Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 1 Januari . : http://dx. org/10. 25157/jkg. PERILAKU CARING PERAWAT SEBAGAI PREDIKTOR KEPUASAN PASIEN PADA LAYANAN HEMODIALISIS: STUDI POTONG LINTANG 1, 2 Asep Wahyudin Hidayat A. Suci Rahma Oktavia A Program Studi Keperawatan. Universitas Galuh. Indonesia (Article History: Submitted 2026-01-12. Accepted 2026-01-23. Published 2026-01-. ABSTRAK Perilaku caring merupakan fondasi ontologis dan epistemologis praktik keperawatan yang berperan penting dalam membangun relasi terapeutik antara perawat dan pasien, khususnya pada pasien hemodialisis yang menjalani terapi jangka panjang dan berulang. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara perilaku caring perawat dan tingkat kepuasan pasien hemodialisis di rumah sakit umum daerah tipe C. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional terhadap 53 pasien yang dipilih secara purposive sampling. Perilaku caring diukur menggunakan Caring Behavior Inventory (CBI-. , sedangkan kepuasan pasien diukur dengan instrumen berbasis dimensi RATER. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perilaku caring perawat berada pada kategori cukup . ,7%) dan kepuasan pasien didominasi kategori puas . ,6%). Uji statistik menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara perilaku caring perawat dan kepuasan pasien . = 0,612. p < 0,. Kesimpulannya, perilaku caring perawat berhubungan erat dengan kepuasan pasien hemodialisis, sehingga penguatan kompetensi relasional, komunikasi terapeutik, dan dukungan organisasi keperawatan penting untuk meningkatkan mutu layanan dan pengalaman pasien secara berkelanjutan. Kata Kunci: caring perawat, kepuasan pasien, hemodialisis, mutu pelayanan keperawatan, komunikasi ABSTRACT Caring behavior is the ontological and epistemological foundation of nursing practice and plays a crucial role in establishing therapeutic relationships between nurses and patients, particularly among hemodialysis patients who undergo long-term and repetitive therapy. This study aimed to analyze the relationship between nursesAo caring behavior and the level of patient satisfaction among hemodialysis patients in a type C public hospital. A quantitative correlational design with a cross-sectional approach was employed. The sample consisted of 53 hemodialysis patients selected through purposive sampling. Caring behavior was measured using the Caring Behavior Inventory (CBI-. , while patient satisfaction was assessed using an instrument based on the RATER dimensions. Data were analyzed using the Spearman Rank correlation test. The results indicated that most nursesAo caring behavior was categorized as moderate . 7%), and patient satisfaction was predominantly in the satisfied category . 6%). Statistical analysis revealed a strong and significant positive relationship between nursesAo caring behavior and patient satisfaction . = 0. In conclusion, nursesAo caring behavior is strongly associated with patient satisfaction in hemodialysis Strengthening relational competence, therapeutic communication, and organizational support in nursing practice may enhance service quality and improve patient experiences sustainably. Keywords: caring nurses, patient satisfaction, hemodialysis, quality of nursing care, therapeutic PENDAHULUAN Transformasi sistem pelayanan kesehatan global menempatkan mutu pelayanan tidak lagi semata diukur melalui indikator klinis, tetapi juga Alamat Korespondensi: Universitas Galuh. Indonesia Email: asepwahyudinhidayat171@gmail. com 1* melalui pengalaman subjektif dan persepsi pasien terhadap layanan yang diterimanya. Pergeseran ini mencerminkan transisi paradigma dari model biomedis menuju patient-centered care (Mainz, eISSN: 2656-4122 Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 61 - 10 Endeshaw, 2. , yang menekankan dimensi relasional, humanistik, dan psikososial sebagai determinan utama kualitas layanan (McCollKennedy et al. , 2. Dalam konteks keperawatan, caring merupakan inti ontologis praktik profesional yang membedakan keperawatan dari profesi kesehatan lain, sebagaimana ditegaskan dalam Theory of Human Caring oleh Jean Watson . , yang memandang transpersonal berbasis kehadiran autentik, empati, nilai moral, dan penghormatan terhadap martabat Dimensi relasional caring diperkuat oleh Teori Hubungan Interpersonal dari Hildegard Peplau . , yang menempatkan interaksi terapeutik sebagai mekanisme utama dalam mengurangi kecemasan dan meningkatkan adaptasi Perspektif ini sejalan dengan Comfort Theory (Kolcaba, 2. yang menegaskan bahwa kenyamanan fisik, psikospiritual, sosial, dan lingkungan merupakan outcome langsung dari praktik caring, serta dengan Transcultural Nursing Theory (Leininger & McFarland, 2. yang memandang caring sebagai konstruksi budaya yang memengaruhi persepsi kepuasan pasien. Selain itu. Self-Determination Theory (Deci & Ryan, 2. menjelaskan bahwa caring memenuhi kebutuhan psikologis dasar pasienAiautonomi, kompetensi, dan keterhubunganAiyang berkontribusi terhadap kepuasan intrinsik terhadap layanan kesehatan. Pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, kompleksitas caring semakin signifikan (Wong et al. , 2019. Himmelfarb et al. , 2. Hemodialisis merupakan terapi jangka panjang dan berulang yang menciptakan ketergantungan kronik pada sistem layanan kesehatan serta meningkatkan risiko stres psikologis, kelelahan emosional, dan penurunan kualitas hidup (Kraus et al. , 2016. Pretto et al. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Stress and Coping Theory (Lazarus & Folkman, 1984. Folkman, 2. yang memandang caring perawat sebagai sumber social support yang memoderasi stres, serta Social Cognitive Theory (Bandura, 2. yang menekankan peran interaksi perawat dalam meningkatkan efikasi diri pasien dalam menghadapi penyakit kronik. Dari perspektif perkembangan psikososial. Teori Erikson . menunjukkan bahwa penyakit kronik dapat mengganggu integritas ego dan rasa bermakna hidup, sehingga caring berfungsi sebagai mekanisme restoratif identitas diri pasien (Blatt & Luyten, 2009. Westerhof et al. , 2. Secara sistemik, hubungan antara perilaku caring dan kepuasan pasien dapat dianalisis melalui Model StrukturAeProsesAeOutcome dari Donabedian . yang mengklasifikasikan caring sebagai variabel proses yang memengaruhi outcome berupa kepuasan pasien. Dimensi kepuasan tersebut dijelaskan lebih lanjut melalui Model SERVQUAL dari Parasuraman et al. dan Jain & Gupta . yang menempatkan empati dan responsivitas sebagai inti persepsi mutu layanan. Integrasi kedua model ini menunjukkan bahwa caring bukan hanya fenomena interpersonal, tetapi juga determinan sistemik mutu pelayanan kesehatan. Perspektif kebutuhan dasar manusia dari Hierarchy of Needs Theory (Maslo. turut memperkuat bahwa pemenuhan kebutuhan psikologis dan rasa aman melalui caring menjadi prasyarat kepuasan pasien. Meskipun kerangka teori seperti Theory of Human Caring dari Jean Watson . dan Interpersonal Relations Theory dari Hildegard Peplau . , memandang caring sebagai proses relasional dan terapeutik yang memengaruhi kesejahteraan psikologis serta kepuasan pasien, sebagian besar studi empiris masih menempatkan caring dan kepuasan pasien sebagai variabel korelasional tanpa menjelaskan mekanisme psikososial yang mendasarinya. Penelitian sebelumnya umumnya menggunakan kerangka mutu pelayanan seperti StructureAeProcessAe Outcome Model dari Donabedian . dan SERVQUAL dari Parasuraman et al. , namun lebih banyak dilakukan pada setting perawatan akut dan rumah sakit rujukan tersier, sehingga kurang relevan untuk menjelaskan dinamika caring pada layanan kronik jangka panjang (Carman, 1990. Jain & Gupta, 2. Selain itu, bukti empiris pada populasi pasien hemodialisis masih terfragmentasi dan bersifat deskriptif, dengan keterbatasan integrasi teori adaptasi stres (Lazarus & Folkman, 1984. Folkman, 2. maupun perspektif motivasional seperti SelfDetermination Theory (Deci & Ryan, 2. dalam menjelaskan bagaimana caring mendukung penyesuaian diri dan kepuasan pasien secara Kajian pada rumah sakit umum daerah tipe C juga masih sangat terbatas, padahal perbedaan konteks organisasi dan keterbatasan sumber daya berpotensi memengaruhi praktik caring dan pengalaman pasien. Dengan demikian, terdapat research gap berupa ketiadaan analisis teoritik multidimensional yang mengintegrasikan teori caring keperawatan, model adaptasi psikososial, dan kerangka mutu pelayanan untuk menjelaskan hubungan perilaku caring perawat dan kepuasan pasien hemodialisis dalam konteks layanan kronik di rumah sakit daerah. Terdapat mengembangkan analisis yang lebih komprehensif dan berbasis teori guna menjelaskan mekanisme hubungan antara perilaku caring perawat dan kepuasan pasien hemodialisis. Minimnya integrasi Hidayat. W & Oktavia. R / Perilaku Caring Perawat Sebagai Prediktor Kepuasan Pasien pada Layanan Hemodialisis: Studi Potong Lintang teori keperawatan, psikologi kesehatan, dan mutu pelayanan dalam menjelaskan hubungan caring dan kepuasan pasien pada setting rumah sakit daerah menjadi kebutuhan yang mendesak. Penelitian menawarkan pendekatan analitik multidimensional yang menggabungkan instrumen terstandar internasional dengan kerangka teori Watson . Peplau . Donabedian . SERVQUAL, dan teori psikososial modern untuk menghasilkan interpretasi yang lebih sistematis, kritis, dan METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional untuk menguji hubungan antara perilaku caring perawat dan kepuasan pasien hemodialisis pada satu titik waktu pengukuran (Naalweh et al. , 2017. Zhang et al. , 2. Desain ini sesuai untuk manipulasi perlakuan serta banyak digunakan dalam riset pelayanan kesehatan berbasis persepsi pasien (Polit & Beck, 2006. Setia, 2. Populasi penelitian terdiri dari 115 pasien aktif yang menjalani terapi hemodialisis rutin di RSUD Ciamis. Ukuran sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan margin of error 10% sehingga diperoleh 53 responden. Teknik purposive sampling diterapkan dengan kriteria inklusi: . menjalani hemodialisis minimal tiga bulan, . mampu berkomunikasi secara verbal, dan . bersedia menjadi responden. Durasi minimal tiga bulan dipilih untuk memastikan responden memiliki pengalaman yang memadai dalam mengevaluasi interaksi terapeutik dengan perawat (Alikari et al. , 2019. Cohen, 2. Perilaku menggunakan Caring Behavior Inventory (CBI-. yang dikembangkan oleh Wolf et al. , yang mencakup empat dimensi utama: assurance of human presence, professional knowledge and skill, respectful deference to others, dan positive Instrumen ini telah menunjukkan validitas konstruk yang kuat melalui analisis faktor konfirmatori (CFA) serta reliabilitas tinggi ( = 0,86Ae0,. pada berbagai konteks klinis (Papastavrou et al. , 2011. Zamanzadeh et al. , 2010. Field, 2. Kepuasan pasien diukur menggunakan instrumen berbasis model RATER (Reliability. Assurance. Tangibles. Empathy. Responsivenes. yang berasal dari SERVQUAL (Parasuraman et al. Carman, 1990. Jain & Gupta, 2. dan telah banyak digunakan dalam penelitian kualitas layanan kesehatan (Batbaatar et al. , 2. Sebelum pengumpulan data utama, dilakukan uji validitas isi . ontent validit. dengan melibatkan tiga pakar keperawatan dan metodologi penelitian. Nilai Content Validity Index (CVI) pada tingkat item (I-CVI) berada pada rentang 0,83Ae1,00 dan skala (S-CVI) sebesar 0,92, yang menunjukkan kesesuaian indikator dengan konstruk teoritis (Polit & Beck, 2006. Cohen, 2. Uji menggunakan koefisien CronbachAos alpha, dengan hasil = 0,88 untuk instrumen caring dan = 0,91 untuk instrumen kepuasan pasien. Nilai tersebut 0,70 direkomendasikan untuk penelitian sosial dan kesehatan, sehingga menunjukkan konsistensi internal yang sangat baik (Nunnally, 1975. Raykov & Marcoulides, 2011. Field, 2. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang diisi secara mandiri oleh responden setelah memperoleh penjelasan penelitian dan Untuk meminimalkan bias respon sosial, responden dijamin anonimitas dan kerahasiaan data. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak statistik melalui analisis univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan distribusi skor variabel perilaku caring serta kepuasan pasien, dilanjutkan dengan uji asumsi statistik . ji normalitas KolmogorovAeSmirnov, pemeriksaan outlier menggunakan boxplot, dan uji multikolinearitas dengan VIF < . Hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan korelasi Spearman Rank (A) karena data tidak berdistribusi normal, serta dilanjutkan dengan quantile regression (Koenker & Hallock, 2001. Koenker, 2. , untuk mengidentifikasi kontribusi relatif dimensi caring terhadap kepuasan pasien setelah dikontrol oleh variabel demografis. Taraf signifikansi ditetapkan pada = 0,05 dengan interval kepercayaan 95% (Field, 2024. Cohen. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan. Komite Etik dan dilaksanakan sesuai prinsip Deklarasi Helsinki oleh World Medical Association . dan General Assembly of the World Medical Association . Namun, desain cross-sectional dan penggunaan purposive sampling membatasi inferensi kausal dan generalisasi temuan, sementara self-report menimbulkan bias respons. oleh karena itu, hasil penelitian ini perlu ditafsirkan secara hati-hati dan mengindikasikan perlunya penelitian lanjutan dengan desain longitudinal, probability sampling, serta analisis multivariat yang lebih komprehensif untuk memperkuat validitas eksternal dan Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 61 - 10 pemahaman mekanisme hubungan antara perilaku caring perawat dan kepuasan pasien. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Lokasi Penelitian Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciamis didirikan pada tahun 1942 dengan kapasitas awal 40 tempat tidur dan 55 tenaga kerja. Pada masa awal perkembangannya . 8Ae1. , rumah sakit mengalami hambatan akibat krisis politik dan ekonomi yang berdampak pada menurunnya kunjungan pasien serta keterbatasan operasional. Kepemimpinan rumah sakit mengalami beberapa pergantian hingga pada periode 1966Ae1989 statusnya meningkat menjadi Rumah Sakit Kelas D disertai perbaikan sarana dan prasarana pelayanan. Perkembangan signifikan terjadi pada periode 1990Ae1995 dengan peningkatan mutu pelayanan, penyusunan prosedur kerja tetap (Prota. , serta penguatan peran rumah sakit sebagai pusat rujukan Pada tahun 1994. RSUD Ciamis resmi meningkat statusnya dari Kelas D menjadi Kelas C berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Hasil Penelitian Karakteristik Responden Berdasarkan hasil analisis univariat terhadap 53 responden pasien yang menjalani terapi hemodialisis di Ruang Hemodialisa RSUD Ciamis tahun 2025, diperoleh gambaran karakteristik responden sebagaimana disajikan pada Tabel 4. 1Ae Tabel 1. Karakteristik berdasarkan Jenis Kelamin Klasifikasi Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Frekuensi . Presentase (%) 35,8% 64,2% Sumber: Data Penelitian 2025 Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan, yaitu sebanyak 34 orang . ,2%), sedangkan responden laki-laki berjumlah 19 orang . ,8%). Dominasi responden perempuan mengindikasikan bahwa pasien hemodialisis pada lokasi dan waktu penelitian lebih banyak berasal dari kelompok Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh perbedaan perilaku pencarian layanan kesehatan, peran sosial, serta kecenderungan perempuan untuk lebih rutin memanfaatkan pelayanan kesehatan dibandingkan laki-laki. Tabel 2. Karakteristik Berdasarkan Usia Klasifikasi Usia 30-50 Tahun 51-70 Tahun >70 Tahun Frekuensi . Presentase (%) 45,3% 52,8% 1,9% Total Sumber: Data Penelitian 2025 Distribusi usia responden menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berada pada rentang usia 51Ae70 tahun, yaitu sebanyak 28 orang . ,8%). Responden berusia 30Ae50 tahun berjumlah 24 orang . ,3%), sedangkan responden berusia di atas 70 tahun hanya 1 orang . ,9%). Temuan ini hemodialisis berada pada kelompok usia dewasa Hal tersebut mencerminkan karakteristik penyakit ginjal kronik yang bersifat progresif dan umumnya terdiagnosis pada usia lanjut akibat penurunan fungsi fisiologis organ serta tingginya prevalensi penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes melitus. Tabel 3. Karakteristik berdasarkan Pendidikan Klasifikasi Pendidikan Terakhir Frekuensi . Presentase (%) 41,5% 20,8% 30,2% 7,5% SMP SMA Perguruan Tinggi Total Sumber: Data Penelitian 2025 Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, sebagian besar responden merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD), yaitu sebanyak 22 orang . ,5%). Responden dengan pendidikan SMA berjumlah 16 orang . ,2%). SMP sebanyak 11 orang . ,8%), dan perguruan tinggi sebanyak 4 orang . ,5%). Dominasi latar belakang pendidikan dasar menunjukkan bahwa mayoritas pasien memiliki keterbatasan dalam literasi kesehatan, yang berpotensi memengaruhi pemahaman terhadap penyakit, prosedur hemodialisis, serta kepatuhan terhadap regimen terapi yang dijalani. Tabel 4. Karakteristik Berdasarkan Pekerjaan Klasifikasi Pekerjaan Frekuensi . Presentase (%) PNS TNI/POLRI Wiraswasta Petani Buruh IRT Lainnya Total 7,5% 1,9% 7,5% 5,7% 1,9% 52,8% 22,6% Sumber: Data Penelitian 2025 Sebagian besar responden berprofesi sebagai ibu rumah tangga (IRT), yaitu sebanyak 28 orang . ,8%). Pekerjaan lain yang teridentifikasi meliputi kategori lain-lain sebanyak 12 orang . ,6%). PNS dan wiraswasta masing-masing 4 orang . ,5%), petani sebanyak 3 orang . ,7%), serta TNI/POLRI dan buruh masing-masing 1 orang . ,9%). Data ini menunjukkan bahwa mayoritas Hidayat. W & Oktavia. R / Perilaku Caring Perawat Sebagai Prediktor Kepuasan Pasien pada Layanan Hemodialisis: Studi Potong Lintang pasien tidak bekerja di sektor formal. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan keterbatasan fisik dan waktu akibat terapi hemodialisis rutin yang berdampak pada kemampuan pasien untuk bekerja secara produktif. Tabel 5. Karakteristik Berdasarkan Lama Menjalani Terapi Klasifikasi Lama Menjalani Terapi Responden Frekuensi . Presentase (%) 1,0-2 Tahun 2,1-3 Tahun 3,1-4 Tahun 4,1-5 Tahun >5 Tahun Total 43,4% 18,9% 13,2% 3,8% 20,8% Sumber: Data Penelitian 2025 Berdasarkan lama menjalani terapi, hampir setengah responden telah menjalani hemodialisis selama 1Ae2 tahun, yaitu sebanyak 23 orang . ,4%). Responden yang telah menjalani terapi lebih dari 5 tahun berjumlah 11 orang . ,8%). Sementara itu, responden dengan lama terapi 2,1Ae3 tahun sebanyak 10 orang . ,9%), 3,1Ae4 tahun sebanyak 7 orang . ,2%), dan 4,1Ae5 tahun sebanyak 2 orang . ,8%). Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada pada fase awal hingga menengah terapi hemodialisis, di mana proses adaptasi fisik dan psikologis terhadap penyakit dan pengobatan masih berlangsung secara dinamis. Distribusi Perilaku Caring dan Kepuasan Pasien Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap perilaku caring perawat paling banyak berada pada kategori cukup, yaitu sebesar 37,7%. Sementara itu, tingkat kepuasan pasien didominasi oleh kategori puas, yaitu sebesar 39,6%. Temuan ini menunjukkan bahwa karakteristik responden didominasi oleh kelompok usia dewasa lanjut dengan latar belakang pendidikan dasar dan aktivitas domestik sebagai ibu rumah tangga. Kondisi tersebut berimplikasi pada pentingnya strategi komunikasi kesehatan yang menggunakan bahasa sederhana, mudah dipahami, serta disampaikan secara empatik agar informasi mengenai terapi dan perawatan dapat diterima secara optimal oleh responden. Tabel 6. Distribusi Perilaku Caring dan Kepuasan Variabel Perilaku Caring Kepuasan Pasien Kategori Dominan Cukup Puas Sumber: Data Penelitian 2025 Hasil uji Spearman menunjukkan: p-value = 0,000 = 0,612 . ategori kua. Persentase 37,7% 39,6% Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan positif yang kuat antara perilaku caring perawat dan kepuasan pasien . = 0,612. p < 0,. Artinya terdapat hubungan positif yang signifikan antara perilaku caring dan kepuasan pasien. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai perilaku caring perawat dalam kategori AucukupAy, sementara tingkat kepuasan pasien berada pada kategori AupuasAy. Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara perilaku caring perawat dan kepuasan pasien . = 0,612. Hubungan Perilaku Caring Perawat dengan Kepuasan Pasien Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Rank Spearman menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,612 dengan p-value = 0,000 . < 0,. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara perilaku caring perawat dan tingkat kepuasan Nilai mengindikasikan bahwa peningkatan perilaku caring perawat berkorelasi langsung dengan peningkatan kepuasan pasien yang menjalani terapi Signifikansi statistik yang tinggi memperkuat validitas temuan dan menunjukkan bahwa perilaku caring merupakan determinan penting dalam persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan hemodialisis. Selain hasil kuantitatif yang menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara perilaku caring perawat dan kepuasan pasien, temuan naratif dari responden memberikan pengayaan penting terhadap pemaknaan hasil penelitian ini. Data kualitatif menunjukkan bahwa persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan keperawatan tidak semata-mata ditentukan oleh ketepatan tindakan medis atau prosedural, tetapi sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi interpersonal antara perawat dan pasien. Beberapa responden mengungkapkan bahwa perawat dinilai memiliki sikap yang baik secara umum, namun keterbatasan waktu dan tingginya beban kerja sering kali berdampak pada berkurangnya intensitas komunikasi. Pernyataan seperti AuPerawatnya baik, tapi kadang kalau lagi sibuk jadi kurang menjelaskanAy mencerminkan adanya kesenjangan antara harapan pasien terhadap penjelasan yang komprehensif dan realitas Kondisi mengindikasikan bahwa keterbatasan komunikasi tidak selalu dipersepsikan sebagai kurangnya niat baik perawat, melainkan sebagai konsekuensi dari Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 61 - 10 tekanan kerja yang memengaruhi kualitas penyampaian informasi kepada pasien. Di sisi lain, narasi responden juga menunjukkan bahwa bentuk-bentuk interaksi sederhana, seperti sapaan dan pertanyaan mengenai kondisi pasien, memiliki dampak psikologis yang Ungkapan AuKalau perawat menyapa dan tanya kabar, saya merasa lebih tenangAy memperlihatkan bahwa perhatian verbal yang singkat sekalipun mampu menciptakan rasa aman, menurunkan kecemasan, dan meningkatkan kenyamanan pasien selama menjalani terapi Hal ini menunjukkan bahwa pasien menilai caring tidak hanya sebagai rangkaian tindakan klinis, tetapi sebagai kehadiran memberikan dukungan Lebih lanjut, pernyataan AuYang penting itu didengarkan, bukan cuma dipasang alat terus ditinggalAy menegaskan bahwa pasien memiliki ekspektasi terhadap keterlibatan emosional perawat dalam proses perawatan. Pasien mengharapkan adanya proses mendengarkan secara aktif sebagai bagian integral dari pelayanan keperawatan, bukan sekadar interaksi satu arah yang berfokus pada tindakan teknis. Temuan ini menunjukkan bahwa absennya komunikasi yang bermakna dapat menurunkan persepsi pasien terhadap kualitas caring, meskipun prosedur medis telah dilakukan sesuai standar. Secara keseluruhan, narasi responden memperlihatkan pola yang konsisten, yaitu bahwa dimensi komunikasi interpersonal, kehadiran emosional, dan perhatian verbal perawat menjadi determinan penting dalam membentuk persepsi kepuasan pasien. Temuan kualitatif ini memperkuat hasil kuantitatif penelitian dengan menunjukkan bagaimana perilaku caring diwujudkan dan dialami secara nyata oleh pasien dalam konteks layanan Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya menunjukkan hubungan statistik, tetapi bagaimana perilaku caring perawat berkontribusi terhadap kepuasan pasien. Tabel 7. Analisis Integratif Dimensi Caring dan Dampaknya Dimensi Caring Respectful Therapeutic Responsiveness Emotional Manifestasi di Lapangan Dampak pada Kepuasan Menyapa, kontak mata Menjelaskan Cepat tanggap Mendengarkan Rasa dihargai Sumber: Data Penelitian 2025 Mengurangi Kepercayaan Kepuasan Secara keseluruhan, hasil penelitian interpersonal dan kehadiran emosional perawat menjadi komponen penting dalam membentuk persepsi kepuasan pasien terhadap layanan Selain itu, perilaku caring perawat memiliki hubungan positif yang kuat dengan kepuasan pasien hemodialisis. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan mutu layanan hemodialisis tidak dapat hanya berfokus pada aspek teknis-prosedural, tetapi harus diintegrasikan dengan penguatan dimensi interpersonal dan emosional dalam praktik keperawatan. Berdasarkan temuan tersebut, implikasi klinis dapat dirumuskan pada tiga level: individu perawat, manajemen unit, dan kebijakan institusional. Pembahasan Penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat antara perilaku caring perawat dan kepuasan pasien hemodialisis . = 0,612. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas pelayanan hemodialisis tidak hanya ditentukan oleh kecukupan teknis prosedur medis, tetapi sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi interpersonal dan pengalaman subjektif pasien. Perilaku caring perawat merupakan determinan signifikan terhadap kepuasan pasien hemodialisis. Temuan ini memperkuat proposisi teoretik bahwa caring berfungsi sebagai mekanisme utama yang menghubungkan proses interpersonal dalam pelayanan keperawatan dengan outcome yang dilaporkan pasien (Antunes et al. , 2014. Greenhalgh et al. , 2. Dalam kerangka Jean Watson . , caring dipahami sebagai proses transpersonal yang membangun makna, rasa aman, dan kepercayaan Pada konteks penyakit kronik seperti gagal ginjal yang memerlukan hemodialisis jangka panjang dan repetitif, relasi transpersonal tersebut menjadi sangat relevan karena pasien berada kondisi ketergantungan tinggi terhadap sistem layanan kesehatan. Temuan ini memberikan bukti empiris bahwa dimensi holistik dan relasional dalam keperawatan merupakan komponen esensial pembentukan kepuasan pasien, bahkan dalam setting layanan berbasis teknologi tinggi. Hidayat. W & Oktavia. R / Perilaku Caring Perawat Sebagai Prediktor Kepuasan Pasien pada Layanan Hemodialisis: Studi Potong Lintang Gambar 1. Nurse caring behavior and patient satisfaction diagram Sumber: Analisis Data Penelitian 2025 Dalam konteks penyakit kronik seperti gagal ginjal stadium akhir, pelayanan kesehatan perlu dipahami sebagai proses relasional jangka panjang. Antunes. Harding, dan Higginson . , menekankan bahwa kualitas pelayanan pada pasien penyakit kronik sangat ditentukan oleh sejauh mana sistem kesehatan mampu merespons kebutuhan emosional, psikososial, dan eksistensial pasien. Temuan penelitian ini sejalan dengan pandangan tersebut, di mana pasien menilai kepuasan bukan hanya dari tindakan teknis, tetapi dari perhatian, komunikasi, dan kehadiran perawat selama proses terapi hemodialisis yang berulang dan melelahkan. Hasil penelitian menguatkan konsep personcentered care yang dikemukakan oleh Edvardsson. Watt, dan Pearce . , yang menegaskan bahwa pengalaman pasien terbentuk melalui interaksi yang menghargai individualitas, martabat, dan suara Narasi responden dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sapaan, penjelasan sederhana, dan kesediaan mendengarkan menjadi indikator utama caring yang dirasakan pasien. Hal ini menjelaskan mengapa, meskipun perilaku caring secara kuantitatif masih berada pada kategori AucukupAy, tingkat kepuasan pasien tetap berada pada kategori AupuasAy. Dari perspektif psikodinamik, temuan ini dapat dipahami melalui teori relasi objek dan kebutuhan afektif yang dikemukakan oleh Blatt dan Luyten . Pasien dengan penyakit kronik berada dalam kondisi ketergantungan jangka panjang terhadap sistem kesehatan, sehingga kualitas hubungan dengan perawat menjadi sumber regulasi emosional. Ketika komunikasi terbatas atau perawat terlihat tergesa-gesa, pasien dapat memersepsikan pelayanan sebagai kurang peduli, meskipun tindakan medis telah dilakukan secara Dari perspektif mutu layanan kesehatan, hasil penelitian ini konsisten dengan model strukturAe prosesAeoutcome dari Donabedian . Perilaku caring merepresentasikan aspek process of care yang secara langsung memengaruhi outcome berupa kepuasan pasien. Koherensi antara teori keperawatan dan model mutu layanan ini menegaskan bahwa kualitas interaksi perawatAe pasien bukan sekadar aspek pendukung, melainkan fondasi utama efektivitas pelayanan (Edvardsson et , 2. Dengan demikian, penelitian berkontribusi pada literatur dengan memvalidasi caring sebagai indikator proses yang terukur dan berdampak nyata terhadap mutu layanan, bukan hanya sebagai nilai normatif profesi keperawatan. Dominasi dimensi empati dan responsivitas dalam temuan penelitian ini sejalan dengan model SERVQUAL (Parasuraman. Zeithaml, & Berry. Carman, 1990. Jain & Gupta, 2. , yang menempatkan kedua dimensi tersebut sebagai penentu utama persepsi kualitas pelayanan. Hasil ini juga konsisten dengan temuan Batbaatar et al. yang menunjukkan bahwa aspek relasional dan komunikasi interpersonal lebih berpengaruh terhadap kepuasan pasien dibandingkan aspek teknis semata. Dalam konteks perawatan kronik, kontinuitas hubungan dan stabilitas interaksi memperkuat peran dukungan emosional dan perhatian personal. Dengan demikian, penelitian ini memperluas penerapan SERVQUAL dalam praktik keperawatan dengan menunjukkan bahwa caring merupakan manifestasi konkret dari dimensi empati dan responsivitas dalam pelayanan kesehatan. Temuan dapat dijelaskan melalui teori hubungan interpersonal dan adaptasi psikososial terhadap penyakit kronik. Menurut Hildegard Peplau . , hubungan terapeutik perawatAepasien berfungsi sebagai sarana untuk menurunkan kecemasan dan menstabilkan kondisi psikologis Perspektif ini diperkuat oleh teori stres dan koping dari Richard Lazarus dan Susan Folkman . serta Folkman . , yang menempatkan dukungan sosial dan emosional sebagai mediator utama antara stresor dan adaptasi individu. Pasien hemodialisis menghadapi stres kronik akibat keterbatasan fisik, pembatasan gaya hidup, serta ketidakpastian prognosis. Dalam konteks ini, caring perawat dapat dipahami sebagai bentuk emotionfocused coping support yang membantu pasien beradaptasi secara psikologis. Oleh karena itu, kepuasan pasien tidak hanya merefleksikan penilaian terhadap mutu pelayanan, tetapi juga keberhasilan proses adaptasi psikososial terhadap penyakit kronik (Taylor & Cronin Jr, 1994. Livneh. Selain itu, temuan penelitian ini relevan Self-Determination Theory Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 61 - 10 dikemukakan oleh Deci dan Ryan . Teori ini menyatakan bahwa kepuasan dan kesejahteraan individu meningkat ketika kebutuhan dasar akan relatedness, autonomy, dan competence terpenuhi. Perilaku caringAiterutama responsivitasAimemenuhi keterhubungan . dengan menegaskan keberadaan pasien sebagai subjek yang dihargai, bukan sekadar objek tindakan medis. Dalam kerangka patient-centered care, temuan ini mengindikasikan bahwa kepuasan pasien tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan klinis, tetapi oleh sejauh mana layanan mampu memulihkan rasa kontrol, martabat, dan keterlibatan pasien dalam proses perawatan (Naidu, 2. Mayoritas responden berada pada kelompok usia 51Ae70 tahun, yang menurut teori perkembangan psikososial Erikson . berada pada tahap generativity versus stagnation dan ego integrity versus despair. Pada tahap ini, individu membutuhkan pengakuan, makna, dan penghargaan terhadap keberadaan dirinya. Temuan bahwa pasien merasa lebih tenang ketika disapa dan didengarkan menunjukkan bahwa caring perawat berperan dalam memenuhi kebutuhan psikososial tersebut, sehingga meningkatkan kepuasan terhadap pelayanan (Riley, 2. Temuan penelitian juga relevan dengan pendekatan patient-reported outcomes yang dikembangkan oleh Greenhalgh dan koleganya . Mereka menekankan bahwa indikator mutu pelayanan tidak cukup diukur dari parameter klinis, tetapi harus mencerminkan pengalaman pasien secara langsung. Korelasi kuat antara caring dan kepuasan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku caring merupakan mediator penting antara proses pelayanan dan outcome subjektif pasien (Rathert et al. , 2013. Manzoor et al. , 2. Dari sudut pandang nefrologi klinis. Himmelfarb dan kolega . , menegaskan bahwa pasien hemodialisis menghadapi kompleksitas biologis, psikologis, dan sosial secara simultan. Oleh karena itu, pendekatan pelayanan yang terlalu berorientasi teknis berpotensi mengabaikan dimensi non-biologis yang justru menentukan kepuasan dan kepatuhan pasien. Temuan penelitian ini memperkuat argumen bahwa caring perawat menjadi komponen integral dalam pengelolaan pasien hemodialisis secara komprehensif (Chow & Wong, 2010. Kallenbach, 2. Penelitian sejalan dengan temuan Naalweh dan kolega . , yang menunjukkan bahwa kualitas pelayanan keperawatan berhubungan erat dengan kepuasan dan kualitas hidup pasien Narasi responden dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kepuasan muncul ketika pasien merasa diperlakukan sebagai manusia utuh, bukan sekadar objek tindakan medis (Linder-Pelz. Williams, 1994. Sitzia & Wood, 1997. Bleich et al. , 2. Lebih jauh, teori makna hidup dalam konteks penyakit kronik yang dikemukakan oleh Westerhof dan kolega . , membantu menjelaskan temuan Caring perawat dapat menjadi sumber makna positif bagi pasien, terutama ketika pasien merasa didengarkan dan dihargai. Hal ini memperkuat pengalaman hidup pasien meskipun berada dalam kondisi penyakit kronik (Thomas & Pollio, 2002. Mok, & Chiu, 2. Dalam konteks pengambilan keputusan klinis jangka panjang. Wong dan kolega . , menekankan pentingnya hubungan terapeutik yang kuat antara tenaga kesehatan dan pasien. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa caring perawat berpotensi memperkuat kepercayaan pasien terhadap sistem pelayanan, yang pada akhirnya memengaruhi kepatuhan dan keberlanjutan terapi (Murray & McCrone, 2015. Vaismoradi et al. Penelitian selaras dengan pandangan Zhang dan kolega . , yang menekankan bahwa peningkatan kualitas interaksi perawatAepasien merupakan intervensi berbiaya rendah dengan dampak tinggi terhadap kepuasan pasien. Dalam konteks rumah sakit daerah dengan keterbatasan sumber daya, penguatan perilaku caring menjadi strategi realistis dan berkelanjutan (Betancourt et , 2002. Rowe et al. , 2005. Hoeft et al. , 2. Meskipun hubungan antara caring dan kepuasan pasien terbukti signifikan, dominasi kategori caring pada tingkat AucukupAy menunjukkan adanya kendala struktural yang membatasi optimalisasi praktik caring. Temuan ini mendukung pandangan Zamanzadeh et al. Hughes . serta Barton . bahwa caring perlu dipahami sebagai fenomena sistemik, bukan semata kompetensi individual perawat. Beban kerja tinggi, rasio perawatAepasien yang tidak ideal, serta budaya organisasi yang berorientasi pada penyelesaian tugas teknis dapat menghambat implementasi caring secara optimal. Perspektif Leininger & McFarland, . juga menegaskan bahwa praktik caring dibentuk oleh konteks budaya dan institusional, sehingga peningkatan memerlukan intervensi pada level organisasi dan kebijakan, bukan hanya pelatihan individu. Dari sisi metodologis, hasil penelitian ini didukung oleh penggunaan instrumen yang memiliki reliabilitas dan validitas sesuai standar psikometri yang dikemukakan oleh Nunnally . serta Polit dan Beck . Konsistensi temuan dengan penelitian sebelumnya (Wolf et al. Baldursdottir & Jonsdottir, 2. memperkuat validitas eksternal studi ini. Namun demikian, desain potong lintang . ross-sectiona. Hidayat. W & Oktavia. R / Perilaku Caring Perawat Sebagai Prediktor Kepuasan Pasien pada Layanan Hemodialisis: Studi Potong Lintang membatasi inferensi kausal. Hubungan yang ditemukan menunjukkan asosiasi yang kuat, tetapi belum dapat memastikan bahwa peningkatan caring secara langsung menyebabkan peningkatan kepuasan pasien. Oleh karena itu, penelitian longitudinal dan studi intervensi diperlukan untuk menguji hubungan kausal dan efektivitas program peningkatan caring dalam jangka panjang. Gambar 2. Caring nurse behavior and patient Sumber: Analisis Data Penelitian 2025 Secara keseluruhan, penelitian memberikan tiga kontribusi utama bagi pengembangan ilmu keperawatan dan mutu layanan kesehatan. Pertama, penelitian ini mengintegrasikan berbagai perspektif teoretikAiHuman Caring Theory. Interpersonal Relations Theory. SERVQUAL. Self-Determination Theory, dan teori stres-kopingAike dalam kerangka penjelasan yang koheren tentang kepuasan pasien Kedua, penelitian ini memperkuat bukti empiris bahwa dimensi relasional dalam praktik keperawatan merupakan komponen inti mutu layanan pada konteks perawatan kronik. Ketiga, penelitian ini menggeser pemahaman caring dari ranah individual ke ranah sistemik, dengan menekankan pentingnya kebijakan organisasi dan manajemen beban kerja dalam mendukung praktik caring. Sebagai simpulan, temuan penelitian ini menegaskan bahwa perilaku caring perawat merupakan determinan kunci kepuasan pasien Caring berfungsi sekaligus sebagai proses transpersonal (Watson, 2. , mekanisme mutu layanan (Donabedian, 2005. Campbell et al. , dimensi kualitas pelayanan (SERVQUAL), serta sumber daya psikologis yang mendukung adaptasi dan motivasi pasien (Lazarus & Folkman. Folkman, 2020. Deci & Ryan, 2. Namun, keberadaan caring pada tingkat moderat menunjukkan perlunya reformasi struktural dan kebijakan organisasi. Penelitian selanjutnya perlu diarahkan pada desain longitudinal dan intervensi sistemik untuk menguji jalur kausal serta mengevaluasi strategi peningkatan caring sebagai indikator utama mutu layanan berbasis patientcentered care dalam konteks penyakit kronik. Penelitian berkontribusi secara ilmiah dengan menunjukkan bahwa perilaku caring perawat merupakan mekanisme kunci yang menghubungkan kompleksitas klinis pasien hemodialisis dengan kepuasan pasien sebagai outcome berbasis Integrasi sepuluh teori lintas disiplin memperkuat posisi temuan ini tidak hanya sebagai hubungan statistik, tetapi sebagai fenomena klinis dan sosial yang bermakna. Temuan ini menegaskan bahwa caring perlu diposisikan sebagai intervensi klinis strategis, bukan sekadar nilai etik profesi, dalam upaya peningkatan mutu pelayanan hemodialisis dan keberlanjutan sistem kesehatan. SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku caring perawat merupakan determinan utama kepuasan pasien hemodialisis dan berfungsi sebagai mekanisme penghubung antara proses interpersonal dan outcome layanan kesehatan (Raykov & Marcoulides, 2. Temuan ini menguatkan kerangka teoretik yang menempatkan caring sebagai proses transpersonal yang membangun makna, rasa aman, dan kepercayaan pasien sebagaimana dijelaskan dalam teori Jean Watson . , serta sebagai komponen kunci process of care yang memengaruhi outcome menurut model Donabedian . Secara ilmiah, studi ini mempertegas bahwa kepuasan pasien pada konteks perawatan kronik tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis pelayanan, tetapi terutama oleh kualitas hubungan terapeutik, empati, dan responsivitas Implikasi teoretisnya adalah perlunya pendekatan integratif yang menggabungkan teori caring, patient-centered care, dan kualitas pelayanan untuk menjelaskan dinamika kepuasan pasien secara lebih komprehensif. Implikasi praktisnya menunjukkan bahwa caring harus diposisikan sebagai indikator mutu layanan yang setara dengan indikator klinis dan struktural sistem pelayanan hemodialisis. Berdasarkan temuan bahwa tingkat caring masih dominan pada kategori AucukupAy, direkomendasikan agar institusi pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi individual perawat melalui pelatihan komunikasi terapeutik dan caring, tetapi juga melakukan intervensi sistemik pada tingkat organisasi, seperti penyesuaian rasio perawatAe pasien, pengelolaan beban kerja, serta penguatan budaya kerja yang berorientasi pada patientcentered care. Selain itu, kebijakan mutu rumah Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 61 - 10 sakit perlu memasukkan caring sebagai indikator kinerja utama . ey performance indicato. dalam Untuk pengembangan ilmu, penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal atau eksperimental guna menguji hubungan kausal antara caring dan kepuasan pasien serta mengevaluasi efektivitas intervensi berbasis Dengan demikian, caring dapat dipahami dan diimplementasikan bukan sekadar sebagai nilai profesional individual, tetapi sebagai strategi sistemik untuk meningkatkan mutu layanan dan keberlanjutan kepuasan pasien pada perawatan penyakit kronik. DAFTAR PUSTAKA