SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 Januari-Juni 2020 STRATEGI SINERGITAS WARTAWAN DAN AKADEMISI DALAM GERAKAN SOSIAL LITERASI DIGITAL DI JAWA TENGAH Made Dwi Adnjani Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Bahasa dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang made@unissula. Abstrak Tradisi literasi masyarakat Indonesia yang belum kokoh membuat masyarakat seringkali terjebak pada berita yang sifatnya hoaks. Oleh karena itu diperlukan upaya yang massif untuk meningkatkan kemampuan analitik di tengah maraknya berita hoaks dan juga tayangan negatif di sosial media. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan gerakan sosial literasi digital yang dilakukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah dalam melakukan sinergi dengan akademisi. Tipe penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah dan pengelola program studi yang bekerjasama dengan PWI dengan pertimbangan bahwa literasi digital yang dilakukan di Jawa Tengah paling banyak diinisiasi oleh PWI. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, dengan cara data yang masuk dari jawaban informan dan dikumpulkan, disusun, direduksi dan diinterpretasikan. Hasil penelitian menunjukkan kegiatan sekolah jurnalistik bagi wartawan muda dan akademisi serta mahasiswa adalah kegiatan yang perlu untuk terus ditingkatkan mengingat sinergitas ini dapat meningkatkan kompetensi literasi digital dari peserta sekolah jurnalistik. Kurikulum dan paket yang ditawarkan diberikan secara beragam dan membuat sinergitas antara PWI Jawa Tengah dengan perguruan tinggi yang melibatkan mahasiswa dan akademisi makin berperan dalam gerakan sosial literasi digital. Diharapkan nantinya hasil dari sinergitas wartawan dengan akademisi tidak berhenti pada level kompetensi yang basic, tetapi juga sampai pada tingkat advanced terutama pada digital transformation dan kolaborasi. Kata kunci : sinergitas, literasi, digital. Abstract The tradition of literacy in Indonesian society that is not yet solid makes people often trapped in hoax news. Therefore, massive efforts are needed to improve analytical skills in the midst of hoax news and negative broadcasts on social media. The purpose of writing this article is to describe the digital literacy social movement carried out by the Central Java Indonesian Journalists Association (PWI) in synergizing with academics. This type of research is descriptive qualitative. Data collection was carried out through interviews with the Chairman of the Indonesian Journalists Association (PWI) of Central Java and managers of study programs in collaboration with PWI with the consideration that digital literacy carried out in Central Java is mostly initiated by PWI. The analysis technique used is descriptive analysis, by means of data that is entered from the answers of the informants and collected, compiled, reduced and interpreted. The results showed that journalism school activities for young journalists and academics as well as students are activities that need to be continuously improved considering that this synergy can increase Diterbitkan oleh FISIP UMC | 47 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 Januari-Juni 2020 the digital literacy competence of journalistic school participants. With the various curricula and packages offered, the synergy between PWI Central Java and universities involving students and academics will increasingly play a role in the digital literacy movement. It is hoped that the results of the synergy between journalists and academics will not stop at the basic competency level, but also at the advanced level, especially in digital transformation and collaboration. Keywords: synergy, literacy, digital. PENDAHULUAN Teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang sangat pesat dewasa ini, membuat banyak perubahan dalam pola komunikasi dan interaksi antara pengguna. Data dari beberapa riset yang dilakukan menunjukkan bahwa jumlah pengguna gadget di Indonesia meningkat dengan Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) menyebut penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 64,8% di tahun 2018, terdapat 171, 17 juta jiwa di Indonesia yang memakai internet dan angkanya naik 10,12% dibandingkan tahun Ini berarti terjadi kenaikan pengguna yang mencapai 27 juta. Hasil riset tersebut mencatat, kontribusi pengguna internet per wilayah paling banyak terdapat di pulau Jawa yakni mencapai . %), kemudian disusul oleh Sumatera . %). Sulawesi-Maluku-Papua . %). Kalimantan . %), serta Bali dan Nusa Tenggara . %) (APJII, 2. Kenyataan menunjukkan, banyaknya jumlah pengguna internet di Indonesia, serta tingginya frekuensi mengakses kontenkonten informasi dan media sosial, tidak menggunakan internet. Penetrasi internet yang tinggi juga diiringi dengan lahirnya beragam persoalan sosial baru. Beberapa riset telah mengidentifikasikan implikasi negatif internet dengan istilah patologi informasi (Bawden & Robinson, 2. , masalah sosial global (Drori, 2. , media sosial menjadi ladang penyebaran hoaks jika Diterbitkan oleh FISIP UMC tidak ditangani dengan baik, maka dapat memicu konflik (Sutantohadi & Wakhidah. Sebagian orang menganggap bahwa media sosial adalah wilayah tanpa batas, sehingga setiap orang merasa bebas melakukan apa saja, termasuk menyebarkan informasi yang tidak jelas kebenarannya. Tidak mengherankan apabila beberapa orang dengan mudah membagikan hoaks dan menyebarkan ujaran kebencian di media (Herawati, 2. Remaja juga menganggap bahwa citra yang muncul di televisi adalah sesuatu yang nyata, sehingga mereka mencitrakan diri sebagai tokohtokoh sinetron dan penyanyi, mulai dari gaya berpakaian, potongan rambut hingga perilaku sehari-hari (Suprati, 2. Bagi ibu-ibu, selain menjadi konsumtif, tidak melek media dapat mencontohkan perilaku kecanduan konten media pada anak, sampai dengan menyerahkan pengasuhan anak pada televisi (Zamroni&Sukiratnasari, 2. Dewasa ini dengan tingkat kedewasaan dan pendidikan sebagian pengguna media sosial Indonesia menyebabkan berkembangnya fenomena berita hoaks atau berita bohong atau palsu. Ada banyak kepentingan dari beredarnya berita palsu tersebut, termasuk kepentingan ekonomi dan politik yang ada di dalamnya. Berbagai upaya dilakukan sebagai tindakan preventif terhadap maraknya berita hoaks di media sosial maupun media online, namun hal tersebut tidak mengurangi jumlah berita | 48 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 hoaks yang beredar di media. Literasi media adalah pendidikan yang mengajari khalayak menganalisis pesan media, memahami komersial/bisnis dan poliltik sehingga mereka mampu bertanggungjawab dan memberikan respon yang benar ketika berhadapan dengan media (Rochimah, 2011:. Perkembangan informasi yang memudahkan interaksi antar manusia, menyebabkan kedudukan manusia terhadap pesan yang dibawa media pun menjadi berubah. Sejak kemudahan berinteraksi disediakan oleh teknologi informasi dan komunikasi (TIK) maka manusia tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai produsen dan distributor. Kedudukan sebagai produsen dan distributor pesan ini idealnya dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan lajunya informasi. Manusia kemerdekaan dalam menentukan sikap seharusnya mampu mengontrol pesan ataupun informasi yang menerpa. Seorang individu pengguna teknologi komunikasi harus tahu persis apakah kelak perilakunya Kemampuan literasi terhadap informasi atau pesan yang dibawa teknologi komunikasi, membuat manusia akan memiliki otoritas dirinya, dan tidak mudah terombang-ambing oleh ketidakpastiann informasi yang saat ini banyak beredar. Seorang pengguna yang melek media akan berupaya untuk memberi reaksi dan menilai suatu pesan media dengan penuh kesadaran (Zamroni &Sukiratnasari, 2011: . KONSEP LITERASI DIGITAL Konsep Literasi digital pertama kali dilontarkan oleh Paul Gilster pada tahun 1997 dalam buku berjudul Digital Literacy. Gilster mendefinisikan secara sederhana Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 sebagai Auliteracy in the digital ageAy, atau menggunakan informasi melalui beragam sumber digital (Bowden dalam Lanskhear & Knobel, 2. The United Nations Educational. Scientific Cultual Organization (UNESCO) baru menyentuh persoalan lierasi digital pada bulan Mei 2007, setelah konferensi Lisbon (Kurnia dan Astuti, 2. Istilah literasi digital awalnya digunakan pada tahun 1980-an ketika teknologi komputasi mulai digunakan untuk sehari-hari (Widyastuti, et al, 2016. Dini dan Lestari. Menurut Potter . , literasi digital adalah ketertarikan, sikap, dan kemampuan individu dalam menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, membuat dan bekomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi dalam masyarakat. Dalam menyebarkan informasi, idealnya seseorang mampu melakukan apa yang dikatakan Jenkins dkk . sebagai appropriation dalam teori literasi media baru, yaitu mampu menyadur informasi yang diterima di media baru secara legal dan Mulai dari meminta izin menyebarkan, mencantumkan sumber yang dapat ditelusuri kebenarannya, sampai dengan memahami konsekuensi dari penyebaran tak terbatas yang dimungkinkan oleh aplikasi pesan Diakui Potter . 4 dalam Adiputra, 2008:. , konsep literasi media lebih kompleks daripada konsep literasi, karena berkaitan dengan berbagai konsep, yaitu konsep pendidikan media, berpikir kritis dan aktivitas memproses informasi. Belum lagi perbedaan jenis media yang begitu beragam dan masih terus berkembang. Persoalan media baru yang sangat kompleks membuat Jenkins. Purusuthoma. Weigel. Clinton dan | 49 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 Robinson . merumuskan literasi media baru dengan dua belas inti kemampuan literasi media baru. Jenkins et al membagi inti keterampilan literasi media menjadi dua belas: play, performance, simulation, appropriation, multitasking, distributed cognition, collective intelligence, judgment, negotiation, visualization. Terobosan yang dilakukan Jenkins et al dengan dua belas inti kemampuan yang disyaratkan bersifat sangat teknis pada media baru. Berikut penjelasan masing-masing kemampuan literasi media menurut Jenkins dkk. (Jenkins, 2. Play di sini diartikan sebagai kemampuan menggunakan. Menggunakan dalam artian tidak hanya sekedar mengakses, tetapi juga mengeksplor media baru yang digunakan. Simulation, diartikan sebagai kemampuan untuk mengintrpretasikan dan menyelewengkan informasi pesan media. Performance merupakan kemampuan untuk bermain peran atau mengadopsi alternative identitas dalam tujuan improvisasi dan penjelajahan mempelajari sesuatu. Appropriation diartikan sebagai seuah proses dimana manusia mengambil sebagian budaya dan menyatukannya dengan berbagai konten . Multitasking adalah kemampuan memindai lingkungan dan mengalihkan fokus ke detail-detail elemen pesan. Distributed cognition adalah kemampuan berinteraksi dengan penuh makna dengan peralatan . edia bar. yang memperluas kapasitas mental manusia. Collective intelligence adalah kemampuan untuk membandingkan pendapat dengan orang lain menuju tujuan bersama. Judgement adalah kemampuan mengevaluasi keandalan dan kredibilitas sumber-sumber informasi yang berbeda. Transmedia Navigation menyintesis dan menyebarkan informasi. Negotiation adalah kemampuan untuk Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 melayari beragam komunitas, memahami dan mengharagai beragam perspektif serta berpegang dan mengikuti berbagai norma di setiap komunitas. Visualization adalah kemampuan untuk membuat dan memahami representasi visual informasi dalam tujuan mengekspresikan ide, menemukan pola-pola dan mengidentifikasikan trend. Hasil penelitian Kurnia dan Astuti . menyatakan bahwa perguruan tinggi . ,14%) adalah pelaku utama kegiatan literasi digital yang disusul dengan pemerintah . ,34%), komunitas . ,52%). Lembaga swadaya masayarakat . ,32%), sekolah dan korporasi masing-masing . ,68%), asosiasi profesi dan ormas . ,86%), media . ,4%) dan lain-lain . ,86%). Ini menunjukkan bahwa kegiatan literasi digital saat ini dominan dilakukan oleh perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana gerakan sosial literasi digital yang dilakukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah dalam melakukan sinergi dengan METODOLOGI Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yakni suatu teknik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mugkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya (Kriyantono. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah dan pengelola program studi yang telah bekerjasama dengan PWI untuk kegiatan literasi digital yaitu program studi S1 Hukum Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang. Wawancara dilakukan dengan pertimbangan bahwa | 50 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 literasi digital yang dilakukan di Jawa Tengah paling banyak diinisiasi oleh PWI. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, dengan cara data yang masuk dari jawaban informan yang dikumpulkan, disusun, direduksi dan diinterpretasikan serta disajikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara bahwa Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI adalah organisasi wartawan pertama di Indonesia yang berdiri sejak tanggal 9 Februari 1946 di Surakarta bertepatan Hari Pers Nasional beranggotakan wartawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari hasil wawancara dengan Ketua PWI Jawa Tengah Amir Machmud mengatakan : AuSebagai organisasi profesi bagi wartawan beragam kegiatan telah dilakukan, begitu pula dengan PWI Jawa Tengah sebagai cabang yang ada di wilayah Jawa Tengah juga memiliki beberapa kegiatan penting yang dapat dibagi menjadi empat kegiatan utama yaitu : uji kompetensi orientasi kewartawanan. kebutuhan atau permintaan dari dan yang terakhir adalah sekolah jurnalistikAy. (Sumber : hasil wawancara 13 Mei 2. Lebih lanjut Amir Machmud AuAAbahwa menjalankan proses bisnisnya selalu bersinggungan dengan pihak eksternal sebagai stakeholders, termasuk insan Peran wartawan terhadap peningkatan corporate image dengan berita yang positif atau dapat dengan pemberitaan yang negatif. Dalam Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 memberikan informasi perusahaan kepada wartawan, satu hal yang perlu tersebutAy. (Sumber: hasil wawancara 13 Mei 2. Sebagai cara untuk mengetahui kompetensi dan validitas wartawan maka PWI Jawa Tengah beberapa kali melaksanakan kegiatan uji kompetensi Tentang uji kompetensi bagi wartawan, ada tiga kategori yang biasa diujikan yaitu uji kompetensi wartawan Muda. Madya, dan Utama. Menurut Amir, suatu tantangan bagi wartawan Indonesia adalah memiliki kompetensi dan untuk menjawab tantangan tersebut dan dengan mengukur segi profesionalisme sebagai wartawan agar mampu mengembangkan diri dan profesi menjadi lebih baik. (Sumber: hasil wawancara 13 Mei 2. Kegiatan orientasi kewartawanan menjadi kegiatan yang diselenggarakan di berbagai kabupaten dan kota. Peserta dari orientasi kewartawanan adalah masyarakat umum dan juga pengambil keputusan di tingkat kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Materi dalam orientasi kewartawanan adalah mengenai kode etik jurnalistik. UU Pers. Sejarah dan Perkembangan Media serta Media Konvergensi. Dari kegiatan ini pemerintah daerah dapat memahami seperti apa proses produksi berita, kemudian bagaimana mengatasi berita-berita yang sifatnya hoaks, dan tersedianya kesempatan untuk memberikan hak jawab sebagai merugikan dan sebagainya. Kegiatan ini adalah bagian dari gerakan literasi media yang dilakukan oleh PWI Jawa Tengah. Selain itu PWI Jawa Tengah juga menyelenggarakan kegiatan workshop yang tematik sesuai dengan kebutuhan pengguna. Beberapa kegiatan workshop yang sudah pernah diselenggarakan antara lain dengan | 51 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 tema Bijak Bermedia Sosial. Workshop ini sudah pernah diselenggarakan di Blora dan di Rembang. Workshop yang diberikan adalah mengenai bagaimana menghadapi wartawan, dan juga beberapa workshop literasi media yang dilakukan hasil kerjasama dengan KPID Jawa Tengah. (Sumber: hasil wawancara 13 Mei 2. Kegiatan ke empat yang menjadi obyek dari penelitian ini adalah kegiatan sekolah jurnalistik. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah meluncurkan sekolah jurnalistik pada tanggal 9 September 2016 yang diikuti oleh 60 mahasiswa dan dosen Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang beserta sejumlah wartawan muda. Jumlah peserta Sekolah Jurnalistik PWI Jateng dari Unissula yang mendaftar sebenarnya mencapai 150 orang, namun mengingat keterbatasan ruang, pada angkatan pertama ini hanya tertampung 60 Selain Unissula Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, dan Universitas Dian Nuswantoro Semarang juga bersiap mengirim mahasiswanya di Sekolah Jurnalistik PWI Jateng. Sekolah Jurnalistik PWI Jateng ini berlangsung selama 6 pekan. Kuliah perdana berlokasi di Fakultas Hukum Unissula dengan menghadirkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Lokasi kuliah selanjutnya berlangsung di Gedung Pers PWI Jawa Tengah. ttps://jateng. com/berita/15003 3/pwi-jateng-luncurkan-sekolah-jurnalistik, 15 September 2020 diakses tgl. 9 Juni 2020. Sekolah Jurnalistik yang dilakukan ini, berdasarkan hasil wawancara dengan Amir Machmud mengatakan : AuAA. masih embrional dari rencana besar mendirikan sekolah jurnalistik yang disepakati pada peringatan Hari Pers Nasional di Batam tahun 2014. Disain awal sekolah jurnalistik ini adalah membidik peserta dari Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 wartawan muda agar memiliki pemahaman komprehensif atas tugas dan tangungjawab sebagai jurnalis. Setelah sejumlah aspek, pada akhirnya melibatkan peserta dari perguruan tinggi selain peserta dari wartawan sebagai bentuk sinergi antara PWI dengan akademisi di Jawa Tengah, di samping memberikan tambahan pengetahuan untuk kemampuan citizen journalism. Bagi mahasiswa, sekolah tersebut akan memberi pemahaman dunia jurnalistik sekaligus membekali mereka kemampuan dasar di bidang penulisan berita dan artikel. Sertifikat yang diperoleh nantinya akan menjadi bukti bahwa mereka memiliki kompetensi dasar jurnalistik, hal inilah yang menjadi pertimbangan bagi PWI Jawa Tengah. Selain Unissula, beberapa perguruan tinggi juga sudah bersiap untuk mengirim mahasiswanya di sekolah jurnalistik bahkan dengan Universitas Pancasakti (UPS) Tegal sudah bekerjasama sejak awal tahun 2016. Universitas Sains Al-QurAoan (UNSAIQ) Wonosobo, dan juga Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) Semarang. Di sinilah sinergitas wartawan dan akademisi dibangun untuk melakukan gerakan literasi digital. Bahkan pada berlangsung selama enam pekan di Unissula juga dideklarasikan gerakan melawan dan memerangi hoax yang dilakukan bersama antara Presidium Jaringan Wartawan Anti Hoax Jateng. Fakultas Hukum Unissula. PWI Jateng. Pemprov Jateng dan DPRD Jateng. Deklarasi tersebut dilakukan pada hari Rabu tanggal 12 April 2017 bertempat di aula Fakultas Hukum Unissula Semarang. ttps://w. com/beritalokal/jateng/semarang/sekolah-jurnalistikpwi-wisuda-103-lulusan/, 12 April 2017 diakses tgl. 9 Juni 2020, pkl. | 52 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 Bila dikaji berdasarkan teori literasi media maka penggunaan teori yang dikemukakan oleh Jenkins menjadi acuan untuk menganalisis kegiatan sekolah jurnalistik yang dilakukan sebagai sinergitas wartawan dan akademisi dalam kegiatan gerakan sosial literasi digital. Walaupun diakui oleh Amir : AuAAbahwa dalam proses kurikulum di sekolah jurnalistik lebih kepada media mainstream tetapi dalam proses pembelajarannya juga disisipi dengan literasi media baru dan media Ay (Sumber: wawancara Pada Jenkins. Purushotma. Weigel. Clinton, & Robinson merumuskan literasi media baru dengan dua belas inti kemampuan literasi media baru. Teori ini bersifat sangat praktis berdasarkan karakter media baru. Media baru sangat kompleks. Jenkins et al membagi membagi inti keterampilan literasi media menjadi dua belas: play, performance, simulation, appropriation, multitasking, distributed cognition, collective intelligence, judgment, negotiation, visualization. Terobosan yang dilakukan Jenkins et al dengan dua belas inti kemampuan yang disyaratkan bersifat sangat teknis pada media baru. Berdasarkan unit analisis yang dikemukakan dalam teori Jenkins di atas, ada sepuluh indikator yang dalam penelitian ini menunjukkan inti kemampuan literasi media yang mampu diserap dalam kegiatan sekolah jurnalistik yaitu: . Play peserta sekolah jurnalistik tidak hanya mampu mengakses tetapi juga mengeksplorasi teknologi dan informasi yang dihadapinya. Hal ini sesuai dengan situasi mahasiswa yang bisa mengakses berita melalui telepon pintar yang dimiliki, melakukan edit video dan juga menyiarkan berita dengan platform telepon pintar yang dapat menampung banyak aplikasi yang membutuhkan masing-masing Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 kebutuhan pengguna terhadap aplikasi . Simulation karena peserta sekolah jurnalistik memiliki kemampuan mengenali kredibilitas informasi yang ditemui di media sosial, kemudian diajarkan juga untuk terbiasa memeriksa elemen pesan, membandingkan dengan konteks kekinian di dunia nyata dan menilai pesan . Appropriation sebagai kemampuan untuk menyadur informasi yang didapatkan secara legal. Mahasiswa wajib memahami bahwa hukum plagiarisme juga berlaku terhadap informasi di dalam media Termasuk konsekuensi dari penyebaran pesan yang tak terbatas di dalam instant messaging seperti Blackberry Messenger. Whatsapp dan Line. Multitasking sebagai kemampuan merespon pesan sambil mengerjakan pekerjaan lain. Mahasiswa harus memahami bahwa Aukonteks dunia yang beralih cepatAy berlaku semenjak munculnya media baru, sehingga dapat mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus wajib dikuasai. Collective Intelligence kemampuan untuk menyatukan pengetahuan yang didapat dari media sosial dan pengetahuan yang di dapat dari sumber atau media lain. Dengan demikian mahasiswa konvergensi media. Judgment yang berarti peserta sekolah jurnalistik memiliki kemampuan mengenali kredibilitas sumber informasi dengan bersikap kritis dan melakukan tindakan untuk membuktikan kredibilitas sumber berita tersebut. Negotiation yaitu kemampuan merespon pesan dengan bijak, memahami dan menghargai perbedaan perspektif dan keberagaman nilai antar anggota kelompok. Visualization berarti Kemampuan membuat dan mengkreasikan konten media untuk disebarkan di Whatsapp. Pengetahuan tentang Informasi hoaks yaitu kemampuan mahasiswa menjelaskan cir. SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 ciri informasi hoaks. Motivasi menyebarkan informasi hoaks adalah dorongan yang menyebabkan mahasiswa menyebarkan informasi hoaks, apakah karena kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan dan atau kebutuhan aktualisasi Dalam informasi dan berita hoaks dibutuhkan partisipasi dari berbagai fihak. Emansipasi publik hanya bisa terjadi bila masyarakat sudah melek media dan digital literacy adalah salah satu solusi yang tepat. Diharapkan melalui sekolah jurnalistik nantinya tidak hanya sebatas pada kemampuan skill dan kompetensinya tetapi juga mengarah pada evaluasi kritis. Berdasarkan prinsip pengembangan lliterasi digital menurut Mayes dan Fowler maka ada 3 level dalam kemampuan literasi digital bagi individu, yaitu : Gambar 1: Prinsip Pengembangan Literasi Digital Menurut Mayes dan Fowler. Sumber: Kemendikbud, . Menurut Mayes dan Fowler . dalam Kemendikbud . , terdapat tiga tingkatan prinsip pengembangan literasi Pertama, kompetensi digital yang meliputi ketrampilan, konsep, pendekatan dan perilaku. Kedua, penggunaan digital kompetensi digital yang berhubungan Ketiga, transformasi digital yang membutuhkan kreativitas dan inovasi pada dunia digital. Gerakan literasi digital berbasis sekolah jurnalistik yang dilakukan sebagai kerjasama Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 antara PWI dengan akademisi sejauh ini masih pada level 1 . igital competenc. dan level 2 . igital usag. SIMPULAN Kegiatan sekolah jurnalistik bagi wartawan muda dan akademisi serta mahasiswa adalah kegiatan yang perlu untuk terus ditingkatkan mengingat sinergitas ini dapat meningkatkan kompetensi literasi digital dari peserta sekolah jurnalistik. Apabila kurikulum dan paket yang ditawarkan beragam maka sinergitas antara PWI Jawa Tengah dengan perguruan tinggi akan makin berperan dalam gerakan sosial literasi digital. Pada awal pelaksanaan sinergitas wartawan dengan akademisi hanya fokus pada level kompetensi digital. Hal ini berdasarkan argumentasi bahwa jika kompetensi ini terpenuhi, maka di levellevel berikutnya secara otomatis akan dapat Diharapkan nantinya hasil dari sinergitas wartawan dengan akademisi tidak berhenti pada level kompetensi yang basic, tetapi juga sampai pada tingkat advanced terutama pada level digital transformation dan kolaborasi. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan mampu memetakan tingkat kompetensi dari pelaksanaan program kegiatan dan juga bisa dilakukan penelitian yang melihat pengaruh program ini pada peningkatan kemampuan digital hygine dan fact finding. DAFTAR PUSTAKA