Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma BAHASA SEBAGAI CERMIN BUDAYA PADA MASYARAKAT ADAT BIMA Lili Suryaningsih*1. Vira Arvina2 . Wita Puspita 3. Sri Rahayu 4. Awalia Wulan 5 4,5 STKIP Yapis Dompu Email Corespodence : liliedaelilu@email. [Naskah Masuk : 20 September 2025, diterima untuk diterbitkan : 01 Desember 2. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana bahasa Bima mencerminkan nilai-nilai, norma, dan struktur sosial masyarakat adat Bima. Dengan menggunakan pendekatan etnolinguistik, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Bima mengandung konsep-konsep budaya lokal seperti penghormatan terhadap leluhur, sistem kekerabatan, dan adat istiadat. Kosakata, ungkapan, dan struktur bahasa Bima memperlihatkan kedekatan antara bahasa dan identitas budaya masyarakat yang mendiami wilayah bagian timur Pulau Sumbawa. Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki bahasa daerah yang khas, yaitu bahasa Bima (Mboj. Bahasa ini digunakan secara luas dalam interaksi sosial, ritual adat, dan kehidupan sehari-hari. Di dalamnya tersimpan berbagai unsur budaya lokal seperti nilai-nilai kesopanan, hierarki sosial, konsep spiritualitas, serta norma-norma adat. Kata Kunci: Bahasa. Budaya. Masyarakat Adat Bima Abstract: This study aims to examine how the Bima language reflects the values, norms, and social structures of the Bima indigenous community. Using an ethnolinguistic approach, data were collected through interviews, observations, and literature studies. The results show that the Bima language contains local cultural concepts such as respect for ancestors, kinship systems, and customs. The vocabulary, expressions, and structure of the Bima language demonstrate the closeness between language and cultural identity of the people inhabiting the eastern part of Sumbawa Island. West Nusa Tenggara Province, who have a distinctive regional language, namely Bima (Mboj. This language is widely used in social interactions, traditional rituals, and daily life. It contains various elements of local culture such as values of politeness, social hierarchy, concepts of spirituality, and traditional norms. Keywords: Language. Culture. Indigenous People of Bima Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma PENDAHULUAN Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi antarindividu, tetapi juga merepresentasikan cara berpikir, nilai-nilai, serta pandangan hidup dari penuturnya. Dalam konteks masyarakat adat, bahasa memegang peranan yang jauh lebih kompleks: ia menjadi pengikat identitas, penyimpan memori kolektif, serta cermin budaya yang hidup dan terus berkembang seiring waktu. Di sinilah bahasa memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai warisan tak benda yang merekam dan merefleksikan budaya masyarakat secara menyeluruh. Masyarakat Adat Bima, yang mendiami wilayah Kabupaten Bima dan Kota Bima di Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki kekayaan budaya yang sangat khas, termasuk dalam sistem bahasa yang mereka gunakan, yakni bahasa Mbojo. Bahasa ini bukan sekadar sarana berbicara, tetapi juga menggambarkan struktur sosial, nilai kesopanan, filosofi hidup, sistem kepercayaan, hingga adat istiadat yang telah diwariskan secara turuntemurun. Dalam ungkapan-ungkapan lokal, peribahasa, sistem sapaan, serta narasi tradisional seperti boAobo, sanjari, dan kaboa, tersimpan makna- makna mendalam yang merefleksikan pandangan dunia masyarakat Bima. Sebagai contoh, struktur sapaan dalam bahasa Mbojo mencerminkan hirarki sosial dan penghormatan terhadap usia dan status sosial. Penggunaan kata-kata seperti "Aji", "Ina", "Ncuhi", dan "Ruma" bukan hanya bentuk panggilan, tetapi juga pengakuan terhadap peran sosial dan nilai kebudayaan yang mendasari tatanan hidup masyarakat Bima. Selain itu, dalam tradisi lisan seperti boAobo . yanyian pengantar tidur yang sarat nilai mora. , bahasa digunakan sebagai medium pendidikan budaya yang efektif, menunjukkan bahwa bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan. Sebagai contoh, struktur sapaan dalam bahasa Mbojo mencerminkan hirarki sosial dan penghormatan terhadap usia dan status sosial. Penggunaan kata-kata seperti "Aji", "Ina", "Ncuhi", dan "Ruma" bukan hanya bentuk panggilan, tetapi juga pengakuan terhadap peran sosial dan nilai kebudayaan yang mendasari tatanan hidup masyarakat Bima. Selain itu, dalam tradisi lisan seperti boAobo . yanyian pengantar tidur yang sarat nilai mora. , bahasa digunakan sebagai medium pendidikan budaya yang efektif, menunjukkan bahwa bahasa dan budaya tidak dapat Seiring dengan perkembangan zaman, globalisasi, dan derasnya arus modernisasi, bahasa Mbojo mulai mengalami pergeseran dalam penggunaannya, terutama di kalangan generasi muda. Bahasa Indonesia dan bahasa asing mulai mendominasi ruangruang publik, pendidikan, dan media, sehingga bahasa lokal semakin terpinggirkan. Ketika bahasa terpinggirkan, maka perlahan-lahan budaya yang terkandung di dalamnya pun ikut Oleh karena itu, penting untuk menggali kembali bagaimana bahasa berfungsi sebagai cermin budaya, agar masyarakat terutama generasi muda dapat memahami nilainilai yang terkandung di dalam bahasa ibu mereka dan mengemban tanggung jawab untuk Studi mengenai keterkaitan antara bahasa dan budaya dalam konteks masyarakat adat Bima menjadi sangat relevan untuk dilakukan dalam rangka pelestarian budaya lokal. Pemahaman terhadap fungsi bahasa sebagai cermin budaya tidak hanya membantu dalam pelestarian bahasa itu sendiri, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam menjaga keutuhan identitas budaya bangsa di tengah tantangan homogenisasi budaya global. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana bahasa Mbojo mencerminkan budaya masyarakat adat Bima serta peranannya dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya lokal di era modern ini. Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma Bahasa dan budaya merupakan dua elemen yang tidak dapat dipisahkan. Bahasa mencerminkan cara berpikir, sistem nilai, dan struktur sosial suatu masyarakat. Dalam konteks masyarakat adat Bima yang berada di Nusa Tenggara Barat, bahasa menjadi sarana utama dalam mentransmisikan budaya dari generasi ke generasi. Bahasa Bima (Mboj. menyimpan berbagai simbol budaya, baik dalam bentuk ungkapan sehari-hari, peribahasa, maupun struktur sosial yang termuat dalam penggunaan bahasa. Keunikan bahasa Bima terlihat pada penggunaan kosakata yang spesifik untuk menyebut struktur kekerabatan, gelar kehormatan, serta ekspresi sopan santun dalam berbagai situasi sosial. Misalnya, terdapat perbedaan bahasa yang digunakan ketika berbicara kepada orang tua, teman sebaya, atau tokoh adat, yang menunjukkan kesadaran sosial dan hierarki dalam budaya Bima. Selain itu, berbagai ungkapan dan peribahasa dalam bahasa Bima sarat akan ajaran moral dan filosofi hidup yang menjadi pedoman perilaku masyarakat. Namun, seiring perkembangan zaman dan meningkatnya pengaruh budaya luar, eksistensi bahasa Bima mengalami tekanan. Generasi muda cenderung lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari, terutama di lingkungan pendidikan dan media sosial. Hal ini menyebabkan menurunnya fungsi bahasa Bima sebagai sarana pewarisan budaya. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode entografi linguistik dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan teknik pengumpulan data meliputi yaitu. pertama, wawancara mendalam dengan tokoh adat Bima dan penutur asli bahasa Bima. Kedua. Ovservasi partisipatif dalam kegiatan adat dan percakapan sehari-hari. Ketiga, studi dokumen terhadap teks lisan dan tertulis dalam bahasa Bima. Dan adapun untuk memperoleh data yang valid dalam jurnal ini sebagai berikut : Pendekatan Penelitian A Pendekatan Kualitatif Pendekatan ini paling umum digunakan dalam penelitian bahasa dan Fokus pada makna, konteks, dan interpretasi budaya dan bahasa. Cocok untuk menggali aspek-aspek seperti nilai-nilai budaya, struktur bahasa, tradisi lisan, atau simbol-simbol adat. Pendekatan Etnografi Peneliti hidup bersama masyarakat, mengamati langsung praktik budaya dan penggunaan bahasa. Sangat efektif untuk memahami makna di balik tradisi, upacara adat, atau penggunaan bahasa dalam konteks sosial Pendekatan Historis Digunakan untuk menelusuri perkembangan sejarah bahasa Bima atau perubahan budaya dari masa ke masa. Sumber data berupa naskah kuno, arsip, dan cerita rakyat. Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma . Teknik Pengumpulan Data A Observasi Langsung Mengamati secara langsung interaksi masyarakat, baik dalam kegiatan sehari- hari maupun dalam upacara adat. Bisa bersifat partisipatif . eneliti ikut sert. atau non-partisipatif . eneliti hanya mengamat. Wawancara Mendalam Digunakan untuk menggali informasi dari tokoh adat, budayawan, penutur asli, atau tetua kampung. Pertanyaan bersifat terbuka, menggali pengalaman, makna, dan persepsi. Perekaman dan Doku mentasi : Merekam tutur bahasa Bima, lagu daerah cerita rakyat dan upacara adat. Hasil rekaman dianalisis secara linguistik dan kultural. HASIL DAN PEMBAHASAN Kosa Kata Khas yang Mengandung Nilai Budaya Kosakata dalam bahasa Bima tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menyimpan nilai-nilai budaya yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat adat. Beberapa kosakata berikut merupakan contoh ungkapan yang mencerminkan nilai-nilai sosial dan moral yang dijunjung tinggi: Kahi Ndai : Ungkapan ini berarti permohonan maaf yang sangat mendalam. Dalam budaya Bima, sopan santun dan penghormatan kepada orang lain, terutama kepada orang yang lebih tua atau berstatus sosial tinggi, sangat ditekankan. Penggunaan frasa kahi ndai tidak sekadar mengungkapkan rasa bersalah, tetapi juga menunjukkan kesadaran akan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan . Tumpu Kata ini merujuk pada aktivitas berkumpul atau bersama-sama dalam semangat gotong royong. Tumpu bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, melainkan sebuah wujud nyata dari nilai mari . otong royon. yang mengedepankan solidaritas, kerjasama, dan tanggung jawab sosial. Dalam banyak kegiatan adat, seperti membangun rumah atau mengadakan pesta tradisional, tumpu menjadi momen penting untuk mempererat ikatan sosial. Dou Labo Dana Frasa ini menggambarkan konsep masyarakat yang menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan. Dalam budaya Bima, menjaga nama baik keluarga dan komunitas merupakan nilai yang sangat dijaga. Dou labo dana juga berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya berperilaku sesuai norma dan adat agar kehormatan pribadi maupun kelompok tidak tercoreng. Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma Ungkapan dan Pribahasa Ungkapan dan peribahasa dalam bahasa Bima bukan sekadar kalimat biasa, melainkan sarana yang kaya makna dan sarat nilai budaya. Peribahasa digunakan dalam berbagai kesempatan sebagai bentuk nasihat, pengajaran moral, dan penyampaian filosofi hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Berikut ini adalah beberapa contoh peribahasa Bima dan makna budaya yang terkandung di dalamnya: Nggusu waru, nggusu rasa Peribahasa ini berarti "berkata dengan hati-hati". Ungkapan ini mencerminkan nilai kebijaksanaan dan kehati-hatian dalam berkomunikasi yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Bima. Masyarakat Bima percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan dan dampak yang besar, sehingga berbicara tanpa pertimbangan dapat menimbulkan konflik atau salah paham. Dengan demikian. Aunggusu waru, nggusu rasaAy mengajarkan pentingnya mengendalikan kata-kata untuk menjaga keharmonisan sosial. Wura ra ncuhi, wura ra dou Arti harfiah dari peribahasa ini adalah "emas milik raja, emas milik rakyat". Peribahasa ini melambangkan prinsip keadilan dan persatuan dalam masyarakat Bima. Ungkapan ini menegaskan bahwa kekayaan atau sumber daya yang ada bukan hanya hak penguasa, tetapi juga milik seluruh rakyat. Ini mencerminkan semangat kolektivitas dan pembagian sumber daya secara adil demi kesejahteraan Struktur Bahasa dan Hierarki Sosial Dalam masyarakat adat Bima, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penanda status sosial dan hierarki dalam struktur sosial Penggunaan bahasa sangat dipengaruhi oleh siapa lawan bicara dan konteks sosial yang sedang berlangsung. Hal ini mencerminkan adanya stratifikasi sosial yang jelas dan dihormati dalam interaksi sehari-hari. Salah satu bentuk nyata dari stratifikasi ini adalah perbedaan pilihan kosakata, intonasi, serta bentuk tata bahasa yang digunakan saat berbicara kepada orang yang lebih tua, tokoh adat seperti ncuhi . aja atau pemimpin ada. , atau teman sebaya. Misalnya, saat berbicara dengan tokoh adat atau orang tua, penutur bahasa Bima cenderung menggunakan ragam bahasa yang lebih sopan dan formal, dengan pilihan kata dan frasa yang mengandung penghormatan dan kesopanan tinggi. Sebaliknya, dalam percakapan dengan teman sebaya atau anggota keluarga yang sebaya, bahasa yang digunakan lebih santai dan informal. Perbedaan ini tidak hanya terlihat dalam pemilihan kata, tetapi juga dalam cara penyampaian pesan. Misalnya, penggunaan kata ganti orang dan bentuk kata kerja tertentu dapat berubah sesuai dengan status lawan bicara. Selain itu, ada ungkapan khusus yang hanya digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada tokoh adat atau orang yang dianggap memiliki otoritas sosial. Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma IV. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Bahasa memiliki peran penting sebagai cerminan budaya dalam kehidupan masyarakat adat Bima. Melalui bahasa, nilai-nilai budaya, sistem kepercayaan, norma sosial, dan pola pikir masyarakat diwariskan secara turun-temurun. Ungkapan, pepatah, dan istilah khas dalam bahasa Bima mencerminkan kearifan lokal, tata krama, serta identitas kolektif masyarakatnya. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media pelestarian budaya dan sarana pembentukan jati diri komunitas adat. Oleh karena itu, upaya pelestarian bahasa daerah Bima menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal di tengah arus globalisasi yang kian kuat. SARAN Diharapkan masyarakat adat Bima terus melestarikan bahasa daerah sebagai wujud menjaga identitas dan nilai-nilai budaya lokal. Pemerintah daerah bersama lembaga pendidikan perlu mengintegrasikan pembelajaran bahasa dan budaya Bima ke dalam kurikulum serta mengadakan kegiatan kebahasaan secara berkelanjutan untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa daerah. Peneliti selanjutnya disarankan melakukan kajian lebih mendalam tentang hubungan bahasa dan perubahan sosial budaya, termasuk pengaruh modernisasi terhadap eksistensi bahasa daerah. Selain itu, seluruh lapisan masyarakat diharapkan berperan aktif dalam upaya pelestarian bahasa daerah sebagai bagian penting dari kekayaan budaya DAFTAR PUSTAKA