Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Pengaruh Fraud Diamond Terhadap Kecurangan Laporan Keuangan Organisasi Dinyatakan dalam Pemantauan Khusus yang Terdaftar di BEI (Periode 2021-2. Ahmad Khutsil Atok. Bambang Minarso. Retno Indah Hernawati. Agung Prajanto. Universitas Dian Nuswantoro 212202104404@mhs. id1, bambang. minarso@dsn. hernawati@dsn. id3, agung. prajanto@dsn. ABSTRACT. Financial statements are the basis for economic decisions for various stakeholders, but they are often manipulated through financial statement fraud, misleading statements, omission of material facts, or manipulation of accounting data. The Fraud Diamond Theory adds the capability element to the Fraud Triangle . ressure, opportunity, rationalizatio. , emphasizing that fraud occurs only if the perpetrator also has the technical ability and position to carry it out. This study explores the influence of four factors: financial targets (ROA), ineffective monitoring (BDOUT), audit opinion, and change in directors on fraud, as measured by the F-Score. This study will use a quantitative approach, focusing on industrial sector organizations classified as special monitoring on the IDX for the 2021-2023 period. Using a purposive sampling method, a total of 36 data sets were collected for this study. The purpose of this analysis is to answer the study's hypotheses by applying structural equation modeling. After reviewing the research findings, the conclusion is that elements of company management and financial performance have varying impacts on the potential for financial statement manipulation, which is assessed using the F-Score model. Research data shows that financial targets (ROA), weak oversight (BDOUT), and audit opinions do not significantly impact the F-Score. Meanwhile, changes in the board of directors have a significant positive impact on the FScore. This finding suggests that only director changes directly increase the risk of financial statement fraud, while performance targets, the oversight framework, and auditor assessments are inadequate indicators of fraud in the F-Score model. Keywords: Financial Targets. Oversight Ineffectiveness. Audit Opinion. Board of Directors Changes ABSTRAK. Laporan keuangan ialah dasar keputusan ekonomi bagi berbagai pemangku kepentingan, namun sering kali dimanipulasi melalui financial statement fraud, penyajian menyesatkan, penghilangan fakta material, atau manipulasi data akuntansi. Fraud Diamond Theory menambah elemen capability ke dalam Fraud Triangle . ressure, opportunity, rationalizatio. , menegaskan bahwa fraud terjadi hanya jika pelaku juga memiliki kemampuan teknis serta posisi guna Studi ini mengeksplorasi pengaruh empat faktor berupa financial target (ROA), ineffective monitoring (BDOUT), audit opinion, serta pergantian direksi . hange in directo. terhadap fraud yang diukur dengan F-Score. Studi ini akan menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan fokus pada organisasi sektor industri yang tergolong dalam pemantauan khusus di BEI 4168 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. perode 2021-2023. Dengan menggunakan metode purposive sampling, total 36 set data telah dikumpulkan guna studi ini. Tujuan analisis ini ialah guna menjawab hipotesis studi dengan Setelah penelitian, kesimpulan yang didapat adalah bahwa elemen-elemen perusahaan serta performa finansial memberikan dampak yang beragam pada potensi terjadinya manipulasi laporan keuangan, yang dinilai menggunakan model F-Score. Data penelitian memperlihatkan bahwa sasaran finansial (ROA), pengawasan yang lemah (BDOUT), dan juga opini audit tidak menunjukkan dampak yang kuat terhadap F-Score, sementara itu, perubahan dampak positif yang signifikan pada nilai FScore. Penemuan ini memberikan petunjuk bahwa hanya penggantian direktur yang secara langsung menaikkan risiko terjadinya kecurangan pada laporan keuangan, sedangkan target perf orma, kerangka pengawasan, serta penilaian auditor tidak memadai sebagai indikator kecurangan dalam model F-Score. Kata kunci: Target Keuangan. Ketidakefektivan Penagwasan. Opini Audit. Perubahan Direksi PENDAHULUAN Laporan finansial merupakan salah satu reservoir informasi fundamental yang dimanfaatkan oleh beragam konstituensi dalam formulasi determinasi ekonomis. Akan tetapi, laporan finansial acap kali menjadi objek manipulatif atau penipuan yang dikenali dengan terminologi financial statement fraud. Fraudulensi ini dapat berupa presentasi informasi yang keliru, eliminasi fakta materiil, atau manipulasi data akuntansi yang bermaksud mendistorsi konsumen laporan finansial demi profit spesifik (Ufiana & Triyanto, 2. Dalam eksaminasi akademis, teori Fraud Diamond menjadi salah satu konstruksi yang ekstensif diaplikasikan untuk menganalisis kausalitas terjadinya fraud laporan finansial. Teori ini merupakan elaborasi dari Fraud Triangle dengan mengakomodasi elemen capability . apabilitas perpetrato. sebagai faktor keempat yang mengkomplementasi tiga faktor anteseden yakni pressure . , opportunity . , serta rationalization . Dengan menginkorporasikan faktor kapabilitas, teori ini menjelaskan bahwa tidak semua individu yang memiliki presi serta probabilitas akan mengeksekusi fraud, melainkan hanya mereka yang juga memiliki kapabilitas untuk mengaktualisasikannya (Lamawiatak & Goo, 2. Laporan finansial merupakan refleksi performansi serta kondisi ekonomis suatu entitas yang memiliki signifikansi vital bagi beragam konstituensi, mulai dari kapitalis, lembaga pemberi kredit, hingga administrasi negara, dalam mengformulasikan determinasi ekonomi yang akurat. Presisi serta integritas laporan finansial ialah landasan kepercayaan dalam sistem pasar kapital. Namun, tidak jarang laporan finansial dipresentasikan tidak kongruen dengan realitas sesungguhnya akibat praktik fraudulensi atau manipulasi yang diidentifikasi sebagai financial statement fraud. Fraudulensi ini dapat berupa penyajian informasi yang mendistorsi, eliminasi fakta substansial, atau manipulasi data akuntansi dengan intensi untuk menipu konsumen 4169 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. laporan finansial serta memperoleh benefit spesifik. Fenomena financial statement fraud telah menjadi konsentrasi serius di seluruh dunia karena implikasinya yang destruktif, tidak hanya bagi entitas yang terlibat tetapi juga bagi reputasi pasar kapital secara Kasus-kasus penipuan laporan keuangan telah meluas dalam berbagai bidang industri, termasuk manufaktur dan pertambangan. Di Indonesia, sejumlah entitas industri masuk dalam daftar pemantauan khusus oleh regulator pasar modal akibat indikasi praktik kecurangan dalam laporan keuangan. Contohnya, manipulasi nilai persediaan dan laba di beberapa perusahaan manufaktur dan pertambangan yang berujung pada kerugian investor dan menurunnya kepercayaan publik. Studi ini mengacu pada kriteria entitas yang masuk pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia periode 2021-2023, dengan tiga entitas tercatat, yaitu Harapan Duta Pertiwi Tbk. Personel Alih Daya Tbk. , dan Multi Makmur Lemindo Tbk . umber: IDX). Dari beberapa kriteria pemantauan khusus IDX, satu aspek mengaitkan ketiga entitas ini yakni harga saham rata-rata di pasar reguler atau pasar periodik di bawah Rp 51. 000, likuiditas rendah dengan nilai rata-rata harian di bawah Rp 5. 000, serta volume perdagangan kurang dari 10. 000 selama tiga bulan terakhir, sehingga dikategorikan dalam pemantauan khusus. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan audit terakhir mereka menerima opini tidak berpendapat . , yang berpotensi membuka peluang terjadinya tindakan penipuan dalam organisasi tersebut. Fenomena ini menggambarkan bahwa kecurangan laporan keuangan bukan sekadar persoalan individual, melainkan juga risiko sistemik yang berpotensi mengancam stabilitas pasar modal dan keberlangsungan entitas. Oleh sebab itu, pemahaman mendalam mengenai faktor pemicu fraud sangat penting untuk upaya pencegahan dan deteksi yang efektif. Terdapat berbagai determinan yang mampu memengaruhi terjadinya financial statement fraud, di antaranya financial target, pengawasan yang tidak efektif, opini audit, serta pergantian direksi. Salah satu pemicu utama fraud laporan keuangan ialah target keuangan yang dicanangkan oleh manajemen dan dewan direksi entitas. Target keuangan ini, yang biasanya merujuk pada sasaran laba atau tingkat pengembalian yang diharapkan dalam jangka waktu tertentu, dapat menimbulkan tekanan yang signifikan bagi manajemen. Saat target laba tersebut terlalu ambisius atau sulit dicapai secara realistis, khususnya dalam situasi ekonomi yang lesu, manajemen mungkin terdorong untuk "mempercantik" laporan keuangannya. Upaya ini dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk manipulasi, seperti menyembunyikan kerugian, mempermainkan pendapatan, atau menggelembungkan aset, semata-mata untuk menunjukkan bahwa target keuangan telah terpenuhi. Beberapa penelitian empiris telah mengeksplorasi kaitan antara financial target dan financial statement fraud, walaupun hasilnya menunjukkan variasi. Meihendri et al. serta Khamainy dan Setiawan . menyatakan bahwa financial target berkontribusi terhadap terjadinya fraud laporan 4170 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Namun, terdapat inkonsistensi dalam temuan dari Istikhoroh et al. dan Chantia et al. yang menyatakan bahwa financial target tidak berpengaruh pada financial statement fraud. Variabel berikutnya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah dampak pengawasan yang tidak efektif terhadap financial statement fraud. Financial statement fraud atau kecurangan laporan keuangan merupakan suatu bentuk manipulasi yang sangat merugikan berbagai entitas, khususnya investor, kreditur, serta pemangku kepentingan lainnya. Fraud ini terjadi saat manajemen atau elemen internal organisasi secara sengaja memanipulasi data keuangan untuk menggambarkan kondisi finansial entitas secara keliru. Fenomena tersebut tidak hanya merusak reputasi organisasi tetapi juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan serta mengganggu kestabilan pasar modal. Dalam konteks tersebut, pengawasan internal menjadi suatu mekanisme penting dalam mengantisipasi serta mendeteksi kecurangan. Namun, ketidakefektifan pengawasan kerap kali menjadi celah yang dimanfaatkan para pelaku fraud untuk memanipulasi laporan keuangan. Ketidakefektifan pengawasan dapat diartikan sebagai lemahnya fungsi kontrol internal, minimnya keterlibatan aktif dari dewan komisaris, khususnya komisaris independen, serta kurang optimalnya peran komite audit dalam mengawasi aktivitas manajerial. Berdasarkan tinjauan literatur yang dilakukan oleh Andriani et al. dan Achmad et al. , ditemukan bahwa ineffective monitoring berkontribusi terhadap financial statement fraud. Namun, temuan studi empiris lain dari Putri dan Asmara . serta Anisyakurillah et al. menunjukkan bahwa ineffective monitoring tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap financial statement Variabel berikutnya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah dampak pengawasan yang tidak efektif terhadap financial statement fraud. Financial statement fraud atau kecurangan laporan keuangan merupakan suatu bentuk manipulasi yang sangat merugikan berbagai entitas, khususnya investor, kreditur, serta pemangku kepentingan lainnya. Fraud ini terjadi saat manajemen atau elemen internal organisasi secara sengaja memanipulasi data keuangan untuk menggambarkan kondisi finansial entitas secara keliru. Fenomena tersebut tidak hanya merusak reputasi organisasi tetapi juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan serta mengganggu kestabilan pasar modal. Dalam konteks tersebut, pengawasan internal menjadi suatu mekanisme penting dalam mengantisipasi serta mendeteksi kecurangan. Namun, ketidakefektifan pengawasan kerap kali menjadi celah yang dimanfaatkan para pelaku fraud untuk memanipulasi laporan keuangan. Ketidakefektifan pengawasan dapat diartikan sebagai lemahnya fungsi kontrol internal, minimnya keterlibatan aktif dari dewan komisaris, khususnya komisaris independen, serta kurang optimalnya peran komite audit dalam mengawasi aktivitas manajerial. Berdasarkan tinjauan literatur yang dilakukan oleh Andriani et al. dan Achmad et al. , ditemukan bahwa ineffective monitoring berkontribusi terhadap financial statement fraud. Namun, temuan studi empiris lain dari 4171 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Putri dan Asmara . serta Anisyakurillah et al. menunjukkan bahwa ineffective monitoring tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap financial statement Variabel berikutnya dalam kerangka fraud diamond adalah opini audit. Opini audit atau pendapat auditor merupakan penilaian profesional yang diberikan oleh auditor setelah melakukan evaluasi atas kewajaran penyajian laporan keuangan suatu entitas sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Pendapat ini menjadi salah satu indikator krusial dalam mengukur kredibilitas laporan keuangan sekaligus menjadi fokus utama bagi pemangku kepentingan seperti investor, regulator, dan manajemen entitas. Dalam ranah fraud laporan keuangan . inancial statement frau. , korelasi antara opini audit dan terjadinya manipulasi menjadi isu yang menarik sekaligus signifikan untuk ditelaah, sebab opini auditor dapat mencerminkan tingkat efektivitas pengawasan serta kemampuan deteksi terhadap manipulasi laporan keuangan (Friska & Sari, 2. Berdasarkan kajian literatur dan temuan empiris, hubungan antara opini audit dan financial statement fraud menunjukkan hasil yang beragam. Studi yang dilakukan oleh Dashtbayaz et al. dan Khamainy et al. menyatakan bahwa opini audit memiliki pengaruh terhadap terjadinya financial statement fraud. Namun, temuan empiris lain menyampaikan bahwa opini audit tidak memberikan dampak signifikan terhadap financial statement fraud (Eksandy & Sari, 2022. Haq & Rahardjo, 2. Kerangka fraud diamond pun meramalkan dampak perubahan direksi terhadap financial statement fraud. Dalam ranah entitas sektor industri, khususnya yang terdaftar dalam pengawasan khusus oleh otoritas pasar modal, potensi terjadinya fraud laporan keuangan menjadi fokus perhatian utama. Salah satu faktor yang diduga memiliki pengaruh signifikan terhadap kemunculan financial statement fraud ialah pergantian atau rotasi anggota dewan direksi . hange in director. Direksi sebagai pimpinan puncak memegang peranan fundamental dalam pengambilan keputusan strategis maupun operasional entitas, sehingga pergantian anggota direksi dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap tata kelola dan integritas pelaporan keuangan. Lebih jauh, pergantian direksi yang sering dan tidak terstruktur berpotensi menimbulkan ketidakpastian serta gangguan dalam mekanisme pengawasan internal, yang pada gilirannya melemahkan kontrol serta membuka celah bagi praktik fraud. Sebaliknya, pergantian yang dilakukan dengan maksud memperkuat kapabilitas dan integritas manajemen dapat mereduksi risiko terjadinya kecurangan. Temuan empiris memperlihatkan inkonsistensi terkait pengaruh change in director terhadap financial statement fraud, dengan hasil yang menunjukkan adanya pengaruh (Pratiwi et al. , 2022. Setyono et al. , 2. serta tidak adanya pengaruh (Khamainy & Setiawan, 2022. Artanti et al. , 2. Penerapan teori Fraud Diamond dalam kerangka organisasi sektor industri yang termasuk dalam pemantauan khusus sangat relevan mengingat kompleksitas 4172 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. karakteristik industri serta intensitas tekanan bisnis yang tinggi dapat mengakselerasi risiko munculnya kecurangan laporan keuangan. Selain itu, pengawasan ketat oleh otoritas pasar modal menuntut entitas agar bersikap lebih transparan dan akuntabel dalam menyusun pelaporan keuangannya. Penelitian ini mengadopsi Fraud Diamond Theory untuk menganalisis variabel-variabel seperti target keuangan, ketidakefektifan pengawasan, opini audit, serta pergantian direksi terhadap kecurangan laporan keuangan pada entitas yang masuk dalam pemantauan khusus di Bursa Efek Indonesia (BEI). Entitas yang terdaftar dalam papan pemantauan khusus umumnya memiliki keadaan finansial atau operasional yang terganggu, sehingga memiliki risiko lebih besar terhadap praktik fraud laporan keuangan. Tekanan untuk memenuhi sasaran laba atau performa keuangan kerap kali mendorong manajemen melakukan manipulasi. Studi ini menunjukan bahwa target keuangan secara signifikan memperbesar risiko terjadinya fraud, terutama manakala target tersebut tidak realistis atau terlalu ambisius. Kelemahan dalam sistem pengawasan, seperti minimnya proporsi komisaris independen atau tidak efektifnya komite audit, memberikan celah bagi praktik manipulasi. Ketidakefektifan pengawasan berkontribusi positif terhadap fraud karena membuka peluang bagi manajemen untuk melakukan kecurangan tanpa terdeteksi. Opini audit wajar tanpa pengecualian tidak selalu menjamin ketiadaan fraud, sebab opini audit hanya menilai kewajaran penyajian, tidak secara spesifik mendeteksi kecurangan. Oleh karena itu, para pemangku kepentingan tidak seharusnya semata-mata mengandalkan opini audit untuk menilai integritas laporan keuangan. Pergantian direksi dapat menjadi sinyal adanya fraud, baik sebagai upaya menutupi fraud yang telah terjadi sebelumnya maupun akibat tekanan dan ketidakstabilan dalam kepemimpinan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji dampak financial target, ineffective monitoring, audit opinion, serta change in director terhadap financial statement fraud pada organisasi sektor industri yang masuk dalam pemantauan khusus BEI periode 2021-2023. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, pendekatan yang akan diterapkan adalah pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder yang diambil dari annual report . aporan tahuna. entitas, dengan sumber data berasal dari situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI). Metode analisis yang akan digunakan dalam kajian ini adalah regresi linier berganda, dengan perangkat analisis yang diaplikasikan berupa program SPSS. Populasi yang menjadi fokus penelitian adalah entitas yang beroperasi di sektor industri dan telah masuk dalam daftar pemantauan khusus serta tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada rentang waktu 2021-2023. Penelitian ini menggunakan teknik pemilihan sampel berupa probability sampling, di mana seluruh entitas yang masuk pemantauan khusus pada periode 2021-2023 sebanyak 12 entitas dijadikan sampel penelitian. 4173 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Tabel 1. Penarikan Sampel Keterangan Jumlah Organisasi dalam pemantauan Menggunakan mata uang rupiah (-. Organisasi yang melaporakan laporan keuangan secara berkala (-. Sampel Riset Total sampel . x kurun waktu rise. x3 tahu. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL RISET Statistik Deskriptif Tabel 2. Statistik Deskriptif Variabel Min Max Mean ROA BDOUT 0,015 0,167 0,458 0,500 0,113 0,343 Standard Deviation 0,109 0,087 0,000 1,000 0,694 0,461 0,000 1,000 0,333 0,471 0,100 0,864 0,327 0,139 Sumber: Olah Data Sekunder, 2025 Pada tahun 2022. Return on Assets (ROA) mencatatkan nilai terendah sebesar 0,015 yang dimiliki oleh PT Primarindo Asia Infrastructure, sementara nilai tertinggi sebesar 0,458 juga dimiliki oleh entitas yang sama. Nilai ROA yang dianggap ideal berada di atas 0,0598, sehingga nilai maksimum yang tercapai itu menandakan performa yang berada dalam kisaran ideal. Rata-rata nilai ROA tercatat sebesar 0,113 dengan standar deviasi sebesar 0,109. Fakta bahwa standar deviasi lebih rendah daripada rata-rata mengindikasikan adanya variasi yang rendah dalam distribusi data variabel ROA. Pada tahun 2021, nilai minimum rasio BDOUT tercatat sebesar 0,167 pada PT Graha Layar Prima, sedangkan nilai maksimum sebesar 0,500 dicapai oleh PT Intermedia Capital pada Nilai BDOUT mendekati 0,20 menandakan tingkat penyimpangan yang rendah dalam pemantauan, sedangkan nilai di atas 0,603 menunjukkan potensi fraud. 4174 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Dalam kajian ini, nilai maksimum BDOUT sebesar 0,500 mengindikasikan penyimpangan data yang rendah selama pemantauan. Rata-rata variabel BDOUT adalah 0,343 dengan standar deviasi 0,087, yang mana standar deviasi yang lebih rendah daripada rata-rata menunjukkan variasi yang minimal dalam persebaran data BDOUT. Pada tahun 2021, variabel Audit Opinion menunjukkan nilai minimum 0, yang dimiliki oleh PT Anugerah Kagum Karya Utama, sementara nilai maksimum 1 terdapat pada PT Mahaka Media pada tahun yang sama. Nilai rata-rata Audit Opinion adalah 0,694 dengan standar deviasi 0,461. Standar deviasi yang lebih rendah dari rata-rata ini mengindikasikan penyebaran data yang kompak pada variabel AO. Tahun 2021 juga mencatat nilai Change in Director sebesar 0 pada PT Mahaka Media, sedangkan tahun 2023 menampilkan nilai maksimum 1 pada PT Globe Kita Terang. Masa jabatan biasanya berkisar antara 3 hingga 5 tahun, sehingga pergantian setiap tahun menunjukkan indikasi ketidakstabilan internal Dalam studi ini, organisasi menunjukkan stabilitas pergantian direktur, yang menandakan tidak adanya indikasi ketidakstabilan organisasi. Rata-rata nilai variabel Change in Director adalah 0,333 dengan standar deviasi 0,471, di mana standar deviasi yang lebih tinggi dari rata-rata menandakan variasi persebaran data yang tinggi pada variabel ini. Tahun 2022. Fraud Score mencatat nilai minimum 0,100 milik PT Anugerah Kagum Karya Utama, sedangkan nilai maksimum 0,864 dimiliki oleh PT Ricky Putra Globalindo. Organisasi diduga melakukan kecurangan laporan keuangan apabila skor Fraud Score melebihi nilai 1. sebaliknya, nilai di bawah 1 menunjukkan ketidakmungkinan memprediksi keterlibatan dalam kecurangan. Dalam penelitian ini, skor maksimum 0,864 mengindikasikan bahwa organisasi-organisasi tersebut tidak menunjukkan keterlibatan dalam fraud. Nilai rata-rata Fraud Score adalah 0,327 dengan standar deviasi 0,139. Standar deviasi yang lebih kecil daripada rata-rata menandakan variasi persebaran data yang rendah pada variabel Fraud Score. Analisis Outer Model Gambar 1. Outer Model 4175 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Sumber: Olah Data Sekunder, 2025 Convergent Validity Tabel 3. Outer Loadings Variabel ROA BDOUT ROA 1,000 BDOUT 1,000 1,000 1,000 1,000 Sumber: Olah Data Sekunder, 2025 Penilaian validitas konvergen, sebagaimana dijelaskan pada Tabel 3, dilakukan dengan menganalisis beban keluaran yang terkait dengan setiap variabel dalam model Suatu indikator dianggap berhasil ketika tekanan eksternalnya melebihi 0,70. Informasi yang dipaparkan dalam tabel menghasilkan bahwa setiap variabel yang diteliti dalam studi ini memiliki beban yang melebihi 0,70, sehingga mengonfirmasi bahwa semua variabel memenuhi kriteria validitas konvergen. Composite Reliability ROA BDOU Tabel 4. Construct Reliability and Validity Cronbac rho_A Composite Average Variance h's Alpha Reliability Extracted (AVE) 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 Sumber: Olah Data Sekunder, 2025 Berdasarkan hasil yang disajikan pada Tabel 4, setiap variabel yang dianalisis dalam riset ini memenuhi persyaratan reliabilitas komposit serta nilai rata-rata varians yang diekstraksi (AVE). Reliabilitas kolektif guna semua variabel melampaui 0,70, serta nilai AVE juga melampaui 0,50. Selain itu, perhitungan Cronbach's Alpha guna setiap variabel berada di atas 0,70, menghasilkan bahwa semua konstruk dalam riset ini mencerminkan tingkat reliabilitas yang dapat diterima, sebagaimana diverifikasi dengan mematuhi semua kriteria penilaian reliabilitas yang diaplikasikan. 4176 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Discriminant Validity Tabel 5. Cross Loading Varia BDO ROA BDOU 1,00 1,00 0,172 0,30 1,00 0,062 1,00 0,214 0,04 0,219 ROA 0,16 1,00 0,248 0,059 0,087 Sumber: Olah Data Sekunder, 2025 Kriteria Fornell-Larcker diaplikasikan guna mengevaluasi validitas diskriminan. Berdasarkan pendekatan ini, akar kuadrat Average Variance Extracted (AVE) guna setiap variabel harus melampaui korelasinya dengan variabel lain (Hair dkk. , 2. Selain itu, nilai AVE keseluruhan guna setiap variabel berperan sebagai indikator korelasi yang lebih reliabel dengan variabel lain. Hasil penilaian ini disajikan pada Tabel 5. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semua variabel yang dianalisis dalam riset ini signifikan, karena memenuhi kriteria signifikansi diskriminan. Analisis Inner Model Gambar 2. Inner Model Sumber: Olah Data Sekunder, 2025 4177 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. R-Square Tabel 6. R-Square Variabel R Square Fraud Score (Y) 0,155 Sumber: Olah Data Sekunder, 2025 Hasil perhitungan R-kuadrat yang dipaparkan pada Tabel 6 menghasilkan bahwa variabel eksternal yang diteliti dalam riset ini secara signifikan memengaruhi variabel Fraud Score (Y), mewakili 15,5% dari total varians. Sisanya diatribusikan kepada variabel lain yang tidak termasuk dalam cakupan riset ini. F-Square Tabel 7. f-Square Variabel BDOUT CD OA ROA BDOUT 0,001 0,108 0,055 ROA 0,017 Sumber: Olah Data Sekunder, 2025 Tujuan F-kuadrat ialah guna menilai sejauh mana konstruk prediktor memengaruhi konstruk endogen. Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 7, nilai F-kuadrat menghasilkan bahwa BDOUT berkontribusi sebesar 0,001 terhadap R-Kuadrat Fraud Score. Change in Director berkontribusi sebesar 0,108 terhadap R-Kuadrat Fraud Score. Lebih lanjut, hubungan antara Opini Audit serta R-Kuadrat Fraud Score terkuantifikasi sebesar 0,055 sementara ROA berkontribusi terhadap R-Kuadrat Fraud Score sebesar 0,017. Pengujian Hipotesis Tabel 8. Path Coefficient Original Sample Standard T Statistics P Values Sample Mean Deviation (|O/STDEV|) (O) (M) (STDEV) X1 -> Y (H. -0,119 -0,093 0,168 0,708 0,479 X2 -> Y (H. -0,070 -0,065 0,182 0,384 0,701 X3 -> Y (H. -0,058 -0,003 0,447 0,129 0,898 X4 -> Y (H. 0,987 0,979 0,305 3,235 0,001 Sumber: Olah Data Sekunder, 2025 Hasil yang dipaparkan pada Tabel 8 menghasilkan bahwa, guna mengevaluasi hipotesis riset, nilai statistik-T harus melebihi 1,96, sesertagkan nilai-P harus di bawah 4178 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. 0,05. Berdasarkan temuan pengujian hipotesis mengenai pengaruh langsung, kesimpulan berikut dapat ditarik: Nilai T-Statistik sebesar 0,708, yang menunjukkan hubungan antara Financial Target serta Financial Statement Fraud, menunjukkan arah negatif dengan Nilai-P sebesar 0,479. Berdasarkan data ini, terlihat bahwa nilai T-Statistik berada di bawah 1,96, sementara Nilai-P melebihi 0,05. Atas temuan demikian, dapat disimpulkan bahwa Financial Target tidak memengaruhi Financial Statement Fraud (Tolak Ha serta Terima H. Nilai T-Statistik sebesar 0,384, yang menunjukkan hubungan antara Ineffective Monitoring serta Financial Statement Fraud, menunjukkan arah negatif dengan Nilai-P sebesar 0,701. Berdasarkan data ini, terlihat bahwa nilai T-Statistik berada di bawah 1,96, sementara Nilai-P melebihi 0,05. Atas temuan demikian, dapat disimpulkan bahwa Ineffective Monitoring tidak memengaruhi Financial Statement Fraud (Tolak Ha serta Terima H. Nilai T-Statistik sebesar 0,129, yang menunjukkan hubungan antara Audit Opinion serta Financial Statement Fraud, menunjukkan arah negatif dengan Nilai-P sebesar 0,898. Berdasarkan data ini, terlihat bahwa nilai T-Statistik berada di bawah 1,96, sementara Nilai-P melebihi 0,05. Atas temuan demikian, dapat disimpulkan bahwa Audit Opinion tidak memengaruhi Financial Statement Fraud (Tolak Ha serta Terima H. Nilai T-Statistik sebesar 3,235, yang menunjukkan hubungan antara Change in Director serta Financial Statement Fraud, menunjukkan arah positif dengan Nilai-P sebesar 0,001. Berdasarkan data ini, terlihat bahwa nilai T-Statistik berada di atas 1,96, sementara Nilai-P kurang dari 0,05. Atas temuan demikian, dapat disimpulkan bahwa Change in Director berpengaruh positif signifikan terhadap Financial Statement Fraud (Terima Ha serta Tolak H. PEMBAHASAN Pengaruh Financial Target (X. terhadap Financial Statement Fraud (Y) Penelitian yang mengkaji pengaruh financial target yang diproksikan melalui Return on Assets (ROA) terhadap financial statement fraud dengan menerapkan model F-Score menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Temuan ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Istikhoroh et al. dan Chantia et al. yang menyimpulkan bahwa financial target tidak memiliki dampak terhadap financial statement fraud. Hasil ini bertentangan dengan harapan teoretis yang mengemukakan bahwa tekanan untuk mencapai target keuangan seharusnya mendorong manajemen melakukan praktik kecurangan dalam laporan keuangan (Chandara & Mulyani, 2. Fenomena tidak berpengaruhnya ROA terhadap financial statement fraud dapat dijelaskan dari beberapa sudut pandang akademis. Pertama, dari aspek performa organisasi. ROA yang tinggi mencerminkan kapasitas manajemen dalam mengelola aset secara efektif untuk 4179 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. menghasilkan laba yang optimal. Ketika ROA organisasi tinggi, ini menandakan operasi berjalan optimal dan manajemen tidak mengalami tekanan berlebih yang memicu perilaku fraud. Kedua. ROA tinggi justru dapat menurunkan motivasi manajemen untuk memanipulasi laporan keuangan karena kinerja aktual sudah memuaskan ekspektasi para pemangku kepentingan. Ketiga, keberadaan pengendalian internal yang efektif berperan sebagai moderator hubungan antara tekanan finansial dan kecenderungan fraud, di mana sistem pengawasan yang baik mampu menekan peluang kecurangan walau terdapat tekanan target keuangan. Dalam konteks model F-Score yang dikembangkan oleh Dechow dkk. , temuan ini semakin diperkuat karena model tersebut lebih menitikberatkan pada komponen spesifik seperti kualitas akrual dan perubahan pada akun-akun tertentu seperti piutang, persediaan, dan penjualan tunai. Model F-Score menunjukkan bahwa hanya variabel tertentu seperti perubahan penjualan tunai (Change in Cash Sale. yang signifikan dalam mendeteksi fraud, sementara indikator agregat kinerja keuangan seperti ROA tidak menjadi prediktor kuat dalam model ini. Hal ini menggambarkan bahwa sensitivitas model F-Score berbeda dibandingkan proxy deteksi fraud lainnya dalam menangkap sinyal manipulasi laporan Pengaruh Ineffective Monitoring (X. terhadap Financial Statement Fraud (Y) Penelitian yang mengkaji pengaruh ineffective monitoring yang diukur melalui Board of Directors Outside (BDOUT) terhadap financial statement fraud menggunakan model F-Score menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Temuan ini sejalan dengan studi Putri dan Asmara . serta Anisyakurillah et al. yang menyatakan bahwa ineffective monitoring yang diwakili oleh BDOUT tidak berpengaruh terhadap Fraud Score. Fenomena tidak adanya dampak BDOUT terhadap financial statement fraud dapat dianalisis dari berbagai perspektif akademis mendalam. Pertama, dari sudut pandang kualitas versus kuantitas pengawasan, keberadaan komisaris independen secara kuantitatif yang banyak tidak selalu mencerminkan efektivitas pengawasan secara Kedua, faktor intervensi dan independensi substantif menjadi esensial dalam interpretasi temuan ini. Meskipun secara formal ada komisaris independen dalam struktur organisasi, efektivitas pengawasan bisa terhambat oleh intervensi yang menyebabkan hilangnya objektivitas pada pengawasan yang dilakukan. Situasi ini menandakan bahwa independensi formal tidak selalu sejalan dengan independensi substantif dalam praktik. Ketiga, kompleksitas struktur organisasi kontemporer menjadikan pengawasan tidak hanya bergantung pada kuantitas komisaris independen, tetapi juga faktor seperti kompetensi, pengalaman, dan integritas komisaris tersebut. Keempat, kemajuan sistem pengendalian internal dan tata kelola korporasi yang semakin canggih mengarah pada peran komisaris independen yang lebih terspesialisasi dan tidak Temuan ketidakberpengaruhannya BDOUT terhadap fraud juga dapat dipahami dalam konteks 4180 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. evolusi tata kelola perusahaan di Indonesia. Regulasi terkait komisaris independen telah berkembang pesat sehingga mayoritas entitas publik memiliki proporsi komisaris independen yang sesuai standar regulasi. Dalam kondisi demikian, variasi BDOUT antar entitas menjadi relatif kecil sehingga tidak mampu menjelaskan variasi kejadian fraud secara signifikan. Selain itu, orientasi pada kepatuhan regulasi formal sering kali tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas substantif fungsi pengawasan, sehingga peran BDOUT cenderung bersifat simbolis daripada fungsional. Pengaruh Audit Opinion (X. terhadap Financial Statement Fraud (Y) Penelitian yang mengkaji dampak opini audit terhadap kecurangan laporan keuangan yang terdeteksi melalui model F-Score menghasilkan temuan empiris yang menyatakan tidak terdapat pengaruh signifikan. Hasil ini selaras dengan temuan dalam studi Eksandy & Sari . serta Haq & Rahardjo . yang juga mengemukakan bahwa opini audit tidak memengaruhi fraud score. Fenomena ini dapat dianalisis melalui beberapa perspektif teoretis dan praktis yang mendalam. Pertama, segi keterlambatan waktu dan sifat retrospektif opini audit menjadi faktor utama. opini audit diberikan berdasarkan pemeriksaan laporan keuangan yang sudah disusun, sehingga lebih bersifat retrospektif dibandingkan prediktif. Sebaliknya, model F-Score berupaya mengidentifikasi kemungkinan kecurangan yang mungkin sudah terjadi atau akan terjadi dengan menganalisis pola dalam data keuangan. Perbedaan temporal ini menjelaskan mengapa opini audit kurang efektif sebagai prediktor dalam model F-Score. Kedua, opini audit menitikberatkan pada salah saji material dan kepatuhan terhadap standar akuntansi, sementara deteksi kecurangan melalui F-Score lebih sensitif terhadap manipulasi halus dan manajemen laba yang mungkin tidak mencapai ambang materialitas dalam opini audit. Ketiga, faktor toleransi auditor dan pertimbangan profesional memegang peranan penting dalam penentuan opini audit. Studi menunjukkan auditor sering memberikan toleransi terhadap tingkat tertentu dari manajemen laba, selama tidak melanggar standar akuntansi secara material. Kondisi ini dapat menghasilkan opini audit yang "bersih" meskipun model F-Score mendeteksi indikasi manipulasi. Keempat, orientasi pada kepatuhan regulasi membuat auditor lebih fokus pada kepatuhan terhadap aturan dibandingkan mengendus skema kecurangan canggih yang secara teknis patuh tetapi secara ekonomi menyesatkan. Temuan bahwa opini audit tidak berpengaruh terhadap fraud dapat juga dipahami melalui evolusi teknik kecurangan yang semakin kompleks. Skema fraud modern dirancang untuk menghindari pemicu modifikasi opini audit sambil tetap mencapai tujuan manipulasi. Teknik seperti channel stuffing, transaksi bill-and-hold, dan pengakuan pendapatan kompleks dapat menyesatkan pengguna laporan tanpa menghasilkan opini audit yang dikualifikasi. Dalam konteks ini, model kuantitatif seperti F-Score mungkin lebih efektif mengidentifikasi pola halus yang tidak terdeteksi oleh prosedur audit Penelitian yang mengkaji dampak opini audit terhadap kecurangan laporan 4181 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. keuangan yang terdeteksi melalui model F-Score menghasilkan temuan empiris yang menyatakan tidak terdapat pengaruh signifikan. Hasil ini selaras dengan temuan dalam studi Eksandy & Sari . serta Haq & Rahardjo . yang juga mengemukakan bahwa opini audit tidak memengaruhi fraud score. Fenomena ini dapat dianalisis melalui beberapa perspektif teoretis dan praktis yang mendalam. Pertama, segi keterlambatan waktu dan sifat retrospektif opini audit menjadi faktor utama. opini audit diberikan berdasarkan pemeriksaan laporan keuangan yang sudah disusun, sehingga lebih bersifat retrospektif dibandingkan prediktif. Sebaliknya, model F-Score berupaya mengidentifikasi kemungkinan kecurangan yang mungkin sudah terjadi atau akan terjadi dengan menganalisis pola dalam data keuangan. Perbedaan temporal ini menjelaskan mengapa opini audit kurang efektif sebagai prediktor dalam model F-Score. Kedua, opini audit menitikberatkan pada salah saji material dan kepatuhan terhadap standar akuntansi, sementara deteksi kecurangan melalui F-Score lebih sensitif terhadap manipulasi halus dan manajemen laba yang mungkin tidak mencapai ambang materialitas dalam opini audit. Ketiga, faktor toleransi auditor dan pertimbangan profesional memegang peranan penting dalam penentuan opini audit. Studi menunjukkan auditor sering memberikan toleransi terhadap tingkat tertentu dari manajemen laba, selama tidak melanggar standar akuntansi secara material. Kondisi ini dapat menghasilkan opini audit yang "bersih" meskipun model F-Score mendeteksi indikasi manipulasi. Keempat, orientasi pada kepatuhan regulasi membuat auditor lebih fokus pada kepatuhan terhadap aturan dibandingkan mengendus skema kecurangan canggih yang secara teknis patuh tetapi secara ekonomi menyesatkan. Temuan bahwa opini audit tidak berpengaruh terhadap fraud dapat juga dipahami melalui evolusi teknik kecurangan yang semakin kompleks. Skema fraud modern dirancang untuk menghindari pemicu modifikasi opini audit sambil tetap mencapai tujuan manipulasi. Teknik seperti channel stuffing, transaksi bill-and-hold, dan pengakuan pendapatan kompleks dapat menyesatkan pengguna laporan tanpa menghasilkan opini audit yang dikualifikasi. Dalam konteks ini, model kuantitatif seperti F-Score mungkin lebih efektif mengidentifikasi pola halus yang tidak terdeteksi oleh prosedur audit tradisional. Pengaruh Change in Director (X. terhadap Financial Statement Fraud (Y) Pergantian anggota direksi (Change in Directo. telah terbukti memberi dampak positif dan signifikan terhadap kemunculan kecurangan laporan keuangan yang terdeteksi melalui model F-Score. Secara empiris, hasil ini konsisten dengan temuan dalam studi Pratiwi et al. serta Setyono et al. yang menjelaskan bahwa pergantian direksi berkontribusi positif signifikan terhadap fraud score. Fenomena ini dapat dipahami dalam kerangka Fraud Diamond Theory, di mana pergantian direksi memicu interaksi dinamis antara komponen fraud diamond. Elemen capability . tercermin dari kompetensi dan otoritas manajemen dalam melaksanakan skema kecurangan. Pada situasi pergantian direksi, manajemen puncak sering menguasai 4182 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. akses penuh terhadap proses akrual dan informasi keuangan, sehingga memiliki keahlian teknis dan kewenangan yang cukup untuk melaksanakan manipulasi laporan tanpa hambatan berarti. Interaksi elemen-elemen inilah yang menjelaskan alasan mengapa pergantian direksi secara signifikan meningkatkan risiko fraud: tekanan kinerja baru, celah dalam pengendalian internal, pembenaran tindakan, dan kapabilitas teknis manajemen secara simultan menciptakan kondisi ideal bagi kecurangan laporan Model F-Score yang sensitif terhadap perubahan akrual dan komponen keuangan lainnya mampu mengidentifikasi pola manipulasi tersebut dan menampilkan peningkatan skor fraud selama momen pergantian direksi. Pergantian anggota direksi terbukti memiliki pengaruh positif signifikan pada skor F-Score, yakni model deteksi kecurangan yang peka terhadap manipulasi akrual dan pola keuangan. Setiap kali terjadi pergantian direksi, skor F-Score cenderung naik sebagai indikasi probabilitas fraud yang lebih besar. Hal ini terjadi karena proses pergantian direksi memunculkan tekanan . untuk menunjukkan kinerja cepat di hadapan pengambil keputusan baru, menciptakan peluang . akibat celah pengendalian internal selama transisi, memperkuat rasionalisasi . dengan alasan menjaga citra organisasi di mata direksi baru, serta mengoptimalkan kemampuan . teknis dan akses manajemen terhadap laporan keuangan untuk mengeksekusi manipulasi. Sinergi keempat elemen Fraud Diamond tekanan, peluang, rasionalisasi, dan kemampuan menjelaskan secara komprehensif mengapa pergantian direksi mendorong kenaikan skor F-Score sebagai tanda indikatif terjadinya fraud. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa variabel-variabel tata kelola dan kinerja keuangan memberikan dampak yang beragam terhadap probabilitas terjadinya kecurangan laporan keuangan seperti yang diukur melalui model F-Score. Pertama, financial target yang diwakili oleh ROA tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap skor F-Score, menandakan bahwa pencapaian profitabilitas aset tidak secara langsung mendorong manipulasi akrual untuk tujuan penipuan. Kedua, ineffective monitoring yang diindikasikan oleh proporsi dewan komisaris independen (BDOUT) juga tidak berkontribusi signifikan terhadap skor F-Score, mengimplikasikan bahwa sekadar jumlah komisaris independen tidak memadai sebagai ukuran efektivitas pengawasan dalam menghalau fraud. Ketiga, audit opinion, baik qualified maupun unqualified, tidak memberikan pengaruh signifikan pada skor F-Score, menegaskan keterbatasan opini audit dalam menangkap manipulasi halus yang belum mencapai ambang material Keempat, hanya pergantian anggota direksi . hange in directo. yang memperlihatkan pengaruh positif dan signifikan pada skor F-Score, yang mengindikasikan bahwa pergantian kepemimpinan memicu tekanan, membuka peluang 4183 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. kontrol yang longgar, serta memfasilitasi manipulasi akrual yang terdeteksi oleh model Secara menyeluruh, temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan deteksi fraud yang lebih holistik dengan mengintegrasikan analisis kuantitatif F-Score bersama faktor-faktor tata kelola dan dinamika organisasi guna memahami dan mengurangi risiko kecurangan laporan keuangan. Saran Penelitian selanjutnya dianjurkan memperluas cakupan proksi tata kelola organisasi melampaui proporsi komisaris independen (BDOUT) dengan memasukkan indikator kualitas komite audit, frekuensi dan efektivitas rapat dewan, serta independensi substantif dari manajemen. Peneliti juga disarankan menguji peran mediasi dari sistem pengendalian internal serta moderasi budaya etika organisasi atau integritas manajemen dalam kaitannya dengan skor F-Score, serta menerapkan desain penelitian longitudinal dan lintas sektor untuk menangkap dinamika temporal dan variasi antara industri. Penggunaan metode campuran kuantitatif-kualitatif dengan menggabungkan analisis F-Score bersama wawancara mendalam atau studi kasus memungkinkan pengungkapan mekanisme terperinci pelaksanaan kecurangan, sementara eksplorasi variabel tekanan tambahan seperti tekanan pasar modal, tingkat leverage organisasi, atau target non-keuangan serta variabel capability seperti profil keahlian dan pengalaman tim keuangan akan memperkaya pemahaman tentang faktorfaktor pendorong fraud. Dari perspektif praktik organisasi, sangat penting memperkuat sistem pengendalian internal dengan penerapan teknologi analitik untuk mendeteksi anomali akrual secara real time, khususnya selama masa transisi direksi. Organisasi perlu merancang protokol manajemen perubahan dan transfer pengetahuan yang menyeluruh agar pergantian anggota direksi tidak menimbulkan kelemahan kontrol, sekaligus meningkatkan kompetensi dan akses auditor internal maupun eksternal pada area penyesuaian akrual berisiko tinggi. Struktur tata kelola harus diperkuat dengan penekanan pada independensi substantif serta pelatihan berkelanjutan bagi dewan komisaris dan komite audit agar memahami risiko fraud secara mendalam. Selain itu, penguatan kode etik, sistem pelaporan anonim . , serta kampanye Autone at the topAy akan membatasi ruang bagi rasionalisasi tindakan kecurangan, sementara integrasi model F-Score ke dalam dashboard manajemen risiko yang dipadukan dengan data non-keuangan seperti tingkat perputaran staf keuangan akan meningkatkan sensitivitas dalam mendeteksi fraud. Penelitian selanjutnya dianjurkan memperluas cakupan proksi tata kelola organisasi melampaui proporsi komisaris independen (BDOUT) dengan memasukkan indikator kualitas komite audit, frekuensi dan efektivitas rapat dewan, serta independensi substantif dari manajemen. Peneliti juga disarankan menguji peran mediasi dari sistem pengendalian internal serta moderasi budaya etika organisasi atau integritas manajemen dalam kaitannya dengan skor F-Score, serta menerapkan desain penelitian longitudinal dan lintas sektor untuk menangkap dinamika 4184 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. temporal dan variasi antara industri. Penggunaan metode campuran kuantitatif-kualitatif dengan menggabungkan analisis F-Score bersama wawancara mendalam atau studi kasus memungkinkan pengungkapan mekanisme terperinci pelaksanaan kecurangan, sementara eksplorasi variabel tekanan tambahan seperti tekanan pasar modal, tingkat leverage organisasi, atau target non-keuangan serta variabel capability seperti profil keahlian dan pengalaman tim keuangan akan memperkaya pemahaman tentang faktorfaktor pendorong fraud. Dari perspektif praktik organisasi, sangat penting memperkuat sistem pengendalian internal dengan penerapan teknologi analitik untuk mendeteksi anomali akrual secara real time, khususnya selama masa transisi direksi. Organisasi perlu merancang protokol manajemen perubahan dan transfer pengetahuan yang menyeluruh agar pergantian anggota direksi tidak menimbulkan kelemahan kontrol, sekaligus meningkatkan kompetensi dan akses auditor internal maupun eksternal pada area penyesuaian akrual berisiko tinggi. Struktur tata kelola harus diperkuat dengan penekanan pada independensi substantif serta pelatihan berkelanjutan bagi dewan komisaris dan komite audit agar memahami risiko fraud secara mendalam. Selain itu, penguatan kode etik, sistem pelaporan anonim . , serta kampanye Autone at the topAy akan membatasi ruang bagi rasionalisasi tindakan kecurangan, sementara integrasi model F-Score ke dalam dashboard manajemen risiko yang dipadukan dengan data non-keuangan seperti tingkat perputaran staf keuangan akan meningkatkan sensitivitas dalam mendeteksi fraud. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas proksi tata kelola organisasi melebihi proporsi komisaris independen (BDOUT) dengan memasukkan indikator kualitas komite audit, frekuensi dan efektivitas rapat dewan, serta independensi substantif manajemen. Peneliti juga dianjurkan menguji peran mediasi sistem pengendalian internal dan moderasi budaya etika organisasi atau integritas manajemen terkait skor F-Score, serta menggunakan desain longitudinal dan lintas sektor untuk menangkap dinamika temporal dan perbedaan antar industri. Pendekatan metode campuran kuantitatif-kualitatif yang menggabungkan analisis FScore dengan wawancara mendalam atau studi kasus dapat mengungkap mekanisme fraud secara lebih rinci, sedangkan eksplorasi variabel tekanan tambahan seperti tekanan pasar modal, leverage organisasi, target non-keuangan, serta variabel capability seperti keahlian dan pengalaman tim keuangan akan memperkaya pemahaman tentang pemicu fraud. Dari sisi praktik organisasi, penting memperkuat sistem pengendalian internal dengan penerapan teknologi analitik guna deteksi anomali akrual secara real time, terutama selama masa transisi direksi. Organisasi perlu merancang protokol manajemen perubahan dan transfer pengetahuan komprehensif agar pergantian anggota direksi tidak membuka celah kontrol, sekaligus meningkatkan kompetensi dan akses auditor internal serta eksternal pada area penyesuaian akrual berisiko tinggi. Struktur governance harus dipertegas dengan fokus pada independensi substantif dan pelatihan berkelanjutan bagi dewan komisaris dan komite audit agar memahami risiko fraud 4185 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Vol 7 No 11 . 4168 Ae 4188 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. secara mendalam. Selain itu, penguatan kode etik, sistem pelaporan rahasia . , serta kampanye Autone at the topAy akan mengurangi ruang rasionalisasi kecurangan, sementara integrasi model F-Score ke dalam dashboard manajemen risiko yang dikombinasikan dengan data non-keuangan seperti tingkat perputaran staf keuangan akan meningkatkan sensitivitas deteksi fraud. DAFTAR PUSTAKA