Volume 1 Issue 1 Oktober 2025 p-ISSN: x-x e-ISSN: x-x hal: 011-024 https://e-journallppmunsa. id/jram https://e-journallppmunsa. id/jram DINAMIKA PERILAKU PETANI LAHAN KERING DI DESA PELAT KECAMATAN UNTER IWIS KABUPATEN SUMBAWA Wirawan Dimeng1. Ieke Wulan Ayu2*. Nila Wijayanti3. Ahmad Yani4. Syaifuddin Iskandar5 1,2,3,4 Program Pascasarjana Magister Agribisnis. Universitas Samawa. Sumbawa Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Samawa. SumbawaBesar Corresponding Author: iekewulanayu002@gmail. Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perilaku petani dalam sistem pertanian lahan kering di Desa Pelat. Kecamatan Unter Iwes. Kabupaten Sumbawa. NTB. Penelitian dilaksanakan di Desa Pelat Kecamatan Unter Iwes. Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat dari Bulan Maret-Juli 2025, menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian menggunakan dua jenis data sekunder dan primer yaitu data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani lahan kering menggunakan kuesioner. Data sekunder yang dikumpulkan mencakup informasi mengenai lokasi geografis penelitian, kondisi demografi penduduk, luas wilayah, serta gambaran umum tentang Desa Pelat. Kecamatan Unter Iwes. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui metode dokumentasi. Metode pengumpulan data dalam penelitian, menggunakan observasi, wawancara mendalam, kuesioner, studi pustaka. Responden dalam penelitian ini adalah petani jagung lahan kering di Desa Pelat. Kecamatan Unter Iwes, yang dipilih melalui teknik accidental sampling dan purposive sampling, sebanyak 50 orang. Metode analisis data dalam penelitian, yaitu analisis deskriptif dan Miles dan Hubberman. Hasil penelitian menujukkan bahwa perilaku petani sangat dipengaruhi oleh pengalaman kolektif, norma budaya, dan peran kelembagaan seperti kelompok tani dan pemerintah desa. Perilaku petani dalam mengelola lahan kering sangat dipengaruhi oleh faktor usia, tingkat pendidikan, pengalaman bertani, luas lahan, dan status kepemilikan lahan. Keikutsertaan dalam kelembagaan lokal berperan penting dalam mendorong adaptasi dan kolaborasi petani. Oleh karena itu, pemahaman terhadap karakteristik ini penting sebagai dasar dalam merancang kebijakan dan program pemberdayaan petani lahan kering yang efektif. Kata Kunci: Perilaku Petani. Lahan Kering. Dinamika Sosial. Desa Pelat. PENDAHULUAN Pertanian lahan kering merupakan salah satu bentuk adaptasi masyarakat pedesaan terhadap kondisi ekologis yang menantang, seperti curah hujan yang rendah, degradasi lahan, dan terbatasnya akses terhadap sumber daya pertanian. Di wilayah Nusa Tenggara Barat, khususnya di Kabupaten Sumbawa, sektor pertanian lahan kering memainkan peran penting dalam menopang kehidupan ekonomi masyarakat. Volume 1 Issue 1 Oktober 2025 p-ISSN: x-x e-ISSN: x-x hal: 011-024 https://e-journallppmunsa. id/jram https://e-journallppmunsa. id/jram Kabupaten Sumbawa memiliki daerah lahan kering yang dimanfaatkan sebagai lahan kering pertanian tanaman pangan seluas 86. 494 Ha, dan merupakan lahan kering tanaman pangan terluas di NTB (Ayu et al. , 2. Budidaya jagung di Kabupaten Sumbawa sebagian besar di lakukan di lahan kering iklim kering, dan peningkatan produksi tanaman jagung terkendala oleh kondisi lahan kering dan dampak perubahan Lahan kering tergolong lahan suboptimal dengan pertanian non padi yang dilakukan oleh masyarakat di daerah atau lahan yang terdapat di daerah kering atau daerah . ekurangan ai. yang bergantung pada air hujan sebagai sumber air utama (Ayu et al. , 2. Desa Pelat, yang berada di Kecamatan Unter Iwes, adalah salah satu contoh wilayah yang secara geografis didominasi oleh lahan kering dan bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber penghidupan utama masyarakatnya. Perilaku petani dalam mengelola lahan kering menjadi faktor kunci yang menentukan produktivitas dan keberlanjutan pertanian. Tinggi rendahnya pedapatan sangat dipengaruhi oleh perilaku petani. Perilaku petani mencakup tindakan, sikap, dan kebiasaan yang dilakukan dalam aktivitas pertanian, termasuk keputusan dalam memilih komoditas, pengelolaan lahan, penggunaan teknologi, serta interaksi dengan pasar dan Keterbatasan sumber daya dapat membatasi adopsi teknologi dan praktik yang lebih maju (Wulandari et al. , 2. Pemahaman yang memadai memungkinkan petani untuk mengoptimalkan hasil pertanian dan mengadopsi inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas (Priantika et al. , 2. Namun, perilaku ini tidak terbentuk secara instan, melainkan merupakan hasil dari dinamika sosial, ekonomi, budaya, serta interaksi dengan lingkungan alam yang khas. Faktor-faktor seperti pola adaptasi terhadap perubahan musim, pemilihan jenis tanaman, penggunaan teknologi tradisional atau modern, serta hubungan antar petani dalam kelompok tani, menjadi bagian penting dari dinamika perilaku tersebut. Selain itu, berbagai program pemerintah maupun lembaga non-pemerintah yang berkaitan dengan pengembangan pertanian lahan kering sering kali tidak menghasilkan dampak yang optimal karena belum sepenuhnya mempertimbangkan dinamika perilaku petani di tingkat lokal. Perilaku petani dipangaruhi faktor dinamika sosial, budaya, dan kelembagaan yang mengitarinya. Keputusan petani dalam memilih komoditas, mengatur waktu tanam, mengakses bantuan pemerintah, hingga bergabung dalam kelompok tani atau lembaga lokal, merupakan bagian dari perilaku kolektif yang dibentuk oleh Volume 1 Issue 1 Oktober 2025 p-ISSN: x-x e-ISSN: x-x hal: 011-024 https://e-journallppmunsa. id/jram https://e-journallppmunsa. id/jram pengalaman historis, norma sosial, serta interaksi antar aktor di tingkat lokal. Oleh karena itu, memahami dinamika perilaku petani tidak cukup hanya dari aspek teknis pertanian, tetapi perlu ditinjau dari pendekatan sosiologis yang melihat petani sebagai aktor sosial dalam struktur masyarakat pedesaan. Lebih lanjut, keberadaan kelembagaan lokal seperti kelompok tani, koperasi, lembaga adat, hingga peran pemerintah desa, memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk perilaku dan strategi adaptif petani terhadap kondisi lahan kering. Namun, dalam banyak kasus, masih terdapat kesenjangan antara kebijakan yang bersifat top-down dengan praktik dan kebutuhan riil di lapangan. Hal ini seringkali menyebabkan tidak sinkronnya program pertanian dengan perilaku dan pola pikir petani. Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman yang lebih mendalam terhadap cara petani berinteraksi dengan lingkungannya, membuat keputusan, serta merespons berbagai tantangan dalam pengelolaan lahan kering. Septiadi et al. , . menjelaskan bahwa faktor sosial ekonomi berperan penting dalam mendukung pendapatan petani jagung di NTB. Kondisi sosial dan budaya dapat mempengaruhi kerja sama, adopsi teknologi, serta perubahan dalam praktik pertanian tradisional (Fatmasari et al. , 2. Informasi yang baik membantu petani dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mengelola usahataninya (Sunandar et al. , 2. Dengan menelaah dinamika perilaku petani di Desa Pelat, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif tentang faktor-faktor yang memengaruhi perilaku agraris di wilayah lahan kering. Pemahaman ini tidak hanya relevan dalam konteks akademis, tetapi juga penting sebagai dasar perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih efektif dalam pengembangan pertanian berkelanjutan di wilayah marginal seperti Sumbawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk Desa Pelat,Kecamatan Unter Iwes Kabupaten Sumbawa,NTB. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus pada petani lahan kering. Penelitian dilaksanakan di Desa Pelat Kecamatan Unter Iwes. Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat dari Bulan Maret-Juli 2025. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada metode purposive sampling, dengan pertimbangan Volume 1 Issue 1 Oktober 2025 p-ISSN: x-x e-ISSN: x-x hal: 011-024 https://e-journallppmunsa. id/jram https://e-journallppmunsa. id/jram bahwa Desa Pelat adalah salah satu desa di Kecamatan Unter Iwes yang memiliki lahan kering pertanian tanaman pangan dalam bentuk tegalan/ladang seluas 1. 508,56 Ha (Pemerintah Desa Pelat, 2. dan memiliki kelompok tani lahan kering, yaitu 24 kelompok dan petani yang berusahatani tanaman jagung terbanyak di Kecamatan Unter Iwes, yaitu 1. 132 Orang (Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, 2. Penelitian menggunakan dua jenis data sekunder dan primer yaitu data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani lahan kering menggunakan Data sekunder yang dikumpulkan mencakup informasi mengenai lokasi geografis penelitian, kondisi demografi penduduk, luas wilayah, serta gambaran umum tentang Desa Pelat. Kecamatan Unter Iwes. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui metode dokumentasi, yaitu dengan menelusuri berbagai sumber tertulis seperti buku, majalah, dokumen resmi, peraturan, foto, catatan harian, serta informasi dari situs internet. Metode wawancara mendalam, kuesioner, studi pustaka. Responden dalam penelitian ini adalah petani jagung lahan kering di Desa Pelat. Kecamatan Unter Iwes, yang dipilih melalui teknik accidental sampling dan purposive sampling, sebanyak 50 orang. Metode analisis data dalam penelitian, yaitu: Analisis deskriptif dan Miles dan Hubberman, dengan tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Kecamatan Unter Iwes merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Sumbawa yang memiliki potensi pertanian lahan kering yang cukup luas. Sebagian besar wilayahnya terdiri atas lahan non-irigasi yang dimanfaatkan untuk usaha tani tanaman semusim seperti jagung, kacang-kacangan, dan beberapa komoditas hortikultura. Lahan kering ini umumnya bergantung pada curah hujan musiman dan belum seluruhnya didukung oleh sistem irigasi yang memadai. Lokasi penelitian berada di Desa Pelat. Berdasarkan Profil Desa Pelat Tahun 2024, desa ini terletak dalam wilayah administratif Pemerintah Kecamatan Unter Iwes. Desa Pelat memiliki luas wilayah sebesar 17,17 kmA, terdiri atas 4 dusun, 18 RW, dan 45 RT. Berdasarkan jumlah penduduk Desa Pelat, yaitu sebanyak 5. 154 jiwa yang terdiri dari 2. 642 laki-laki dan Volume 1 Issue 1 Oktober 2025 p-ISSN: x-x e-ISSN: x-x hal: 011-024 https://e-journallppmunsa. id/jram https://e-journallppmunsa. id/jram 512 perempuan, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Desa Pelat memiliki 1. 132 kepala keluarga (KK), dengan kepadatan penduduk sebesar 300,17 jiwa/kmA, yang menunjukkan bahwa wilayah Desa Pelat kepadatan penduduk berdampak terhadap aspek sosial dan ekonomi. Karakteristik Petani Lahan Kering, di Desa Pelat Kecamatan Unter Iwes Kabupaten Sumbawa Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Memahami usia responden merupakan hal yang penting, karena perbedaan usia dapat memengaruhi cara pandang, pengalaman, dan pengambilan keputusan dalam mengelola usahatani jagung lahan kering. Karakteristik responden berdasarkan usia disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia No. Usia (Tahu. Jumlah Jiwa Persentase (%) 25 Ae 35 36 Ae 45 46 Ae 55 56 Ae 65 < 65 Jumlah Sumber : Data Primer diolah . Kelompok usia produktif 25Ae35 tahun dan 36Ae45 tahun mencakup 58% dari total Kelompok usia ini umumnya lebih responsif terhadap inovasi di bidang pertanian, karena memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mencoba dan mengadopsi teknologi baru. Petani berusia muda lebih mudah menerima teknologi dibandingkan dengan petani yang lebih tua. Mereka cenderung tidak terlalu terikat pada kebiasaan tradisional serta memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi. Selain itu. Faried et al . studi lain juga menunjukkan bahwa petani milenial secara aktif memanfaatkan aplikasi mobile dan sensor tanah guna meningkatkan efisiensi serta produktivitas lahan. Oleh karena itu, dominasi kelompok usia muda dan menengah ini memberikan peluang besar bagi percepatan adopsi inovasi dalam budidaya jagung di lahan kering. Responden berusia 46Ae55 tahun dan 56Ae65 tahun mencakup 38% dari total Volume 1 Issue 1 Oktober 2025 p-ISSN: x-x e-ISSN: x-x hal: 011-024 https://e-journallppmunsa. id/jram https://e-journallppmunsa. id/jram Petani berusia di atas 50 tahun masih mendominasi secara nasional, dengan proporsi mencapai 77,87%. Kelompok usia ini umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, sehingga memerlukan pendekatan teknologi yang lebih sederhana serta penyuluhan yang bersifat intensif dan mudah dipahami Handika et al . Kelompok petani berusia di atas 65 tahun hanya berjumlah 4%, menunjukkan bahwa keterlibatan petani lanjut usia dalam usahatani jagung sangat terbatas. Kelompok petani yang lebih tua, penerimaan terhadap inovasi teknologi lebih dipengaruhi oleh pengalaman bertani serta kebiasaan menjalankan praktik pertanian secara turuntemurun. Hal ini membuat mereka cenderung lebih enggan untuk mencoba teknologi baru, meskipun memiliki pengalaman yang luas di bidang pertanian. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis kelamin merupakan salah satu aspek demografis yang dapat memengaruhi keterlibatan responden dalam kegiatan usahatani jagung lahan kering. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Laki-Laki Perempuan Jumlah Sumber : Data Primer diolah . Persentase (%) Tabel 2 menunjukkan bahwa responden laki-laki lebih banyak yaitu 74% . , sedangkan responden perempuan hanya sebesar 26% . Meskipun demikian, rendahnya persentase perempuan sebagai responden tidak serta-merta menunjukkan bahwa mereka tidak berkontribusi dalam usaha tani. Dalam praktiknya, perempuan juga memiliki peran penting meskipun sering kali tidak diakui secara Peran perempuan cukup dominan dalam aktivitas produktif, khususnya pada kegiatan yang bertujuan menghasilkan pendapatan. Dengan demikian, keberadaan perempuan tani memiliki kontribusi yang signifikan dalam usaha pertanian untuk mendorong peningkatan hasil produksi (Lay et al. , 2. Menurut Hasrida et al . , pekerjaan yang bersifat fisik seperti pembukaan lahan dan penyiangan umumnya dilakukan oleh suami, sementara istri lebih banyak terlibat dalam kegiatan seperti penanaman, pemasaran hasil panen, serta berbagi peran dalam proses panen dan Volume 1 Issue 1 Oktober 2025 p-ISSN: x-x e-ISSN: x-x hal: 011-024 https://e-journallppmunsa. id/jram https://e-journallppmunsa. id/jram Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Pendidikan formal yang pernah ditempuh seseorang mencerminkan tingkat pengetahuan dan kemampuan dalam memahami serta menerapkan informasi, termasuk dalam aktivitas pertanian. Dalam penelitian ini, tingkat pendidikan responden diidentifikasi berdasarkan jenjang pendidikan terakhir yang diselesaikan. Informasi mengenai karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Jenis Kelamin SMP SMA/SMK Diploma Sarjana Jumlah Sumber : Data Primer diolah . Jumlah Persentase (%) Tabel 3. menunjukkan 72% hanya menempuh pendidikan formal hingga jenjang sekolah dasar . %) dan sekolah menengah pertama . %). Rendahnya tingkat pendidikan ini sering kali menjadi hambatan utama dalam memahami teknologi pertanian, yang berdampak pada lambatnya proses adopsi inovasi serta tingginya tingkat resistensi terhadap perubahan (Munte, 2. Rendahnya tingkat pendidikan petani tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan biaya dan akses, tetapi juga dipengaruhi oleh pola hidup keluarga. anak-anak sering tinggal bersama orangtua di kebun atau lahan yang jauh dari pemukiman sehingga akses fisik ke sekolah menjadi sulit, bahkan mereka pulang ke rumah hanya sebulan sekali dan lebih banyak membantu pekerjaan keluarga. Menurut (Ghani & Afriansyah, 2. bahwa anak-anak di perkebunan kecil atau diladang sering berada dalam dilema antara bekerja di ladang dan melanjutkan pendidikan, di mana kebutuhan tenaga kerja keluarga lebih diutamakan daripada sekolah. Selain itu, ketimpangan akses pendidikan di pedesaan juga diperparah oleh faktor ekonomi rumah tangga dan jarak ke sekolah yang cukup jauh, sehingga banyak anak petani sulit melanjutkan pendidikan formalnya (Arianti et , 2. Penelitian lain oleh al-fallah et al . menegaskan bahwa struktur sosial dan keterbatasan infrastruktur di pedesaan merupakan hambatan nyata bagi Volume 1 Issue 1 Oktober 2025 p-ISSN: x-x e-ISSN: x-x hal: 011-024 https://e-journallppmunsa. id/jram https://e-journallppmunsa. id/jram keberlanjutan pendidikan anak-anak petani. Kelompok responden yang memiliki tingkat pendidikan menengah (SMA/SMK) sebesar 18% dan pendidikan tinggi (Sarjan. sebesar 10% masih tergolong kecil. Meskipun demikian, petani dengan latar belakang pendidikan menengah ke atas umumnya lebih terbuka terhadap penerapan teknologi baru, seperti alat mekanisasi, pupuk hayati, maupun aplikasi pertanian Karateristik Responden Berdasarkan Luas Lahan Luas lahan yang diusahakan oleh petani merupakan faktor penting yang memengaruhi kapasitas produksi serta tingkat pendapatan petani. Dalam penelitian ini, luas lahan diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu lahan kecil (< 1 h. , sedang . Ae 1,5 h. , dan luas (Ou 2 h. Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Luas Lahan Luas Lahan (H. Jumlah (Jiw. Persentase (%) 1 Ae 1,5 Jumlah Sumber : Data Primer diolah . Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki lahan seluas 1 hektar . 40%) dan 1,5 hektar . 40%), sedangkan hanya sebagian kecil yang memiliki lahan sebesar 2 hektar . 10%). Dominasi petani kecil dan menengah dalam sampel, dengan sedikit petani yang memiliki lahan lebih luas. Sesuai dengan pendapat Wahyuni . bahwa luas lahan memiliki hubungan negatif signifikan terhadap pengeluaran konsumsi pangan artinya petani dengan lahan lebih luas cenderung lebih mandiri memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga mereka. Perilaku Sosial dan Kelembagaan Perilaku sosial dan kelembagaan petani mencerminkan interaksi mereka dengan lingkungan sosial serta peran institusi formal maupun informal dalam mendukung kegiatan usahatani. Secara sosial, petani umumnya terlibat dalam jaringan gotong royong, arisan, atau kelompok tani yang berfungsi sebagai sarana berbagi informasi, bantuan tenaga kerja, dan modal sosial. Kelembagaan formal seperti kelompok tani, koperasi, dan lembaga penyuluhan memegang peranan penting dalam menyediakan akses teknologi, pembiayaan, dan pasar, sedangkan kelembagaan informal seperti norma adat, tradisi bertani, dan hubungan patron-klien turut memengaruhi pola pengambilan keputusan. Volume 1 Issue 1 Oktober 2025 p-ISSN: x-x e-ISSN: x-x hal: 011-024 https://e-journallppmunsa. id/jram https://e-journallppmunsa. id/jram Keterlibatan dalam Kelompok Tani Tabel 5. Keterlibatan dalam Kelompok Tani Status Keanggotaan di Kelompok Jumlah Persentase (%) Tani Aktif Tidak aktif Tidak tergabung Jumlah Data Primer diolah . Berdasarkan Tabel 5, seluruh responden . %) tercatat sebagai anggota aktif kelompok tani, tanpa terdapat anggota yang tidak aktif maupun tidak tergabung. Partisipasi penuh ini menegaskan peran strategis kelompok tani dalam aktivitas pertanian responden. Keanggotaan aktif tersebut menjadi faktor penting bagi keberhasilan usahatani, khususnya dalam peningkatan produktivitas, kemudahan memperoleh informasi, dan penguatan jejaring sosial. Ali et al . menemukan bahwa kelompok tani yang aktif berperan signifikan dalam meningkatkan produktivitas usahatani padi melalui pelatihan, penyaluran sarana produksi, serta pelaksanaan kerja kolektif secara terorganisir. Selain itu menurut Juliantika et al. bahwa kelompok tani memiliki peran dominan sebagai kelas belajar . ,62%), wahana kerja sama . ,5%), dan unit produksi . ,62%) yang mendukung peningkatan keterampilan teknis, perluasan akses informasi, serta penguatan solidaritas ekonomi Kerja Sama Antarpetani dan Gotong Royong Tabel 6. Kerja Sama Antarpetani dan Gotong Royong Jenis Kerja Sama/Gotong Royong Jumlah Persentase (%) Bekerja sama dalam pengolahan Gotong royong panen Tenaga Sendiri dan Buruh Tani Jumlah Data Primer diolah . Tabel 6, seluruh responden . %) memanfaatkan kombinasi tenaga kerja sendiri dan buruh tani. Fenomena ini mengindikasikan terjadinya pergeseran dari pola kerja kolektif menuju sistem yang lebih individual dan transaksional. Sejalan dengan Lestari et al. , bahwa penggunaan jasa buruh tani dianggap lebih efisien dan menguntungkan secara ekonomi dibandingkan pelaksanaan gotong royong. Modernisasi dan adopsi teknologi pertanian telah mendorong pergeseran signifikan Volume 1 Issue 1 Oktober 2025 p-ISSN: x-x e-ISSN: x-x hal: 011-024 https://e-journallppmunsa. id/jram https://e-journallppmunsa. id/jram dari tradisi gotong royong. Proses tanam dan panen yang sebelumnya dilaksanakan secara kolektif kini semakin digantikan oleh penggunaan peralatan modern dan keterlibatan tenaga kerja secara individual. Dukungan Pemerintah Tabel 1. Dukungan Pemerintah Bentuk Dukungan yang Diterima Jumlah Persentase (%) Bantuan benih Pupuk subsidi Tidak menerima dukungan Jumlah Data Primer diolah . Tabel 7 menjelaskan bahwa seluruh petani responden . %) menerima pupuk bersubsidi dari pemerintah, sementara tidak ada yang memperoleh bantuan benih atau bentuk dukungan lainnya. Siagian et al . bahwa kebijakan subsidi pupuk telah lama diterapkan untuk menjamin ketersediaan pupuk dengan harga terjangkau, sehingga mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas petani. Sejalan dengan Putri & Kumbara . bahwa petani penerima pupuk bersubsidi umumnya memiliki pendapatan lebih tinggi dibandingkan yang tidak menerima, karena biaya produksi yang lebih rendah berdampak langsung pada peningkatan margin keuntungan. Dukungan dari Lembaga Penyuluhan Tabel 8. Dukungan dari Lembaga Penyuluhan Bentuk Dukungan yang Diterima Jumlah Persentase (%) Penyuluhan/pelatihan pertanian Tidak menerima dukungan Jumlah Data Primer diolah . Tabel 8. menunjukkan sebanyak 86% telah telah menerima dukungan berupa penyuluhan dan pelatihan pertanian, sementara hanya 14 % yang tidak mendapatkan dukungan sama sekali. Konsisten dengan peran strategis penyuluh pertanian sebagai agen perubahan dan penghubung antara pemerintah, petani, dan pihak eksternal, yang berfungsi menyebarluaskan informasi teknologi dan inovasi kepada petani di lapangan (Latif et al. , 2. Sebanyak 14 % responden yang tidak menerima penyuluhan atau pelatihan menghadapi risiko tertinggal dalam akses informasi dan inovasi teknologi. Menurut Hamadal & Adil . , kendala seperti jumlah penyuluh yang terbatas. Volume 1 Issue 1 Oktober 2025 p-ISSN: x-x e-ISSN: x-x hal: 011-024 https://e-journallppmunsa. id/jram https://e-journallppmunsa. id/jram keterbatasan dana operasional, dan distribusi penyuluhan yang tidak merata dapat menyebabkan fungsi lembaga penyuluhan belum berjalan maksimal, sehingga tidak semua petani memperoleh manfaat penuh dari penyuluhan. Selain itu, penelitian menyebutkan perlunya peningkatan jumlah dan kualitas penyuluh agar jangkauan dan dampak penyuluhan dapat lebih merata dan efektif (Reno Seprama et al. , 2. Hasil analisis seluruh perilaku menunjukkan bahwa petani jagung di lahan kering Desa Pelat memiliki kecenderungan yang seragam pada aspek sosial dan kelembagaan. Pada aspek sosial dan kelembagaan, seluruh petani aktif di kelompok tani, namun praktik gotong royong telah bergeser menjadi penggunaan tenaga kerja sendiri dan buruh tani. Sebagian besar petani mendapatkan dukungan penyuluhan atau pelatihan, meskipun masih ada yang belum terjangkau. Pola perilaku yang homogen ini menunjukkan keterikatan petani pada praktik konvensional yang telah terbukti menguntungkan secara jangka pendek, namun berpotensi menimbulkan masalah keberlanjutan dalam jangka panjang apabila tidak diimbangi inovasi teknologi, diversifikasi pola tanam, dan perluasan akses pasar. KESIMPULAN Perilaku petani dalam mengelola lahan kering sangat dipengaruhi oleh faktor usia, tingkat pendidikan, pengalaman bertani, luas lahan, dan status kepemilikan Mayoritas petani bergantung pada curah hujan sebagai sumber utama pengairan, dengan tingkat akses yang bervariasi terhadap informasi pertanian dan lembaga pendukung seperti kelompok tani. Rendahnya pendidikan formal dan keterbatasan akses terhadap teknologi menjadi hambatan dalam peningkatan Keikutsertaan dalam kelembagaan lokal berperan penting dalam mendorong adaptasi dan kolaborasi petani. Oleh karena itu, pemahaman terhadap karakteristik ini penting sebagai dasar dalam merancang kebijakan dan program pemberdayaan petani lahan kering yang efektif dan kontekstual. DAFTAR PUSTAKA