Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 PEMIKIRAN HASAN AL-BANNA TENTANG URGENSI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM MEMBANGUN MORAL BANGSA Hartati1. Miskahuddin2. Abdul Madjid3. Wahyu Khafidah4. Muhammad Yusuf Zulkifli5 Universitas Serambi Mekkah Aceh. Indonesia UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Indonesia STAI Nusantara Banda Aceh. Indonesia Email Korespondensi: hartati@serambimekkah. ABSTRACT Moral education has an important role in building the nation's morals, especially in the perspective of Islamic education. Hasan Al-Banna's thoughts on moral education emphasize the importance of character building based on Islamic values to create quality human This article aims to examine the concept of moral education according to Hasan AlBanna and how it is implemented in building the nation's morals. The research method used is a literature study with a descriptive-analytical approach. The results of the study show that moral education must be an integral part of the education system in order to produce individuals with character and noble character. The conclusion of this study confirms that moral education based on Islam can be a solution in facing moral challenges in the era of Keywords: Moral education. Hasan Al-Banna, national morals. Islamic education. ABSTRAK Pendidikan akhlak memiliki peran penting dalam membangun moral bangsa, terutama dalam perspektif pendidikan Islam. Pemikiran Hasan Al-Banna tentang pendidikan akhlak menekankan pentingnya pembentukan karakter berbasis nilai-nilai Islam untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep pendidikan akhlak menurut Hasan Al-Banna dan bagaimana implementasinya dalam membangun moral bangsa. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan akhlak harus menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan agar menghasilkan individu yang berkarakter dan berakhlak mulia. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan akhlak yang berlandaskan Islam dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan moral di era globalisasi. Kata kunci: Pendidikan akhlak. Hasan Al-Banna, moral bangsa, pendidikan Islam. PENDAHULUAN Di era globalisasi yang semakin pesat, berbagai perubahan sosial dan teknologi memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, namun juga menimbulkan tantangan, terutama dalam aspek moral dan etika. Arus informasi yang tidak terbendung menyebabkan pergeseran nilai-nilai moral, khususnya di kalangan generasi muda. Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Dalam kondisi ini, peran pendidikan menjadi sangat krusial dalam menjaga dan membangun moral bangsa agar tetap berlandaskan pada nilai-nilai luhur, terutama nilai-nilai Islam yang menekankan keseimbangan antara intelektualitas dan spiritualitas(F. Wahyuningsih, 2. Pendidikan Islam memiliki konsep fundamental dalam membentuk individu yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Salah satu tokoh yang banyak menyoroti urgensi pendidikan akhlak dalam Islam adalah Hasan Al-Banna. Ia menekankan bahwa pendidikan akhlak bukan sekadar bagian dari sistem pendidikan, tetapi merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter manusia yang seimbang antara aspek duniawi dan ukhrawi. Pendidikan akhlak yang baik diyakini dapat melahirkan individu yang bertanggung jawab, berintegritas, dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan tetap memegang teguh nilai-nilai keislaman. (Zuhriyah. Bangsa yang memiliki sumber daya manusia berkualitas akan lebih siap dalam menghadapi tantangan global. Pendidikan akhlak menjadi bagian dari strategi dalam membangun individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moralitas yang tinggi. Hasan Al-Banna menggarisbawahi bahwa krisis moral yang terjadi di suatu bangsa sering kali disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap pendidikan akhlak. Oleh karena itu, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata, tetapi juga harus memperhatikan aspek pembentukan karakter melalui pendidikan akhlak yang kuat. (Dewi. Dalam konteks pendidikan Islam, pendidikan akhlak harus menjadi bagian integral dalam pembelajaran sejak usia dini. Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam menanamkan nilai-nilai akhlak kepada anak-anak. Tanpa pendidikan akhlak yang baik, seseorang dapat memiliki pengetahuan yang tinggi tetapi minim kesadaran moral, sehingga berpotensi menyalahgunakan ilmu yang dimilikinya untuk hal-hal yang merugikan. Oleh sebab itu, pendekatan pendidikan akhlak harus dilakukan secara sistematis dengan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk pendekatan keagamaan, budaya, serta perkembangan psikologis anak (Muizzuddin, 2. Dengan mengkaji urgensi pendidikan akhlak menurut pemikiran Hasan Al-Banna, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi pendidikan yang lebih efektif dalam membangun moral bangsa. Pendidikan akhlak bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif dari keluarga, lembaga pendidikan, serta masyarakat secara luas. Oleh karena itu, penelitian ini akan memberikan rekomendasi konkret mengenai bagaimana pendidikan akhlak dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam lingkungan pendidikan formal maupun nonformal (Arief & Ulinnuha, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. , yang bertujuan untuk menganalisis pemikiran Hasan Al-Banna tentang urgensi pendidikan akhlak dalam membangun moral bangsa. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dari berbagai literatur yang relevan, termasuk buku, jurnal ilmiah, dan artikel yang membahas pendidikan akhlak serta pemikiran Hasan Al-Banna. Metode studi kepustakaan dipilih karena penelitian ini lebih bersifat konseptual dan teoritis, dengan menelaah gagasan-gagasan yang telah dikemukakan oleh berbagai pemikir Islam mengenai pendidikan akhlak. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan pendekatan deskriptif-analitis untuk menginterpretasikan data dan menarik kesimpulan yang sistematis mengenai relevansi pemikiran Hasan Al-Banna dalam konteks pendidikan modern (Mulyadi, 2. Dalam proses pengumpulan data, penelitian ini menggunakan sumber primer dan sekunder yang berkaitan dengan konsep pendidikan Islam dan pendidikan akhlak. Sumber primer Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 meliputi buku-buku karya Hasan Al-Banna serta tulisan-tulisan yang secara langsung membahas pemikirannya tentang pendidikan. Sumber sekunder mencakup berbagai literatur yang membahas pendidikan akhlak dari perspektif Islam secara umum, termasuk jurnal, tesis, dan penelitian terdahulu yang relevan. Seluruh data dianalisis dengan metode deskriptifanalitis, yang bertujuan untuk menggambarkan dan menginterpretasikan konsep-konsep pendidikan akhlak dalam pemikiran Hasan Al-Banna secara lebih mendalam. Pendekatan ini memungkinkan penelitian untuk memahami hubungan antara pendidikan akhlak dan pembangunan moral bangsa serta menemukan strategi implementasi yang dapat diterapkan dalam sistem pendidikan saat ini (Wahono, 2. Langkah-langkah penelitian ini meliputi identifikasi masalah, pengumpulan data melalui literatur yang relevan, analisis isi terhadap data yang diperoleh, serta penyusunan kesimpulan dan rekomendasi. Analisis dilakukan dengan membandingkan berbagai sumber yang ada untuk menemukan pola atau tema yang konsisten dalam pemikiran Hasan Al-Banna tentang pendidikan akhlak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan konsep pendidikan Islam yang lebih efektif dalam membentuk individu yang berakhlak mulia dan berintegritas. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi dalam ranah akademik, tetapi juga dapat menjadi referensi bagi para pendidik dan pembuat kebijakan dalam mengintegrasikan pendidikan akhlak ke dalam sistem pendidikan yang lebih luas (Zainuddin, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Pendidikan Akhlak dalam Islam Pendidikan akhlak dalam Islam merupakan salah satu aspek penting yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Akhlak dalam Islam mencerminkan nilai-nilai moral dan etika yang didasarkan pada ajaran Al-Qur'an dan Hadis. Dalam Al-QurAoan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qalam ayat 4: AuDan sesungguhnya engkau (Muhamma. benar-benar berbudi pekerti yang agungAy (QS. Al-Qalam: . Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah contoh terbaik dalam penerapan akhlak mulia. Pendidikan akhlak bertujuan untuk membentuk individu yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki moralitas yang tinggi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pendidikan akhlak harus menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter setiap individu Muslim sejak usia dini (S. Wahyuningsih, 2. Dalam Islam, pendidikan akhlak mencakup berbagai aspek yang melibatkan hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan. Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa akhlak yang baik adalah hasil dari usaha manusia untuk mengendalikan hawa nafsunya dan mengikuti tuntunan agama dalam setiap aspek kehidupan (Al-Ghazali. Oleh karena itu, pendidikan akhlak tidak hanya berkaitan dengan perilaku eksternal, tetapi juga dengan pengembangan hati dan pikiran. Seseorang yang memiliki akhlak baik akan memiliki kesadaran moral yang tinggi dalam bertindak, serta mampu membedakan antara yang benar dan salah berdasarkan nilai-nilai Islam. Pendidikan akhlak juga berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, kesabaran, keadilan, dan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari (Awaliyah & Nurzaman, 2. Pendidikan akhlak dalam Islam juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Seorang Muslim yang memiliki akhlak mulia diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadaban. Hasan Al-Banna dalam pemikirannya menekankan bahwa pendidikan akhlak merupakan salah satu pilar utama dalam kebangkitan umat Islam (Al-Banna. Ia menegaskan bahwa sebuah bangsa yang memiliki sistem pendidikan yang baik tetapi mengabaikan aspek akhlak akan kehilangan identitas dan kekuatan moralnya. Oleh karena itu. Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 pendidikan akhlak harus menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan Islam dan diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan (Ningsih, 2. Dalam implementasinya, pendidikan akhlak dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal dalam keluarga, serta pendidikan nonformal melalui organisasi keagamaan dan kegiatan sosial. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menekankan pentingnya keteladanan dalam pendidikan akhlak. Ia berpendapat bahwa anak-anak lebih mudah menyerap nilai-nilai moral dari lingkungan dan figur yang menjadi panutan dalam kehidupan mereka (Ibnu Khaldun, 2. Oleh karena itu, peran orang tua, guru, dan pemimpin masyarakat sangat penting dalam memberikan contoh akhlak yang Pendidikan akhlak yang berhasil adalah yang mampu menciptakan individu yang berkarakter kuat dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam. Dengan demikian, pendidikan akhlak dalam Islam merupakan proses yang berkelanjutan yang harus diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Pendidikan ini tidak hanya bertujuan untuk menciptakan individu yang berperilaku baik secara pribadi, tetapi juga untuk membangun masyarakat yang lebih bermoral dan beradab. Dalam menghadapi tantangan era modern yang penuh dengan perubahan sosial dan teknologi, pendidikan akhlak yang berlandaskan nilai-nilai Islam dapat menjadi solusi dalam membentuk generasi yang memiliki integritas, tanggung jawab, dan komitmen terhadap kebaikan. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu Muslim untuk terus meningkatkan pemahaman dan pengamalan akhlak Islam agar dapat menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran moral dan spiritual. Pemikiran Hasan Al-Banna tentang Pendidikan Akhlak Hasan Al-Banna merupakan salah satu tokoh pembaharu Islam yang menekankan pentingnya pendidikan akhlak sebagai elemen utama dalam membangun masyarakat yang bermoral dan beradab. Menurutnya, pendidikan akhlak bukan hanya sekadar pengajaran teori, tetapi harus mencerminkan nilai-nilai Islam yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan seharihari (Al-Banna, 2. Ia berpendapat bahwa akhlak yang baik tidak hanya berhubungan dengan individu secara pribadi, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan sosial dan politik sebuah bangsa. Hasan Al-Banna menegaskan bahwa tanpa akhlak yang baik, umat Islam akan kehilangan identitasnya dan tidak mampu menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu, ia berusaha membangun sistem pendidikan yang menekankan pembentukan karakter Islami sebagai fondasi utama bagi perkembangan umat Islam (Tirta, 2. Menurut Hasan Al-Banna, pendidikan akhlak harus mencakup tiga aspek utama, yaitu aspek spiritual, intelektual, dan sosial. Aspek spiritual berfokus pada pembentukan hubungan yang kuat antara individu dengan Allah SWT melalui pengamalan ajaran Islam yang benar. Dalam hal ini, pendidikan akhlak harus mengajarkan ketakwaan, keikhlasan, dan ketaatan kepada ajaran Islam yang tercermin dalam ibadah serta perilaku sehari-hari (Al-Banna, 2. Aspek intelektual dalam pendidikan akhlak menekankan pentingnya berpikir kritis dan mendalam dalam memahami nilai-nilai Islam serta menerapkannya dalam kehidupan. Sedangkan aspek sosial berkaitan dengan tanggung jawab individu terhadap masyarakat, seperti menanamkan nilai kejujuran, amanah, keadilan, dan empati dalam kehidupan sosial. Menurutnya, umat Islam harus memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap akhlak sehingga mereka dapat menjadi agen perubahan dalam membangun masyarakat yang lebih Hasan Al-Banna juga menekankan bahwa pendidikan akhlak harus diajarkan melalui pendekatan keteladanan dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW menjadi teladan dalam membentuk karakter umat Islam melalui tindakan dan sikapnya yang penuh dengan kasih sayang, kejujuran, dan kepemimpinan yang Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 bijaksana (Al-Banna, 2. Menurutnya, seorang guru, pemimpin, dan orang tua harus menjadi role model dalam pendidikan akhlak, karena anak-anak dan generasi muda lebih mudah meniru perilaku nyata dibanding sekadar menerima teori. Dalam pandangannya, pendidikan akhlak yang berhasil adalah yang mampu membentuk individu yang memiliki integritas, disiplin, dan tanggung jawab sosial yang tinggi (Zainudin, 2. Sebagai implementasi dari gagasannya. Hasan Al-Banna mengusulkan model pendidikan Islam yang berbasis pada tarbiyah Islamiyah atau pendidikan Islam yang mencakup pembinaan akhlak secara holistik (Al-Banna, 2. Sistem ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama secara teoritis, tetapi juga membentuk karakter peserta didik melalui program-program pembinaan mental dan moral. Dalam pendekatan ini, peserta didik diajak untuk menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka melalui pengalaman langsung, diskusi kelompok, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial. Menurutnya, pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan akhlak yang baik akan melahirkan generasi Muslim yang kuat dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam membangun peradaban Islam yang lebih Implementasi Pendidikan Akhlak dalam Membangun Moral Bangsa Pendidikan akhlak memiliki peran yang sangat penting dalam membangun moral bangsa yang kuat dan beradab. Sebuah bangsa yang memiliki individu-individu dengan akhlak yang baik akan lebih mampu menghadapi tantangan zaman, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun politik. Pendidikan akhlak bukan hanya sekadar ajaran moral, tetapi merupakan proses pembentukan karakter yang harus dimulai sejak usia dini dan berlanjut sepanjang kehidupan Hasan Al-Banna menegaskan bahwa pendidikan akhlak harus menjadi bagian integral dari sistem pendidikan Islam agar dapat menghasilkan generasi yang bertanggung jawab dan memiliki kesadaran moral yang tinggi (Al-Banna, 2. Dalam konteks ini, pendidikan akhlak tidak hanya diajarkan melalui mata pelajaran agama di sekolah, tetapi harus diintegrasikan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat (Mardikani, 2. Salah satu strategi utama dalam mengimplementasikan pendidikan akhlak adalah integrasi pendidikan akhlak dalam kurikulum sekolah. Kurikulum pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga harus memberikan ruang bagi pembentukan karakter siswa. Misalnya, dalam pembelajaran sejarah, siswa tidak hanya diajarkan tentang peristiwa-peristiwa masa lalu, tetapi juga bagaimana nilai-nilai moral dapat dipetik dari tokoh-tokoh sejarah yang memiliki integritas tinggi. Dalam mata pelajaran sains dan teknologi, siswa juga diajarkan bagaimana menggunakan pengetahuan mereka secara bertanggung jawab untuk kepentingan Dengan demikian, pendidikan akhlak dapat diserap oleh siswa secara lebih luas dan tidak hanya terbatas pada pelajaran agama semata (Ibnu Khaldun, 2. Selain di sekolah, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam menanamkan pendidikan akhlak. Orang tua adalah pendidik pertama bagi anak-anak mereka, sehingga contoh dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Ibnu Khaldun dalam Muqodimah menyatakan bahwa lingkungan keluarga merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pembentukan kepribadian dan akhlak seorang anak (Ibnu Khaldun, 2. Oleh karena itu, orang tua harus memiliki pemahaman yang baik tentang nilai-nilai Islam dan menerapkannya dalam kehidupan seharihari agar anak-anak mereka tumbuh menjadi individu yang memiliki moral yang kuat. Pendidikan akhlak dalam keluarga dapat dilakukan melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti mengajarkan anak untuk berkata jujur, berbuat baik kepada sesama, dan menghormati orang lain (Purwana, 2. Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Selain keluarga, masyarakat juga memiliki peran penting dalam membangun moral bangsa melalui pendidikan akhlak. Lingkungan yang positif akan mendorong individu untuk mengembangkan perilaku yang baik dan menjauhi tindakan yang bertentangan dengan norma Masyarakat yang memiliki budaya gotong royong, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan akan menciptakan suasana yang kondusif bagi pembentukan karakter yang baik. Menurut Hasan Al-Banna, masyarakat harus berperan aktif dalam memberikan contoh dan mendukung implementasi pendidikan akhlak dengan menciptakan lingkungan sosial yang sehat (Al-Banna, 2. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan sosial, program keagamaan, serta pembinaan moral di tingkat komunitas. Dalam dunia modern yang semakin digital, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan akhlak juga menjadi hal yang sangat penting. Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk menyebarkan nilai-nilai moral secara luas melalui media sosial, aplikasi pendidikan, dan platform digital lainnya. Hasan Al-Banna menekankan bahwa dakwah dan pendidikan Islam harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar tetap relevan bagi generasi muda (AlBanna, 2. Oleh karena itu, penggunaan media digital untuk menyebarkan konten edukatif yang mengajarkan akhlak Islam sangat diperlukan dalam membentuk moral generasi muda. Program seperti video edukasi, podcast Islami, serta aplikasi pembelajaran berbasis nilai-nilai Islam dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan konsep pendidikan akhlak secara lebih menarik dan mudah diakses oleh masyarakat luas (Andiyanto, n. Selain metode pendidikan formal dan digital, pendekatan berbasis keteladanan juga merupakan strategi efektif dalam pendidikan akhlak. Rasulullah SAW merupakan contoh utama dalam membangun karakter umat Islam melalui perilaku dan tindakan nyata yang penuh kasih sayang, kejujuran, dan kepemimpinan yang adil (Al-Qur'an. Surah Al-Qalam: . Hasan Al-Banna juga menegaskan bahwa seorang pendidik, baik itu orang tua, guru, maupun pemimpin, harus menjadi teladan dalam mengajarkan nilai-nilai moral (Al-Banna, 2. Keteladanan ini lebih efektif daripada sekadar memberikan ceramah atau nasihat tanpa contoh yang nyata. Oleh karena itu, para pendidik harus menjalankan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari agar dapat menjadi panutan bagi generasi muda (Kholisin, 2. Dengan mengimplementasikan pendidikan akhlak secara menyeluruh dalam sistem pendidikan, keluarga, masyarakat, teknologi, serta melalui keteladanan, diharapkan moral bangsa dapat terus ditingkatkan. Pendidikan akhlak tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif dari seluruh elemen masyarakat. Sejalan dengan pemikiran Hasan Al-Banna, pendidikan akhlak harus terus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan zaman dan menciptakan generasi Muslim yang berakhlak mulia serta memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Dengan demikian, pendidikan akhlak dapat menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban yang lebih baik dan menciptakan bangsa yang bermartabat serta berbudaya luhur (Nurofikoh, 2. Pemikiran Hasan Al-Banna dalam pendidikan akhlak menempati posisi yang unik dibandingkan tokoh-tokoh lain, karena ia memandang pendidikan akhlak bukan hanya sebagai proses individual, tetapi sebagai bagian dari gerakan sosial dan kebangkitan umat. Berbeda dengan pendekatan tradisional yang cenderung fokus pada pembinaan moral secara personal atau spiritual. Al-Banna mengintegrasikan pendidikan akhlak dalam kerangka perjuangan membangun peradaban Islam. Ia meyakini bahwa perbaikan akhlak individu adalah langkah awal menuju perubahan masyarakat secara keseluruhan. Salah satu ciri khas pemikiran Al-Banna adalah pendekatannya yang holistik dan Melalui gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikannya, ia menerapkan prinsipprinsip pendidikan akhlak dalam berbagai lini kehidupan, mulai dari rumah tangga, sekolah, masjid, hingga tataran negara. Baginya, pendidikan akhlak tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial-politik umat Islam. Pendekatan ini membedakannya dari tokoh-tokoh seperti Imam Al57 Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Ghazali yang lebih menitikberatkan pada penyucian jiwa secara individual dan filsuf Islam seperti Ibnu Miskawaih yang membahas akhlak dalam konteks etika rasional. Al-Banna juga menempatkan keteladanan sebagai metode paling efektif dalam pendidikan Menurutnya, tidak cukup hanya menyampaikan nilai-nilai moral secara teoritis, tetapi harus ada perwujudan nyata dalam sikap dan tindakan para pendidik, orang tua, dan pemimpin Prinsip ini menekankan pentingnya konsistensi antara ucapan dan perbuatan dalam membina karakter umat. Dalam konteks ini. Al-Banna menuntut para pelaku pendidikan untuk menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh. Di samping itu, pemikiran Al-Banna juga sangat kontekstual dengan zaman modern. menyadari bahwa pendidikan akhlak harus menjawab tantangan globalisasi dan perkembangan Oleh karena itu, ia mengedepankan pentingnya membumikan nilai-nilai Islam dalam semua sektor kehidupan: ekonomi, politik, budaya, hingga media massa. Hal ini menjadikan gagasannya lebih aplikatif dan relevan dibanding pemikir lain yang lebih terbatas pada wilayah teoritis atau akademik. Dengan demikian, perbedaan utama pemikiran Hasan Al-Banna terletak pada visinya yang menyeluruh, strategis, dan berorientasi pada aksi nyata. Ia menjadikan pendidikan akhlak sebagai bagian integral dari proyek besar reformasi umat, bukan sekadar sebagai aspek moralitas pribadi. Pendekatan ini menjadikan Al-Banna tidak hanya sebagai pemikir, tetapi juga sebagai pelaku perubahan yang berhasil menghidupkan nilai-nilai Islam melalui sistem pendidikan dan gerakan sosial yang terorganisir dan berkesinambungan. SIMPULAN Pendidikan akhlak memiliki peran yang sangat penting dalam membangun moral bangsa, terutama dalam menghadapi tantangan zaman modern yang semakin kompleks. Hasan AlBanna menegaskan bahwa pendidikan akhlak harus menjadi bagian utama dalam sistem pendidikan Islam karena merupakan fondasi dalam membentuk individu yang berkarakter kuat, berintegritas, dan bertanggung jawab. Akhlak yang baik tidak hanya akan memberikan manfaat bagi individu secara pribadi, tetapi juga berdampak pada keharmonisan masyarakat dan kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu, pendidikan akhlak harus diterapkan secara menyeluruh di berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, serta melalui pemanfaatan teknologi yang berkembang pesat. Implementasi pendidikan akhlak dapat dilakukan melalui berbagai strategi, seperti integrasi dalam kurikulum sekolah, pembiasaan nilai-nilai moral dalam lingkungan keluarga, serta keterlibatan masyarakat dalam menciptakan lingkungan sosial yang kondusif bagi perkembangan karakter yang baik. Selain itu, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan akhlak menjadi kebutuhan mendesak di era digital agar nilai-nilai Islam dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh generasi muda. Hasan Al-Banna juga menekankan bahwa keteladanan merupakan salah satu metode paling efektif dalam pendidikan akhlak, di mana orang tua, guru, dan pemimpin harus menjadi contoh nyata dalam mengamalkan nilai-nilai moral Islam dalam kehidupan sehari-hari (Hayati, 2. Dengan demikian, pendidikan akhlak tidak hanya sekadar pembelajaran teori, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan nyata melalui pembinaan karakter yang berkelanjutan. Pendidikan akhlak yang berbasis Islam berkontribusi dalam membangun generasi yang memiliki kesadaran moral yang tinggi, bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan masyarakat, serta mampu menghadapi perubahan zaman dengan tetap memegang teguh nilainilai Islam. Oleh karena itu, untuk menciptakan peradaban yang lebih baik, diperlukan komitmen dari semua pihak dalam mengembangkan dan menerapkan pendidikan akhlak sebagai solusi dalam menghadapi krisis moral di era globalisasi ini (Yen et al. , 2. Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 REFERENSI