Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik. Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipil Volume. Nomor. 1 Januari 2026 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 01-10 DOI: https://doi. org/10. 61132/konstruksi. Tersedia: https://journal. id/index. php/Konstruksi Analisis Karakteristik Marshall Campuran Aspal AC-WC Pada Kondisi Ambient Temperature Fitra Aulia Azmi1*. Said Jalalul Akbar2. Maizuar3 Departement of Civil Engineering. Universitas Malikussaleh. Lhokseumawe. Indonesia Email: fitra. 210110032@mhs. id1*, saidjalalul. akbar@unimal. maizuar@unimal. *Penulis Korespondensi: fitra. 210110032@mhs. Abstract. Highways play a strategic role in supporting economic development, so the quality of pavement materials . lexible pavemen. must meet previously established quality standards. The Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) layer, as the topmost layer of flexible pavement, is susceptible to damage caused by aging triggered by environmental conditions, particularly ambient temperature. Temperatures above 30AC are known to accelerate plastic deformation . and reduce pavement bearing capacity. The Meteorology. Climatology, and Geophysics Agency indicates that temperatures in Lhokseumawe City. North Aceh, range from 33. 7Ae35. with day-night fluctuations that could potentially accelerate the degradation of mechanical properties. This study aims to analyze the Marshall characteristics of AC-WC asphalt mixtures under ambient temperature conditions. The testing was conducted with varying exposure times of 0, 15, 30, 45, 60, 75, and 90 days at a minimum temperature of 23. 90AC and a maximum temperature of 31. 80AC, with an average humidity of 87. The test results showed that the AC-WC asphalt mixture experienced a decrease in stability value of 21. 37% and an increase in flow value of 36. 36%, resulting in a decrease in the Marshall Quotient (MQ) value of 42. Keywords: AC-WC. Ambient Temperature. Asphalt Aging. Economic Development. Marshall Characteristics. Abstrak. Jalan raya memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan ekonomi, sehingga kualitas material perkerasan . erkerasan lentu. harus memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan sebelumnya. Lapisan Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) sebagai bagian teratas perkerasan lentur rentan mengalami kerusakan akibat penuaan . yang dipicu oleh kondisi lingkungan, terutama pada kondisi ambient Suhu diatas 30AC diketahui dapat mempercepat deformasi plastis . dan menurunkan daya dukung perkerasan. Badan Meteorologi. Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan suhu di Kota Lhokseumawe. Aceh Utara, berkisar 33,7Ae35,3AC dengan fluktuasi siangAemalam yang berpotensi mempercepat degradasi sifat Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik Marshall pada campuran aspal AC-WC pada kondisi ambient temperature. Pengujian dilakukan dengan variasi waktu pemaparan yaitu 0, 15, 30, 45, 60, 75 dan 90 hari pada suhu minimum 23,90AC dan maksimum 31,80AC, dengan kelembapan rata-rata 87,93%. Hasil pengujian menunjukkan bahwa campuran aspal AC-WC mengalami penurunan pada nilai stabilitas sebesar 21,37% dan nilai flow mengalami peningkatan sebesar 36,36% yang menyebapkan nilai Marshall Quotient (MQ) mengalami penurunan sebesar 42,52%. Kata kunci: AC-WC. Ambient Temperature. Karakteristik Marshall. Pembangunan Ekonomi. Penuaan Aspal. LATAR BELAKANG Jalan raya merupakan infrastruktur strategis yang berperan penting dalam mendukung mobilitas barang dan orang. Kualitas material perkerasan, khususnya aspal harus memenuhi standar mutu agar mampu menunjang ketahanan jalan dalam jangka panjang. Lapisan Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) sebagai lapisan teratas perkerasan lentur rentan mengalami kerusakan akibat beban lalu lintas maupun faktor lingkungan. Salah satu faktor dominan yang memengaruhi kinerja perkerasan adalah ambient Proses penuaan . pada aspal dipicu oleh kondisi lingkungan terbuka, terutama suhu dan kelembapan (Mashuri & Rahman, 2. Suhu di atas 30AC diketahui dapat Naskah Masuk: 04 Desember 2025. Revisi: 30 Desember 2025. Diterima: 17 Januari 2026. Terbit: 19 Januari 2026 Analisis Karakteristik Marshall Campuran Aspal AC-WC Pada Kondisi Ambient Temperature mempercepat deformasi plastis . dan menurunkan daya dukung perkerasan (Zhang et , 2. Data BMKG menunjukkan bahwa suhu udara di Kota Lhokseumawe. Aceh Utara, berkisar antara 19,7Ae21AC pada malam hari dan 33,7Ae35,3AC pada siang hari. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh iklim tropis serta siklus siangAemalam yang dapat mempercepat kerusakan pada lapisan aspal (Sukirman, 1. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perubahan parameter Marshall pada campuran aspal AC-WC akibat pemaparan ambient temperature dalam periode waktu tertentu. Selain itu, hasil penelitian dibandingkan dengan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 guna mengetahui tingkat kesesuaiannya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa informasi ilmiah terkait kinerja campuran AC-WC pada kondisi nyata di lapangan, sekaligus menjadi acuan teknis dalam peningkatan kualitas dan ketahanan perkerasan jalan di Indonesia. KAJIAN TEORITIS Bagian ini menguraikan teori-teori relevan yang mendasari topik penelitian dan memberikan ulasan tentang beberapa penelitian sebelumnya yang relevan dan memberikan acuan serta landasan bagi penelitian ini dilakukan. Jika ada hipotesis, bisa dinyatakan tidak tersurat dan tidak harus dalam kalimat tanya. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Jalan Raya. Geoteknologi, dan Hidroteknik Universitas Malikussaleh. Agregat diperoleh dari PT. Abad Jaya Sentosa Abadi, sedangkan semen Portland diproduksi oleh PT. Semen Andalas Indonesia. Penelitian ini diawali dengan studi literatur untuk mengkaji teori dan temuan terdahulu yang relevan dengan topik, dilanjutkan dengan persiapan peralatan dan material penelitian yang akan diuji sifat fisisnya untuk memastikan kesesuaiannya dengan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2. Pengujian sifat fisis agregat meliputi analisis saringan, berat jenis dan penyerapan air, dan berat Hasil pengujian digunakan untuk menyusun rancangan campuran . ix desig. yang menjadi dasar dalam penentuan kadar aspal optimum (KAO). Benda uji diproduksi menggunakan kadar aspal optimum (KAO) yang telah ditentukan, kemudian diekspos pada kondisi ambient temperature dengan variasi durasi pemaparan 0, 15, 30, 45, 60, 75, dan 90 hari. Setiap variasi waktu terdiri dari tiga benda uji untuk memastikan validitas data. Setelah periode pemaparan, dilakukan pengujian Marshall sesuai SNI 06-2489- KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 1 JANUARI 2026 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 01-10 1991 untuk memperoleh parameter Marshall. Tahapan pengujian Marshall mencakup pengukuran berat benda uji dalam kondisi kering, jenuh, dan terendam, serta perendaman dalam waterbath bersuhu 60AC A 1AC sebelum pengujian. Analisis data dilakukan setelah mendapatkan hasil perhitungan parameter Marshall berupa stabilitas, flow. VIM. VFA. VMA, density dan Marshall Quotient (MQ). Proses analisis ini digunakan untuk mengevaluasi pengaruh ambient temperature terhadap kinerja campuran aspal AC-WC. HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter Ambient Temperature Parameter ambient temperature diamati melalui suhu, kelembapan, dan kecepatan angin untuk mengevaluasi pengaruh lingkungan terhadap karakteristik Marshall campuran AC-WC. Suhu selama pemaparan menunjukkan fluktuasi harian dengan suhu maksimum 28Ae 31,81AC, minimum 23,56Ae23,91AC, dan rata-rata 25,80Ae27,18AC yang merepresentasikan kondisi termal dilapangan. Kelembapan udara relatif stabil dengan rentang maksimum 95Ae 97%, minimum 78Ae84%, dan rata-rata 88Ae94% sehingga berpotensi memengaruhi proses penguapan dan ikatan aspal. Kecepatan angin tercatat dengan maksimum 3,54Ae4,16 m/s, minimum 0,49Ae0,55 m/s, dan rata-rata 1,81Ae2,13 m/s yang dapat memengaruhi evaporasi permukaan sampel. Ketiga faktor ini menjadi acuan penting dalam analisis perubahan karakteristik Marshall pada campuran AC-WC. Suhu Rata-Rata Suhu Max Suhu Min Temperature (AC) Waktu Pemaparan (Har. Gambar 1. Profil suhu selama masa pemaparan. KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 1 JANUARI 2026 Analisis Karakteristik Marshall Campuran Aspal AC-WC Pada Kondisi Ambient Temperature Kelembapan Rata-Rata Kelembapan Max Kelembapan Min Kelembapan (%) Waktu Pemaparan (Har. Gambar 2. Profil kelembapan selama masa pemaparan. Kecepatan Angin Rata-Rata Kecepatan Angin Max Kecepatan Angin Min Kecepatan Angin . Waktu Pemaparan (Har. Gambar 3. Profil kecepatan angin selama masa pemaparan. Benda Uji Kadar Aspal Optimum Komposisi campuran agregat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas 46% agregat kasar, 52% agregat halus, dan 2% filler. Berdasarkan hasil perhitungan, proporsi tersebut berada dalam rentang gradasi yang sesuai dengan ketentuan pada Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2018 Revisi 2. Selanjutnya, melalui perhitungan empiris yang dapat dilihat pada Lampiran A. 2, diperoleh kadar aspal rencana (P. sebesar 5,31%. Nilai tersebut kemudian dibulatkan menjadi 5,5% dan digunakan sebagai kadar aspal tengah yang dijadikan acuan dalam proses pembuatan benda uji guna menentukan kadar aspal optimum yang dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kadar aspal rencana. Kadar Aspal Rencana 4,5% 5,0% 5,5% KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 1 JANUARI 2026 6,0% 6,5% E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 01-10 Setelah kadar aspal rencana (P. ditentukan, dilakukan perhitungan proporsi campuran untuk setiap variasi kadar aspal yang digunakan dalam uji Marshall, yaitu 4,5%, 5,0%, 5,5%, 6,0%, dan 6,5% dengan interval 0,5%. Total berat campuran ditetapkan sebesar 1200 gr dengan jumlah aspal pada tiap variasi dihitung berdasarkan persentasenya terhadap total berat tersebut. Sisa berat campuran kemudian dialokasikan untuk fraksi agregat, yaitu 46% agregat kasar, 52% agregat halus, dan 2% filler sesuai rancangan awal. Komposisi lengkap dari masing-masing variasi kadar aspal digunakan sebagai dasar dalam proses pembuatan benda uji Marshall dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Komposisi KAO campuran aspal AC-WC. Kadar Aspal (%) Material . 194,82 332,34 193,80 330,60 192,78 328,86 191,76 327,12 190,74 325,38 Dust . 424,02 421,80 419,58 417,36 415,14 Pasir . 171,90 171,00 170,10 169,20 168,30 Filler . 22,92 22,80 22,68 22,56 22,44 Aspal . Total . Serangkaian pengujian di laboratorium Jalan Raya. Geoteknologi, dan Hidroteknik Universitas Malikussaleh dilakukan untuk menentukan kadar aspal optimum (KAO) dengan sejumlah parameter seperti density. VMA. VIM. VFA, stability, flow, dan Marshall Quotient (MQ), yang bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian campuran terhadap Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2. Hasil menunjukkan bahwa sebagian parameter memenuhi persyaratan spesifikasi, sedangkan sebagian lainnya masih berada di luar batas yang Rincian parameter Marshall yang sesuai dengan ketentuan teknis disajikan pada Gambar 4. Kriteria Spesifikasi Density VMA VIM VFA Stability Flow 4,5% 5,5% 6,15% 6,5% 0 - 5. min 65% min 800 kg 0 - 4. 0 mm 250 kg/mm Gambar 4. Rekapitulasi parameter marshall kadar aspal optimum. KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 1 JANUARI 2026 Analisis Karakteristik Marshall Campuran Aspal AC-WC Pada Kondisi Ambient Temperature Performa Campuran Aspal AC-WC Pada Kondisi Ambient Temperature Hasil pengujian Marshall pada campuran aspal AC-WC menunjukkan adanya perubahan yang cukup signifikan pada setiap parameter Marshall seiring dengan bertambahnya durasi pemaparan terhadap ambient temperature. Penelitian ini menggunakan variasi waktu pemaparan mulai dari 0 hari sebagai sampel acuan tanpa pemaparan, serta 15, 30, 45, 60, 75, dan 90 hari. Setiap interval waktu tersebut merepresentasikan kondisi aktual campuran aspal setelah mengalami paparan langsung terhadap ambient temperature selama jangka waktu Perubahan parameter Marshall menunjukkan adanyan perubahan yang diakibatkan oleh ambient temperature. Tingkat ketahanan campuran aspal terhadap ambient temperature selama periode tertentu dianalisis melalui perubahan karakteristik akibat pemaparan pada ambient Analisis dilakukan berdasarkan parameter stabilitas, flow. Marshall Quotient, dan kadar void untuk mengidentifikasi perubahan yang terjadi. Seluruh hasil pengujian Marshall ditampilkan pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil pengujian marshall campuran aspal AC-WC pada kondisi ambient Karakteristik Marshall Hari Pemaparan Stability . Flow g/m. Density . r/cmA) VMA (%) VIM (%) VFA (%) 1921,78 1843,58 1811,50 1791,63 1645,85 1566,88 1511,09 3,41 3,46 3,82 4,02 4,11 4,13 4,65 566,57 547,01 478,76 446,74 406,30 383,66 325,70 2,33 2,31 2,31 2,30 2,30 2,30 2,29 15,67 16,38 16,55 16,71 16,65 16,71 17,07 4,43 5,23 5,43 5,60 5,54 5,61 6,02 71,78 68,05 67,20 66,51 66,76 66,46 64,79 Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran AC-WC mengalami penurunan stabilitas selama pemaparan pada kondisi ambient temperature dengan suhu maksimum 31,81AC, yang mengindikasikan adanya pengaruh negatif suhu terhadap ketahanan campuran. Peningkatan suhu juga mendorong kenaikan nilai flow akibat pelunakan material, sehingga lapisan perkerasan lebih rentan terhadap deformasi permanen. Nilai Marshall Quotient (MQ) tercatat menurun seiring durasi pemaparan, meskipun tingkat kepadatan relatif stabil. Sementara itu. VMA cenderung meningkat akibat proses penuaan aspal, sedangkan VIM dan VFA menunjukkan fluktuasi yang mencerminkan perubahan struktur internal serta distribusi aspal dalam rongga agregat. Secara keseluruhan, meskipun terjadi perubahan karakteristik KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 1 JANUARI 2026 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 01-10 Marshall, nilai yang diperoleh masih berada dalam batas standar sehingga kinerja campuran tetap dapat dipertahankan. Batas Minimal Stabilitas (K. Waktu Pemaparan (Har. Gambar 5. Stabilitas pada kondisi ambient temperature. Batas Minimal Batas Maksimal Flow . Waktu Pemaparan (Har. Gambar 6. Flow pada kondisi ambient temperature. Batas Minimal MQ . g/m. Waktu Pemaparan (Har. Gambar 7. Marshall Quotient (MQ) pada kondisi ambient temperature. KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 1 JANUARI 2026 Analisis Karakteristik Marshall Campuran Aspal AC-WC Pada Kondisi Ambient Temperature Density (%) 2,60 2,45 2,30 2,15 2,00 Waktu Pemaparan (Har. Gambar 8. Density pada kondisi ambient temperature Batas Minimal VMA (%) Waktu Pemaparan (Har. Gambar 9. VMA pada kondisi ambient temperature Batas Minimal Batas Maksimal VIM (%) Waktu Pemaparan (Har. Gambar 10. VIM pada kondisi ambient temperature KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 1 JANUARI 2026 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 01-10 Batas Minimal VFA (%) Waktu Pemaparan (Har. Gambar 11. VFA pada kondisi ambient temperature. KESIMPULAN DAN SARAN Campuran aspal AC-WC secara umum menunjukkan kinerja yang baik berdasarkan parameter Marshall dan masih sesuai dengan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2. Stabilitas dan Marshall Quotient (MQ) konsisten berada di atas batas minimum, meskipun keduanya mengalami penurunan seiring bertambahnya periode pemaparan. Sebaliknya, nilai flow cenderung meningkat dan hanya memenuhi spesifikasi hingga hari ke-30, sementara VMA tetap berada di atas batas minimum serta VIM dan VFA hanya sesuai pada beberapa variasi pemaparan. Pemaparan pada kondisi ambient temperature dengan suhu tertinggi 31,81AC menyebabkan penurunan stabilitas sebesar 21,37%, peningkatan flow sebesar 36,36%, serta penurunan MQ sebesar 42,52%, yang secara keseluruhan mencerminkan berkurangnya kekakuan dan daya tahan campuran terhadap beban. Oleh karena itu, meskipun campuran ACWC masih mampu mempertahankan kekuatan dan kekakuan struktural, pemaparan jangka panjang pada kondisi ambient temperature berpotensi menurunkan performa dan meningkatkan risiko deformasi plastis . DAFTAR REFERENSI Badan Meteorologi. Klimatologi, dan Geofisika. Data suhu rata-rata di Lhokseumawe 1994Ae2024. Diakses April https://w. id/iklim/informasi-iklim. Badan Standardisasi Nasional. SNI 03-4804-1998: Berat isi agregat dan rongga di antara butir agregat. BSN. Badan Standardisasi Nasional. RSNI M-01-2003: Metode pengujian campuran beraspal panas dengan alat Marshall. BSN. Badan Standardisasi Nasional. SNI ASTM C136:2012: Standard test method for sieve analysis of fine and coarse aggregates. BSN. KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 1 JANUARI 2026 Analisis Karakteristik Marshall Campuran Aspal AC-WC Pada Kondisi Ambient Temperature Badan Standardisasi Nasional. SNI 1969:2016: Cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat kasar. BSN. Badan Standardisasi Nasional. SNI 1970:2016: Cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat halus. BSN. Li. , & Wang. Use of accelerated natural aging to simulate long-term asphalt binder aging in pavements. Transportation Research Record, 2678. , 266Ae278. https://doi. org/10. 1177/03611981231173635 Mashuri. , & Rahman. Pengaruh penuaan aspal pada karakteristik campuran beton aspal lapis aus AC-WC. Rekonstruksi Tadulako: Civil Engineering Journal on Research and Development, 47Ae56. https://doi. org/10. 22487/renstra. Miao. Sheng. , & Ye. An assessment of the impact of temperature rise due to climate change on asphalt pavement in China. Sustainability, 14. https://doi. org/10. 3390/su14159044 Overseas Centre. A guide to the structural design of bitumen-surfaced roads in tropical and sub-tropical countries (Overseas Road Note No. Transport Research Laboratory. Sukirman. Perkerasan jalan lentur. Nova. Supriadi. Syafaruddin. , & Azwansyah. Perkerasan campuran aspal ACWC terhadap sifat penuaan aspal. Jelast: Jurnal Teknik Kelautan. PWK. Sipil, dan Tambang, 5. , 2Ae15. Yamin. , & Herman. Pengaruh lingkungan tropis Indonesia pada penuaan aspal dan modulus kekakuan resilien campuran beraspal. Jurnal Transportasi, 5. , 100. Yan. , et al. Study on the effect of hot and humid environmental factors on the Materials, 17. https://doi. org/10. 3390/ma17204942 Zhang. Wang. Yang. Zhong. Liang. Tang. , & Quan. Influence of temperature and humidity coupling on rutting deformation of asphalt pavement. Science and Engineering of Composite Materials, 30. https://doi. org/10. 1515/secm2022-0232 KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 1 JANUARI 2026