LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Juni 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || ANALISIS NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL SI PUTIH KARYA TERE LIYE KAJIAN SEMIOTIKA Khikmatun Nadhifah 1. Sutardi 2. Irmayani 3 *1-3 Universistas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 nadhifah@. 354@gmail. 2 sutardi@unisda. 3 irmayani@unisda. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis nilai religius, nilai moral, nilai pendidikan, nilai estetika dan nilai budaya dalam novel Si Putih karya Tere Liye dari tinjauan semiotika. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif menggunakan teknik semiotika. Teknik pemerolehan data penelitian ini menggunakan studi Pustaka dan teknik catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai religius dalam novel Si Putih karya Tere Liye dari tinjauan semiotika dapat dilihat melalui aspek simbol kepercayaan pada takdir, ketulusan dan penerimaan terhadap takdir, kepercayaan pada kekuatan yang lebih besar dan simbol pengorbanan. Nilai moral dalam novel Si Putih karya Tere Liye dari tinjauan semiotika dapat dilihat melalui aspek pengorbanan, keberanian, mengakui kesalahan, kepedulian terhadap lingkungan dan ketulusan dalam perpisahan. Nilai pendidikan sosial dalam novel Si Putih karya Tere Liye dari tinjauan semiotika dapat dilihat melalui aspek empati dan kepedulian sosial, kesetiaan dan balas budi, saling menghargai dan memperkuat hubungan, sopan santun, disiplin dan rasa ingin tahu, tolong-menolong dan menghargai bantuan. Nilai estetika dalam novel Si Putih karya Tere Liye dari tinjauan semiotika dapat dilihat melalui aspek visual alam, simbolisme alam, atmosfer yang memunculkan ketenangan dan kedamaian, penciptaan ruang serta keindahan alam. Nilai budaya dalam novel Si Putih karya Tere Liye dari tinjauan semiotika dapat dilihat melalui aspek budaya keramahan dan saling membantu, tradisi menghormati tamu, integrasi teknologi, tradisi dalam penyelesaian konflik. Kata kunci: Si Putih. Nilai Pendidikan Karakter. Semiotik . ABSTRACT This study aims to determine and analyze religious values, moral values, educational values, aesthetic values and cultural values in the novel Si Putih by Tere Liye from a semiotic perspective. This study uses a descriptive qualitative research type using semiotic techniques. The data acquisition technique for this study uses a library study and note-taking techniques. The results of the study show that the religious values in the novel Si Putih by Tere Liye from a semiotic perspective can be seen through the aspects of the symbol of belief in destiny, sincerity and acceptance of destiny, belief in a greater power and the symbol of sacrifice. The moral values in the novel Si Putih by Tere Liye from a semiotic perspective can be seen through the aspects of sacrifice, courage, admitting mistakes, concern for the environment and sincerity in separation. The social education value in the novel Si Putih by Tere Liye from a semiotic perspective can be seen through the aspects of empathy and social concern, loyalty and reciprocity, mutual respect and strengthening relationships, politeness, discipline and curiosity, helping each other and appreciating help. The aesthetic value in the novel Si Putih by Tere Liye from a semiotic perspective can be seen through the visual aspect of nature, natural symbolism, an atmosphere that brings up calm and peace, the creation of space and the beauty of nature. The cultural value in the novel Si Putih by Tere Liye from a semiotic perspective can be seen through the cultural aspect of friendliness and mutual assistance, the tradition of respecting guests, technology integration, and the tradition of conflict resolution. Kata Kunci: Si Putih. Character Education Values. Semiotics. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. Pendahuluan Sastra merupakan perwujudan gagasan seseorang yang tercermin melalui pandangannya terhadap lingkungan sosial di sekitarnya disampaikan dengan bahasa yang Sebagai entitas hidup, sastra berkembang secara dinamis mengikuti perkembangan di berbagai bidang lain seperti politik, ekonomi, seni dan budaya (Nurachmana et al. , 2020:. Sastra diartikan sebagai sajian yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Proses kreatif dalam sebuah karya sastra terkadang melibatkan banyak hal, mulai dari imajinasi pengarang, pengalaman pribadi, hingga kondisi sosial masyarakat (Sukowati, 2. Pada proses penciptaan sebuah karya sastra, seorang pengarang mengangkat persoalan atau fenomena sosial yang terjadi di masyarakat dan mencurahkan pandangan dan kegelisahannya dengan isu tersebut (Papilaya & Selirowangi, 2. Sebagai bagian dari masyarakat, pengarang secara alami dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya sehingga fenomena yang ada tercermin dalam karyanya. Fenomena sosial tersebut kemudian direfleksikan oleh pengarang menjadi karya dengan ciri khas masing-masing. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pembaca sering menemukan peristiwa dalam karya sastra yang selaras dengan pengalaman hidupnya sendiri (Cahyono et al. , 2024:. Novel adalah salah satu karya fiksi yang dibangun melalui dua unsur intrinsik dan ekstrinsik (Sukowati & Ihsan, 2. Kehadiran novel dibuat pengarangnya dalam memecahkan persoalan kehidupan sosial dan berbagai aspek dalam kehidupan, terutama sosial, ekonomi, politik dan seksual yang dianggap kompleks dalam diskusi terbuka (Apriansyah & Nurhaidah, 2024:. Menurut SaAoadah et al. , . novel merupakan sebuah totalitas, suatu keseluruhan yang bersifat artistik. Sebagai sebuah totalitas, novel memiliki bagian-bagian dan unsur-unsur yang saling berkaitan satu dengan yang lain secara erat. Novel dianggap sebagai karya sastra yang mengandung nilai pendidikan dan memberikan dampak positif kepada pembacanya melalui pesan-pesan yang disampaikan oleh tokoh-tokoh di Nilai-nilai yang diajarkan dalam novel menjadi acuan bagi pembaca dalam menentukan baik atau buruknya suatu hal. Nilai tersebut mencerminkan sesuatu yang penting dan berguna bagi manusia dalam menjalani kehidupannya (Nurachmana et al. , 2020:. Nilai pendidikan berkaitan erat dengan pendidikan sebab berperan dalam membentuk sikap dan kepribadian individu sepanjang proses kehidupan. Pentingnya pendidikan karakter terlihat dari meningkatnya tingkat kejahatan yang melibatkan remaja, anak-anak, hingga orang dewasa yang mengindikasikan penanaman nilai karakter dalam diri seseorang semakin Maka, nilai-nilai karakter harus ditanamkan sejak usia dini melalui pendidikan karena hal tersebut dapat memberikan dampak signifikan terhadap pembentukan karakter seseorang ketika ia dewasa (Iko et al. , 2023:. Penelitian yang menggunakan pendekatan nilai pendidikan terhadap karya sastra berfokus pada kreativitas dan hubungan karya tersebut dengan kehidupan. Dalam karya sastra, terdapat nilai-nilai atau pesan yang berisi amanat maupun nasihat. Karya sastra memberikan teladan yang patut ditiru dan sekaligus menunjukkan hal-hal yang layak dicela bagi mereka yang tidak baik (Aziz, 2021:. Ada banyak penulis yang menciptakan novel Indonesia, seperti Tere Liye. Tere Liye dikenal sebagai penulis yang menghasilkan karya-karya bergenre keluarga, romantik, dan Dalam karyanya. Tere Liye sering kali mengangkat isu-isu realistis yang terjadi di Namun dalam serial Bumi atau Dunia Paralel, ia memilih genre fantasi yang mengarah pada realisme magis. Serial Dunia Paralel terdiri dari 11 buku (Bumi. Bulan. Matahari. Bintang. Ceros dan Batozar. Komet. Komet Minor. Selena. Nebula. Lumpu dan Si Puti. dan mendapat apresiasi tinggi di kalangan pembaca muda. Tingginya ketertarikan terhadap genre fantasi ini memicu rasa ingin tahu yang besar di kalangan pembaca (Salsabila & Karkono, 2021:. Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti menggunakan novel Si Putih sebagai objek penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam cerita tersebut. Novel Si Putih karya Tere Liye menceritakan tentang masa lalu Si Putih yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun untuk Raib. Si Putih adalah kucing kuno yang telah hidup ribuan tahun lalu di Klan Polaris. Dalam cerita ini. Si Putih bertemu dengan Nou seorang anak kecil yang terpisah dari kedua orang tuanya akibat pandemi yang melanda Klan Polaris. Klan Polaris sendiri tergolong klan unik yang terletak di Konstelasi Ursa, di mana setiap ribuan tahun terjadi siklus virus mematikan yang mengancam kehidupan di sana. Virus ini selalu berhasil bermutasi dan memberikan tantangan bagi para ilmuwan di Klan Polaris untuk mencari cara menghadapinya. Selain itu, novel ini juga mengisahkan petualangan Nou. Si Putih, dan Pak Tua yang bepergian menuju bagian timur Klan Polaris. Dalam perjalanan ini. Pak Tua kehilangan rumahnya setelah terseruduk oleh kawanan banteng yang sedang melintas di padang rumput (Syamsiah et al. , 2023:. Peneliti memilih untuk melakukan penelitian dengan menggunakan objek tersebut karena novel ini mengandung banyak nilai pendidikan karakter yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam pembentukan karakter generasi muda. Novel ini memiliki potensi besar untuk dijadikan bahan ajar dalam pendidikan karakter. Penelitian ini juga penting untuk melihat bagaimana karya sastra dapat berfungsi sebagai media yang efektif dalam menanamkan nilai moral dan pendidikan karakter kepada pembaca, terutama bagi remaja yang sedang berada dalam tahap perkembangan moral dan emosional. Peneliti dalam hal ini menerapkan teori semiotika Roland Barthes untuk menganalisis nilai religius, moral, pendidikan sosial, estetika dan budaya dalam novel Si Putih karya Tere Liye, yang mana pendekatan ini memungkinkan eksplorasi makna yang lebih mendalam di balik simbol-simbol dan tanda-tanda yang terkandung dalam teks sastra. Barthes menawarkan dua tingkat makna berupa denotasi . akna harfia. dan konotasi . akna implisit yang terkait dengan konteks budaya atau ideolog. Pendekatan ini memberikan kerangka analisis yang terstruktur untuk menginterpretasikan bagaimana nilai-nilai pendidikan karakter disampaikan secara implisit dalam cerita, baik melalui karakter, dialog, alur maupun elemen naratif lainnya. Melalui penerapan pendekatan ini, peneliti dapat mengidentifikasi dan menghubungkan nilai-nilai religius, moral, sosial, estetika dan budaya yang terkandung dalam novel dengan konteks kehidupan nyata pembaca. Sehingga penelitian ini menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pesan moral dan pendidikan karakter yang ingin disampaikan oleh Tere Liye. Penelitian ini diharapkan dapat menggali makna lebih dalam dari simbol-simbol yang terdapat dalam novel yang akan memperkaya pemahaman tentang bagaimana karakterkarakter dalam cerita dapat mencerminkan nilai-nilai positif yang dapat ditanamkan dalam proses pendidikan. Penelitian oleh Sanjaya . memaparkan adanya nilai pendidikan yang terkandung dalam Novel Hanter Karya Syifauzzahra terdiri dari nilai pendidikan jasmani, nilai religius, nilai kecakapan/intelek, nilai keteguhan hati/komitmen, nilai kerja keras, nilai keterampilan, nilai bersahabat/komunikatif dan nilai gemar membaca. Sedangkan penelitian Susanti et al. menampilkan nilai-nilai yang terkandung di dalam novel Reset karya Sheen dibagi menjadi 5 nilai berupa nilai sosial, nilai moral, nilai pendidikan, nilai agama atau religius dan nilai budaya. Serta penelitian Putri et al. , . yang menemukan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Ingkar meliputi nilai agama, nilaisosial, nilai moral dan nilai budaya. Penelitian ini akan menganalisis dan mengkaji secara mendalam berbagai nilai yang terkandung dalam novel Si Putih karya Tere Liye, termasuk nilai religius, nilai moral, nilai pendidikan, nilai estetika, dan nilai budaya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan semiotika, yang memungkinkan untuk memahami makna-makna tersembunyi di balik simbol, tanda, dan representasi yang terdapat dalam novel tersebut. METODE Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut Sukmadinata . , penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang fenomena, peristiwa, kepercayaan, sikap dan aktivitas sosial secara individual maupun kelompok. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Sumber data sekunder adalah sumber yang memberikan informasi kepada pengumpul data secara tidak langsung, seperti melalui surat kabar atau orang lain (Sugiyono, 2019:. Dokumentasi yang berkaitan dengan masalah penelitian berfungsi sebagai sumber data sekunder dalam penelitian ini. Kemudian teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah studi pustaka dan teknik catat. Selanjutnya instrumen penelitian yang digunakan adalah dokumentasi dengan menganalisis novel AuSi PutihAy karya Tere Liye. Instrumen ini berupa lembar kerja yang dirancang untuk mencatat kutipan teks, kategori nilainilai pendidikan karakter, serta interpretasi relevan berdasarkan teori yang digunakan. Instrument ini terdiri dari nilai religius, nilai moral, nilai pendidikan, nilai estetika dan nilai Dalam penelitian kualitatif untuk menguji keabsahan data, dalam penelitian ini penulis menggunakan cara triangulasi agar data yang dihasilkan merupakan data yang valid untuk penelitian (Sugiyono, 2021:. Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi teori. Triangulasi ini berupa Informasi yang akan dibandingkan dengan perspektif teori yang televan untuk menghindari bias individual peneliti atas temuan atau kesimpulan yang dihasilkan. Dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ini menggunakan model Miles and Huberman yang terdiri dari, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Analisis data menggunakan model Miles and Huberman dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh (Sugiyono, 2021:. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Nilai Religius Dalam Novel Si Putih Karya Tere Liye Dari Tinjauan Semiotika Sebuah karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dapat memberikan manfaat dan kesan pada pembacanya untuk berbuat yang lebih baik dan sesuai dengan ajaran agama. Salah satu nilai positif yang terkandung dalam karya sastra adalah nilai religius (Alfiyah et al. , 2023: Nilai religius yaitu nilai yang bercermin pada kehidupan beragama yang memiliki tiga unsur pokok yaitu akidah, ibadah dan akhlak yang menjadi pedoman manusia dengan aturan yang telah ditentukan untuk mencapai kesejahteraan (Hanantha, 2022: . Hal ini dapat dilihat secara jelas melalui penggalan kutipan yang terdapat dalam novel Si Putih karya Tere Liye, yang menggambarkan pesan mendalam serta relevansi nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. DATA 01 AuSekejap, kucing itu telah lompat meninggalkan area yang dilindungi tamen transparan, itu gerakan yang lincah- sekaligus nekad. Kucing itu menerobos banteng-banteng, kakinya meniti punggung banteng-banteng yang sedang lari, lompat kesana-kemari diantara kepul debu, menuju Paruh Perak yang mengambang tiga puluh meter dari Ay(Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 02 "Aduh. Lari. Put!" "Meong. "Heh, apa susahnya kamu segera lari. Aku akan menahan singa-singa ini. Kamu bisa menyelinap lincah diantara mereka. Salah-satu dari kita bisa selamat. Si Putih tetap tidak N-ou merutuk dalam hati. Kenapa sih hidupnya harus selalu rumit? Kucing ini amat keras kepala". (Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 03 AuSi Putih telah terlibat pertarungan sengit dengan ular besar. Tubuh kucing itu lompat kesana-kemari menghindari tombak runcing di ekor ular. BLAR! BLAR! Setiap kali tombak itu menghantam pualam, suara memekakkan telinga terdengar, lantai hancur lebur. Putih balas menyerang dengan mencakar ular, tapi itu sia-sia, sisik-sisik gelapnya keras tak bisa ditembus. Juga dengan sambaran ekornya. CTAR! CTAR! Tidak mempan. Ay(Sumber: Novel Si Putih. Hal. Berdasarkan kutipan di atas, kutipan tersebut melambangkan keberanian dan ketangguhan Si Putih dalam menghadapi rintangan. Dari perspektif semiotika simbol, tindakan Si Putih merepresentasikan perjuangan menghadapi tantangan hidup, sementara Paruh Perak dapat diartikan sebagai simbol harapan atau pencapaian yang membutuhkan usaha besar. Selain itu, kutipan tersebut juga melambangkan kesetiaan dan kepercayaan Si Putih terhadap kekuatan yang dimilikinya, yang terlihat jelas saat ia berusaha membantu Nou. Meskipun banyak tantangan yang dihadapi. Si Putih tetap menunjukkan keyakinannya bahwa dengan kekuatan dan keberanian yang dimiliki, ia bisa membuat perbedaan dan menyelamatkan Nou. Di sisi lain, kutipan di atas menggambarkan bahwa meskipun hatinya berat. Nou dengan ikhlas melepaskan kepergian Si Putih. Tindakan ini mencerminkan nilai religius tentang ketulusan dan penerimaan terhadap takdir. Meskipun terpisah. Nou percaya bahwa setiap pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari rencana yang lebih besar. Dengan demikian adanya kajian ini mampu mengangkat nilai religius untuk mengungkapkan berbagai persoalan kehidupan sosial yang dicitrakan oleh tokoh utama dalam sebuah novel. Selain itu, nilai religius dinilai mampu memiliki relevansi dalam pembelajaran karya sastra di tingkat sekolah guna untuk meningkatkan kualitas nilai moral yang banyak dilupakan oleh masyarakat. Nilai Moral Dalam Novel Si Putih Karya Tere Liye Dari Tinjauan Semiotika Pada tahap penciptaan sebuah karya sastra, seorang pengarang mengangkat suatu persoalan atau fenomena sosial di masyarakat lalu mencurahkan pandangan dan kegelisahannya terhadap persoalan tersebut. Maka tidak mengherankan ketika membaca suatu karya sastra, terkadang seseorang menemukan peristiwa yang selaras seperti sesuatu yang dialami dalam kehidupannya (Cahyono et al. , 2024: . Nilai moral sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan bermasyarakat. Hal ersebut dikarenakan nilai moral dijadikan suatu pedoman bagi seorang individu dalam bersikap dan bersosialisasi dalam lingkungan masyarakat sosial. (Simbolon et al. , 2022: . Pesan yang kuat dalam novel Si Putih karya Tere Liye juga tercermin melalui kutipan yang menyiratkan makna penting bagi pembaca, memberikan gambaran yang penuh inspirasi serta pembelajaran dalam kisah tersebut. DATA 01 AuKita harus menyelamatkan diriAy. AuAku tahu. Kau tidak lihat, heh. Aku justru sedang menyelamatkan diriAy. (Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 02 "Meong. " Si Putih mengeong galak. Dia tidak berhenti, dengan galak dia maju mendekati dua singa yang telah bangkit hendak menyerang lagi. Ekornya bagaikan cambuk, melesat ke depan. Ay(Sumber: Novel Si Putih. Hal. Data 03 "Aku minta maaf. Tuan. Sekali lagi, atas kesalahpahaman baru. Jika demikian, tentu pelayan kami yang sangat beruntung ini boleh mengobrol dengan tuan. Sungguh sebuah kehormatan bagi kami. Maaf mengganggu. "(Sumber: Novel Si Putih. Hal. Berdasarkan kutipan di atas, kutipan tersebut menunjukkan nilai moral pengorbanan yang tergambar jelas melalui tindakan Si Putih yang selalu berusaha menyelamatkan Nou, bahkan dalam situasi yang penuh bahaya. Selain itu, kutipan tersebut juga menunjukkan nilai moral dalam cerita ini yang tercermin melalui permintaan maaf yang tulus. Dari perspektif semiotika simbol, kutipan tersebut menunjukkan simbol kesopanan dan kepatuhan dalam komunikasi, di mana kata-kata dalam kutipan ini merepresentasikan nilai etika dalam berinteraksi sosial, dengan kesantunan dan tata krama yang dijunjung tinggi. Nilai Pendidikan Sosial Dalam Novel Si Putih Karya Tere Liye Dari Tinjauan Semiotika Karya sastra dan nilai pendidikan memiliki hubungan yang erat. Dalam karya sastra terkandung berbagai ajaran dan nilai yang bermanfaat bagi pembaca serta masyarakat yang mengapresiasinya (Sutardi & Ernaningsih, 2. Ketika mengkaji karya sastra pasti akan mendapatkan nilai pendidikan yang bermanfaat. Nilai pendidikan yang terdapat di dalam novel memiliki variasai yang beragam. Nilai-nilai pendidikan merupakan suatau batasan yang mengarahkan seseorang menuju kedewasaan dalam kehidupan melalui proses pendidikan (Nurhandayani et al. , 2022: . Hubungan sastra dan pendidikan sangatlah erat dan tidak bisa dipisahkan dipisahkan karena keduanya memiliki hubungan dalam membentuk karakter (Sanjaya, 2022: . Hal ini dapat dilihat secara jelas melalui penggalan kutipan yang terdapat dalam novel Si Putih karya Tere Liye, yang menggambarkan pesan mendalam serta relevansi nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. DATA 01 AuKondisi N-ou buruk, tapi lebih buruk lagi kucing itu. Separuh badannya terhimpit bongkahan batu, dan batu itu terus bergerak pelan setiap kucing itu berusaha meloloskan Hanya soal waktu, jika kucing malang itu terus meronta berusaha melepaskan diri, tubuhnya akan tergencet habis oleh batu besar. "Kasihan sekali. " N-ou menyeka dahinya yang mengucurkan peluh sebesar butir jagung, bercampur dengan basah air hujan. Dia harus melakukan sesuatu. Lupakan kondisinya, kucing ini mendesak harus ditolongAy(Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 02 AuN-ou masih tergeletak di gedung tua itu. Tubuhnya menggigil kedinginan. AuMeong,Ay kucing yang dia selamatkan menatap sedih. Bola mata kuningnya mengerjapngerjap menatap tubuh anak kecil yang meringkuk menggigil. Sejenak, kucing itu telah melompat cepat, melewati bongkahan batu. Lima menit kemudian, kucing itu kembali membawa selimut. Entah darimana ia mendapatkannya, ia menggigit selimut itu, menyeretnya ke tempat N-ou meringkuk. Lantas meletakkannya di atas tubuh N-ou, menarik ujung-ujungnya dengan mulutnya lagi. Hingga sempurna menutupi seluruh tubuh N-ouAy(Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 03 "Untukmu. " N-ou mengangguk sambil meletakkan potongan roti di atas lantai. Dia belum kenyang, tapi tidak seharusnya dia menghabiskan seluruh roti. Kucing itu mendekati roti, mulai memakannya. N-ou tersenyum, meraih botol air minum. Menenggaknya. Terasa AuTerima kasih sudah menolongku tadi malam. Ay Kucing putih itu tidak menjawab, asyik makan. (Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 04 "Hidup pak tua dengan kursi rodanya!" Pak Tua santai melambaikan tangannya, bergaya. Tersenyum lebar. Kursi rodanya melaju tanpa suara di atas jalanan kota. "Heh, anak muda, apa susahnya balas melambai?" N-ou menggeleng tegas. Tidak mau. (Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 05 "Aku dulu pelajar yang sangat bersemangat, anak muda. " Pak Tua menjawab pertanyaan lebih baik, "Sejak kecil, aku suka dengan buku-buku. Dua belas tahun pendidikan formal, aku membuat pusing guru-guru di sekolah. Entah berapa kali orang-tuaku dipanggil karena aku bertanya hal yang menurut mereka mengkhawatirkan. "Saat kuliah di universitas, kecintaanku atas buku lebih menjadi-jadi lagi. Aku membaca buku lebih banyak dibanding seluruh mahasiswa di universitas dijumlahkan. Dosen-dosen menyerah atas pertanyaanku, dan mereka tidak bisa memanggil orang-tuaku. Aneh sekali jika profesor mengeluh mahasiswanya banyak bertanya, bukan? Teman- temanku berbisik, bilang aku gila, menatap kasihan. Tapi tidak masalah. Aku yang sebenarnya menatap mereka kasihan, karena mereka tidak bisa melihatnya. " (Sumber: Novel Si Putih. Hal. Berdasarkan kutipan di atas, kutipan tersebut merepresentasikan simbol kepedulian dan pengorbanan, di mana tindakan N-ou melambangkan nilai kemanusiaan, keberanian, dan sikap altruistis. Selain itu, kutipan tersebut juga menggambarkan simbol kasih sayang dan timbal balik kebaikan, di mana tindakan kucing mencerminkan rasa terima kasih dan ikatan emosional yang terbentuk melalui perbuatan baik. Sikap N-ou yang tetap berbagi meskipun belum kenyang menunjukkan simbol kebaikan hati dan ketulusan. Sementara itu. Pak Tua dengan kursi rodanya melambangkan penerimaan terhadap keadaan tanpa kehilangan keceriaan, sedangkan lambaian tangan mencerminkan ajakan untuk berbagi kebahagiaan. sisi lain, kutipan tersebut juga merepresentasikan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, di mana buku menjadi simbol sumber ilmu, sementara pertanyaan-pertanyaan Pak Tua mencerminkan semangat berpikir kritis yang tidak mudah padam. Dengan demikian, pendidikan seharusnya tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan kepribadian yang baik, seperti saling menghargai, sopan santun, dan empati. Nilai Estetika Dalam Novel Si Putih Karya Tere Liye Dari Tinjauan Semiotika Novel sebagai karya sastra memiliki sebuah unsur keindahan atau sering disebut sebagai nilai estetika. Nilai estetika yang terdapat pada novel dapat dinikmati oleh seorang yang membaca novel dengan utuh dan padu. Dalam sebuah novel si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang terkandung dalam novel tersebut (Syamsiah et al. , 2023: . Novel Si Putih karya Tere Liye menyajikan kutipan yang tidak hanya memperkaya alur cerita, tetapi juga menghadirkan pesan berharga yang mampu menggugah pemikiran serta perasaan pembacanya. DATA 01 AuN-ou menatap sekelilingnya. Jalanan yang basah, hujan deras, bongkahan material gedung yang berserakan. Kapsul-kapsul sistem keamanan yang tergeletak. Sesekali dia masih mendengar ledakan di kejauhan, juga teriakan dan berkas cahaya hijau ditembakkan, tapi dibandingkan enam jam lalu, situasi telah lengang. Sebagian besar penduduk yang terkena infeksi, menyingkir dari jalanan, mereka tahu tidak ada gunanya lagi berusaha menerobos dinding transparan itu. Mereka punya masalah lebih serius, tubuh mereka mulai sakitAy. AuButir air hujan terus menerpa wajah N- ou. Anak kecil itu menyekanya. Mendongak, sebuah kapsul melintas, mendesing. Membuat ingatan N-ou kembali, kejadian di pintu lorong evakuasi. Ay (Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 02 AuSi Putih kembali loncat di atas bebatuan sungai. N-ou menatap sekitar. Sungai ini jernih sekali, dasar bebatuan terlihat jelas. Lima tahun tanpa manusia, bagian Klan Polaris yang ditinggalkan kembali menghijau. Pucuk-pucuk rumput terlihat sejauh mata memandang. Langit masih jingga, dengan gumpalan awan, dan burung-burung terbang. Sesekali terdengar suara jangkrik dan hewan liar di kejauhan. Ay (Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 03 AuTidak perlu diberitahu. N-ou akhirnya tahu sumber yang membuat tanah bergetar hebat Lihatlah, di salah satu bagian padang rumput, kawanan banteng bertanduk lima sedang bergerak bersama. Jumlahnya tak kurang seratus ribu ekor. Berderap melintasi padang rumput. Kaki-kaki besar mereka menghantam tanah, debu mengepul tinggi. "Wow. " N-ou menonton. Dia jarang menemukan pemandangan seperti iniAy (Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 04 AuIni segar sekali. Ay Pak Tua telah bergabung, cuek merentangkan kedua tangan. Seolah sedang liburan musim dingin di resort mewah. Dia duduk di kursi roda yang mengambang. Janggutnya terkena butir salju. Juga pakaian gelap yang dia kenakan. (Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 05 AuMereka segera meninggalkan kawasan padang rumput dan sungai besar itu. Digantikan dengan hamparan tanah bebatuan sejauh mata memandang. Mulai dari batu kecil, hingga batu-batu sebesar gedung dua puluh lantai. Mulai dari batu yang bulat biasa, hingga yang seolah dipahat seniman, membentuk kerucut, kotak, berlubang, bahkan menyerupai bentuk tertentu seperti gerbang, tiang menara, sosok orang, dan sebagainya. Sepanjang tahun, hujan dan angin mengikis, mengiris, mermahat batu- batu itu, hingga tidak sengaja menyerupai benda lain. Ay Itu pemandanga yang seru. AuSesekali benda terbang melewati oase hijau. Tumbuhan mirip kelapa menjulang tinggi, rapat melingkari mata air tersebut. Semak belukar tumbuh subur di bawahnya. Dari ketinggian. N-ou bisa melihat hewan-hewan berkumpul di oase, mencari air segar. Ay (Sumber: Novel Si Putih. Hal. Berdasarkan kutipan di atas, kutipan tersebut merepresentasikan simbol kekacauan dan ketahanan, di mana kapsul-kapsul sistem keamanan yang tergeletak melambangkan kegagalan teknologi, sementara N-ou yang tetap bertahan mencerminkan ketangguhan di tengah kondisi Selain itu, keindahan alam yang kembali asri melambangkan keseimbangan ekosistem setelah kehancuran, merefleksikan kontras antara peradaban manusia dan kelestarian alam. Kutipan tersebut juga menggambarkan simbol keagungan dan kekuatan alam, yang tak terhentikan namun tetap menimbulkan kekaguman. Di sisi lain, simbol kebebasan dan penerimaan terlihat melalui Pak Tua yang menikmati suasana dengan tenang meskipun dalam kondisi tak biasa, mencerminkan ketenangan dalam menghadapi situasi sulit. Sementara itu, perpindahan lanskap dari padang rumput yang subur ke daerah bebatuan yang luas menciptakan suasana eksotis dan misterius, seolah membawa pembaca ke dunia lain yang penuh keajaiban alam. Nilai Budaya Dalam Novel Si Putih Karya Tere Liye Dari Tinjauan Semiotika Budaya bangsa kini mengalami pelunturan dari generasi ke generasi. Tidak hanya budaya yang sudah menjadi tradisi saja, akan tetapi juga budaya dalam hidup sehari-hari yaitu hidup bermasyarakat. Menurut Setiaatmadja tradisi ini kurang lebih mengacu pada sebuah kepercayaan, pemikiran, paham, sikap, kebiasaan, cara atau metode, atau praktik individual maupun sosial yang sudah berlangsung lama di masyarakat dan diwariskan secara turuntemurun oleh nenek moyang dari generasi ke generasi (Hanantha, 2022: . Melalui kutipan yang diambil dari novel Si Putih karya Tere Liye, tersirat pesan berharga yang memperkaya pengalaman membaca serta menggambarkan kedalaman cerita dalam novel tersebut. DATA 01 AuHeh, apa yang kamu lakukan?Ay Tuan rumah memukul tangan N-ou dengan tongkat yang dia pangku sejak tadi. "Membantu. Bapak. Ay (Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 02 "Sebentar Pak Tua, tunggu dulu, lihat, aku melengkapinya dengan banyak fitur baru. " Nou menekan tombol di pegangan, layar hologram muncul, "Lihat, ada sistem pertahanan tameng transparan di dalamnya. Aku memindahkan empat gelang itu di kaki- kaki kursi roda-aku tidak membutuhkannya lagi, jadi buat Pak Tua saja. Tekan tombol ini misalnya. "Tapi obat-obatku bagaimana?" Intonasi suara Pak Tua membaik. "Tenang. Pak Tua. Itu yang paling penting. Malah sekarang Pak Tua tidak perlu repotrepot membawa tabung oksigen itu. Merepotkan. Lihat. " N-ou mengambil clip dari kantong di belakang kursi roda, "Ini konverter oksigen. Tidak perlu lagi tabung atau selang, cukup dipasang di hidung Pak Tua. Benda ini akan mengalirkan 100% oksigen Cobalah. " (Sumber: Novel Si Putih. Hal. DATA 03 AuAyolah, para Tetua," Kepala Suku yang tadi diam mengangkat tangannya, menyuruh dua tetua itu berhenti berseru-seru, "Kita tidak akan bertengkar saat menjamu tamu, bukan? Itu bukan tradisi luhur Suku Petani. Mari tunjukkan keramahan suku kita. Ay(Sumber: Novel Si Putih. Hal. Berdasarkan kutipan di atas, interaksi antara Nou dan tuan rumah mencerminkan dinamika hubungan yang unik, di mana sikap keras tuan rumah menunjukkan sifat mandiri atau ketidakterbiasaan menerima bantuan. Sementara itu, kepedulian dan kecerdikan N-ou terlihat dalam usahanya merancang kursi roda canggih untuk Pak Tua, mencerminkan hubungan erat dan perhatian terhadap kesejahteraan orang lain. Selain itu, nilai budaya juga tercermin dalam sikap saudara yang tetap menyambut tamu dengan kehangatan meskipun dalam kondisi sulit, menunjukkan bahwa keramahan dan berbagi merupakan bagian penting dari identitas mereka. Kutipan ini menegaskan bahwa dalam novel AuSi PutihAy, nilai budaya seperti keramahan, gotong royong, dan penghormatan terhadap tradisi sangat dijunjung tinggi. Dengan demikian, kajian ini mampu mengangkat nilai budaya yang mencerminkan bagaimana kebaikan, keramahan, dan saling membantu tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern, dan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas moral dan sosial di kalangan pembaca, khususnya di kalangan pelajar. Pembahasan Novel AuSi PutihAy menggambar bahwa karya sastra yang dapat memberikan nilai-nilai positif dalam kehidupan. Pertama nilai religius peran Si Putih dengan kesetiaan, kepercayaan keberanian, dan keyakinan yang dimilikinya dan peran Nou yang ikhlas dan tulus. Hal ini mencerminkan nilai religius untuk merenungkan pentingnya iman, ketulusan dan penghormatan kepada ciptaan Tuhan. Kedua nilai moral, tokoh-tokoh dalam novel ini menunjukkan nilai moral melalui permintaan maaf yang tulus dan keberanian untuk mengakui Dan nilai moral juga ditunjukkan melalui keberanian Si Putih untuk menolong Nou dari jeratan bahaya saat dua singa bangkit untuk menyerang mereka. Hal ini mengajarkan bahwa pengorbanan, kesetiaan, keberanian, dan rasa bertanggung jawab. Ketiga, nilai pendidikan yang tergambar dari Si Putih yang menunjukkan rasa terima kasihnya dengan setia melindungi dan membantu mereka yang telah menyelamatkannya, hal ini mencerminkan pendidikan tentang pentingnya balas budi dan juga sikap saling mengahargai juga memperkuat hubungan yang didasari oleh kebaikan. Keempat, nilai estetika dalam novel Si Putih digambarkan melalui elemen alam seperti sungai yang jernih, rerumputan yang tumbuh subur, serta kehadiran burung dan hewan liar. Selain itu, kontras estetika juga terlihat dalam gambaran kota E-um yang hancur, dengan gedung-gedung runtuh dan jalanan yang dipenuhi puing, mencerminkan dampak besar dari pandemi dan konflik. Penggambaran ini tidak hanya menonjolkan keindahan alam, tetapi juga memperkuat pengalaman emosional pembaca dalam memahami perubahan dan kehancuran yang terjadi. Kelima, nilai budaya yang digambarkan melalui sikap kepedulian dan kecerdikan N-ou dalam merancang kursi roda canggih untuk Pak Tua, dengan fitur-fitur seperti sistem pertahanan dan konverter oksigen demi kenyamanan dan keselamatannya. Reaksi awal Pak Tua yang khawatir namun kemudian tertarik menunjukkan manfaat inovasi tersebut, sekaligus mencerminkan hubungan erat mereka. Dalam novel Si Putih, nilai budaya seperti keramahan, saling membantu, dan penghargaan terhadap tradisi sangat menonjol. Meskipun hidup dalam dunia yang maju secara teknologi, para karakter tetap menjunjung tingginya nilai-nilai luhur seperti tolong-menolong, menghormati tamu, dan berbagi dengan sesama. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dijabarkan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa novel AuSi PutihAy karya Tere Liye, nilai religius dapat dianalisis melalui tinjauan semiotika dengan melihat simbol-simbol kepercayaan pada takdir, ketulusan, penerimaan, serta keyakinan terhadap kekuatan yang lebih besar. Simbol pengorbanan juga menjadi bagian penting dalam menggambarkan aspek religius ini, sebagaimana terlihat dalam keberanian Si Putih melawan ular besar dan keikhlasan Nou dalam melepaskan Si Putih demi takdir yang lebih baik. Selain itu, nilai moral dalam novel ini dapat ditemukan dalam berbagai aspek seperti pengorbanan, keberanian, mengakui kesalahan, kepedulian terhadap lingkungan, serta ketulusan dalam perpisahan. Tindakan-tindakan tersebut berfungsi sebagai penanda . yang menghubungkan makna mendalam . antara karakter AuSi PutihAy dan pesan moral yang ingin disampaikan. Selanjutnya, nilai pendidikan sosial dalam novel ini juga memiliki peran penting, terutama dalam aspek empati dan kepedulian sosial, kesetiaan dan balas budi, sikap saling menghargai, sopan santun, kedisiplinan, serta rasa ingin tahu. Sikap saling tolong-menolong juga menjadi pesan utama yang ditampilkan melalui tindakantindakan sederhana namun penuh makna. Pendekatan semiotika membantu memahami pesan moral yang terkandung dalam interaksi antara tanda dan maknanya dalam cerita. Selain itu, nilai estetika dalam novel AuSi PutihAy juga dapat ditemukan melalui berbagai aspek seperti visual alam, simbolisme alam, atmosfer yang menciptakan ketenangan dan kedamaian, serta keindahan ruang dan lanskap. Dengan demikian, novel ini memberikan pengalaman estetika yang tidak hanya bersifat visual tetapi juga emosional dan filosofis. Dan yang terakhir, nilai budaya dalam novel ini tergambar melalui berbagai tradisi yang mencerminkan keramahan dan kebiasaan saling membantu, penghormatan terhadap tamu, integrasi teknologi dalam kehidupan masyarakat, serta tradisi dalam penyelesaian konflik. Melalui tindakan-tindakan sederhana, seperti menunjukkan keramahan kepada tamu meskipun dalam kondisi sulit, novel ini mengajak pembaca untuk merenungkan pentingnya menjaga kebudayaan dan sosialitas dalam kehidupan sehari-hari. Dengan keseluruhan pendekatan semiotika. Si Putih bukan hanya sekadar kisah petualangan, tetapi juga sebuah refleksi mendalam terhadap berbagai nilai yang membentuk kehidupan manusia. DAFTAR RUJUKAN Alfiyah. Linggua Sanjaya Usop. Misnawati Misnawati. Alifiah Nurachmana, & Paul Diman. Nilai-Nilai Religius Dalam Novel Buya Hamka Karya Ahmad Fuadi. Atmosfer: Jurnal Pendidikan. Bahasa. Sastra. Seni. Budaya. Dan Sosial Humaniora, 1. , 184Ae200. https://doi. org/10. 59024/atmosfer. Apriansyah. , & Nurhaidah. Analisis Semiotika pada Novel AuSelamat TinggalAy Karya Tere Liye. Journal of Language & Literature, 1. , 25Ae38. https://doi. org/10. 26418/bedande. Aziz. Analisis Nilai Pendidikan Dalam Novel Sepatu Dahlan Karya Khrisna Pabhicara. ENGGANG: Jurnal Pendidikan. Bahasa. Sastra. Seni. Dan Budaya, 2. , 1Ae6. https://doi. org/10. 37304/enggang. Cahyono. Nurmalia. , & Wijayanti. Novel AuPerburuanAy Karya Pramoedya Ananta Toer dalam Perspektif Latar Sejarah dan Nilai Pendidikan Karakter Serta Relevansinya dengan Pembelajaran Sastra di Sekolah. EDUKASIA: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 5. , 963Ae976. https://doi. org/10. 62775/edukasia. Hanantha. Nilai-Nilai Kehidupan Dalam Novel Bumi Karya Tere Liye. Jurnal Kajian Bahasa. Sastra Indonesia. Dan Pembelajarannya, 7. , 95. https://doi. org/10. 17977/um007v7i12023p95-105 Iko. Umar. , & Masie. NILAI EDUKATIF DALAM NOVEL RUMAH TANPA JENDELA KARYA ASMA NADIA. Jambura Journal of Linguistics and Literature, 4. , 69Ae Nurachmana. Purwaka. Supardi. , & Yuliani. Analisis Nilai Edukatif dalam Novel Orang-orang Biasa Karya Andrea Hirata: Tinjauan Sosiologi Sastra. ENGGANG: Jurnal Pendidikan. Bahasa. Sastra. Seni. Dan Budaya, 1. , 57Ae66. https://doi. org/10. 37304/enggang. Nurhandayani. Danugiri. , & Hartati. Nilai Pendidikan Pada Novel Si Putih Karya Tereliye Dan Pemanfaatnya Sebagai Media Pembelajaran Di SMA. Jurnal Literasi, 6. , 134Ae141. Papilaya. , & Selirowangi. Kearifan Lingkungan Dalam Novel Kkn Di Desa Penari Karya Simpleman ( Ecocriticism ). , 108Ae116. Putri. Darmuki. , & Setiyono. Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Novel Ingkar Karya Boy Candra Hubungannya Dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Jurnal Educatio , 7. , 731Ae736. https://doi. org/10. 31949/educatio. SaAoadah. Mustofa. , & Sukowati. Hegemoni Gramsci Dalam Novel Surat Cinta Dari Bidadari Surga Karya Aguk Irawan. Edu-Kata, 7. , 156Ae165. https://doi. org/10. 52166/kata. Salsabila. , & Karkono. Unsur Elemen tak Tereduksi (Irreducible Elemen. Realisme Magis Dalam Novel Bumi Karya Tere Liye. JoLLA: Journal of Language. Literature, and Arts, 1. , 49Ae61. https://doi. org/10. 17977/um064v1i12021p49-61 Sanjaya. Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Novel Hanter Karya Syifauzzahra Dan Relevansinya Sebagai Pembelajaran Sastra Di SMA. KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa Dan Sastra, 5. , 475Ae496. https://doi. org/10. 24176/kredo. Simbolon. Perangin-Angin. , & Nduru. Analisis Nilai-Nilai Religius. Moral. Dan Budaya Pada Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk Karya Hamka Serta Relevansinya Sebagai Bahan Ajar Sekolah Menengah Atas. Jurnal Basataka, 5. , 50Ae61. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R&D. ALFABETA. Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif. Kuantitatif dan R&D. Alfabeta. Sukmadinata. Syaodih, & Nana. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek. PT. Remaja Rosdakarya. Sukowati. REPRESENTATION OF WOMEN IN THE NOVEL AuPEREMPUAN YANG MEMBELAH DIRIAy BY IVA TITIN SHOVIA. EDU KATA, 10. , 1Ae6. Sukowati. , & Ihsan. DAMPAK KEARIFAN LINGKUNGAN BERDASARKAN KAJIAN ECOCRITICISM DALAM NOVEL SERIAL ANAK-ANAK MAMAK KARYA TERE LIYE. Metamorfosa, 10. , 22Ae31. Susanti. Tedi Suryadi, & Mariani. Analisis Struktur Dan Nilai-Nilai Yang Terkandung Pada Novel Reset Karya Sheen. Jurnal KANSASI (Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesi. , 7. , 28Ae43. Sutardi, & Ernaningsih. PROSES KREATIF MENULIS USAHA INTERPRETASI NILAI PENDIDIKAN DALAM KARYA SASTRA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 8. , 1Ae210. Syamsiah. Anam. , & Rokhayati. KONJUNGSI KOORDINATIF DALAM NOVEL SI PUTIH KARYA. Jurnal Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, 3. , 91Ae102.