UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA ANAK USIA 5-12 TAHUN DI DESA PANCALANG MELALUI GERAKAN LITERASI (GELIS) Eka1. Aas Siti Nurasyah2. Hasna Ribathul Fahma3. Nisrina Maitsa Zakiyyah4. Siti Murtisah5. Nurlayli Kodariah6. Syirkah Aprella7. Dewi Yuliana8 Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah (STISHK) Kuningan eka@stishusnulkhotimah. ABSTRAK Salah satu penyebab mengapa Indonesia menduduki peringkat yang terbilang rendah dalam sistem pendidikan yakni karena masih kurangnya minat baca serta kemampuan dalam berpikir kritis yang masih rendah. Kelompok 06 kuliah Pengabdian Mahasiswa (KPM) dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah (STISHK) Kuningan membuat kegiatan Gerakan Literasi (GELIS) yang berfokus untuk menarik minat baca anak-anak di Desa Pancalang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui peran Gerakan Literasi (GELIS) terhadap peningkatan minat baca anak usia 5-12 tahun di Desa Pancalang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Participatory Actory Action Research (PAR) di mana peneliti berpartisipasi langsung terhadap pelaksanaan Gerakan Literasi tersebut. Kegiatan Gerakan Literasi ini berjalan dengan baik, anak-anak bahkan ibu-ibu turut serta dalam pelaksanaannya. Berdasarkan hasil dari kegiatan ini dapat diketahui bahwa literasi membantu anak-anak memahami informasi, berpikir kritis, dan berkomunikasi dengan baik. Melalui kegiatan literasi, masyarakat mampu meningkatkan kemampuan membaca dan belajar, serta memperkuat kesadaran membaca. Kegiatan literasi juga mendorong pertumbuhan masyarakat yang lebih cerdas, produktif, dan kreatif, yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan pengetahuan yang luas. Kata Kunci: Minat Membaca. Anak Usia 5-12 Tahun. Gerakan Literasi ABSTRACT One of the reasons why Indonesia is ranked relatively low in the education system is because there is still a lack of interest in reading and the ability to think critically is still low. Group 06 Student Service (KPM) lectures from the Husnul Khotimah College of Sharia Sciences (STISHK) Kuningan made a Literacy Movement (GELIS) activity that focuses on attracting children's interest in reading in Pancalang Village. This activity aims to find out the role of the Literacy Movement (GELIS) in increasing the reading interest of children aged 5-12 years in Panalang Village. The method used in this study is Participatory Actory Action Research (PAR) where the researcher directly participates in the implementation of the Literacy Movement. This Literacy Movement activity went well, children and even mothers participated in its implementation. Based on the results of this activity, it can be seen that literacy helps children understand information, think critically, and communicate well. Through literacy activities, the community is able to improve reading and learning skills, as well as strengthen reading awareness. Literacy activities also encourage the growth of a more intelligent, productive, and creative society, which is ready to face future challenges with extensive knowledge. Khidmatul MujtamaAo DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Khidmatul MujtamaAo (Jurnal PKM STISHK Kuninga. E-ISSN: x-y || P-ISSN: x-y DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Vol. 1 No. 01 (Oktober 2. Keywords: Reading Interest. Children Aged 5-12 Years. Literacy Movement PENDAHULUAN Salah satu penyebab mengapa Indonesia menduduki peringkat yang terbilang rendah dalam sistem pendidikan yakni karena pengaruh kurangnya literasi atau minat baca serta kemampuan dalam berpikir kritis (Anisa, 2. Menurut data hasil survei yang dilakukan oleh The Program Organization for International Student Assessment (PISA) yang di rilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019. Indonesia menduduki ranking ke 62 dari 70 negara. Yang artinya Indonesia menjadi 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Tidak sampai disitu. UNESCO mengukur bahwa indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen (Rahmadanita, 2. Berdasarkan pada data tersebut bukan hanya minat baca saja yang perlu ditingkatkan tapi juga mencakup akses terhadap bahan bacaan, lingkungan yang mendukung kegiatan literasi, dan tentunya kesadaran masyarakat juga berpengaruh terhadap tingginya tingkat kegemaran literasi. Sebagai pewaris generasi bangsa di masa yang akan datang, meningkatkan minat baca pada anak usia 5-12 tahun sangat penting karena mereka sedang berada dalam tahap eksplorasi dunia melalui pengamatan, permainan, dan pengalaman di mana mereka ingin mengetahui banyak hal. Ketika minat baca mulai dibangun pada usia ini, anak-anak dapat memperkaya kosa kata, pemahaman bahasa, dan pengetahuan umum. Selain itu, kegiatan membaca secara rutin membantu meningkatkan konsentrasi dan daya ingat sehingga anak menjadi cerdas dalam berbagai bidang ilmu karena kecakapannya menguasai literasi (Astusti, et al. , 2. Lebih lanjut, pengembangan minat baca pada usia 5-12 tahun dapat membantu anak-anak dalam memahami materi pelajaran dengan lebih efektif. Sebaliknya, anak-anak yang kurang memiliki minat baca berisiko mengalami kesulitan dalam belajar dan cenderung mengalami penurunan motivasi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung minat baca anak melalui buku-buku anak-anak mengeksplorasi bacaan sesuai dengan minat mereka (Nurzuliani, et al. , 2. Meskipun pentingnya minat baca di usia anak-anak sudah diketahui banyak pihak, sayangnya, di Desa Pancalang, masih terdapat banyak tantangan dalam membangun kecintaan terhadap dunia literasi khususnya pada anak-anak usia 5-12 tahun. Mulai dari akses terhadap buku-buku berkualitas dan menarik bagi anak-anak yang masih terbatas, serta fasilitas pendukung seperti perpustakaan atau kegiatan literasi di desa belum optimal. Hal inilah yang menyebabkan minat baca anak-anak di Desa Pancalang relatif rendah. Banyak anak yang lebih tertarik pada kegiatan lain seperti bermain gawai seharian dibandingkan membaca buku. Kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar serta minimnya Peran gerakan literasi sangat penting dalam menjawab tantangan tersebut (Karang Taruna Desa Pancalang. Khidmatul MujtamaAo DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Khidmatul MujtamaAo (Jurnal PKM STISHK Kuninga. E-ISSN: x-y || P-ISSN: x-y DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Vol. 1 No. 01 (Oktober 2. Gerakan literasi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti orang tua, guru, dan tokoh masyarakat dapat membantu menciptakan budaya membaca di Desa Pancalang. Program seperti kegiatan membaca bersama, dan penyediaan buku-buku baik donasi maupun meminjam buku dari perpustakaan daerah secara berkala dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak-anak. Dengan adanya gerakan literasi yang konsisten, anakanak akan lebih terdorong untuk mengeksplorasi bacaan yang sesuai dengan minat mereka, mulai dari buku cerita, komik edukatif, hingga buku pengetahuan, anak-anak dapat memperluas wawasan mereka. Dengan adanya gerakan literasi yang konsisten, anak-anak akan lebih terdorong untuk mengeksplorasi berbagai jenis bacaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Berdasarkan uraian tersebut, maka muncul upaya dari Kelompok 06 Kuliah Pengabdian Mahasiswa (KPM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah (STISHK) Kuningan untuk meningkatkan minat baca bagi anak usia 5-12 tahun di Desa Pancalang melalui program GELIS (Gerakan Literas. Oleh karena itu, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan minat budaya baca khususnya bagi anak-anak usia 5-12 tahun di Desa Pancalang. METODOLOGI Kegiatan Gerakan Literasi (GELIS) ini dilaksanakan di Desa Pancalang yang berlokasi di Kecamatan Pancalang. Kuningan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan sebanyak tiga kali dalam jangka waktu satu bulan. Terhitung setiap hari Kamis, pukul 15. 00 WIB dan hari Senin pada pekan terakhir pukul 15. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini adalah Participatory Actory Action Research (PAR) di mana peneliti berpartisipasi langsung terhadap pelaksanaan Gerakan Literasi tersebut. tentunya melibatkan secara aktif semua pihak-pihak yang terkait . (Affandi. Kegiatan ini memiliki dua tahapan, yaitu: 1. Tahap Awal Observasi, 2. Perizinan peminjaman buku ke dinas kearsipan dan perpustakaan (Disarsipu. dan Pengambilan buku ke perpustakaan daerah. Tahap pelaksanaan Gerakan literasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan observasi awal, minat baca anak-anak di Desa Pancalang masih kurang, khususnya pada kelompok usia 5-12 tahun dan ditemukan bahwa faktor utama rendahnya minat baca disebabkan oleh terbatasnya akses terhadap buku-buku, minimnya fasilitas literasi seperti tidak adanya perpustakaan desa, serta kurangnya program literasi yang menarik bagi anak-anak. Selain itu, pengaruh teknologi dan intens nya penggunaan gawai dibandingkan membaca buku tentunya memperparah kondisi. Bukan hanya itu, kondisi sosial-ekonomi orang tua setiap anak juga mempengaruhi kemampuan orang tua dalam menyadiakan bacaan yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan dan minat anak-anaknya. Tahapan Pelaksanaan Program Tahap Awal Observasi Khidmatul MujtamaAo DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Khidmatul MujtamaAo (Jurnal PKM STISHK Kuninga. E-ISSN: x-y || P-ISSN: x-y DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Vol. 1 No. 01 (Oktober 2. Sebelum melaksanakan kegiatan Gerakan Literasi, peneliti yang merupakan peserta kelompok 06 KPM STISHK melakukan kunjungan ke stekholder terkait. Pada tahap ini, kelompok 06 KPM STISHK melakukan pencarian data terkait minat baca anak usia 5-12 tahun di Desa Pancalang. Berdasarkan hasil observasi ditemukan fakta bahwa minat baca anak usia 5-12 tahun di Desa Pancalang dapat dikatakan kurang hal ini dikarenakan beberapa hal, di antaranya ialah dukungan orang tua yang masih kurang, fasilitas yang kurang memadai, pengaruh gadget, lingkungan yang tidak mendukung. Dari beberapa data yang telah dipaparkan tersebut di atas, kurangnya minat baca pada anak usia 5-12 tahun di Desa Pancalang juga dikemukakan Karang Taruna dan masyarakat Dengan melihat fenomena tersebut, maka kelompok 06 KPM STISHK merancang dan menawarkan program kerja Gerakan Literasi kepada Karang Taruna untuk dilaksanakan dengan tujuan memecahkan permasalahan kurangnya minat baca pada anak usia 5-12 tahun di Desa Pancalang tersebut. Tahap Perizinan Peminjaman Buku ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarsipu. dan Pengambilan Buku ke Perpustakaan Daerah (Perpusd. Program kerja Gerakan Literasi pada Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dimulai dengan pengajuan perizinan peminjaman buku ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarsipu. Kab. Kuningan di mana penanggung jawab program bertugas mengurus administrasi surat peminjaman buku dengan menyertakan jumlah buku yang diperlukan. Setelah mendapatkan izin resmi untuk meminjam buku-buku yang dibutuhkan, baru bisa mengambil buku ke Perpustakaan Daerah. Penting sekali dalam memilah jenis buku yang diperlukan dan sekiranya menarik minat baca anak-anak. Contohnya seperti buku dongeng anak, cerita rakyat, buku eksperimen sains sederhana untuk memberikan ruang ekplorasi pada anak dan buku pengetahuan umum. Buku-buku ini menjadi sarana penting dalam mendukung gerakan literasi. Tak lupa, pemilihan buku dilakukan dengan mempertimbangkan usia dan minat baca anak-anak usia 5-12 tahun tentunya. Tahap Pelaksanaan Gerakan Literasi Kegiatan Gerakan Literasi dilaksanakan setiap pekan di bulan Agustus pada hari Kamis, 15 dan 22 Agustus 2024 pukul 15. 00 WIB juga dipekan terakhir pada hari Senin, 26 Agustus 2024 di Lapangan Bola Desa Pancalang. Kegiatan ini bekerjasama dengan ibu-ibu Pokja 2 PKK Desa Pancalang. Tim pelaksana program gerakan literasi terdiri dari 6 orang mahasiswi dari Kelompok 06 Kuliah Pengabdian Mahasiswa (KPM) yang berasal dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah (STISHK) Kuningan dan 5 orang ibu-ibu dari Pokja 2 PKK Desa Pancalang. Kegiatan ini sengaja dirancang menyenangkan dengan mengambil konsep berupa piknik literasi seperti mendongeng, mewarnai, belajar membaca bagi anak-anak yang belum bisa membaca, dan eksperimen sains (Tajuddin, 2. Dihadiri oleh kurang lebih 25 anak-anak Desa Pancalang. Kegiatan Gerakan Literasi dirancang untuk meningkatkan minat baca khususnya pada anak-anak usia 5-12 tahun. Selama kegiatan Gerakan Literasi dilaksanakan. Khidmatul MujtamaAo DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Khidmatul MujtamaAo (Jurnal PKM STISHK Kuninga. E-ISSN: x-y || P-ISSN: x-y DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Vol. 1 No. 01 (Oktober 2. anak-anak begitu antusias mengikuti arahan-arahan dari tim pelaksana kegiatan. Selain itu, anak-anak juga diajak untuk lebih berani bertanya dan bereksplorasi melalui aktivitas literasi yang interaktif. Mereka begitu ceria dan turut berpartisipasi dalam setiap sesi, terutama saat mereka berhasil menyelesaikan tantangan dan mendapatkan apresiasi berupa hadiah kecilkecilan. Dengan begitu, kegiatan gerakan literasi ini telah mampu membangkitkan minat dan motivasi belajar anak-anak (Raoda, 2. Gambar 1. Anak-anak antusias belajar membaca Anak-anak diberikan kesempatan membaca dan menceritakan kembali . buku yang telah mereka baca secara. Tujuannya agar mereka tidak mengalami disinformasi dari buku yang sudah dibaca juga supaya mereka bisa mengambil nilai moral sebagai pembelajaran dan membagikan nilai-nilai baik tersebut kepada teman-temannya. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengasah keterampilan berbahasa, memperbanyak pembendaharan kata serta melatih anak untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain melalui cerita yang disampaikannya (Susmita, 2. Beberapa anak yang memiliki buku bacaan di rumah, mereka bawa ke tempat kegiatan untuk bisa dibaca bersama dengan teman-temannya yang lain. Mereka saling tukar buku bacaan favorit mereka. Khidmatul MujtamaAo DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Khidmatul MujtamaAo (Jurnal PKM STISHK Kuninga. E-ISSN: x-y || P-ISSN: x-y DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Vol. 1 No. 01 (Oktober 2. Gambar 2. Anak-anak sedang menceritakan kembali buku yang sudah mereka baca Untuk anak yang sudah fasih membaca bahkan ekspresif dalam bercerita, mereka saling membantu dan menyemangati temannya untuk bisa sama-sama berani menceritakan kembali isi buku yang sudah dibaca. Mereka saling mengajak temannya yang lain untuk bisa memahami buku bacaan yang sedang mereka membaca dan saling mengingatkan temannya apabila keliru dalam mengingat huruf. Dalam kegiatan ini kelompok 06 KPM STISHK Kuningan bersama Pokja 2 PKK memberikan edukasi tentang pentingnya membaca kepada anak-anak yang hadir dan mengajak mereka untuk bisa mnginspirasi teman-temannya yang lain supaya punya keinginan dan minat baca yang tinggi. Gambar 3. Anak-anak sedang mewarnai Untuk menarik minat baca anak-anak, maka kegiatan literasi pun dibuat sevariatif Salah satunya yakni pelaksanaan literasi visual. Literasi visual yang anak-anak lakukan ialah menggambar dan mewarnai. Dua acara ini menjadi agenda literasi yang Khidmatul MujtamaAo DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Khidmatul MujtamaAo (Jurnal PKM STISHK Kuninga. E-ISSN: x-y || P-ISSN: x-y DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Vol. 1 No. 01 (Oktober 2. ditunggu-tunggu oleh anak-anak. Acara ini diadakan sebagai upaya pengembangan budaya Dalam hal ini, anak-anak akan belajar berbagai variasi literasi. Manakala seorang anak menggunakan seni visual dalam aksi menggambar, maka ia telah memfungsikan pikiran dan gagasannya untuk menghadirkan objek dalam berkarya, komunikasi pun terjadi secara Merekapun akan bertanya, kosakata tumbuh semakin banyak dan berkembang, mereka mampu bercerita tentang gambar yang dibuat, mengembangkan kecakapan memecahkan masalah, dan praktik-praktik berbahasa yang akan meningkatkan kognitif anakanak (Faizah, 2. Gambar 4. Mendongeng bersama anak-anak Gerakan literasi juga dapat diwujudkan dengan metode mendongeng pada anak. Dongeng sebagai sarana yang mampu menghibur juga tentunya mendidik. Dikatakan menghibur karena disajikan dengan penuh ekspresi. Sedangkan mendidik karena di dalamnya terdapat pendidikan pesan moral (Sumaryanti, 2. Mendongeng bisa digunakan sebagai langkah awal mengenalkan minat literasi kepada anak. Proses berliterasi seorang anak tidak hanya sekedar membaca dan menulis tapi meliputi segala hal yang berhubungan dengan bahasa baik menyimak maupun berbicara. Dalam aktivitas membaca terjadi proses kognitif yang kompleks untuk mengolah isi bacaan, tentunya bertujuan untuk memahami gagasan, makna, dan pemahaman simbol-simbol. Maka dari itu, kemampuan kognitif anak dalam hal literasi bisa dilakukan dengan kegiatan yang menyenangkan misalnya melalui metode eksperimen sains yang dilakukan oleh kelompok 06 KPM STISHK. Dalam prosesnya anak-anak melakukan pengamatan, percobaan, prediksi, dan akhirnya memperoleh pengetahuan. Eksperimen melibatkan penggunaan media pembelajaran yang kreatif untuk meningkatkan daya tangkap, daya berpikir, dan daya ingat mereka. Khidmatul MujtamaAo DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Khidmatul MujtamaAo (Jurnal PKM STISHK Kuninga. E-ISSN: x-y || P-ISSN: x-y DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Vol. 1 No. 01 (Oktober 2. Gambar 5. Foto bersama anak-anak setelah melakukan kegiatan eksperimen balon mengembang tanpa ditiup Eksperimen yang dilakukan yakni pembuatan balon mengembang tanpa ditiup. Biasanya balon menggelembung karena ditiup. Tapi kali ini, tak perlu bersusah payah meniup maupun memompa balon dengan gas helium untuk bisa mengembang. Dalam pembuatannya KPM Untuk menggelembungkan balon tanpa ditiup ada beberapa alat dan bahan yang bisa digunakan, yakni dapur, yaitu: botol plastik bekas, balon, cuka masak, baking soda, pewarna makanan . Untuk proses pembuatannya, pertama siapkan botol plastik bekas. Tambahkan cuka masak sedikit saja sekitar A isi botol. Teteskan sedikit pewarna makanan agar reaksi lebih terlihat cantik nantinya. Lalu siapkan balon, tambahkan baking soda sekitar 3 sendok ke dalam balon. Pelan-pelan rekatkan mulut balon ke mulut botol. Hati-hati jangan sampai baking soda di dalam balon tumpah ke dalam botol. Saat baking soda turun menyentuh cuka masak, terjadi reaksi menakjubkan. Muncul gelembung gas yang naik dan membat balon jadi mengembang tanpa ditiup (Nuraida, 2. Demikian eksperimen sains dapat memberikan dampak yang signifikan pada kemampuan kognitif anak. Memberikan pengalaman positif dalam proses belajar, dan memberikan landasan kuat untuk perkembangan berfikir kritis anak (Nurlaela, 2. Proses berliterasi seorang anak tidak hanya sekedar membaca dan menulis saja, akan tetapi meliputi segala hal yang berhubungan dengan bahasa itu menyimak mapun berbicara. budaya literasi harus ditumbuhkembangkan pada anak sejak usia dini. Dalam hal ini, peran orang tua dan lingkungan sekitar memiliki peran aktif dalam pelaksanaan literasi pada anakanak. Pemahaman adalah bagian terpenting serta tujuan utama dari aktivitas membaca. Menyoroti tentang pentingnya budaya literasi khususnya di Desa Pancalang, kegiatan-kegiatan berbasis proyek seperti yang dilakukan oleh kelompok KPM 06 STISHK diharapkan terus Kesadaran di lingkungan masyakarat Desa Pancalang untuk bisa berkontribusi meningkatkan minat budaya baca menjadi hal yang utama supaya kegiatan serupa dapat Hasil evaluasi yang dilakukan oleh kelompok 06 KPM STISHK menampakkan bahwa terdapat perubahan kebiasaan dan perilaku anak-anak ketika mereka disediakan buku-buku Khidmatul MujtamaAo DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Khidmatul MujtamaAo (Jurnal PKM STISHK Kuninga. E-ISSN: x-y || P-ISSN: x-y DOI: https://doi. org/10. 59270/-|----|- Vol. 1 No. 01 (Oktober 2. Kegiatan tersebut juga membantu para orang tua yang kewalahan membujuk anakanaknya untuk belajar membaca. Setelah kegiatan Gerakan Literasi terlaksana, kecintaan anak-anak terhadap buku mulai tumbuh dan anak-anak jadi lebih exited jika buku yang disediakan sesuai dengan minat mereka. SIMPULAN Gerakan literasi yang diadakan di Desa Pancalang dapat dikatakan berhasil meningkatkan minat baca anak khususnya anak usia 5-12 tahun. Dalam implementasi pelaksanaan program Gerakan Literasi (GELIS), terdapat tiga tahapan. Tahapan pertama, yaitu Tahap Awal Observasi Perizinan Peminjaman buku ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarsipu. dan Pengambilan Buku ke Perpustakaan Daerah (Perpusd. Pada tahap ini, pemilahan judul dan jenis buku mempertimbangkan usia dan minat anak-anak agar mereka tertarik untuk membaca. Tahapan yang kedua, adalah pelaksanaan Gerakan Literasi yang berisi kegiatan piknik literasi seperti mendongeng, mewarnai, belajar membaca, dan eksperimen sains. Gerakan Literasi ini bukan hanya mengajak anak-anak untuk membaca, tetapi juga berani untuk bertanya dan bereksplorasi melalui aktivitas literasi yang interaktif. Kegiatan literasi dikembangkan sejak dini dengan meluaskan makna literasi bukan hanya sekedar membaca dan menulis tetapi juga mencakup segala hal yang berhubungan dengan bahasa termasuk di dalamnya menyimak dan berbicara. Hasil dari kegiatan Gerakan Literasi ini adalah tumbuhnya minat baca anak-anak usia 5-12 tahun di Desa Pancalang dan dapat terus dikembangkan manakala terdapat fasilitas pendukung seperti buku-buku menarik yang sesuai dengan minat mereka. DAFTAR PUSTAKA