Volume 19 Number 02. Page 271 - 282, 2023 AKUISISI : Jurnal Akuntansi ONLINE ISSN : 2477-2984 Ae PRINT ISSN : 1978-6581 Pengaruh Debt Equity Ratio Terhadap Harga Saham Dimoderasi Oleh Earning Per Share Doni Yusuf Bagaskara1. Ali Mauludi AC2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah. Jl. Mayor Sujadi No. Kudusan. Plosokandang. Tulungagung. Jawa Timur. Indonesia E-mail: doniyusufb22@gmail. mauludiali94@gmail. ARTICLE INFO Article history: Received 23 Juni Received in 07 November 2023 Accepted 22 Desember 2023 KeywordAos : Debt to Equity Ratio. Stock Prices. Earning Per Share ABSTRACT This study aims to determine the effect of Debt to Equity Ratio (DER) on stock prices with Earning Per Share (EPS) as a moderating variable. The population of this study is a manufacturing company in the food and beverage industry sub-sector which is listed on the Indonesia Stock Exchange. The sample used is a company with financial statements and annual reports containing information on DER. Stock Prices, and EPS from 2018 to 2020 totaling 51 samples. The analysis technique used is the outer model to test the value of each variable and the inner model to examine the relationship between variables. Data analysis using SmartPls software. The results showed that the Debt to Equity Ratio (DER) had no effect on stock prices. And also Earning Per Share (EPS) is not able to affect the relationship Debt to Equity Ratio (DER) to stock Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap harga saham dengan Earning Per Share (EPS) sebagai variabel moderasi. Populasi dari penelitian ini adalah perusahan manufaktur sub sector industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel yang digunakan merupakan perusahaan dengan laporan keuangan dan laporan tahunan yang memuat informasi mengenai DER. Harga Saham, dan EPS tahun 2018 hingga 2020 berjumlah 51 sampel. Teknik analisis yang digunakan adalah outermodel untuk meguji nilai dari tiap variabel dan inner model untuk menguji hubungan antar variabel. Analisis data menggunakan bantuan software SmartPls. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap harga saham. Dan juga Earning Per Share (EPS) tidak mampu mempengaruhi hubungan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap harga saham. AKUISISI : Jurnal Akuntansi Website : http://w. id/ejournal/index. php/JA This is an open access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. * Corresponding author. Telp. : 6281-0000-0000. fax: 0-000-000-0000. E-mail address: doniyusufb22@gmail. Peer review under responsibility of Akuisisi : Accounting Journal. http://dx. org/10. PENDAHULUAN Perkembangan ekonomi yang pesat tak pernah terlepas dari perusahaan-perusahaan yang terus berkembang. Persaingan antar bisnis yang semakin ketat memberikan tantangan kepada setiap perusahaan untuk memberikan inovasi dan strategi yang baik agar perusahaan dapat terus berkembangan dan bertahan ditengah persaingan bisnis. Hal ini menjadikan perusahaan membutuhkan tambahan modal untuk memenuhi strategi yang direncanakan. Salah satunya dengan memasuki pasar modal. Tidak sedikit perusahaan yang memilih untuk mendaftarkan diri kedalam pasar modal karena pasar modal dapat mempertemukan pihak yang membutuhkan dana atau perusahaan dengan pihak yang memiliki kelebihan dana untuk diinvestasikan. Tidak hanya menjadi tambahan modal bagi perusahaan pasar modal juga memberikan keuntungan bagi investor yang menanamkan modal. Perusahaan manufaktur merupakan salah satu sektor yang memiliki peminat terbanyak oleh investor, jumlah perusahaan manufaktur yang cukup banyak dan perusahaan manufaktur yang tidak terikat pada peraturan pemerintah menjadi daya Tarik tersendiri bagi investor untuk menginvestasikan dananya. Penanaman modal oleh investor tentunya juga tidak sembarang emitmen bisa mendapatkan, karena tiap investor memiliki kriteria tertentu dalam memilih perusahaan yang akan dijadikan tempat berinvestasi. Terutama pada transaksi yang sering terjadi dipasar modal yaitu transaksi Investasi saham dianggap memiliki tingkat resiko yang cukup tinggi sehingga investor memerlukan informasi yang tepat agar dapat memilih perusahaan yang tepat untuk menginvestasikan dananya. Dalam pasar modal, faktor yang paling diperhatikan oleh investor dalam pemilihan perusahaan adalah harga saham, hal ini dikarenakan harga saham dapat menunjukkan prestasi dari perusahaan. Tingginya harga saham suatu perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan memiliki nilai yang tinggi, dan dapat mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut memiliki kondisi keuangan yang baik. Harga saham dapat berubah-ubah dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal dapat berupa perubahan kebijakan oleh pemerintah sedangkan faktor internal dipengaruhi oleh kondisi keuangan perusahaan. Analisis laporan keuangan menjadi pilihan investor dalam menganalisis kondisi keuangan, dengan analisis laporan keuangan investor dapat mengetahui kinerja dari perusahaan yang dijadikan sasaran untuk menginvestasikan dananya. Analisis laporan keuangan dilakukan dengan memperhitungan rasio keuangan. Rasio keuangan yang dapat digunakan adalah Debt to Equity Ratio (DER) (Rudianto, 2. DER digunakan oleh investor untuk mengukur tingkat kemampuan suatu perusahaan dalam menyeimbangkan penggunaan ekuitas dan utang dalam neraca. Rasio ini dapat menunjukkan keseluruhan pembiayaan perusahaan yang menggunakan hutang. Pada penelitian Susanti, dkk . ditemukan bahwa Debt to Equity Ratio tidak memiliki pengaruh terhadap harga saham hal ini dapat menggambarkan bahwa perusahaan memiliki ketergantungan yang tinggi pada penggunaan hutang untuk menutupi kegiatan operasionalnya, apabila kondisi ini terjadi maka minat investor untuk menginvestasikan dana pada perusahaan tersebut juga akan menurun. Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Rahmat & Nurfadillah . yang menyatakan bahwa DER tidak berpengaruh terhadap harga saham. Namun pada penelitian yang dilakukan Dewi & Suaryana . menunjukkan hasil yang berbeda, yaitu Debt to Equity Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Hal ini menggambarkan bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik, dengan perhitungan dan pengelolaan yang baik pada struktur modalnya mampu menunjukkan keberanian perusahaan dalam mengambil resiko. Perbedaan hasil yang ditemukan pada penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penelitian perlu dikembangkan kembali maka pada penelitian ini akan ditambahkan variabel moderasi yaitu Earning Per Share (EPS). Varibel moderasi merupakan variabel yang mampu memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen (Liana, 2. EPS merupakan merupakan pengukuran yang menunjukkan besarnya keuntungan yang bisa didapatkan oleh para pemegang saham, sehingga EPS menjadi faktor penting yang dijadikan pertimbangan oleh para pemegang saham dalam mengambil keputusan investasi saham. Semakin tinggi nilai EPS suatu perusahaan maka akan berpengaruh terhadap minat investor, tingginya minat investor dalam menginvestasikan dananya maka akan memberi pengaruh terhadap harga saham sehingga return saham atas suatu perusahaan akan meningkat. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap harga saham dengan Earning Per Share (EPS) sebagai variabel moderasi pada perusahaan manufaktur sub sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. TINJAUAN PUSTAKA Debt to Equity Ratio (DER) DER merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat hutang yang dijadikan pembiayaan dalam operasional perusahaan. Nilai DER yang tinggi akan memberikan resiko yang tinggi bagi perusahaan, karena perusahaan dengan tingkat hutang yang tinggi harus memiliki pertimbangan yang baik dalam mengelola dananya. Penggunaan hutang dalam pembiayaan perusahaan haruslah seimbang dengan penggunaan ekuitas. Maka perusahaan dapat menggunakan DER sebagai alat untuk mengetahui dan mencegah tingginya penggunaan hutang dalam pembiayaan perusahaan. Berikut rumus untuk menghitung DER: Nilai DER yang baik bagi perusahaan < 1 atau < 100% semakin rendah nilai DER maka semakin baik bagi perusahaan. Harga Saham Harga saham merupakan sejumlah uang yang dikeluarkan untuk mendapatkan bukti kepemilikan suatu perusahaan. Penjualan saham perusahaan yang ditemukan pada pasar modal sering mengalami fluktuasi penurunan maupun kenaikan, dengan ini menjadikan aktivitas permintaan . , dan penawaran . menjadi faktor pembentukannya harga saham. Faktor ini dapat muncul dikarenakan kondisi perusahaan itu sendiri atau sifat makro yang disebabkan oleh kondisi sosial maupun politik. Kondisi keuangan perusahaan dapat menjadi faktor kuat yang memicu terjadinya fluktuasi, hal ini disebabkan oleh pergerakan profit yang dimiliki perusahaan, semakin tinggi tingkat keuntungan maka harga saham yang dimiliki oleh perusahaan juga relatif tinggi. Earning Per Share (EPS) EPS merupakan salah satu rasio pengukuran profitabilitas, yang digunakan sebagai pertimbangan khusus oleh investor untuk melakukan pembelian saham. Rasio ini menunjukkan tingkat keuntungan yang dapat diperoleh oleh investor atas per lembar saham yang dimiliki. Apabila nilai EPS yang dimiliki perusahaan tinggi maka keuntungan yang bisa didapatkan oleh para pemegang saham juga akan besar. Hal ini dapat berdampak pada reputasi perusahaan sehingga harga saham juga dapat meningkat. Berikut rumus untuk menghitung EPS: Pengembangan Hipotesis DER merupakan rasio yang menunjukkan perbandingan total hutang dengan ekuitas. Menurut teori sinyal semakin tinggi tingkat hutang perusahaan semakin tinggi resiko perusahaan. Hal ini dapat memberikan sinyal kepada investor untuk tidak menginvestasikan dana yang dimiliki pada perusahaan tersebut dengan asumsi bahwa keuntungan yang dimiliki perusahaan akan digunakan untuk menutupi tingkat hutang yang dimiliki oleh perusahaan. Menurunnya minat investor untuk menginvestasikan dana nya pada perusahaan tersebut dapat menurunkan harga saham yang dimiliki perusahaan sehingga akan berdampak buruk pada saham perusahaan. Pada penelitian Dewi & Suaryana . ditemukan bahwa DER memiliki pengaruh terhadap harga saham. Hal ini didukung oleh penelitian Kalsum. dan Nining . yang menyatakan bahwa DER berpengaruh terhadap harga saham. H1 : Debt to Equity Ratio berpengaruh terhadap harga saham Keuntungan sering dijadikan pengukuran untuk menilai baik atau tidaknya kondisi keuangan suatu perusahaan, semakin tinggi tingkat keuntungan perusahaan semakin baik prospek dari perusahaan tersebut. EPS yang merupakan pengukuran untuk harga per lembar saham sering menjadi pertimbangan utama bagi para investor untuk memilih tempatnya menginvestasikan dana. Tingginya nilai EPS dapat meningkatkan minat investor, minat investor yang tinggi dapat meningkatkan harga saham dari perusahaan tersebut dan menekan nilai DER yang dimiliki oleh Penelitian Mahardika dkk . menemukan bahwa Earning Per Share (EPS) mampu memoderasi hubungan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap harga saham. Maka dalam penelitian ini ditarik hipotesis sebagai berikut: H2: Earning Per Share mampu memoderasi hubungan Debt to Equity Ratio terhadap harga saham Gambar 1. Kerangka Konseptual HARGA SAHAM DEBT TO EQUITY RATIO EARNING PER SHARE (EPS) METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, pendekatan kuantitatif merupakan penelitian yang menganalisis suatu sampel atau populasi yang menggunakan analisis statisik. Populasi yang dipilih merupakan perusahaan manufaktur sub sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2018-2020. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut: Tabel 1. Tahap Pemilihan Sampel Kriteria Jumlah Perusahaan Sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di BEI Sektor industri makanan dan minuman tidak memiliki data berdasarkan variabel penelitian . Jumlah Sampel Akhir Periode Pengamatan Total Pengamatan Sumber: Data Penelitian, 2022 Tabel 1 menyatakan jumlah emitmen yang digunakan sebagai sampel telah terseleksi dari kriteria yang telah ditentukan dengan sektor industri makanan dan minuman periode 2018-2020 sebagai sampel penelitian. Dengan periode penelitian 3 tahun maka jumlah sampel yang terkumpul berjumlah 51 sampel. Berdasarkan kriteria diatas maka sampel yang digunakan sebagai berikut: Tabel 2. Sampel Penelitian KODE NAMA PERUSAHAAN CAMP PT Campina Ice Cream Industry Tbk CEKA PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk CLEO PT Sarigurna Primatirta Tbk COCO PT Wahana Interfood Nusantara Tbk DLTA PT Delta Jakarta Tbk DMND PT Diamond Food Tbk GOOD PT Garuda Food Putra Putri Jaya Tbk HOKI PT Buyung Poetra Sembada Tbk ICBP PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk INDF PT Indofood Sukses Makmur Tbk MLBI PT Multi Bintang Indonesia Tbk MYOR PT Mayora Indah Tbk ROTI PT Nippon Indosari Corporindo Tbk WEBSITE CLEO PT Sarigurna PrimatirtaTbk SKLT PT Sekar Laut Tbk STTP PT Siantar Top Tbk ULTJ PT Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk Sumber: Data Penelitian, 2022 Analisis data menggunakan bantuan software SmartPls, analisis deskriptif dilakukan untuk mengumpulkan dan menggeneralisasikan populasi penelitian, setelah itu dilakukan pengujian outer model untuk menjelaskan nilai setiap indikator berhubungan dengan variabel latennya. Dan terakhir digunakan uji inner model untuk menguji antar variabel penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 3. Analisis Deskriptif Mean Min Maks Std. Deviasi DER EPS Harga Saham Sumber: Data Penelitian, 2022 Pada tabel 3 merupakan hasil pengujian dari sampel yang telah dihimpun menghasilkan nilai mean, minimum, maximum dan standar deviasi dari tiap variabel. EPS memiliki nilai standar deviasi tertinggi dari variabel lain yang dimana variabel EPS memiliki kemungkinan berubah-ubah para masa periode penelitian lebih besar dibanding dengan variabel lain. Dan variabel DER memiliki perubahan yang lebih kecil dibanding variabel lainnya. Selain itu nilai rata-rata dan standar deviasi yang dimiliki oleh setiap variabel tetap pada nilai yang positif sehingga kesenjangan nilai terendah dan tertinggi masih dapat ditoleransi. Tabel 4. Convergent Validity Efek Moderasi DER EPS Harga Saham Variabel X Variabel Y Variabel Z Efek Moderasi Sumber: Data Penelitian, 2022 Tabel 4 menjelaskan hasil analisis dari convergent validity. Nilai convergent validity yang baik akan memiliki skor diatas 0,70. Dan pada hasil analisis pada table 4 ketiga variabel memiliki nilai diatas 0,70 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel DER. EPS, dan harga saham memiliki nilai convergent validity yang baik. Tabel 5. Discriminant Validity Efek Moderasi Variabel X Variabel Y Efek Moderasi DER EPS Harga Saham Variabel Z Sumber: Data Penelitian, 2022 Validity discriminant merupakan alat untuk mengukur apakah indicator reflektif telah sesuai dengan prinsip dan memiliki korelasi yang tinggi terhadap konstruknya. Pada tabel 5 telah dilihat hasil dari pengujian memiliki nilai <0,9 yang artinya semua variabel memiliki korelasi yang tinggi, sehingga validitas diskriminan pada penelitian ini telah terpenuhi. Tabel 6. Contruct Reliability CronbachAos Alpha Reliabilitas Konstruk RatarataVarians Efek Moderasi DER EPS Harga Saham Sumber: Data Penelitian, 2022 Pengujian Contruct Reability dilakukan untuk menilai apakah variabel penelitian memiliki reliabilitas yang baik. Dari hasilpengujian pada tabel 6 dapat dilihat bahwa nilai cronbachAos alfa lebih besar dari 0,7 dan nilai reliabilitas konstruk lebih besar dari 0,6. Maka dapat disimpulkan bahwa keseluruhan variabel memiliki reliabilitas yang baik. Tabel 7. Collinearity Statistik ( VIF ) VIF DER EPS Harga Saham EfekModerasi Sumber: Data Penelitian, 2022 Outer VIF digunakan untuk menganalisis masalah multikolinearitas pada indikator. Pada hasil tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai VIF dari tiap variabel berada dibawah 5 sehingga hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat masalah multikolinearitas. Tabel 8. R Square Harga Saham R Square Adjusted R Square Sumber: Data Penelitian, 2022 Uji koefisien determinasi atau R Square merupakan pengujian yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar variabel independen dapat mempengaruhi variable dependen. Pada hasil penelitian diatas dapat dilihat bahwa variabel independen dapat mempengaruhi variabel dependen sebesar 0,168 atau 16,8% dan sisanya variabel dependen dapat dipengaruhi oleh variabel Model penelitian ini diindikasikan dalam kategori lemah. Tabel 9. Patch Coefficient Sampel Asli (O) Rata-rata Sampel (M) Standar Deviasi (STDEV) T Statistik (| O/STDEV |) P Values Efek Moderasi 1 -> Harga Saham 0,070 0,071 0,103 0,679 0,498 DER-> Harga Saham -0,016 -0,008 0,122 0,136 0,892 Sumber: Data Penelitian, 2022 Patch coefficient digunakan untuk menguji hipotesis penelitian, pada tabel 9 ditemukan hasil penelitian dengan 2 hipotesis terdukung. Hipotesis pertama yaitu pengaruh DER terhadap harga saham dengan nilai t statistik 0,136 < 1,64 dan nilai p values 0,892 > 0,05 sehingga dapat diintrepretasikan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap harga saham. Nilai DER yang tinggi tentunya mempengaruhi keputusan investor dalam melakukan investasi karena dengan tingginya nilai DER maka perusahaan tersebut juga memiliki resiko yang tinggi. Namun tidak selalu besar atau kecilnya nilai DER dapat mempengaruhi harga saham. Pada sisi psikologi ditemukan bahwa sebagian orang tidak melakukan analisis fundamental dalam melakukan investasi beberapa menggunakan pengalaman dan beberapa melalui informasi yang didapat melalui lingkungan. DER yang tinggi juga mengindikasikan perusahaan menggunakan hutang untuk menutupi biaya operasionalnya, penggunaan hutang dapat distabilkan dengan pengelolaan yang baik sehingga dapat memberikan dampak yang positif bagi perusahaan. Hasil penelitian ini didukung oleh Susanti dkk . Rahmat & Nurfadillah . dan Yuantoro & Andayani . menemukan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap harga saham. Hipotesis kedua menguji hubungan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap harga saham dengan Earning Per Share (EPS) sebagai variabel moderasi. Nilai yang ditunjukkan oleh t statistik 0,679 < 1,64 dan nilai p values 0,498 > 0,05 dari nilai ini ditarik pernyataan bahwa variabel Earning Per Share (EPS) tidak mampu memoderasi pengaruh antara Debt to Equity Ratio (DER) terhadap harga saham. Penggunaan hutang yang tinggi dalam pembiayaan operasional akan memberikan resiko yang besar bagi perusahaan, hal ini dapat menjadikan minat investor dalam menginvestasikan dana juga akan rendah. Semakin rendah nilai penawaran dari suatu saham maka dapat berdampak pada harga saham perusahaan. Perusahaan dapat mengalami penurunan harga saham, dengan menurunnya harga saham maka nilai EPS dari perusahaan tersebut juga akan menurun, maka EPS tidak dapat memoderasi pengaruh DER terhadap harga saham. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Susanti dkk . yang menemukan bahwa EPS mampu memoderasi hubungan DER terhadap harga saham. Perbedaan hasil penelitian ini dapat disebabkan oleh perbedaan populasi dan sampel penelitian. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap harga saham, banyak faktor yang dapat mempengaruhi harga saham namun penggunaan hutang yang tinggi pada perusahaan apabila memiliki pengelolaan yang baik akan memberikan dampak positif pada perusahaan. Sehingga DER tidak mampu pengaruh harga saham. Moderasi Earning Per Share (EPS) juga tidak mampu memperkuat pengaruh DER terhadap harga saham karena dengan tingginya tingkat hutang dapat mengurangi minat investor dalam melakukan investasi dan akan berimbas pada penurunan reputasi perusahaan dan tingkat keuntungan perusahaan juga akan menurun. Saran bagi peneliti selanjutnya dapat menambahkan rasio-rasio atau faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi harga saham, juga dapat menggunakan populasi dan sampel lainnya pada penelitian selanjutnya, penambahan rentang waktu penelitian juga dapat membantu dalam memberikan periode waktu yang lebih efektif. DAFTAR PUSTAKA