehi yang menyatakan bahwa Jambi atau Melayu sudah menjadi bagian dari Sriwijaya (Muljana. Penaklukkan wilayah Jambi tersebut merupakan penaklukkan yang sangat penting bagi Sriwijaya untuk menguasai perekonomian maritim Nusantara dengan menjadikan Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat perniagaan. Prasasti Sriwijaya lain yang menjelaskan mengenai kehidupan perekonomian tertulis di dalam Prasasti Talang Tuwo yang menyebutkan tentang pembangunan taman Sriksetra yang di dalamnya terdapat berbagai macam tumbuhan yang dimanfaatkan untuk kehidupan ekonomi pribadi Sriwijaya dan juga pembangunan telaga, bendungan, kolam, dan kebun Page 168 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural yang dapat meningkatkan kemakmuran taraf ekonomi masyarakat Sriwijaya. Hal tersebut didukung oleh pendapat bahwa pembangunan taman ini disertai dengan harapan semoga taman dan tanamannya bermanfaat bagi semua makhluk dan semoga seluruh masyarakat diberikan kemakmuran (Dinas Pendidikan Nasional Museum Negeri Sumatera Selatan. Didalam Prasasti Talang Tuwo juga disebutkan tanaman yang ditanam yaitu seperti pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon lainnya. Hasil tanaman tersebut diperkirakan tidak hanya dimanfaatkan di dalam kerajaan Sriwijaya melainkan juga menjadi komoditi dagang salah satunya yaitu pinang. Hal ini sesuai dengan berita Cina dan berita Arab yang menjelaskan komoditas yang diperdagangkan oleh Sriwijaya yaitu pinang, cengkeh, kapulaga, lada, kayu gaharu, kayu sapan, rempah-rempah, penyu, emas, dan perak (Suryanegara, 2. Berada di antara dua pusat peradaban Asia, yakni India di barat dan Cina di sebelah Kedua pusat peradaban itu secara intensif melakukan hubungan dagang. Dengan demikian, kawasan Sriwijaya menjadi jalur sekaligus mata rantai yang menghubungkan Lambat laun, masyarakat Sriwijaya terlibat dalam hubungan tersebut. Pantaipantai yang strategis di Selat Malaka sering dijadikan tempat bongkar muat berbagai barang Oleh karena itu, tumbuhlah penguasa-penguasa setempat yang kemudian berperan sebagai pedagang. Dalam kaitan itu, hasil bumi dari tanah Sriwijaya semakin menguatkan dugaan bahwa kehidupan ekonomi masyarakat Sriwijaya bertumpu pada kegiatan pelayaran dan perdagangan. Semakin ramainya aktifitas pelayaran perdagangan di Kerajaan Sriwijaya mengakibatkan Kerajaan Sriwijaya menjadi tempat pertemuan para pedagang atau pusat perdagangan di Asia Tenggara. Bahkan para pedagang dari Kerajaan Sriwijaya juga melakukan hubungan sampai di luar wilayah Indonesia, seperti ke Cina di sebelah utara, atau Laut Merah dan Teluk Persia di sebelah barat. Itulah sebabnya. Kerajaan Sriwijaya lebih dikenal sebagai kerajaan maritim. Hindu-Buddha menciptakan etika bisnis dan nilai-nilai yang mengatur perdagangan dan hubungan sosial dalam masyarakat perdagangan tersebut. Bahasa dan Sastra, ajaran agama Hindu-Buddha, terutama ajaran Buddha, mempengaruhi perkembangan bahasa dan sastra di Kedatuan Sriwijaya. Sastra-sastra berbahasa Sanskerta digunakan untuk menulis prasastiprasasti dan karya-karya sastra keagamaan. Kemudian warisan artistic, peninggalan seni dan arsitektur Hindu-Buddha di Sriwijaya mencerminkan pengaruh budaya dan kepercayaan agama yang menginspirasinya. Relief-relief, arca-arca, dan arsitektur candi-candi menjadi contoh keindahan artistik dan kekayaan budaya Sriwijaya. Penting untuk memahami bahwa agama-agama Hindu dan Buddha tidak hanya mengenai keyakinan spiritual, tetapi juga membentuk budaya, struktur sosial, dan ekonomi masyarakat di Kedatuan Sriwijaya. Peninggalan keagamaan ini memberikan pandangan yang dalam tentang interaksi antara agama dan budaya dalam perkembangan sejarah Sriwijaya serta warisan yang masih hidup dalam budaya Indonesia saat ini. Perspektif sosio-kultural digunakan untuk memahami bagaimana keberadaan dan perkembangan agama Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya memengaruhi struktur sosial, budaya, dan nilai-nilai masyarakat pada masa itu. Penelitian ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan kunci, seperti bagaimana agama Hindu-Buddha Page 169 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural diperkenalkan dan diterima oleh masyarakat Sriwijaya, serta bagaimana pengaruhnya terhadap cara hidup dan pemikiran sosial masyarakat setempat. Kesimpulan Kehidupan beragama di Kerajaan Sriwijaya, didominasi oleh agama Hindu dan Buddha. Pada periode tersebut, kedua agama ini memainkan peran penting dalam membentuk budaya, sosial, dan politik masyarakat Sriwijaya. Sosio kultural yaitu dimulainya Integrasi Budaya Peninggalan Hindu-Buddha mencerminkan integrasi budaya yang kuat antara agama-agama ini dengan budaya lokal di Kedatuan Sriwijaya. Agama Hindu dan Buddha tidak hanya membawa ajaran agama, tetapi juga nilai-nilai, ritus, dan praktik-praktik kebudayaan yang Kerukunan Agama, peninggalan ini menunjukkan adanya kerukunan antara pemeluk agama-agama tersebut dalam masyarakat Sriwijaya. Hinduisme dan Buddha ada bersamasama, dan peninggalan keagamaan ini mencerminkan toleransi agama dan pluralisme yang ada dalam masyarakat tersebut. Ekspansi Agama, pada bagian ini Kedatuan Sriwijaya berperan penting dalam penyebaran agama Buddha di wilayah Asia Tenggara. Pusat Pendidikan. Sriwijaya menjadi pusat pendidikan agama Hindu dan Buddha. Para biksu dan brahmana yang berkunjung ke Sriwijaya membawa pengetahuan agama dan budaya, dan ini memengaruhi pendidikan agama di wilayah tersebut. Ekonomi dan Perdagangan mulai dengan strategi Sriwijaya dalam membangun sektor perdagangan tersebut yaitu dengan membangun armada kapal laut yang kuat dan menguasai pelabuhan-pelabuhan dagang yang Kemudian warisan artistic, peninggalan seni dan arsitektur Hindu-Buddha di Sriwijaya mencerminkan pengaruh budaya dan kepercayaan agama yang menginspirasinya. Daftar Rujukan Apriana & Heryati. Perekonomian Masyarakat Sumatera Selatan Abad 15-18 M. Danadyaksa Historica, 1. , 1Ae11. https://doi. org/10. 32502/jdh. Ardiwidjaya. Utomo, & Rangkuti, . Pengembangan Pariwisata Warisan Budaya Palembang. Yogyakarta: Kapel. Berkah. Dampak Kekuasaan Maritim Sriwijaya Terhadap Masuknya Pedagang Muslim di Palembang Abad VII-IX Masehi. Medina-Te, 16. , 51Ae60. https://doi. 19109/medinate. Budisantoso. Sriwijaya Kerajaan Maritim Terbesar Pertama di Nusantara. Jurnal Ketahanan Nasional. XI. , 49Ae56. https://doi. org/10. 22146/jkn. Coedes. , & Damais. Kedatuan Sriwijaya. Jakarta: Komunitas Bambu. Fajar. Tamimah. Faiz. , & Rahman. Menelisik Sejarah Perekonomian Kerajaan Sriwijaya Abad VII-Xi. Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah. Budaya, dan Pengajarannya, 15. , 91Ae97. https://doi. org/10. 17977/um020v15i12021p91. Gunawan. Metode penelitian kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara, 143. Izza. Prasasti-prasasti Sapatha Sriwijaya: Kajian Panoptisisme Foucault. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 3. , 110Ae123. https://doi. org/10. 22437/titian. Kaswati. Hapsari. , & Amalina. Analisis Sistem Pendidikan Pada Jaman Kerajaan Sriwijaya-Majapahit dan Jaman Modern Dalam Kaitannya Dengan Peradaban Page 170 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural Bangsa Indonesia. Akademika: Jurnal https://doi. org/10. 37329/cetta. Ilmiah Kependidikan, 19. , 65Ae Muljana. Sriwijaya. Yogyakarta: PT. LkiS Pelangi Aksara. Nurrohim. Kerajaan dan Komunitasnya: Sejarah dan Teori Keberadaan Komunitas Bahari Masa Sriwijaya. Tsaqofah Tarikh, 4. , 135Ae144. http://dx. org/10. 29300/ttjksi. Pradani. Sejarah Hukum Maritim Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dalam Hukum Indonesia Kini. Lembaran Sejarah, 13. , https://doi. org/10. 22146/lembaran-sejarah. Putra. , & Ibrahim. Development of Multiculturalism on Ethnic and Relegion in Indonesia. Santhet: Jurnal Sejarah. Pendidikan, dan Humaniora, 7. , 21-35. https://doi. org/10. 36526/santhet. Rachmad. Budaya Bahari Masyarakat Sriwijaya Pada Masa Pra-Modern. JASMERAh: Journal of Education and Historical Studies, 1. , 23Ae https://doi. org/10. 24114/jasmerah. Rahim. Melayu dan Sriwijaya: Tinjauan Tentang Hubungan Kerajaan Ae kerajaan di Sumatera pada Zaman Kuno. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 19. , 649Ae https://doi. org/10. 33087/jiubj. Rezeki. Pembangunan Pada Masa Kedatukan Sriwijaya. Khazanah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, 10. , 61Ae68. https://doi. org/10. 15548/khazanah. Safitri. Telaah Geomorfologis Kerajaan Sriwijaya. Criksetra: Junal pendidikan Sejarah, 3. , 24-26. https://doi. org/10. 36706/jc. Sholeh. Keberagaman Masyarakat dan Toleransi Beragama Dalam Sejarah Kerajaan Sriwijaya Studi Analisis Historis Dalam Bidang Sosial. Budaya. Ekonomi dan Agam. Siddharyatra, 23. , 1Ae12. https://doi. org/10. 24832/siddhayatra. Suryanegara. Kerajaan Sriwijaya. Palembang: Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan. Suswandari. Absor. Aprilia. Nurahman. , & Noviansyah. Pemanfaatan Situs Sejarah Buddhisme di Palembang sebagai Suplemen Materi Pembelajaran Sejarah. Estoria: Journal of Social Science and Humanities, 1. , 71-93. https://doi. org/10. 33258/birci. Suswandari. Absor. Tamimah. Nugroho. Rahman. Menelisik Sejarah Perekonomian Kerajaan Sriwijaya Abad VII-Xi. Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah. Budaya. Pengajarannya 15. , 91Ae97. http://dx. org/10. 17977/um020v15i12021p91-97. Taim. Studi Kewilayahan dalam Penelitian Peradaban oriwijaya. Kalpataru, 22. , 101-110. https://doi. org/10. 24832/kpt. Utama. Hegemoni Maritim dan Militer Kerajaan Sriwijaya di Kawasan Asia Tenggara Abad 7-10 M. Yupa: Historical Studies Journal, 5. , 78-90. https://doi. org/10. 30872/yupa. Page 171 of 172 Retno Susanti. Hunsnul Fathiah. Mariyani. Mailiza Hidayanti. Tia Oktarina Analisis Peninggalan Keagamaan Hindu-Buddha di Kedatuan Sriwijaya: Perspektif Sosio-Kultural Utami. Rasmida, & Martion. Tari Gending Sriwijaya : Representasi Buddhisme di Bumi Sriwijaya Palembang. Besaung Jurnal Seni Desain Dan Budaya, 3. , 49Ae55. https://doi. org/10. 36982/jsdb. Wandiyo. Suryani. , & Sholeh. Hubungan Sriwijaya dengan Dinasti Umayah terhadap Masuknya Agama Islam di Palembang pada Abad Vi Masehi. SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah Kajian Sejarah, 2. , https://doi. org/10. 31540/sindang. Wicahyah. Asyari. Irwanto. , & Susanti. The Relationship between Buddhist education in Sriwijaya and Buddhist education in India. Ilomata International Journal of Social Science, 3. , 303-313. https://doi. org/10. 52728/ijss. Widiya. Hartati. Puspitawati. Gantino. , & Ilyas. Pelatihan kepada Masyarakat dalam Menjaga Makna Kearifan Lokal . Nilai Sejarah , dan Adat Khas Tradisional Masyarakat Melayu Peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Yumary: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1. , 193Ae201. https://doi. org/10. 35912/yumary. Yenrizal. Makna Lingkungan Hidup di Masa Sriwijaya : Analisis Isi pada Prasasti Talang Tuwo. Jurnal ASPIKOM, 833Ae845. http://dx. org/10. 24329/aspikom. Page 172 of 172