Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Dekonstruksi Tokoh Rahwana dalam Cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad 1,2,3 Titi Setiyoningsih1*. Sumarwati2. Andayani3 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan oposisi biner tokoh rahwana, inkonsistensi logis tokoh Rahwana, dan konstruksi baru tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif analisis isi cerita pendek dengan pendekatan dekonstruksi. Data penelitian ini adalah kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana dalm cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad. Tekni pengumpulan data yakni analisis dokumen cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad dengan teori dekonstruksi. Validitas data dengan triangulasi teori, data yang telah didapatkan dengan teori dekonstruksi dibandingkan dengan teori hasil penelitian. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini yakni tokoh Rahwana dalam cerita pendek Namamu Rahwana karya Artie Ahmad tidak lagi dianggap sebagai karakter yang sepenuhnya buruk dan jahat. Dalam cerita pendek tersebut terdapat dekonstruksi tentang karakter Rahwana. Dekonstruksi terhadap tokoh Rahwana ini menentang pandangan tradisional tokoh Rahwana yang selama ini didasarkan pada narasi klasik Ramayana. Rahwana, dalam cerpen ini, dihadirkan sebagai simbol cinta tulus seorang lelaki, hal ini mencerminkan bahwa dalam setiap tokoh antagonis, terdapat potensi untuk sisi baik. DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Dekonstruksi. Tokoh Rahwana. Cerita Pendek. Derrida. Ramayana This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. International License. Corresponding Author: Titi Setiyoningsih Universitas Sebelas Maret Kentingan Jl. Ir. Sutami No. Jebres. Kec. Jebres. Kota Surakarta. Jawa Tengah 57126. Indonesia Email: graceartasia23@gmail. PENDAHULUAN Pada epos Ramayana tokoh Rahwana yang berwujud raksasa digambarkan sebagai antagonis utama yang jahat, penuh ambisi, dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya (Kamalia et al. , 2. Rahwana, sebagai tokoh mitologis dalam epos Ramayana, mewakili kekuatan gelap dan kejahatan yang berlawanan dengan keadilan dan kebaikan yang diwujudkan oleh tokoh Rama. Karakter Rahwana yang demikian terdapat dalam buku epos Ramayana karya C. Rajagopalachari . Epos Ramayana sendiri berasal dari India dan diperkirakan sudah ada sebelum epos Mahabharata. Epos India Ramayana berasal dari tahun 1500 SM, penelitian terkini memperkirakan epos ini berasal dari sekitar abad ke-4 SM. Epos Ramayana dikarang oleh Valmiki dalam bahasa klasik India. Sansekerta. Di India, hampir setiap individu mengetahui kisahnya. Beberapa orang mempelajarinya sebagai bagian dari pengalaman religius (Narayan, 2. Di Indonesia, epos tersebut dikenal secara luas oleh masyarakat yang beragama Hindu, juga pada kebudayaan Jawa dan kajian karya sastra. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Berkembangnya teori-teori kritis, khususnya dekonstruksi, narasi tunggal mengenai Rahwana sebagai tokoh jahat patut dipertanyakan. Dekonstruksi, yang dipopulerkan oleh Jacques Derrida (Faruk, 2003. Toft, 2. , menantang hirarki biner dan membuka kemungkinan adanya banyak perspektif lain terhadap suatu teks (Stocker, 2. Awal dari teori dekonstruksi sebenarnya muncul sebagai kritik terhadap teori Saussure yang merumuskan teorinya melalui adanya oposisi biner. Dekonstruksi berarti membangun kembali secara berbeda konstruksi yang sebelumnya dianggap paling sahih. Dekonstruksi meniadakan oposisi biner yang selama ini melekat pada struktur universal masyarakat. Dalam dekonstruksi, tidak ada struktur yang tetap, segalanya dapat terus berubah seperti sebuah jejak. Penelitian kajian dekonstruksi tokoh Rahwana dalam karya sastra sudah dilakukan sebelumnya di antaranya yakni, dekonstruksi tokoh Rahwana dalam novel Sitayana karya Cok Sawitri (Setyawati, 2. yang digambarkan bukan seorang raksasa, selain itu juga saling mencintai dengan tokoh Sita. Ningrum et al. , . dalam penelitiannya mengungkap adanya dekonstruksi tokoh Rahwana dalam novel Aurora di Langit Alengka karya Agus Andoko dinarasikan sebagai tokoh penakut. Berikutnya penelitian Pandanwangi . diungkapkan bahwa tokoh Rahwana dalam novel Rahwana Putih karya Sri Teddy Rusdy muncul sebagai tokoh yang jujur, dipercaya, adil, dan merupakan manifestasi konsep kepemimpinan di kebudayaan Jawa. Kemudian penelitian Sasmita & Dermawan . yang mengungkap kontra mitos tokoh Rahwana salah satunya yakni tokoh Rahwana sebagai tokoh yang bijaksana dalam kumpulan puisi Kemelut Cinta Rahwana karya Djoko Saryono. Penelitian ini dengan penelitian sebelumnya sama-sama mengakaji tokoh Rahwana dengan teori dekonstruksi dalam karya sastra. Namun demikian, terdapat perbedaan yakni penelitian ini mengkaji karya sastra berupa cerita pendek. Dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad, tokoh Rahwana ditempatkan pada posisi yang lebih kompleks dan ambigu. Cerpen ini bukan hanya mengulang kisah mitos lama, tetapi juga berusaha menghadirkan Rahwana dari sudut pandang yang lebih humanis dan kontekstual. Karya ini berusaha mendekonstruksi pemahaman konvensional tentang Rahwana dengan menyoroti sisi-sisi kemanusiaan, kerapuhan, dan tragedi dalam diri tokoh ini. Pendekatan dekonstruksi menjadi alat yang tepat untuk menggali lapisan-lapisan makna yang tersirat di balik narasi tokoh Rahwana yang selama ini sering kali dibakukan dalam tradisi sastra. Dekonstruksi memungkinkan pembaca untuk melihat Rahwana tidak semata-mata sebagai antagonis, tetapi sebagai figur yang dipenuhi kontradiksi dan ambiguitas, yang pada gilirannya menggambarkan kompleksitas manusia secara universal. Melalui analisis dekonstruksi, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan oposisi biner tokoh rahwana, inkonsistensi logis tokoh Rahwana, dan konstruksi baru tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif analisis isi cerita pendek dengan pendekatan dekonstruksi. Data penelitian ini adalah kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana dalm cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad. Tekni pengumpulan data yakni analisis dokumen cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad dengan teori dekonstruksi. Validitas data dengan triangulasi teori, data yang telah didapatkan dengan teori dekonstruksi dibandingkan dengan teori hasil penelitian. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif Miles dan Huberman, yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan simpulan (Miles et , 2. Pertama-tama diidentifikasi elemen-elemen biner tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad. Selanjutnya dilakukan pembacaan dekonstruktif pada tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad. Proses ini melibatkan identifikasi terhadap aspek-aspek dalam teks yang memperlihatkan ketidakstabilan makna penggambaran tokoh Rahwana. Hasil dari pembacaan dekonstruktif pada cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad kemudian diinterpretasikan dalam menyajikan makna baru terhadap tokoh Rahwana dalam cerpen tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Cerita pendek dengan judul Namamu Rahwana karya Artie Ahmad dimuat dalam koran Jawa Pos tahun Sinopsis singkat cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad mengisahkan tokoh Aku yang memiliki sahabat, seorang ibu yang memberikan nama anak laki-lakinya Rahwana. Tokoh Aku tidak mengerti popa pikir sahabatnya itu, karena baginya tokoh Rahwana merupakan raksasa jahat. Sedangkan sahabatnya tetap memberi nama anaknya Rahwana karena baginya Rahwana memiliki perasaan cinta yang tulus dibandingkan tokoh Rama. Hasil penelitian berupa analisis cerita pendek dengan pendekatan dekonstruksi pada tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad dipaparkan dalam tiga sub yakni oposisi biner. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X inkonsistensi logi, dan konstruksi baru tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad sebagai berikut. Oposisi Biner Tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad Pada pembukaan cerita pendek sudah terdapat kalimat terkait tokoh Rahwana yang selama ini digambarkan oleh masyarakat umum berdasarkan Epos Ramayana. Berikut ini kalimat pembuka yang menunjukkan oposisi biner tokoh Rahwana. Nama adalah doa, namun kau dikutuk ibumu lewat namamu (Ahmad, 2. Penyebutan AudikutukAy karena menyandang nama Rahwana menunjukkan bahwa tokoh Rahwana dalam pandangan luas merupakan sosok yang tidak baik. Bahkan secara tegas disebutkan oleh tokoh Aku dalam kutipan berikut ini. Rahwana, satu kata mewakili segala bentuk keburukan di atas dunia (Ahmad, 2. AuSeharusnya kau ganti nama anakmu itu. Jangan Rahwana, nama itu tak cocok untuk manusia!Ay (Ahamad, 2. AuItu nama raja jahat, kau tak tahu cerita Ramayana?Ay (Ahmad, 2. Pernyataan tokoh Aku dalam percakapan dengan sahabatnya itu menunjukkan secara tegas bahwa tokoh Rahwana betul-betul jahat dan anatagonis. Tidak ada kebaikan dalam sosok Rahwana. Sebaliknya, tokoh baik lawan dari Rahwana yakni Rama. Tokoh Aku mewakili citra masyarakat pada umumnya, bahwa seharusnya nama anak sahabatnya itu Rama atau Laksmana. Dalam persepsinya, tokoh Rama merupakan tokoh idola dan protagonis yang berbudi luhur, tampan, serta keturunan suci. Berikut ini kutipannya. AuLantas mengapa kau menamakan anakmu Rahwana? Ah, mengapa tidak Rama atau setidaknya Laksmana?Ay (Ahmad 2. Sejak dulu hingga kini, tokoh Rama tentu menjadi idola. Rama, tokoh protaginis dengan watak luhur budi, tampan, serta keturunan suci. (Ahmad, 2. Oposisi Biner Tokoh Rahwana tampak dalam pernyataan berupa dialog maupun narasi tokoh Aku, bahwa Rahwana adalah sosok antagonis dan berkebalikan dengan Rama yang merupakan protagonis. Tokoh Aku membawa suara yang selama ini dianut oleh masyarakat berdasarkan epos Ramayana. Penggambaran tokoh Rahwana adalah antagonis, raksasa jahat, tidak ada sisi baiknya. Sebaliknya tokoh Rama adalah lawan Rahwana. Rama protagonis yang baik hati dan tidak memiliki sisi jahat. Dalam konteks teori dekonstruksi yang diperkenalkan oleh Jacques Derrida, oposisi biner antara Rahwana dan Rama dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad dapat dibongkar dan dipertanyakan Derrida menjelaskan bahwa oposisi biner dalam wacanaAidi mana satu elemen ditempatkan sebagai yang dominan atau superior (Ram. dan elemen lainnya sebagai inferior (Rahwan. Aisebenarnya merupakan konstruksi yang tidak sepenuhnya stabil atau alamiah. Oposisi tersebut, menurut Derrida, cenderung menghasilkan hierarki yang tidak adil dan menutupi kompleksitas makna yang lebih dalam di balik kedua entitas tersebut. Dalam cerpen ini, oposisi biner yang disajikan melalui dialog tokoh Aku mengilustrasikan bahwa Rahwana dipandang sebagai simbol segala keburukan, sementara Rama mewakili segala kebaikan. Ini selaras dengan konstruksi sosial yang diambil dari Ramayana, di mana Rahwana selalu digambarkan sebagai raksasa yang jahat dan tidak memiliki sifat baik, sedangkan Rama selalu diasosiasikan dengan sosok pahlawan yang sempurna. Namun, jika kita menerapkan pendekatan dekonstruksi Derrida, pandangan ini menjadi tidak stabil karena oposisi biner ini menutupi kerumitan sifat kedua tokoh tersebut (Stocker, 2. Dekonstruksi memungkinkan kita untuk mempertanyakan kebenaran absolut yang dilekatkan pada Rama dan Rahwana. Pada satu sisi. Rahwana yang dianggap sebagai figur jahat dalam narasi konvensional, ternyata bisa memiliki cinta tulus terhadap Sita, sementara Rama, yang dianggap sebagai protagonis mulia, meragukan kesucian istrinya sendiri. Di sini terlihat bahwa kualitas protagonis dan antagonis yang seharusnya terpolarisasi antara Rama dan Rahwana justru saling bercampur. Dengan kata lain. Rahwana, sebagai yang "inferior" dalam oposisi biner ini, sebenarnya mengandung unsur "superior" yang dapat dianggap lebih baik dibandingkan dengan Rama dalam hal cinta dan kesetiaan. Derrida juga berbicara tentang konsep diffyrance, di mana makna tidak pernah tetap tetapi selalu tertunda dan bergeser(Setyawati, 2. Dalam kasus ini, makna Rahwana sebagai tokoh jahat tidak pernah benar-benar pasti, dan ketika ditinjau lebih dalam, ternyata sifatsifat yang dianggap negatif itu bisa bergeser menjadi sesuatu yang positif. Rahwana menjadi figur yang bisa menantang stereotip dan membawa interpretasi baru, sebuah proses yang disebut Derrida sebagai disseminationAidi mana makna tersebar dan tidak lagi terikat pada oposisi biner yang kaku. Dengan dekonstruksi, narasi tokoh Rahwana yang selama ini direduksi menjadi sosok antagonis dalam Ramayana bisa Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X dipecahkan dan dipahami secara lebih kompleks. Rahwana tidak lagi murni antagonis, melainkan figur dengan kedalaman yang lebih kaya dan manusiawi. Begitu juga dengan Rama, yang mungkin tidak selalu seideal yang selama ini digambarkan (Evans, 1. Inkonsistensi Logis Tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad Berdasarkan oposisi biner yang telah dipaparkan sebelumnya, berikutnya ditemukan inkonsistensi logis terkait tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad. Inkonsistensi logis tersebut disampaikan oleh tokoh sahabat, seorang ibu yang memberi nama anaknya Rahwana. Berikut kutipannya. Memangnya kenapa kalau kunamakan Rahwana? Nama itu bagus. Ay (Ahmad, 2. Rama. Laksamana. Wibisana. Ketiga nama itu biasa saja, tapi cobalah kaucari berapa jumlah orang dengan nama Rahwana. Masih jarang, sangat jarang, bahkan mungkin tak adaA. Ay (Ahmad, 2. Pada kutipan di atas tampak bahwa tokoh Ibu tersebut justrru menganggap nama Rama. Laksamana. Wibisana yang selama dianggap protagonis, bagi Si Ibu sangat biasa. Oleh sebab sangat biasa, dia justru memberi nama anaknya Rahwana karena dianggap baik, langka, bagus sekali. Meskipun sudah dibujuk oleh tokoh Aku. Si Ibu tetap bertahan dan memberikan nama anaknya Rahwana. Berikut cuplikannya. Aku tak mengerti mengapa ibumu begitu menggandrungi nama Rahwana. (Ahmad, 2. AuKu katakan bahwa nama Rahwana itu baik. Ay (Ahmad, 2. Dia menggeleng-gelengkan kepala dan bergumam beberapa kali bahwa namamu itu bagus sekali. Nama yang langka, dan mungkin tak ada duanya. (Ahmad, 2. Alasan Si Ibu memberi nama anaknya Rahwana terungkap saat mendekati akhir cerita pendek. Bagi Si Ibu. Rama yang selama ini dianggap baik sesungguhkan tidak memiliki cinta yang tulus terhadap Sita. Rama meragukan kesucian Sita, meskipun pada akhirnya terbukti pada saat Sita dibakar dia selamat berkat kesucian yang masih dijaga. Pandangan Si Ibu tercermin dalam fragmen cerita berikut ini. Namun meski istri tercinta telah kembali. Sita tetap diragukan kesuciannya oleh Rama. (Ahmad, 2. AuMenurutku cinta Rahwana lebih murni dari Rama. Dia mencintai Sita dengan teramat tulus, sedangkan Rama tak menaruh percaya kepada istrinya sendiri. Ay AuTak banyak lelaki bisa seperti Rahwana, selalu mencintai meski tak pernah ditanggapi. Ay (Ahmad. Si Ibu justru melihat bahwa cinta tulus berhasil dibuktikan oleh tokoh Rahwana. Selama Sinta terkurung di Alengka, tidak ada niat Rahwana untuk merudapksa Sita. Dia tulus terhadap Sita dan tidak Hal ini berkebalikan dengan Rama yang justru menaruh curiga dengan istrinya sendiri. Bagi tokoh Ibu. Rahwana adalah seorang laki-laki yang memiliki cinta murni, hanya saja selama ini tertutup oleh rupanya yang raksasa. Berikut kutipannya. Ibumu menegaskan bahwa Rahwana membuktikan meski seorang raksasa sekalipun tetap saja memiliki kasih di dalam sanubarinya (Rahwana, 2. Inkonsistensi logis tokoh Rahwana yang semula dianggap antagonis dan buruk, kini justru terbukti dengan beberapa pernyataan logis yang tidak konsisten dengan oposisi biner. Inkonsistensi logi tersebut sebagai dasar bahwa tokoh Rahwana tidak sejahat yang selama ini dipercayai orang-orang seperti sahabat dana putranya. Bahwa Rahwana tetaplah seorang makhluk yang memiliki hati yang tulus. Bahkan ketulusan hati tersebut tidak ditampakkan oleh Rama yang meminta sang istri membuktikan kesuciannya (Mouffe. Dalam perspektif dekonstruksi Derrida, inkonsistensi logis terkait tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana membuka ruang untuk menantang oposisi biner yang kaku antara Rahwana sebagai antagonis dan Rama sebagai protagonis. Tokoh Ibu yang memberi nama anaknya Rahwana justru menyoroti sisi yang selama ini terabaikan dalam narasi konvensional. Ia melihat Rahwana sebagai sosok dengan cinta tulus yang murni, yang tidak ditemukan pada Rama, yang malah meragukan kesucian istrinya sendiri. Derrida menyatakan bahwa oposisi biner tidaklah tetap. dengan demikian, penggambaran Rahwana sebagai sosok yang jahat dapat ditinjau kembali (Setyawati, 2020. Sugara, 2. Tokoh Ibu memandang Rahwana sebagai figur yang memiliki keunikan positifAinama yang langka dan cinta yang sejatiAiyang menantang stereotip masyarakat tentangnya. Dekonstruksi memungkinkan kita untuk melihat bahwa peran antagonis yang dilekatkan pada Rahwana sebenarnya tidak absolut. Dengan membongkar oposisi ini, kita melihat bahwa Rahwana, yang selama ini dipinggirkan, memiliki kualitas yang lebih manusiawi dan bahkan superior dalam konteks cinta dibandingkan Rama. Ini menunjukkan bahwa makna tokoh Rahwana tidak monolitik, melainkan selalu tertunda . (Culler, 1985. Hourihan, 2. , di mana Rahwana yang selama ini dianggap "buruk" Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X dalam logika biner justru bisa dilihat sebagai sosok dengan ketulusan dan kasih sayang. Begitu pula Rama, yang dipandang protagonis, terbukti memiliki kekurangan berupa ketidakpercayaan pada istrinya, yang mendekonstruksi posisinya sebagai sosok sempurna. Konstruksi Baru Tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad Inkonsistensi logis yang telah dipaparkan membangun konstruksi baru tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana karya Artie Ahmad. Rahwana yang selama ini dikenal sebagai sosok antagonis, justru memiliki sisi lain, sebuah konstruksi baru bahwa Rahwana memiliki perasaan cinta yang suci, tulus, terhadap Sinta. Berikut ini kutipan pada akhir cerita pendek. Saat ini dia ingin kau bangga dengan namamu. Baginya kau seorang lelaki dengan cinta semurni telaga, maka itulah ia namakan kauA. Rahwana. (Ahmad, 2. Sebuah pandangan baru terkait tokoh Rahwana, yang sebelumnya dikenal lebih buruk dibandingkan dengan Rama, kini justru membuat pembaca berpikir ulang. Pernyataan tokoh Ibu dalam cerita pendek menunjukkan secara logis tokoh Rahwana yang sama baiknya dengan Rama. Bahkan dalam mencintai Sita dianggap lebih baik dari cara Rama. Tokoh Rahwana tidak lagi murni Antagonis, ada sisi lain dari sosoknya, cinta semurni telaga, begitu pengarang menyebutnya. Dalam konteks teori dekonstruksi Derrida, konstruksi baru tokoh Rahwana dalam cerpen Namamu Rahwana memecah dualitas oposisi biner yang sebelumnya memisahkan Rahwana sebagai antagonis dan Rama sebagai protagonis. Inkonsistensi logis yang muncul melalui pandangan Si Ibu tentang Rahwana menunjukkan bahwa sosok Rahwana tidak lagi dapat dilihat secara kaku sebagai perwujudan kejahatan semata. Dekonstruksi, dengan membongkar struktur oposisi biner (Asgarova, 2022. Custer et al. , 1. , menyoroti bahwa Rahwana memiliki kualitas yang selama ini tidak terlihat dalam narasi dominan, yaitu cinta yang tulus dan murni. Hal ini mendobrak persepsi tradisional bahwa Rahwana sepenuhnya jahat dan Rama sepenuhnya Pendekatan dekonstruksi membuka ruang untuk memahami Rahwana dari perspektif yang lebih Cinta Rahwana terhadap Sita, yang digambarkan "semurni telaga", menantang narasi utama yang selama ini mendominasi cerita-cerita Ramayana. Ini memberikan sudut pandang bahwa makna karakter tidak pernah tetap atau final, melainkan selalu dapat dipertanyakan dan dibongkar (Kamalia et al. , 2020. Selden et , 2. Melalui cerita ini, pengarang menghadirkan dekonstruksi makna bahwa Rahwana tidak hanya sekadar antagonis, tetapi juga manusia dengan perasaan yang mendalam, bahkan lebih tulus dalam hal cinta dibandingkan Rama. KESIMPULAN Tokoh Rahwana dalam cerita pendek Namamu Rahwana karya Artie Ahmad tidak lagi dianggap sebagai karakter yang sepenuhnya buruk dan jahat. Dalam cerita pendek tersebut terdapat dekonstruksi tentang karakter Rahwana. Dekonstruksi terhadap tokoh Rahwana ini menentang pandangan tradisional tokoh Rahwana yang selama ini didasarkan pada narasi klasik Ramayana yaitu Rahwana digambarkan sebagai sosok antagonis absolut dan Rama sebagai protagonis ideal. Rahwana, dalam cerpen ini, dihadirkan sebagai simbol cinta tulus seorang lelaki, hal ini mencerminkan bahwa dalam setiap tokoh antagonis, terdapat potensi untuk sisi baik. Dekonstruksi tokoh Rahwana dalam cerita pendek Namamu Rahwana karya Artie Ahmad menampakkan pemahaman yang lebih humanis terhadap karakter tokoh Rahwana. DAFTAR PUSTAKA