JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI, Vol. No. 1 ,Juli 2024 p-ISSN : 1979-116X . e-ISSN : 2621-6248 . Doi : 10. 51903/kompak. http://journal. id/index. php/kompak Analisis Permasalahan Pengangguran Di Indonesia Suci Frisnoiry 1. Harry M. Sihotang2. Nazwah Indri3. Tiolina Munthe4 Universitas Negeri Medan Medan, 085262805337, e-mail: sucifrisnoiry@unimed. Universitas Negeri Medan Medan, 082111925393, e-mail: sihotangmarcel05@gmail. ARTICLE INFO Article history: Received 30 Mei 2024 Received in revised form 2 Juni 2024 Accepted 10 Juni 2024 Available online 1 Juli 2024 ABSTRACT This study aims to identify the factors that influence the unemployment rate and its impact on the economic and social welfare of the The research method uses a literature study. The findings show that factors such as inequality in labor supply and demand, government policies that are less pro-people, and population growth are the main causes of high unemployment. Although the government has taken measures, such as the allocation of funds for handling COVID-19 and incentive programs, the decline in unemployment has not been significant. Recommendations include policies that support increased employment, investment in education and skills training, gender inclusion in the workforce, and cooperation between the government, private sector and civil society to create sustainable With these measures. Indonesia is expected to reduce its unemployment rate and create a more stable and inclusive economy. Keywords: Unemployment. Indonesia. Covid19. Labor Market. Youth Pendahuluan Pengangguran merupakan isu krusial dalam bidang ekonomi yang memengaruhi stabilitas sosial dan ekonomi suatu negara. Setiap negara di dunia tentu menghadapi masalah pengangguran termasuk indonesia, yang selalu menjalankan berbagai program untuk menekan angka pengangguran. Badan Pusat Statistik . menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 7,86 juta, dari total 147,71 juta angkatan kerja. Angka tersebut turun 0,54 persen dibandingkan pada tahun 2022 yang mencapai 8,42 juta orang. Hal ini merupakan suatu pencapaian, namun juga menimbulkan pertanyaan mengapa peningkatan ini tidak dapat terjadi Berdasarkan analisa terhadap beberapa artikel yang turut membahas dan memaparkan hasil pengamatan tentang peningkatan ini, ditunjukkan bahwa pandemi covid yang sempat melanda juga menjadi salah satu alasan, mengapa angka pengangguran begitu tinggi. Pandemi COVID-19 mempengaruhi sektor perekonomian di Indonesia, yang terdampak oleh penurunan permintaan dan penawaran. Penurunan ini mengakibatkan peningkatan tingkat pengangguran. Received Mei 23, 2024. Revised Juni 2, 2024. Accepted Juni 22, 2024 n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 yang menurun dari 5,23% pada Agustus 2019 menjadi 7,07% pada Agustus 2020. Pada saat pandemi covid melanda banyak tenaga kerja yang kesulitan mendapat kerja dan banyak pula yang harus di PHK . engakhiran hubugan kerj. Hal ini dikarenakan keadaan ekonomi berbagai sektor ekonomi dan industri yang mengakibatkan banyak perusahaan atau tempat yang mempekerjakan tenaga kerja memilih melakukan pemangkasan jumlah karyawan guna menjaga dan mempertahankan kestabilan Perusahaan sehingga membawa dampak yang cukup besar di awal tahun 2020 hingga akhir tahun 2022. Namun setelah pandemi surut. Indonesia perlahan bangkit, kebangkitan ini ditandai dengan terjadinya penurunan angka pengangguran, seperti yang sebelumnya telah dipaparkan bahwa melalui data dari BPS . adan pusat stasisti. ada penurunan angka pengangguran per bulan agustus tahun 2022. Meski tidak begitu signifikan, namun hal ini merupakan salah satu pencapaian yang baik di saat negara lain berusaha bangkit, indonesia sudah mulai bertumbuh. Dengan kata lain bahwa negara kita mengambil satu langkah dalam langkah mempertahankan, menstabilkan, dan meningkatkan perekonomian. Namun jika kita kembali ke masa sebelum pandemi kita mendapati bahwa ternyata angka pengangguran di Indonesia sebelum pandemi ternyata juga sudah termasuk tinggi bahkan angka 7,86 juta pada tahun 2023 lebih tinggi dibanding dengan angka sebelum pandemi tepatnya pada Februari tahun 2020 yang hanya 6,93 juta orang. Pengangguran atau seseorang menjadi seorang pengangguran bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Terbatasnya lapangan kerja, banyak dan ketatnya persaingan di dunia pekerjaan, tidak adanya skill yang dimiliki untuk ditawarkan kepada pihak yang hendak merekrut juga menjadi alasan mengapa angka pengangguran masih begitu ini menjadi landasan bahwa diperlukan analisa mendalam terkait permasalahan peningkatan dan solusi untuk menekan angka pengangguran ini. Badan Pusat Statistik (BPS) . , nilai Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia dari tahun 2016 hingga 2019 juga mengalami penurunan yang positif, menunjukkan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja oleh pasar. Namun, penyumbang tertinggi terhadap nilai TPT adalah golongan pemuda khususnya usia 15-24 tahun yang merupakan angkatan kerja yang belum sepenuhnya terserap oleh pasar kerja. Salah satunya adalah kesenjangan antara kualifikasi yang dimiliki lulusan SMK dengan kebutuhan sektor industri dan dunia usaha. Hal ini seringkali mengakibatkan rendahnya daya serap lulusan oleh pasar kerja, terutama jika kompetensi yang diajarkan tidak sejalan dengan tuntutan dan perkembangan industri. Data ini mencerminkan pentingnya penyusunan kebijakan pembangunan ketenagakerjaan yang memperhatikan kondisi pemuda yang masih menghadapi tantangan dalam memasuki dunia kerja. Selain itu, penting juga untuk mempertimbangkan peran serta dunia usaha dalam merancang kurikulum dan memberikan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja. Peningkatan kualitas pendidikan menengah kejuruan harus didukung oleh kolaborasi yang erat antara lembaga pendidikan, industri, dan pemerintah untuk memastikan bahwa lulusan SMK memiliki keterampilan yang sesuai dengan permintaan pasar kerja. Lebih lanjut, analisis data TPT menunjukkan perbedaan antara pemuda di perkotaan dan pedesaan, menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan konteks lokal dalam upaya mengatasi masalah pengangguran. Perbandingan situasi pengangguran di Indonesia dengan negara-negara sejenis seperti Amerika Serikat. Jepang, dan Singapura memberikan konteks yang lebih luas dalam memahami tantangan dan solusi yang mungkin efektif. Negara-negara maju cenderung menghadapi masalah pengangguran yang lebih terkait dengan dinamika bisnis dan kegiatan ekonomi, sementara negara-negara berkembang seperti Indonesia menghadapi tantangan yang lebih kompleks seperti kurangnya investasi, kurangnya lapangan kerja yang memadai, serta masalah sosial dan politik internal yang seringkali tidak stabil. Analisis ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang bagaimana dampak COVID-19 dan kondisi ekonomi memengaruhi dinamika pasar kerja di Indonesia khususnya diantara kalangan Selain itu, studi ini juga berupaya membandingkan kondisi sebelum dan selama pandemi untuk menilai efektivitas kebijakan yang diterapkan dalam mengurangi pengangguran. Dengan memahami beragam faktor yang terlibat, dapat dirumuskan rekomendasi yang lebih holistik dan solusi yang berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan pengangguran yang dihadapi. Metode Penelitian JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Juli 2024 : 365 Ae 374 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 n Penelitian ini menggunakan metode studi literatur yang merupakan pendekatan kualitatif untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpetasikan data yang berasal dari sumbersumber literatur yang sudah ada. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam mengenai permasalahan pengangguran di Indonesia dengan menganalisis faktorfaktor yang memengaruhi Tingkat pengangguran termasuk aspek ekonomi, sosial, dan kebijakan pemerintah yang relevan dari 1 dekade terakhir. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi dampak yang ditimbulkan oleh Tingkat pengangguran terhadap kesejahteraan ekonomi dan sosial Masyarakat Indonesia. Terakhir, tujuan penelitian ini juga mencakup identifikasi celah dalam literatur yang ada dan menyarankan arah penelitian masa depan yang dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang penyebab dan solusi terhadap masalah pengangguran di Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribuasi yang signifikan dalam pemahaman dan penanganan permasalahan pengangguran yang kompleks di Indonesia. Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah laporan dari Badan Pusat Statistika (BPS) dan artikel ilmiah. Dalam penelitian ini, sumber data utamanya berasal dari data statistik resmi yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia. Data yang diperoleh dari BPS dianggap sebagai sumber informasi yang terpercaya dan menjadi dasar utama untuk analisis mengenai tingkat pengangguran di Indonesia. Selain itu, informasi tambahan diperoleh dari artikel-artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal internasional yang memiliki reputasi yang baik, seperti Elsevier, dan jurnal nasional yang terindeks di Sinta (Science and Technology Inde. Data-data ini digunakan untuk mendukung analisis yang telah dilakukan. Literatur yang diikutsertakan dalam analisis ini adalah dokumen yang diterbitkan dalam kurun waktu 1 dekade terakhir untuk memastikan data yang diolah akurat dan relevan. Proses analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang relevan dari sumber-sumber yang telah disebutkan sebelumnya. Data-data tersebut kemudian dianalisis secara statistik deskriptif untuk mengidentifikasi pola dan tren yang berkaitan dengan tingkat pengangguran di Indonesia. Analisis ini juga mencakup perbandingan antara data sebelum dan sesudah pandemi COVID-19, dimana hal ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak pandemi terhadap pasar tenaga kerja di Indonesia. Selain analisis statistik, metode penelitian ini juga melibatkan interaksi dengan para ahli ekonomi dan tenaga kerja melalui wawancara. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh pandangan dan wawasan yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi tingkat pengangguran serta efektivitas dari kebijakan yang telah diterapkan. Selain itu, survei juga dilakukan untuk mengumpulkan pendapat dan persepsi dari berbagai pihak terkait mengenai isu pengangguran di Indonesia. Dengan menggunakan kombinasi sumber data yang andal, analisis yang cermat, dan metode penelitian yang beragam seperti wawancara dan survei, diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai masalah pengangguran di Indonesia serta memberikan sumbangan yang berharga dalam pengembangan kebijakan yang efektif dalam menanggulangi masalah ini. Hasil dan Pembahasan Pengangguran merupakan masalah kompleks yang dapat menyebabkan keresahan sosial dan bahkan kemiskinan jika tidak segera ditangani. Menurut beberapa penelitian (Kristin et al. , dampak jangka panjang dari pengangguran yang berkepanjangan mencakup dampak psikologis negatif terhadap individu yang menganggur dan keluarganya. Lebih lanjut, dalam sebuah studi lainnya (Kristin et al. , 2018. , disebutkan bahwa tingkat pengangguran yang tinggi dapat memicu kekacauan politik, keamanan, dan sosial, serta berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara dengan menurunnya produk nasional bruto dan pendapatan per kapita. Penyebab pribadi dari pengangguran mencakup kemalasan, faktor disabilitas atau usia, serta rendahnya tingkat pendidikan dan kualifikasi (Kristin et al. , 2018. Di Indonesia, beberapa faktor utama yang menyebabkan peningkatan angka pengangguran meliputi: Analisis Permasalahan Pengangguran Di Indonesia(Suci Frisnoir. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Ketimpangan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja. Kebijakan pemerintah yang tidak selalu menguntungkan rakyat. Pembangunan sektor ekonomi yang tidak realistis. Jumlah perempuan dalam angkatan kerja yang semakin meningkat. Pengangguran merupakan masalah yang kompleks dan tidak mudah untuk dipecahkan, terutama karena melibatkan banyak faktor yang saling terkait. Reduksi tingkat pengangguran membutuhkan kolaborasi antara lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah. Khodijah . menyatakan beberapa faktor penyebab pengangguran yang perlu diperhatikan: Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan di Indonesia. Hal ini menciptakan kesenjangan yang signifikan antara pasokan dan permintaan tenaga kerja, menyebabkan sulitnya para pencari kerja untuk menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi dan minat mereka. Kurangnya keahlian atau keterampilan menjadi penyebab utama meningkatnya Banyak sumber daya manusia yang tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Kurangnya informasi tentang perusahaan dan lapangan pekerjaan membuat pencari kerja kesulitan dalam mencari peluang kerja yang sesuai. Ketidakmerataan lapangan pekerjaan antara kota dan daerah menyebabkan sebagian wilayah mengalami kesulitan dalam menciptakan lapangan kerja yang memadai. Kurangnya Pelatihan: Upaya pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan soft skill seringkali belum optimal. Budaya malas dan kurangnya motivasi juga dapat menghambat pencari kerja dalam mencari pekerjaan. Sukirno dalam (Imma Latifa dan Farid Pribadi 2. juga mengklasifikasikan pengangguran berdasarkan dua kriteria utama: penyebab dan karakteristiknya. Klasifikasi Berdasarkan Penyebab: Pengangguran Friksional Jenis pengangguran ini terjadi ketika individu memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dengan sengaja dalam upaya mencari posisi yang lebih memuaskan atau lebih sesuai dengan aspirasi pribadinya. Proses transisi ini menciptakan periode singkat di mana orang tersebut tanpa pekerjaan sambil mencari kesempatan baru. Pengangguran Siklikal Ini adalah jenis pengangguran yang berkaitan dengan fluktuasi siklus ekonomi. Selama periode resesi ekonomi, permintaan untuk barang dan jasa menurun, menyebabkan pengurangan produksi dan, akibatnya, pengurangan tenaga kerja. Ketika ekonomi membaik, tingkat pengangguran cenderung menurun seiring meningkatnya produksi dan permintaan tenaga kerja. Pengangguran Struktural Pengangguran ini disebabkan oleh pergeseran dalam ekonomi yang mengubah kebutuhan pasar akan jenis pekerjaan tertentu. Hal ini bisa terjadi akibat kemajuan teknologi, kebijakan pemerintah, atau perubahan dalam kebiasaan konsumen, yang semua dapat mengurangi kebutuhan untuk pekerjaan tertentu dan menciptakan kesenjangan keterampilan di antara pekerja. Pengangguran Teknologi yaitu pengangguran yang terjadi karena tenaga manusia digantikan oleh mesin industri. Klasifikasi Berdasarkan Karakteristik: Pengangguran Terbuka Ini terjadi ketika jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan angkatan kerja. Akibatnya, lebih banyak individu tanpa pekerjaan, yang mencerminkan kegagalan dalam menciptakan kesempatan kerja yang cukup untuk semua yang membutuhkan. Pengangguran Tersembunyi JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Juli 2024 : 365 Ae 374 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 n Ini mengacu pada situasi di mana meskipun terjadi peningkatan jumlah pekerja, kontribusi mereka terhadap output total sangat minim. Hal ini sering terjadi ketika pekerja ditambahkan ke dalam ekonomi tanpa ada peningkatan yang signifikan dalam produktivitas. Pengangguran Musiman Jenis pengangguran ini berkaitan dengan fluktuasi kebutuhan tenaga kerja yang disebabkan oleh perubahan musiman. Ini umumnya terlihat dalam industri seperti pertanian dan perikanan, di mana kebutuhan akan tenaga kerja berubah tergantung pada musim. Setengah Penganggur Setengah penganggur mengacu pada individu yang bekerja kurang dari jam kerja standar . aitu, di bawah 35 jam per mingg. Terdapat dua kategori utama dalam kelompok ini: Setengah Penganggur Terpaksa: Anggota kelompok ini mencakup individu yang bekerja di bawah jam kerja standar dan terus mencari peluang kerja tambahan atau bersedia menerima tawaran pekerjaan tambahan. Mereka menghadapi situasi di mana pekerjaan yang mereka dapatkan tidak mencukupi untuk bekerja penuh waktu, sehingga mereka tetap aktif mencari kesempatan yang lebih memadai. Setengah Penganggur Sukarela: Mereka ini juga bekerja kurang dari jam kerja normal, namun berbeda dengan kelompok terpaksa, mereka tidak mencari atau tidak tertarik menerima pekerjaan lain. Biasanya, ini termasuk mereka yang memilih untuk bekerja paruh waktu dan tidak mencari kesempatan kerja tambahan, sesuai dengan preferensi atau kebutuhan pribadi mereka. Pengangguran juga dipengaruhi oleh kesempatan kerja dan tingkat upah. Pengangguran bukan hanya masalah negara berkembang, tetapi juga terjadi di negara maju. Linbeck dalam . uku Guntur 2. menjelaskan bahwa pengangguran seringkali disebabkan oleh kesalahan kelembagaan dalam pengaturan pasar tenaga kerja, regulasi, dan faktor-faktor Masalah pengangguran sulit untuk dipecahkan karena pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Keterserapan tenaga kerja dalam lapangan pekerjaan menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah ini. Kolaborasi antara berbagai pihak dan perbaikan sistem kelembagaan dapat membantu mengurangi tingkat pengangguran secara signifikan. Dengan pertambahan penduduk setiap tahun, jumlah pencari kerja juga meningkat, menciptakan tekanan pada lapangan pekerjaan yang tersedia. Jika jumlah lapangan kerja tidak seimbang dengan jumlah pencari kerja, maka terjadi pengangguran. Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi perekonomian, kebijakan pemerintah yang kurang pro-rakyat, pembangunan sektor ekonomi yang tidak sesuai kebutuhan, rendahnya pendidikan dan keterampilan, serta keterbatasan kesempatan kerja. Menurut Suparmono . , pengangguran dapat diartikan sebagai ketidakmampuan angkatan kerja untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Ini menunjukkan bahwa pengangguran tidak hanya berlaku bagi mereka yang aktif mencari pekerjaan, tetapi juga bagi individu yang bekerja namun tidak memenuhi standar produktivitas, intensitas, atau waktu kerja tertentu. Selain itu, faktor-faktor seperti jumlah penduduk yang terus meningkat, kebijakan pemerintah yang kurang mendukung sektor ketenagakerjaan, dan ketimpangan gender dalam angkatan kerja juga berkontribusi pada masalah pengangguran di Indonesia. Diperlukan langkah-langkah kebijakan yang efektif dan inklusif untuk mengatasi permasalahan ini, termasuk peningkatan investasi dalam pendidikan dan pelatihan keterampilan, serta pembangunan sektor ekonomi yang berkelanjutan dan berpihak pada kesempatan kerja untuk semua kalangan. Elmizan dan AsyAoari . menjelaskan bahwa pengangguran merujuk pada kondisi di mana sejumlah besar penduduk usia kerja mencari pekerjaan tetapi tidak berhasil Hal ini mencerminkan masalah struktural dalam perekonomian yang mempengaruhi produktivitas dan tingkat penghasilan secara keseluruhan. Suparmono juga mengamati bahwa meskipun seseorang sudah bekerja, jika pekerjaannya tidak sesuai dengan bidang keahliannya, hal ini dapat menyebabkan produktivitas yang rendah. Standar produktivitas yang tidak terpenuhi oleh pekerja dapat menghasilkan pengangguran terselubung, di mana tingkat pengangguran sebenarnya lebih tinggi dari yang dilaporkan secara resmi. Peningkatan Analisis Permasalahan Pengangguran Di Indonesia(Suci Frisnoir. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 pengangguran memiliki dampak langsung pada turunnya pendapatan dan produktivitas, serta menghambat investasi yang pada gilirannya akan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional. Yunita . dan Todaro dalam (Venesia Delila, dkk. menyebutkan bahwa pengangguran dan kemiskinan memiliki hubungan erat dalam konteks ekonomi. Tingkat pengangguran yang tinggi sering kali berdampak pada meningkatnya tingkat kemiskinan, karena individu yang menganggur tidak memiliki penghasilan tetap yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Kondisi ini menyebabkan biaya sosial dan ekonomi yang harus dikeluarkan untuk menangani kemiskinan juga semakin besar, yang pada akhirnya dapat menghambat pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Dengan pengangguran bukan hanya menjadi tantangan bagi individu yang terkena dampaknya, tetapi juga berdampak pada kesehatan ekonomi secara keseluruhan, seperti penurunan produk nasional bruto, pendapatan per kapita, dan investasi yang berkelanjutan. Menurut penelitian oleh Putri pada tahun 2021, situasi pengangguran di Indonesia semakin kompleks, terutama karena dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. Pandemi ini menyebabkan berbagai masalah ekonomi, seperti penurunan pendapatan, pelemahan nilai tukar rupiah, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan oleh pemerintah juga turut berperan dalam mengurangi aktivitas ekonomi masyarakat. Kuartal Tahun Pertumbuhan Ekonomi (%) -5,32 -2,9 hingga -1,1 Catatan: Data pertumbuhan ekonomi dinyatakan dalam persentase negatif, sedangkan data jumlah lowongan kerja ditunjukkan dalam persentase penurunan dibandingkan dengan Februari Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal II tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan mencapai minus 5,32%. Proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal i 2020 juga masih dalam rentang negatif, antara minus 2,9% hingga minus 1,1%. Hal ini sejalan dengan peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia, yang tercermin dari data BPS yang menunjukkan penurunan jumlah lowongan kerja hingga 62% per Mei 2020 dibandingkan dengan Februari 2020. (Laoli,2. Berbagai faktor menjadi penyebab meningkatnya pengangguran di Indonesia akibat pandemi COVID-19. Pertama, kenaikan jumlah penduduk yang tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang tersedia menjadi salah satu faktor utama. Kedua, kondisi lingkungan ekonomi yang melemah akibat pandemi menyebabkan banyak perusahaan mengalami kesulitan finansial, yang berujung pada PHK terhadap karyawan. Ketiga, pertumbuhan ekonomi yang melambat juga berdampak langsung terhadap penurunan kesempatan kerja. Angga dan mustika . Dalam analisis data yang di lakukan menunjukkan bahwa Indonesia mengalami peningkatan tingkat pengangguran dari bulan Februari 2020 hingga Agustus 2020, dengan tingkat pengangguran terbuka mencapai 7,07% atau sekitar 9,77 juta orang yang Angka ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang signifikan terhadap ketenagakerjaan di Indonesia. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Juli 2024 : 365 Ae 374 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 n Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada bulan Februari 2021, tercatat bahwa jumlah penduduk yang terdampak Covid-19 di sektor kerja mencapai 10,02 juta orang, menurun sebesar 34,41% dari angka 19,10 juta pada bulan Agustus 2020. Dampak dari pandemi ini mengakibatkan sekitar 1,62 juta orang harus menganggur, 0,65 juta orang masuk kategori bukan angkatan kerja (BAK) karena Covid-19, 1,11 juta orang kehilangan pekerjaan sementara akibat pandemi, dan 15,72 juta pekerja mengalami pengurangan jam kerja. Semua angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan dengan data pada bulan Agustus 2020. Penurunan terbesar terjadi pada angka kerja yang harus mengurangi jadwal kerja mereka akibat Covid-19, mencapai 8,31 juta orang. Dari hasil analisis tersebut, pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang serius terhadap ekonomi Indonesia, terutama dalam hal pertumbuhan ekonomi dan tingkat Penurunan pertumbuhan ekonomi secara signifikan pada tahun 2020 terkait erat dengan kebijakan PSBB yang membatasi aktivitas ekonomi masyarakat. Dampak langsung dari penurunan pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan tingkat pengangguran, yang terjadi karena banyak perusahaan mengalami kesulitan finansial dan melakukan PHK terhadap karyawan. Hal ini juga tercermin dari penurunan jumlah lowongan kerja yang signifikan. ngga & musyika,2. Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang luas dan mendalam terhadap berbagai sektor sosial dan ekonomi. Penurunan jumlah tenaga kerja, pergeseran dalam permintaan dan penawaran, serta gangguan dalam rantai pasokan baik secara global maupun lokal, adalah beberapa dari sekian banyak tantangan yang dihadapi. Dalam konteks penanganan masalah pengangguran pasca pandemi, perlu dilakukan langkah-langkah konkret seperti pemulihan ekonomi yang terarah, pemberian pelatihan dan keterampilan kepada pencari kerja, serta stimulasi terhadap sektor-sektor ekonomi yang potensial. Upaya kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci dalam mengatasi dampak pengangguran yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 di Indonesia. arunia, 2. Menteri Ketenagakerjaan. Ida Fuziah, mengungkapkan beberapa upaya pemerintah dalam mengatasi pengangguran akibat pandemi Covid-19. Langkah-langkah tersebut Pemerintah telah mengalokasikan dana sejumlah besar untuk menanggapi Covid-19, dengan anggaran mencapai 46,6 miliar Dolar AS, dan juga menyediakan dukungan finansial sebesar 17,2 miliar Dolar AS untuk membantu pengusaha mengatasi dampak ekonomi. Mengimplementasikan serangkaian insentif fiskal yang mencakup potongan pajak penghasilan, kelonggaran dalam pembayaran kredit, serta rencana pelonggaran iuran jaminan sosial untuk membantu meringankan beban keuangan bagi 56 juta pekerja di sektor Menyediakan bantuan langsung kepada 70,5 juta pekerja sektor informal yang berada dalam kondisi rentan dan kurang mampu. Fokus pada peningkatan kualifikasi melalui insentif pelatihan dengan program Kartu Prakerja, yang diberikan khusus kepada pekerja yang telah di-PHK. Analisis Permasalahan Pengangguran Di Indonesia(Suci Frisnoir. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Upaya untuk meningkatkan dan memperluas lapangan kerja dilakukan melalui programprogram seperti padat karya tunai dan produktif, implementasi Teknologi Tepat Guna (TTG), serta dorongan terhadap inisiatif kewirausahaan. Menyediakan panduan dan arahan bagi perusahaan dan pekerja dalam upaya perlindungan tenaga kerja dan kelangsungan bisnis dalam situasi pandemi. Kamaludin berpendapat bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi biasanya berkorelasi dengan peningkatan kemampuan serta peluang kerja individu, yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada penurunan tingkat pengangguran. Di sisi lain. Simanjuntak . mengemukakan bahwa dengan meningkatnya pendidikan, produktivitas individu juga meningkat, yang selanjutnya dapat meningkatkan output. Peningkatan output ini akan memicu permintaan yang lebih tinggi untuk tenaga kerja, yang secara tidak langsung akan mengurangi tingkat pengangguran . Berdasarkan data terbaru dari BPS, terlihat ada penurunan dalam angka pengangguran yang menunjukkan keberhasilan beberapa program pemerintah dalam mengatasi masalah ini, walaupun efeknya belum maksimal. Meskipun ada investasi signifikan dari pemerintah, hasil yang diperoleh masih belum memenuhi ekspektasi yang diharapkan. Ini menandakan bahwa diperlukan inisiatif baru untuk lebih menekan angka pengangguran. Selain dari upaya pemerintah, partisipasi aktif dari masyarakat juga sangat penting dalam mendukung realisasi tujuan ini. Pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam mengatasi pengangguran, khususnya melalui program yang diinisiasi oleh pemerintah seperti Kartu Prakerja. Program ini, sebagaimana dijelaskan oleh Ida Fuziah, menawarkan pelatihan kerja yang sepenuhnya dilakukan secara online melalui aplikasi mitra pemerintah. Peserta yang memenuhi kriteria termasuk yang terdampak pandemi COVID-19, berusia minimal 18 tahun, dan tidak sedang berkuliah atau bekerja dapat mengikuti pelatihan ini dan berkesempatan mendapatkan insentif bulanan sebesar Rp 1. selama empat bulan. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk membuka lebih banyak peluang kerja dan membantu peserta mendapatkan penghasilan. Menurut Kamaludin dan Simanjuntak dalam (Imma Latifa dan Farid Pribadi 2. pendidikan meningkatkan kemampuan dan kesempatan seseorang dalam pasar kerja. Kamaludin menyatakan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung berkolerasi dengan penurunan angka pengangguran. Simanjuntak menambahkan bahwa pendidikan juga meningkatkan produktivitas individu, yang selanjutnya meningkatkan output. Peningkatan output ini mendorong permintaan tenaga kerja yang lebih tinggi, sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran. Dengan demikian, inisiatif seperti Kartu Prakerja tidak hanya membuka akses ke pendidikan dan pelatihan, tetapi juga memiliki dampak langsung dan positif dalam memperluas kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran. Meskipun angka pengangguran menurun secara bertahap berdasarkan data yang dihimpun oleh BPS, hal ini menunjukkan bahwa program pemerintah telah memberikan dampak JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Juli 2024 : 365 Ae 374 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 n positif namun belum secara signifikan. Perbandingan antara alokasi dana pemerintah dan data penurunan pengangguran menunjukkan bahwa hasil yang diharapkan belum sepenuhnya tercapai. Oleh karena itu, diperlukan program-program tambahan dan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk terus mengurangi tingkat pengangguran secara efektif. Kesimpulan Dalam analisis yang mendalam terhadap permasalahan pengangguran di Indonesia, terungkap bahwa faktor-faktor seperti ketimpangan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja, kebijakan pemerintah yang kurang pro-rakyat, pembangunan sektor ekonomi yang tidak realistis, dan pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat menjadi penyebab utama tingginya tingkat pengangguran. Situasi ini diperparah dengan dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan PHK massal dan persaingan yang semakin ketat di pasar kerja. Pemerintah telah melakukan beberapa langkah untuk mengatasi masalah pengangguran, seperti alokasi dana untuk penanganan Covid-19, stimulus ekonomi, program insentif pajak, relaksasi pembayaran kredit, serta bantuan sosial dan pelatihan untuk pekerja terdampak. Meskipun demikian, penurunan angka pengangguran belum mencapai tingkat yang signifikan. Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan langkah-langkah lebih lanjut, antara lain: Pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang mendukung peningkatan lapangan kerja, termasuk pengembangan sektor ekonomi yang realistis dan berkelanjutan. Investasi dalam pendidikan dan pelatihan keterampilan menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di pasar global yang semakin kompetitif. Perlunya kebijakan yang mendukung inklusi gender dalam angkatan kerja, sehingga perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam mendapatkan pekerjaan yang layak. Kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan dan mengurangi ketimpangan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja. Penting untuk terus melakukan evaluasi terhadap program-program pemerintah dalam mengatasi pengangguran, guna memastikan efektivitas dan efisiensi penggunaan dana publik. Selain itu. Masyarakat juga perlu berkontribusi untuk menekan angka pengangguran dengan Pendidikan. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan Indonesia dapat mengurangi tingkat pengangguran secara bertahap dan menciptakan kondisi ekonomi yang lebih stabil serta inklusif bagi seluruh masyarakat. Daftar Pustaka