Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 FENOMENA MENOLONG SECARA SUKARELA: KARAKTERISTIK DAN DINAMIKA ALTRUISME PADA RELAWAN KOMUNITAS KETIMBANG NGEMIS BALI THE PHENOMENON OF VOLUNTARY HELPING: CHARACTERISTICS AND DYNAMICS OF ALTRUISM VOLUNTEERS AMONG AuKETIMBANG NGEMIS BALIAy COMMUNITY Fredho Umbu Wara Kasedu . Nicholas Simarmata . Universitas Udayana . Universitas Udayana . Email: umbuwarakasedu@student. Email: nicholas@unud. Abstrak: Relawan merupakan orang yang sukarela menolong orang lain dan terdaftar dalam suatu Salah satu organisasi relawan yaitu komunitas AuKetimbang Ngemis BaliAy (KNB). KNB bertujuan membantu Ausosok muliaAy yaitu lansia yang memilih untuk tetap masih bekerja dan tidak Relawan KNB tidak mendapatkan keuntungan secara materi dari kegiatan yang dilakukannya dan mau mengorbankan apa yang dimilikinya. Ini menunjukan perilaku menolong yang didasari oleh altruisme yaitu pemberian pertolongan dengan motif sukarela. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik altruisme dan gambaran altruisme pada relawan KNB. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Responden penelitian ini berjumlah empat orang berdasarkan metode pengambilan sampel non acak bertujuan dengan kriteria sudah menjadi relawan minimal satu tahun di komunitas KNB. Metode pengambilan datanya menggunakan wawancara. Metode analisis data menggunakan teknik analisis interaktif menurut Miles & Huberman. Hasil penelitian ini menemukan empat karakteristik altruisme relawan komunitas KNB yaitu empati, niat yang tulus, tanggung jawab, dan percaya karma. Sedangkan gambaran altruisme relawan komunitas KNB diawali dari karakteristik altruisme yang mendasari keinginan menjadi relawan untuk menolong. Penelitian ini diharapkan dapat menjawab dinamika yang terjadi dalam diri relawan untuk lebih mengenal diri sendiri sehingga mampu memperkuat alasan untuk tetap menjadi relawan dan menolong secara altruis di tengah situasi sosial yang semakin individualis karena tekanan lingkungan global. Kata Kunci: Altruisme. Relawan. Komunitas. AuKetimbang Ngemis BaliAy. Abstract: Volunteers are people who volunteer to help others and are registered in an organization. One of the existing volunteer organizations is the "Ketimbang Ngemis Bali" (KNB) community. KNB aims to help "noble figures", namely the elderly who choose to continue working and not begging. KNB volunteers do not benefit materially from the activities they carry out and are willing to sacrifice what they have. This shows helping behavior based on altruism, which is the provision of help with a voluntary motive, not expecting a return even though it does not provide direct benefits for oneself. The purpose of this study was to determine the characteristics of altruism and the description of altruism in KNB volunteers. The research method used is qualitative with a phenomenological Respondents of this study amounted to four people based on a non-random sampling method with the criteria of having volunteered for at least one year in the KNB community. The data collection method uses interviews. The data analysis method uses interactive analysis techniques according to Miles & Huberman. The results of this study found that the characteristics of KNB community volunteer altruism consist of empathy, sincere intentions, responsibility, and karmic While the description of KNB community volunteer altruism begins with the characteristics of altruism that underlie the desire to volunteer to help. This research is expected to answer the dynamics that occur within volunteers to get to know themselves better so that they can strengthen the reasons for continuing to volunteer and help altruistically in the midst of social situations that are increasingly individualistic due to the pressure of the global environment. Keywords: Altruism. Volunteer. Community. AuKetimbang Ngemis BaliAy. Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 PENDAHULUAN Manusia pada dasarnya adalah mahkluk sosial yang hidup berkelompok dan saling membutuhkan satu sama lain. Fakta yang terjadi saat ini adalah bahwa manusia mulai hidup individualis dengan mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan orang lain. Arif . menyebutkan bahwa karena adanya tekanan dari lingkungan global, masyarakat Indonesia saat ini larut dalam kehidupan Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Indonesia secara perlahan mulai kehilangan identitasnya sebagai mahkluk sosial yang seharusnya saling membantu, tolongmenolong, hingga mengupayakan kesejahteraan orang lain. Terjadinya perubahan dari awalnya masyarakat Indonesia mengedepankan nilai-nilai gotong-royong, yang terjadi saat ini adalah masyarakat Indonesia mulai hidup masingmasing tanpa memerhatikan orang-orang Perubahan yang terjadi ini sesuai dengan sifat dasar manusia yang pada hakikatnya selalu ingin mengadakan perubahan (Hilmi, 2. Perubahan ini merupakan bagian dari perubahan sosial yang dalam Hilmi . didefinisikan sebagai adanya modifikasi setiap aspek sosial yang memengaruhi sikap, nilai, dan pola perilaku yang terjadi di masyarakat. Zaman yang semakin maju dan terus berkembang yang ditandai dengan mudahnya mengakses teknologi informasi membuat masyarakat seakan menutup mata akan apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Jie dkk . menyebutkan bahwa salah satu dampak negatif dari mudahnya mengakses teknologi informasi yaitu dapat mengurangi sifat sosial karena seseorang akan lebih fokus pada gadget dibandingkan pada orang-orang disekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang tidak menyadari bahwa masih banyak orang yang perlu untuk dibantu. Menurut survei dari Badan Pusat Statistik tahun 2023 menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin pada bulan maret 2023 yaitu sebanyak 25,90 juta orang. Hal ini berarti bahwa ada lebih dari 25 juta orang di Indonesia yang masih kesulitan dalam hal ekonomi dan perlu untuk dibantu. Namun meskipun tekanan kehidupan individualisme global yang semakin kuat, tetap masih ada orang-orang yang tidak terpengaruh dan rela menolong orang lain meskipun harus mengorbankan apa yang Orang-orang yang tidak terpengaruh kehidupan individualisme global dan rela menolong orang lain dalam hal ini adalah orang-orang yang berperan sebagai relawan. Habibullah . menyebutkan bahwa relawan adalah orang-orang yang menjadi pelaksana kegiatan di bidang sosial yang bukan merupakan instansi sosial pemerintah dan dengan sadar atas kehendak sendiri dengan atau tanpa imbalan. Raharjo . menyebutkan bahwa relawan adalah pelaksana operasional kegiatan serta pekerja garis depan dari organisasi yang bertujuan untuk melakukan kegiatan sosial. Syarif . menyebutkan bahwa relawan sejatinya memiliki kecintaan pada hal tertentu atau pada suatu kegiatan dan mendedikasikan dirinya pada kegiatan tersebut. Hal ini yang melatarbelakangi banyaknya jenis relawan yang ada karena setiap relawan memiliki kecintaan pada kegiatan atau hal yang berbeda. Habibullah . mengutip dari Peraturan Menteri Sosial Nomor 16 tahun 2017 menyebutkan jenis relawan sosial yang mendapatkan pembinaan oleh satuan kerja dari Kementrian Sosial RI yaitu tenaga pelopor perdamaian, pendampingan orang dengan HIV/Aids, orang/korban tindak kekerasan, pendamping gelandangan pengemis, tugas puskesos, fasilitator SLRT, pendamping bekas binaan masyarakat, penyuluh sosial masyarakat, tenaga kesejahteraan sosial kecamatan dan taruna siaga bencana. Selain jenis relawan yang disebutkan diatas, masih banyak lagi bentuk kerelawanan yang ada di masyarakat. Masyarakat pada umumnya mengetahui kegiatan yang dilakukan relawan melalui tempat atau nama organisasi kerelawanan Misalnya organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) yang pada umumnya melakukan kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan, maka relawan PMI adalah orangorang yang melakukan kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan. Kegiatan yang dilakukan relawan biasanya melambangkan identitas organisasi kerelawanan yang Salah satu organisasi yang umum ditemui saat ini yang mewadahi kegiatan kerelawanan adalah komunitas. Komunitas adalah sekelompok masyarakat dalam daerah tertentu yang saling berinteraksi karena adanya kesamaan yang dimiliki (Achyani dkk, 2. Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 Salah satu komunitas yang ada saat ini yaitu komunitas AuKetimbang Ngemis BaliAy (KNB). Komunitas KNB adalah cabang regional Bali dari komunitas Ketimbang Ngemis yang dibentuk pertama kali di Yogyakarta pada tahun 2015 dengan tujuan untuk membantu lansia yang masih bekerja. Dilatari oleh rasa prihatin dan adanya keinginan untuk membantu lansia yang bekerja di Bali maka dibentuklah komunitas KNB pada tahun 2015. Orang-orang yang bergabung di komunitas KNB baik sebagai pengurus komunitas, anggota komunitas, ataupun sebagai partisipan kegiatan yang diadakan komunitas KNB disebut sebagai relawan KNB. KNB adalah sebuah komunitas sosial kemanusiaan non-profit yang bergerak untuk mengapresiasi lansia atau yang disebut dengan istilah Ausosok muliaAy yang memilih untuk tidak mengemis melainkan tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Indah, 2. Sesuai dengan namanya yaitu Ketimbang Ngemis Bali. KNB mengapresiasi sosok mulia yang ada di Bali dengan cara membantu dan mendorong kemandirian yang dimiliki serta diharapkan dapat menjadi stimulus bagi masyarakat lain agar tidak mengemis. Menurut data tahun 2023. Bali memiliki persentase penduduk lansia sebanyak 13,97%. Lebih dari setengahnya yaitu sebanyak 59,39% masih bekerja dengan pendapatan kurang dari satu juta rupiah (Badan Pusat Statistik, 2. Hal ini menunjukan bahwa masih banyak sosok mulia di Bali yang perlu untuk diapresiasi dan dibantu oleh KNB atas keteguhannya untuk tetap bekerja dan memilih tidak mengemis. Wirati . menyebutkan bahwa jumlah relawan KNB yang ada saat ini adalah sekitar 169 orang relawan. Melalui wawancara oleh peneliti dalam studi pendahuluan pada salah seorang relawan KNB pada tanggal 5 Mei 2022 dikatakan bahwa jumlah pengurus komunitas KNB adalah 13 orang. Ini menunjukan bahwa sebenarnya jumlah relawan yang ada saat ini tidak memungkinkan untuk membantu semua sosok mulia yang ada di Bali. Mengingat komunitas ini adalah komunitas non-profit, komunitas KNB tidak memberikan imbalan berupa upah atau gaji kepada relawan KNB. Sehingga menjadi relawan KNB adalah sebuah tindakan yang dilakukan secara sukarela dan Relawan KNB mendapatkan imbalan baik berupa uang, sertifikat kerelawanan, atau penghargaan lain. Bahkan setiap kegiatan kerelawanan oleh KNB tidak hanya dari donasi para donatur namun juga terkadang dari iuran relawan KNB. Meskipun tidak mendapatkan imbalan atau keuntungan secara materi, tetap saja ada orang yang mau menjadi relawan KNB. Hal ini dapat diartikan bahwa relawan KNB secara sukarela mau mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, hingga uang untuk melakukan mendapatkan keuntungan secara materi bagi relawan tersebut. Perilaku yang dilakukan oleh relawan KNB dengan tidak mendapatkan dan mengharapkan keuntungan dari perilaku menolong adalah bentuk nyata dari altruisme. Darlington . menyebutkan definisi altruisme secara lebih luas yaitu semua interaksi yang terjadi ketika individu mengorbankan diri mereka sendiri. Hogg & Cooper . menjelaskan bahwa seseorang bisa saja menginginkan orang lain merasa bahagia dan bebas dari kesulitan yang dialaminya bukan karena orang tersebut merasa terganggu melihat orang lain kesulitan namun karena mereka peduli dengan kesejahteraan orang lain. Dalam arti lain. Hogg & Cooper mencoba menjelaskan bahwa altruisme adalah sebuah keadaan dimana seseorang membantu orang lain untuk bisa bahagia karena kepedulian yang dimiliki sehingga mengupayakan orang lain mencapai Pfattheicher dkk . secara lebih sederhana mendefinisikan altruisme sebagai sebuah keyakinan dimana seseorang merasa harus berbuat baik dan Taufik . menyebutkan bahwa altruisme adalah sebuah perilaku pemberian pertolongan yang diberikan dengan tulus, murni, dan tidak mengharapkan balasan meskipun tidak memberikan manfaat untuk dirinya sendiri. Pertolongan yang diberikan didasari karena keinginan dari dalam diri seseorang untuk membantu orang lain tanpa adanya motif untuk mendapatkan balasan dari orang yang ditolong. Berdasarkan pengertian altruisme yang disebutkan sebelumnya, dapat dikatakan bahwa altruisme adalah sebuah Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 pemberian pertolongan yang dilakukan secara sukarela dan tidak mengharapkan adanya imbalan meskipun sebenarnya dapat merugikan diri sendiri. Altruisme berbeda dengan perilaku Prososial merupakan istilah umum untuk menggambarkan perilaku berbagi, membantu, dan perilaku menolong lainnya yang dilakukan secara positif namun memiliki motif yang sulit ditentukan, sedangkan altruisme adalah bentuk spesifik dari perilaku prososial yang dilakukan dengan motif sukarela tanpa adanya kepentingan pribadi (Eisenberg, 1. Semua relawan pasti menunjukan perilaku merupakan kegiatan berbagi, membantu, dan perilaku menolong lainnya yang dilakukan secara positif. Namun tidak semua perilaku menolong relawan didasari karena altruisme. Meskipun pada dasarnya menjadi relawan adalah sebuah bentuk yang didasari atas kesukarelaan, namun ketika masuk kedalam sebuah perilaku menolong, bisa jadi pertolongan yang diberikan bukanlah dilakukan secara Myers (Mulyadi dkk, 2. menyebutkan terdapat lima karakteristik altruisme yang ditunjukan melalui tingkah laku seseorang yaitu empathy, internal locus of control (LOC), belief on a just world, social Karakteristik altruisme inilah yang menjadi dasar munculnya perilaku menolong altruisme Penelitian ini dilakukan untuk mencari tahu altruisme yang dimiliki relawan KNB yaitu terkait karakteristik altruisme dan bagaimana dinamika altruisme terjadi dalam diri relawan hingga memunculkan perilaku menolong. Imadduddin . dalam penelitiannya menghasilkan temuan bahwa terdapat lima karaktersitik altruisme yang dimiliki oleh subjek penelitiannya yaitu empati, tanggung jawab sosial, ego yang rendah, kontrol diri internal dan kepercayaan pada dunia yang adil. Putra dkk . menyebutkan bahwa terdapat faktor suasana hati, empati, faktor sosiobiologi, meyakini keadilan sosial, dan faktor situasional yang menjadikan seseorang memiliki sifat tanpa pamrih sehingga menunjukan adanya altruisme. Penelitian tersebut mencari tahu sifat-sifat altruisme yang ada dalam diri relawan namun belum dapat menggambarkan bagaimana dinamika altruisme tersebut terjadi dalam diri relawan hingga menjadi sebuah perilaku Mengetahui gambaran dinamika altruisme hingga memunculkan perilaku menolong dapat membantu seseorang terutama relawan sebagai gambaran untuk bisa menyalurkan altruisme yang dimiliki dan apa manfaat untuk dirinya sendiri. Hal ini juga sebagai gambaran secara umum bagaimana menghasilkan sebuah perilaku menolong. Mengetahui altruisme juga dapat menunjukan perbedaan sifat-sifat yang dimiliki relawan KNB yang memiliki altruisme dengan orang lain yang tidak memiliki altruisme. Hal ini dapat bermanfaat bagi relawan itu sendiri untuk dapat lebih mengenal diri sendiri sehingga mampu memperkuat alasan untuk tetap menjadi relawan dan berperilaku menolong Bagi komunitas itu sendiri, penelitian ini bermanfaat untuk dapat menjawab mengapa seseorang bertahan menjadi relawan dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dimana penelitian kualitatif mencoba untuk memahami, mendalami, dan menerobos kedalam suatu fenomena atau gejala-gejala yang muncul (Suyitno, 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi yaitu berfokus untuk mendalami, memahami dan menafsirkan arti suatu fenomena atau peristiwa dan hubungannya dengan orang biasa dalam situasi tertentu. Harahap . menyebutkan bahwa terdapat kriteria tertentu untuk menggunakan fenomenologi dalam penelitian kualitatif, salah satu diantaranya adalah peneliti bertujuan untuk mengungkap sesuatu yang sifatnya mikrosubjektif atau mendetail, spesifik, dan mendalam. Informan dalam penelitian ini yaitu sebanyak empat orang relawan yang merupakan pengurus komunitas dan anggota KNB. Pemilihan ditentukan atas rekomendasi ketua komunitas dengan syarat sudah menjadi relawan KNB minimal satu tahun dan rutin mengikuti kegiatan yang diadakan komunitas. Relawan yang direkomendasikan oleh ketua komunitas KNB tidak mengetahui bahwa dirinya direkomendasikan untuk menjadi responden Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 penelitian sehingga keikutsertaannya untuk menjadi responden penelitian dilakukan secara sukarela dan bukan sebagai bentuk penugasan untuk menjadi responden penelitian. Screening tetap dilakukan kepada calon informan dengan cara bertanya alasan informan menjadi relawan dan mengapa informan memilih menjadi relawan di komunitas KNB. Peneliti juga memberikan informed consent kepada responden penelitian sebagai bentuk pertanggung jawaban peneliti terhadap hak-hak yang dimiliki responden dan sebagai bentuk bahwa penelitian dilakukan secara sukarela. Keempat responden penelitian diberikan kode H. F, dan FS. Pengumpulan data pada penelitian ini utamanya menggunakan metode wawancara semi terstruktur dengan tujuan agar dapat menemukan permasalahan dengan lebih terbuka dan mendalam sehingga permasalahan yang ada dapat terjawab. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan field note sebagai data tambahan. Alat bantu audio recorder Inbex M8 Wireless Microphone dan aplikasi Audio Recorder & Voice Recorder Pro digunakan dalam proses Wawancara dilakukan sebanyak dua kali untuk setiap responden penelitian dan diberikan kode berupa angka satu . atau angka dua . yang menunjukan sesi wawancara yang Hasil dari wawancara kemudian dibuatkan transkrip wawancaranya sebagai bahan untuk melakukan analisis data. Untuk menguji kredibilitas data, penelitian ini menggunakan perpanjangan pengamatan dengan cara kembali ke lapangan untuk melakukan pengamatan dan wawancara terhadap responden penelitian untuk menguji data yang diperoleh melalui wawancara (Abdussamad, 2. Dalam melakukan perpanjangan pengamatan, peneliti membuat daftar check list yang berisi semua pernyataan responden yang diperoleh melalui proses pengambilan data kemudian peneliti kembali bertemu dengan responden untuk melakukan diskusi dan wawancara. Selama proses perpanjangan pengamatan dilakukan, peneliti kembali berdiskusi dan melakukan wawancara kepada responden penelitian dengan menyesuaikan pedoman wawancara yang ada. Ketika jawaban dari responden menunjukan kemiripan atau kesamaan yang menunjukan konsistensi jawaban dari responden maka peneliti mencentang daftar check list yang ada. Diskusi dan wawancara yang dilakukan saat perpanjangan pengamatan ini tidak bertujuan untuk mengumpulkan data namun untuk menguji data yang sudah ada dengan melihat konsistensi dan kesesuaian jawaban responden dari pertanyaan yang diajukan. Ketika responden menjawab pertanyaan yang diajukan saat perpanjangan pengamatan menunjukan kesamaan atau konsistensi seperti saat proses pengambilan data, maka data yang dihasilkan saat proses pengambilan data dapat bisa dipercaya. Hal ini juga menunjukan bahwa responden tidak mengarang cerita untuk keperluan penelitian. Peneliti juga menggunakan bahan referensi berupa rekaman wawancara dan rekaman perpanjangan pengamatan untuk memastikan konsistensi jawaban responden terhadap pertanyaan yang Bahan referensi ini digunakan peneliti untuk melakukan berulang pada data yang dihasilkan dan sebagai dokumentasi yang digunakan untuk membuktikan bahwa data yang dihasilkan dapat bisa dibuktikan kredibilitasnya. Peneliti juga melakukan member chek untuk memastikan bahwa hasil penelitian sudah sesuai dengan apa yang dialami dan dirasakan Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu yang menjadi relawan komunitas KNB. Terknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis interaktif menurut konsep Miles & Huberman . yang terbagi menjadi tiga alur yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan dan verifikasi. Data yang dianalisis adalah data hasil wawancara berupa transkrip wawancara yang diberi kode VB dan catatan lapangan atau field note. Reduksi data peneliti lakukan di software MAXQDA 2020 hingga memunculkan tema-tema hasil temuan. Tema-tema hasil temuan disajikan dalam bentuk skema gambaran hasil penelitian. Penarikan simpulan dilakukan dengan menarasikan skema gambaran hasil penelitian yang kemudian diverifikasi oleh responden Peneliti melakukan verifikasi kepada responden penelitian juga sebagai bentuk member chek untuk memastikan bahwa hasil penelitian sudah sesuai dengan apa yang dialami dan dirasakan responden. Sugiyono . menyebutkan bahwa teknik analisis data interaktif dilakukan secara terus menerus hingga tuntas dan datanya Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 mencapai jenuh. Datanya akan dianggap jenuh apabila tidak ditemukan hal baru selama proses analisis penelitian berlangsung. Data yang diperoleh dari tiga responden terhadap pertanyaan yang diajukan serta saat peneliti melakukan analisis data dari ketiga responden memiliki kemiripan satu sama lain. Peneliti kemudian melakukan wawancara dan analisis terhadap data yang didapatkan dari responden keempat dan tidak ada hal baru yang ditemukan baik saat wawancara maupun saat analisis Hal ini menunjukan bahwa data yang diperoleh dari keempat responden penelitian sudah mencapai tahap jenuh karena tidak ada hal baru yang ditemukan dan data yang ada sudah cukup dapat menjawab apa yang dicari dalam Peneliti kemudian memutuskan untuk menyudahi proses pengambilan data dengan menggunakan empat responden penelitian. HASIL Penelitian ini menghasilkan empat temuan berupa empat tema besar yang menggambarkan altruisme pada relawan KNB. Empat tema tersebut yaitu karakteristik altruisme, motif untuk menjadi relawan, motivasi menolong, dan perilaku menolong. Untuk keperluan penulisan, peneliti akan menuliskan empat tema besar tersebut berdasarkan pertanyaan penelitian yang diajukan yaitu apa saja karakteristik altruisme pada relawan komunitas KNB dan bagaimana gambaran dinamika altruisme yang terjadi. Karakteristik Altruisme Penelitian ini menemukan empat karakteristik altruisme yang dimiliki relawan KNB yaitu empati, percaya karma, niat yang tulus, dan tanggung jawab. Karakteristik altruisme empati menunjukan bahwa relawan KNB memiliki kemampuan untuk dapat merasakan dan memahami apa yang dirasakan orang lain. Bagi keempat responden penelitian, empati merupakan hal yang Salah satunya ditunjukan melalui kutipan wawancara berikut. AuAempatiku, aku gak bisa aja aku lihat orang yang . utuh bantua. - kayak langsung pengen aja gitu . sendiri kayak ngalir gitu aja sihAy (N\VB_N_2: . Bagi keempat responden, empati merupakan hal yang secara alamiah memunculkan keinginan hingga mendorong dirinya untuk menolong orang lain. Empati dalam diri responden diawali dari pergejolakan emosional dalam diri responden ketika melihat orang yang Pergejolakan emosional yang terjadi diantaranya adalah perasaan sedih, prihatin, dan kasihan melihat sosok mulia yang dalam keterbatasan fisik yang dimiliki namun tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya (F\VB_F_2: FS\VB_FS_1: 42. H\VB_H_2: . Keempat responden menyadari bahwa sebelum menjadi relawan, mereka sudah merasakan adanya rasa empati untuk menolong orang Keempat responden menyatakan bahwa salah satu alasannya untuk menjadi relawan adalah untuk bisa menyalurkan keinginannya untuk menolong yang disebabkan oleh empati dalam dirinya. Batson . menjelaskan sebuah hipotesis empati-altruisme dimana perasaan empati yang dirasakan seseorang sebagai bentuk kepedulian kepada orang yang membutuhkan akan memunculkan motivasi altruistic untuk menolong orang tersebut. Dalam Batson disebutkan bahwa perilaku menolong altruistic yang ditimbulkan dari perasaan empati memiliki manfaat untuk diri sendiri namun manfaat tersebut bukanlah tujuan dari mengapa bantuan diberikan tetapi Dalam arti lain, empati dapat memunculkan perilaku menolong yang bisa jadi memiliki manfaat untuk diri sendiri namun manfaat tersebut bukanlah tujuan akhir dari bantuan yang diberikan sehingga ada atau tidaknya manfaat untuk diri sendiri tidak perilaku menolong yang didorong oleh empati. Karakteristik altruisme niat yang tulus menunjukan bahwa responden tidak memiliki alasan tertentu untuk menolong orang lain melainkan tindakan menolong dilakukan karena niat yang tulus untuk menolong. Salah satunya ditunjukan melalui kutipan wawancara Aukalau nolong tuh gak perlu pake alasan sih, kalau aku ya, selama kita bisa, oke lah lakuin, gak perlu alasanAy (F\VB_F_1: . Baik sebagai relawan maupun bukan, responden memberikan pertolongan karena memang ingin membantu meringankan beban orang yang ditolong tanpa adanya motif untuk menguntungkan diri sendiri (H\VB_H_2: . Pemberian pertolongan yang dilakukan juga harus memperhatikan kemampuan diri sendiri sehingga pertolongan yang diberikan benarbenar bermanfaat bagi orang yang ditolong. Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 Selain itu, dalam perannya sebagai relawan, responden tidak mengharapkan adanya imbalan dan menjadi relawan secara sukarela. Salah satunya ditunjukan melalui kutipan wawancara Aurelawan itu sukarela gak sih, menurut aku sih harusnya sukarelaAy (FS\VB_FS_1: . Responden menyadari bahwa menjadi relawan harus didasari atas kesukarelaan sehingga tidak perlu mengharapkan adanya imbalan yang diberikan dari kegiatan kerelawanan yang Hal ini menunjukan bahwa niat yang tulus untuk menolong tidak hanya ketika pemberian pertolongan itu dilakukan namun juga ketika responden memutuskan untuk menjadi relawan dan menolong melalui kegiatan kerelawanan yang diikutinya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Faturochman . bahwa niat merupakan factor penting yang menjembatani sikap dan perilaku seseorang. Dalam hal ini, responden yang sudah memutuskan untuk menjadi relawan dengan segala konsekuensinya tidak akan konsisten berperilaku menolong apabila tidak ada niat dari dalam dirinya. Sikap akan memengaruhi niat dan niat akan memengaruhi perbuatan atau perilaku sehingga responden bisa konsisten memberikan pertolongan (Faturochman, 2. Karakteristik altruisme percaya pada karma menunjukan bahwa responden percaya apa yang dilakukannya saat ini merupakan menifestasi terhadap apa yang akan diterimanya dimasa yang akan datang. Hal ini muncul salah satunya dikarenakan pengalaman responden yang pernah merasakan bahwa karma itu ada, berikut merupakan kutipan wawancaranya. AuHmm, aku, ee, neneknya sakit, aku bawain bubur atau ngasih makan apa, ndak ada seminggu aku sakit, temenku dateng, ngirimin makanan, kayak AuwahAy jadi ya karma dong ituAy (N\VB_N_2: . Hal ini sebenarnya dapat dikatakan bahwa responden menghubung-hubungkan apa yang terjadi saat ini dengan hal-hal yang pernah Namun meskipun demikian, percaya pada karma ini menjadi karakteristik altruisme yang melekat dalam diri responden karena responden percaya terhadap dunia yang adil yaitu ketika berperilaku baik maka dimasa yang akan datang akan menerima kebaikan (F\VB_F_2: 168. FS\VB_FS_2: . Karma itu sendiri merupakan bagian dari tradisi keagamaan yang awalnya muncul di India kemudian menyebar ke Asia misalnya adalah agama Hindu (White dkk. , 2. Bagi umat Hindu khususnya di Bali, karma menjadi salah satu landasan hidup untuk membangun harmonisasi kehidupan (Kurniasari, 2. Bali yang didominasi oleh masyarakat beragama Hindu tentu akan percaya pada karma sehingga sangat memungkinkan bahwa masyarakat di Bali yang beragama selain Hindu setidaknya mengetahui apa itu karma. Hal ini menjadi salah satu latar belakang mengapa responden percaya pada karma karena selain responden beragama Hindu, responden sudah beraktivitas di Bali dalam waktu yang lama sehingga mengetahui bahkan percaya akan adanya Karakteristik altruisme tanggung jawab ini menunjukan adanya kesadaran responden membutuhkan pertolongan. Tanggung jawab dalam hal ini dilihat melalui dua sudut pandang yaitu tanggung jawab responden sebagai relawan berkaitan dengan donasi yang harus disalurkan dan tanggung jawab responden sebagai masyarakat pada umumnya yang memiliki kewajiban untuk menolong ketika seseorang membutuhkan pertolongan. Tanggung jawab pada donatur menunjukan bahwa donasi yang ada merupakan hak bagi setiap sosok mulia yang ditolong sehingga donasi tersebut harus dibagikan kepada sosok mulia yang ada. Berikut merupakan salah satu kutipan wawancaranya. AuA ada donasi masuk, ada iniAy kayaknya kayak ngerasa aku tuh malah jadi kayak beban tanggung jawab gitu gak sih, ngerti gak sih, kalau kita gak punya kegiatan tuh kayak ngerasa bersalah gitu gak sih sama donatur gitu jadinyaAy (FS\VB_FS_2: . Donasi yang ada merupakan Amanah dari donatur sehingga donasi tersebut harus disalurkan melalui kegiata-kegiatan yang diadakan komunitas KNB. Disisi lain, responden menyadari bahwa dirinya memiliki tanggung jawab untuk menolong orang secara umum meskipun bukan bagian dari kegiatan kerelawanan yang diikuti (H\VB_H_2: 184. N\VB_N_1: . Menyadari bahwa dirinya memiliki rasa tanggung jawab untuk menolong, ini menunjukan bahwa responden memiliki peran untuk bermanfaat bagi Masyarakat sebagai bagian dari norma sosial yaitu kita harus membantu orang yang membutuhkan bantuan. Jamaludin & Lutfi . dalam penelitiannya menemukan Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 bahwa tanggung jawab memiliki pengaruh yang signifikan terhadap altruisme pada relawan. Semakin tinggi rasa tanggung jawab yang dimiliki relawan maka semakin kuat altruisme dalam dirinya. Jamaludin & Lutfi . juga menyebutkan rasa tanggung jawab terhadap organisasi atau komunitas yang diikuti menjadi hal yang penting untuk dimiliki disamping tanggung jawab terhadap orang lain. Gambaran Altruisme Dinamika altruisme pada relawan komunitas KNB diawali dari karakteristik altruisme yang mendasari timbulnya keinginan untuk bisa Keinginan untuk menolong tersebut kerelawanan hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi relawan komunitas KNB yang disebabkan motif yang dimilik untuk menjadi Menjadi relawan pasti akan menunjukan perilaku menolong. Perilaku menolong tersebut dapat terjadi karena didorong oleh motivasi menolong yang dimiliki. Motif untuk menjadi relawan Penelitian ini menemukan tiga motif yang menyebabkan responden memilih menjadi relawan di komunitas KNB. Ketiga motif tersebut yaitu lingkungan komunitas yang suportif, komunitas KNB memiliki ciri khas, dan karena responden sekadar ingin menolong. Motif lingkungan komunitas yang suportif menunjukan bahwa lingkungan komunitas berperan penting dalam mendorong seseorang untuk menjadi relawan. Salah satunya ditunjukan dalam kutipan wawancara berikut. Autapi temen-temen KNB juga asik-asik sih, mereka juga aktif, ada anggota baru mereka aktif, kayak nyambut gituAy (F\VB_F_2: . Hal ini menunjukan bahwa lingkungan komunitas KNB dimana relawan-relawan yang terbuka menerima anggota relawan yang baru membuat responden nyaman melakukan kegiatan kerelawanan. Selain itu, responden juga merasakan adanya kesamaan atau yang responden sebutkan sebagai sefrekuensi atau satu frekuensi yang menunjukan bahwa relawan komunitas KNB adalah orang-orang yang menyenangkan yang mempunyai tujuan, niat, pemikiran, dan sebagainya sama seperti yang responden rasakan (N\VB_N_2: . Temuan ini sejalan dengan teori interdependensi dalam Taylor dkk. bahwa setidaknya dua orang atau lebih yang berinteraksi saling memengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku sehingga hasil perilaku seseorang juga akan bergantung pada perilaku orang lain disekitarnya. Adanya kebersamaan serta kerjasama yang dilakukan antar relawan juga ditemukan dalam penelitian ini yang menunjukan hubungan antar relawan di komunitas KNB terjalin dengan baik (FS\VB_FS_2: . Meskipun konflik antar relawan KNB pasti akan terjadi, namun hal tersebut dapat bisa diselesaikan dengan tidak memengaruhi keinginan responden untuk terus menolong dengan menjadi relawan. Adanya Kerjasama antar relawan juga menunjukan bahwa setiap relawan memiliki tugasnya masing-masing dalam setiap kegiatan yang dilakukan (FS\VB_FS_2: . Motif komunitas yang memiliki ciri khas dalam hal ini menjadi motif responden menjadi relawan di komunitas KNB karena daya tarik dari komuntias KNB berbeda dengan komunitas lainnya. Berikut merupakan salah satu kutipan wawancaranya. AuKNB tuh punya roh sih, kayak punya apa ya, punya identitas lah, kita kan ke lansia, kebanyakan komunitas lain kan enggak,AAy (F\VB_F_1: . Karena identitas KNB yang berfokus untuk menolong lansia atau sosok mulia, hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi responden. Oleh karena ciri khas yang dimiliki komunitas KNB, hal tersebut yang membuat responden tertarik dan memutuskan untuk menjadi relawan di komunitas KNB (N\VB_N_2: . Temuan ini sebenarnya berkaitan alasan seseorang menjadi relawan. Syarif . menyebutkan bahwa relawan pada dasarnya melakukan kegiatan yang dicintainya sehingga dirinya menjadi relawan sebagai bentuk aktualisasi diri. Kecintaannya terhadap sesuatu kemudian menuntunnya memilih komunitas KNB karena dirasa sesuai dengan apa yang ingin dilakukannya. Motif sekadar ingin menolong dalam hal ini diartikan bahwa responden tidak memiliki tuntutan untuk menjadi relawan KNB melainkan karena responden sekadar ingin menolong sehingga dapat bermanfaat bagi orang lain. Berikut merupakan salah satu kutipan wawancaranya. AuYa seneng, emang aku dari dulu punya keinginan untuk membantu cuman gak tau caranyaAy (N\VB_N_2: . Responden terlebih dahulu memiliki keinginan untuk menolong namun karena tidak tahu Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 kerelawanan (FS\VB_FS_2: 46. H\VB_H_1: Motif sekadar ingin menolong ini menunjukan bahwa pada dasarnya responden dapat menjadi relawan di komunitas lain selain komunitas KNB. Responden memilih untuk menjadi relawan di komunitas KNB disebabkan karena lingkungan komunitas yang suportif dan komunitas memiliki ciri khas sehingga responden bisa menyalurkan keinginannya untuk sekedar ingin menolong. Motivasi menolong Responden menjadi relawan KNB pasti menunjukan perilaku menolong. Perilaku menolong tersebut digerakan oleh motivasi menolong sehingga terjadinya tindakan untuk Motivasi menolong yang ditemukan dalam diri responden yaitu motivasi eksternal dan motivasi internal. Motivasi eksternal dirasakan responden ketika berusia anak-anak yaitu lingkungan berperilaku baik dengan menolong atau berbagi. Berikut merupakan salah satu kutipan Audari keluarga dulu sih, dari orang tua, apa ya, kan kita kan hidup sederhana di kampung, cuma ibuku dulu sering walaupun sederhana, bantubantu, kasih ke tetangga-tetangga, kayak sembako atau apa, dulu sih itu motivasi akuAy (F\VB_F_1: . Bagi keempat responden, keluarga memiliki peran penting yang membuat dirinya termotivasi untuk menolong. Lingkungan keluarga yang mengajarkannya untuk menolong ketika masih anak-anak menjadi motivasi dan tertanam dalam diri responden bahwa dirinya harus selalu menolong Ketika ada orang yang membutuhkan Karena adanya rangsangan dari luar diri responden berupa hadiah yang didapatkannya Ketika dirinya membantu sesama, hal ini yang kemudian melekat dalam diri responden yang membuatnya menjadi Motivasi eksternal dirasakan responden hanya Ketika dirinya berusia anak-anak. Motivasi eksternal ini tertanam dalam diri responden hingga adanya proses proses kognitif yang dilakukannya sehingga menghasilkan motivasi internal. Dalam hal ini, motivasi internal yang dimiliki yaitu bahwa responden menolong karena nalurinya yang mendorong untuk memberikan pertolongan. Berikut merupakan salah satu kutipan wawancaranya. Autapi kalau nolong, kalau aku pribadi kayaknya muncul sendiri, lebih ke kayak naluri gak sih, gimana ya, maksudnya kayak Auoh ni orang butuh ditolongAy gitu gak sihAy (FS\VB_FS_2: . Responden juga memiliki perinsip untuk terus memberikan pertolongan (F\VB_F_1: . , keinginan untuk meringankan beban orang lain (H\VB_H_2: . , dan munculnya perasaan senang Ketika mampu menolong (N\VB_N_2: serta perasaan bersalah Ketika tidak mampu untuk menolong (N\VB_N_2: . Motivasi internal ini merupakan dorongan yang muncul dari dalam diri responden yang mempercepat terjadinya Tindakan untuk Ini merupakan factor yang kuat yang mendorong terjadinya Tindakan untuk menolong baik sebagai relawan yang melakukan kegiatan kerelawanan maupun Ketika bukan sebagai relawan. Perilaku Menolong Temuan ini pada dasarnya menunjukan bentuk pertolongan yang dilakukan responden selama menjadi relawan KNB. Dalam hal ini, tema perilaku menolong juga menunjukan bahwa adanya efek positif yang dirasakan responden setelah memberikan pertolongan. Bentuk pertolongan yang dilakukan responden yaitu pertolongan berupa dukungan emosional dan bantuan secara fisik atau bantuan instrumental. Dukungan emosional diberikan responden Ketika bertemu dengan sosok mulia dan sosok mulia mulai bercerita tentang kesehariannya. Berikut merupakan salah satu kutipan AuTemen cerita sih, karena kan dari beberapa ini . osok muli. , kebanyakan mereka tinggalnya sendiri, kebanyakan mereka tinggalnya sendiri jadi ketemu itu . , ee, ya itu, dia kayak menceritakan, ee, kejadian-kejadian atau apa yang dia alami selama gak sama kita. Ay (N\VB_N_2: . Responden saat bertemu dengan sosok mulia pasti menempatkan dirinya menjadi teman cerita bagi sosok mulia. Dengan menjadi teman bercerita bagi sosok mulia, responden menjadi tahu cerita pengalaman sosok mulia dan kesulitan yang dihadapinya sehingga bisa memberikan bantuan secara fisik yang dapat bermanfaat secara langsung bagi sosok mulia (FS\VB_FS_1: . Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 Bantuan secara fisik atau bantuan instrumental juga diberikan responden kepada sosok mulia. Bantuan berupa uang, makanan, obat-obatan, merupakan bantuan yang biasanya diberikan kepada sosok mulia. Hal ini menyesuaikan dengan apa yang menjadi kebutuhan dari sosok Salah satunya adalah Ketika ada sosok mulia yang diketahui memiliki penyakit, responden mengajak temannya yang merupakan dokter untuk memeriksa keadaan dari sosok mulia tersebut. Berikut merupakan kutipan Audia tuh . alah satu sosok muli. punya ambeien, nah temenku kan punya tuh kenalan lah dokter, nah ada nanya terus kalau kayak gini gini kondisinya gimana, umurnya segini, dikasihlah, oh kalau misalnya gini coba aja kasih aja obat giniAy (FS\VB_FS_2: . Responden juga selalu berusaha untuk menolong lansia pada umumnya yang sedang berjualan. Keempat responden sepakat bahwa membeli dagangan atau menggunakan jasa yang ditawarkan juga dapat membantu kehidupan sosok mulia (H\VB_H_1: 199. FS\VB_FS_2: F\VB_F_1: . Selain itu, membantu mempromosikan apa yang dijual atau ditawarkan sosok mulia melalui sosial media juga dapat membantu sosok mulia mendapatkan penghasilan yang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya (N\VB_N_2: . Responden menyadari bahwa perilaku menolong yang dilakukannya membawa efek positif dalam dirinya. Efek positif tersebut ialah adanya peningkatan dalam hal perasaan, pikiran, dan perilaku berupa menjadi lebih peka terhadap kondisi sekitar (H\VB_H_2: . , merasa menjadi lebih dewasa (FS\VB_FS_1: . , lebih termotivasi untuk bekerja (N\VB_N_2: . , menjadi lebih bersyukur (F\VB_F_1: . , dan semakin ingin menolong orang lain (N\VB_N_2: Efek positif ini kemudian dapat meningkatkan motivasi menolong dalam diri responden dan memperkuat karakteristik altruisme yang melekat dalam dirinya. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian ditemukan terdapat empat tema besar yaitu karakteristik altruisme, motif untuk menjadi relawan, motivasi menolong, dan perilaku menolong. Untuk keperluan penulisan, peneliti akan membahas keempat tema besar tersebut berdasarkan pertanyaan penelitian yaitu apa saja karakteristik altruisme yang dimiliki relawan KNB dan bagaimana gambaran dinamika altruisme dalam diri relawan KNB. Gambar 1. Skema altruisme relawan KNB Karakteristik Altruisme Penelitian ini menemukan empat karakteristik altruisme yang melekat dalam diri relawan KNB yaitu empati, tanggung jawab, niat yang tulus, dan percaya karma. Myers (Mulyadi dkk, 2. menyebutkan bahwa secara umum terdapat lima karakteristik altruisme dalam diri seseorang yaitu empathy, belief on a just world, social responsibility, internal locus of control, dan low egocentricm. Penelitian ini menemukan dua karakteristik altruisme yang sesuai dengan yang disebutkan Myers yaitu empati dan tanggung jawab. Pada dasarnya, altruisme akan terjadi dengan adanya empati dalam diri seseorang (Mulyadi dkk, 2. Dalam hal ini, relawan dapat mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang ditolong seolah-olah berada dalam situasi dan kondisi yang sama seperti yang dialami orang yang ditolong. Secara spesifik pada relawan komunitas KNB, ketika bertemu dengan sosok mulia dan sosok mulia tersebut mulai menceritakan kondisi dan situasi yang dialami serta kesulitan yang sedang dihadapi, relawan dapat bisa merasakan sebagaimana apa yang dirasakan oleh sosok mulia. Snyder & Lopez . mendefinisikan empati sebagai respon emosional yang berorientasi pada orang lain yang dipicu oleh kesejahteraan orang tersebut. Hal ini menunjukan bahwa relawan memiliki kemampuan untuk dapat merasakan apa yang Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 dirasakan orang lain secara emosional. Wibowo . menyatakan bahwa empati menjadi salah satu factor kunci yang berpengaruh terhadap altruisme relawan. Seorang relawan dengan rasa empati dapat membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan dari orang yang dibantunya (Putra dkk, 2. Empathy-altruism hypothesis menurut Batson . alam Snyder & Lopez, 2. dikatakan bahwa umumnya perilaku menolong bersifat egoistik namun tetap ada yang bersifat altruistik. Melihat orang lain menderita akan memunculkan perasaan sedih dan emosi lain yaitu empati. Ketika menolong orang lain karena diri sendiri merasa tertekan dengan emosi yang dirasakan dan memberikan pertolongan untuk mengurangi perasaan yang dirasakan, maka pertolongan yang diberikan bersifat egoistik. Ketika menolong orang lain karena didasari oleh empati, maka pertolongan yang diberikan bersifat altruistik (Saleh, 2. Anggraini & Hartini . menyebutkan bahwa relawan merupakan seseorang yang memiliki empati dan mengutamakan kesejahteraan orang lain terlebih dahulu dibandingkan diri sendiri. Hal ini semakin memperkuat keberadaan empati dalam diri relawan yang menunjukan bahwa menunjukan perilaku menolong yang altruistik. Pada penelitian terdahulu yakni dalam NiAomah . menunjukan adanya hubungan yang positif antara empati dan perilaku altruistic dimana semakin tinggi empati yang dimiliki maka semakin tinggi perilaku altruistic yang Karakteristik altruisme yang kedua adalah tanggung jawab. Tanggung jawab dalam hal ini merujuk pada dua hal yaitu tanggung jawab untuk menyalurkan donasi yang ada sebagai amanah dari pemberi donasi dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dimana seseorang merasa harus memberikan pertolongan pada orang yang Tanggung jawab yang dimiliki relawan didasari oleh adanya norma sosial yang menyatakan bahwa seseorang harus menolong ketika orang lain membutuhkan pertolongan (Mulyadi dkk, 2. Mulyadi dkk . juga menyatakan bahwa dalam norma sosial terdapat tanggung jawab sosial yang dapat menjadi sebab seseorang melakukan tindakan menolong karena dibutuhkan meskipun tidak mendapatkan imbalan apapun. Karakteristik altruisme yang ketiga adalah niat yang tulus. Prawoto . menyebutkan bahwa perilaku menolong yang dilakukan seseorang dipengaruhi oleh dua motif yaitu motif egoistik dan motif altruistik. Motif egoistik menunjukan bahwa pemberian pertolongan yang dilakukan adalah sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan diri sendiri namun tidak berfokus untuk memberikan pertolongan. Motif altruistik menunjukan bahwa pemberian pertolongan yang dilakukan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan kesejahteraan diri sendiri. Niat yang tulus untuk menolong menunjukan bahwa relawan KNB memiliki motif altruistic karena pemberian pertolongan yang dilakukan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain tanpa mementingkan kepentingan Irfanna Rosiana menyebutkan bahwa relawan memberikan pertolongan karena keinginannya untuk memperbaiki kondisi orang lain dan bukan sebagai bagian untuk mencari keuntungan pribadi dari apa yang dilakukan menunjukan adanya intrinsic motivation yang dominan dalam dirinya. Selain itu. Irfanna & Rosiana pertolongan yang tulus tidak terlepas dari pola asuh yang diberikan orang tua dan lingkungan yang membuatnya dapat mengembangkan perilaku menolongnya. Niat yang tulus berarti relawan tidak mengarapkan adanya timbal balik apapun dari pertolongan yang Karakteristik altruisme yang keempat adalah percaya pada karma. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, karma diartikan sebagai hukum sebab akibat. Percaya pada karma dalam hal ini dapat diartikan bahwa relawan percaya pada hukum sebab akibat yakni apa yang dilakukannya sekarang menjadi sebab akan akibat apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. White dkk . menyebutkan bahwa menurut hukum konsekuensi untuk kesuksesan ataupun kemalangan di masa depan. Seseorang mendapatkan apa yang pantas dan layak untuk mereka dapatkan. Relawan percaya bahwa ketika dirinya berperilaku baik dengan menolong orang lain, maka di masa yang akan datang, dirinya akan mendapatkan AuhadiahAy sebagai konsekuensi dari perilaku baik yang Hal ini berkaitan juga dengan kepercayaan bahwa dunia adalah tempat yang adil dimana orang baik akan mendapatkan Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 AuhadiahAy dan orang buruk akan mendapatkan AuhukumanAy (Mulyadi dkk, 2. Dalam hal ini, relawan KNB pada dasarnya tidak berharap untuk mendapatkan AuhadiahAy dari apa yang dilakukannya, namun relawan percaya bahwa apa yang dilakukannya saat ini merupakan manifestasi untuknya dimasa yang akan datang. Konsekuensi karma dapat bermanisfestasi dalam kehidupan seseorang saat ini atau dalam kondisi kelahiran kembali . di kehidupan selanjutnya (White dkk. Relawan meyakini bahwa dunia itu adil yaitu ketika relawan menanam kebaikan maka suatu saat akan dibalas dengan kebaikan (Putra dkk, 2. Wibowo . juga menyatakan bahwa relawan yang memiliki keyakinan bahwa dunia itu adil akan dengan sukarela dan ikhlas melaksanakan kegiatan kerelawanan. Gambaran Dinamika Altruisme Gambaran dinamika altruisme pada relawan komunitas KNB dapat dilihat pada Gambar 1 yang menunjukan bahwa karakteristik altruisme menjadi dasar keinginan untuk menolong. Karakteristik altruisme yang dalam penelitian ini ditemukan empat karakteristik altruisme menjadi dasar munculnya keinginan untuk menolong dalam diri relawan. Keinginan untuk menolong itu kemudian disalurkan dengan cara mengikuti memutuskan untuk menjadi relawan disebabkan oleh motif-motif yang dimiliki untuk menjadi Motif menjadi Relawan Penelitian ini menemukan bahwa relawan KNB memiliki tiga motif atau alasan untuk menjadi relawan di komunitas KNB. Tiga motif tersebut adalah karena lingkungan komunitas yang suportif, relawan sekadar ingin menolong, dan komunitas yang memiliki ciri khas. Ketiga motif tersebut yang menyebabkan responden memilih untuk menjadi relawan di komunitas KNB hingga bertahan menjadi relawan selama lebih dari satu tahun. Lingkungan komunitas yang suportif menunjukan bahwa relawan di komunitas KNB secara umum terbuka dan menerima orang-orang baru yang ingin menjadi relawan. Lingkungan komunitas yang suportif akan membuat relawan menjadi semangat dan semakin termotivasi untuk mengikuti kegiatan kerelawanan yang akan memiliki efek secara langsung terhadap eksistensi dari komunitas itu sendiri. Taylor dkk interdependensi dalam teori-teori psikologi sosial yang berfokous pada analisis perilaku dari dua atau lebih individu yang saling Interdependensi terjadi ketika dua atau lebih orang yang berinteraksi saling memengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku satu sama lain. Ini menunjukan bahwa hasil perilaku seseorang akan bergantung dari perilaku orang lain disekitarnya karena saling memengaruhi satu sama lain. Dalam hal ini, relawan di komunitas KNB memengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku responden. Karena lingkungan komunitas KNB yang suportif membuat responden memilih untuk menjadi relawan KNB dan bertahan menjadi relawan dalam jangka waktu lebih dari satu Pada dasarnya, responden menjadi relawan karena responden memiliki keinginan untuk menyalurkan keinginannya menolong orang lain. Responden sekadar ingin menolong sehingga seharusnya komunitas apapun dapat menjadi wadah untuk responden menyalurkan keingnannya untuk menolong. Taylor dkk . menyebutkan bahwa banyak orang menjadi relawan karena nilai personal yang dimiliki seperti keinginan untuk menolong orang yang kurang beruntung, kasih sayang pada orang lain, dan keinginan untuk memberikan perhatian khusus pada kelompok Meskipun responden sekadar ingin menolong orang lain, namun pemberian pertolongan yang dilakukan diberikan khusus untuk orang yang kurang beruntung dan kelompok tertentu yang memang memerlukan bantuan, contohnya adalah lansia yang masih Sekadar ingin menolong ini disertai dengan keinginan responden untuk membantu lansia yang masih bekerja meskipun memiliki keterbatasan karena usia yang menua. Syarif . menyebutkan bahwa relawan sejatinya melakukan sesuatu yang disukainya. Hal ini sulit untuk didefinisikan dengan jelas karena berbagai hal dapat memengaruhi kesukaan seseorang terhadap sesuatu. Dalam hal ini, relawan KNB tentu menyukai kegiatan yang dilakukannya untuk membantu lansia yang masih bekerja. Dalam perspektif yang lebih tertuju pada alasan mengapa relawan KNB menyukai kegiatannya membantu lansia, hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Misalnya saja karena relawan memiliki pengalaman pribadi dengan sosok lansia yang Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 mengingatkannya kepada sosok yang ada dalam McCurley dkk . menyebutkan bahwa komunitas yang memiliki tujuan dan arah yang jelas akan memengaruhi Keputusan relawan apakah komunitas tersebut menjadi layak untuk disumbangkan waktu mereka dalam melakukan aktivitas kerelawanan. Tujuan dan arah yang jelas dari sebuah komunitas terlebih apabila tujuan sebuah komunitas berbeda dari komunitas pada umumnya dapat menjadi ciri khas dari komunitas tersebut. Dalam hal ini, komunitas KNB memiliki tujuan dan arah yang jelas yang menjadi pembeda dari komunitaskomunitas lainnya yaitu berfokus menolong lansia yang masih bekerja yang ada di Bali menjadi ciri khas dari komunitas KNB. Ciri khas yang dimiliki komunitas KNB ini memengaruhi Keputusan responden untuk menjadi relawan di komunitas KNB. Relawan cenderung akan menghargai dan beraktivitas pada organisasi kerelawanan yang memiliki tujuan dan arah yang jelas. Motivasi Menolong Menjadi relawan pasti menunjukan perilaku Sebelum membahas perilaku menlong pada relawan KNB, untuk bisa menolong tersebut didorong oleh motivasi Motivasi diartikan sebagai suatu kekuatan yang dapat menggerakan seseorang untuk melakukan sesuatu (Rosyidi, 2. Penelitian ini menemukan motivasi menolong yang dimiliki relawan KNB terdiri dari motivasi eksternal dan motivasi internal. Motivasi eksternal yang dimiliki relawan KNB yaitu pengaruh dari keluarga ketika relawan berusia anak-anak. Taylor dkk . menyebutkan bahwa saat anak-anak tumbuh, mereka diajari untuk berbagi dan menolong yang kemudian dipengaruhi adanya penghargaan yang diberikan sehingga mendorong anak untuk memandang dirinya sebagai orang baik yang akan terus menolong. Hal ini dapat dijelaskan melalui perspektif belajar yaitu saat anak-anak tumbuh, mereka meniru perilaku yang ditunjukan orang tuanya melalui belajar observasional (Taylor dkk, 2. Suroso . observasional, individu tidak sekadar meniru perilaku orang lain melainkan terdapat juga proses kognitif dan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan pengalaman sebelumnya, moral, dan cara pandangnya. Karena adanya proses dan pertimbangan-pertimbangan tersebut, perilaku yang ditiru ketika masa anak-anak dapat diinternalisasikan dan tumbuh menjadi nilai-nilai yang melekat dalam Nilai-nilai yang melekat dalam diri relawan dan telah melalui proses kognitif yang sedemikian rupa menghasilkan motivasi internal untuk menolong. Pendekatan kognitif menekankan pada interpretasi dari situasi saat ini yang dilihat, dirasakan, dan dialami sehingga menghasilkan sebuah pemahaman sebagai respon dari apa yang terjadi (Taylor dkk, 2. Hal ini dijelaskan juga oleh Saleh keputusan dari Latane dan Darley yang menyebutkan bahwa terdapat pertimbangan kognitif yang terkadang terjadi di luar kesadaran seseorang yang memengaruhi terjadinya tindakan untuk menolong. Dalam hal ini, motivasi internal yang dimiliki relawan KNB merupakan hasil dari interpretasi terhadap situasi sosial yang saat ini terjadi yaitu masih ada lansia yang bekerja ditengah keterbatasan fisik yang dimiliki. Relawan KNB interpretasi terhadap kondisi lingkungan tindakan menolong akan diberikan. Taylor dkk . menyebutkan bahwa setting fisik juga memengaruhi tindakan menolong sehingga ketika kondisi lingkungan tidak mendukung relawan untuk menolong maka tindakan pemberian pertolongan tidak akan terjadi. Ketika relawan dihadapi dengan kondisi dimana dirinya tidak mampu memenuhi keinginannya untuk menolong maka akan muncul perasaan kecewa dan sedih namun perasaan yang muncul itu menjadi motivasi bagi relawan agar pada kesempatan selanjutnya, relawan semakin berusaha untuk bisa memberikan pertolongan. Ketika relawan mampu untuk memenuhi harapan dan keinginannya untuk menolong maka akan muncul perasaan senang dan perasaan lega. Taylor dkk . juga menyebutkan bahwa memberikan pertolongan pada orang lain dapat membuat si penolong merasa lebih baik dan memunculkan perasaan positif. Perasaanperasaan yang muncul ini yang kemudian menjadi motivasi untuk relawan terus menolong orang yang perlu untuk ditolong. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan Saleh . bahwa faktor emosi atau perasaan juga Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 dapat mendorong seseorang berperilaku Perilaku Menolong Menjadi relawan sudah tentu akan menunjukan perilaku menolong. Perilaku menolong yang ditunjukan oleh relawan KNB yaitu adanya dukungan emosional dan adanya bantuan secara fisik . antuan instrumenta. yang diberikan. Perilaku menolong ini juga memberikan efek secara langung terhadap diri relawan dalam hal afeksi, kognisi, dan konasi. Dukungan emosional dilakukan ketika relawan berkunjung ke tempat tinggal atau tempat sosok mulia bekerja. Hal ini merupakan cara relawan untuk mengetahui kesulitan yang sedang dihadapi sosok mulia sehingga relawan dapat memberikan bantuan yang sesuai dan bermanfaat bagi sosok mulia. Selain itu, hal ini juga merupakan cara relawan untuk membantu mereduksi masalah dan mengurangi perasaan negative yang dirasakan sosok mulia. Hal ini dilakukan dengan cara mendengarkan cerita pengalaman sosok mulia sehingga harapannya dapat membuat sosok mulia merasa lebih Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu bahwa dukungan emosional pada lansia dilakukan dengan memperhatikan kondisi lansia, mendengarkan curhatan hati, dan menanyakan perasaan lansia (Suhartanti dkk. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian Rizaldi & Rahmasari . yaitu memberikan dukungan kepada lansia dapat membantu memperkuat resiliensi dalam diri Relawan KNB juga memberikan bantuan dalam bentuk fisik atau instrumental. Bantuan yang diberikan ini adalah untuk merespon apa yang menjadi kebutuhan sosok mulia. Bantuan yang diberikan bisa berupa uang, sembako, obatobatan, dan sebagainya menyesuaikan dengan kebutuhan sosok mulia dan donasi yang tersedia. Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa bantuan secara langsung dan nyata . erbentuk fisi. seperti uang, makanan, dan sebagainya adalah bentuk dari dukungan instrumental. Bantuan instrumental juga dapat berbentuk (Muthmainah, 2. Suhartanti dkk . menyimpulkan bahwa dukungan instrumental dengan memberikan bantuan secara langsung dapat membantu menurunkan masalah yang dialami lansia. Perilaku menolong yang dilakukan relawan juga membawa perubahan dalam hal perasaan, pikiran, dan sikap. Relawan menjadi lebih dewasa, menjadi lebih peka terhadap kondisi orang sekitarnya, dan menjadi lebih banyak bersyukur. Hal ini merupakan efek positif yang didapatkan dari perilaku menolong yang dilakukannya. Efek positif ini kemudian memperkuat motivasi menolong yang dimiliki relawan karena dapat kemudian akan membuat relawan menjadi semakin termotivasi untuk menolong. Efek positif ini juga pada akhirnya akan memperkuat karakteristik altruisme yang memunculkan keinginan untuk menolng dalam diri relawan. KESIMPULAN Karakteristik altruisme yang dimiliki relawan komunitas KNB terdiri dari empati, niat yang tulus, percaya karma, dan tanggung Gambaran dinamika altruisme yang terjadi diawali dari munculnya keinginan untuk menolong ketika responden belum Untuk responden kemudian mencari komunitaskomunitas komunitas KNB. Merasa sejalan dengan apa yang dilakukan komunitas KNB, responden mendaftarkan diri untuk menjadi relawan KNB dengan pertimbangan motif untuk menjadi relawan yang dimiliki. Setelah mendaftarkan diri dan menjadi relawan KNB, responden kemudian berperilaku menolong yang didorong oleh motivasi menolong Perilaku menolong yang dilakukan memberikan efek yang dapat meningkatkan motivasi menolong yang dimiliki dan memperkuat karakteristik altruisme yang melekat dalam diri relawan. Saran bagi relawan pada umumnya adalah bahwa menjadi relawan tidak mendapatkan keuntungan pribadi. Menjadi relawan berarti sukarela menolong untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain dengan tidak adanya kepentingan pribadi untuk mendapatkan imbalan dan sebagainya. Secara KNB, mengapresiasi sosok mulia yang memilih untuk bekerja dan tidak mengemis, relawan juga harus bisa mengapresiasi diri sendiri agar Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 184-200 semangat untuk bisa menolong sosok mulia tetap ada. Saran bagi komunitas pada umumnya agar bisa memfokuskan arah dan tujuan komunitas serta sasaran orang yang ditolong. Secara khusus bagi komunitas KNB agar bisa lebih memanfaatkan sosial media sebagai sarana informasi kegiatan agar lebih banyak orang yang bergabung menjadi relawan KNB. Saran bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk mencari tahu lebih dalam mengenai altruisme agar dapat meneliti menggunakan metode penelitian dan teknik pengumpulan data yang berbeda. Misalnya dengan menyebarkan kuesioner pengukuran altruisme dan dilanjutkan dengan melakukan wawancara mendalam agar dapat bisa memperoleh hasil penelitian yang lebih Batson. Empathy-induced altruistic motivation. Prosocial motives, emotions, and behavior: The better angels of our nature. , 15Ae34. https://doi. org/10. 1037/12061-001 DAFTAR PUSTAKA