Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik. Volume X Nomor 2 September 2024 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 69-84 DOI: https://doi. org/10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat Handep Hapakat sebagai Praxis Ekologi Integral: Analisis Ekoteologis Kearifan Lokal Dayak dalam Merespons Krisis Lingkungan Yustinus Dwi Andriyanto STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya 27091193@stipas. Jl. Tjilik Riwut Km. 1 Komplek Gereja katolik. Palangka Raya 732112 Kalimantan Tengah Korespondensi penulis: 27091193@stipas. Abstract. The ecological crisis in Central Kalimantan is marked by deforestation, the expansion of monoculture plantations, and illegal mining, all of which have caused severe environmental degradation and threatened the lives of indigenous Dayak communities. This situation demands responses that are not merely technical but also theological and cultural. This article offers a new reading of Handep Hapakat a communal life principle of the Dayak people as a praxis of integral ecology and a contextual ecopastoral model in light of Catholic social teaching, particularly the encyclical Laudato SiAo. Employing a qualitative approach with a theological cultural hermeneutical orientation, this study is based on a critical literature review of Dayak cultural studies. Church documents, and contemporary ecotheological scholarship. The analysis demonstrates that Handep Hapakat is not merely a social construct but a spiritual ecological praxis that affirms a harmonious relationship among human beings, community, nature, and the Creator. The values of communal solidarity, collective responsibility, and deliberative decisionmaking embedded in this principle resonate strongly with the vision of integral ecology, which integrates ecological, social, cultural, and spiritual dimensions. This article argues that the integration of Handep Hapakat into the ChurchAos pastoral mission holds transformative potential for fostering ecological awareness, strengthening inculturation, and promoting community-based ecological care for our common home. Keywords: Handep Hapakat. Integral Ecology. Ecotheology. Dayak. Laudato SiAo. Ecopastoral Abstrak. Krisis ekologis di Kalimantan Tengah ditandai oleh deforestasi, ekspansi perkebunan monokultur, serta penambangan ilegal yang berdampak serius terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat adat Dayak. Situasi ini menuntut respons yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga teologis dan kultural. Artikel ini menawarkan pembacaan baru terhadap Handep Hapakat prinsip hidup komunal masyarakat Dayak sebagai praksis ekologi integral dan model ekopastoral kontekstual dalam terang ajaran Gereja Katolik, khususnya ensiklik Laudato SiAo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan orientasi hermeneutika teologiskultural melalui studi kepustakaan terhadap literatur budaya Dayak, dokumen Gereja, dan kajian ekoteologi kontemporer. Hasil analisis menunjukkan bahwa Handep Hapakat tidak sekadar merupakan konstruksi sosial, melainkan praksis spiritual-ekologis yang menegaskan relasi harmonis antara manusia, komunitas, alam, dan Sang Pencipta. Nilai kebersamaan, tanggung jawab kolektif, dan musyawarah yang terkandung di dalamnya sejalan dengan visi ekologi integral yang menghubungkan dimensi ekologis, sosial, budaya, dan spiritual secara utuh. Artikel ini menegaskan bahwa integrasi Handep Hapakat dalam karya pastoral Gereja memiliki potensi transformatif dalam membangun kesadaran ekologis, memperkuat inkulturasi iman, serta mendorong keterlibatan komunitas dalam merawat rumah bersama secara berkelanjutan. Kata Kunci: Handep Hapakat. Ekologi Integral. Ekoteologi. Dayak. Laudato SiAo. Ekopastoral Received: Agustus 22, 2024. Revised: 2 September 2024. Accepted: 9 September 2024. Published: 30 September 2024. *Corresponding author, 27091193@stipas. HANDEP HAPAKAT SEBAGAI PRAXIS EKOLOGI INTEGRAL: ANALISIS EKOTEOLOGIS KEARIFAN LOKAL DAYAK DALAM MERESPONS KRISIS LINGKUNGAN PENDAHULUAN Krisis ekologis dewasa ini merupakan salah satu tantangan paling serius yang dihadapi umat manusia dan seluruh ciptaan. Perubahan iklim, degradasi hutan, krisis air bersih, serta hilangnya keanekaragaman hayati menunjukkan bahwa relasi manusia dengan alam berada dalam kondisi yang rapuh dan tidak seimbang. Fenomena ini memperlihatkan bahwa persoalan ekologis tidak dapat dipahami secara sempit sebagai isu lingkungan, melainkan berkaitan erat dengan sistem sosial, ekonomi, dan politik yang menopang pola pembangunan global dewasa ini (IPBES, 2. Di Indonesia, krisis ekologis tampak nyata melalui tingginya laju deforestasi, konflik agraria, serta kerusakan ekosistem akibat aktivitas industri ekstraktif yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Kebijakan pembangunan yang menempatkan eksploitasi sumber daya alam sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi telah memperparah ketimpangan ekologis dan sosial di berbagai wilayah (KLHK, 2. Kalimantan Tengah merupakan salah satu wilayah yang mengalami dampak paling signifikan dari krisis ekologis tersebut. Ekspansi perkebunan monokultur, pertambangan berskala besar, serta pembukaan lahan yang tidak berkelanjutan telah menyebabkan degradasi hutan tropis, pencemaran sungai, dan kerusakan lahan gambut yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan (Walhi Kalimantan Tengah, 2. Dampak kerusakan lingkungan di Kalimantan Tengah tidak hanya mengancam keberlanjutan ekosistem, tetapi juga mengguncang tatanan sosial dan budaya masyarakat adat Dayak yang kehidupannya sangat bergantung pada alam. Hilangnya ruang hidup, rusaknya sumber pangan tradisional, serta melemahnya pranata adat menunjukkan bahwa krisis ekologis juga berimplikasi langsung pada krisis sosial dan budaya komunitas lokal (Setyawan, 2. Bagi masyarakat Dayak, alam memiliki makna kosmologis yang mendalam. Tanah, hutan, dan sungai dipahami sebagai ruang kehidupan yang menyatukan manusia, komunitas, leluhur, dan Sang Pencipta. Relasi dengan alam dibangun atas dasar penghormatan dan tanggung jawab moral, karena alam diyakini sebagai bagian dari tatanan sakral yang menopang kehidupan bersama (Dewi & Widodo, 2. Ketika alam dieksploitasi secara berlebihan, yang mengalami kerusakan bukan hanya lingkungan fisik, tetapi juga identitas budaya dan makna hidup masyarakat adat. Dengan demikian. Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik VOLUME X. NO. September 2024 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 69-84 krisis ekologis yang terjadi dewasa ini juga merupakan krisis identitas dan spiritualitas komunitas Dayak ( Sutrisno, 2. Dalam terang iman Katolik, realitas tersebut menjadi panggilan profetis bagi Gereja untuk merefleksikan kembali perutusannya di tengah dunia yang terluka. Paus Fransiskus dalam Laudato SiAo menegaskan bahwa krisis ekologis dan krisis sosial merupakan dua sisi dari realitas yang sama, yang berakar pada paradigma pembangunan teknokratis dan antroposentris (Francis, 2. Respons iman terhadap krisis tersebut tidak dapat berhenti pada seruan moral semata, melainkan menuntut pertobatan ekologis yang konkret. Pertobatan ini mencakup perubahan cara berpikir, cara hidup, dan cara berelasi dengan seluruh ciptaan sebagai satu rumah bersama yang harus dirawat secara bertanggung jawab (Bergoglio, 2. Pertobatan ekologis menuntut keterlibatan konkret Gereja dalam membangun kesadaran ekologis umat serta memperjuangkan keadilan bagi komunitas yang paling terdampak oleh kerusakan lingkungan. Gereja dipanggil untuk berdiri bersama masyarakat adat dan kelompok rentan sebagai wujud iman yang membebaskan dan berpihak pada kehidupan (Conradie, 2. Dalam perspektif teologi kontemporer, keterlibatan ini merupakan bagian dari panggilan iman yang bersifat publik dan profetis (Deane-Drummond, 2. Dalam konteks Kalimantan, kearifan budaya Dayak menawarkan sumber refleksi teologis yang kaya dan relevan. Salah satu nilai fundamental adalah Handep Hapakat, sebuah prinsip hidup yang menekankan kerja bersama, solidaritas, dan musyawarah demi kesejahteraan kolektif. Nilai ini tidak hanya mengatur relasi sosial, tetapi juga membentuk etika ekologis yang menghormati alam sebagai bagian integral dari kehidupan bersama (Riwut & Utomo, 2. Handep Hapakat menegaskan bahwa keberlangsungan hidup hanya dapat diwujudkan melalui kebersamaan dan tanggung jawab kolektif terhadap alam. Berdasarkan konteks tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis Handep Hapakat sebagai praksis ekologi integral yang menjembatani kearifan lokal Dayak dengan visi teologis Laudato SiAo. Melalui pendekatan ekoteologis dan kontekstual, tulisan ini diharapkan dapat berkontribusi bagi pengembangan ekopastoral Gereja yang relevan, transformatif, dan berakar pada realitas lokal Kalimantan Tengah. HANDEP HAPAKAT SEBAGAI PRAXIS EKOLOGI INTEGRAL: ANALISIS EKOTEOLOGIS KEARIFAN LOKAL DAYAK DALAM MERESPONS KRISIS LINGKUNGAN Meskipun berbagai kajian telah membahas krisis ekologis dan ekoteologi, kajian yang secara khusus mengelaborasi kearifan lokal Dayak sebagai praksis ekologi integral dalam perspektif teologi Katolik masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana Handep Hapakat dapat dipahami sebagai praksis ekologi integral, dan apa implikasinya bagi pengembangan ekopastoral Gereja di Kalimantan Tengah. KAJIAN TEORITIS 1 Krisis Ekologis sebagai Persoalan Teologis dan Sosial Krisis multidimensional yang melampaui isu lingkungan semata. Berbagai laporan mutakhir menunjukkan bahwa perubahan iklim, degradasi hutan, krisis air, dan hilangnya keanekaragaman hayati berkaitan erat dengan struktur sosial-ekonomi serta kebijakan pembangunan yang tidak berkeadilan (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2. Dalam kajian ekoteologi kontemporer, krisis ekologis dipahami sebagai manifestasi dari krisis relasi manusia dengan ciptaan yang berakar pada paradigma pembangunan eksploitatif dan teknokratis. Di Indonesia, khususnya di Kalimantan Tengah, krisis ekologis tampak nyata melalui deforestasi, kerusakan lahan gambut, serta pencemaran sungai akibat ekspansi perkebunan monokultur dan aktivitas pertambangan (WALHI Kalimantan Tengah, 2022 ). Dampak krisis ekologis tersebut tidak berhenti pada kerusakan lingkungan fisik, tetapi juga mengguncang tatanan sosial masyarakat adat. Berbagai kajian menunjukkan bahwa masyarakat Dayak mengalami penyempitan ruang hidup, hilangnya sumber pangan tradisional, serta meningkatnya konflik agraria akibat lemahnya pengakuan terhadap wilayah adat dan hak kolektif atas tanah ( Dewi & Widodo, 2. Situasi ini memperlihatkan bahwa krisis ekologis tidak dapat dipisahkan dari persoalan keadilan sosial dan relasi kuasa yang timpang. Oleh karena itu, krisis ekologis perlu dipahami sebagai krisis sosial yang memperdalam Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik VOLUME X. NO. September 2024 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 69-84 ketimpangan struktural dan memarginalkan komunitas lokal yang paling bergantung pada keberlanjutan alam (Sumule, 2. Dalam perspektif teologis, situasi ini secara serius menantang paradigma antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa alam. Paus Fransiskus menegaskan bahwa krisis ekologis dan krisis sosial merupakan dua sisi dari realitas yang sama, yang berakar pada logika pembangunan teknokratis yang mengabaikan martabat manusia dan keutuhan ciptaan (Francis, 2. Sejalan dengan itu, refleksi teologis mutakhir menekankan perlunya pergeseran paradigma dari antroposentrisme menuju relasi ekosentris yang menempatkan alam sebagai sesama ciptaan, bukan sekadar objek eksploitasi (Messias, 2024 ). Oleh karena itu, krisis ekologis tidak dapat diselesaikan semata-mata melalui solusi teknologis, melainkan menuntut transformasi moral dan spiritual yang menyentuh cara manusia memandang dan memperlakukan alam. Teologi kontemporer menegaskan bahwa iman Kristiani memiliki dimensi publik dan profetis dalam menghadapi krisis lingkungan. Ekoteolog Eric Conradie menekankan bahwa kerusakan lingkungan merupakan bentuk dosa struktural yang menuntut pertobatan personal sekaligus perubahan sistem sosial, ekonomi, dan politik yang tidak adil (Conradie, 2. Dalam kerangka ini. Gereja dipanggil untuk melampaui peran simbolik dan mengambil bagian aktif dalam advokasi keadilan ekologis, pembelaan terhadap masyarakat adat, serta pengembangan praksis pastoral yang berpihak pada keberlanjutan kehidupan (Lengga & Isharianto, 2. Dengan demikian, krisis ekologis harus dibaca sebagai persoalan teologis dan sosial yang menuntut respons iman yang konkret dan transformatif. Gereja tidak hanya berperan sebagai pengamat moral, tetapi sebagai agen perubahan yang menghadirkan solidaritas, keadilan, dan harapan bagi seluruh ciptaan melalui pertobatan ekologis dan praksis iman yang berakar pada konteks konkret umat (Francis, 2. 2 Ekoteologi dan Ekologi Integral Ekoteologi merupakan cabang teologi yang merefleksikan relasi antara Allah, manusia, dan alam dalam terang iman Kristiani. Dalam perkembangannya, ekoteologi menanggapi krisis lingkungan sebagai tanda krisis relasi fundamental manusia dengan HANDEP HAPAKAT SEBAGAI PRAXIS EKOLOGI INTEGRAL: ANALISIS EKOTEOLOGIS KEARIFAN LOKAL DAYAK DALAM MERESPONS KRISIS LINGKUNGAN Literatur ekoteologi mutakhir menekankan bahwa kerusakan ekologis berakar pada cara pandang manusia yang terfragmentasi dan eksploitatif (Conradie, 2. Konsep ekologi integral menjadi salah satu kontribusi penting Gereja Katolik dalam diskursus ekoteologi kontemporer. Paus Fransiskus menegaskan bahwa ekologi integral menghubungkan dimensi lingkungan, sosial, budaya, dan spiritual dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan (Francis, 2. Dengan pendekatan ini, persoalan kemiskinan, ketidakadilan sosial, dan kerusakan lingkungan dipahami sebagai satu krisis yang sama. Ekologi integral menolak pemisahan antara persoalan manusia dan persoalan Setiap kerusakan lingkungan selalu berdampak pada kehidupan manusia, khususnya kelompok rentan dan masyarakat adat (Francis, 2. Oleh karena itu, solusi ekologis harus mempertimbangkan keadilan sosial, partisipasi komunitas, dan penghormatan terhadap budaya lokal. Dalam praktik pastoral, ekologi integral menuntut pertobatan ekologis, yakni perubahan cara berpikir, merasa, dan bertindak terhadap ciptaan. Pertobatan ini mencakup gaya hidup sederhana, solidaritas sosial, serta keterlibatan aktif dalam perlindungan lingkungan (Conradie, 2. Gereja dipanggil untuk membangun kesadaran ekologis umat melalui pendidikan iman, liturgi, dan aksi sosial. Dengan demikian, ekoteologi dan ekologi integral menyediakan kerangka teologis yang kokoh untuk membaca realitas ekologis secara holistik. Kerangka ini menjadi dasar penting untuk dialog dengan kearifan lokal dan praksis budaya masyarakat adat, termasuk Handep Hapakat dalam budaya Dayak (Francis, 2. 3 Kosmologi dan Etika Ekologis Budaya Dayak Kosmologi Dayak memandang alam sebagai bagian integral dari kehidupan spiritual dan sosial komunitas. Tanah, hutan, dan sungai tidak dipahami sebagai objek ekonomi semata, melainkan sebagai ruang sakral yang menghubungkan manusia dengan leluhur dan Sang Pencipta. Pandangan kosmologis ini membentuk cara hidup masyarakat Dayak yang menempatkan alam dalam jejaring relasi moral dan spiritual yang menopang keberlanjutan kehidupan bersama (Siregar, 2. Etika ekologis Dayak diwujudkan melalui aturan adat yang mengatur pemanfaatan alam secara kolektif dan berkelanjutan. Praktik seperti pembatasan Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik VOLUME X. NO. September 2024 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 69-84 pembukaan lahan, perlindungan kawasan hutan tertentu, dan pengelolaan sumber air secara komunal menunjukkan adanya kesadaran ekologis yang berakar pada nilai budaya (Riwut & Utomo, 2. Namun, tekanan pembangunan modern telah mengganggu sistem etika ekologis ini. Ekspansi industri ekstraktif seringkali mengabaikan mekanisme adat dan melemahkan otoritas komunitas lokal dalam mengelola lingkungannya sendiri (WALHI Kalimantan Tengah, 2. Akibatnya, kerusakan lingkungan juga berdampak pada erosi identitas budaya dan spiritual masyarakat Dayak. Dalam konteks ini, kosmologi Dayak menawarkan perspektif alternatif terhadap relasi manusia dan alam yang menekankan tanggung jawab kolektif, keseimbangan ekologis, dan keberlanjutan lintas generasi. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip keadilan antargenerasi dan menjadi sumber refleksi penting bagi dialog antara iman Kristiani dan budaya lokal dalam merespons krisis lingkungan secara kontekstual dan transformatif (Setyawan & Haba, 2. 4 Handep Hapakat sebagai Prinsip Etika Komunal Handep Hapakat merupakan prinsip hidup komunal masyarakat Dayak yang menekankan nilai saling menolong, kerja bersama, dan pengambilan keputusan kolektif melalui musyawarah adat. Prinsip ini berfungsi sebagai fondasi etika sosial yang mengatur relasi antaranggota komunitas serta menjadi kerangka normatif dalam pengelolaan kehidupan bersama, termasuk relasi manusia dengan alam sebagai sumber kehidupan (Haba, 2. Dalam konteks ekologis. Handep Hapakat berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam. Keputusan mengenai penggunaan hutan dan sungai dilakukan secara kolektif dengan mempertimbangkan kepentingan komunitas dan generasi mendatang (Dewi & Widodo, 2. Etika komunal ini sejalan dengan prinsip kesejahteraan bersama dalam ajaran sosial Gereja. Paus Fransiskus menegaskan bahwa kesejahteraan bersama mencakup keutuhan relasi sosial dan ekologis yang memungkinkan kehidupan berkembang secara bermartabat (Francis, 2. Selain itu. Handep Hapakat juga memiliki fungsi restoratif dalam pemulihan relasi sosial dan ekologis ketika terjadi kerusakan lingkungan. Melalui kerja bersama HANDEP HAPAKAT SEBAGAI PRAXIS EKOLOGI INTEGRAL: ANALISIS EKOTEOLOGIS KEARIFAN LOKAL DAYAK DALAM MERESPONS KRISIS LINGKUNGAN dan komitmen moral komunitas, proses rekonsiliasi tidak hanya diarahkan pada pemulihan sosial, tetapi juga pada pemulihan relasi dengan alam sebagai bagian dari kehidupan bersama. Dalam perspektif teologi pastoral, praksis ini mencerminkan pertobatan ekologis yang berakar pada konteks lokal dan partisipasi komunitas (Messias, 2. Dengan demikian. Handep Hapakat dapat dipahami sebagai prinsip etika komunal yang relevan bagi pengembangan praksis ekologi integral dan pelayanan pastoral Gereja yang kontekstual, inkulturatif, dan transformatif dalam merespons krisis lingkungan di Kalimantan. 5 Kearifan Lokal dan Teologi Kontekstual Teologi kontekstual menegaskan bahwa refleksi iman harus berakar pada pengalaman konkret umat dalam konteks sosial dan budaya tertentu. Dalam situasi krisis ekologis, kearifan lokal masyarakat adat dipahami sebagai locus theologicus, yakni ruang di mana pengalaman hidup, budaya, dan iman saling berjumpa dan menjadi sumber refleksi teologis yang relevan. Pendekatan ini menempatkan kearifan lokal sebagai bagian integral dari upaya Gereja membaca tanda-tanda zaman dalam terang iman Kristiani (Bevans, 2. Dalam konteks Kalimantan, kearifan lokal masyarakat Dayak termasuk nilai Handep Hapakat mengandung prinsip kebersamaan, tanggung jawab kolektif, dan penghormatan terhadap alam yang sejalan dengan visi ekologi integral. Nilai-nilai tersebut membentuk praksis iman yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga terwujud dalam cara hidup komunitas yang menjaga keseimbangan relasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta (Setyawan & Haba, 2. Pendekatan teologi kontekstual mendorong Gereja untuk berdialog dengan budaya lokal secara kritis dan kreatif. Gereja tidak hanya mewartakan iman, tetapi juga belajar dari kearifan lokal sebagai sumber pembaruan pastoral dan pengayaan praksis Dalam perspektif ini, integrasi kearifan lokal ke dalam ekopastoral memungkinkan Gereja menghadirkan pewartaan yang relevan, membumi, dan transformatif di tengah krisis ekologis (Francis, 2. Dalam praktiknya, pendidikan iman, liturgi, dan aksi sosial Gereja dapat diperkaya dengan nilai-nilai budaya lokal yang menghormati kehidupan dan keutuhan Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik VOLUME X. NO. September 2024 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 69-84 Pendekatan inkulturatif ini membantu Gereja membangun kesadaran ekologis umat secara berkelanjutan serta memperkuat keterlibatan komunitas dalam merawat rumah bersama sebagai panggilan iman (Messias, 2. Dengan demikian, kearifan lokal dan teologi kontekstual menjadi jalan strategis bagi Gereja dalam merespons krisis ekologis secara inkulturatif, partisipatif, dan berorientasi pada keberlanjutan kehidupan. METODOLOGI Penelitian hermeneutika teologis-kultural. Pendekatan ini dipilih karena tujuan utama penelitian bukan untuk mengukur fenomena ekologis secara empiris, melainkan untuk menafsirkan makna, nilai, dan praksis simbolik yang hidup dalam kearifan lokal masyarakat Dayak, khususnya prinsip Handep Hapakat, dalam dialog dengan refleksi teologis Gereja Katolik. Dalam tradisi teologi kontekstual dan ekoteologi, pendekatan hermeneutik dipandang relevan karena memungkinkan terjadinya perjumpaan kritis antara teks budaya, teks iman, dan konteks sosial-ekologis aktual, sehingga iman dibaca secara reflektif dalam realitas konkret umat (Bevans, 2. Metodologi ini memberi ruang bagi pembacaan kearifan lokal sebagai locus theologicus, yakni sumber refleksi teologis yang sah dan bermakna, terutama dalam situasi krisis ekologis yang menuntut respons iman yang kontekstual dan berorientasi pada transformasi kehidupan. Melalui dialog interpretatif antara tradisi budaya dan ajaran Gereja, penelitian ini tidak berhenti pada deskripsi budaya, tetapi melangkah pada sintesis normatif yang menegaskan dimensi praksis iman. Oleh karena itu, metode hermeneutika teologis-kultural dinilai tepat untuk merumuskan Handep Hapakat sebagai praksis ekologi integral yang relevan bagi pengembangan ekopastoral Gereja di Kalimantan Tengah (Francis, 2020. Messias, 2. 1 Sumber dan Teknik Pengumpulan Data Data penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan . ibrary researc. yang dilakukan secara sistematis dan kritis. Sumber data terdiri atas tiga kategori utama. Pertama, literatur antropologis dan budaya yang membahas kosmologi, etika ekologis, serta praktik sosial masyarakat Dayak, khususnya yang berkaitan dengan prinsip Handep Hapakat. Kedua, dokumen resmi Gereja Katolik, terutama ensiklik Laudato SiAo. Kompendium Ajaran Sosial Gereja, serta karya-karya teologi ekologi dan teologi HANDEP HAPAKAT SEBAGAI PRAXIS EKOLOGI INTEGRAL: ANALISIS EKOTEOLOGIS KEARIFAN LOKAL DAYAK DALAM MERESPONS KRISIS LINGKUNGAN kontekstual kontemporer. Ketiga, laporan lembaga lingkungan dan hasil penelitian akademik terkini mengenai krisis ekologis di Kalimantan Tengah, yang digunakan untuk memperkaya konteks sosial-ekologis penelitian. Pemilihan sumber dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan relevansi tematik, kredibilitas akademik, serta keterkaitan langsung dengan fokus Pendekatan ini memungkinkan penelitian membangun dialog yang seimbang antara konteks budaya lokal, refleksi teologis Gereja, dan realitas ekologis yang dihadapi masyarakat. 2 Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan melalui beberapa tahap yang saling berkaitan. Tahap pertama adalah reduksi data, yaitu proses memilah konsep, nilai, dan narasi yang relevan dengan tema Handep Hapakat, ekologi integral, dan krisis ekologis. Tahap kedua adalah interpretasi hermeneutik, yakni penafsiran makna nilai-nilai budaya Dayak dalam dialog dengan teks iman dan refleksi teologis Gereja. Pada tahap ini, terjadi perjumpaan antara Auteks budayaAy dan Auteks imanAy dalam suatu dialog kritis dan konstruktif yang memperhatikan konteks sosial-ekologis aktual. Tahap ketiga adalah sintesis teologis, yaitu perumusan Handep Hapakat sebagai praksis ekologi integral yang memiliki relevansi pastoral dan transformatif. Sintesis ini tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga diarahkan pada implikasi praksis bagi pengembangan ekopastoral Gereja yang kontekstual. Dengan demikian, analisis data dalam penelitian ini memungkinkan pergeseran dari deskripsi budaya menuju refleksi normatif dan praksis iman yang membumi. 3 Batasan Penelitian Penelitian ini dibatasi pada analisis konseptual dan teologis terhadap kearifan lokal Dayak sebagaimana direpresentasikan dalam literatur akademik dan sumber teologis yang tersedia. Penelitian ini tidak dimaksudkan sebagai studi etnografis lapangan atau analisis empiris terhadap praktik aktual masyarakat Dayak, melainkan sebagai refleksi teologis kontekstual yang berfokus pada konstruksi makna dan implikasi praksis pastoral. Batasan ini ditegaskan untuk menjaga konsistensi metodologis serta kejelasan ruang lingkup penelitian. Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik VOLUME X. NO. September 2024 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 69-84 4 Keabsahan dan Konsistensi Interpretasi Keabsahan interpretasi dalam penelitian ini dijaga melalui konsistensi dialog antara sumber budaya, dokumen Gereja, dan literatur teologi kontemporer. Proses triangulasi teoretis dilakukan dengan membandingkan berbagai perspektif akademik guna menghindari reduksi makna dan subjektivitas berlebihan dalam penafsiran. Selain itu, pendekatan hermeneutik yang reflektif memungkinkan peneliti secara sadar menempatkan proses interpretasi dalam kerangka dialogis antara konteks budaya lokal dan horizon iman Gereja. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Handep Hapakat dan Relasi Spiritual-Ekologis Masyarakat Dayak Hasil analisis hermeneutik menunjukkan bahwa relasi masyarakat Dayak dengan alam tidak dapat dipisahkan dari dimensi spiritual dan komunal. Alam dipahami sebagai ruang kehidupan yang sakral, tempat manusia, komunitas, leluhur, dan Sang Pencipta berada dalam satu jejaring relasi yang saling terhubung. Hutan, tanah, dan sungai tidak dimaknai semata-mata sebagai sumber ekonomi, melainkan sebagai bagian integral dari identitas kolektif dan keberlangsungan hidup bersama. Dalam kosmologi ini, kerusakan alam tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga melukai keseimbangan relasional yang menopang kehidupan komunitas. Dalam konteks tersebut. Handep Hapakat hadir sebagai prinsip etis yang menjaga keseimbangan relasi spiritual-ekologis tersebut. Prinsip ini menekankan kerja bersama, musyawarah, dan tanggung jawab kolektif dalam mengelola kehidupan, termasuk relasi dengan alam. Melalui mekanisme komunal ini, keputusan terkait pemanfaatan sumber daya alam tidak diambil secara individualistik atau eksploitatif, melainkan melalui pertimbangan bersama yang memperhatikan kesejahteraan komunitas dan keberlanjutan kehidupan generasi mendatang. Dengan demikian. Handep Hapakat berfungsi sebagai mekanisme sosial-budaya yang menata relasi manusia dan alam secara etis dan bertanggung jawab. Relasi spiritual-ekologis dalam kosmologi Dayak menunjukkan kesepadanan dengan pandangan biblis tentang ciptaan sebagai jaringan relasi yang saling Kitab Kejadian menegaskan bahwa manusia ditempatkan di taman untuk HANDEP HAPAKAT SEBAGAI PRAXIS EKOLOGI INTEGRAL: ANALISIS EKOTEOLOGIS KEARIFAN LOKAL DAYAK DALAM MERESPONS KRISIS LINGKUNGAN mengusahakan dan memeliharanya (Kej. , bukan sebagai penguasa absolut atas Perspektif ini sejalan dengan kritik Paus Fransiskus terhadap paradigma antroposentris modern yang mereduksi alam menjadi objek eksploitasi (Francis. Dengan demikian. Handep Hapakat dapat dipahami sebagai praksis etika komunal yang secara implisit mengandung spiritualitas ekologis yang bersifat relasional dan partisipatif. 2 Handep Hapakat sebagai Praxis Ekologi Integral Dalam berbagai kajian dan literatur mengenai masyarakat Dayak. Handep Hapakat diwujudkan dalam praktik-praktik komunal seperti pengelolaan lahan secara terbatas, kerja bersama dalam membuka dan memulihkan lahan, perlindungan sumber air, serta pengambilan keputusan adat terkait pemanfaatan hutan. Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa etika ekologis Dayak tidak berhenti pada tataran norma simbolik, melainkan terwujud dalam praksis kehidupan sehari-hari yang mengatur relasi manusia dengan alam secara konkret. Ketika dibaca dalam dikembangkan dalam Laudato SiAo. Handep Hapakat menunjukkan kesesuaian yang Ekologi integral menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari krisis sosial, budaya, dan spiritual. Demikian pula dalam konteks Dayak, kerusakan alam selalu berdampak langsung pada rusaknya relasi sosial, hilangnya identitas budaya, serta melemahnya spiritualitas komunitas. Relasi antara manusia dan alam dipahami sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dengan penekanan pada kebersamaan dan kesejahteraan kolektif. Handep Hapakat menjadi bentuk praksis ekologi integral yang hidup dalam konteks lokal. Prinsip ini menghubungkan dimensi ekologis, sosial, budaya, dan spiritual dalam satu kesatuan praksis kehidupan. Oleh karena itu, kearifan lokal ini tidak hanya memiliki relevansi kultural, tetapi juga bobot teologis yang kuat sebagai bentuk konkret perwujudan iman dalam merawat keutuhan ciptaan. Jika Laudato SiAo menegaskan keterhubungan antara krisis ekologis dan ketidakadilan sosial, maka Handep Hapakat menghadirkan mekanisme lokal untuk merawat keterhubungan tersebut melalui musyawarah adat dan kerja kolektif. Dalam konteks ini. Handep Hapakat bukan sekadar nilai budaya, tetapi merupakan praksis Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik VOLUME X. NO. September 2024 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 69-84 sosial yang menantang logika individualisme dan ekstraktivisme global yang sering menjadi akar krisis lingkungan (Francis, 2. 3 Gereja. Inkulturasi, dan Transformasi Ekopastoral Pembahasan lebih lanjut menunjukkan bahwa Handep Hapakat memiliki potensi besar sebagai dasar pengembangan ekopastoral Gereja yang kontekstual di Kalimantan Tengah. Gereja, yang dipanggil untuk mewartakan Injil kehidupan, menemukan dalam nilai ini sebuah titik temu antara iman Kristiani dan kebijaksanaan lokal masyarakat Dayak. Inkulturasi nilai Handep Hapakat dalam karya pastoral memungkinkan Gereja menghadirkan pewartaan yang membumi, relevan, dan Dalam praktik pastoral, pendidikan iman dapat diarahkan untuk menumbuhkan pertobatan ekologis yang berakar pada budaya setempat. Liturgi dan katekese dapat diperkaya dengan simbol dan nilai yang menegaskan kebersamaan, tanggung jawab terhadap alam, serta solidaritas dengan komunitas yang terdampak krisis ekologis. Dengan pendekatan ini, iman tidak dipahami sebagai realitas abstrak, melainkan sebagai daya yang membentuk cara hidup umat dalam relasi dengan sesama dan alam. Lebih jauh. Gereja dipanggil untuk mengambil peran profetis dengan berdiri bersama masyarakat adat dalam memperjuangkan keadilan ekologis. Dalam konteks ini. Handep Hapakat tidak hanya menjadi inspirasi spiritual, tetapi juga landasan etis bagi advokasi sosial dan ekologis. Gereja tidak tampil sebagai aktor eksternal yang mendominasi, melainkan sebagai mitra komunitas yang berjalan bersama dalam menjaga keutuhan ciptaan dan martabat kehidupan manusia. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Handep Hapakat merupakan kearifan lokal masyarakat Dayak yang mengandung nilai teologis dan etis yang relevan dalam merespons krisis ekologis kontemporer. Melalui pendekatan kualitatif dengan orientasi hermeneutika teologis-kultural. Handep Hapakat dibaca bukan sekadar sebagai tradisi sosial-budaya, melainkan sebagai praksis kehidupan yang menata relasi manusia, alam, komunitas, dan Sang Pencipta secara integral. Pembacaan ini menegaskan bahwa krisis ekologis di Kalimantan Tengah tidak dapat dipahami hanya HANDEP HAPAKAT SEBAGAI PRAXIS EKOLOGI INTEGRAL: ANALISIS EKOTEOLOGIS KEARIFAN LOKAL DAYAK DALAM MERESPONS KRISIS LINGKUNGAN sebagai persoalan lingkungan, tetapi sebagai krisis relasional yang menyentuh dimensi sosial, budaya, dan spiritual masyarakat adat. Dalam dialog dengan visi ekologi integral sebagaimana dikembangkan dalam Laudato SiAo, penelitian ini menemukan bahwa nilai-nilai kebersamaan, tanggung jawab kolektif, dan penghormatan terhadap alam yang terkandung dalam Handep Hapakat memiliki kesepadanan struktural dengan kerangka teologis Gereja Katolik. Handep Hapakat menghadirkan praksis ekologi integral yang hidup dalam konteks lokal, di mana dimensi ekologis, sosial, budaya, dan spiritual tidak dipisahkan, tetapi dijalani sebagai satu kesatuan praksis kehidupan bersama. Dengan demikian, kearifan lokal Dayak tidak hanya memiliki relevansi kultural, tetapi juga bobot teologis sebagai sumber refleksi dan inspirasi bagi pengembangan ekoteologi kontekstual. Lebih lanjut, penelitian ini menegaskan bahwa inkulturasi nilai Handep Hapakat membuka ruang bagi transformasi ekopastoral Gereja di Kalimantan Tengah. Gereja dipanggil untuk tidak hadir sebagai aktor eksternal yang menggurui, melainkan sebagai mitra komunitas yang berjalan bersama masyarakat adat dalam merawat keutuhan ciptaan dan memperjuangkan keadilan ekologis. Pendidikan iman, liturgi, katekese, dan aksi sosial Gereja dapat diperkaya oleh nilai-nilai budaya lokal yang menegaskan solidaritas, musyawarah, dan tanggung jawab terhadap kehidupan Sebagai kontribusi akademik, artikel ini menawarkan pembacaan baru terhadap Handep Hapakat sebagai model praksis ekologi integral yang kontekstual, inkulturatif, dan transformatif dalam perspektif teologi Katolik. Pembacaan ini memperkaya diskursus ekoteologi dan teologi kontekstual dengan menunjukkan bahwa kearifan lokal masyarakat adat dapat menjadi locus theologicus yang sah dan relevan dalam menghadapi krisis ekologis global. Ke depan, penelitian ini membuka peluang bagi kajian lanjutan yang melibatkan penelitian lapangan dan dialog interdisipliner, guna memperdalam pemahaman tentang peran kearifan lokal dalam membangun spiritualitas dan praksis ekologis yang berkelanjutan. Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik VOLUME X. NO. September 2024 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 69-84 DAFTAR REFERENSI Bevans. Models of contextual theology. Orbis Books. Conradie. Christianity and ecological theology: Resources for further Stellenbosch: SUN Press. Bergoglio. Let us dream: The path to a better future. London: Simon & Schuster. Dewi. , & Widodo. Kearifan lokal masyarakat Dayak dalam menjaga keseimbangan ekologi hutan Kalimantan. Jurnal Antropologi Indonesia, 42. , 115Ae130. Deane-Drummond. Laudato SiAo and the ecological conversion of the Church. London: Bloomsbury. Francis. Laudato SiAo: On care for our common home (Updated reflection Vatican City: Libreria Editrice Vaticana. Gadamer. -G. Truth and method. Continuum. Haba. Etika komunal masyarakat adat Dayak dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 24. , 157Ae172. Haryanto. Solidaritas komunal dan etika lingkungan masyarakat adat. Jurnal Antropologi Sosial, 12. , 33Ae48. IPBES. Assessment report on biodiversity and ecosystem services. Bonn: IPBES Secretariat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Status lingkungan hidup Indonesia 2023. Jakarta: KLHK. `Messias. From ecotheology to ecospirituality in Laudato SiAo: Ecological spirituality beyond Christian religion. Religions, 15. , 68. HANDEP HAPAKAT SEBAGAI PRAXIS EKOLOGI INTEGRAL: ANALISIS EKOTEOLOGIS KEARIFAN LOKAL DAYAK DALAM MERESPONS KRISIS LINGKUNGAN Riwut. , & Utomo. Nilai-nilai budaya Dayak sebagai basis etika lingkungan hidup. Jurnal Masyarakat & Budaya, 22. , 341Ae356. Ricoeur. Hermeneutics and the human sciences. Cambridge University Press. Walhi Kalimantan Tengah. Laporan kondisi lingkungan hidup Kalimantan Tengah. Palangka Raya: WALHI Kalteng. Siregar. Kosmologi masyarakat adat dan etika lingkungan hidup di Kalimantan. Jurnal Antropologi Indonesia, 43. , 55Ae70. Setyawan. , & Haba. Kearifan lokal masyarakat adat dan keadilan ekologis: Perspektif keberlanjutan dan antargenerasi. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 25. , 189Ae205. Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik VOLUME X. NO. September 2024