Al-Liqo: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM P-ISSN: 2461-033X | E-ISSN: 2715-4556 Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan Riem Malini Pane. , *Sufrin Efendi Lubis. Email: riem@uinsyahada. id1, sufrinefendi@uinsyahada. Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan Sumatera Utara. Indonesia Abstract Islamic boarding schools with their characteristics are a major challenge for new students, starting from being separated from their parents, having binding rules, limited space for movement and various other problems. In this situation, it is not uncommon for new students to cause various problems that even make them desperate to move or even drop out of school. However. Islamic Boarding Schools in South Tapanuli Regency, were able to overcome these various problems as evidenced by the fact that out of 37 first-year students and 87 second-year students in one of the Islamic boarding schools, none were found to have moved or dared to drop out of school. This study aims to examine how Islamic boarding schools are able to overcome the problems of new students' adjustment and they are comfortable living in the Islamic boarding school. This study uses qualitative research with a field study approach. The results of this study indicate that in general. Islamic boarding schools make two efforts to overcome the problems of new students, namely preventive efforts . which are formulated into two major agendas in the form of intensive training for all educators and compiling supporting agendas, secondly repressive efforts . through three stages, namely diverting with dormitory activities, involving counselors and involving parents and each has its own stages and descriptions. Keywords: Efforts. Overcoming Problems. Adaptation. Santri Abstrak Pesantren menjadi tantangan berat bagi santri baru, mulai dari berpisah dengan orang tua, adanya aturan-aturan mengikat, ruang gerak terbatas dan ragam masalah lainnya. Situasi ini tidak jarang santri baru menimbulkan pelbagai masalahan bahkan membuatnya nekat untuk pindah atau berhenti Pondok Pesantren di Kabupaten Tapanuli Selatan, mampu mengatasi ragam permasalahan ini yang dibuktikan dari 37 santri angkatan bertama dan 87 santri angkatan kedua tidak ditemukan satupun yang pindah atau berhenti sekolah. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana upaya pesantren mampu mengatasi problematika adaftasi santri baru dan mereka betah tinggal di Penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren melakukan dua upaya dalam mengatasi problematika santri baru, yaitu upaya yang bersifat prenventif yang diformulasikan kepada dua agenda besar berupa pelatihan intensif kepada guru dan menyusun agenda-egenda pendukung, kedua upaya represif melalui tiga tahapan yaitu mengalihkan dengan kesibuan asrama, melibatkan konselor dan melibatkan orang tua dan setiap masing-masing memiliki tahapan serta uraian tersendiri. Kata Kunci: Upaya. Mengatasi Problematika. Adaptasi. Santri Cara Mensitasi Artikel: Pane. , & Lubis. Upaya pesantren dalam mengatasi problematika adaptasi santri baru di pondok pesantren kabupaten Tapanuli Selatan. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, 9. , 237256. https://doi. org/10. 46963/alliqo. *Corresponding Author: sufrinefendi@uinsyahada. Histori Artikel: Diterima Direvisi Diterbitkan Editorial Address: Kampus Parit Enam. STAI Auliaurrasyidin Tembilahan. Jl. Gerilya No. Tembilahan Barat. Riau Indonesia 29213. : 02/12/2024 : 12/12/2024 : 30/12/2024 DOI: https://doi. org/10. 46963/alliqo. AAuthors . Licensed under (CC-BY-SA) Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Riem Malini Pane. Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan PENDAHULUAN Di sebagian daerah, belajar di pondok pesantren masih menjadi pilihan utama orang tua dan ketika anak bersedia melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren, maka itu menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Realitas ini didukung beberapa bukti nyata, pertama jumlah pondok pesantren yang terus bertambah dan kuantitas pendaftaran pesantren-pesantren lama yang masih tergolong stabil. Hal ini membuktikan bahwa animo masyarakat terhadap belajar di pondok pesantren itu meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, dalam waktu 10 tahun terakhir, telah berdiri 6 pondok pesantren di kabupaten Tapanuli Selatan, yaitu . Pondok Pesantren Roudhotul Khoiriyah, . Pondok Pesantren Mardhatillah, . Pondok Pesantren Darul Anwar Assyakirin, . Pondok Pesantren Dar Ibnu Arrizah, . Pondok Pesantren Jabal Lubuk Raya dan . Pondok Pesantren Al Barakah. Uniknya, khusus di Pesantren Al Barakah jumlah santrinya cenderung meningkat. Sebagai Pondok Pesantren yang baru berusia 2 tahun berjalan, dimana jumlah pendaftar pada tahun pertama sebanyak 37 santri, sementara pada tahun kedua jumlah santri yang telah mendaftar tembus angka 87 Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak sekolah bahwa dari 37 santri angkatan pertama hanya satu santri yang berhenti dan sebabnya pun karena orang tua santri yang bersangkutan bercerai . roken hom. Artinya, dengan segala keterbatasan pihak sekolah berhasil menumbuhkan kepercayaan pada diri santri baru sehingga mereka betah tinggal dan tidak ada satupun dari santri baru yang berhenti disebabkan oleh kelalaian pihak sekolah. Secara geografis. Pondok Pesantren Al Barakah terletak di daerah yang cukup terisolasi serta jauh dari keramaian. Prestasi pihak pesantren dalam menanamkan kemampuan menyesuaikan diri santri baru dengan lingkungan pesantren merupakan suatu capaian yang patut diexpos sehingga dapat dikembangkan oleh pihak pengelola pesantren lainnya. Padahal dalam banyak penelitian disebutkan bahwa salah satu problematika santri baru di pondok pesantren adalah tingkat penyesuaian diri yang rendah, tidak betah dan ingin pindah bahkan berhenti Hal ini seperti yang disebutkan oleh Shobah dkk. , dalam penelitiannya yang menyebutkan bahwa ragam masalah santri tergambar dari pernyataan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane & Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan sebagian orang tua santri yang mengeluh bahwa anaknya tidak betah dan ingin segera pindah, ada pula santriwati ditemukan menangis histeris, meronta-ronta, dan mengancam orang tuanya jika tidak pindah akan kabur dari pesantren (Shobah et , 2. Hal senada juga disebutkan oleh (Hanafie Das & Halik, 2. bahwa ditemukan ragam yang menyebabkan santri baru tidak betah untuk belajar di pesantren, di antaranya rendahnya motivasi diri, penerapan disiplin yang sangat ketat, aturan pesantren yang cenderung berat dan sistem pembelajaran yang lebih Proses adaptasi merupakan tantangan umum bagi setiap santri baru yang tinggal di pondok pesantren. Secara teoretis, adaptasi dapat dimaknai sebagai upaya atau proses dinamis yang memiliki tujuan mengubah sikap individu agar terjalin hubungan yang sesuai antara individu dan lingkungan (Nangkut, 2. Oleh karena itu, pihak pesantren harus menempuh langkah-langkah yang bersifat konkrit, dinamis dan inovatif untuk menumbuhkembangkan kemampuan santri dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan pesantren yang tentu sangat berbeda dengan Ketika pesantren gagal menghadirkan kenyamanan bagi santri baru, maka sebagai konsekuensinya santri dalam keadaan bermasalah yang akan berdampak pada mental, psikologis, sosiologis bahkan pada minat dan tingkat kemauan santri dalam mematuhi disiplin pesantren. Perkembangan emosional anak di era globalisasi memiliki perbedaan dengan masa lampau, dimana anak-anak pada masa kini sangat tergantung dengan smartphone, tidak terkecuali anak-anak yang masih usia Sekolah Dasar (SD) yang kemudian akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau sederajat seperti pondok pesantren. Artinya, sebelum masuk ke pondok pesantren tidak sedikit anak yang akan menjadi santri baru di pondok pesantren memiliki ketergantungan yang besar terhadap smartphone, dan ini merupakan tantangan tersendiri bagi sekolah. (Andani, 2. dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pada saat sekarang ini gadget lebih banyak dipakai oleh anakanak usia Sekolah Dasar (SD). Hasil yang sama juga disebutkan oleh (Ulfa & Uce, 2. yang menyebutkan bahwa diantara penggunaan gadget terbanyak adalah dari kalangan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, padahal secera Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane. Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan teori dan kebutuhan psikologis pada usia ini anak-anak disarankan lebih banyak bermain pada permainan fisik yang nyata. Gemarnya anak dalam menggunakan gadget ini tidak lepas dari pola dasar dari anak-anak itu sendiri yang dalam teori psikologi disebutkan bahwa pada masa ini disebut sebagai usia problematis atau usia sulit. Mendidik anak pada masa ini memang sulit, karena masa ini masa anak sedang suka dengan bermain (Marwany & Kurniawan, 2. (Rohmah, 2. menyebutkan bahwa bermain adalah hak yang dimiliki oleh setiap anak. bermain merupakan wadah bagi anak-anak dalam mengekspresikan segala bentuk tingkah laku yang menyenangkan yang dalam pelaksanaannya tidak terdapat unsur paksaan. Bahkan (Al-Ayouby, 2. dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa anak-akan merasa lebih bergantung pada gadget karena banyaknya permainan-permainan menarik yang telah disediakan dan dapat digunakan dalam setiap harinya dibandingkan belajar ataupun bersosialisasi di lingkungan sekolah. Masalah adiksi terhadap penggunan smartphone tidak menutup kemungkinan juga dirasakan anak-anak usia sekolah dasar, sehingga ketika mereka menyelesaikan pendidikan di tingkat dasar dan kemudian hendak melanjutkan ke pondok pesantren, maka dapat dipastikan ini akan menjadi tantangan berat bagi pengelola pesantren. Secara umum, selain mengikuti aturan-aturan pendidikan yang bersifat umum, pondok pesantren juga memiliki aturan khusus yang belum tentu diterapkan oleh lembaga pendidikan lainnya. Aturan-aturan ini menjadi kebijakan yang bersifat khusus dan terbatas, misalnya larangan mambawa smartphone ke lingkungan sekolah. Realitas ini tentu menjadi sebuah tantangan dan perubahan berat terhadap santri baru yang notabene memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap penggunaan smartphone yang tentunya akan berdampak pada tingkat kenyamanan, kesiapan dan kemampuan untuk menerima kenyataan. Di sisi lain, santri baru juga akan dihadapkan pada realitas lingkungan baru yang penuh dengan aturan kedisiplinan, latihan kemandirian dan tuntutan tugas Realitas ini berpotensi menjadikan santri baru tidak betah dan tidak nyaman bahkan ingin pindah. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang guru di Pondok Pesantren Al Barakah, sampai saat ini belum ditemukan siswa yang Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane & Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan berhenti sekolah karena keluhan-keluhan umum seperti yang menjadi gejala santri baru pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya apa saja yang telah diterapkan pihak pesantren sehingga dapat mengatasi masalah-masalah umum yang dihadapi santri baru bahkan santri baru cenderung mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diexpos kepada lembaga-lembaga pendidikan yang menghadapi gejala yang sama atau setidaknya memiliki acuan untuk mengatasi permasalahan santri baru sehingga dapat betah tinggal di pesantren. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu sebuah pendekatan bertujuan untuk memahami fenomena apa yangdialami oleh subjek penelitian, baik berupa sikap, anggapan, motivasi, aksi dan lain lain secara holistik. Kualitatif dapat dipahami sebagai pendekatan yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik dan lebih pada bagaimana peneliti memahami dan menafsirkan makna peristiwa, interaksi, maupun tingkah subjek dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti yang kemudian dideskripsikan berbentuk perkataan ataupun bahasa dalam konteks spesial yang secara natural dengan menggunakan bermacam tata cara ilmiah (Rita Fiantika et al. , 2. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi lapangan (Field Researc. dengan pertimbangan bahwa penelitian studi kasus dan penelitian lapangan adalah untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang situasi suatu unit sosial saat ini dan interaksi lingkungan (Rita Fiantika et al. , 2. Penelitian studi lapangan adalah penelitian yang dicoba di lapangan ataupun di masyarakat, maksudnya informasi yang diambil ataupun diperoleh berasal dari lapangan (Rukin, 2. Hematnya, penelitian kualitatif lebih banyak pada natural setting, sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak observasi partisipan . articipan observatio. , wawancara mendalam . ndepth intervie. , dan dokumentasi. Adapun sumber data dalam penelitian ini, selain menggunakan sumber primer juga menggunakan sumber sekunder. Data primer adalah sumber data yang memuat data utama yakni data yang diperolehsecara langsung di lapangan baik dengan cara Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane. Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan observasi maupun wawancara. Data sekunder adalah sumber data tambahan yang diambil secara tidak langsung di lapangan melainkan dari sumber yang sudah dibuat orang lain (Nugrahani, n. Setelah semua data terkumpul melalui instrument pengumpulan data yang ada, selanjutnya peneliti menganalisa data-data tersebut dengan menggunakan metode analisa kualitatif, yaitu dengan cara reduksi data disini peneliti memilih dan memilah data mana yang dibutuhkan di dalam penelitian, selanjutnya penyajian data setelah data dipilih dan hasil observasi dan wawancara di desripsikan dan hasil tersebut disusun menjadi sebuah kalimat yang terorganisir, langkah yang terakhir adalah verifikasi yaitu peneliti bisa membuat hasil temuan dari hasil analisis yang sudah diperoleh tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya Pondok Pesantren Secara etimologi kata upaya dapat diartikan sebagai sebuah aktivitas yang mengarahkan tenaga, pikiran untuk mencapai suatu target yang dituju. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) upaya dapat diartikan sebagai usaha, ikhtiar untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar (Indrawan, 2. Upaya juga dapat dimaknai sebagai usaha sadar untuk mencari jalan terbaik atau mengubah menjadi yang lebih baik dan mencapai tujuan. Hal senada juga disebutkan oleh (TEGUH, 2. upaya merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam konteks penelitian ini, upaya diposisikan sebagai bagian dari tugas pokok yang harus dilaksanakan dengan maksimal baik oleh perorangan maupun sekelompok orang. Artinya, segala tindakan yang berorientasikan pada tercapainya tujuan dan terwujudnya harapan dapat disebut sebagai upaya. Dari beberapa definisi di atas dapat disebutkan bahwa makna upaya berotasi pada suatu kegiatan atau usaha dengan menggunakan segala kekuatan baik yang bersifat moril maupun materil untuk mengatasi suatu masalah. Artinya, dalam mewujudkan apa yang diinginkan, maka dibutuhkan segala segala sesuatu yang bersifat usaha. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane & Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan Di lihat dari waktu persiapannya, upaya juga dapat dibagi kepada dua bagian yaitu upaya yang bersifat preventif dan upaya represif. Preventif secara etimologi sebelum/antisipasi/mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang luas preventif diartikan sebagai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang. Oleh karena itu upaya preventif adalah tindakan yang dilakukan sebelum sesuatu terjadi dengan tujuan untuk mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan (Oktavia & Martani, 2. Kedua upaya represif yang berfokus pada penanganan dan pemecahan karena sudah terjadi (Ricardo, 2. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tujuan utama dari upaya preventif adalah mencegah, mengantisipasi dan mempersiapkan segala sesuatu supaya apa yang dikhawatirkan tidak terjadi, sementara represif segala penanggulangan yang dilakukan untuk memecahkan peristiwa yang sudah Tindakan pencegahan dapat dimulai dari diri sendiri dan peran orang tua, tindakan preventif akan berjalan dengan baik atas dukungan pemerintah dalam konteks pemerintahan seperti dari pihak kepolisian (Rifauddin, 2. Upaya Sekolah dalam Mengatasi Problematika Penyesuaian Diri Santri Baru Upaya Pencegahan (Prevention Effort. Upaya pencegahan merupakan serangkaian persiapan yang dilakukan pihak sekolah terhadap berbagai macam kemungkinan yang akan dihadapi oleh santri Upaya ini dengan melakukan pengkajian berdasarkan pengalaman pihak sekolah dalam menangani problematika yang dihadapi santri baru, kemudian upaya ini dipetakan dalam bentuk problem solving sehingga pihak sekolah mencari penanganan yang tepat sasaran. Hasil wawancara dengan Abadi menyebutkan bahwa semua unsur sekolah dilibatkan dalam raker tahunan untuk menyambut ke datangan santri baru angkatan kedua. Di antara rangkaian acara dalam raker ini yaitu melakukan pengkajian terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul dan dihadapi santri baru. Pada tahapan selanjutnya, kemungkinan-kemungkinan ini dipetakan hingga dirumuskannya solusi yang diasumsikan dapat mengatasi sebelum permasalahan itu terjadi. Wawancara, 25 Mei 2. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane. Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan Hal ini sejalan dengan esensi dari upaya prenventif yang disebutkan para ahli bahwa dalam pengertian yang sangat luas, preventif diartikan sebagai upaya secara sengaja yang menghasilkan pedoman untuk mencegah dan menghindari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang dapat mengganggu, menghambat atau menimbulkan kesulitan, dan kerugian-kerugian tertentu (Hartono, 2. Artinya, pihak pesantren bertanggung jawab penuh terhadap santri yang tinggal di pesantren berusaha keras untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang kemungkinan terjadi dan mencari solusi. Dengan demikian dapat disimpulkan upaya ini dikategorikan sebagai langkah awal yang dilakukan oleh pesantren dalam menumbuhkan rasa nyaman tinggal di pesantren. Dalam hal mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan ini, sekolah melibatkan beberapa tenaga ahli seperti guru Bimbingan dan Konseling. Psikologi dan 2 orang guru yang telah berpengalaman dalam mengelola asrama santri sebelum didirikannya pesantren ini. Adapun upaya preventif yang dilakukan melalui tiga jalur utama, yaitu jalur keluarga, jalur pendidikan dan jalur lingkungan masyarakat (Musy, 2. Pertama Jalur Keluarga. Salah satu tahapan dalam menentukan lulus atau tidak lulusnya calon santri baru. Pondok Pesantren Al Barakah melakukan dua sesi ujian yaitu sesi uji kompetensi baca al Quran calon santri baru dan sesi ujian calon orang tua santri dengan cara wawancara/interview tentang kesepakatankesepakatan, sosialisasi program, penyamaan persepsi kondisi asrama, keterbatasan sarana dan prasana serta fasilitas sekolah dan hal lainnya. Prinsip ini sejalan dengan esensi pendidikan yang dirumuskan oleh para tokoh pendidikan seperti yang disebutkan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa esensi pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga, sedangkan sekolah hanya berpartisipasi (Hendratmoko et al. Artinya. Pondok Pesantren Al Barakah menyadari betul bahwa suksesnya pendidikan di pesantren tidak dapat lepas dari keikutsertaan orang tua. Proses wawancara dengan orang tua ini juga sebagai upaya untuk meluruskan kekeliruan oleh banyak orang tua yang berprinsip bahwa ketika anaknya di serahkan ke sebuah pesantren, maka seolah orang tua sudah lepas tanggung jawab dan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada guru dan pihak perantren. Prinsip Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane & Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan ini tentu keliru dan tidak benar, karena sejatinya mendidik atau mengajari anak adalah tanggung jawab utama orang tua. dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterlibatan orang tua dalam layanan pendidikan adalah bentuk peran serta orang tua dalam membantu proses pendidikan anaknya baik dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan rumah (Andriani et al. , 2. Secara teoretis, mendidik anak selain merupakan tanggung jawab penuh orang tua, mereka juga menjadi aktor utama dalam memenuhi kebutuhan pendidik Hanya saja, disebabkan banyak faktor seperti karena ketidakmampaun orang tua, kesibukan, latar bekakang pendidikan, kompetensi mengajar dan pelbagai keterbatasan lainnya maka orang tua meminta bantuan ahli dalam hal ini guru di sekolah atau di pesantren untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Oleh sebab itu muncullah sebuah sistem pendidikan yang kemudian dikenal dengan istilah homeschooling. (Anthoneta, 2. dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pendidikan di rumah bukanlah sesuatu hal yang baru. Sebelum ada sistem pendidikan modern . sebagaimana yang dikenal pada saat ini, pendidikan pertama kali adalah pendidikan yang dilakukan berbasis rumah. Hasil wawancara dengan Ahmad disimpulkan bahwa pihak pesantren ingin meluruskan kekeliruan orang tua yang cenderung abai dan tidak peduli dengan kondisi anak yang tinggal di pondok pesantren. Anggapan bahwa ketika anak sudah diserahkan ke pondok pesantren maka di saat itu juga tanggung jawab pendidikan beralih sepenuhnya kepada pihak pesantren adalah anggapan keliru dan harus diluruskan. Hematnya, guru kelak hanya ditanya apakah dia mengajar, sementara tanggung jawab orang tua sepenuhnya tetap dipikul orang tua. (Wawancara, 25 Mei 2. Kedua Jalur Pendidikan. Memberikan pelatihan kepada guru khususnya bagaimana memperlakukan siswa baru sehingga guru memiliki persepsi dan semangat yang sama dalam memperlakukan santri baru. Upaya ini sudah dilakukan sebelum ke datangan santri baru di lingkungan pesantren. Pihak pesantren melakukan persiapan maksimal termasuk kesiapan guru-guru di lingkungan (Larlen, 2. menyebutkan bahwa dengan disertai persiapan yang baik guru akan aktif dalam kegiatan pembelajaran terutama dalam mencapai keberhasilan proses belajar mengajar. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane. Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan Menurut Ahmad . sebagai mudir/pimpinan pesantren, di antara kunci kesuksesan dalam menghadapi tantangan lingkungan dan tuntutan keadaan adalah ketika semua persoil memiliki tujuan, persepsi dan semangat yang sama. Ketika persepsi di antara tenaga pendidik saja beraneka ragam, maka ini akan berimplikasi kepada tingkat kepatuhan siswa terhadap aturan, disiplin bahkan kesepakatan di lingkungan pesantren. Perbedaan persepsi ini akan menjadi celah bagi santri untuk membenarkan diri dan menjadikannya sebagai alasan legalitas dari sebuah tindakan yang ia lakukan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa langkah guru dalam melibatkan orang tua jauh-jauh hari sebelum santri baru datang ke pondok pesantren merupakan strategi yang patut untuk dicontoh dan ditiru. Melakukan Pelatihan Bagi Tenaga Pendidik Pada dasarnya, mempersiapkan personil yang handal merupakan langkah dasar dalam mencapai tujuan dan apa yang dicita-citakan. Dalam konteks dunia pendidikan, selain upaya untuk menyediakan sarana dan prasaran yang lengkap, penguatan kompetensi guru melalui pelatihan adalah satu unsur yang tidak boleh Oleh sebab itu, sekolah dalam konteks ini pesantren harus memperhatikan pendidikan dan pelatihan bagi pegawainya. Jadi, penyelenggaraan program pelatihan sangatlah penting bagi pegawai baik untuk masa sekarang ataupun masa yang akan datang, karena dengan adanya pendidikan dan pelatihan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, sikap serta produktivitas pegawai akan Menurut (Dessler, 2. pelatihan adalah sebuah proses untuk mengajarkan karyawan yang baru atau karyawan yang sudah ada dengan keterampilan dasar nantinya mereka perlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan efektif dan efisien. Pendapat berbeda disebutkan oleh (Larasati, 2. bahwa pelatihan merupakan suatu proses pendidikan jangka pendek yang membutuhkan aturan sistematis dan terorganisir sehingga karyawan non manajerial dapat mempelajari keterampilan teknis dan juga pengetahuan untuk tujuan tertentu. Djajali dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa selain menambahkan dan mengasah skill, keterampilan serta kemampuan personil, pelatihan guru merupakan model Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane & Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan konvensional yang dianggap paling efektif dalam melakukan sharing informasi dan Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pegawai/personil dalam satuan pekerjaan, di antara manfaat pelatihan sebagaimana disebutkan oleh (Widodo, 2. yaitu dapat mengorbitkan karyawan-karyawan yang terlatih, efisien dan juga efektif dalam melakukan pekerjaan. Keterampilan dari proses pelatihan diharapkan dapat menciptakan inovasi baru dalam konteks ini bagi Dari sekian jenis pelatihan atau training, pelatihan yang diterapkan pesantren Al Barakah ini masuk pada kategori pelatihan pembinaan internal oleh pesantren. (Purnandini et al. , 2. menyebutkan bahwa peningkatan kompetensi guru-guru dapat dilakukan melalui berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan . dan bukan diklat, dan di antara jenisnya adalah pelatihan/pembinaan yang bersifat internal seperti pelatihan yang dilaksanakan oleh kepala sekolah dan guru-guru yang memiliki kewenangan membina, melalui rapat dinas, rotasi tugas mengajar, pemberian tugastugas internal tambahan, diskusi dengan rekan sejawat dan (Rusdin, 2. menyimpulkan bahwa pada intinya, pelatihan sebagai proses sistematis untuk meningkatkan, mengembangkan, dan membentuk pegawai dimana pegawai mempelajari pengetahuan . , keterampilan . , kemampuan . atau perilaku terhadap tujuan pribadi dan organisasi sehingga terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Husein . , saat diwawancarai menegaskan bahwa pelatihan ini terinspirasi dari banyaknya jenis pelatihan yang disuguhkan pemerintah kepada Pelatihan-pelatihan ini telah memberikan dampak yang begitu signifikan terhadap kompetensi guru dalam melakukan tugasnya. Di sisi lain, peran guru di pondok pesantren sedikit berbeda dengan peran guru yang di bawah naungan langsung oleh pemerintah. Guru di pondok pesantren terlibat dalam semua aktivitas santri, baik dalam belajar formal, informal maupun non formal. Secara praktis, guru yang mengajar di lur pondok pesantren memiliki tugas yang cukup terbatas yaitu merancang pembelajaran, mengelola pembelajaran, menilai hasil pembelajaran dan sebagai pembimbing siswa (Rahmawaty. Silalahi. Berthiana. , & Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane. Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan Mansyah, n. Sementara menurut (Asmani, 2. guru berperan penting membentuk kepribadian, cita-cita dan visi misi yang menjadi impian hidup anak didiknya di masa depan. Dari kedua definisi di atas dapat disimpulkan peran guru dalam mendidik anak hanya dalam sebatas pembelajaran formal pada saat jam Sementara guru di pondok pesantren memiliki tugas serta tanggung jawab yang jauh lebih kompleks. Selain proses belajar mengajar, guru pondok pesantren harus memiliki kemampuan dan peranan penting dalam pemembentukan karakter (Aprilianti, 2. dalam penelitiannya menyebutkan bahwa guru bertanggung jawab dalam pembentukan kepribadian anak didiknya. Dan bertugas memberikan pertolongan kepada anak didiknya dalam perkembangan rohani dan Agar anak didik yang dimaksud mencapai tingkat kedewasaannya sehingga ia mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan makhluk individu . yang mandiri. Ahmad . , guru di pondok pesantren harus lebih terlatih di bandingkan dengan guru-guru yang jam mengajar terbatas dengan jam sekolah. lain halnya dengan guru di pondok pesantren yang memiliki ragama tanggung jawab dan peran. (Illahi, 2. menyebutkan bahwa guru di pondok pesantren memiliki peran sebagai orang tua, sebagai pembimbing, sebagai tauladan dan sebagai motivator. Menyusun Agenda-agenda Pendukung Diantara tantangan berat bagi santri baru yang tinggal di pondok pesantren adalah lingkungan pesantren. Perubahan lingkungan keluarga dengan lingkungan pesantren menjadi poblematika yang sangat serius sehingga harus diantisipasi dengan langkah-langkah strategis. Husein . menyebutkan bahwa sebagai pesantren baru yang minim fasilitas, kami dituntut untuk berinovasi, berkreasi serta berpikir keras untuk melahirkan agenda-agenda yang dapat memunculkan rasa betah pada diri santri baru. Tentu, ini tidak perkara mudah, juga tidak sedikit di antara santri baru yang memiliki ketergantungan dengan penggunaan smartphone atau bebas menonton televisi. Oleh sebab itu, pesantren dengan para personilnya membuat persiapan sedemikian rupa yang diyakini dapat mengalihkan fokus santri Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane & Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan baru dan mempu beradaptasi dengan lingkungan pesantren. Adapun agenda-agedan yang telah direncanakan dan telah diterapkan sebagai berikut: Pekan Keakraban. Di antara agenda yang dijadikan sebagai upaya untuk mengalihkan fokus dan guncangan psikologis akibat perubahan lingkungan pada santri baru adalah malam keakraban. Malam keakraban ini dilakukan pesantren bahkan sekolah pada umumnya yang bertujuan untuk menyambut siswa atau santri Tidak diketahui kapan awal muncul tradisi malam keakraban ini, namun satu hal yang pasti bahwa agenda rutin tahunan ini bertujuan untuk menjalin hubungan yang baik antara santri baru dengan santri lama atau mempererat hubungan sesama santri lama. Malam kearaban dihadirkan dengan tujuan agar dapat mempererat pertemanan dengan pelbagai rangkaian kegiatan yang bernuansa funny . , seperti diisi dengan bermain game edukasi, olah raga dan kuis. Dengan adanya malam keakraban peserta didik merasa lebih tenang dan aman (Indonesia, n. Lebih dari sekadar suatu kegiatan, malam keakraban menjadi salah satu gagasan yang tepat dan bermanfaat untuk mengisi hari-hari awal santri di pondok Ahmad . saat diwawancarai menceritakan bahwa kelebihan dari agenda keakraban di pesantren Al Barakah, bahwa agenda ini berlangsung selama satu pekan penuh dengan ragam kegiatan, mulai dari kegiatan antara santri, santri dengan guru, pimpinan dengan santri. Hasil wawancara dengan Husein diketahui bahwa selain ini agenda di atas, kegiatan dari pekan keakraban antara lain: setiap satu guru mendampingi 10 santri baru, agenda-agenda dari pekan keakraban antara lain, menyibukkan santri baru dengan kegiatan-kegiatan funny yang bervariasi, melonggarkan aturan disiplin. Agenda pekan pertama dan pekan kedua berorientasikan pada penumbuhan penyesuaian dengan lingkungan, pembelajaran lebih dominan dengan pendekatan bermain. Model pembelajaran ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa betah pada diri santri (Wawancara, 27 Mei 2. Upaya Penanganan (Repressive Effort. Selain telah mematangkan persiapan sebelum santri baru tiba di pesantren, jenis upaya kedua berfokus pada langkah-langkah saja jika seandainya Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane. Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan permasalahan dari santri baru muncul setelah tinggal di pesantren. Artinya, pihak pesantren juga telah memetakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi sehingga telah mempersiapkan upaya penanganan dan penyelesaian permasalahan yang diasumsikan terjadi. Setidaknya, ada tiga tahapan yang sudah dirumuskan dalam menyelesaikan permasalahan setelah santi baru berada di lingkungan pesantren, yaitu: mengalihkan dengan kesibukan di pesantren, melibatkan konselor dan melibatkan orang tua. Mengalihkan dengan kesibukan Setelah menyuguhkan pelbagai kegiatan yang mendukung supaya tercipta rasa betah dan nyaman pada diri santri baru, pihak pesantren juga telah mempersiapkan agenda-agenda yang sifatnya represif . apabila agenda-agenda awal tidak mampu mengcunter serta membangun semangat juang santri baru. Adapun bentuk agenda yang ditawarkan adalah mengalihkan fokus santri dengan kesibukan yang edukatif dan sarat makna. Artinya, pesantren sudah menugaskan guru khusus untuk menangani mereka dengan melibatkan guru pondok bahkan mudir/pimpinan pesantren. Ahmad menyebutkan dalam wawancaranya bahwa keberhasilan belajar di pesantren setengahnya ditentukan oleh bersedianya santri untuk tinggal dan belajar di pesantren. Mengajari santri yang tidak betah di pesantren hanya akan membuang-buang energi dan khawatir justru dapat mempengaruhi santri baru lainnya. Oleh sebab itu, semua personil pesantren memiliki komitmen bahwa tugas awal dalam menyambung santri baru bagaimana mereka nyaman, betah dan siap tinggal di lingkungan pesantren tanpa ada (Wawancara, 27 Mei 2. Hasil wawancara di atas sejalan dengan simpulan penelitian (Marleni, 2. yang menyebutkan bahwa minat siswa yang tinggi dalam belajar akan mendorongnya untuk memiliki kemauan yang tinggi dalam mengikuti pelajaran. Hal senada juga disebutkan oleh (Busthomi, 2. minat dapat mempengaruhi semangat, intensitas, kualitas dan hasil belajar siswa. Dalam situasi ini, pihak pesantren dituntut untuk mengambil keputusan-keputusan yang bersifat imergensi, seperti mengurangi jam belajar yang kemudian dialihkan dengan model Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane & Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan pembelajaran lebih ringan, funny dan tidak ada tugas yang membebani. Kondisi ini terus dipantau secara berkala oleh guru yang telah ditentukan dan penanganan disesuaikan dengan perkembangan psikologis santri. Pihak pesantren berupaya untuk menciptakan suasana yang nyaman dan menumbuhkan rasa betah santri baru di lingkungan pesantren. Secara teoretis, menciptakan suasana lingkungan yang nyaman dan ramah dapat membuat peserta santri merasa diperhatikan dan dapat menumbuhkan ketenangan santri baru. Pentingnya menciptakan suasana belajar yang ramah ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Oroujlou & Vahedi, 2. yang menyatakan bahwa menciptakan iklim yang bersahabat dan nyaman bagi setiap peserta didik merupakan salah satu faktor yang mendorong terciptanya motivasi belajar secara Melibatkan Konselor Meskipun tergolong baru, pesantren Al Barakah sejak awal sudah merekrut guru Bimbingan dan Konseling yang sekaligus yang ditugaskan sebagai konselor. Sebagai tenaga yang profesional, seorang konselor tentu telah mempersiapkan langkah-langkah yang terukur dan terstruktur dalam menangani permasalahan santri baru. Hasil wawancara dengan Meri yang bertugas sebagai guru BK sekaligus Konselor di Pesantren Al Barakah, menyebutkan bahwa penanganan permasalahan santri tentu tidak sama, tindakan yang akan diberikan disesuaikan dengan jenis permasalalahan yang dihadapi santri yang bersangkutan, ada dengan menggunakan konseling individual atau konseling kelompok. Artinya, disesuaikan dengan kondisi konseli atau jenis permasalahan santri yang hendak mendapat penanganan. (Wawancara, 22 Mei 2. Apabila konseling kelompok merupakan aktivitas interpersonal dengan memanfaatkan dinamika kelompok untuk membantu anggota kelompok dalam memecahkan masalah yang dialaminya dengan mengembangkan kemampuan berpikir, mengubah tingkah laku salah suai, dan memungkinkan melibatkan fungsi therapy yang berorientasi pada kenyataan masa kini, pembersihan perasaan, saling percaya, menerima, mengerti, dan bisa menerima apa adanya (Yandri et al. , 2. sementara konseling individual Sedangkan menurut Dewa Ketut Sukardi bahwa Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane. Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan konseling merupakan suatu upaya bantuan yang dilakukan dengan empat mata atau tatap muka antara konselor dengan klien yang berisi usaha yang laras, unik, manusiawi, yang dilakukan dalam suasana keahlian yang didasarkan atas normanorma yang berlaku, agar klien memproleh konsep diri dan kepercayaan diri sendiri dalam memperbaiki tingkah laku pada saat ini dan mungkin pada masa yang akan datang (Sukardi, 2. Melibatkan orang tua Kerjasama dengan orang tua yang dimaksud adalah guru memberikan motivasi, tidak memberikan ruang serta celah bagi santri baru serta tidak bersikap Hal ini dinilai sangat mempengaruhi mental serta psikologis anak, sehingga sikap orang tua ini menjadi ukuran dari keberhasilan pesantren dalam menciptakan rasa betah dan nyaman bagi setiap santri baru. Secara teoretis, pola asuh strict parents cenderung negatif karena dampak kepada anak yang sangat buruk bahkan tidak sedikit menjadikan mental serta psikologis anak bermasalah. Namun, orang tua yang bersikap lembek, tidak tegas, mengabaikan juga akan menimbulkan dampak yang tidak kalah buruknya. Oleh sebab itu, orang tua harus mensupport agenda pesantren, tidak bersikap lembek, mengikuti komitmen pesantren yang sudah diambil kesepakatan sebelum anak atau santri baru dinyatakan lulus di sekolah. Dengan adanya kerjasama antara orang tua santri baru dengan pihak pesantren akan terjadi pertukaran informasi terkait dengan masa awal-awal santri di pesantren. Dengan demikian, kesiapan santri untuk beradaptasi dengan lingkungan baru untuk menyongsong melahirkan rasa betah, nyaman serta termotivasi dalam belajar dapat terwujud. Orang tua diharapkan menjadi support system paling utama agar santri baru semangat dan termotivasi untuk tinggal dan nyaman di lingkungan pesantren. Ketika keluarga menjadi support system yang positif akan terhindari kemungkinan-kemungkinan buruk dan berdampak pada meningkatnya motivasi belajar santri di lingkungan pesantren. Hal ini sejalan dengan Max Darsono dkk yang berpendapat bahwa kondisi lingkungan keluarga juga menpengaruhi motivasi belajar seseorang (Masni, 2. Selain itu, dalam peneltian serupa yang dilakukan oleh (Fatmawati, 2. juga menyatakan bahwa Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Riem Malini Pane & Sufrin Efendi Lubis Upaya Pesantren dalam Mengatasi Problematika Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren Kabupaten Tapanuli Selatan kerjasama pengawasan yang dilakukan ole guru dan orang tua peserta didik dapat menjadi salah satu faktor penentu keberhasian tujuan pembelajaran dengan orang tua yang ikut andil dan berkontribusi untuk mendukung dan mendorong peserta didik untuk giat belajar sehingga meningkatkan motivasi belajar peserta didik secara signifikan. KESIMPULAN Berdasarkan data hasil penelitian dan uraian pembahasan dapat disimpulkan bahwa dalam upaya untuk menciptakan kenyamana, rasa betah dan kesediaan santri baru serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan pesantren, maka Pondok Pesantren Al Bakarah menempuh dua tahapan, yaitu tahapan preventif . tahapan represif . Dalam tahapan reventif, pihak pesantren menempuh dengan dua jalur, yaitu pesantren dengan melakukan pelatihan dan pematangan persiapan, sementara jalur keluarga digunakan sebagai upaya untuk menyamakan persepsi antara pihak pesantren dengan orang tua, orang tua harus sepenuhnya mendukung serta mensuppoert anak untuk betah tinggal di Sementara pada tahapan represif, pihak pesantren menempuh tiga upaya, upaya internal seperti mengalihkan fokus santri, melibatkan peran konselor dan peran oran tua. Penelitian ini masih memiliki keterbatasan khususnya pada usia pesantren yang masih tergolong baru sehingga ragam masalah relatif sederhana. Oleh sebab itu, bagi peneliti selanjutnya perlu melakukan inovasi dan kreasi serta penyesuaian dengan realitas serta kompleksnya permasalahan di lokasi penelitian. Artinya, kesederhanaan permasalahan pada lokasi penelitian ini tidak jadi tolak ukur dan serta merta dapat dijadikan sebagai referensi dan solusi dalam mengatasi pelbagai permasalahan adaptasi santri di pondok pesantren, khususnya dalam setting pesantren yang lebih besar dan lebih senior. REFERENSI