Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 3 NEGARA Andika Ronggo G Dosen Pendidikan Kewarganegaraan Universitas PGRI Banyuwangi andikaronggo@gmail. Tofan Priananda Adinata Dosen Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Banyuwangi tofanbardan@gmail. Abstrak Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, dirancang untuk mengkaji penerapan pembelajaran model AuProblem Based LearningAy dalam meningkatkan kemampuan pemahaman HAM dalam mata pelajaran PKn siswa kelas VII SMP Negeri 3 Negara Kabupaten Jembrana. Melalui model Problem Based Learning ini terlihat hubungan siswa dengan guru sangat signifikan karena guru tidak dianggap sosok yang menakutkan tetapi sebagai fasilitator dan mitra untuk berbagi pengalaman sesuai dengan konsep kreatif learning yaitu melalui discovery dan invention serta creativity and diversity sangat menunjol dalam model pembelajaran ini. Dengan model problem based learning guru hanya mengarahkan strategi yang efektif dan efisien yaitu belajar bagaimana cara belajar ( learning how to lear. Dalam metode learning how to learn guru hanya sebagai guide . emberi arah/petunju. untuk membantu siswa jika menemukan kesulitan dalam mempelajari dan menyelesaikan masalahBerdasarkan temuan hasil penelitian ini dapat dismpulkan bahwa model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah HAM dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII H semester genap tahun ajaran 2017/2018 di SMPN 3 Negara. Kata kunci: Pembelajar,PKn, model Pembelajaran. IMPROVEMENT OF PKN LEARNING OUTCOMES THROUGH PROBLEM BASED LEARNING MODEL CLASS VII STUDENTS IN STATE 3 STATE MIDDLE SCHOOL Abstract This Classroom Action Research (CAR), is designed to study the application of the learning model "Problem Based Learning" in enhancing the ability to understand human rights in class VII Civics students of State Junior High School 3 State of Jembrana Regency. Through this Problem Based Learning model, the relationship between students and teachers is very significant because the teacher is not considered a scary figure, but as a facilitator and partner to share experiences in accordance with the concept of creative learning, namely through discovery and invention as well as creativity and diversity, which is very supportive in this learning model. With the problem based learning model the teacher only directs effective and efficient strategies, namely learning how to Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic learn . earning how to lear. In the method of learning how to learn the teacher is only as a guide . iving directions / direction. to help students if they find difficulties in learning and solving Based on the findings of this study, it can be concluded that the Problem Based Learning model can improve students' ability to solve human rights problems in Civic Education lessons. seventh grade H students even semester of the academic year 2017/2018 at SMPN 3 Negara. Key words: Learners. Civics. Learning models. PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (Human Resource. Dalam persfektif ekonomi, pendidikan merupakan Human investment, akan dapat memberikan keuntungan yang sangat besar baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, serta dapat memberikan keunggulan komperatif dan keunggulan kompetitif sekaligus. Keberhasilan pembangunan pendidikan berdampak signifikan terhadap keberhasilan pembangunan dibidang lain, masyarakat, bangsa dan Negara. Poses belajar mengajar pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponenkomponen proses komunikasi. Guru dikatakan tidak saja semata-mata sebagai pengajar . ransfer of knowledg. , tetapi pendidik . ransfer of valu. dan sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan penghargaan dan menuntun murid dalam belajar (Sardiman, 1. Para pakar pendidikan seringkali menegaskan bahwa guru adalah sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan program pendidikan. Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konstitusi Negara Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus. Indonesia harus menghindari sistem pemerintahan yang memasung hak-hak asasi manusia, hak-hak warganegara untuk dapat menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Kehidupan yang demokratis didalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintahan, dan organisasi-organisasi non pemeritahan perlu dikenal, dipahami, diinternalisasi, dan diterapkan demi terwujudnya pelaksanaan prinsipprinsip demokrasi serta demi peningkatan martabat kemanusian, kesejahteraan, kebahagiaan, kecerdasan dan keadilan. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik, yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship Educatio. merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Anak cenderung tidak begitu tertarik dengan pelajaran PKn karena selama ini pelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PKn siswa di sekolah. Beberapa faktor yang menyebabkan hasil belajar PKn siswa rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa. Faktor internal antara lain: motivasi belajar, intelegensi, kebiasan dan rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar siswa, seperti. guru sebagai Pembina kegiatan belajar, startegi pembelajaran, sarana dan prasarana, kurikulum dan Berdasarkan masalah-masalah yang dikemukakan diatas, perlu dicari strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Pembelajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa (Focus on Learner. , memberikan pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual dalam kehidupan nyata . rovide relevant and contextualized subject matte. dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa. Disinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, ranah afektif maupun psikomotorik siswa. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan peciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn. Dalam hal ini penulis memilih model Aupembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learnin. dalam meningkatkan kemampuan pemahaman HAM dalam mata pelajaran PKn. Menurut E. Mulyana . Pembelajaran aktif dengan menciptakan suatu kondisi dimana siswa dapat berperan aktif, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator. Pembelajaran harus dibuat dalam suatu kondisi yang menyenangkan sehingga siswa akan terus termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan belajar mengajar (KBM). Dalam hal ini pembelajaran dengan Problem Based Learning sebagai salah satu bagian dari pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learnin. merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan guru disekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PKn. Berdasarkan uraian diatas maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, dirancang untuk mengkaji penerapan pembelajaran model AuProblem Based LearningAy dalam meningkatkan kemampuan pemahaman HAM dalam mata pelajaran PKn siswa kelas VII H SMP Negeri 3 Negara Kabupaten Jembrana. Minarni . menyatakan bahwa melalui pendekatan tersebut ternyata mampu meningkatkan hasil belajar PKn, disamping mampu membangkitkan motivasi belajar dan kreatifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dedi Dwitagama . dalam penelitiannya pada mata pelajaran PKn melalui pendekatan Problem Based Learning siswa kelas X SMA Negeri 3 Jakarta, menemukan bahwa melalui pendekatan tersebut ternyata mampu meningkatkan hasil belajar PKn, disamping mampu membangkitkan motivasi belajar dan kreatifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. Ciri-ciri khusus pembelajaran berdasarkan masalah menurut Arends . 1 : . berbagai pengembang pengajaran berdasarkan masalah telah memberikan model Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut (Krajcik, 1999. Krajcik. Blumenfeld. Marx, & soloway, 1994. Slavin. Maden. Dolan, & Wasik, 1992, 1994. Cognition & Technology Group at Vanderbilt, 1. Pengajuan pertanyaan atau masalah. Bukannya mengorganisasikan di sekitar prisip-prinsip atau ketrampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, ilmu-ilmu sosia. Dewey adalah metode pemecahan masalah Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku, tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya. Langkah-langkah Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pengajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Sintaks Pembelajaran Berdasarkan Masalah: Tahap-1 Orientasi siswa pada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahanmasalah yang dipilih. Tahap-2. Mengorganisasi siswa untuk belajar Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. (Sumber:Ibrahim,2. (Ratumanan, 2002 : . Menurut Arends . , pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Model pembelajaran ini juga mengacu pada model pembelajaran yang lain, seperti pembelajaran berdasarkan proyek . rojectbased instructio. , pembelajaran berdasarkan pengalaman . xperience-based instructio. , belajar otentik . uthentic learnin. dan pembelajaran bermakna . nchored instructio. Ay. Secara leksikal, konsep diartikan rancangan, proses apa yang akan digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Poerwadarminta, 1999 : . penjelasan secara leksikal tersebut menunjukan bahwa konsep diperlukan guna memahami suatu hal, ataupun benda. Untuk mempermudah alur pikir, maka dalam penulisan ini akan dibahas beberapa konsep dasar yaitu : . Meningkatkan hasil belajar, . Model Pembelajaran Problem Based Learning, . Pembelajaran PKn Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic Meningkatkan Hasil Belajar Meningkatkan berasal dari tingkat yang berarti jenjang kearah lebih tinggi, kemudian mendapat prefik dan sufik yang kemudian menjadi kata meningkatkan yang berarti menaikkan derajat/taraf, mempertinggi, mengangkat diri, memperhebat. (Tim Redaksi, 2005: 1. Terkait dengan pengertian meningkatkan hasil belajar siswa, dalam mengikuti pembelajaran PKn bagi siswa kelas VII pada Standar Kompetensi Menampilkan sikap positif terhadap perlindungan dan penegakan hak asasi manusia(HAM) diharapkan nantinya setelah selesai mengikuti pembelajaran tersebut akan tampak peningkatan pemahaman mengenai demokrasi dan adanya sikap yang lebih bijaksana dan lebih menghormati dan menghargai pendapat teman serta mengamalkan selalu dalam kehidupan sehari-hari. Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dapat dicapai siswa melalui proses belajar yang berupa pemahaman dan penerapan pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi siswa dalam kehidupannya sehari-hari serta sikap dan cara berpikir kritis dan kreatif dalam rangka mewujudkan manusia yang berkualitas, bertanggung jawab bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara serta bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hasil belajar PKn adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajara PKn berupa seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia, keragaman keyakinan . gama dan golonga. serta keragaman tingkat kemampuan intelektual dan Hasil belajar didapat baik dari hasil tes . ormatif, subsumatif dan sumati. , unjuk kerja . , penugasan (Proye. , hasil kerja . , portofolio, sikap serta penilaian diri. Untuk meningkatkan hasil belajar PKn, dalam pembelajarannya harus menarik sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Diperlukan model pembelajara interaktif dimana guru lebih banyak memberikan peran kepada siswa sebagai subjek belajar, guru mengutamakan proses daripada hasil. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara integratif dan komprehensif pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar. Agar hasil belajar PKn meningkat diperlukan situasi, cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara aktif baik pikiran, pendengaran, penglihatan, dan psikomotor dalam proses belajar mengajar. Adapun pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara totalitas adalah pembelajaran dengan Problem Based Learning. Pembelajaran dengan model Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran dimana sebelum proses belajar mengajar didalam kelas dimulai, siswa terlebih dahulu diminta mengobservasi suatu Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan yang muncul, serta mendiskusikan permasalahan dan mencari pemecahan masalah dari permasalahan Setelah itu, tugas guru adalah merangsang untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah yang ada serta mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda diantara mereka. Model Pembelajaran Problem Based Learning ( Model pembelajaran berdasarkan masala. Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic Pembelajaran dengan model Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran dimana sebelum proses belajar mengajar didalam kelas dimulai, siswa terlebih dahulu diminta mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan yang muncul, serta mendiskusikan permasalahan dan mencari pemecahan masalah dari permasalahan tersebut. Setelah itu, tugas guru adalah merangsang untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah yang ada serta mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda diantara mereka. Dari pembahasan diatas dapat diduga bahwa pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar efektif dan kreatif, diaman siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya, menemukan pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui proses bertanya, kerja kelompok, belajar dari model yang sebenarnya, bisa merefleksikan apa yang diperolehnya antara harapan dengan kenyataan sehingga peningkatan hasil belajar yang didapat bkan hanya sekedar hasil menghapal materi belaka, tetapi lebih pada kegiatan nyata . emecahan kasus-kasu. yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran . iskusi kelompok dan diskusi kela. Pembelajaran PKn Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan/reinforcement, sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persisten pada dirinya sebagai hasil pengalaman (Learning is a change of behaviour as a result of experienc. , demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari aliran Behavioural Approach. Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, mengarah kepada kesmpurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan . ognitive domai. , aspek afektif . fektive domai. maupun aspek psikomotorik . sychomotoric domai. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Pendidikan Kewarganegaraan (PK. adalah suatu bidang kajian atau bidang studi yang dikenal hanya di Indonesia yang substansi materinya terdiri dari :Hak dan Kewajiban. Konstitusi Kenegaraan. Moral dan Idiologi Kebangsaan. Tujuan Kurikuler PKn adalah untuk membekali dan membiasakan siswa untuk mampu memahami dan melaksanakan hak dan kewajiban,konstitusi kenegaraan dan moral serta idiologi kebangsaan. Teori Teori berarti pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai sesuatu peristiwa . , (Poerwadarminta,1999:1. Penelitian ini menggunakan beberapa teori guna menjawab beberapa rumusan masalah dan mempertajam analisis sebagai acuan teoritis. Teori Belajar Sosial Belajar sosial juga dikenal sebagai belajar observasional atau belajar vicarious atau belajar dari model adalah proses belajar yang muncul sebagai fungsi dari pengamatan, penguasaan dan, dalam kasus proses belajar imitasi, peniruan perilaku orang lain. Jenis belajar ini banyak diasosiasikan dengan penelitian Albert Bandura, yang membuat teori Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic belajar sosial (Bandura,1977 : . Di dalamnya ada proses belajar meniru atau menjadikan model tindakan orang lain melalui pengamatan terhadap orang tersebut. Penelitian lebih lanjut menunjukkan adanya hubungan antara belajar sosial dengan belajar melalui pengkondisian klasik dan operant. Banyak yang secara salah menyamakan belajar observasional dengan belajar melalui imitasi. Kedua istilah ini berbeda dalam arti bahwa belajar observasional mengarah pada perubahan perilaku akibat mengamati model. Ini tidak selalu berarti bahwa perilaku yang ditunjukkan orang lain diduplikasi. Bisa saja si pengamat justru melakukan sesuatu yang sebaliknya dari yang dilakukan model karena ia telah mempelajari konsekuensi dari perilaku tersebut pada si model. Dalam hal ini adalah belajar untuk tidak melakukan sesuatu dan ini berarti terjadi belajar observasional tanpa adanya imitasi. Walau belajar observasional dapat terjadi dalam setiap tahapan kehidupan, tapi terutama terjadi saat pada anak-anak, karena pada saat itu otoritas dianggap penting. Penelitian Bandura mengenai boneka Bobo merupakan demonstrasi dari belajar observasional dan ditunjukkan bahwa anak cenderung terlibat dalam perlakuan yang bengis terhadap boneka setelah melihat orang dewasa di televisi melakukan hal tersebut pada boneka yang sama. Bagimanapun, anak mungkin akan melakukan peniruan bila perilaku model mendapat penguatan. Teori belajar sosial, dapat disimpulkan sebagai berikut : . Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar, . komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku, konsekuensikonsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar. hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak . , . dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks, disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri, perlu ditumbuhkan Ausense of efficacyAy dan self regulatoryAy pembelajar, . dalam proses pembelajaran, pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik, dan AureinforcementAy /penguatan dan hindari punishment/ hukuman yang tidak perlu (Bandura,1977 : . Teori ini digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran PKn pada SMPN 3 Negara kelas VII H Semester Genap tahun pe4lajaran 2017/2018pada Standar Kompetensi Memahami sikap positif terhadap perlindungan dan penegakan hak asasi manusia(HAM) sehingga pembelajaran PKn menjadi pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan serta bermakna dan sebagai harapan terakhirnya menjadikan anak yang menghargai dan menhormati hak orang lain. Teori belajar kognitif Teori belajar kognitif dikembangkan oleh piaget. Menurut teori belajar kognitif dari Piaget seseorang tumbuh menjadi dewasa, ia akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya (Soemanto, 2006:. Ada tiga perubahan yang akan dialami, yaitu. asimilasi, akomodasi, adaptasi. Proses asimilasi terjadi jika seseorang menerima informasi baru, informasi tersebut akan dimodifikasi sehingga cocok dengan struktur kognitif yang telah dipunyainya. Selanjutnya terjadi proses akomodasi, struktur kognitif harus disesuaikan dengan informasi yang diterima. Asimilasi dan akomodasi terjadi jika seseorang terjadi konflik kognitif atau ketidakseimbangan antara apa yang diketahui dengan apa yang dilihat atau dialaminya. Dan proses adaptasi terjadi jika seseorang telah terjadi keseimbangan dalam struktur kognitif. Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic Belajar menurut Gagne bukanlah sesuatu yang terjadi secara alamiah, tetapi akan terjadi hanya akan terjadi adanya kondisi-kondisi tertentu, yaitu kondisi internal, eksternal yang merupakan situasi belajar dan penyajian stimuli yang secara sengaja diatur oleh pengajar dengan tujuan memperlancar proses belajar. Tiap-tiap jenis hasil belajar tersebut memerlukan kondisi-kondisi tertentu yang diatur dan dikontrol (Sutikno, 2007: . Menurut Gagne belajar dapat dikategorikan sebagai berikut : . Verbal information . nformasi verba. , . Intellectual Skill . kil Intelektua. , . Attitude . , . Cognitive strategi . trategi kogniti. , . ttp:// id. org/wiki/belajar-sosia. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakann penelitian tindakan kelas dimana pelaksanaan penelitiannya menetapkan setting dua siklus. Siklus pertama melaksanakan pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran Problem based learning mengadakan evaluasi. Siklus kedua masih berupa pembelajaran PKn dengan dengan metode yang sama dengan menggunakan model pembelajaran Problem based learning dengan materi yang sama dengan siklus pertama (I) Penelitian pada masing-masing siklus dilaksanakan melalui empat tahapan yaitu: perencanaan penelitian, . pelaksanaan tindakan, . evaluasi/observasi, dan . Alur penelitian seluruhnya digambarkan sebagai berikut : SIKLUS 1 SIKLUS 2 PERENCANAAN PERENCANAAN TINDAKAN I TINDAKAN II EVALUASI/OBSERVASI EVALUASI/OBSERVASI REFLEKSI REFLEKSI Jenis Penelitian dan Rencana Tindakan Rancangan Penelitian. Dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan model penelitian yang dikemukakan oleh beberapa ahli yang secara umum melalui tiga skilus dan tiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: Perencanaan, pelaksanaan tindakan, evaluasi/observasi dan refleksi dilaksanakannya siklus I diawali dengan melaksanakan tes awal/pretes Dari tes yang diperoleh akan digunakan untuk menentukan kelompok siswa dalam belajar. Siklus I Perencanaan Berdasarkan pengalaman pada proses pembelajaran sebelumnya telah diidentifikasi masalah yang berdampak pada proses pembelajaran yang tidak berkualitas. Sehubungan dengan itu siklus ini disusun rencana tindakan yang akan dilakukan. Dalam proses pembelajaran PKn dengan penggunan model pembelajaran Problem based Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic Rencana tersebut meliputi penyusunan program pembelajaran yang berupa silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pedoman observasi dan tes Berikut ini disajikan materi HAM pada pembelajaran PKn pada pelaksanaan siklus I. No. Kompetensi Hasil Belajar Indikator Alokasi Tanggal Dasar Waktu Pelaksana Menguraikan Dapat menjelaskan . Dapat menjelaskan 6 jam Januari hakekat hak asasi pengertian hak asasi . Jt. 2011 hukum, dan . Dapat (HAM) jenis-jenis hak asasi asasi manusia . Dapat Menjelaskan lahirnya perjuangan instrumenthak asasi manusia. instrument HAM . Dapat Menjelaskan di Indonesia instrumentinstrument HAM di Indonesia. Pada tahap Perencanaan dilakukan: Identifikasi masalah dan penetapan alternative pemecahan masalah. Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar. Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Memilih bahan pelajaran yang sesuai . Menentukan scenario pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dan pembelajaran berbasis masalah. (PBL). Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat Bantu yang dibutuhkan. Menyusun lembar kerja siswa . Mengembangkan format evaluasi . Mengembangkan format observasi pembelajaran. Tindakan . Menerapkan tindakan yang mengacu pada skenario pembelajaran. Siswa membaca materi yang terdapat pada buku sumber. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang terdapat pada buku . Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang dipelajari. Siswa berdiskusi membahas masalah . yang sudah dipersiapkan oleh guru. Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi. Siswa mengerjakan lembar kerja siswa (LKS). Pengamatan . Melakukan observasi dengan memakai format observasi yang sudah disiapkan yaitu dengan alat perekam, catatan anekdot untuk mengumpulkan data. Menlai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja siswa (LKS). Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic . Refleksi . Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasai mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan. Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evalusi tentang scenario pembelajaran dan lembar kerja siswa. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya. Siklus II Perencanaan . Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi dan penetapan alternative pemecahan masalah. Menentukan indikator pencapaian hasil belajar. Pengembangan program tindakan II. Tindakan Pelaksanaan program tindakan II yang mengacu pada identifikasi masalah yang muncul pada siklus I, sesuai dengan alternative pemecahan maslah yang sudah ditentukan, antara lain melalui: Guru melakukan appersepsi Siswa yang diperkenalkan dengan materi yang akan dibahas dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Siswa bertanya jawab tentang gambar . Siswa menceritakan unsure-usur Hak Asasi Manusia yang ada pada gambar. Siswa mengumpulkan bacan dari berbagai sumber, melakukan diskusi kelompok belajar, memahami materi dan menulis hasil diskusi untuk dilaporkan. Presentasi hasil diskusi. Siswa menyelesaikan tugas pada lembar kerja siswa. Pengamatan . Melakukan observasi sesuai dengan format yang sudah disiapkan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan . Menilai hasil tindakan sesuai dengan format yang sudah dikembangkan. Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus II berdasarkan data yang . Membahas hasil evaluasi tentang scenario pembelajaran pada siklus II. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai dengan hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus i . Evaluasi tindakan II Belajar PKn serasa lebih menyenangkan, meningkatkan motivasi / minat siswa, kerjasama dan partisipasi siswa semakin meningkat. Hal ini dapat diketahui melalui hasil pengamatan yang terekam dalam catatan observasi sikap dan jurnal harian, serta melalui wawancara tentang sikap siswa terhadap PKn. Bila 70% siswa telah berhasil , permasalahan kasus-kasus HAM, melalui metode Problem Based Learning, maka tindakan tersebut diasumsikan sudah berhasil. Kriteria hasil penelitian tentang penguasaan materi Ay Hak Asasi Manusia Ay dan aktivitas siswa ditetapkan sebagai berikut : Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic Table 1. Kriteria nilai penguasaan materi Ay Hak Asasi Manusia(HAM)Ay NIlai Kriteria < 5,9 Kurang 6,0 - 7,50 Sedang 7,51 - 8,99 Baik 9,00 Ae 10 Baik Sekali Table 2. Kriteria aktivitas siswa yang relevan NIlai Kriteria < 50 Kurang 60 Ae 69 Sedang 70 Ae 89 Baik 90 Ae 100 Baik Sekali Refleksi Dari hasil penelitian tindakan kelas pada siklus ini mengenai peningkatan hasil belajar siswa dilakukan perbaikan . untuk mencapai hasil yang optimal baik dalam pelaksanaan proses pembelajaran maupun model penilaian proses dan performent yang dilakukan siswa. Setelah menganalisa siklus I ada peningkatan pemahaman, dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya yang masih menggunakan metode ceramah, dibandingkan dengan siklus II hasil pemahaman siswa akan lebih meningkat melalui model problem based learning, hasi belajar siswa kelas VII H SMPN 3 Negara tahun pelajaran 2017/2018pada mata pelajaran PKn jauh lebih meningkat. Metode dan Alat Pengumpulan Data Metode Observasi. Metode observasi ini dipilih karena dalam penelitian ini dilakukan pengamatan secara langsung tentang aktivitas siswa dalam proses pembelajaran PKn dalam pencarian data dan sekaligus sebagai pemberian penilaian proses dan performent belajar siswa. Pada observasi ini untuk memperoleh data tentang peningkatan pemahaman hasil belajar siswa selama proses pembelajaran adalah pedoman observasi, tindakan pertama dan tindakan kedua. Metode Non Test . Dalam penelitian ini, penilaian non test dengan menggunakan jenis penilaian performent berdiskusi hakekat HAM. Hukum Dan Kelembagaan HAM, dengan mengunakan pengukuran ranah afektif, kognitif dan pshikomotor, serta performent setelah proses pembelajaran selesai. Perihal ini untuk memperoleh data tentang peningkatan pemahaman belajar adalah lembar penilaian, baik pada tindakan pertama maupun tindakan kedua. Metode Analisis Data Setelah data terkumpul maka data dianalisis dengan metode analisi deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyususn dalam bentuk angka prosentase mengenai keadaan suatu objek atau variable tertentu (A. Gede Agung, 1977:. Pada analisis data ini dicari prosentase dan pemahaman belajar siswa dan selanjutnya dibandingkan dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic PEMBAHASAN Pembelajaran PKn dikelas VII H semester genap tahun pelajaran 2017/2018 SMPN 3 Negara Kabupaten Jembrana dilakukan dalam dua siklus. Pada setiap siklus, data yang diambil adalah aktivitas dan nilai evalusi pada akhir siklus. Hasil Observasi aktivitas siswa dari siklus ke siklus dapat dilihat pada table-tabel berikut ini :Table 3. Data aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran. Indikator Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat Motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran ( meyelesaikan tugas mandiri atau tugas kelompok ) Interaksi siswa dalam mengikuti diskusi kelompok Hubungan siswa dengan guru selama kegiatan pembelajaran Ketercapaian Siklus I Siklus II 52,75% 69,44% 63,82% 83,35% 72,25% 75,00% 88,32% 91,66% Hubungan siswa dengan siswa lain selama pembelajaran ( Dalam 77,65% 86,11% kerja kelompo. Partisipasi siswa dalam pembelajaran . , ikut 80,55% 94,45% melakukan kegiatan kelompok, selalu mengikuti petunjuk gur. Rata AeRata 70,33% 85,55% Berdasarkan tabel 3 diatas, terlihat bahwa aktivitas siswa yang relevan dengan kegiatan pembelajaran pada siklus 2 mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus1 yaitu sebesar 12,42%. Selanjutnya data aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran terlihat pada table 4. Table 4. Data Aktivitas Siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran. Indikator Ketercapaian Siklus I Siklus II Tidak memperhatikan penjelasan guru 27,75% 13,88% Mengobrol dengan teman 19,44% 8,33% Mengerjakan tugas lain 16,60% 5,50% Rata Ae rata 21,26% 9,25% Berdasarkan tabel 4 diatas terlihat bahwa aktivitas siswa yang kurang relevan dengan kegiatan pembelajaran pada siklus 2 mengalami penurunan dibandingkan dengan siklus 1 yaitu sebesar 12,01%. Data pemahaman Siswa tentang HAM dan ketuntasan belajar dari siklus ke siklus dapat dilihat pada tabel 5 sebagai berikut. Tabel 5. Data Pemahaman Siswa tentang HAM dan ketuntasan belajar siswa . Aspek yang diamati Ketercapaian Siklus I Siklus II Nilai Rata-rata pemahaman HAM 7,01% 7,80% Siswa yang telah tuntas 74,82% 89,96% Siswa yang belum tuntas 16,52% 7,88% Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic Berdasarkan tabel 5 diatas, nilai rata-rata pemahaman siswa tentang HAM mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, begitu juga prosentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar meningkat dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 15,14%. Pembahasan Siklus pertama dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Siswa dibagi menjadi delapan kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4 - 5 orang. Setiap anggota kelompok diberi lembaran kasus yang telah disediakan oleh guru. Tiap-tiap kelompok melakukan pembahasan dengan mengacu kepada buku pegangan dan dan buku Padma. Hasil pengamatan guru menunjukan pada pembahasan siklus pertama dengan judul Kebebasan. ro dan kontra masalah jenis-jenis hak asasi manusi. , terlihat para siswa sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan dan memberikan argumentasi. Berdasarkan tabel 3 diatas terlihat keberanian siswa bertanya dan mengemukakan pendapat, rata-rata perolehan skor pada siklus pertama 52,75 % menjadi 69,44 %, mengalami kenaikan 16,69 %. Begitupun dalam indikator motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran pada siklus pertama rata-rata 63,82 % dan pada siklus kedus 83,35 % mengalami kenaikan 19,53 %. Dalam indikator interaksi siswa selama mengikuti diskusi kelompok pada siklus pertama 72,25 % dan pada siklus kedua 88,32 % mengalami kenaikan sebesar 16,07 %. Dalam indikator hubungan siswa dengan guru selama kegiatan pembelajaran, pada siklus pertama 75 % dan pada siklus kedua 91,66 % mengalami kenaikan sebesar 16,66 %. Dalam indikator hubungan siswa dengan siswa, pada siklus pertama 77,65 % sedangkan pada siklus kedua 86,11 % mengalami kenaikan sebesar 8,46 Dalam indikator partisipasi siswa dalam pembelajaraan terlihata pada siklkus pertama 80,55 %, sedangkan pada silklus kedua 94,45 % mengalami kenaikan sebesar 13,9 %. Melalui model Problem Based Learning ini terlihat hubungan siswa dengan guru sangat signifikan karena guru tidak dianggap sosok yang menakutkan tetapi sebagai fasilitator dan mitra untuk berbagi pengalaman sesuai dengan konsep kreatif learning yaitu melalui discovery dan invention serta creativity and diversity sangat menunjol dalam model pembelajaran ini. Dengan model problem based learning guru hanya mengarahkan strategi yang efektif dan efisien yaitu belajar bagaimana cara belajar ( learning how to lear. Dalam metode learning how to learn guru hanya sebagai guide . emberi arah/petunju. untuk membantu siswa jika menemukan kesulitan dalam mempelajari dan menyelesaikan Melalui metode learning how to learn siswa dapat mengeksplorasi dan mengkaji setiap persoalan, setiap kasus Ay Hak Asasi Manusia /HAM yang meliputi: Pengertian hak asasi manusia . Jenis-jenis hak asasi manusia . Sejarah lahirnya perjuangan hak asasi manusia . Instrument-instrumen tentang hak asasi manusia di Indonesia. Dalam model Problem Based Learning melalui diskusi kelompok guru dapat mengamati karakteristik atau gaya belajar masing-masing siswa. Ada kelompok siswa yang lebih suka membaca daripada dibacakan kasusnya oleh orang lain. Siswa yang lebih suka membacakan kasus dalam hal ini tergolong kepada siswa yang memiliki potensi atau modalitas visual . aya belajar visua. Sedangkan siswa yang lebih suka berdialog, saling mngajukan argumentasi dengan cara mendengarkan siswa yang lain sewaktu menyampaikan pendapatnya baru kemudian menyampaikan pendapatnya tergolong kepada siswa yang memiliki potensi atau modalitas Auditorial . aya belajar Auditoria. Vol. 1 No. 1 Juni Tahun 2020 E-ISSN: 2722-3612 http://jurnal. id/index. php/jbic Dan siswa yang dengan lugas, lincah dan fleksibel, selain melihat, mendengar uraian dari siswa yang lain, dia juga mengakomodir semua permasalahan, mampu membuktikan teori kedalam praktek, mampu memecahkan masalah secara rasional, tergolong kepada kelompok belajar yang ada di Jembrana. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pemaparan diatas, ada beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu: Skor rata-rata aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus pertama sampai siklus kedua. Pada siklus pertama keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat meningkat dari 70. 33 % menjadi 85,55 % mengalami kenaikan sebesar 15,22 % Skor rerata aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran mengalami penurunan dari siklus pertama sampai siklus kedua. Pada siklus pertama rerata skor aktivitas siswa yang tidak relevan sebesar 21,26 %, sedangkan pada siklus kedua sebesar 9,25 % mengalami penurunan sebesar 12,01 % Skor rata-rata pemahaman siswa tentang HAM, pada siklus pertama sebesar 7,01 % dan pada siklus kedua pada siklus kedua 7,80 %, tergolong baik demikian juga tentang penuntasan belajar pada siklus pertama 74,82 % dan pada siklus kedua menjadi 89,96 Berdasarkan temuan hasil penelitian ini dapat dismpulkan bahwa model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah HAM dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII H semester genap tahun ajaran 2017/2018 di SMPN 3 Negara. Berdasarkan temuan-temuan diatas, dapat disarankan agar: Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada khususnya dapat menggunkan model Problem Based Learning sebagai salah satu alternatif dalam proses penyampaian pembelajaran di Sekolah. Melalui pembelajaran model Problem Based Learning, guru dapat dengan mudah merespon potensi atau modalitas siswa daoam setiap kelompok belajar, apakah tergolong kepada kelompok Visual, atau kelompok Auditorial atau kelompok Kinestetik. Dengan demikian seorang guru yang profesional dapat elbih efektif dapat melakukan kegiatan proses belajar mengajar, serta dengan mudah dapat merespon perbedaan perbedaan potensi yang dimiliki peserta didiknya Bersyukurlah kita senantiasa kepada Ida Sang Sang Widhi Wasa agar kita dapat menuntut yang lebih baik. Bekerjalah hari ini lebih baik daripada hari kemarin, dan besok harus lebih baik daripada hari ini. Dengan demikian, maka kita termasuk orangorang yang sukses. Daftar Pustaka.