JPAP 10 . ISSN (Ceta. : 2548-6233. ISSN (Onlin. : 2548-6241 Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan https://jurnalpasca. id/index. php/jpap/index Analisis Model Pembelajaran Mendalam untuk Meningkatkan Keterampilan Siswa Sekolah Menengah dalam Menulis Cerita Rakyat Yoventa Nahak1*. Mariano Sengkoen2 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Timor. Timor Tengah Utara. Indonesia. 2 Program Studi Ilmu Pemerintahan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Timor. Timor Tengah Utara. Indonesia. *Corresponding Author: Yoventa Nahak. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Timor. Timor Tengah Utara. Indonesia. nhkyoventa@gmail. DOI: 10. 29303/jpap. A 2026 The Authors. This open access article is distributed under a (CC-BY Licens. Abstrak: Pembelajaran menulis cerita rakyat di sekolah menengah masih menghadapi berbagai kendala, seperti rendahnya kemampuan peserta didik dalam mengembangkan ide, berpikir kritis, dan mengaitkan tulisan dengan konteks budaya. Di sisi lain, implementasi pembelajaran mendalam . eep learnin. dalam Kurikulum Merdeka membuka peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan model pembelajaran mendalam dalam meningkatkan keterampilan menulis cerita rakyat pada siswa sekolah menengah serta mengidentifikasi potensi integrasi cerita rakyat berbasis kearifan lokal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian menggunakan metode penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari artikel ilmiah, buku, dokumen kebijakan pendidikan, dan hasil penelitian yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menulis melalui proses eksplorasi, interpretasi, refleksi, dan kreasi yang mendorong peserta didik membangun pemahaman secara Integrasi cerita rakyat sebagai sumber belajar berbasis kearifan lokal memperkaya pengalaman belajar, meningkatkan kreativitas, memperkuat kemampuan berpikir kritis, mengembangkan kemampuan naratif, serta memperkuat literasi budaya dan identitas lokal peserta didik. Penelitian ini menghasilkan model konseptual implementasi pembelajaran mendalam berbasis cerita rakyat yang dapat menjadi alternatif bagi guru Bahasa Indonesia dalam merancang pembelajaran menulis yang kontekstual, bermakna, dan selaras dengan implementasi Kurikulum Merdeka. Kata Kunci: Pembelajaran Mendalam. Deep Learning. Cerita Rakyat. Keterampilan Menulis. Kearifan Lokal. Kurikulum Merdeka. Pendahuluan Pendidikan abad ke-21 menuntut peserta didik tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah yang diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan Oleh karena itu, sistem pendidikan di Indonesia diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, dan berkarakter melalui pembelajaran yang kontekstual, kolaboratif, dan berorientasi pada penguatan kompetensi. Sejalan dengan Tujuan Pendidikan Nasional yang tercermin dalam konsep AuMencerdaskan kehidupan bangsaAy tercantum dalam pembukaan UUD 1945, alinea ke-4, mencerminkan tekad bangsa Indonesia untuk menyediakan pendidikan yang merata ke seluruh wilayah Indonesia, dengan harapan menciptakan masyarakat yang cerdas dan berbudaya. Meskipun dihadapi dengan sejumlah tantangan, upaya pemerintah dan para pendidik dalam menerapkan kurikulum ini memberikan landasan yang kokoh untuk perbaikan sistem pendidikan (Arifin & Mu'id, 2. ___________ Sitasi: Nahak. , & Sengkoen. Analisis Model Pembelajaran Mendalam untuk Meningkatkan Keterampilan Siswa Sekolah Menengah dalam Menulis Cerita Rakyat. (JPAP) Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan, 10. , 317Ae326. https://doi. org/10. 29303/jpap. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Upaya implementasi Kurikulum Merdeka yang memberikan ruang lebih luas bagi satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pembelajaran yang fleksibel, berpusat pada peserta didik, serta sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lingkungan belajar. Kurikulum Merdeka pembelajaran yang bermakna, penguatan karakter, dan pengembangan kompetensi peserta didik secara Prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka adalah kerangka dasar yang mengatur pendekatan dan metode pembelajaran yang digunakan dalam kurikulum ini. Prinsip-prinsip ini pembelajaran yang lebih efektif, relevan, dan sesuai dengan tuntutan pendidikan abad ke-21 (Kurniasih. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 menegaskan pembelajaran mendalam . eep learnin. sebagai paradigma utama dalam implementasi Pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kemampuan peserta mengaplikasikan pengetahuan secara kontekstual Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan faktual, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata maupun dunia kerja. Keberhasilan penerapan pembelajaran mendalam di Indonesia memerlukan sinergi kebijakan, peningkatan kapasitas guru, dan sistem asesmen kontekstual berkelanjutan. Dari perspektif kepemimpinan dan perubahan pendidikan, (Sliwka, 2. menekankan bahwa keberhasilan pembelajaran mendalam bergantung pada kepemimpinan transformatif yang membangun budaya kolaboratif dan inovatif. Dari sisi kognitif, (Spector, 2. menegaskan pentingnya kemampuan refleksi dan analisis manusia sebagai pembeda utama dari kecerdasan buatan. Dalam konteks nasional, (Ghani, 2. menjelaskan prinsip pembelajaran bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan yang disesuaikan dengan karakteristik sistem pendidikan nasional. Dalam perspektif mutu pendidikan, kualitas proses pembelajaran merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan peserta didik dalam mencapai kompetensi yang diharapkan. Pembelajaran yang efektif harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang aktif, menarik, interaktif, dan Juli 2026. Volume 10. Nomor 2, 317-326 mendorong keterlibatan peserta didik secara optimal. Oleh karena itu, penerapan pembelajaran mendalam menjadi salah satu alternatif yang relevan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. (Muhammad Fajar. , 2. meguraikan bahwa dengan adanya Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Peningkatan tersebut ditandai dengan perilaku pembelajaran pendidik dalam mengajar menunjukkan karakteristik, aktivitas siswa yang tidak hanya belajar di dalam ruangan namun terdapat aktivitas yang diluar, iklim pembelajaran berupa suasana kelas yang kondusif, materi pembelajaran yang berkualitas terlihat dari kesesuaian nya dengan tujuan pembelajaran dan kompetensi pembelajaran, serta pemilihan media pembelajaran yang tepat. Penerapan pembelajaran mendalam memiliki relevansi yang kuat dengan pembelajaran Bahasa Indonesia. Menulis keterampilan berbahasa produktif yang menuntut mengembangkan kreativitas, serta mengomunikasikan gagasan secara sistematis. Melalui pembelajaran mendalam, peserta didik tidak hanya mempelajari aspek kebahasaan, tetapi juga diajak untuk mengeksplorasi pengalaman, melakukan refleksi, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam terhadap objek yang ditulis. Dewi et al. menyimpulkan bahwa pembelajaran mendalam memiliki kontribusi yang sangat signifikan dalam meningkatkan keterampilan menulis kreatif siswa. Melalui strategi seperti diskusi reflektif, penugasan berbasis proyek, analisis karya sastra, dan pemanfaatan teknologi digital, siswa diberi kesempatan yang lebih luas untuk mengeksplorasi ide, mengembangkan imajinasi, serta mengekspresikan gagasan secara lebih Proses menulis tidak hanya berorientasi pada pencapaian produk akhir, tetapi juga berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian, pembelajaran mendalam dapat menjadi strategi yang efektif untuk mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara bersamaan, sehingga menghasilkan karya tulis yang kreatif, analitis, dan bermakna. Penguatan keterampilan menulis juga sejalan dengan Gerakan Sekolah Menulis yang saat ini terus dikembangkan sebagai upaya membangun budaya literasi di lingkungan pendidikan. Gerakan ini mendorong peserta didik untuk menghasilkan berbagai karya tulis yang tidak hanya menunjukkan kemampuan Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan berbahasa, tetapi juga mencerminkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Dalam konteks tersebut, pemanfaatan budaya lokal sebagai sumber belajar menjadi salah satu strategi yang dapat memperkaya pengalaman menulis peserta didik. Sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan terkait Gerakan Sekolah Menulis (Irma. Haifaturrahmah, & Muhdar, 2. menjelaskan bahwa, pembelajaran menulis berbasis cerita rakyat merupakan strategi efektif dan inovatif untuk meningkatkan literasi sekaligus menanamkan nilai karakter siswa sekolah Salah satu bentuk budaya lokal yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran menulis adalah cerita rakyat. Cerita rakyat mengandung nilai-nilai budaya, moral, sosial, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat. Provinsi Nusa Tenggara Timur, keberagaman cerita rakyat yang tersebar di berbagai daerah merupakan sumber belajar yang potensial untuk mendukung pembelajaran menulis berbasis budaya lokal. Melalui pemanfaatan cerita rakyat, peserta didik tidak hanya belajar mengembangkan kemampuan menulis, tetapi juga memahami identitas budaya daerah serta berperan dalam pelestarian warisan budaya lokal. Wilfridus Silab dalam bukunya Mitos Mumi di Tola Naluke. Cerita Rakyat Bernuansa Mistik dari Kabis. Desa Naekake B. Kecamatan Mutis. Kabupaten Timor Tengah Utara, menguraikan proses dan metode pengawetan jenazah dalam kebudayaan Suku Atoni Pah Meto di Pulau Timor menggunakan metode historiografi untuk menelisik dan memaparkan rangkaian kisah asal usul di balik keberadaan . atu-satuny. Mumi di wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara, tepatnya di Desa Naekake B. Kecamatan Mutis, yang hingga kini dirawat oleh Suku Tob dan disimpan di Sonaf I Tola Naluke (Istana atau Tempat Pertemuan Naluk. Penulis buku ini merangkum beragam informasi lisan, juga beberapa dokumen sejarah (Sengkoen, 2. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penerapan pendekatan dan sistem pembelajaran yang berorientasi pada deep learning memiliki potensi untuk meningkatkan keterampilan menulis peserta didik. Dewi . dalam kajian literaturnya menemukan bahwa sistem pembelajaran berbantuan deep learning dapat mengoptimalkan kemampuan menulis melalui lima aspek utama, yaitu otomatisasi analisis teks, personalisasi pembelajaran, stimulasi kreativitas, efisiensi evaluasi, dan penguatan pembelajaran kolaboratif digital. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa peserta didik memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan ide, memperbaiki Juli 2026. Volume 10. Nomor 2, 317-326 kualitas tulisan berdasarkan umpan balik yang diberikan, serta meningkatkan kreativitas (Anggraeni & Yonanda, 2. dalam proses menulis. Temuan ini menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam mengeksplorasi, mengembangkan, dan merefleksikan gagasan dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan keterampilan menulis. Penelitian yang dilakukan oleh Krisna Anggraeni dan Devi Afriyuni Yonanda . menunjukkan bahwa penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal dalam model pembelajaran teknik jigsaw efektif meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa sekolah dasar. Hasil penelitian eksperimen menunjukkan bahwa kelas yang menggunakan bahan ajar berbasis kearifan lokal mengalami peningkatan kemampuan menulis yang lebih tinggi dibandingkan kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional. Nilai rata-rata pascates kelas eksperimen mencapai 83,31 dengan peningkatan sebesar 36,08% dan nilai n-gain 0,570 . ategori sedan. , sedangkan kelas kontrol hanya mencapai nilai n-gain 0,274 . ategori renda. Temuan tersebut menunjukkan bahwa integrasi unsur kearifan lokal dalam pembelajaran mampu membantu peserta didik mengembangkan ide, memperkaya isi tulisan, serta meningkatkan kualitas keterampilan menulis karena materi yang dipelajari lebih dekat dengan pengalaman dan lingkungan budaya peserta didik. Penelitian yang dilakukan oleh Sindi Melinda dan Helmi Muzaki . menunjukkan bahwa cerita rakyat memiliki potensi yang besar sebagai bahan ajar dalam pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia. Melalui kajian pustaka yang dilakukan, ditemukan bahwa cerita rakyat dapat diintegrasikan ke dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pemanfaatan cerita rakyat tidak hanya membantu peserta didik memahami aspek kebahasaan, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai budaya, norma sosial, dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Selain itu, penggunaan cerita memperkaya kosakata, meningkatkan pemahaman budaya, serta mendorong peserta didik untuk menghasilkan karya tulis berdasarkan pengalaman dan konteks budaya yang dipelajari. Temuan tersebut menunjukkan bahwa cerita rakyat merupakan sumber belajar yang relevan untuk mendukung pengembangan keterampilan literasi sekaligus penguatan identitas budaya peserta didik. Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan mendorong keterlibatan aktif Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan dalam proses belajar memiliki kontribusi positif terhadap peningkatan keterampilan menulis. Dewi . menunjukkan bahwa pendekatan deep learning mampu meningkatkan kualitas pembelajaran menulis melalui pengembangan kreativitas, eksplorasi ide, dan pemberian umpan balik yang lebih efektif. Sementara itu. Anggraeni dan Yonanda . menemukan bahwa integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran dapat membantu peserta didik mengembangkan gagasan serta meningkatkan kualitas tulisan karena materi yang dipelajari lebih dekat dengan pengalaman dan lingkungan budaya mereka. Selanjutnya. Melinda dan Muzaki . mengungkapkan bahwa cerita rakyat dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang mendukung pengembangan keterampilan berbahasa sekaligus memperkuat pemahaman budaya dan nilainilai lokal. Temuan-temuan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang kuat antara pembelajaran mendalam, pemanfaatan kearifan lokal, dan penggunaan cerita rakyat dalam pengembangan keterampilan literasi peserta didik. Pembelajaran mendalam memberikan ruang bagi peserta didik untuk membangun pemahaman secara reflektif dan bermakna, sedangkan kearifan lokal dan cerita rakyat menyediakan konteks autentik yang dapat memperkaya pengalaman belajar serta mendorong kreativitas dalam menulis. Dengan demikian, ketiga aspek tersebut memiliki potensi untuk saling melengkapi dalam menciptakan pembelajaran menulis yang kontekstual, bermakna, dan berorientasi pada penguatan identitas budaya peserta didik. Meskipun penelitian-penelitian sebelumnya masih dilakukan secara terpisah. Penelitian Dewi . berfokus pada kontribusi deep learning terhadap keterampilan menulis, tetapi belum mengaitkannya dengan pemanfaatan cerita rakyat sebagai sumber belajar. Penelitian Anggraeni dan Yonanda . menitikberatkan pada penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal untuk meningkatkan keterampilan menulis, namun belum menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam sebagai kerangka Sementara itu, penelitian Melinda dan Muzaki . lebih menyoroti potensi cerita rakyat sebagai media pengenalan bahasa dan budaya, bukan sebagai sarana pengembangan keterampilan menulis melalui pembelajaran mendalam. Dengan demikian, mengintegrasikan ketiga aspek tersebut, yaitu pembelajaran mendalam, kearifan lokal, dan cerita rakyat dalam pembelajaran menulis pada jenjang sekolah menengah. Juli 2026. Volume 10. Nomor 2, 317-326 Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis penerapan model pembelajaran mendalam . eep learnin. dalam pembelajaran menulis cerita rakyat pada siswa sekolah menengah. Penelitian ini tidak hanya berupaya meningkatkan keterampilan menulis peserta didik, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal melalui cerita rakyat sebagai bagian dari penguatan literasi budaya dan pelestarian identitas daerah, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan kajian yang menganalisis penerapan model pembelajaran mendalam dalam pembelajaran menulis cerita rakyat. Pembelajaran mendalam memungkinkan peserta didik melakukan eksplorasi tradisi lokal, menginterpretasikan nilai budaya, berkolaborasi, melakukan refleksi, dan menghasilkan teks naratif yang bermakna. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan keterampilan menulis, tetapi juga terhadap penguatan literasi budaya dan pelestarian kearifan lokal. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model pembelajaran mendalam . eep learnin. dalam meningkatkan keterampilan menulis cerita rakyat pada siswa sekolah menengah. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas pembelajaran mendalam dalam membantu siswa memahami struktur cerita rakyat, nilai budaya, kreativitas, dan kemampuan pengembangan ide, serta mengidentifikasi peluang dan tantangan penerapannya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian kepustakaan merupakan penelitian yang memanfaatkan berbagai sumber pustaka sebagai sumber utama data penelitian tanpa melakukan pengumpulan data secara langsung di lapangan (Zed, 2. Fokus penelitian diarahkan pada pengkajian, penelaahan, dan interpretasi berbagai sumber ilmiah yang relevan dengan topik penelitian untuk memperoleh pemahaman konseptual dan teoretis yang mendalam. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas artikel jurnal ilmiah, buku, prosiding, dokumen kebijakan pendidikan, serta hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan pembelajaran mendalam . eep learnin. , keterampilan menulis, dan pemanfaatan cerita rakyat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Teknik Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan mengumpulkan, membaca, dan mengkaji berbagai literatur yang relevan dengan fokus penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi . ontent Analisis isi merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan, dan menginterpretasikan informasi yang terkandung dalam berbagai dokumen atau sumber tertulis sehingga diperoleh pemahaman yang sistematis mengenai suatu fenomena. Melalui teknik ini, berbagai konsep, temuan penelitian, dan kebijakan yang berkaitan dengan pembelajaran mendalam dan pembelajaran menulis cerita rakyat dianalisis secara mendalam untuk menghasilkan sintesis yang Hasil analisis kemudian disajikan secara deskriptif untuk menjelaskan konsep, karakteristik, serta potensi penerapan model pembelajaran mendalam dalam meningkatkan keterampilan menulis cerita rakyat pada siswa sekolah menengah. Hasil dan Pembahasan Konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. dalam Kurikulum Merdeka Hasil sintesis terhadap berbagai dokumen kebijakan pendidikan, literatur ilmiah, dan hasil mendalam . eep learnin. merupakan paradigma pembelajaran yang berorientasi pada pembangunan pemahaman konseptual peserta didik melalui pengalaman belajar yang bermakna. Analisis menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam tidak lagi memosisikan peserta didik sebagai penerima informasi secara pasif, melainkan sebagai individu yang secara aktif membangun pengetahuan melalui eksplorasi, refleksi, kolaborasi, dan penerapan pengetahuan dalam Orientasi memperlihatkan adanya pergeseran paradigma dari pembelajaran yang berfokus pada penguasaan materi menuju pembelajaran yang menekankan proses berpikir tingkat tinggi dan pembentukan kompetensi abad ke-21. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik utama pembelajaran mendalam meliputi keterlibatan aktif peserta didik, pembelajaran yang kontekstual, aktivitas reflektif, kemampuan mentransfer pengembangan kemampuan memecahkan masalah Karakteristik memperlihatkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur melalui kemampuan mengingat informasi, tetapi juga melalui kemampuan peserta didik Juli 2026. Volume 10. Nomor 2, 317-326 memahami makna, menghubungkan konsep, dan menghasilkan solusi terhadap berbagai persoalan yang Temuan lain menunjukkan bahwa prinsip pembelajaran mendalam memiliki keterkaitan yang erat dengan implementasi Kurikulum Merdeka. Fleksibilitas kurikulum memberikan kesempatan kepada guru untuk merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan, karakteristik peserta didik, serta konteks lingkungan tempat mereka belajar. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak lagi berlangsung secara seragam, tetapi disesuaikan dengan kondisi nyata sehingga pengalaman belajar menjadi lebih relevan dan Analisis Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam menjadi paradigma yang memperkuat arah pengembangan kurikulum Regulasi tersebut menempatkan pembelajaran bermakna sebagai fondasi utama dalam membangun kompetensi peserta didik melalui penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan karakter. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar strategi pembelajaran, tetapi telah menjadi arah kebijakan nasional dalam meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Makna penting dari temuan tersebut terletak pada perubahan orientasi pembelajaran yang lebih menekankan kualitas proses belajar dibandingkan kuantitas materi yang disampaikan. Pembelajaran mendalam memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih autentik karena pengetahuan dibangun melalui proses menemukan, menganalisis, mendiskusikan, dan merefleksikan berbagai fenomena yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Proses demikian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara lebih sistematis sekaligus meningkatkan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan hasil analisis yang dilakukan. Selain memperlihatkan keterkaitan yang kuat dengan pengembangan kompetensi abad ke-21. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi berkembang secara simultan ketika peserta didik dihadapkan pada berbagai persoalan kontekstual yang menuntut penyelesaian secara aktif. Oleh karena itu, pembelajaran tidak lagi dipandang sebagai aktivitas transfer pengetahuan, melainkan sebagai proses pembentukan kemampuan belajar sepanjang hayat yang mampu membekali peserta didik menghadapi Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan perubahan sosial, budaya, dan perkembangan Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, karakteristik pembelajaran mendalam memberikan keterampilan berbahasa secara terpadu. Peserta didik tidak hanya belajar memahami kaidah kebahasaan, tetapi juga membangun kemampuan berpikir, pengalaman, serta mengomunikasikan gagasan secara logis dan kreatif. Kondisi tersebut menjadikan pembelajaran mendalam relevan diterapkan pada pembelajaran menulis, terutama dalam menghasilkan karya tulis yang mencerminkan pemahaman konseptual sekaligus pengalaman autentik peserta didik. Dengan demikian, hasil sintesis menunjukkan pendekatan yang mampu memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka karena menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran, mengembangkan pemahaman yang bermakna, mendorong refleksi, mentransfer pengetahuan ke dalam kehidupan nyata, serta meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik. Karakteristik tersebut menjadi landasan yang kuat untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis cerita rakyat sebagai bagian dari pengembangan literasi dan penguatan identitas budaya. Potensi Pembelajaran Mendalam dalam Meningkatkan Keterampilan Menulis Cerita Rakyat Hasil sintesis menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran mendalam memiliki potensi yang signifikan dalam meningkatkan keterampilan menulis cerita rakyat pada siswa sekolah menengah. Potensi tersebut terlihat dari kesesuaian karakteristik pembelajaran mendalam dengan tahapan proses menulis yang meliputi pencarian ide, pengorganisasian gagasan, penyusunan draf, revisi, hingga publikasi Melalui pembelajaran mendalam, proses menulis tidak lagi dipandang sebagai aktivitas menghasilkan produk akhir, tetapi sebagai proses berpikir yang berlangsung secara bertahap melalui eksplorasi, interpretasi, refleksi, dan kreasi. Analisis menunjukkan bahwa tahap eksplorasi menjadi fondasi utama dalam pengembangan ide Pada tahap ini peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi mengenai cerita rakyat melalui wawancara dengan tokoh masyarakat, pengamatan terhadap tradisi lokal, studi dokumentasi, maupun penelusuran berbagai sumber tertulis. Aktivitas tersebut memperkaya pengalaman belajar karena peserta didik memperoleh Juli 2026. Volume 10. Nomor 2, 317-326 data secara langsung dari lingkungan budaya yang mereka miliki. Pengalaman autentik ini sekaligus mengurangi kesulitan siswa dalam menemukan ide tulisan, yang selama ini menjadi salah satu kendala utama dalam pembelajaran menulis. Tahap Hasil kajian menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga menghubungkan cerita rakyat dengan kondisi sosial dan kehidupan masyarakat saat ini. Proses tersebut mendorong peserta didik memahami bahwa cerita rakyat bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan mengandung nilai moral, sosial, budaya, dan pendidikan yang masih relevan dengan kehidupan Aktivitas menghubungkan pengalaman budaya dengan realitas kontemporer memperlihatkan terjadinya proses transfer pengetahuan yang menjadi salah satu indikator utama pembelajaran mendalam. Selanjutnya, tahap refleksi memberikan ruang kepada peserta didik untuk menafsirkan berbagai makna yang terkandung dalam cerita rakyat. Melalui aktivitas reflektif, peserta didik mengevaluasi nilai-nilai budaya, mempertimbangkan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari, serta membangun pemahaman yang lebih mendalam terhadap identitas budaya daerah. Proses refleksi tersebut memperkuat kemampuan berpikir kritis karena peserta didik dituntut memberikan alasan, interpretasi, dan argumentasi terhadap berbagai fenomena budaya yang dipelajari. Tahap akhir berupa kreasi menjadi puncak implementasi pembelajaran mendalam. Pada tahap ini peserta didik menyusun kembali cerita rakyat ke dalam bentuk tulisan dengan menggunakan bahasa, gaya penyajian, serta struktur naratif yang lebih sistematis. Hasil tulisan tidak lagi merupakan reproduksi cerita yang telah ada, melainkan hasil konstruksi pengetahuan yang diperoleh melalui proses eksplorasi, analisis, dan Dengan demikian, kemampuan menulis berkembang secara lebih komprehensif karena peserta didik tidak hanya menguasai aspek kebahasaan, tetapi juga mampu mengembangkan isi tulisan secara kreatif. Temuan pembelajaran mendalam berkontribusi terhadap peningkatan kualitas proses menulis melalui beberapa Pertama, peserta didik lebih mudah menemukan ide tulisan karena memperoleh pengalaman langsung Kedua, berkembang melalui kebebasan mengembangkan cerita berdasarkan hasil interpretasi masing-masing. Ketiga, kemampuan berpikir kritis meningkat karena peserta didik melakukan analisis terhadap nilai budaya sebelum menuangkannya dalam bentuk tulisan. Keempat. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan kualitas tulisan menjadi lebih baik karena proses penyusunannya dilakukan melalui tahapan berpikir yang sistematis. Makna penting dari hasil sintesis tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran menulis tidak cukup hanya dilaksanakan melalui latihan kebahasaan di dalam kelas. Pembelajaran akan menjadi lebih efektif apabila peserta didik diberi kesempatan mengalami sendiri objek yang akan ditulis. Pengalaman tersebut menghasilkan keterlibatan emosional dan intelektual yang lebih tinggi sehingga tulisan yang dihasilkan memiliki kedalaman isi, ketepatan informasi, serta kekayaan sudut pandang. Implikasi lain yang muncul adalah berubahnya peran guru dalam pembelajaran menulis. Guru tidak lagi berfungsi sebagai sumber informasi utama, tetapi sebagai fasilitator yang merancang pengalaman belajar, membimbing proses eksplorasi, mengarahkan refleksi, serta memberikan umpan balik terhadap perkembangan tulisan peserta didik. Perubahan tersebut sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menempatkan guru sebagai pendamping belajar dan peserta didik sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran. Secara keseluruhan, hasil sintesis memperlihatkan bahwa pembelajaran mendalam mampu menjawab berbagai permasalahan yang selama ini ditemukan dalam pembelajaran menulis cerita rakyat, terutama kesulitan menemukan ide, rendahnya kreativitas, lemahnya kemampuan berpikir kritis, dan kurangnya keterkaitan materi dengan kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, pendekatan ini memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan kualitas keterampilan menulis sekaligus memperkuat pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna. Integrasi Cerita Rakyat dan Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Menulis Hasil sintesis menunjukkan bahwa cerita rakyat merupakan sumber belajar yang memiliki potensi besar untuk mendukung pembelajaran menulis berbasis pembelajaran mendalam. Cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai bahan bacaan, tetapi juga sebagai representasi pengalaman kolektif masyarakat yang memuat nilai moral, sosial, budaya, dan identitas lokal. Analisis berbagai sumber menunjukkan bahwa kekayaan cerita rakyat mampu menghadirkan konteks belajar yang autentik sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Temuan penggunaan cerita rakyat sebagai sumber belajar memberikan ruang kepada peserta didik untuk Juli 2026. Volume 10. Nomor 2, 317-326 memahami hubungan antara bahasa, budaya, dan kehidupan masyarakat. Peserta didik tidak hanya mempelajari struktur narasi dan unsur intrinsik cerita, tetapi juga menginterpretasikan makna budaya yang terkandung di dalamnya. Proses tersebut menjadikan kegiatan menulis tidak sekadar latihan kebahasaan, melainkan sarana untuk membangun kesadaran budaya dan memperkuat identitas lokal. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa cerita rakyat memiliki karakteristik yang sangat sesuai dengan prinsip pembelajaran mendalam. Cerita rakyat mengandung berbagai persoalan kehidupan yang dekat dengan pengalaman manusia sehingga memungkinkan menghubungkan nilai-nilai budaya dengan realitas masa kini, serta merefleksikan relevansinya terhadap kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memahami isi cerita, tetapi juga mampu mengembangkan sudut pandang kritis terhadap nilainilai yang diwariskan dalam masyarakat. Hasil sintesis juga memperlihatkan bahwa pemanfaatan cerita rakyat sebagai bahan pembelajaran memberikan dampak terhadap peningkatan motivasi Materi yang berasal dari lingkungan budaya peserta didik lebih mudah dipahami karena berkaitan langsung dengan pengalaman sosial yang mereka kenal. Kedekatan tersebut mendorong munculnya rasa memiliki terhadap materi pembelajaran sehingga peserta didik lebih aktif berdiskusi, bertanya, dan mengembangkan gagasan ketika menyusun tulisan. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal melalui cerita rakyat mampu memperkaya proses pembelajaran menulis. Peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kosakata, memahami variasi bahasa, memperkuat kemampuan menyusun alur cerita, serta meningkatkan kemampuan mendeskripsikan tokoh, latar, dan konflik secara lebih hidup. Selain itu, proses penulisan berbasis cerita rakyat juga memperluas wawasan budaya karena peserta didik mengenal berbagai tradisi, adat istiadat, serta nilai-nilai kehidupan yang berkembang di Makna penting dari hasil tersebut terletak pada fungsi ganda cerita rakyat sebagai media pembelajaran bahasa sekaligus media pelestarian budaya. Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, pembelajaran berbasis cerita rakyat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenali identitas budaya daerahnya tanpa mengurangi penguasaan kompetensi Dengan demikian, pembelajaran menulis tidak hanya menghasilkan karya tulis yang baik, tetapi Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan juga membentuk kepedulian terhadap keberlanjutan budaya lokal. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah, integrasi cerita rakyat menjadi strategi yang relevan untuk membangun literasi Kegiatan menafsirkan, dan menulis kembali cerita rakyat meningkatkan apresiasi terhadap keberagaman budaya Indonesia. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran bahasa memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik melalui penguatan nilai-nilai budaya yang hidup di masyarakat. Berdasarkan hasil sintesis tersebut dapat dipahami bahwa pemanfaatan cerita rakyat sebagai sumber belajar tidak hanya meningkatkan kualitas keterampilan menulis, tetapi juga memperkuat literasi meningkatkan motivasi belajar, dan mengembangkan kemampuan naratif peserta didik. Oleh karena itu, cerita rakyat menjadi media yang sangat sesuai untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran mendalam pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Implementasi Model Pembelajaran Mendalam dalam Menulis Cerita Rakyat di Sekolah Menengah Hasil sintesis menunjukkan bahwa penelitianpenelitian terdahulu telah membuktikan efektivitas keterampilan menulis serta manfaat cerita rakyat sebagai sumber belajar berbasis budaya. Namun demikian, kajian yang mengintegrasikan kedua aspek tersebut ke dalam satu model pembelajaran yang sistematis masih sangat terbatas. Berdasarkan hasil analisis berbagai literatur, penelitian ini menawarkan model implementasi pembelajaran mendalam yang mengintegrasikan cerita rakyat sebagai sumber belajar utama dalam pembelajaran menulis di sekolah Untuk memperjelas hasil sintesis penelitian, model implementasi pembelajaran mendalam yang diusulkan divisualisasikan dalam bentuk alur Model ini menggambarkan hubungan antartahap pembelajaran yang dimulai dari eksplorasi berkesinambungan dalam menghasilkan keterampilan menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal. Adapun model implementasi tersebut disajikan pada Gambar 1. Juli 2026. Volume 10. Nomor 2, 317-326 Gambar 1. Model implementasi pembelajaran mendalam dalam menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal Gambar 1 menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran mendalam berlangsung melalui empat tahapan utama yang saling berkesinambungan, yaitu eksplorasi, interpretasi, refleksi, dan kreasi. Keempat tahapan tersebut membentuk proses belajar yang pengetahuan berdasarkan pengalaman autentik, mengembangkan pemahaman terhadap nilai budaya, serta menghasilkan karya tulis yang mencerminkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan literasi Model yang disusun terdiri atas empat tahapan utama, yaitu eksplorasi, interpretasi, refleksi, dan kreasi. Keempat tahapan tersebut membentuk suatu proses pembelajaran yang saling berkaitan sehingga peserta didik mengalami proses belajar secara utuh, mulai dari memperoleh pengalaman hingga menghasilkan karya Tahap pertama adalah eksplorasi. Pada tahap ini peserta didik diarahkan untuk mencari dan mengumpulkan informasi mengenai cerita rakyat yang berkembang di lingkungan sekitar. Aktivitas yang dapat dilakukan meliputi wawancara dengan tokoh adat atau masyarakat, pengamatan terhadap tradisi lokal, penelusuran dokumen sejarah, maupun pengumpulan cerita dari keluarga. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang autentik karena peserta didik berinteraksi langsung dengan sumber budaya yang menjadi objek pembelajaran. Tahap eksplorasi memiliki peranan penting dalam membangun rasa ingin tahu serta memperluas wawasan peserta didik terhadap keberagaman budaya Pengalaman memperoleh informasi secara langsung menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan hanya membaca teks di dalam Selain itu, proses ini membantu peserta didik menemukan ide tulisan secara alami sehingga mengurangi kesulitan dalam memulai kegiatan menulis. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Tahap kedua adalah interpretasi. Informasi yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi struktur cerita, karakter tokoh, konflik, alur, latar, serta nilai-nilai budaya yang terkandung di Kegiatan diskusi kelompok menjadi bagian penting pada tahap ini karena peserta didik saling bertukar pandangan mengenai makna cerita yang Proses kemampuan menganalisis informasi, dan kemampuan menyampaikan argumentasi secara logis. Tahap ketiga adalah refleksi. Peserta didik diajak menghubungkan nilai-nilai yang ditemukan dalam cerita rakyat dengan berbagai persoalan kehidupan masa kini. Refleksi dilakukan melalui diskusi, penulisan jurnal belajar, maupun penyampaian pendapat secara Tahap ini menjadi inti pembelajaran mendalam karena peserta didik tidak hanya memahami isi cerita, tetapi juga menilai relevansi nilai budaya tersebut terhadap kehidupan pribadi, lingkungan sekolah, dan Proses refleksi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membangun kesadaran bahwa cerita rakyat bukan sekadar warisan budaya, melainkan sumber pembelajaran karakter yang masih memiliki makna dalam kehidupan modern. Kemampuan menghubungkan masa lalu dengan kondisi kekinian menjadi indikator berkembangnya pemahaman konseptual yang menjadi tujuan utama pembelajaran Tahap terakhir adalah kreasi. Berdasarkan hasil eksplorasi, interpretasi, dan refleksi, peserta didik menyusun kembali cerita rakyat dalam bentuk tulisan. Penulisan dapat dilakukan dengan mempertahankan struktur asli cerita ataupun mengembangkan cerita melalui sudut pandang baru tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Guru berperan memberikan umpan balik terhadap isi, organisasi penyampaian pesan sehingga proses revisi menjadi bagian dari pembelajaran. Tahap kreasi menunjukkan bahwa hasil belajar tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi diwujudkan dalam bentuk produk nyata berupa karya Produk tersebut menjadi bukti bahwa peserta didik telah melalui seluruh proses pembelajaran secara bermakna, mulai dari memperoleh informasi, mengolah pengetahuan, merefleksikan pengalaman, hingga menghasilkan karya yang memiliki nilai akademik sekaligus nilai budaya. Model implementasi yang dihasilkan memiliki beberapa keunggulan. Pertama, pembelajaran menjadi Juli 2026. Volume 10. Nomor 2, 317-326 lebih kontekstual karena bersumber dari budaya yang hidup di lingkungan peserta didik. Kedua, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang autentik melalui interaksi langsung dengan masyarakat. Ketiga, proses menulis berlangsung secara bertahap sehingga peserta didik lebih mudah mengembangkan ide dan menyusun Keempat, pembelajaran tidak hanya meningkatkan kemampuan menulis, tetapi juga memperkuat literasi budaya, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan Hasil sintesis ini menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran mendalam dengan cerita rakyat pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mengkaji pembelajaran mendalam, kearifan lokal, dan cerita rakyat secara terpisah, model yang ditawarkan dalam penelitian ini mengintegrasikan ketiga komponen tersebut ke dalam satu kerangka pembelajaran yang utuh. Dengan demikian, model ini dapat menjadi alternatif bagi guru dalam merancang pembelajaran menulis yang lebih kontekstual, bermakna, dan selaras dengan implementasi Kurikulum Merdeka. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam berbasis cerita rakyat berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran menulis melalui penguatan pemahaman konseptual, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta literasi budaya peserta didik. Integrasi antara pengalaman belajar autentik dan pemanfaatan kearifan lokal menjadikan pembelajaran lebih relevan dengan kehidupan peserta didik sekaligus berkontribusi Model implementasi yang dihasilkan menjadi kontribusi pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah. Kesimpulan Hasil penelitian kepustakaan menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam . eep learnin. memiliki potensi yang kuat untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita rakyat pada siswa sekolah menengah melalui pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, bermakna, reflektif, dan kontekstual. Pendekatan ini pengetahuan, tetapi juga mendorong peserta didik kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta kemampuan Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan mentransfer pengetahuan ke dalam situasi nyata. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, karakteristik tersebut menjadikan pembelajaran mendalam relevan untuk mengembangkan kemampuan menulis yang tidak hanya menekankan kualitas produk, tetapi juga kualitas proses berpikir peserta didik. Hasil sintesis juga menunjukkan bahwa cerita rakyat berbasis kearifan lokal merupakan sumber belajar yang efektif untuk mendukung implementasi pembelajaran mendalam. Nilai moral, sosial, budaya, dan identitas lokal yang terkandung dalam cerita rakyat mampu menghadirkan pengalaman belajar yang autentik, memperkaya ide tulisan, meningkatkan motivasi belajar, memperkuat literasi budaya, serta mengembangkan kemampuan naratif peserta didik. Integrasi pembelajaran mendalam dengan cerita rakyat memungkinkan peserta didik membangun pemahaman yang lebih komprehensif melalui proses eksplorasi, interpretasi, refleksi, dan kreasi. Kontribusi utama penelitian ini adalah tersusunnya model implementasi pembelajaran mendalam dalam pembelajaran menulis cerita rakyat yang mengintegrasikan empat tahapan, yaitu eksplorasi, interpretasi, refleksi, dan kreasi. Model tersebut menjadi alternatif konseptual bagi guru Bahasa Indonesia dalam merancang pembelajaran yang lebih Kurikulum Merdeka. Selain meningkatkan keterampilan menulis, model ini juga berkontribusi terhadap penguatan literasi budaya dan pelestarian kearifan lokal sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Meskipun penelitian ini memberikan kontribusi konseptual, temuan yang dihasilkan masih bersifat sintesis teoretis karena menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya perlu melakukan uji empiris terhadap model yang ditawarkan melalui penelitian eksperimen, pengembangan untuk menguji efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan menulis cerita rakyat pada berbagai jenjang pendidikan dan karakteristik peserta Daftar Pustaka