Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. June 2025 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Membentuk Keaktifan Belajar dan Sikap Toleransi Siswa Kelas Inklusi di SD Alam Mahira Bengkulu Afrilia Dwi Cahya1. Asiyah2. Desy Eka Citra Dewi3 UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu afriliadwicahya@gmail. asiyah@mail. dewiekacitra@mail. Abstract The research subjects were Islamic Religious Education and Character teachers, school principals, accompanying teachers, and students. The results of the research show that adapting learning materials, using inclusive learning methods, creating a conducive learning environment, fair and comprehensive assessment, involving both regular students and those with special needs in carrying out learning tasks, forms students' willingness to ask questions and participate in solving in class, able to form active learning in inclusive classes. Then respect for differences, cooperation in heterogeneous groups, peaceful resolution of conflicts can form attitudes and tolerance in students in inclusive classes without discrimination. And the supporting factors at SD Alam Mahira Bengkulua are collaboration between PAI and Budi Pekerti teachers, accompanying teachers and parents, holding teacher professional development and training, as well as the existence of school policies that support inclusive education, while the inhibiting factors are learning media, the shortage of teachers with a Special Education (PLB) background, the striking difference in academic abilities between regular students and students with special needs, as well as the boredom often experienced by students with special needs which can disrupt class order and comfort. Keywords: Islamic Religious Education Teacher Strategy and Character. Active Learning. Tolerant Attitude. Inclusive Class. How to cite this article: Cahya. ,D. Asiyah. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Membentuk Keaktifan Belajar dan Sikap Toleransi Siswa Kelas Inklusi di SD Alam Mahira Bengkulu. Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 10. , 92-104. Received: 1/18/2025 Revised: 4/18/2025 Accepted: 5/8/2025 Vol. No. June 2025 | Pages. 92-104 | 93 PENDAHULUAN Keaktifan belajar dan sikap toleransi di kelas inklusi merupakan langkah penting yang harus dibentuk dalam mewujudkan sekolah inklusi yang sesungguhnya. Sebab Inklusi bukan hanya tentang memasukkan siswa yang berkebutuhan khusus ke dalam kelas biasa saja, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan pembelajaran mereka secara maksimal. Oleh karena itu, guru memiliki peran penting untuk memilih serta menentukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa di kelas inklusi supaya keaktifan belajar dan sikap toleransi mereka dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dapat terbentuk secara maksimal pada saat menjalankan berbagai syariat agama dan bertakwa kepada Allah SWT. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti itu sendiri merupakan salah satu mata pelajaran yang harus diajarkan pada sekolah-sekolah formal ataupun nonformal baik itu umum maupun inklusi, sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikna. Pasal 37 Ayat 2 yang menyatakan kurikulum pendidikan wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan pendidikan bahasa. Oleh sebab itu mata pelajaran PAI di sekolah menjadi penting karena berisikan ajaran pokok Islam yang meliputi masalah keimanan . , keislaman . yariAoa. , dan ihsan . Zuhairini menyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti adalah sebagai usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak sesuai dengan ajaran Islam, memikir, memutuskan, dan berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam serta bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Quraish Shihab pun menyatakan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti adalah membina manusia agar mencapai kearibaan Allah SWT serta menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi ini. Mengingat betapa pentingnya Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti diberikan kepada seluruh peserta didik, termasuk pada anak berkebutuhan khusus yang memiliki hambatan serta keunikan tersebut tentunya guru harus memiliki strategi dalam menyampaikan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal. Pentingnya strategi guru ini sejalan dengan pendapat Mahmud dalam jurnal Mufidurrahman Hardiyanto tahun 2021, yang menjelaskan bahwa guru merupakan tenaga pendidik yang sangat menentukan proses pembelajara sekolah, oleh sebab itu guru harus mempunyai strategi dalam segala hal untuk membawa siswa- siswanya mencapai tujuan dan hasil yang diinginkan. Karena guru diharapkan mampu meyakinkan siswa bahwa belajar itu tidaklah sulit, sehingga guru juga dituntut harus bisa membangkitkan perhatian dan keaktifan siswa, karena keaktifan siswa akan mempengaruhi hasil belajar yang mana jika keaktifan belajar yang dimiliki siswa sangat baik maka akan diperoleh hasil belajar yang optimal pula . Oleh sebab itu guru dituntut dapat beradaptasi dalam segala kondisi yang mempengaruhi aspek pembelajaran, guru harus mengetahui strategi apa yang harus digunakannya pada saat pembelajaran, khususnya di kelas inklusi, karena guru harus bisa memahami beragam klasifikasi dan karakteristik peserta didik yang tersatu dalam satu ruang kelas tersebut, bukan hanya dalam keaktifan belajarnya saja yang harus guru prioritaskan namun tentang bagaimana menanamkan sikap menghargai dan menghormati perbedaan yang tidak hanya mengenai perbedaan suku, ras, etnis dan This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 94 | Afrilia Dwi Cahya1. Asiyah2. Desy Eka Citra Dewi3 agama, akan tetapi juga bagaimana menghargai dan menghormati perbedaan dalam hal fisik maupun psikis, dengan adanya Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang digabungkan didalam kelas. Sehingga menjadikan sikap toleransi sangat penting untuk ditanamkan disekolah yang melaksanakan program sekolah inklusi ini. Karena guru harus menyatu padukan peserta didik yang heterogen tanpa adanya deskriminasi. Sebagiamana sesuai dengan yang termaktub dalam Undang-Undang No. 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak bahwa anak yang menyandang cacat fisik dan atau mental diberikan kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan. Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 70 Tahun 2009 menjelaskan bahwa dalam pendidikan inklusi merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan peluang kepada semua anak yang memiliki keterbatasan atau kelainan serta memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa sehingga mereka dapat mengikuti pendidikan atau kegiatan pembelajaran di lingkungan pendidikan secara kolektif dengan peserta didik pada umumnya. Kata lainnya pendidikan inklusi yakni pendidikan yang memanusiakan manusia, pendidikan yang merata untuk semua golongan, dan pendidikan yang mengintegrasikan perbedaan. Oleh karena itu dengan adanya pendidikan inklusi menjadikan dunia pendidikan terbuka dalam menerima semua keberagaman siswa, baik agama, suku, warna kulit, kemampuan intelektual dan memberikan pelayanan yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan siswa. Selanjutnya untuk mencapai konsep pendidikan, untuk semuanya maka Subdit Kurikulum Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan dalam Rencana Induk Pengembangan pendidikan inklusi tingkat nasional tahun 2019-2024, menyebutkan bahwa pendidikan inklusi adalah strategi untuk mencapai tujuan untuk semua. Sekolah inklusi sangat berperan dalam memastikan bahwa setiap siswa, dapat menerima pendidikan yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan mereka. Karena sekolah Inklusi sesungguhnya menciptakan lingkungan di mana semua siswa merasa diterima, dihargai, dan didukung untuk belajar. Sejalan dengan itu Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencanangkan pembudayaan pendidikan inklusi keseluruh provinsi dan kabupaten/kota. Dimana sampai pada tahun 2018 terdapat 1600 sekolah penyelenggara pendidikan inklusi yang tersebar di berbagai jenjang dan jenis pendidikan (SD/MI. SMP/MTS. SMA/MA dan SMK) diseluruh Indonesia, (Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Inklusi Nasional Tahun 2019-2. Begitupun di provinsi Bengkulu sebagai tindakan reponsif dari pemerintah daerah terhadap agenda pemerintah pusat maka berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu nomor 814 tahun 2015 ditetapkanlah sekolah-sekolah penyelenggara sekolah inklusi untuk wilayah daerah kabupaten dan kota di Bengkulu, dimana untuk kota Bengkulu ditunjuk 15 sekolah Dasar (SD) sebagai sekolah inklusi, ada beberapa sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah inklusi, salah satunya yaitu SD Alam Mahira Bengkulu yang mana bahwa SD Alam Mahira Bengkulu memiliki siswa ABK sebanyak 26 orang dari jumlah siswa seluruhnya atau sebanyak 14,4% dari jumlah 180 siswa dengan kebutuhan khususnya Down syndrome. Autis. Tunagrahita. Tunadaksa. Tunarungu. ADHD atau lambat belajar. SD Alam Mahira ini juga memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus tanpa adanya AuAnak-anak disabilitas kami tempatkan di ruang belajar yang sama dengan Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 92-104 | 95 anak-anak regular. Mereka belajar bersama, hanya saja untuk anak-anak disabilitas diberikan satu guru pendamping khusus untuk membantu proses belajarnya. SD Alam Mahira ini merupakan sekolah yang unik beda dengan sekolah pada umumnya, berdasarkan observasi awal penulis, disini penulis tidak menemukan siswa dengan seragam sekolah semua siswa berpakaian muslim bebas rapi kemudian penulis juga tertarik melihat tempat belajarnya karena tempat belajarnya terkadang ditaman hijau dengan pohon-pohon rindang, dan mereka lebih banyak menghabiskan waktu belajarnya diluar ruangan. Kemudian gedung sekolah tidak hanya dinding beton kaku, namun sebagian ada yang terbuka menggunakan atap rumbia yang dimodifikasi dengan seng plat, keunikan ini memang diciptakan SD Alam Mahira Bengkulu karena sekolah ini menawarkan konsep sekolah yang berbeda dengan sekolah pada umumnyaAy, ujar Ummi Atik. Tujuan penelitian ini, untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Dalam Membentuk Keaktifan Belajar dan Sikap Toleransi Siswa Kelas Inklusi Di SD Alam Mahira Bengkulu. Untuk memudahkan pencapaian tujuan dalam penelitian ini, penulis merumuskan tiga rumusan masalah sebagai berikut. bagaimana strategi guru PAI dan Budi Pekerti dalam membentuk keaktifan belajar siswa di kelas inklusi . bagaimana strategi guru PAI dan Budi Pekerti dalam membentuk sikap toleransi siswa di kelas inklusi . Apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat dalam mengimplementasikan strategi pembelajaran untuk membentuk keaktifan belajar dan sikap toleransi antar siswa dikelas inklusi. METODE Penelitian tentang strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Dalam Membentuk Keaktifan Belajar dan Sikap Toleransi Siswa Kelas Inklusi Di SD Alam Mahira Bengkulu Dalam kajian ilmiah ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif Penelitian kualitatif deskriptif (Descriptive Qualitativ. merupakan penelitian yang ditujukan untuk mendiskripsikan dan menganalisis suatu fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, dan pemikiran orang secara individu maupun kelompok. Berdasarkan objek, tempat dan tingkatan ilmiah yang akan diteliti, maka dalam penelitian ini disebut sebagai penelitian kualitatif yang bersifat naturalistik. Alasan mendasar kenapa di dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif, yaitu dengan permasalahan yang akan dijawab memiliki tingkat holistic, kompleks,dan juga belum jelas apa sebenarnya yang terkandung dalam jawaban dari sebuah pertanyaan yang ada. Sedangkan pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini yaitu pendekatan deskriftif. Menurut The Oxford English Dictionary, pendekatan deskriptif merupakan studi untuk menentukan fakta dengan interpretasi yang tepat untuk mengenal fenomena-fenomena serta untuk melukiskan atau menggambarkan secara akurat sifat-sifat dari beberapa fenomena, kelompok atau individu yang sedang terjadi. HASIL DAN PEMBAHASAN This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 96 | Afrilia Dwi Cahya1. Asiyah2. Desy Eka Citra Dewi3 Strategi guru PAI dan Budi Pekerti dalam membentuk keaktifan belajar siswa di kelas Strategi guru di kelas inklusi memegang peranan yang sangat penting untuk memastikan keberhasilan proses pembelajaran bagi semua siswa, baik reguler maupun berkebutuhan khusus. Dalam kelas yang heterogen, guru tidak hanya bertugas mengajar materi akademik, tetapi juga bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung. Dengan strategi yang tepat, guru dapat membantu siswa reguler dan inklusi untuk belajar bersama, saling memahami, dan berkembang secara optimal. Salah satu tujuan utama dari strategi guru di kelas inklusi adalah mendorong keaktifan belajar siswa. Dalam lingkungan yang beragam, siswa sering kali menghadapi tantangan dalam berpartisipasi aktif, terutama siswa berkebutuhan khusus yang mungkin merasa kurang percaya diri. Dengan strategi siswa merasa didukung untuk terlibat secara Partisipasi aktif ini tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik, tetapi juga membangun rasa percaya diri siswa dalam menyampaikan pendapat dan bekerja sama dengan teman-temannya. Sehingga secara umum berdasarkan salah satu teori dalam buku M. Sobry Sutikno yang menegaskan bahwa strategi adalah alat, rencana, atau metode yang digunakan untuk menyelesaikan suatu tugas. Sehingga arah dari semua penyusunan strategi adalah untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan. Adapun strategi yang dilaksanakan oleh guru PAI dan Budi Pekerti dalam membentuk keaktifan belajar siswa dikelas inklusi adalah sebagai berikut: Adaptasi materi pembelajaran Data hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa adaptasi materi pembelajaran menjadi strategi utama guru PAI dan Budi Pekerti di SD Alam Mahira Bengkulu dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif dan mendukung keaktifan Guru memodifikasi materi ajar sesuai kemampuan individu siswa, terutama bagi siswa berkebutuhan khusus, agar mereka tetap dapat memahami dan mengikuti proses Misalnya, siswa reguler diberikan target untuk menghafal semua sifat wajib Allah Swt. , sementara siswa berkebutuhan khusus hanya diminta menghafal tiga sifat wajib dengan juga dibantu oleh guru pendampingnya dikelas. Pendekatan ini memastikan bahwa tujuan pembelajaran tercapai sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing, tanpa mengurangi esensi kurikulum. Selain itu, peran guru pendamping sangat penting dalam mendukung siswa berkebutuhan khusus selama proses pembelajaran. Mereka membantu menjelaskan ulang materi yang diberikan guru PAI, mserta mendampingi siswa saat mengerjakan Koordinasi antara guru PAI dan guru pendamping menciptakan suasana kelas yang mendukung dan inklusif, di mana siswa reguler dan siswa inklusi dapat belajar bersama dengan nyaman. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa pembelajaran yang aktif di SD Alam Mahira memungkinkan siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus untuk sama-sama Meskipun materi yang diberikan sama, siswa berkebutuhan khusus mendapatkan penyesuaian agar lebih sederhana, sehingga mereka tetap dapat Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 92-104 | 97 mengerjakan tugas dengan materi yang sama. Strategi ini berhasil mendorong keaktifan belajar siswa SD Alam Mahira dikelas inklusi tersebut. Penggunaan Metode Pembelajaran yang Inklusif Berdasarkan data yang diperoleh, strategi guru di SD Alam Mahira Bengkulu dalam membentuk keaktifan belajar siswa di kelas inklusi menggunakan metode pembelajaran yang inklusif. Pertama guru memulai dengan menganalisis karakteristik siswa, baik reguler maupun berkebutuhan khusus, melalui asesmen awal untuk memahami kemampuan akademik, minat, dan gaya belajar mereka. Berdasarkan analisis ini, guru memilih metode yang sesuai, seperti ceramah untuk siswa reguler, serta metode visual, seperti penggunaan video dan alat peraga, untuk siswa berkebutuhan khusus. Selain itu, pemberian reward kepada siswa berkebutuhan khusus menjadi strategi yang efektif. Guru memberikan penghargaan seperti bintang atau kesempatan memimpin doa sebagai bentuk motivasi ketika siswa berhasil menyelesaikan tugas atau menunjukkan keaktifan belajar. Kemudian guru PAI dan Budi Pekerti juga membuat Program Pembelajaran Individu (PPI) supaya anak berkebutuhan khusus dapat mengikuti pembelajaran secara aktif di kelas. Hal ni tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri siswa berkebutuhan khusus, tetapi juga mendorong partisipasi aktif mereka dalam kelas. Dengan memadukan berbagai metode pembelajaran dan memberikan penghargaan, guru berhasil menciptakan suasana belajar di mana semua siswa merasa dilibatkan dan dapat belajar sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Strategi ini menunjukkan bahwa keaktifan belajar di kelas inklusi dapat terbentuk melalui pendekatan yang terencana, fleksibel, dan berbasis kebutuhan siswa. Penciptaan Lingkungan Belajar yang kondusif Penciptaan lingkungan belajar yang kondusif di kelas inklusi di SD Alam Mahira Bengkulu dilakukan melalui pendekatan yang inklusif dan terencana. Guru PAI dan Budi Pekerti memastikan suasana kelas yang aman dan nyaman dengan mengatur ruang kelas secara fleksibel, seperti menempatkan siswa berkebutuhan khusus di posisi strategis yakni ada yang di depan untuk anak yang berkebutuhan khusus yang tidak akan mengganggu teman yang lainnya, dan untuk yang anak berkebutuhan khusus seperti yang autis akan ditempatkan di bagaian belakang agar mudah mendapatkan bimbingan. Karena ketika siswa berkebutuhan khusus mengalami gangguan emosi, mereka segera dibawa keluar oleh guru pendamping untuk menenangkan diri, sehingga suasana kelas tetap kondusif. Selain itu. Guru pendamping turut memberikan dukungan personal, seperti memberikan arahan sederhana atau menenangkan siswa berkebutuhan khusus yang merasa cemas atau terganggu. Strategi ini berhasil menciptakan lingkungan belajar yang mendukung keaktifan belajar seluruh siswa. Siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus merasa dihargai, didukung, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Penilaian yang Adil dan Komprehensif Penilaian yang adil dan komprehensif di kelas inklusi SD Alam Mahira Bengkulu menjadi kunci dalam mendukung keaktifan belajar siswa. Guru PAI dan guru pendamping menyesuaikan penilaian dengan kemampuan masing-masing siswa, memastikan bahwa This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 98 | Afrilia Dwi Cahya1. Asiyah2. Desy Eka Citra Dewi3 siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus dinilai berdasarkan perkembangan individu Guru menggunakan berbagai metode, seperti memberikan waktu tambahan, memodifikasi soal, dan melakukan penilaian formatif berupa observasi harian serta kuis Guru pendamping membantu mengevaluasi kemajuan siswa berkebutuhan khusus dengan menyusun target dan rancangan jadwal kegiatan bulanan sebagai acuan. Selain itu, evaluasi program inklusi dilakukan secara berkala melalui asesmen yang melibatkan guru kelas, guru pendamping, dan orang tua. Pendekatan ini menciptakan penilaian yang lebih fleksibel dan adil, yang mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran, merasa didukung, dan dihargai atas usaha mereka. Penilaian yang inklusif ini juga membantu membangun lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung partisipasi siswa secara menyeluruh. Turut serta melaksanakan tugas belajar Turut serta melaksanakan tugas belajar merupakan indikator penting dalam menciptakan keaktifan belajar di kelas inklusi. Guru PAI di SD Alam Mahira Bengkulu menerapkan berbagai strategi untuk memastikan semua siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus, terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Strategi tersebut meliputi penyesuaian tugas sesuai kemampuan siswa, penggunaan alat bantu visual, serta metode pembelajaran kolaboratif seperti diskusi kelompok. Siswa berkebutuhan khusus diberikan peran sederhana, seperti mencatat hasil diskusi, yang disesuaikan dengan kemampuan mereka. Guru pendamping juga berperan aktif dalam memberikan panduan langkah demi langkah untuk membantu siswa memahami tugas dan berkomunikasi dengan anggota kelompok. Penyesuaian waktu dan umpan balik personal menjadi bagian penting untuk memastikan siswa berkebutuhan khusus tetap mampu menyelesaikan tugas dan merasa didukung dalam proses belajar Melalui pendekatan ini, guru tidak hanya mendorong keterlibatan siswa secara aktif, tetapi juga menanamkan tanggung jawab belajar dan keterampilan kerja sama, baik pada siswa reguler maupun siswa berkebutuhan khusus. Strategi ini menciptakan suasana kelas yang inklusif, di mana semua siswa dapat berpartisipasi sesuai kemampuan mereka. Siswa mau bertanya dan ikut serta dalam menyelesaikan masalah Berdasarkan Hasil wawancara dengan guru PAI dan Budi Pekerti, kepala sekolah, dan guru pendamping menunjukkan bahwa turut serta melaksanakan tugas belajar menjadi indikator penting keaktifan siswa di kelas inklusi. Guru PAI menerapkan strategi seperti pembelajaran kolaboratif, tutor sebaya, dan diskusi kelompok untuk memastikan keterlibatan siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus. Penyesuaian tugas diberikan kepada siswa inklusi, seperti mencatat hasil diskusi atau tugas sederhana lainnya, agar mereka tetap terlibat. Guru pendamping membantu siswa inklusi dengan memberikan panduan langkah demi langkah dan memastikan tugas yang diberikan sesuai dengan kemampuan siswa. Penyesuaian waktu dan penggunaan alat bantu visual juga mendukung siswa dalam menyelesaikan tugas. Selain itu, umpan balik yang personal diberikan untuk membantu siswa memahami kemajuan mereka dan mendorong tanggung jawab terhadap Strategi ini menciptakan semua siswa dapat berpartisipasi aktif sesuai Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 92-104 | 99 kemampuan mereka, meningkatkan keaktifan belajar, dan membangun tanggung jawab individu di kelas inklusi. Melaksanakan diskusi kelompok Berdasarkan data, strategi guru PAI dan Budi Pekerti di SD Alam Mahira Bengkulu dalam membentuk keaktifan belajar siswa di kelas inklusi dilakukan melalui pendekatan yang terencana dan inklusif. Salah satu strategi utama adalah pelaksanaan diskusi kelompok dengan sistem rotasi anggota. Strategi ini memberikan kesempatan kepada siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus untuk berinteraksi, saling belajar, dan mengembangkan rasa kebersamaan. Guru menunjuk siswa reguler yang lebih memahami materi sebagai pemimpin kelompok untuk mengarahkan diskusi dan memastikan semua siswa, termasuk siswa inklusi, mendapatkan peran sesuai kemampuan mereka. Siswa berkebutuhan khusus diberikan tugas yang lebih sederhana, seperti mencocokkan atau mencatat hasil diskusi, dengan bimbingan personal dari guru pendamping. Selama kegiatan, guru berkeliling untuk memberikan motivasi dan arahan, memastikan setiap siswa merasa didukung. Strategi Guru PAI dan Budi Pekerti dalam Membentuk Sikap Toleransi Siswa di Kelas Inklusi Strategi guru PAI dan Budi Pekerti dalam membentuk sikap toleransi di kelas inklusi menjadi salah satu aspek penting yang harus dibentuk Dengan keberagaman karakteristik siswa, guru PAI dan Budi Pekerti memiliki peran utama dalam menanamkan nilai-nilai saling menghargai, bekerja sama, dan menerima perbedaan tersebut. Karena pendekatan yang digunakan tidak hanya melalui pembelajaran formal, tetapi juga melalui interaksi sosial yang dirancang untuk mendorong empati dan kebersamaan di antara siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus. Adapun berdasarkan temuan peneliti di SD Alam Mahira Bengkulu beberapa strategi yang dilakukan oleh guru PAI dan Budi Pekerti dalam membentuk sikap toleransi siswa di kelas inklusi adalah sebagai berikut: Penghargaan terhadap perbedaan Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, penghargaan terhadap perbedaan menjadi landasan utama dalam strategi guru PAI dan Budi Pekerti di SD Alam Mahira Bengkulu untuk membentuk sikap toleransi di kelas inklusi. Guru mengatur tempat duduk dengan memadukan siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus dalam satu pasangan atau kelompok. Strategi ini mendorong komunikasi dan kerja sama yang lebih baik antar siswa, baik dalam hal akademik maupun sosial. Guru juga sering mengadakan diskusi yang membahas tema keberagaman, seperti perbedaan agama, budaya, dan kebutuhan khusus. Melalui diskusi ini, siswa diajak untuk berbagi pengalaman dan pandangan, sehingga mereka melihat keberagaman sebagai sesuatu yang positif dan memperkaya. Selain itu, pembiasaan perilaku seperti saling menghormati, empati, dan tidak mengejek menjadi inti dari strategi ini. Dalam praktiknya, guru PAI dan Budi Pekerti menata tempat duduk dengan cermat agar siswa dapat bekerja sama dalam menyelesaikan tugas secara berkelompok. Siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus didorong untuk saling membantu dan belajar Ketika tidak ada aktivitas kelompok, siswa berkebutuhan khusus yang membutuhkan perhatian lebih ditempatkan di lokasi yang meminimalkan gangguan bagi siswa lain. Strategi ini menunjukkan bahwa dengan pembiasaan nilai-nilai seperti ini, guru This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 100 | Afrilia Dwi Cahya1. Asiyah2. Desy Eka Citra Dewi3 berhasil menciptakan suasana kelas yang mendukung kerja sama dan saling menghargai, sehingga sikap toleransi tumbuh secara alami di antara siswa. Kerjasama dalam kelompok yang heterogen Berdasarkan hasil data wawancara yang disampaikan oleh informan, strategi guru PAI dan Budi Pekerti di SD Alam Mahira Bengkulu dalam membentuk sikap toleransi di kelas inklusi dilakukan melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis empati. Guru secara konsisten menerapkan metode diskusi kelompok heterogen yang melibatkan siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus, di mana setiap siswa diberikan peran sesuai dengan kemampuan mereka. Strategi ini mendorong siswa untuk saling membantu, menghargai perbedaan, dan bekerja sama menuju keberhasilan bersama. Selain itu, penggunaan tutor sebaya menjadi salah satu strategi efektif untuk mendukung pembelajaran inklusi. Siswa reguler membantu siswa berkebutuhan khusus dalam memahami materi atau menyelesaikan tugas, yang tidak hanya meningkatkan empati tetapi juga mempererat hubungan sosial antar siswa. Guru juga memberikan penghargaan kepada kelompok yang bekerja sama dengan baik dan memberikan apresiasi khusus kepada siswa inklusi yang berhasil menyelesaikan tugas, sehingga mereka merasa dihargai dan termotivasi. Observasi juga menunjukkan bahwa dengan menerapkan strategi ini, guru berhasil menanamkan nilai-nilai toleransi, seperti saling mendukung, menghormati perbedaan, dan hidup berdampingan dengan damai. Hingga akhirnya membentuk sikap siswa yang berkarakter dan toleran. Menyelesaikan konflik dengan cara damai Berdasarkan data, strategi guru PAI dan Budi Pekerti di SD Alam Mahira Bengkulu dalam membentuk sikap toleransi siswa di kelas inklus yakni Guru memberikan kesempatan kepada semua siswa yang terlibat konflik untuk berbicara dan mendengarkan secara bergantian, tanpa rasa takut atau tekanan. Bagi siswa berkebutuhan khusus, guru menggunakan pendekatan yang lembut untuk membantu mereka memahami situasi dan solusi yang diusulkan. Di SD Alam Mahira, guru juga menerapkan langkah awal dengan memisahkan siswa yang terlibat konflik untuk menenangkan suasana. Setelah situasi kondusif, guru membimbing siswa berdiskusi untuk mencari solusi bersama, mendorong mereka untuk saling memahami dan meminta maaf. Proses ini bertujuan memulihkan hubungan antar siswa, baik reguler maupun berkebutuhan khusus, agar mereka dapat kembali bekerja sama dalam suasana yang harmonis. Strategi ini tidak hanya membantu menyelesaikan konflik dengan damai, tetapi juga menanamkan nilainilai toleransi dalam diri peserta didik. Faktor Pendukung dan Penghambat Strategi Guru PAI dan Budi Pekerti dalam Membentuk Keaktifan Belajar dan Sikap Toleransi Siswa Kelas Inklusi di SD Alam Mahira Bengkulu . Faktor Pendukung Dalam upaya membentuk keaktifan belajar dan sikap toleransi siswa di kelas inklusi, terdapat sejumlah faktor pendukung yang berperan penting di SD Alam Mahira Bengkulu. Faktor-faktor ini memastikan bahwa strategi guru PAI dan Budi Pekerti dapat diterapkan Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 92-104 | 101 secara optimal dan memberikan dampak positif bagi semua siswa, baik reguler maupun berkebutuhan khusus. Berikut adalah beberapa faktor-faktor pendukung tersebut: Kolaborasi antara Guru PAI. Guru Pendamping, dan Orang Tua Kerja sama yang solid antara guru PAI, guru pendamping, dan orang tua siswa menjadi dasar dalam membentuk lingkungan belajar yang inklusif di SD Alam Mahira Bengkulu. Guru pendamping membantu guru PAI dalam menyesuaikan materi dan metode pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan siswa inklusi. Mereka juga memberikan panduan tambahan kepada siswa berkebutuhan khusus, sehingga siswa dapat terlibat aktif dalam proses belajar. Orang tua pun berperan dengan memberikan informasi terkait kondisi dan kebutuhan anak di rumah. Informasi ini membantu guru merancang strategi pembelajaran yang lebih personal dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh. Komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua menciptakan sinergi dalam mendukung pembelajaran siswa, baik di sekolah maupun di Pelatihan dan Pengembangan Profesional Guru Pelatihan dan Pengembangan Profesional Guru menjadi salah satu faktor pendukung utama di SD Alam Mahira Bengkulu. Karena dengan kegiatan ini guru mendapatkan pengetahuan tentang metode pengajaran yang efektif di kelas inklusi. Dengan pelatihan ini juga guru dapat memahami cara mengelola perbedaan kemampuan siswa dan menciptakan suasana belajar yang inklusif. Pelatihan ini juga memberikan wawasan kepada guru tentang cara menanamkan nilai-nilai toleransi dan strategi guru dalam membentuk keaktifan belajar siswa dikelas. Karena dalam pelatihan tersebut guru dilatih untuk menggunakan pendekatan yang mendukung kolaborasi antar siswa reguler dan siswa inklusi, serta teknik penyelesaian konflik secara edukatif. Kebijakan Sekolah yang Mendukung Pendidikan Inklusi Sekolah memainkan peran penting melalui kebijakan yang mendukung penerapan pendidikan inklusi. Di SD Alam Mahira Bengkulu, program-program seperti kegiatan bersama antara siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai toleransi. Kebijakan ini menciptakan budaya sekolah yang inklusif, di mana setiap siswa merasa diterima dan dihargai. Budaya inklusi di sekolah didukung oleh aturan dan pendekatan yang mendorong siswa untuk saling menghormati, bekerja sama, dan menerima perbedaan. Hal ini memperkuat interaksi positif di antara siswa, sehingga tercipta suasana belajar yang nyaman. Faktor Penghambat Berdasarkan hasil wawancara dan observasi penulis, terdapat beberapa faktor penghambat dalam membentuk keaktifan belajar dan sikap toleransi siswa di kelas inklusi di SD Alam Mahira Bengkulu. Hambatan utama meliputi keterbatasan media pembelajaran, kekurangan guru dengan latar belakang pendidikan luar biasa (PLB), dan perbedaan kemampuan akademik siswa yang sangat bervariasi. Guru sering kali harus membuat media ajar secara mandiri untuk mendukung siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus agar dapat belajar bersama secara aktif. Selain itu, akses terhadap alat bantu belajar seperti media visual dan teknologi yang memadai masih terbatas, sehingga proses pembelajaran menjadi kurang optimal. Perbedaan kemampuan akademik yang mencolok antara siswa reguler dan inklusi juga membuat guru kesulitan This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 102 | Afrilia Dwi Cahya1. Asiyah2. Desy Eka Citra Dewi3 menyesuaikan strategi pembelajaran agar dapat mengakomodasi kebutuhan semua Faktor lain yang menjadi tantangan adalah kejenuhan yang sering dialami siswa berkebutuhan khusus, yang dapat mengganggu ketertiban dan kenyamanan kelas. Keterbatasan waktu pembelajaran juga menjadi kendala, karena guru tidak memiliki cukup waktu untuk melibatkan semua siswa secara aktif. Rendahnya kesadaran siswa tentang pentingnya toleransi turut menjadi hambatan dalam membangun sikap tersebut di kehidupan sehari-hari. Hambatan-hambatan ini menyoroti pentingnya dukungan yang lebih besar, baik dalam hal penyediaan sumber daya, pelatihan guru, maupun kebijakan sekolah yang lebih mendukung untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan efektif di kelas inklus KESIMPULAN Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya mengenai strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Dalam Membentuk Keaktifan Belajar dan Sikap Toleransi Siswa Kelas Inklusi Di SD Alam Mahira Bengkulu sebagai berikut: . Strategi guru PAI dan Budi Pekerti dalam membentuk keaktifan belajar siswa dikelas inklusi di SD Alam Mahira Bengkulu adalah dengan melibatkan beberapa upaya yakni adaptasi materi pembelajaran, penggunaan metode pembelajaran yang inklusif, penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, penilaian yang adil dan komprehensif, keterlibatan siswa baik reguler maupun yang berkebutuhan khusus dalam melaksanakan tugas belajar, kemudian guru PAI dan Budi Pekerti juga membentuk siswa agar mau bertanya dan ikut serta dalam menyelesaikan masalah ketika diskusi kelompok dikelas, hal ini dilakukan oleh guru PAI dan Budi Pekerti agar anak berkebutuhan khusus dan reguler bisa sama-sama aktif ketika belajar dikelas, sehingga hasilnya pun menjadikan kelas inklusi selalu aktif ketika proses pembelajaran berlangsung. Strategi guru PAI dan Budi Pekerti dalam membentuk sikap toleransi dikelas inklusi adalah dengan melakukan beberapa upaya antara lain penghargaan terhadap perbedaan yang dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai dalam menghargai keberagaman melalui interaksi sehari-hari dan aktivitas belajar, dimana guru mendorong siswa untuk memahami dan menerima perbedaan kemampuan, latar belakang, dan kebutuhan teman-temannya. Kemudian guru PAI dan Budi Pekerti juga melakukan kerjasama dalam kelompok yang heterogen dengan menggabungkan siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus dalam satu kelompok, siswa diajarkan untuk saling mendukung, mendengarkan pendapat, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan Serta guru PAI dan Budi Pekerti selalu menekankan penyelesaian konflik yang diselesaikan secara damai. Melalui upaya-upaya tersebut guru PAI dan Budi Pekerti mampu membentuk sikap toleransi dalam diri siswa dikelas inklusi tanpa ada . Faktor Pendukung Strategi Guru PAI dan Budi Pekerti dalam membentuk keaktifan belajar dan sikap toleransi Siswa Kelas Inklusi di SD Alam Mahira Bengkulu adalah adanya kolaborasi antara guru PAI dan Budi Pekerti, guru pendamping, dan orang tua, diadakannya pelatihan dan pengembangan profesional guru, serta adanya kebijakan sekolah yang mendukung pendidikan inklusi, sedangkan untuk faktor penghambatnya adalah keterbatasan media pembelajaran, kekurangan guru dengan latar belakang Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 92-104 | 103 Pendidikan Luar Biasa (PLB), perbedaan kemampuan akademik yang mencolok antara siswa reguler dan siswa yang berkebutuhan khusus, serta kejenuhan yang sering dialami siswa berkebutuhan khusus yang dapat mengganggu ketertiban dan kenyamanan kelas. DAFTAR PUSTAKA