Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Rekonstruksi Epistemologi Rasionalisme Reny Descartes dalam Perspektif Filsafat Hindu tentang Hakikat Pengetahuan Di Indonesia Muhammad Faishal Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medan. Indonesia muhammadfaishal@uinsu. Abstract Reny DescartesAo rationalism emphasizes reason as the primary source of truth through the method of systematic doubt and the principle of cogito ergo sum (AuI think, therefore I amA. This approach serves as a fundamental basis for constructing modern knowledge systems that are logical and structured. In contrast. Hindu philosophy offers an alternative view, emphasizing intuitive experience, inner consciousness, and scriptural authority as epistemological foundations. In the context of IndonesiaAos growing openness to cross-cultural philosophical dialogue, there is a need to integrate these two approaches to address contemporary challenges of knowledge that are not only rational but also existential and spiritual. This study aims to reconstruct DescartesAo epistemology of rationalism through the lens of Hindu philosophy in order to provide a more holistic understanding of the nature of knowledge. Using a qualitative method with a literature review approach, this research examines DescartesAo works alongside key Hindu philosophical texts such as the Upanishads and Bhagavad Gita. The findings reveal that while DescartesAo rationalism offers a systematic foundation for epistemology, it is limited in addressing the transcendental dimensions of knowledge. Hindu philosophy complements these limitations by presenting knowledge as a path of inner realization and spiritual insight. Therefore, this reconstruction contributes to the development of a more integrative epistemological framework in Indonesia bridging Western rationalism and Eastern wisdom traditions. Keywords: Epistemology. Descartes. Rationalism. Hindu Philosophy. Nature of Knowledge Abstrak Rasionalisme yang dikembangkan oleh Reny Descartes menekankan bahwa akal merupakan sumber utama kebenaran melalui metode keraguan metodis dan prinsip cogito ergo sum (Ausaya berpikir, maka saya adaA. Pendekatan ini menjadi dasar penting dalam pembentukan struktur pengetahuan modern yang rasional dan logis. Di sisi lain, filsafat Hindu menawarkan pandangan yang berbeda, yakni menempatkan pengalaman intuitif, kesadaran batiniah, dan otoritas kitab suci sebagai fondasi epistemologis. Dalam konteks perkembangan filsafat di Indonesia yang mulai terbuka terhadap dialog lintas tradisi, terdapat kebutuhan untuk mengintegrasikan dua pendekatan ini agar mampu menjawab tantangan pengetahuan kontemporer yang tidak hanya rasional, tetapi juga eksistensial dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi epistemologi rasionalisme Reny Descartes melalui perspektif filsafat Hindu dalam memahami hakikat pengetahuan secara lebih holistik. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi pustaka, penelitian ini menelaah karya-karya Descartes serta teks-teks utama dalam filsafat Hindu seperti Upanishad dan Bhagavad Gita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan rasionalisme Descartes memiliki kekuatan dalam menstrukturkan pengetahuan secara sistematis, namun terbatas dalam menjangkau dimensi transendental. Sebaliknya, filsafat Hindu mampu melengkapi kekosongan tersebut dengan menawarkan pemahaman pengetahuan sebagai kesadaran dan pencerahan batin. Oleh karena itu, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH rekonstruksi ini diharapkan dapat memperkaya khazanah epistemologi di Indonesia dengan menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh antara rasionalitas Barat dan kebijaksanaan Timur. Kata Kunci: Epistemologi. Descartes. Rasionalisme. Filsafat Hindu. Hakikat Pengetahuan Pendahuluan Dalam tradisi filsafat Barat, rasionalisme menjadi fondasi utama dalam pengembangan epistemologi modern. Reny Descartes merupakan tokoh sentral pendekatan ini, yang melalui prinsip cogito ergo sum (Ausaya berpikir, maka saya adaA. , menegaskan akal sebagai sumber pengetahuan yang pasti dan tak terbantahkan. Metode keraguan sistematis yang ia kembangkan menjadi titik tolak bagi penyusunan pengetahuan yang logis, kritis, dan otonom dari otoritas eksternal (Sorbello et al. , 2. Rasionalisme Descartes memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara berpikir ilmiah modern, dengan menjadikan akal sebagai alat verifikasi filosofis (Dyrfler & Cuthbert. Namun di sisi lain, filsafat Hindu menawarkan pendekatan epistemologis yang bersifat intuitif, metafisik, dan spiritual. Dalam sistem filsafat seperti Vedanta dan Samkhya, pengetahuan diperoleh tidak hanya melalui rasio, tetapi juga melalui intuisi . dan otoritas wahyu . , yang menekankan kesatuan antara subjek dan objek pengetahuan (Gathogo, 2. Meski pemikiran Descartes telah menjadi objek kajian luas dalam tradisi filsafat Barat, masih minim penelitian yang membandingkan epistemologinya dengan kerangka filsafat non-Barat, khususnya filsafat Hindu. Sebagian besar studi cenderung membahas rasionalisme secara internal atau dalam konteks sejarah pemikiran Barat, tanpa membuka kemungkinan dialog antartradisi filosofis (Mukadi, 2022. Ahmadizade, 2. Selain itu, literatur yang membahas metodologi Descartes sebagai dasar dalam penelitian filsafat juga belum mengangkat secara eksplisit keterbatasan pendekatan rasionalisme dalam menjawab dimensi transendental dari pengetahuan. Perspektif filsafat Hindu yang menawarkan pendekatan holistik terhadap pengetahuan masih jarang digunakan sebagai alat untuk merekonstruksi atau meninjau kembali epistemologi Barat yang bersifat fragmentaris dan logis semata (Ugwu, 2. Berdasarkan celah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi epistemologi rasionalisme Reny Descartes melalui pendekatan filsafat Hindu, guna membangun pemahaman yang lebih komprehensif dan kontekstual tentang hakikat pengetahuan, khususnya dalam lanskap keilmuan Indonesia. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana metode keraguan Descartes dapat dipertemukan dengan prinsip-prinsip epistemologi Hindu yang menekankan integrasi antara logika, intuisi, dan pengalaman Dengan mengkaji dua kerangka berpikir yang berasal dari tradisi yang berbeda, penelitian ini berupaya memperluas cakrawala metodologi filsafat agar lebih adaptif terhadap dinamika pemikiran lokal dan global yang berkembang di Indonesia (Faizi. Sebagai pijakan awal, penelitian ini berpandangan bahwa rasionalisme Descartes memiliki kekuatan dalam membangun struktur pemikiran yang koheren, namun belum cukup dalam menjangkau sisi eksistensial dan transendental dari pengetahuan. Di sinilah filsafat Hindu hadir untuk mengisi kekosongan tersebut, dengan menawarkan pendekatan yang tidak hanya menalar, tetapi juga menyadari secara mendalam. Oleh karena itu, rekonstruksi epistemologi Descartes melalui perspektif filsafat Hindu menjadi langkah penting dalam merumuskan kembali paradigma pengetahuan di Indonesia yang tidak hanya rasional secara ilmiah, tetapi juga spiritual secara budaya. Pendekatan ini https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH diharapkan mampu menghasilkan model epistemologi yang lebih utuh, reflektif, dan sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal dalam menjawab tantangan pengetahuan di era Metode Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. , dengan tujuan untuk merekonstruksi pemikiran epistemologis Reny Descartes melalui dialog filosofis dengan tradisi filsafat Hindu, serta menelaah relevansinya dalam konteks pengembangan paradigma pengetahuan di Indonesia. Fokus utama kajian ini adalah pada struktur epistemologi rasionalisme Descartes khususnya metode keraguan sistematis dan prinsip cogito ergo sum yang dianalisis secara kritis melalui perspektif filsafat Hindu yang menekankan intuisi, kesadaran batin, serta otoritas kitab suci seperti Upanishad dan Bhagavad Gita sebagai dasar validasi pengetahuan. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari literatur primer dan sekunder. Literatur primer mencakup karya-karya asli Reny Descartes seperti Meditations on First Philosophy dan Discourse on the Method, serta teks-teks kunci dalam filsafat Hindu seperti Upanishad. Bhagavad Gita, dan tulisan-tulisan filosof Hindu klasik seperti Adi Shankara. Sementara itu, literatur sekunder meliputi jurnal ilmiah, buku referensi, dan artikel akademik yang membahas tentang rasionalisme, epistemologi, dan dialog lintas tradisi dalam filsafat (Nasution, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran sumber-sumber literatur akademik menggunakan mesin pencari ilmiah seperti Google Scholar. JSTOR, dan DOAJ, dengan kata kunci: AuDescartes' rationalism,Ay Ausystematic doubt,Ay Auepistemology and Hindu philosophy,Ay serta Auintuition in Vedanta. Ay Penelusuran dilakukan secara selektif dan sistematis untuk memperoleh bahan yang relevan dengan objek kajian (Nasution, 2. Analisis data dilakukan dalam tiga tahap utama, mengacu pada model analisis temati. Pertama, dilakukan reduksi data dengan cara mengidentifikasi, menyaring, dan mengelompokkan gagasan utama dari masing-masing sumber. Kedua, dilakukan interpretasi kritis terhadap masingmasing konsep epistemologis baik dari sisi Descartes maupun filsafat Hindu, untuk mencari titik temu dan perbedaan mendasar. Ketiga, dilakukan rekonstruksi konseptual, yakni menyusun ulang struktur epistemologi Descartes dalam kerangka yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan kontribusi filsafat Hindu. Validitas data diuji melalui cross-check antarsumber dan pemetaan argumen yang konsisten, agar hasil analisis dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan dapat direplikasi oleh peneliti lain dalam kajian sejenis (Muzairi, 2. Hasil Dan Pembahasan Epistemologi Rasionalisme Reny Descartes Sebagai Fondasi Pengetahuan Epistemologi rasionalisme yang dikembangkan oleh Reny Descartes menjadi salah satu fondasi utama dalam tradisi filsafat Barat modern. Gagasannya menekankan bahwa sumber pengetahuan yang paling dapat dipercaya bukanlah pengalaman indrawi, melainkan akal yang jernih dan rasional. Prinsip cogito ergo sum (Ausaya berpikir, maka saya adaA. menjadi titik awal bagi Descartes dalam membangun sistem pengetahuan yang kokoh dan tidak dapat diragukan. Pemikiran ini muncul sebagai respons terhadap ketidakpastian zaman dan dominasi otoritas eksternal dalam menentukan kebenaran. Dengan menjadikan akal sebagai dasar validitas epistemologis. Descartes menghadirkan pendekatan baru yang menuntut ketepatan logika dan kejernihan berpikir dalam membangun pengetahuan yang bersifat universal dan sistematis (Krupecka, 2. Metode keraguan metodis . ethodic doub. menjadi langkah awal Descartes dalam menyeleksi dan menyaring seluruh pengetahuan yang selama ini diterima (Miles, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH 2. Ia memulai dengan meragukan segala sesuatu termasuk hasil pengamatan inderawi, tradisi, bahkan keyakinan pribadi hingga akhirnya menemukan satu hal yang tidak dapat diragukan, yakni eksistensi dirinya sebagai subjek yang berpikir. Dari titik inilah Descartes mulai menyusun struktur pengetahuan baru yang dibangun melalui penalaran logis dan deduktif (Axtell, 2. Akal dianggap sebagai satu-satunya sarana yang dapat menjamin kebenaran, karena ia bekerja dengan prinsip-prinsip yang pasti dan tidak berubah. Tabel berikut merangkum langkah-langkah rasionalitas Descartes: Tabel 1. Tahapan Rasionalisme Descartes Langkah Pemikiran Defenisi Hasil/Pemahaman Keraguan Meragukan semua pengetahuan Pengetahuan harus diuji secara yang diterima secara otomatis kritis dan rasional Kesadaran Diri Aktivitas berpikir sebagai bukti AuSaya berpikir, maka saya adaAy menjadi fondasi pengetahuan Dasar Pengetahuan Pengetahuan dibangun melalui Pengetahuan sejati bersifat logika dan akal universal, logis, dan konsisten Berdasarkan tabel 1, tahapan rasionalisme Descartes terdiri dari tiga langkah Pertama, tahap keraguan metodis, yaitu meragukan semua pengetahuan yang diterima secara otomatis. Kedua, tahap kesadaran diri, yaitu menjadikan aktivitas berpikir sebagai bukti eksistensi dengan prinsip AuSaya berpikir, maka saya ada. Ay Ketiga, tahap konfirmasi rasional, yaitu membangun pengetahuan melalui logika dan akal untuk menghasilkan pemahaman yang bersifat universal, logis, dan konsisten (Descrates, 1. Rasionalisme Descartes juga memperkenalkan paradigma baru dalam memahami subjek pengetahuan. Bagi Descartes, manusia bukan sekadar penerima informasi pasif, melainkan agen rasional yang memiliki tanggung jawab epistemik (Uzoigwe, 2. Pengetahuan tidak boleh diterima begitu saja, tetapi harus diuji melalui refleksi dan analisis logis. Hal ini menandai pergeseran penting dalam sejarah epistemologi, di mana otonomi intelektual dan kebebasan berpikir menjadi nilai utama dalam pencarian Melalui pendekatan ini. Descartes tidak hanya membangun kerangka rasional untuk filsafat, tetapi juga membuka jalan bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern yang berbasis pada verifikasi logis dan deduksi sistematis (Bentley, 2. Pengaruh rasionalisme Descartes terus berlanjut hingga era kontemporer, terutama dalam bidang metodologi ilmiah dan pendidikan kritis. Prinsip-prinsip seperti kejelasan ide, kesinambungan logika, dan verifikasi rasional menjadi standar dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan di tengah gelombang informasi yang kompleks dan cepat seperti saat ini, pendekatan Descartes tetap menjadi pijakan penting untuk menyaring pengetahuan yang valid dan menghindari kesesatan berpikir. Oleh karena itu, epistemologi rasionalisme Descartes bukan hanya relevan dalam konteks sejarah filsafat, tetapi juga kontributif dalam menjawab tantangan intelektual masa kini yang menuntut integritas, kedalaman, dan ketelitian berpikir (Rojek, 2. Selain memberikan fondasi bagi filsafat dan sains modern, pendekatan rasionalisme Descartes juga berkontribusi terhadap pembentukan nilai-nilai dasar dalam pengembangan metode berpikir kritis. Dalam konteks pendidikan, misalnya, pendekatan Descartes mendorong pembelajar untuk tidak hanya menghafal, tetapi juga menganalisis dan mempertanyakan konsep-konsep yang diterima. Sikap skeptis yang metodologis, jika digunakan dengan benar, mampu membentuk karakter intelektual yang independen, sistematis, dan tangguh dalam menghadapi kompleksitas permasalahan pengetahuan. Maka dari itu, warisan Descartes tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga berimplikasi luas dalam membentuk pola pikir masyarakat modern yang berbasis pada nalar dan ketelitian (Christofidou, 2. Di sisi lain, meskipun memiliki keunggulan dalam kejelasan dan kepastian logis, pendekatan rasionalisme Descartes tetap memerlukan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH penyempurnaan agar mampu menjawab kompleksitas dimensi non-logis dari kehidupan Aspek-aspek seperti intuisi, pengalaman spiritual, dan kesadaran transendental seringkali tidak dapat direduksi semata-mata pada logika deduktif (Dalissier, 2. Oleh sebab itu, epistemologi Descartes perlu dikaji ulang dan direkonstruksi dalam dialog dengan sistem pemikiran lain yang lebih komprehensif, seperti filsafat Timur. Upaya semacam ini tidak bertujuan untuk menggantikan pendekatan rasional, melainkan memperluas cakrawala epistemologis agar lebih inklusif terhadap dimensi batiniah dan spiritual dalam proses pencarian pengetahuan (Eddy Kristiyanto, 2. Kritik dan Rekonstruksi Filsafat Hindu Terhadap Rasionalisme Descartes Filsafat Hindu merupakan salah satu sistem pemikiran tertua yang menyajikan konsep pengetahuan yang mendalam dan menyeluruh. Dalam tradisi Hindu, terutama aliran Vedanta dan ajaran Upanishad, pengetahuan tidak hanya dipahami sebagai hasil dari proses logis dan rasional, tetapi sebagai bentuk realisasi kesadaran tertinggi yang tidak terpisah dari eksistensi itu sendiri. Pengetahuan sejati . berasal dari penyatuan antara subjek dan objek, melalui proses kontemplatif dan pengalaman batin yang Oleh karena itu, pendekatan epistemologis Hindu sangat berbeda dari pendekatan Descartes yang bertumpu pada keraguan dan rasio sebagai dasar utama Dalam pandangan Hindu, kesadaran yang murni . justru merupakan titik awal dari segala bentuk pengetahuan (Surpi and Ardana 2. Kritik terhadap rasionalisme Descartes dalam perspektif filsafat Hindu dapat dilihat dari keterbatasan pendekatan rasional dalam menjangkau kebenaran yang bersifat Rasionalisme Descartes menempatkan ego sebagai pusat kesadaran, dan pengetahuan sebagai hasil dari penalaran deduktif yang logis (Descrates, 1. Akan tetapi, filsafat Hindu menolak anggapan bahwa ego individu atau pikiran rasional adalah pusat dari segala sesuatu. Sebaliknya, ia menekankan penghapusan ego dan pencerahan batin sebagai syarat mutlak untuk memahami realitas tertinggi . Dalam konteks ini, metode keraguan Descartes hanya sampai pada kepastian logis tentang eksistensi diri, namun gagal menembus dimensi spiritual yang lebih dalam, yang dalam Hindu justru menjadi inti dari pengetahuan sejati (Adnan, 2. Rekonstruksi epistemologi Descartes melalui perspektif filsafat Hindu tidak dimaksudkan untuk meniadakan kontribusi rasionalisme, tetapi untuk memperluas cakupan epistemologisnya. Rasionalitas dapat dipandang sebagai tahap awal dalam proses pencarian kebenaran, tetapi perlu dilengkapi dengan dimensi intuitif dan spiritual. Dalam metode Hindu, pengetahuan sejati lahir melalui integrasi antara pengalaman batin . , pemahaman atas kitab suci . , serta bimbingan dari guru spiritual . uru-shishya parampar. Oleh sebab itu, epistemologi dalam Hindu bersifat holistik, mencakup logika . , intuisi . , dan kesadaran metafisik yang berorientasi pada pembebasan . Pendekatan ini menyempurnakan kerangka rasionalisme Descartes dengan memasukkan unsur transendental yang tidak dapat dicapai hanya dengan logika semata (Siswadi and Murtiningsih 2. Untuk memberikan gambaran yang lebih sistematis mengenai perbedaan dan potensi integrasi antara epistemologi rasionalisme Descartes dan filsafat Hindu, berikut ini disajikan visualisasi data dalam bentuk tabel perbandingan: Tabel 2. Perbandingan Epistemologi Descartes dan Filsafat Hindu Rasionalisme Reny Filsafat Hindu (Vedanta Aspek Epistemologis Descartes dan Upanisha. Intuisi Rasio, logika, keraguan Sumber Pengetahuan otoritas kitab suci https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Cogito ergo sum . eraguan dan kesadaran dir. Pencarian Deduksi logis dan refleksi Realisasi Atman pembebasan dari Maya Metode Meditasi. Kebenaran metode neti-neti Non-dualistik . Relasi Subjek-Objek Dualistik: subjek O objek subjek = objek . tman = Pencerahan spiritual dan Kepastian rasional dan Tujuan Pengetahuan kebebasan dari siklus Posisi Ego dalam Pusat dan Ilusi yang harus dilampaui Pengetahuan fondasi pengetahuan untuk mencapai kesatuan Titik Awal Pengetahuan Berdasarkan tabel 2 tersebut, tampak bahwa pendekatan Hindu dan Descartes berangkat dari asumsi epistemologis yang berbeda, namun keduanya sama-sama berorientasi pada pencarian kebenaran yang mendalam. Filsafat Hindu memberikan dimensi tambahan terhadap epistemologi Descartes dengan menekankan pentingnya kesadaran spiritual dan transformasi batin sebagai syarat untuk memahami realitas secara Integrasi antara nalar rasional dan kesadaran transendental inilah yang menjadi tawaran utama dalam rekonstruksi epistemologi Descartes dari perspektif filsafat Hindu (Surpi & Yogiswari 2. Dalam praktik kontemporer, integrasi antara pendekatan rasional Descartes dan dimensi spiritual filsafat Hindu memiliki potensi besar untuk menjawab tantangantantangan epistemologis modern. Dunia akademik saat ini menghadapi persoalan fragmentasi pengetahuan, di mana logika instrumental dan objektivitas ilmiah kerap mengabaikan aspek kemanusiaan, etika, dan makna transendental dari ilmu pengetahuan (Chambers, 2. Dalam konteks ini, pendekatan filsafat Hindu yang bersifat holistik mampu mengembalikan keseimbangan antara logika dan intuisi, antara analisis dan refleksi, serta antara rasionalitas dan spiritualitas. Pendekatan ini sangat relevan terutama dalam studi filsafat, psikologi, hingga kajian ilmu sosial-kultural, di mana pemahaman terhadap hakikat manusia tidak bisa dilepaskan dari dimensi batin dan kesadaran terdalam (Watson, 2. Lebih jauh, sinergi antara epistemologi Descartes dan filsafat Hindu juga dapat dijadikan pijakan untuk membangun model pendidikan kritis yang menyeluruh. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi sebagai proses penyadaran . , transformasi diri, dan pembebasan dari ketidaktahuan . Dalam kerangka ini, keraguan metodis Descartes dapat dilihat sebagai tahap awal berpikir kritis, sementara ajaran Hindu menuntun proses menuju integrasi dan penyatuan dengan pengetahuan ilahiah (Kendler et al. , 2. Kombinasi keduanya tidak hanya memperkaya diskursus akademik, tetapi juga mendorong lahirnya manusia pembelajar yang rasional sekaligus bijaksana mampu berpikir logis tanpa kehilangan arah Rekonstruksi epistemologi dalam semangat ini menjadi wacana penting dalam filsafat global yang semakin terbuka terhadap dialog lintas budaya dan peradaban. Dengan demikian, pemikiran filsafat Hindu tidak hanya mengkritik keterbatasan rasionalisme Descartes, tetapi juga menawarkan jalan epistemologis alternatif yang lebih menyeluruh dan manusiawi. Dalam era modern yang sarat informasi dan kebisingan kognitif, pendekatan filsafat Hindu memberi pengingat penting bahwa kebenaran tidak semata-mata bersifat diskursif, tetapi juga kontemplatif dan eksistensial. Rekonstruksi ini mengajak kita untuk memandang pengetahuan bukan hanya sebagai hasil berpikir, tetapi juga sebagai proses penyadaran yang membawa manusia menuju pemahaman hakiki tentang dirinya dan semesta. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Relevansi Epistemologi Descartes dan Filsafat Hindu dalam Menjawab Tantangan Pengetahuan Modern Dalam lanskap pengetahuan modern, tantangan epistemologis semakin kompleks. Era digital menghadirkan kecepatan arus informasi, tetapi tidak selalu diiringi dengan kedalaman pemahaman dan validitas sumber. Pengetahuan tidak lagi sekadar bersifat akademik, tetapi juga menjadi produk algoritma, media sosial, dan opini publik yang mudah tersebar tanpa verifikasi (Astore, 2. Dalam kondisi ini, epistemologi rasionalisme Reny Descartes yang menekankan pentingnya keraguan metodis dan pembuktian rasional masih memiliki relevansi sebagai landasan dalam menyaring informasi dan membangun pengetahuan yang sahih. Keraguan dalam konteks ini menjadi instrumen penyaring terhadap klaim-klaim pengetahuan yang tidak berdasar (Sherboboev, 2. Namun, rasionalisme Descartes yang bertumpu pada nalar dan logika juga menghadapi batasan ketika dihadapkan pada realitas manusia yang bersifat holistik dan multidimensional (Edwards, 2. Di sinilah filsafat Hindu menawarkan kontribusi yang signifikan. Filsafat Hindu, khususnya dalam aliran Vedanta dan ajaran Upanishad, menempatkan pengetahuan sebagai bentuk realisasi kesadaran tertinggi, bukan sematamata hasil olah logika. Pengetahuan bukan hanya tentang apa yang dipikirkan, tetapi juga tentang apa yang disadari secara batiniah. Dengan demikian, pendekatan Hindu memperluas makna epistemologi ke ranah spiritual dan eksistensial, sebuah dimensi yang kerap diabaikan oleh pendekatan Barat yang terlalu menekankan objektivitas formal (Ambarnuari & Harsananda 2. Integrasi kedua pendekatan ini antara rasionalisme Descartes dan spiritualisme filsafat Hindu menawarkan kerangka epistemologi baru yang lebih relevan untuk dunia Ketika pengetahuan hanya diproses secara teknokratis dan instrumental, manusia cenderung kehilangan orientasi nilai dan kedalaman makna. Epistemologi integratif ini tidak hanya menekankan pada kebenaran logis, tetapi juga memperhatikan kebenaran batiniah yang membawa manusia pada kesadaran diri. Dalam dunia akademik, hal ini mendorong pendekatan riset yang lebih kritis, reflektif, dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan (Gilje & Skirbekk, . Relevansi pendekatan ini semakin nyata dalam konteks pendidikan modern yang berorientasi pada pencapaian cepat dan penguasaan keterampilan teknis, tetapi sering kali mengabaikan pembentukan karakter dan kesadaran reflektif. Dengan menggabungkan prinsip cogito Descartes yang menekankan kemampuan berpikir rasional dan prinsip atma-vidya dalam filsafat Hindu yang menekankan pengenalan diri sejati pendidikan dapat diarahkan untuk membentuk manusia utuh. Manusia yang tidak hanya terampil secara kognitif, tetapi juga bijaksana dalam memahami diri dan dunianya (Zeha & Sutono, 2. Selain itu, dalam bidang teknologi dan informasi, epistemologi integratif dapat menjadi fondasi bagi pengembangan etika digital yang lebih bertanggung jawab. Rasionalisme Descartes mengajarkan skeptisisme sebagai alat kritik, sementara filsafat Hindu mengajarkan pengendalian diri dan kesadaran batin sebagai pilar moralitas. Gabungan ini dapat memandu pengguna teknologi untuk tidak terjebak dalam manipulasi informasi, tetapi mampu menilai dan memilah konten dengan nalar dan kebijaksanaan Dalam jangka panjang, ini akan memperkuat literasi epistemologis masyarakat dalam menghadapi era post-truth dan hoaks (Wiyanarti & Hadi, 2. Dengan demikian, relevansi epistemologi Descartes dan filsafat Hindu tidak hanya terletak pada nilai filosofisnya, tetapi juga pada kontribusinya dalam membangun peradaban yang lebih beradab. Dalam situasi global yang sering diliputi krisis kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan, rekonstruksi epistemologi yang menyatukan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH logika dan intuisi, akal dan batin, menjadi jalan tengah yang memungkinkan. Dunia modern membutuhkan bukan hanya manusia berpikir, tetapi manusia sadar yang berpikir dengan jernih dan merasakan dengan dalam. Maka, integrasi epistemologi ini adalah sumbangsih penting bagi upaya membangun paradigma pengetahuan yang tidak hanya benar secara ilmiah, tetapi juga bermakna secara manusiawi (Rochmani et al. , 2. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa epistemologi rasionalisme Reny Descartes, dengan prinsip dasar cogito ergo sum (Ausaya berpikir, maka saya adaA. , telah memberikan fondasi penting dalam membangun sistem pengetahuan yang logis, sistematis, dan dapat diuji secara rasional. Keraguan metodis yang diajukan Descartes menjadi titik tolak bagi pemikiran kritis dan reflektif dalam menyaring klaim pengetahuan yang tidak dapat Namun, pendekatan ini menunjukkan keterbatasan ketika dihadapkan pada dimensi transendental dan batiniah pengetahuan, yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau melalui logika semata. Dalam konteks inilah filsafat Hindu memberikan sumbangan penting melalui pandangan yang menekankan intuisi, kesadaran batin, dan pengalaman spiritual sebagai jalan lain dalam memperoleh pengetahuan. Dengan menggabungkan kedua pendekatan ini, penelitian ini merekonstruksi epistemologi Descartes dalam kerangka filsafat Hindu untuk menghadirkan model pengetahuan yang lebih utuh yang tidak hanya rasional secara logis, tetapi juga bermakna secara eksistensial. Integrasi ini relevan dalam menjawab tantangan epistemologis di era modern yang sarat informasi, tetapi miskin refleksi, serta diwarnai oleh krisis otoritas dan fragmentasi makna. Kontribusi utama dari penelitian ini adalah menghadirkan epistemologi integratif yang menggabungkan nalar dan kesadaran sebagai dua instrumen yang saling melengkapi dalam memahami hakikat pengetahuan. Model ini tidak hanya memperkaya khazanah filsafat Barat dan Timur, tetapi juga memberikan alternatif metodologis dalam menghadapi kompleksitas dunia kontemporer, termasuk dalam ranah pendidikan, teknologi, dan etika. Dengan demikian, pendekatan ini membuka ruang dialog lintas peradaban dalam membentuk paradigma pengetahuan yang lebih berkeadaban dan Adapun keterbatasan dari penelitian ini terletak pada ruang lingkup kajian yang bersifat teoretis dan terbatas pada pendekatan studi pustaka. Penelitian ini belum menjangkau aspek praktis dari penerapan epistemologi integratif di berbagai ranah kehidupan sosial maupun akademik secara empiris. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk menggunakan pendekatan kualitatif lapangan seperti wawancara mendalam atau studi kasus guna mengkaji bagaimana rekonstruksi epistemologi ini dapat diimplementasikan secara nyata, terutama dalam praktik pendidikan, filsafat kebudayaan, dan pengembangan ilmu berbasis nilai-nilai spiritual. Dengan rekonstruksi ini, diharapkan dunia filsafat tidak hanya berkembang dalam wilayah spekulatif semata, tetapi juga menjadi alat transformatif untuk membangun manusia yang berpikir jernih, merasakan secara mendalam, dan hidup dengan kesadaran yang menyeluruh terhadap pengetahuan, kebenaran, dan makna. Daftar Pustaka