JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Analisis Fungsi Kawasan Alun-Alun sebagai Ruang Terbuka Publik di Perkotaan Namlea. Kabupaten Buru Wa Ode Sitti Jurianti Aswad. Izky Ayu Setyaningrum. , . , . Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik. Universitas Pattimura Email :sittijurianti@gmail. *,izkhyayu@gmail. ABSTRAK Alun-alun sebagai ruang terbuka publik memiliki peran penting dalam ruang kota, terutama pada wilayah perkotaan menengah yang sedang berkembang. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis fungsi kawasan Alun-alun Namlea. Kabupaten Buru, sebagai ruang terbuka publik berdasarkan tiga dimensi utama, yaitu fungsi sosial, estetika, dan Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis skoring berbasis skala Likert yang disebarkan kepada pengguna ruang. Sebanyak 96 responden dipilih sebagai sampel melalui teknik accidental Data dianalisis menggunakan perhitungan nilai rata-rata dan kategorisasi interpretatif guna mengetahui capaian fungsi ruang publik berdasarkan persepsi pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi sosial dan estetika berada pada kategori kuat dengan nilai masing-masing 3,59 dan 3,71, yang berarti bahwa kawasan alunalun telah mendukung aktivitas sosial, rekreasi, dan penyediaan identitas visual ruang. Namun, fungsi ekonomi memperoleh nilai rata-rata 2,63 dengan kategori cukup, sehingga pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi informal belum optimal akibat keterbatasan fasilitas dan penataan ruang usaha. Secara keseluruhan, hasil penelitian mengindikasikan bahwa Alun-alun Namlea telah memenuhi sebagian karakteristik ruang publik ideal, namun masih memerlukan peningkatan tata kelola, penguatan fasilitas sosial, dan strategi penataan ekonomi ruang publik agar lebih adaptif, inklusif, dan mendukung keberlanjutan fungsi kawasan. Kata Kunci : Ruang Terbuka Publik. Alun-Alun. Fungsi Sosial. Fungsi Estetika. Fungsi Ekonomi ABSTRACT Town squares as public open spaces play a significant role in the spatial structure of growing cities, particularly in medium-sized urban areas undergoing transition. This study aims to analyze the functional performance of the Namlea Town Square in Buru Regency as a public open space based on three key dimensions: social, aesthetic, and economic The research employed a quantitative approach using a Likert-scale scoring method distributed to users of the space. A total of 96 respondents were selected using accidental sampling techniques. Data were processed using descriptive analysis to determine the performance level of each functional dimension based on user perception. The results show that the social and aesthetic functions fall into the strong category, with average scores of 3. 59 and 3. indicating that the square effectively supports recreational, interaction, and visual identity functions. Meanwhile, the economic function scored 2. 63 and was categorized as moderate, suggesting that the role of the square in supporting informal economic activities remains limited due to inadequate facilities and spatial organization. Overall, the findings indicate that the Namlea Town Square partially fulfills the characteristics of an ideal public open space but still requires improvement in facility provision, spatial organization, and management strategies to ensure inclusivity, adaptability, and functional sustainability. These results contribute to the understanding of public space performance in developing medium-sized cities, especially within the context of archipelagic regions. Keywords : Public Open Space. Town Square. Spatial Function. Urban Public Space Analysis. Community Use PENDAHULUAN Ruang terbuka publik (RTP) merupakan bagian penting dari struktur kota karena menyediakan ruang interaksi sosial, rekreasi, aktivitas ekonomi informal, dan ruang ekspresi budaya masyarakat (Gupta et al. Keberadaan RTP juga memainkan peran ekologis sebagai penyeimbang sistem lingkungan kota sehingga berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat perkotaan. Menurut Qi et al. , . ruang terbuka publik yang mudah diakses, inklusif, dan ramah pengguna mampu meningkatkan kohesi sosial serta rasa memiliki terhadap lingkungan. Selain itu, kualitas desain dan tata kelola terbukti JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 memengaruhi tingkat pemanfaatan ruang publik oleh masyarakat (Ntakana et al. , 2025. Ramos-Vidal & Ossa, 2. Pada kajian ruang terbuka publik, kulitas ruang tidak hanya dinilai dari keberadaan fisiknya, tetapi juga dari kemampuan memenuhi prinsip inklusivitas, aksesibilitas, kenyamanan dan keberlanjutan. Inklusivitas. Inklusivitas merujuk pada keterbukaan ruang untuk digunakan semua kelompok tanpa hambatan atau ekklusi (UN-Habitas,2. Aksesibilitas menekankan kemudahan mencapai, masuk dan bergerak didalam sebuah ruang serta keterhubungan dengan lingkungan sekitar (Project for Public Spaces. UN-Habitat, 2. Kenyamanan mencakup rasa aman, kebersihan, ketersediaan fasilitas dasar, serta kondisi ruang yang membuat orang betah beraktivitas (Project for Public Spaces, 2. Sedangkan keberlanjutan menekankan kontribusi ruang public terhadap kualitas lingkungan juga memastikan manfaat sosialnya bertahan dalam jangka Panjang (UN-Habitas,2. Dalam konteks Indonesia, alun-alun mengandung nilai historis dan kultural sebagai ruang publik tradisional yang berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan, keagamaan, dan aktivitas sosial masyarakat (Wuisang et al. , 2. Seiring perkembangan kota-kota menengah, fungsi alun-alun mengalami transformasi menjadi ruang multifungsi yang mendukung aktivitas rekreasi, ekonomi, dan kegiatan komunitas. Namun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa ruang publik di kota kecil dan menengah masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan fasilitas, pengelolaan yang belum optimal, dan pemanfaatan yang belum sesuai fungsi idealnya. Temuan ini sejalan dengan studi Zhang & Dong, . yang menegaskan bahwa ruang publik di kota menengah memerlukan penguatan tata kelola, standar fasilitas, serta desain adaptif agar ruang tersebut lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan pengguna. Kecamatan Namlea sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Buru memiliki dua elemen ruang terbuka publik utama, yaitu Alun-Alun Kota Namlea seluas A4 ha dan Taman Al Buruuj seluas A2,8 ha. Kedua lokasi ini berada pada kawasan strategis yang dikelilingi pusat pemerintahan, kawasan pendidikan, area komersial, dan masjid agung. Berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) tahun 2017, kawasan tersebut berada pada Sub BWP 3 Blok B sebagai pusat kota, menandakan kedudukannya sebagai ruang publik inti wilayah (Bappeda Kabupaten Buru, 2. Meskipun berada pada Lokasi yang strategis, indikasi awal di lapangan menunjukan adanya perbedaan tingkat pemanfaatan ruang, variasi aktivitas penggna, serta keterbatasan fasilitas pendukung pada kawasan alun-alun, yang berpotensi mempengaruhi tingkat inklusivitas, kenyamanan dan keberlanjutan fungsi ruang publik tersebut. Hingga saat ini belum terdapat kajian empiris yang secara komprehensif menilai kondisi tersebut berdasarkan persepsi pengguna. Sejumlah penelitian sebelumnya telah menganalisis fungsi ruang publik di kota menengah, seperti studi Gupta et al. yang menekankan pentingnya integrasi fungsi sosial-ekologis, penelitian (Qi et , 2. mengenai elemen inklusivitas dan aksesibilitas, serta temuan Putra,. yang mengevaluasi kinerja alun-alun pada kota menengah di Indonesia dan menunjukan adanya perubahan penggunaan ruang dari fungsi tradisional ke penggunaan rekreatif dan komersial. Namun sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada kota daratan dengan karakteristik urban yang relatif homogen. Penelitian yang mengkaji fungsi alun-alun pada kota menengah di wilayah kepulauan, dengan karakter perkembangan kota yang bertahap dan keterbatasan infrastruktur perkotaan, masih relatif terbatas. Selain itu, kajian yang mengintegrasikan penilaian fungsi ruang terbuka publik dengan persepsi pengguna pada konteks wilayah kepulauan belum banyak dilakukan. Kondisi ini menunjukkan adanya celah penelitian baik dari aspek spasial, konteks wilayah kepulauan, maupun evaluasi fungsi aktual berdasarkan persepsi pengguna. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini tidak menempatkan kebaruan pada metode semata, melainkan pada penerapan analisis fungsi kawasan alun-alun dalam konteks kota menengah wilayah kepulauan dengan mengintegrasikan penilaian aspek inklusivitas, aksesibilitas, kenyamanan, dan keberlanjutan berdasarkan persepsi pengguna. Pendekatan ini diharapkan memberikan kontribusi ilmiah pada pengembangan teori ruang publik, khususnya terkait model pemanfaatan ruang publik di kota menengah berbasis konteks kepulauan Indonesia. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penyusunan strategi pengelolaan, peningkatan fasilitas, dan perancangan kebijakan revitalisasi ruang publik di Kabupaten Buru agar lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik analisis skoring berbasis skala Likert untuk menilai fungsi kawasan alun-alun sebagai ruang terbuka publik berdasarkan kategori JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 fungsi sosial, rekreasi, ekonomi, dan ekologis. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mengukur sejauh mana kawasan alun-alun di Kecamatan Namlea berfungsi sebagai ruang terbuka publik yang ideal sesuai prinsip inklusivitas, aksesibilitas, kenyamanan, dan keberlanjutan. DATA DAN METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif untuk mengukur dan mengevaluasi fungsi kawasan Alun-Alun Kecamatan Namlea sebagai ruang terbuka publik berdasarkan persepsi pengunjung. Pendekatan kuantitatif dipilih karena memungkinkan pengukuran yang sistematis, terukur, objektif, dan terstruktur melalui instrumen kuesioner, sedangkan metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan kondisi aktual fenomena sosial ruang publik sesuai perilaku penggunaan dan respons masyarakat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis skoring berbasis Skala Likert dengan pengolahan menggunakan Microsoft Excel. Variabel utama dalam penelitian ini adalah fungsi ruang terbuka publik yang dioperasionalisasikan menjadi tiga sub-variabel, yaitu fungsi sosial, fungsi estetika, dan fungsi ekonomi, dengan indikator dan sumber rujukan sebagaimana ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 1. Variabel dan Indikator yang Diteliti Variabel Fungsi Ruang Terbuka Publik SubVariabel Fungsi Sosial Fungsi Estetika Fungsi Ekonomi Indikator Sumber Tempat bermain, fasilitas olahraga, tempat komunikasi sosial, area tunggu/peralihan, ruang udara segar, sarana penghubung, sarana kebersihan, area perayaan/kegiatan Identitas kawasan . , citra ruang, estetika arsitektural, elemen pembentuk kreativitas dan Keberadaan fasilitas sektor informal, kelayakan kondisi fasilitas, intensitas penggunaan, jumlah aktivitas Hakim . Santoso . Ahmad . Permen PU No. 5/2008. No. 9/2012 Ahmad . Permen No. 5/2008. No. 9/2012 Populasi penelitian terdiri atas pengguna Alun-Alun Kecamatan Namlea serta pihak pemerintah terkait sebagai pemangku kebijakan, dengan jumlah populasi yang tidak diketahui. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode non-probability sampling dengan pendekatan accidental sampling, yaitu responden dipilih berdasarkan siapa saja yang ditemui di lokasi penelitian dan relevan sebagai sumber data. Jumlah sampel dihitung menggunakan metode linear time function. Pengambilan sampel dilakukan selama 2 minggu dengan pembagian dalam seminggu terdapat 2 hari kerja dan 2 hari libur dimana dalam 1 hari terdapat 6 jam waktu pengambilan sampel dengan pembagian 2 jam pada waktu pagi . 00 WIT), 2 jam pada waktu siang . 00 WIT), dan 2 jam pada waktu sore . 00 WIT). Perhitungan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ycN Oe yc0 ycu= yc1 n : jumlah sampel yang dipilih T : waktu yang tersedia untuk penelitian . hari x 24 jam/hari = 192 ja. t0 : waktu tetap pengambilan sampel . jam/hari x 8 hari = 48 ja. t1 : waktu pengisian kuesioner setiap sampel unit . ,25 jam/hati x 8 hari = 2 ja. 192 Oe 48 ycu= ycu= ycu = 54 JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini berdasarkan perhitungan sample adalah sebanyak 54 orang. jumlah ini dianggap representatif dalam menggambarkan persepsi pengguna terhadap fungsi ruang terbuka publik. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup berjumlah 44 butir pernyataan dengan skala Likert lima tingkat. Sistem penilaian skoring menggunakan ketentuan berikut: Tabel 2. Keterangan Skor Skor Keterangan Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Perhitungan skor dilakukan dengan dua rumus berbeda sesuai karakter pernyataan, yaitu skor indeks untuk pernyataan positif dan rumus terbalik untuk pernyataan negatif. Untuk mengetahui skor yang didapatkan dari respon pengunjung yang dijadikan sebagai responden, maka dapat diketahui dengan langkah-langkah sebagai berikut. Menentukan total skor maksimal = ycIycoycuyc ycoycaycoycycnycoycayco y yaycycoycoycaEa ycyceycycyycuycuyccyceycu Menentukan total skor minimal = ycIycoycuyc ycoycnycuycnycoycayco y yaycycoycoycaEa ycyceycycyycuycuyccyceycu ycycuycycayco ycycoycuyc ycycaycuyci yccycnyccycaycyycayc Skor ycycycoycoycaEa ycyycaycycaycoyceycyceyc Selanjutnya skor total diklasifikasikan menggunakan tabel interpretasi berikut: Tabel 3. Kriteria Interpretasi Skor Rentang Skor > 4,2 Ae 5,0 > 3,4 Ae 4,2 > 2,6 Ae 3,4 > 1,8 Ae 2,6 1,0 Ae 1,8 Kriteria Interpretasi Sangat kuat Kuat Cukup Lemah Sangat lemah Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap kondisi fisik kawasan alun-alun, penyebaran kuesioner kepada responden pada waktu penelitian, serta dokumentasi untuk mendukung akurasi deskripsi hasil temuan lapangan. Setelah data terkumpul, seluruh jawaban responden diolah dan dianalisis menggunakan Microsoft Excel untuk menghasilkan nilai skor indeks tiap indikator dan subvariabel sehingga dapat ditentukan tingkat fungsi sosial, estetika, dan ekonomi dari kawasan Alun-Alun Kecamatan Namlea sebagai ruang terbuka publik. Hasil akhir analisis kemudian diinterpretasikan secara deskriptif guna memberikan gambaran empiris mengenai sejauh mana kawasan alun-alun telah berfungsi sebagaimana prinsip ruang terbuka publik yang ideal. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kawasan Alun-Alun Namlea Kawasan alun-alun ini merupakan ruang terbuka publik yang ada di Desa Namlea. Kecamatan Namlea. Kabupaten Buru yang terdiri dari Alun-Alun Kota dan Taman Kota dengan luas total 6,8 Ha. Kawasan alun-alun termasuk dalam Sub-BWP 3 Blok B yang berdasarkan pada Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Wilayah Kota Namlea Tahun 2017 yaitu pusat kota dimana kawasan ini berfungsi sebagai kawasan pemerintahan yang bertujuan untuk memberikan efisiensi penggunaan kawasan perkantoran pemerintah terhadap pengembangan lingkungan kota. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian (Penulis, 2. Analisis Fungsi Kawasan Alun-alun sebagai Ruang Terbuka Publik Analisis ini dilakukan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana Alun-alun Kecamatan Namlea berfungsi sebagai ruang terbuka publik berdasarkan persepsi pengguna. Penilaian dilakukan melalui pendekatan kuantitatif menggunakan teknik analisis skoring berbasis skala Likert yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner kepada pengunjung kawasan. Analisis ini mencakup tiga dimensi utama fungsi ruang terbuka publik, yaitu fungsi sosial, fungsi estetika, dan fungsi ekonomi. Ketiga dimensi tersebut dianalisis secara terpisah untuk melihat kekuatan, kelemahan, serta aspek yang masih memerlukan peningkatan dalam pemanfaatan Alun-alun sebagai ruang publik yang ideal. Hasil analisis ini menjadi dasar dalam merumuskan rekomendasi pengembangan kawasan agar lebih inklusif, nyaman, dan fungsional bagi seluruh lapisan masyarakat. Analisis Fungsi Sosial Kawasan Alun-alun Kecamatan Namlea sebagai Ruang Terbuka Publik Salah satu komponen utama dalam evaluasi ruang terbuka publik adalah fungsi sosial karena berkaitan langsung dengan aktivitas rekreasi, interaksi dan penggunaan ruang oleh masyarakat. Ruang terbuka publik harus memampu mewadahi berbagai aktivitas sosial secara nyaman dan mudah diakses (Hakim, 1. Di Indonesia, alun-alun secara historis memang berfungsi sebagai pusat kegiatan seremonial seperti upacara dan perayaan pemerintah (Wuisang et al. , 2. Penelitian lain juga menunjukan bahwa ruang publik yang menyediakan fasilitas sosial yang memadai dan mudah digunakan dapat memperkuat kohesi sosial dan rasa memiliki terhadap lingkungan (Qi et al. , 2024. Ramos-Vidal & Ossa, 2. Pada Alun-alun Kecamatan Namlea, fungsi sosial tersebut tercermin dari aktivitas pengunjung yang datang untuk duduk, bermain, berolahraga, berinteraksi, atau sekadar singgah. Untuk mengukur sejauh mana fungsi sosial ini berjalan, dilakukan analisis skoring terhadap 22 pernyataan fungsi sosial menggunakan skala Likert, berdasarkan kuesioner yang diisi pengunjung, hasilnya menunjukkan bahwa fungsi sosial secara keseluruhan berada pada kategori kuat dengan nilai rata-rata 3,49, meskipun beberapa indikator seperti jumlah tempat bermain, fasilitas olahraga, ruang komunikasi sosial, dan sarana kebersihan masih berada pada kategori AucukupAy dan memerlukan peningkatan. Rincian hasil perhitungan fungsi sosial kawasan Alun-alun Kecamatan Namlea sebagai ruang terbuka publik disajikan pada Tabel 4. 3 berikut. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Tabel 4. Hasil Perhitungan Nilai Fungsi Sosial Kawasan Alun-alun Namlea sebagai Ruang Terbuka Publik Kode Pertanyaan No. Pertanyaan Fungsi dan Ketersediaan tempat bermain Fungsi dan Ketersediaan tempat Penggunaan sebagai tempat komunikasi Penggunaan tempat peralihan dan Penggunaan untuk tempat mendapatkan udara segar Penggunaan sebagai sarana penghubung dengan tempat lain Saran kebersihan memadai Menjadi tempat upacara kenegaraan atau perayaan pemerintah Sub-Variabel Fungsi Sosial Skor Total Nilai Ideal Nilai Hitung 3,53 3,52 Kuat 3,19 Cukup 3,58 Kuat 4,18 Kuat 3,77 Kuat 3,39 Cukup 3,56 Kuat 3,59 Kuat Hasil Kuat Gambar 2. Capaian Aspek Fungsi Sosial (Analisis Penulis, 2. Hasil analisis tersebut menunjukan bahwa berdasarkan aspek fungsi sosial Alun-Alun Namlea telah menjalankan perannya sebagai ruang terbuka publik dengan baik, dengan nilai rata-rata 3,59 yang berada pada kategori kuat. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini secara umum telah mampu mewadahi aktivitas sosial seperti rekreasi, olahraga, komunikasi sosial, transit, serta pelaksanaan kegiatan seremonial Temuan ini sejalan dengan konsep ruang publik menurut Hakim . yang menyatakan bahwa ruang terbuka publik ideal harus mendukung fungsi sosial melalui aksesibilitas, kenyamanan, serta keberagaman aktivitas. Evaluasi ini juga memperkuat pandangan Wuisang et al . bahwa alun-alun di JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga sebagai ruang identitas kultural dan pusat kegiatan masyarakat. Hal ini juga terlihat dari hasil observasi dimana masih terdapat beberapa pengunjung kawasan alunalun yang memanfaatkan fasilitas untuk kegiatan komunikasi sosial, memberi makan rusa liar yang dipelihara pemerintah, terdapat tempat bermain dengan beberapa wahana, serta fasilitas lainnya. Gambar 3. Kegiatan Sosial pada Alun-alun dan Taman Kota (Observasi Penulis,2. Namun demikian, hasil analisis juga memperlihatkan bahwa masih terdapat indikator yang berada pada kategori cukup, seperti keberagaman fasilitas komunikasi sosial dan kecukupan sarana kebersihan. Kondisi ini serupa dengan temuan Qi et al . , yang menyatakan bahwa beberapa ruang publik di kota menengah cenderung lebih kuat dalam fungsi simbolik dan aktivitas umum, tetapi masih lemah dalam penyediaan fasilitas yang lebih spesifik dan mendukung kenyamanan pengguna. Dengan demikian, meskipun fungsi sosial alun-alun sudah berjalan baik, peningkatan fasilitas fisik yang lebih terarah masih diperlukan agar ruang publik ini dapat berfungsi secara lebih optimal, inklusif, dan adaptif terhadap berbagai kelompok pengguna. Analisis Fungsi Estetika Kawasan Alun-alun Kecamatan Namlea sebagai Ruang Terbuka Publik Fungsi estetika merupakan salah satu aspek penting dalam evaluasi ruang terbuka publik karena berperan dalam membentuk citra, identitas, dan kualitas pengalaman pengguna di dalam ruang. Menurut (Santoso, 2. , ruang publik yang memiliki nilai estetika yang baik tidak hanya menjadi tempat aktivitas, tetapi juga menjadi elemen visual yang memperkuat karakter kawasan dan memberikan kenyamanan psikologis kepada penggunanya. Keberadaan landmark, elemen visual khas daerah dan tatanan ruang hijau menjadi komponen utama yang mencerminkan identitas local dalam konteks ruang publik tradisinal seperti alun-alun (Wuisang et al. , 2. Pada Alun-alun Kecamatan Namlea, fungsi estetika dapat diamati melalui keberadaan sculpture, elemen hijau, panggung kegiatan, dan beberapa elemen visual pendukung yang memperkuat karakter ruang. Untuk menilai sejauh mana aspek estetika ini berfungsi dengan baik, dilakukan analisis skoring berdasarkan tujuh indikator menggunakan skala Likert. Rincian hasil evaluasi fungsi estetika ditampilkan pada Tabel berikut. Tabel 5. Hasil Perhitungan Nilai Fungsi Estetika Kawasan Alun-alun Namlea sebagai Ruang Terbuka Publik No. Kode Pertanyaan Pertanyaan Kawasan alun-alun memiliki daya Tarik Terdapat landmark atau elemen identitas daerah pada kawasan alunalun Kawasan alun-alun dapat menjadi simbol tempat dan identitas Skor Total Nilai Ideal Nilai Hitung Hasil 3,52 Kuat 3,56 Kuat 3,98 Kuat JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 No. Kode Pertanyaan Pertanyaan Kawasan alun-alun dapat meningkatkan kreativitas dan Terdapat fasilitas untuk meningkatkan kreativitas dan Terdapat elemen pembentuk keindahan pada kawasan alun-alun Kawasan alun-alun memiliki kawasan yang indah Sub Variabel Fungsi Estetika ISSN ONLINE : 3047-2857 Skor Total Nilai Ideal Nilai Hitung Hasil 4,02 Kuat 3,43 Kuat 3,67 Kuat 3,81 Kuat 3,71 Kuat Sumber: Analisis peneliti, 2025 Gambar 4. Capaian Aspek Fungsi Estetika Alun-Alun Namlea (Analisis Penulis, 2. Berdasarkan hasil analisis, nilai rata-rata untuk fungsi estetika pada Alun-alun Namlea adalah 3,71, yang berada pada kategori kuat. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum alun-alun telah memiliki kualitas visual dan identitas kawasan yang baik, khususnya pada indikator simbol ruang (B. dan pemicu kreativitas (B. yang memperoleh nilai tertinggi, masing-masing 3,98 dan 4,02. Temuan ini menunjukkan bahwa Alun-alun Namlea dipersepsikan tidak hanya sebagai ruang aktivitas, tetapi juga sebagai bagian dari citra kota yang merepresentasikan identitas wilayah. Namun demikian, indikator terkait fasilitas estetika yang mendukung kreativitas dan produktivitas (B. memperoleh nilai relatif lebih rendah yaitu 3,43, menunjukkan bahwa meskipun secara visual kawasan sudah menarik, pengembangan elemen estetika yang lebih interaktif atau fungsional masih diperlukan. Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa fungsi estetika Alun-alun Namlea sudah berjalan dengan baik dan merepresentasikan identitas wilayah, namun masih terdapat peluang untuk peningkatan, terutama pada diversifikasi fasilitas estetika yang tidak hanya dekoratif tetapi juga meningkatkan pengalaman ruang, seperti area instalasi seni interaktif, taman tematik, atau ruang ekspresi kreatif masyarakat. Dengan demikian, peningkatan aspek estetika tidak hanya memperkuat nilai visual kawasan, tetapi juga mendukung fungsi sosial dan budaya ruang publik secara lebih holistic. Hal ini dapat dikarenakan pada kawasan alun-alun Kecamatan Namlea terdapat elemen pembentuk keindahan seperti adanya sculpture yang dapat dimanfaatkan untuk berswafoto, taman-taman kecil di sekitar lapangan, serta panggung yang cukup luas untuk kegiatan lainnya agar terhindar dari panas matahari. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Gambar 5. Fasilitas yang Mendukung Fungsi Estetika Kawasan Alun-alun Namlea (Observasi Penulis,2. Analisis Fungsi Ekonomi Kawasan Alun-alun Namlea sebagai Ruang Terbuka Publik Fungsi ekonomi merupakan salah satu dimensi penting dalam evaluasi ruang terbuka publik karena keberadaannya dapat mendukung aktivitas ekonomi informal, meningkatkan sirkulasi ekonomi lokal, serta memperluas fungsi ruang publik dari sekadar tempat berkumpul menjadi ruang produktif (Gehl, 2. Dalam konteks kota menengah di Indonesia, ruang publik seperti alun-alun sering menjadi lokasi strategis bagi pelaku usaha kecil, terutama sektor informal yang memanfaatkan tingginya aktivitas pengunjung pada waktu tertentu. Selain itu, penelitian Qi et al. menunjukkan bahwa ruang publik yang menyediakan fasilitas ekonomi seperti kios, area kuliner, dan ruang usaha fleksibel dapat meningkatkan kenyamanan pengguna dan mendorong aktivitas sosial secara berulang. Pada Alun-alun Kecamatan Namlea, keberadaan pedagang dan aktivitas ekonomi informal dapat diamati terutama pada waktu tertentu, seperti hari libur atau ketika terdapat kegiatan pemerintah. Namun, karakteristik pemanfaatan ekonomi ini belum berlangsung secara konsisten, yang mengindikasikan bahwa fungsi ekonomi belum termanfaatkan optimal. Untuk mengetahui sejauh mana fungsi ekonomi ini berjalan, dilakukan analisis skoring berdasarkan empat indikator menggunakan skala Likert, yang kemudian diolah secara kuantitatif. Hasil evaluasi fungsi ekonomi ditampilkan pada tabel berikut. Tabel 4. 1 Hasil Perhitungan Nilai Fungsi Ekonomi Kawasan Alun-alun Kecamatan Namlea sebagai Ruang Terbuka Publik No. Kode Pertanyaan Pertanyaan Kegiatan sektor informal pada kawasan alun-alun sangat Terdapat fasilitas untuk kegiatan sektor informal pada kawasan alun-alun Terdapat fasilitas untuk kegiatan sektor informal pada kawasan alun-alun Kondisi fasilitas untuk kegiatan sektor informal baik Variabel Fungsi Ekonomi Skor Total Nilai Ideal Nilai Hitung Hasil 4,06 Kuat 2,94 Cukup 2,81 Cukup 2,89 Cukup 2,63 Cukup Sumber: Analisis peneliti, 2025 JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Gambar 6. Capaian Aspek Fungsi Ekonomi Alun-Alun Namlea (Analisis Penulis, 2. Hasil analisis menunjukkan bahwa fungsi ekonomi Alun-alun Kecamatan Namlea memperoleh nilai rata-rata 2,63, yang berada pada kategori cukup. Indikator dengan nilai tertinggi adalah persepsi pentingnya sektor informal (C. dengan skor 4,06, yang menunjukkan bahwa masyarakat menilai keberadaan pedagang atau aktivitas ekonomi di alun-alun sebagai bagian penting dari pemanfaatan ruang publik. Namun, indikator lainnya, yaitu keberadaan fasilitas sektor informal (C2 dan C. serta kondisi fasilitas pendukung (C. , memperoleh skor lebih rendah dalam rentang 2,81Ae2,94, yang menunjukkan keterbatasan ruang, sarana, dan infrastruktur yang mendorong aktivitas ekonomi informal. Secara keseluruhan, hasil analisis mengindikasikan bahwa fungsi ekonomi Alun-alun Namlea sudah berjalan tetapi belum optimal. Peningkatan fasilitas untuk sektor informal, penataan zona usaha, dan penyediaan infrastruktur pendukung seperti penerangan, tempat sampah, akses listrik, dan area duduk dapat meningkatkan daya dukung ruang publik terhadap aktivitas ekonomi. Dengan demikian, fungsi ekonomi yang lebih terstruktur berpotensi mendukung keberlanjutan ruang publik sekaligus memperkuat hubungan sosial, budaya, dan ekonomi di kawasan ini. Sintesis Nilai Fungsi Ruang Terbuka Publik Kawasan Alun-Alun Namlea dan Keterkaitannya dengan Prinsip Inklusivitas. Aksesibilitas. Kenyamanan, dan Keberlanjutan Berdasarkan hasil analisis fungsi sosial, estetika, dan ekonomi, kawasan Alun-Alun di Namlea secara umum telah menunjukkan peran penting sebagai ruang terbuka publik inti di pusat kota. Ketiga fungsi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dalam membentuk kualitas ruang publik secara Oleh karena itu, pembacaan hasil penelitian perlu dilakukan secara integratif dengan mengaitkan temuan empiris pada prinsip inklusivitas, aksesibilitas, kenyamanan, dan keberlanjutan sebagai kerangka evaluasi ruang terbuka publik. Dari aspek fungsi sosial, capaian kategori kuat menunjukkan bahwa kawasan alun-alun relatif inklusif, karena mampu mewadahi beragam aktivitas masyarakat seperti rekreasi, olahraga, interaksi sosial, hingga kegiatan seremonial pemerintah. Aktivitas ini diikuti oleh berbagai kelompok usia dan latar belakang, yang mengindikasikan bahwa ruang publik tersebut terbuka bagi masyarakat luas. Namun demikian, masih ditemukannya indikator pada kategori cukup, khususnya terkait fasilitas komunikasi sosial dan sarana kebersihan, menunjukkan bahwa tingkat inklusivitas dan kenyamanan belum sepenuhnya merata bagi seluruh pengguna. Kondisi ini mengindikasikan perlunya peningkatan fasilitas dasar agar ruang publik benar-benar ramah bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pengguna dengan kebutuhan JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 Pada aspek fungsi estetika, hasil analisis yang berada pada kategori kuat menunjukkan bahwa kawasan alun-alun memiliki kualitas visual dan identitas ruang yang baik. Keberadaan elemen visual seperti sculpture, ruang hijau, dan panggung kegiatan berkontribusi terhadap kenyamanan psikologis serta memperkuat citra kawasan sebagai landmark kota. Fungsi estetika ini secara tidak langsung juga mendukung prinsip inklusivitas dan kenyamanan, karena ruang yang menarik secara visual cenderung mengundang lebih banyak pengguna untuk datang dan beraktivitas. Namun, terbatasnya fasilitas estetika yang bersifat interaktif menunjukkan bahwa aspek kenyamanan dan pengalaman ruang masih dapat ditingkatkan agar tidak hanya bersifat visual, tetapi juga fungsional bagi berbagai aktivitas masyarakat. Sementara itu, dari sisi fungsi ekonomi, hasil penelitian menunjukkan capaian kategori cukup, yang menandakan bahwa peran ekonomi kawasan alun-alun belum berkembang optimal. Meskipun masyarakat memandang aktivitas sektor informal sebagai elemen penting ruang publik, keterbatasan fasilitas dan penataan ruang usaha menyebabkan fungsi ekonomi belum sepenuhnya mendukung prinsip keberlanjutan. Kondisi ini berimplikasi pada rendahnya kenyamanan baik bagi pedagang maupun pengunjung, serta berpotensi menimbulkan konflik pemanfaatan ruang jika tidak dikelola dengan baik. Penataan aktivitas ekonomi yang lebih terstruktur dan terintegrasi diperlukan agar fungsi ekonomi dapat berjalan seimbang dengan fungsi sosial dan estetika tanpa mengurangi kualitas ruang publik. Secara keseluruhan, hasil sintesis menunjukkan bahwa kawasan Alun-Alun Namlea telah memenuhi sebagian besar prinsip ruang terbuka publik yang ideal, terutama pada aspek inklusivitas sosial dan kualitas Namun demikian, aspek aksesibilitas internal, kenyamanan fasilitas pendukung, serta keberlanjutan fungsi ekonomi masih memerlukan penguatan. Integrasi ketiga fungsi ruang publik dengan prinsip inklusivitas, aksesibilitas, kenyamanan, dan keberlanjutan menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas Alun-Alun Namlea sebagai ruang terbuka publik yang adaptif, berdaya guna, dan berkelanjutan bagi perkembangan kota. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kawasan Alun-Alun di Namlea telah berfungsi sebagai ruang terbuka publik dengan capaian yang bervariasi pada setiap aspek fungsi. Fungsi sosial dan estetika berada pada kategori kuat, yang menunjukkan bahwa kawasan ini relatif inklusif dalam mewadahi berbagai aktivitas masyarakat seperti interaksi sosial, rekreasi, olahraga, serta kegiatan seremonial, sekaligus mampu menghadirkan kualitas visual dan identitas ruang yang mendukung kenyamanan psikologis pengguna. Kondisi tersebut menegaskan peran alun-alun sebagai ruang publik utama yang terbuka bagi beragam kelompok masyarakat dan berkontribusi terhadap pembentukan citra kawasan pusat kota. Namun demikian, fungsi ekonomi masih berada pada kategori cukup, yang mengindikasikan bahwa potensi alun-alun sebagai ruang pendukung aktivitas ekonomi informal belum dimanfaatkan secara optimal. Keterbatasan fasilitas, lemahnya penataan ruang usaha, serta belum terintegrasinya aktivitas ekonomi dengan fungsi sosial dan estetika berdampak pada menurunnya kenyamanan dan berpotensi menghambat keberlanjutan pemanfaatan ruang publik dalam jangka panjang. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ruang publik telah hidup secara sosial dan visual, aspek keberlanjutan ekonomi dan tata kelola ruang masih memerlukan penguatan. Secara keseluruhan, temuan penelitian menunjukkan bahwa Alun-Alun Namlea telah memenuhi sebagian prinsip ruang terbuka publik yang ideal, khususnya dari sisi inklusivitas sosial dan kualitas Namun, prinsip aksesibilitas internal, kenyamanan fasilitas pendukung, serta keberlanjutan fungsi ekonomi belum sepenuhnya tercapai secara seimbang. Hasil ini sejalan dengan temuan Gupta et al. Qi et al. Gehl . , dan Putra . yang menekankan bahwa kualitas ruang publik tidak hanya ditentukan oleh intensitas aktivitas, tetapi juga oleh integrasi fungsi sosial, visual, ekonomi, dan tata kelola yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini merekomendasikan agar pengelolaan kawasan alun-alun diarahkan pada peningkatan fasilitas dasar dan aksesibilitas ruang, penguatan area interaksi sosial dan ruang hijau untuk meningkatkan kenyamanan, serta penataan aktivitas ekonomi informal melalui zonasi dan aturan operasional yang jelas guna mendukung keberlanjutan ruang publik. Penelitian selanjutnya dapat JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 2 No. 2 DESEMBER 2025 ISSN ONLINE : 3047-2857 mengembangkan pendekatan yang lebih mendalam melalui behavior mapping, studi komparatif dengan alun-alun di kota menengah lainnya, atau integrasi analisis spasial untuk memperkuat perumusan kebijakan pengembangan ruang terbuka publik yang lebih inklusif, nyaman, dan berkelanjutan di masa mendatang. DAFTAR PUSTAKA