KESKOM. 2019;5(1):23 - 28 J JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS ( J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A LT H ) http://jurnal.htp.ac.id Determinan Kejadian Obesitas pada Masyarakat Dewasa di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru Determinants of Adult Obesity in the Working Area of the Simpang Tiga Community Health Center Pekanbaru City Agus Alamsyah1, M Kamali Zaman2, Winda Septiani3 1,2,3 Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, STIKes Hang Tuah Pekanbaru ABSTRACT ABSTRAK Obesity is an increase in body weight as a result of excessive accumula on of body fat. According to the data from Pekanbaru District Health Office in 2016, the highest propor on of obesity incidence was found in Simpang Tiga Community Health Center, namely 2.1 % per 19.029 popula on. The aim of this study was to know the determinants of obesity incidence in community in the working area of the Simpang Tiga Community Health Center in 2017. This was a quan ta ve analy c study with cross sec onal design. Dependent variable was obesity and independent variables were educa on, knowledge, sex, offspring obesity, physical ac vity, and ea ng habit. The study was conducted in the working area of Simpang Tiga Community Health Center between December 2017 and January 2018. The popula on in this study was a whole people who lived and se led in the working area of Simpang Tiga Community Health center, in Pekanbaru City, in 2018 as many as 19.029 people and samples were 155 respondents. Sampling technique used quota sampling. Data analysis used univariat, bivariat and mul variate techniques. The results of this study showed that those who low educa on, offspring obesity, and ea ng habit related to the incidence of obesity. It was suggested that Simpang Tiga Community Health Center of Pekanbaru City should be more ac ve in promo ng healthy lifestyles such as how a good diet in order to avoid obesity, especially the target in people who have low educa on and have a history of obesity. Obesitas adalah peningkatan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Tahun 2016 proporsi kejadian obesitas ter nggi terdapat di Puskesmas Simpang Tiga yaitu 2,1% per 19.029 penduduk. Tujuan peneli an untuk mengetahui determinan kejadian obesitas pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru tahun 2017. Peneli an ini bersifat kuan ta f anali k dengan jenis desain studi penampang anali k. Variabel dependen obesitas dan Variabel independen adalah Pendidikan, Pengetahuan, Jenis Kelamin, Keturunan, Ak vitas Fisik dan Kebiasaan Makan. Peneli an ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru pada bulan Desember 2017-Januari 2018. Populasi pada peneli an ini adalah seluruh masyarakat yang bertempat nggal dan menetap di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru tahun 2018 sebanyak 19.029 jiwa dan sampel berjumlah 155 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan mul variat. Hasil peneli an menunjukkan bahwa orang yang berpendidikan rendah (≤ SMP), keturunan obesitas, dan kebiasaan makan berpengaruh terhadap kejadian obesitas. Disarankan agar petugas P2M Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru lebih giat lagi mensosialisasikan gaya hidup sehat seper bagaimana pola makan yang baik agar terhindar dari obesitas terutama sasarannya pada masyarakat yang pendidikannya rendah dan mempunyai riwayat keturunan obesitas. Keywords : Educa on, ea ng habit, offspring obesity, Simpang Tiga Community Health Center Kata Kunci : Pendidikan, Kebiasaan Makan, Keturunan, Obesitas, Puskesmas Simpang Tiga Correspondence : Agus Alamsyah, Jl. Unggas Simpang 3 Pekanbaru. Email : agusa41@gmail.com, 0852 1128 4826 • Received 18 Februari 2019 • Accepted 11 Maret 2019 • p - ISSN : 2088-7612 • e - ISSN : 2548-8538 • DOI: h ps://doi.org/10.25311/keskom.Vol5.Iss1.355 Copyright @2017. This is an open-access ar cle distributed under the terms of the Crea ve Commons A ribu on-NonCommercial-ShareAlike 4.0 Interna onal License (h p://crea vecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/) which permits unrestricted non-commercial used, distribu on and reproduc on in any medium 24 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 PENDAHULUAN Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Se ap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi sebagai penyekat panas, penyerap guncangan, dan berbagai fungsi lainnya (Mumpuni & Wulandari, 2010). Prevalensi obesitas meningkat sangat tajam di seluruh dunia, yang mencapai ngkatan yang membahayakan. Kejadian obesitas di negara-negara maju seper di Eropa, Amerika, dan Australia telah mencapai ngkatan epidemik. Akan tetapi, hal ini dak hanya terjadi di negara-negara maju, di beberapa negara berkembang obesitas justru telah menjadi masalah kesehatan yang lebih serius. Sebagai contoh, 70% dari penduduk dewasa Polynesia di Samoa masuk kategori obesitas. Peningkatan prevalensi obesitas berdampak pada munculnya berbagai penyakit degenera f. Obesitas sentral berhubungan dengan peningkatan sindrom metabolik, aterosklerosis, penyakit kardiovaskuler, diabetes, batu empedu, gangguan fungsi pulmonal, hipertensi dan dislipidemia (Adriani & Wijatmadi Bambang, 2012). Menurut WHO, pada tahun 2014 lebih dari 1,9 miliar (39%) orang dewasa berusia 18 tahun dan lebih tua yang kelebihan berat badan (Over weight). Dari jumlah tersebut lebih dari 600 juta (13%) orang dewasa yang obesitas (WHO). Pada tahun 2013, Orang dengan obesitas di dunia berjumlah 2,1 miliar dan Indonesia masuk urutan 10 besar dengan orang obesitas berjumlah lebih dari 40 juta orang atau setara seluruh penduduk Jawa Barat (Anna, 2014). Prevalensi penduduk laki-laki dewasa obesitas pada tahun 2013 sebanyak 19,7%, lebih nggi dari tahun 2007 (13,9%) dan tahun 2010 (7,8%). Pada tahun 2013, prevalensi terendah di Nusa Tenggara Timur (9,8%) dan ter nggi di provinsi Sulawesi Utara (34,7%). Sedangkan pada prevalensi obesitas perempuan dewasa (>18 tahun) 32,9 persen, naik 18,1 persen dari tahun 2007 (13,9%) dan 17,5 persen dari tahun 2010 (15,5%). Prevalensi obesitas terendah di Nusa Tenggara Timur (5,6%), dan prevalensi obesitas ter nggi di provinsi Sulawesi Utara (19,5%) (Riskesdas, 2013). Prevalensi penduduk dewasa (>18 Tahun) di Provinsi Riau dengan obesitas sebesar 14,1%. Prevalensi obesitas terendah di Kabupaten/kota Indragiri Hilir (7,7%) dan ter nggi di Kabupaten/kota Siak (20,7%). Adapun prevalensi penduduk dewasa (>18 Tahun) di Kota Pekanbaru kejadian obesitas sebesar 12,1 % (Riskesdas, 2013). Berdasarkan Data dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Tahun 2016 Proporsi kejadian obesitas ter nggi terdapat di Puskesmas Simpang Tiga yaitu 2,1% per 19.029 penduduk. Data dari Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Marpoyan Damai pada tahun 2015, kejadian obesitas pada Kelurahan Maharatu h p://jurnal.htp.ac.id terdapat 52,50%. Kejadian obesitas pada laki-laki yaitu sebesar 37,50% dan pada perempuan yaitu sebesar 60,58%. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko dari berbagai penyakit dak menular seper penyakit diabetes mellitus, hipertensi,stroke, serangan jantung dan gagal ginjal kanker dan penyakit dak menular lainnya (Adriani & Wijatmadi Bambang, 2012). Obesitas terjadi karena banyak faktor. yaitu faktor keturunan, faktor jenis kelamin, faktor lingkungan, faktor pola makan, faktor psikis, faktor kesehatan, faktor perkembangan, faktor ak vitas fisik, faktor ras, faktor hormon, dan faktor dari segi akupuntur (Mumpuni yek & wulandari). Dalam peneli an Lisa (2016) faktor yang berhubungan dengan obesitas adalah pengetahuan dan pendidikan. Berkaitan dengan ngginya kejadian obesitas di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga khususnya di Kelurahan Maharatu maka penulis melakukan survey awal. Dari 20 responden yang diukur terdapat 5 (25%) masyarakat yang mengalami obesitas, dari 5 responden yang obesitas terdapat 2 (40%) yang memiliki ngkat pendidikan rendah, 2 (40%) yang memiliki pengetahuan kurang terhadap obesitas, 3 (60%) memiliki riwayat obesitas, 2 (40%) ak vitas fisik yang masih kurang dan 3 (60%) yang memiliki kebiasaan makan yang kurang baik. Tujuan peneli an ini untuk mengetahui determinan kejadian obesitas pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru Tahun 2017”. METODE Jenis peneli an ini adalah kuan ta f anali k dengan menggunakan desain Cross Sec onal. Peneli an ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru tahun 2018. Populasi pada peneli an ini adalah seluruh masyarakat yang bertempat nggal dan menetap di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru tahun 2018 sebanyak 9.275 jiwa. Sampel dalam peneli an ini adalah sebagian masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru berumur 18 tahun keatas yang berjumlah 155 responden dengan ngkat kemaknaan (α) 5% dan kekuatan uji (β) 90%, diambil menggunakan quota sampling. Kriteria inklusi yaitu responden harus nggal dan menetap di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru dan kriteria eksklusi yaitu: mengalami tuna rungu, tuna wicara, bisu atau gangguan berkomunikasi, sedang sakit, responden dak berada di tempat, responden dalam keadaan hamil, responden dalam program diet, responden dak mengalami penyakit yang bisa menyebabkan kegemukan (hipo roid, sindroma cushing, sindroma prader-willi, resistensi insulin, dan beberapa kelainan saraf), responden dak bungkuk dan dak bersedia diwawancarai. Data primer diperoleh melalui pengukuran berat badan dan nggi badan menggunakan mbangan dan microtoise serta wawancara dengan menggunakan kuesioner. Data diambil dengan menggunakan Agus, et al Determinan Obesitas Determinants of Obesity da ar pertanyaan yang mencakup data pendidikan, pengetahuan, jenis kelamin, keturunan, ak vitas fisik, dan kebiasaan makan dengan kejadian obesitas. Kejadian obesitas diukur dengan menggunakan Indeks Masa Tubuh (IMT) dikelompokan obesitas bila IMT > 27 dan dak obesitas bila IMT < 27. Untuk variabel independen pendidikan dikategorikan menjadi pendidikan rendah jika < SMP dan pendidikan nggi bila > SMP, variabel pengetahuan dikategorikan menjadi pengetahuan kurang jika <60% jawaban benar dan pengetahuan baik jika>60% jawaban benar, jenis kelamin dikelompokan lakilaki dan perempuan, riwayat keturunan dikategorikan ada jika ada ayah,ibu nenek atau kakek yang menderita obesitas dan dak ada jika dak mempunyai riwayat keturunan dari ibu, ayah, nenek dan kakek. Ak vitas dikategorikan kurang dan cukup. Ak vitas fisik kurang jika dilakukan < 30 menit perhari atau 2 hari dalam seminggu, ak vitas fisik cukup apabila > 30 menit dan dilakukan se ap hari atau 3-5 hari dalam seminggu. Kebiasaan makan dikategorikan kebiasaan makan baik dan kurang baik. Kebiasaan makan kurang baik jika < mean. Kebiasaan makan baik jika > mean. Analisis data yaitu univariat, bivariat dengan uji chi square dan mul variat dengan menggunakan uji regresi logis c ganda. 25 Analisis Bivariat Tabel 2 menunjukkan bahwa semua variabel independen berhubungan dengan kejadian obesitas. Adapun variabel yang paling berisiko terhadap kejadian obesitas yaitu keturunan. Responden yang mempunyai keturunan obesitas berisiko 18 kali untuk menderita obesitas dibandingkan dengan responden yang dak mempuyai keturunan obesitas. Tabel 2. Hasil Analisis Bivariat HASIL Analisis Univariat Tabel 1 menunjukan bahwa proporsi responden dengan obesitas sebanyak 90 orang (58,1%), pendidikan rendah sebanyak 98 orang (63,2%), pengetahuan kurang sebanyak 124 orang (80%), jenis kelamin perempuan sebanyak 83 orang (53,5%), yang mempunyai keturunan hipertensi sebanyak 61 orang (39,4%), ak fitas fisik kurang sebanyak 61 orang (39,4%), dan kebiasaan makan kurang baik sebanyak 99 orang (63,9%). Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden Determinan Kejadian Obesitas Pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru Tahun 2018 Analisis Mul variat Berdasarkan tabel 3 setelah dilakukan pemodelan mul variat sebanyak lima tahap, diketahui bahwa pendidikan, kebiasaan makan dan keturunan berpengaruh terhadap kejadian obesitas. Keturunan merupakan variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian obesitas. Responden yang memiliki keturunan obesitas berisiko 10,9 kali untuk menderita obesitas dibandingkan dengan keluarga yang dak memiliki keturunan obesitas. Variabel pendidikan, kebiasaan makan dan keturunan hanya dapat menerangkan 57% terjadinya obesitas, sisanya 43% dipengaruhi variabel lain yang dak diteli . Ak vitas fisik dan jenis kelamin merupakan confounding terhadap variabel keturunan. Pengetahuan merupakan confounding terhadap variabel pendidikan, keturunan dan kebiasaan makan. Tabel 3. Analisis Mul variat Pemodelan 5 (Pemodelan Akhir) J j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS 26 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 PEMBAHASAN Keturunan Berdasarkan hasil peneli an diketahui bahwa keturunan berpengaruh dengan kejadian obesitas pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru setelah dikontrol dengan variabel ak vitas fisik, jenis kelamin dan pengetahuan yang merupakan variabel confounding. Orang yang memiliki keturunan obesitas berisiko 10,9 kali untuk menderita obesitas dibandingkan dengan orang yang dak memiliki keturunan obesitas. Obesitas dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya di dalam keluarga. Itulah sebabnya orang tua yang gemuk cenderung memiliki anak-anak yang gemuk. Hal ini dikarenakan faktor gene k telah ikut campur dalam menetukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh. Faktor gene k sangat berperan dalam peningkatan berat badan. Data dari berbagai studi gene k menunjukkan adanya beberapa alel yang menunjukkan predisposisi untuk menimbulkan obesitas. Di samping itu, terdapat interaksi antara faktor gene k dengan kelebihan asupan makanan padat. Studi gene k terbaru telah mengiden fikasi adanya mutasi gen yang mendasari obesitas. Terdapat sejumlah besar gen pada manusia yang diyakini mempengaruhi berat badan (Mumpuni, 2010). Dasar gene k yang kuat menyebabkan perkembangan obesitas menjadi lebih rentan. Banyak gen yang dihubungkan sebagai faktor predisposisi terjadinya kelebihan lemak. Se daknya ada enam mutasi gen tunggal dapat menyebabkan obesitas berat dengan onset dini namun jarang terjadi (Nirmala, 2008). Pada studi internasional mengenai anak kembar dan adopsi, ditemukan bahwa gene k mempunyai pengaruh yang kuat terhadap variasi IMT pada segala usia dan pengaruhnya lebih kuat daripada pengaruh lingkungan (Haines,2007). Obesitas yang sering terjadi merupakan hasil interaksi antara gen dengan gen dan gen dengan lingkungan. Iden fikasi gen spesifik yang rentan sulit dilakukan. Lebih dari 430 gen atau bagian kromosom yang terlibat sebagai e ologi dari obesitas (Nirmala, 2008). Berat badan orang tua sering dijelaskan sebagai prediktor terjadinya obesitas pada anak, baik saat anak-anak maupun saat dewasa (Sar ka, 2011). Predisposisi gene k pada anak obesitas menjadi salah satu faktor yang berpengaruh, tetapi meningkatnya prevalensi obesitas pada anak membuk kan bahwa ada faktor lain yang ikut berperan dalam masalah ini. Faktor seper kebiasaan makan orang tua dan lingkungan sekitar anak (Tzou, 2012). Hal ini sejalan dengan peneli an Kurdan (2015) yang membahas tentang faktor faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas pada remaja, menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara faktor gene k dengan obesitas. Hasil peneli an (Sidiartha, Gus , Putu, 2015) menunjukan ada hubungan antara h p://jurnal.htp.ac.id keturunan dengan kejadian obesitas, anak yang mempunyai riwayat obesitas berisiko 10,5 kali untuk menderita obesitas dibandingkan dengan yang dak mempunyai keturunan obesitas. Gene k merupakan faktor yang berperan pen ng dalam masalah obesitas, karena obesitas cenderung diturunkan dari generasi sebelumnya. Dari hasil peneli an responden mengalami obesitas yang diturunkan dari keluarga. Namun di dalam lingkungan keluarga dak hanya berbagi gen tetapi juga makanan dan gaya hidup yang bisa mendorong seseorang obesitas. Sikap orang tua mempunyai peranan pen ng dalam menentukan berat badan anak. Sikap dan persepsi orang tua membantu memprediksi bagaimana kebiasaan pola makan anak dan pola ak vitas fisik ikut berpengaruh. Kebiasaan Makan Berdasarkan hasil peneli an diketahui bahwa kebiasaan makan berpengaruh dengan kejadian obesitas pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru setelah dikontrol dengan variabel ak vitas fisik, jenis kelamin dan pengetahuan yang merupakan variabel confounding. Kebiasaan makan yang kurang baik berisiko 3,9 kali untuk menderita obesitas dibandingkan kebiasaan makan yang baik. Obesitas merupakan dampak dari terjadinya kelebihan asupan energi dibandingkan dengan yang diperlukan oleh tubuh sehingga kelebihan asupan energi tersebut disimpan dalam bentuk lemak. Makanan merupakan sumber dari asupan energi. Sistem pengontrol yang mengatur perilaku makan terletak pada suatu bagian otak yang disebut Hipotalamus, sebuah kumpulan in sel dalam otak yang langsung berhubungan dengan bagianbagian lain dari otak dan kelenjar di bawah otak. Hipotalamus memiliki dua bagian yang mempengaruhi penyerapan makan yaitu Hipotalamus Lateral (HL) yang menggerakkan nafsu makan dan Hipotalamus Ventromedial (HVM) yang bertugas merintang nafsu makan . Apabila terjadi kerusakan pada bagian HVM maka seseorang akan menjadi rakus. Asupan makanan yang berlebihan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk lemak yang dalam jangka panjang mengakibatkan cadangan lemak di mbun semakin banyak dalam tubuh yang menyebabkan obesitas (Soegih, 2009). Hal ini sejalan dengan peneli an Dwisep ani (2008) yang membahas karakteris k kegemukan pada anak sekolah dan remaja yang menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan makan dengan kejadian kegemukan. Peneli an Yahia et al. (2018) juga menunjukan ada hubungan antara kebiasaan makan dengan kejadiaan obesitas. Kebiasaan makan yang kurang baik dapat menyebabkan obesitas. Hal ini berdasarkan hasil dari peneli an ini, masyarakat yang mengalami obesitas yang kebiasaan makannya kurang baik sebanyak (70,5%). Masyarakat yang memiliki kebiasaan makan kurang baik masih banyak dibandingkan masyarakat yang Agus, et al Determinan Obesitas Determinants of Obesity kebiasaan makannya baik. Hal ini terjadi dikarenakan masyarakat pada malam hari sering mengonsumsi makanan ringan, makanan jajanan, dan sering mengonsumsi makanan di luar dan didukung dengan kurangnya melakukan ak vitas fisik. Pendidikan Berdasarkan hasil peneli an diketahui bahwa pendidikan berpengaruh terhadap kejadian obesitas pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru setelah dikontrol dengan variabel ak vitas fisik, jenis kelamin dan pengetahuan yang merupakan variabel confounding. Pendidikan yang rendah berisiko 3,4 kali untuk menderita obesitas dibandingkan pendidikan nggi. Pendidikan merupakan salah satu unsur terpen ng yang dapat mempengaruhi penerimaan informasi yang baru. Pada orang dengan pendidikan rendah pengetahuan tentang gizi yang dimiliki terbatas sehingga sulit untuk menerima informasi yang diberikan dan mempengaruhi perilaku dalam pemilihan makanan menyebabkan terjadinya obesitas (Isnaini, 2012). Hal ini sejalan dengan hasil peneli an Nurzakiah, Achadi, Sar ka (2010) yang membahas tentang faktor risiko obesitas pada orang dewasa urban dan rural yang menunujukkan adanya hubungan ngkat pendidikan dengan kejadian obesitas. Hasil peneli an ini juga sejalan dengan hasil peneli an Sugian (2009) yang membahas tentang faktor risiko obesitas pada orang dewasa di Sulawesi Utara, Gorontalo dan Jakarta menunjukkan bahwa orang yang memiliki ngkat pendidikan rendah berhubungan nyata dengan peningkatan kejadian obesitas. Masyarakat yang memiliki ngkat pendidikan yang rendah maka akan sulit untuk memperluas wawasan berpikirnya sehingga banyak informasi tentang obesitas yang dak diketahui dan dak diserap sehingga dapat menyebabkan masyarakat itu mengalami obesitas. Hal ini terbuk dari hasil peneli an ini bahwa sebagian besar (72,4%) masyarakat yang obesitas bependidikan rendah. KESIMPULAN Proporsi kejadian obesitas pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru tahun 2018 adalah 58,1%. Pendidikan yang rendah, keturunan obesitas dan kebiasaan atau pola makan yang kurang baik setelah dikontrol oleh ak fitas fisik, jenis kelamin dan pengetahuan berpengaruh terhadap kejadian obesitas pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru tahun 2018 . Disarankan agar petugas Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru khususnya bagian penanggulangan penyakit dak menular agar lebih giat lagi mensosialisasikan gaya hidup sehat melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik seper bagaimana pola makan yang baik dan gizi seimbang agar terhindar dari obesitas terutama sasarannya pada masyarakat 27 yang pendidikannya rendah dan mempunyai riwayat keturunan obesitas. Konflik Kepen ngan Tidak ada konflik kepen ngan dalam peneli an ini. Ucapan Terima Kasih Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada STIKes Hang Tuah Pekanbaru yang telah membiayai peneli an ini, kemudian kepada Kadinkes Kota Pekanbaru dan Kepala Puskesmas Simpang Tiga yang telah memberikan izin peneli an kepada kami dan juga kepada responden peneli an yang telah meluangkan waktunya dan bersedia untuk diwawancara. DAFTAR PUSTAKA Adriani, Merryana, and wijatmadi Bambang. Pengantar Gizi Masyarakat. 1st ed., Kencana Prenada Media Group, 2012. Anna, lusia. “Indonesia Masuk 10 Besar Orang Gemuk Terbanyak.” Kompas Cetak, 2014, p. 1. Dwisep ani, R,. (2008). Karakteris k Kegemukkan pada Anak Sekolah dan Remaja di Medan dan Jakarta.Gizi Kesehatan Masyarakat.Ins tut Pertanian Bogor. Haines J, Sztainer DM, Wall M, Story M. 2007. Personal, Behavioral, and Environmental Risk and Protec ve Factors for Adolescent Overweight. Int. J. Obes. 2007; 15:2748-60. Isnaini, Sartono, A., & Winarya , E. (2012). Hubungan Pengetahuan Obesitas dengan Rasio Lingkar Pinggang Panggul pada Ibu Rumah Tangga di Desa Pepe Krajan Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grobogan. Jurnal Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang, 1(November), 1–9. Retrieved from h p://jurnal.unimus.ac.id Kurdan , Weni. (2015). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Obesitas Pada Remaja.Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 11 (04). Lisa, Nora. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kegemukan Pada Siswa SDN 002 Ujung Batu Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2016. STIKes Hang Tuah Pekanbaru, 2016. Mumpuni yek & wulandari. Cara Jitu Mengatasi Kegemukan. Edited by westriningsih, 1st ed., C.V ANDI OFFSET, 2010. Nirmala A, Reddy BM, Reddy PP. Gene cs of Human Obessity: An Overview. Int J Hum Genet. 2008; 8(12): 217-26 J j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS 28 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 Nurzakiah, Achadi Endang, Sar ka Dewi Ayu Ratu. “Kesmas : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional.” Kesmas: Na onal Public Health Journal, vol. 5, no. 3, 2 0 1 0 , p p . 1 2 5 – 3 0 , h p://jurnalkesmas.ui.ac.id/kesmas/ar cle/view/1 45/146. Riskesdas. (2013). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 . Jakarta. h ps://doi.org/1 Desember 2013 Sar ka D. Faktor Risiko Obesitas Pada Anak 5-15 Tahun Di Indonesia. Makara, Kesehatan. 2011;15: 37-43 Sidiartha, I. Gus Lanang, and Ni Putu Lia Julian ni. “Hubungan Riwayat Obesitas Pada Orangtua Dengan Kejadian Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar.” EJurnal Medika Udayana, vol. 3, no. 12, 2015, pp. 1 – 1 3 , h ps://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/ar cle/view /11950. Soegih, R., & Wiramihardja, K. (2009). Obesitas Permasalahan dan Terapi Prak s. (R. Soegih & K. Wiramihardja, Eds.) (1st ed.). jakarta: CV Sagung Seto. Sugian , et al. “Faktor Risiko Obesitas Sentral .” Gizi Indonesia, vol. 32, no. 2, 2009, pp. 105–16. Tzou IL, Chu NF. Parental influence on childhood obesity: A review. Health. 2012; 4 (12A):1464-70 Yahia, Najat, et al. “Ea ng Habits and Obesity among Lebanese University Students.” Nutri on Journal, vol. 7, no. 1, 2018, pp. 1–6, doi:10.1186/1475-28917-32. h p://jurnal.htp.ac.id