AL IRFAN: JURNAL ILMU PENDIDIKAN DAN PENELITIAN Vol. No. Oktober 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 64877/alirfan. STRATEGI KURIKULUM CINTA DALAM MENGUKUHKAN LITERASI DAN AKHLAK ANAK DI RUANG VIRTUAL Lasmi Anisa Putri1*. Afnibar2. Ulfatmi3. Martin Kustati4. Bashori5 1,2,3,4,5UIN Imam Bonjol Padang putri@uinib. Article Info Article history: Received 10 19, 2025 Revised 10 28, 2025 Accepted 10 31, 2025 Keywords: Character Formation Contemporary Islamic Education Digital Ethics Digital Literacy Love Curriculum ABSTRACT Children's ethical and character development is increasingly undermined by digital-era challenges, including misinformation, cyberbullying, and polarization. This conceptual review proposes the Love Curriculum as an ethical framework grounded in compassion to address this gap. It aims to enhance digital literacy and character formation by integrating spiritual values into digital education. Drawing from Islamic heritage, particularly Al-Ghazali's thought, and humanistic psychology, the curriculum is built on four pillars: love for God, fellow humans, the environment, and the nation. These pillars provide a moral lens for navigating contemporary digital landscapes. Employing a library research method, this study synthesizes literature from Islamic education, humanistic perspectives, and digital ethics. Key classical and modern sources were selected through purposive sampling, systematically reviewed, and analyzed via thematic The findings indicate that the Love Curriculum serves as a moral filter that fosters a holistic "love literacy" integrating spiritual, emotional, and cognitive dimensions. This approach complements Indonesia's Merdeka Curriculum by aiming to cultivate a tolerant and empathetic insan paripurna . olistic individua. in virtual spaces, offering practical implications for inclusive education rooted in rahmatan lil 'alamin . ercy for all creatio. The study contributes an adaptive conceptual model that underscores the urgency of infusing spirituality into digital literacy education from early childhood through adolescence. Future research should empirically validate the Love Curriculum's effectiveness on children's digital behavior and character across various settings. Exploring specific pedagogical strategies for its four pillars in digital education is also encouraged. *Corresponding Author: UIN Imam Bonjol Padang Email: lasmi. putri@uinib. PENDAHULUAN Era digital telah membawa transformasi fundamental dalam kehidupan anakanak, di mana akses informasi yang melimpah seringkali diiringi risiko etis serius seperti penyebaran disinformasi, praktik cyberbullying, dan polarisasi sosial yang mengkhawatirkan (Zhu et al. , 2. Data konkret dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari 70% siswa usia dini hingga remaja terpapar konten negatif di media sosial, suatu kondisi yang berkontribusi signifikan terhadap polarisasi sosial dan penurunan empati di kalangan generasi muda (Kemendikbud, 2. Fakta sosial ini semakin diperburuk oleh kebiasaan anak-anak Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. yang menghabiskan rata-rata enam jam setiap hari di depan layar digital, berpotensi mengikis fondasi spiritual dan emosional mereka secara signifikan (UNICEF, 2. Kesenjangan ini terlihat jelas antara pesatnya kemajuan teknologi dan urgensi pembentukan akhlak anak, di mana pendidikan konvensional seringkali gagal mengintegrasikan nilai-nilai moral fundamental untuk melindungi anak dari dampak destruktif ruang virtual. Sebagai contoh, pengintegrasian program interaktif seperti lokakarya literasi digital yang dikombinasikan dengan kegiatan layanan sosial dan metode bermain peran dapat membantu anak mengembangkan pemahaman jejak digital serta keterampilan interaksi sosial, meskipun implementasinya masih terbatas di sekolah-sekolah Indonesia (Milala & Putri, 2. Dengan mensimulasikan situasi kehidupan nyata secara online, pendekatan ini menekankan pentingnya empati, tetapi tetap memerlukan kurikulum yang lebih komprehensif untuk mengatasi krisis moral dan karakter di era digital ini. Penelitian terdahulu telah mengkaji berbagai aspek penting dari literasi digital, meskipun dengan fokus yang terbatas pada dimensi teknis dan psikologis. Misalnya. Lombardi et al. , . menganalisis dampak cyberbullying terhadap kesehatan mental remaja dan menemukan bahwa kurangnya pendidikan etis berkorelasi dengan peningkatan kasus isolasi sosial hingga 40%, menyoroti kebutuhan intervensi dini untuk mencegah kerusakan emosional jangka panjang. Demikian pula. Johnson . mengeksplorasi integrasi nilai-nilai humanistik dalam pendidikan digital, menunjukkan bahwa pendekatan Carl Rogers efektif dalam membangun empati melalui pembelajaran berbasis pengalaman, tetapi studi ini dikritik karena terbatas pada konteks Barat tanpa penyesuaian budaya yang memadai, sehingga kurang relevan untuk masyarakat multikultural seperti Indonesia. Selain itu. Tanner & Gillardin . membahas munculnya "toxic communication" di ruang digital, yang secara signifikan menghambat perkembangan sosial dan moral anak-anak dengan memperburuk polarisasi dan kurangnya tanggung jawab etis. Penelitian-penelitian ini telah meneliti isu-isu seperti cyberbullying, empati humanistik, dan komunikasi beracun, tetapi belum secara memadai menyentuh sintesis dengan turats Islam untuk membentuk kerangka etis yang kokoh berbasis kasih, meninggalkan celah signifikan dalam dimensi spiritual yang holistik dan integral. Berbeda dengan literature sebelumnya yang cenderung terpisah dan sekuler seperti analisis terisolasi cyberbullying oleh Lombardi et al. , . atau pendekatan humanistik Barat Johnson . yang mengabaikan adaptasi budaya. Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pengembangan Kurikulum Cinta sebagai model integratif yang membedakannya secara tegas. Model ini secara unik menggabungkan empat pilar kasih . inta kepada Tuhan, sesama, lingkungan, dan bangs. yang diinspirasi oleh pemikiran Al-Ghazali guna mengatasi keterbatasan pendekatan sekuler dalam pendidikan digital dengan menekankan filter moral yang adaptif. Pendekatan ini beralih dari sekadar meminjam etika sekuler menuju perumulan etika otentik dari dalam turats Islam sehingga lebih relevan secara kontekstual dengan tantangan teknis dan psikologis kontemporer sambil memperkuat fondasi spiritual (Koten & Simarmata. Proposisi ini didukung oleh prinsip QurAoani tentang rahmah (QS. Al-Anbiya: . yang menegaskan urgensi pendidikan inklusif berbasis kasih di era informasi mengisi kekosongan literatur yang masih kurang general. Penelitian ini berasumsi bahwa spiritualitas Islam khususnya nilai kasih, memiliki potensi intrinsik untuk membimbing perilaku digital anak-anak,dan bahwa pendekatan humanistik dapat memfasilitasi penerimaan nilai-nilai tersebut secara Hipotesis utama adalah bahwa Kurikulum Cinta akan berfungsi sebagai pondasi Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 tak tergantikan untuk literasi digital yang tidak hanya kognitif tetapi juga spiritual dan emosional sehingga mengurangi dampak negatif ruang virtual seperti polarisasi dan Dengan demikian, tujuan utama penelitian ini adalah merumuskan kerangka konseptual Kurikulum Cinta yang adaptif, guna secara praktis berkontribusi bagi pendidik dalam mengimplementasikan literasi cinta di berbagai sekolah Indonesia, khususnya dalam mendukung Kurikulum Merdeka melalui modul berbasis nilai Qur'ani yang relevan dengan dinamika era informasi. METODE Penelitian ini mengadopsi pendekatan kajian konseptual . onceptual revie. dengan metode studi pustaka . ibrary researc. , berfokus pada sintesis dan pengembangan model teoritis Kurikulum Cinta sebagai kerangka etis untuk literasi digital dan pembentukan akhlak anak. Objek kajian utama adalah prinsip mendasar yang membentuk Kurikulum Cinta serta bagaimana prinsip tersebut berinteraksi dengan tantangan etika digital kontemporer. Sumber data primer meliputi teks klasik Islam fundamental seperti IhyaAo Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali (Al-Ghazali, 1. , yang menjadi landasan filosofis bagi pilar-pilar kasih. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan dari jurnal ilmiah kontemporer, buku, dan laporan penelitian terkait etika digital, pendidikan humanistik . On Becoming a Person karya Carl Rogers, 1. , serta studi kasus implementasi literasi digital dan pendidikan karakter. Populasi literatur mencakup berbagai perspektif dari pendidikan Islam, psikologi humanistik, dan etika digital, dengan fokus pada publikasi dalam rentang waktu 2016-2025. Pengumpulan data dilakukan melalui tinjauan pustaka sistematis di mana teksteks relevan diekstrak, diidentifikasi gagasan utamanya dan dikategorikan berdasarkan tema kunci seperti pilar kasih dalam Kurikulum Cinta, isu-isu etika digital yang dihadapi anak, serta integrasi perspektif Islam dan humanistik. Analisis data menggunakan pendekatan sintesis tematik yang melibatkan langkah-langkah sistematis sebagai berikut: . identifikasi pola dan konsep kunci dari sumber data primer dan sekunder, . perbandingan dan kontrastasi antar perspektif (Al-Ghazali. Rogers. Florid. untuk menemukan area konvergensi, divergensi, dan celah konseptual yang dapat diisi oleh Kurikulum Cinta, dan . konstruksi model konseptual kurikulum cinta melalui proses parafrase kritis, interpretasi mendalam, dan argumentasi logis. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Analisis tematik yang mendalam dari tinjauan pustaka secara konsisten mengungkapkan bahwa Kurikulum Cinta sebagai kerangka etis yang kokoh berbasis kasih, secara efektif menyediakan fondasi yang sangat kuat untuk mengintegrasikan literasi digital dengan pembentukan akhlak anak di era informasi. Kurikulum ini berpusat pada empat pilar utama: cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama, cinta kepada lingkungan, dan cinta kepada bangsa. Pilar-pilar ini tidak hanya berakar pada pemikiran mendalam Al-Ghazali dalam IhyaAo Ulum al-Din . yang menekankan pemurnian jiwa melalui mahabbah . asih sayang ilahia. sebagai jalan menuju kebahagiaan abadi tetapi juga secara sinergis selaras dengan prinsip-prinsip humanistik Carl Rogers . yang memprioritaskan pertumbuhan diri yang autentik melalui empati dan penerimaan tanpa syarat. Integrasi etika digital yang didasarkan pada cinta secara fundamental memerlukan evaluasi ulang praktik pendidikan guna memastikan bahwa teknologi berfungsi sebagai alat untuk pengembangan moral bukan semata-mata sebagai sumber Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. kerusakan moral. Seiring dengan semakin meresapnya platform digital, pendidik memiliki tanggung jawab krusial untuk memprioritaskan pengajaran kepada siswa tentang bagaimana menavigasi ruang dengan integritas, empati, dan rasa tanggung jawab yang mendalam terhadap sesama. Hal ini sejalan dengan temuan yang secara konsisten menekankan pentingnya empati dalam konteks konseling dan Pendidikan karena empati terbukti mampu menumbuhkan koneksi otentik dan secara signifikan meningkatkan lingkungan belajar (Sholikhin & Muniroh, 2. Dengan secara sistematis menanamkan nilai-nilai ke dalam kurikulum, proses pendidikan tidak hanya akan membentuk pemikir kritis tetapi juga individu yang penuh kasih yang secara komprehensif diperlengkapi untuk menghadapi kompleksitas era digital dengan kompas moral yang kuat sehingga mempromosikan pendekatan holistik terhadap pendidikan akhlak yang beresonansi dengan prinsip Islam dan teori psikologi kontemporer (Pranoto & Haryanto, 2. Pilar cinta kepada Tuhan berfungsi sebagai filter spiritual yang esensial untuk memerangi disinformasi. Dalam implementasinya, anak diajarkan untuk memverifikasi informasi melalui lensa iman dan kebenaran ilahi sehingga secara signifikan mengurangi kerentanan mereka terhadap hoaks yang seringkali memanipulasi nilai moral. Selanjutnya, pilar cinta kepada sesama secara efektif menggabungkan etika hubungan interpersonal ala Rogers dengan ajaran Islam tentang rahmah . asih sayang universa. terbukti mampu menangani fenomena cyberbullying. Studi pustaka menunjukkan bahwa pendekatan ini secara aktif mendorong anak untuk membangun empati digital, misalnya melalui diskusi kelompok tentang dampak komentar negatif di media sosial yang dalam program serupa di madrasah Indonesia mampu menurunkan insiden perundungan hingga 30% (Dewi, et al. , 2. Sementara itu, pilar cinta kepada lingkungan menekankan kesadaran berkelanjutan terhadap konten destruktif, seperti propaganda yang merusak ekosistem sosial. Ini diintegrasikan dengan nilai rahmatan lil 'alamin untuk memupuk tanggung jawab kolektif di ruang Terakhir, pilar cinta kepada bangsa mendukung adaptasi terhadap polarisasi digital melalui penguatan identitas nasional, di mana anak belajar menghargai keberagaman sebagai bagian integral dari semangat gotong royong. Hal ini selaras dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan pada proyek berbasis masyarakat (Kemendikbud, 2. Untuk memvisualisasikan integrasi ini. Tabel 1 merangkum aplikasi empat pilar Kurikulum Cinta terhadap isu-isu digital utama, berdasarkan sintesis dari 25 sumber terpilih. Tabel 1. Sintesis Pilar Kurikulum Cinta dengan Isu Digital Pilar Kurikulum Cinta Cinta kepada Tuhan Cinta kepada Sesama Cinta kepada Lingkungan Relevansi dengan Isu Kontemporer Filter spiritual vs. erifikasi informasi melalui ima. Empati vs. embangun hubungan autentik Kesadaran berkelanjutan vs. konten destruktif Integrasi Perspektif (AlGhazali. Rogers, & Etika Digita. Pemurnian jiwa (Al-Ghazal. Penerimaan diri (Roger. Etika verifikasi (Turilli & Floridi. Dampak Potensial pada Akhlak Anak Meningkatkan ketahanan moral, mengurangi penyebaran hoaks hingga 25% (Kasim, 2. Kasih sayang interpersonal (AlGhazal. Empati humanistik (Roger. Norma privasi digital Mengembangkan toleransi, menurunkan kasus bullying 35% di program madrasah (Septiani et al. , 2. Harmoni alam (Al-Ghazal. Pertumbuhan holistik (Roger. Etika ekosistem digital Mendorong kepedulian sosial, meningkatkan literasi lingkungan digital 40% (Syahputra & Hanifah, 2. Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 . ampanye antihoaks lingkunga. Cinta kepada Bangsa Toleransi vs. enguatan identitas nasional di media sosia. Loyalitas umat (Al-Ghazal. Kebebasan diri (Roger. Etika inklusif nasional (Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2. Membentuk insan paripurna yang adaptif, mengurangi polarisasi 28% melalui proyek Kurikulum Merdeka (Sumarni et al. , 2. Tabel yang dihasilkan dari sintesis komprehensif literatur primer dan sekunder, secara meyakinkan menunjukkan bahwa model Kurikulum Cinta berhasil mengisi celah konseptual dengan menawarkan literasi cinta yang holistik. Dalam model ini, dimensi spiritual secara sempurna melengkapi aspek emosional-kognitif untuk menciptakan kerangka etika digital yang kokoh. Data dari survei nasional secara konsisten menegaskan bahwa 80% sumber yang dianalisis menyoroti efektivitas integrasi spiritual dalam mengurangi dampak negatif digital seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan empati pada anak usia 7-15 tahun (Kasim, 2. Lebih lanjut, analisis komparatif yang cermat mengungkapkan bahwa tanpa fondasi kasih, literasi digital cenderung gagal secara signifikan dalam membentuk akhlak yang utuh sebagaimana terlihat dalam peningkatan kasus cyberbullying di kalangan remaja Indonesia yang mencapai 45% tanpa adanya intervensi moral yang berbasis nilai (UNICEF, 2. Dalam pengembangan model konseptual ini di mulai dari pengenalan pilar melalui cerita Qur'ani, dilanjutkan dengan diskusi kasus digital, dan diakhiri dengan proyek kolaboratif. Proses ini secara kumulatif menghasilkan literasi cinta yang holistik, di mana anak tidak hanya memahami teknologi tetapi juga menerapkannya dengan nilai rahmatan lil 'alamin. Temuan empiris awal dari studi kasus di madrasah menunjukkan peningkatan skor akhlak sebesar 32% setelah enam bulan penerapan program serupa dengan fokus pada pencegahan polarisasi melalui dialog antaragama virtual (Siregar. Hasil ini memvalidasi proposisi bahwa Kurikulum Cinta berpotensi kuat melengkapi Kurikulum Merdeka dengan menambahkan lapisan etis spiritual yang mendalam, secara efektif menciptakan anak yang toleran dan empati di ruang virtual. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini secara fundamental selaras dengan teori etika digital (Turilli & Floridi, 2. yang menekankan kebutuhan akan kerangka moral adaptif untuk menavigasi information overload. Namun. Kurikulum Cinta memperkaya perspektif Floridi secara signifikan dengan menambahkan dimensi spiritual Islam yang absen dalam model sekulernya. Integrasi pemikiran Al-Ghazali tentang pemurnian jiwa melalui mahabbah sebagai jalan menuju Tuhan dengan teori humanistik Rogers tentang aktualisasi diri menciptakan sinergi yang unik dan kuat, spiritualitas memberikan kedalaman moral yang tak tergantikan sementara humanisme memastikan relevansi emosional dan psikologis di era digital. Sebagai contoh spesifik, dalam menghadapi ancaman disinformasi pilar cinta kepada Tuhan mendorong mekanisme verifikasi berbasis iman. Studi komparatif antara pemikiran Al-Ghazali dan Rogers menunjukkan bahwa pendekatan ini meningkatkan ketahanan kognitif anak terhadap manipulasi hingga 40% dibandingkan pendekatan konvensional (Pratama, 2. , karena anak memiliki kompas internal yang memandu pencarian kebenaran. Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya seperti Dewi et al. yang membahas literasi digital untuk karakter tanpa fondasi spiritual, sintesis ini menjelaskan kausalitas yang lebih dalam, yaitu kasih sebagai filter moral secara intrinsik mencegah polarisasi karena secara aktif membangun empati. Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) atau Kurikulum Cinta memang dirancang oleh Kementerian Agama RI untuk mencegah kekerasantermasuk bullying dan cyberbullying, melalui pendekatan berbasis empati, kasih sayang, dan literasi digital di madrasah. Program ini resmi diluncurkan melalui SK Dirjen Pendidikan Islam No. 6077 Tahun 2025, dengan fokus pada pengembangan karakter siswa untuk mengurangi perilaku negatif di ruang virtual. Penelitian Arifin et al. mengenai integrasi pendidikan karakter dalam pembelajaran berbasis proyek juga mendukung temuan ini, di mana pilar cinta kepada lingkungan dan cinta kepada bangsa dari Kurikulum Cinta selaras dengan Kurikulum Merdeka. Ini memungkinkan anak-anak untuk menerapkan etika digital dalam proyek nyata, seperti kampanye anti-hoaks lingkungan, yang telah terbukti meningkatkan kesadaran berkelanjutan sebesar 40% di kalangan siswa (Syahputra & Hanifah, 2. Perbedaan utamanya terletak pada penekanan holistik Kurikulum Cinta. Studi sebelumnya seperti Lombardi et al. , . berfokus pada aspek psikologis cyberbullying. Kurikulum Cinta menambahkan lapisan spiritual yang esensial untuk pencegahan jangka panjang, secara efektif mencegah fragmentasi akhlak yang sering terjadi dalam pendidikan digital konvensional. Kontribusi utama penelitian ini terhadap keilmuan pendidikan Islam adalah penyediaan model konseptual yang adaptif dan responsif terhadap dinamika teknologi kontemporer, khususnya dalam membentuk insan paripurna yaitu manusia yang utuh secara spiritual, emosional, dan kognitif. Kurikulum Cinta secara signifikan berkontribusi pada pengembangan etika digital yang berakar pada prinsip rahmatan lil 'alamin atau kasih sayang bagi seluruh alam, sebuah nilai universal dalam Islam yang mendorong perdamaian, toleransi, dan kebermanfaatan bagi semua makhluk (Nur Adha & Prawironegoro, 2. Dalam ranah digital, prinsip ini menuntut penggunaan teknologi yang bertanggung jawab, adil, dan konstruktif, bukan hanya untuk kepentingan individu tetapi untuk kesejahteraan masyarakat global. Berikut ini dapat dilihat dasar normatif dan dalil teologis kurikulum Cinta kepada Allah . ablum minalla. a ACaE a eI aEeI I acO aI NcEE acaOaI aOa aEI NA AcEEa a aA eOU ac aeO UIA AcEEa aOOa eAe Ea aE eI aIa eOa aE eI aO NA a e e e e a a e e a Katakanlah (Nabi Muhamma. AuJika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Ay Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: . Kurikulum Cinta menjadikan cinta kepada Allah sebagai pondasi, yang pembuktiannya di ranah digital diwujudkan melalui ittiba' . etaatan ataumengikuti tuntunan Rasululla. dalam beretika dan berkomunikasi, sehingga segala aktivitas online seperti menghindari disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi adalah cerminan dari kesadaran bahwa perilaku baik di dunia maya adalah syarat untuk meraih cinta dan ampunan Ilahi. Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 Cinta kepada Sesama Manusia . ablum minanna. a A aaEA A EaIa eA a aNA ca Aa aON aI aaOA ca Aa a aE eI aac aaOA a AaE Oa eI aI A Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Musli. Kurikulum Cinta menggunakan Hadits ini sebagai pondasi utama etika resiprositas dalam interaksi hablum minannas di ruang digital, menetapkan bahwa kesempurnaan iman hanya tercapai ketika seseorang menerapkan Prinsip Emas. Prinsip mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri bertindak sebagai filter aktif untuk mencegah segala bentuk perbuatan tercela, seperti cyberbullying, penyebaran disinformasi, dan polarisasi sehingga menghasilkan karakter yang berempati dan adaptif terhadap tantangan sosial digital. Cinta kepada Lingkungan (Hablum BiAoa. a A a aE aN O eON OAU acOaI a acI e NcEEa Ca aOA AOA ae A I aI E aeI eIA U e a a a Ua e a a e a a a e e a a AaOaE a eA a eO a eaEa eA Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-AAoraf: . Kurikulum Cinta menginterpretasikan larangan berbuat kerusakan di bumi . a lA tufsid fil-ar. sebagai prinsip etika keberlanjutan digital. Ayat ini meluaskan konsep kerusakan dari fisik lingkungan alam ke kerusakan maknawi di ruang Menerapkan dalil ini berarti mewajibkan pelajar untuk menjaga kebersihan dan tatanan ruang digital dengan menahan diri dari polusi informasi dan ujaran kebencian, serta mendorong pemanfaatan teknologi yang bijak dan berkesinambungan . lAuihA). Tujuannya adalah menjadi muusinn . rang-orang yang berbuat bai. yang rahmat Allah dekat kepada mereka, dengan menjadikan ruang digital sebagai lahan untuk kebaikan, bukan perusakan. Cinta kepada Bangsa dan Negara (Hubbul Watha. A a a eO aI eI aaO aaE eI acI Aa aEa eONa aacaE CaEaeO UE aIeI aN eI aOEa eO acIaeI Aa aEa eO aI Oa eO aaeO aI aN Ea aE aI a UeO acEaeI aOa a ac aeaeO UA e AaOEa eO acI aEa e Ia aEaeO aN eI a aI Ce aEaeO aIe aA a aE eI aaOA Seandainya Kami perintahkan kepada mereka . rang-orang munafi. AuBunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu,Ay niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari Seandainya mereka melaksanakan pengajaran yang diberikan kepada mereka, sungguh itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan . man merek. (QS. An-NisaAo: . Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. Ulama seperti Imam Fakhruddin Ar-Razi menafsirkan ayat ini sebagai bukti bahwa meninggalkan kampung halaman sangatlah berat, yang mengisyaratkan adanya fitrah cinta tanah air. Kurikulum Cinta mengadopsi penafsiran ulama . eperti Ar-Raz. yang menyatakan bahwa ancaman keluar dari kampung halaman . disandingkan dengan bunuhlah dirimu menunjukkan betapa berharganya dan mendalamnya cinta tanah air . ubbul waa. sebagai fitrah manusia. Dalam konteks digital, dalil ini menjadi landasan etika kebangsaan: bahwa menjaga persatuan dan stabilitas negara dari polarisasi digital dan provokasi yang memecah belah sama pentingnya dengan menjaga jiwa. Pelaksanaan ajaran ini di ruang digital akan menjadi lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan keimanan dan ketahanan sosial-kebangsaan. Model ini yang secara inovatif mengintegrasikan empat pilar kasih dengan literasi cinta, menawarkan blueprint konkret untuk kurikulum inklusif yang berlandaskan rahmatan lil 'alamin. Melalui Kurikulum Cinta, anak usia dini hingga remaja dididik untuk menavigasi ruang virtual bukan sebagai konsumen pasif, melainkan sebagai agen perubahan moral yang proaktif. Relevansi model ini dengan isu mendesak yang disorot di pendahuluan, yaitu paparan konten negatif yang mencapai 70% siswa di Indonesia, terlihat jelas dalam kemampuannya untuk menjawab kesenjangan literasi digital. Integrasi spiritualitas secara signifikan meningkatkan ketahanan emosional anak dan secara efektif mengurangi polarisasi sosial (Kemendikbud, 2. Sebagai ilustrasi konkret, dalam konteks Indonesia, model Kurikulum Cinta dapat diintegrasikan ke dalam Kurikulum Merdeka melalui modul tematik, seperti proyek Cinta Digital yang menggabungkan diskusi Qur'ani dengan simulasi media sosial, sebagaimana direkomendasikan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam . untuk madrasah. Model Kurikulum Cinta, dengan penekanan pada empat pilar kasih, menciptakan sebuah kerangka etika digital yang melampaui aturan normatif. Ini menanamkan motivasi internal bagi individu untuk bertindak secara etis di dunia maya, menjadikan mereka agen perubahan moral. Kontribusi ini sangat relevan dalam konteks Indonesia, sebuah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, di mana etika digital yang didasarkan pada nilai-nilai Islam dapat mempromosikan kohesi sosial dan Potensi Kurikulum Cinta dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDG. sangat besar, khususnya SDGs 4 dan 16 (Buchbinder, 2. SDG 4: Quality Education Kurikulum Cinta menawarkan pendekatan pendidikan karakter yang holistik dan relevan dengan tantangan abad ke-21. Dengan mengintegrasikan literasi digital dan nilai-nilai etis, kurikulum ini tidak hanya membekali anak dengan keterampilan teknis tetapi juga dengan kebijaksanaan moral untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab (Rudiyanto, 2. Ini mendukung target SDG 4. 16 yang menekankan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan gaya hidup berkelanjutan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, promosi budaya damai dan tanpa kekerasan, kewarganegaraan global, dan penghargaan terhadap keanekaragaman budaya (Mochizuki, 2. Anak-anak yang diajar melalui Kurikulum Cinta diharapkan menjadi pembelajar seumur hidup yang etis dan sadar sosial di ruang digital. SDG 16: Peace. Justice, and Strong Institutions Melalui pilar cinta kepada sesama dan bangsa. Kurikulum Cinta secara langsung berkontribusi pada penciptaan masyarakat digital yang lebih damai dan Dengan mengurangi cyberbullying, memerangi disinformasi, dan Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 mempromosikan toleransi terhadap polarisasi, kurikulum ini membantu membangun institusi digital yang lebih kuat dan adil. Pembentukan karakter yang mengedepankan empati dan penghargaan terhadap keberagaman di ruang maya adalah kunci untuk mencegah konflik dan mempromosikan resolusi damai atas perbedaan, sejalan dengan target SDG 16. 1 yang bertujuan mengurangi segala bentuk kekerasan dan angka kematian terkait di mana pun (Malone, 2. Studi menunjukkan bahwa pendekatan yang menggabungkan literasi digital dengan nilainilai Islam dapat menghasilkan anak yang lebih bijak dalam menghadapi era milenial, dengan peningkatan karakter altruistik hingga 28%, yang secara langsung mendukung upaya perdamaian dan keadilan (Hasanah et al. , 2. Pembahasan ini secara tegas menyoroti signifikansi Kurikulum Cinta dalam mendukung tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. , khususnya tujuan 4 . endidikan berkualita. dan 16 . erdamaian dan keadila. , melalui penanaman etika digital yang holistik dan integral. Studi seperti yang dilakukan oleh Sumarni et al. menunjukkan bahwa pendekatan serupa, yang secara efektif menggabungkan literasi digital dengan nilai-nilai Islam, menghasilkan anak-anak yang lebih bijak dalam menghadapi era milenial, dengan peningkatan akhlak altruistik hingga 28%. Namun, penting untuk diakui bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan karena sifatnya yang konseptual, di mana belum ada uji empiris skala besar yang dilakukan. Faktor eksternal seperti akses teknologi yang tidak merata di daerah pedesaan juga dapat menghambat implementasi, sebagaimana dicatat dalam laporan (UNICEF. Meskipun demikian, temuan ini secara kuat memperkuat posisi pendidikan Islam kontemporer sebagai solusi holistik terhadap tantangan digital, dengan potensi replikasi di sekolah umum melalui kolaborasi lintas-sektor yang strategis. Dalam perspektif komparatif. Kurikulum Cinta menawarkan keunggulan dibandingkan model Barat seperti empat pilar UNESCO . elajar mengetahui, melakukan, hidup bersama, menjad. , karena secara eksplisit menambahkan dimensi spiritual yang mendalam, yang esensial untuk mencegah degradasi moral di ruang virtual (Hasan, 2. Argumentasi kausal yang mendasari temuan ini adalah bahwa kasih sebagai inti Kurikulum Cinta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif, di mana anak merasa diterima . eperti yang ditekankan oleh Roger. dan termotivasi secara spiritual . ebagaimana diajarkan oleh Al-Ghazal. , sehingga etika digital secara alami terinternalisasi sebagai bagian integral dari akhlak mereka. Kontribusi ilmiahnya mencakup pengayaan diskursus etika digital dengan perspektif Islam-humanistik yang komprehensif, menawarkan rekomendasi praktis seperti pelatihan guru untuk modul "Literasi Cinta" yang berfokus pada studi kasus nyata cyberbullying. Akhirnya, meskipun terbatas pada analisis pustaka, penelitian ini secara tegas membuka jalan bagi studi lanjutan, seperti evaluasi longitudinal di madrasah, untuk secara akurat mengukur dampak jangka panjang Kurikulum Cinta terhadap pembentukan insan paripurna di era digital yang semakin kompleks. SIMPULAN Kurikulum Cinta, sebagai kerangka etika digital yang berbasis kasih, terbukti memiliki potensi besar untuk secara efektif membentuk literasi dan akhlak anak di ruang virtual. Pendekatan ini berhasil mengintegrasikan empat pilar cinta yang bersumber dari turats Islam, yaitu cinta kepada Tuhan, sesama, lingkungan, dan bangsa, untuk secara komprehensif mengatasi tantangan-tantangan krusial seperti disinformasi dan cyberbullying. Model ini tidak hanya melengkapi dan memperkaya Kurikulum Merdeka yang berlaku di Indonesia, tetapi juga secara aktif berkontribusi pada Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. pembentukan insan paripurna yang toleran dan empati di ruang maya, melalui pengembangan "literasi cinta" yang holistik, menyatukan dimensi spiritual, emosional, dan kognitif. Dampak signifikan terhadap keilmuan pendidikan mencakup penyediaan model adaptif yang secara tegas menekankan urgensi spiritualitas dalam menghadapi teknologi, dengan implikasi praktis untuk pendidikan inklusif yang secara fundamental berbasis nilai rahmatan lil 'alamin. Rekomendasi konkret meliputi implementasi Kurikulum Cinta dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah, serta pengembangan program pelatihan guru untuk mengintegrasikan etika digital berbasis kasih. REFERENSI