Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3110-3122 Pengembangan Budidaya Kerapu Cantang (Epinephelus S. sebagai Alternatif Pendapatan Desa Lembung. Kecamatan Galis. Kabupaten Pamekasan The Development of Cantang Grouper (Epinephelus sp. ) Cultivation as an Alternative Source of Income in Lembung Village. Galis Subdistrict. Pamekasan Regency Zuliati1. Slamet Widodo*1. Amanatuz Zuhriyah1. Jeter Donald Siwalette2 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Trunojoyo Madura Program Studi Penyuluhan Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Pattimura *Email: slametwidodo@trunojoyo. (Diterima 09-05-2025. Disetujui 15-07-2. ABSTRAK Sektor perikanan adalah salah satu sektor unggulan di Indonesia yang berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, serta memberikan dampak bagi masyarakat. Komoditas perikanan budidaya yang mempunyai peluang tinggi untuk dikembangkan diantaranya adalah ikan kerapu. Berdasarkan studi pendahuluan terdapat tantangan yang dihadapi dalam budidaya ikan kerapu cantang di Desa Lembung. Kecamatan Galis. Kabupaten Pamekasan, yaitu pertumbuhan ikan yang belum optimal dan tingginya angka kematian hingga mencapai 64%. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan: . menganalisis kelayakan usaha budidaya ikan kerapu cantang, dan i. merumuskan strategi pengembangan usaha budidaya kerapu Metode analisa data yang diterapkan, diantaranya: analisis biaya, analisis total penerimaan, analisis pendapatan. R/C ratio, dan analisis SWOT. Hasil penelitian menjelaskan budidaya ikan kerapu cantang dapat menjadi alternatif sumber pendapatan bagi petani garam dalam menghadapi fluktuasi harga garam akibat perubahan iklim. Selain itu, nilai R/C ratio sebesar 1,39 menunjukkan usaha ini layak dijalankan dengan keuntungan yang diperoleh mencapai Rp. 001,-. per periode produksi. Berdasarkan hasil analisis SWOT, diperoleh selisih skor X sebesar -0,30 dan Y sebesar -0,11, yang menempatkan usaha ini pada kuadran IV, yaitu strategi W-T. Strategi ini memiliki tujuan dalam meminimalisir kelemahan dari dalam serta menjauhkan ancaman dari luar. Strategi yang mampu dilakukan yaitu dengan pemberian pakan yang cukup dan seimbang untuk ikan serta melakukan monitoring (W3. Kemudian meningkatkan kemampuan SDM melalui pelatihan pembudidayaan ikan kerapu cantang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta mengatasi serangan penyakit pada ikan yang disebabkan oleh parasit dan patogen (W1. W2. T1. T2. Kata kunci: budidaya ikan kerapu, kelayakan. SWOT ABSTRACT The fisheries sector is one of the leading sectors in Indonesia that plays an important role in driving economic growth, as well as providing an impact on society. Aquaculture commodities that have a high chance of growing include grouper. Based on preliminary studies, there are challenges faced in grouper cultivation in Lembung Village. Galis District. Pamekasan Regency, namely fish growth that is not optimal and a high mortality rate of up to 64%. Therefore, this research has the following objectives: . analyze the feasibility of grouper farming, and i. formulate a strategy for developing grouper farming. Data analysis methods applied include: cost analysis, total revenue analysis, income analysis and R/C ratio, and SWOT analysis. The results explained that grouper farming can be an alternative source of income for salt farmers in the face of fluctuations in salt prices due to climate change. In addition, the R/C ratio value of 1. 39 shows that this business is feasible to run with the profit obtained reaching Rp. 16,931,001. Based on the results of the SWOT analysis, the difference between the X score of -0. 30 and Y score of -0. 11 is obtained, which places this business in quadrant IV, namely the W-T strategy. This strategy aims to minimize internal weaknesses and keep external threats away. Strategies that can be carried out are by providing adequate and balanced feed for fish and monitoring (W3. Then improve the ability of human resources through training in grouper cultivation to increase knowledge and skills and overcome disease attacks on fish caused by parasites and pathogens (W1. W2. T1. T2. Keywords: grouper fish farming, feasibility. SWOT Pengembangan Budidaya Kerapu Cantang (Ephinephelus s. sebagai Alternatif Pendapatan Pegaram Desa Lembung. Kecamatan Galis. Kabupaten Pamekasan Zuliati. Slamet Widodo. Amanatuz Zuhriyah. Jeter Donald Siwalette PENDAHULUAN Sektor perikanan menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional dan menjadi yang unggul di Indonesia yang mampu menyumbangkan dampak ekonomi terhadap masyarakat. Sektor perikanan memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi (Abdullah et al. , 2. Secara umum, sektor perikanan terdiri dari dua kelompok, yakni perikanan tangkap dan budidaya. Kementerian Kelautan dan Perikanan . menunjukkan perikanan tangkap menyumbang 33,64% dari total produksi, sementara perikanan budidaya menyumbang 66,36%. Hasil produksi tersebut menunjukkan bahwa perikanan budidaya memiliki peran yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan konsumsi komoditas perikanan pada masyarakat. Salah satu komoditas perikanan budidaya yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah ikan Kerapu termasuk dalam komoditas yang banyak dibudidayakan di daerah pesisir Indonesia. Berdasarkan Data Kementerian Kelautan dan Perikanan . , produksi ikan kerapu di Indonesia pada tahun 2022 sebesar 12. 239,52 ton dan pada tahun 2023 meningkat menjadi 30. 934,18 ton. Jumlah produksi ini mengalami peningkatan sebesar 152,74%. Sebagian besar produksi ikan kerapu di Indonesia berasal dari perikanan tangkap. Akan tetapi, akibat menurunnya kualitas perairan sehingga berdampak pada penurunan hasil tangkapan. Produksi ikan kerapu berasal dari perikanan budidaya pada tahun 2022 hanya mencapai 9. 478 ton (Badan Pusat Statistik, 2. Sentra budidaya kerapu berada di daerah Situbondo. Buleleng. Lampung, dan Batam. Buleleng dan Batam tercatat sebagai penghasil utama kerapu karena memiliki kondisi perairan yang mendukung untuk pengembangan budidaya. Beragam jenis ikan kerapu yang hidup di perairan Indonesia, yang terdiri dari kerapu bebek, kerapu batik, kerapu macan, kerapu lumpur, kerapu kertang, dan kerapu sunu (Utari & Wahyudi, 2. Salah satu jenis kerapu yang dibudidayakan merupakan ikan kerapu cantang yang merupakan hasil persilangan antara kerapu kertang jantan (Ephinephelus lanceolatu. dan kerapu macan betina (Ephinephelus fuscoguttatu. (Qu et al. , 2. Ikan kerapu cantang mempunyai nilai positif pada pertumbuhan yang progresif dan ketahanan pada penyakit (Yang et al. Anita & Dewi, 2020. Rimmer & Glamuzina, 2. Keunggulan tersebut mendorong pembudidaya untuk terus meningkatkan produksi guna memenuhi kebutuhan pasar. Hasil penelitian SaAoadah & Suyoto, . menunjukkan bahwa budidaya ikan kerapu cantang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena memberikan keuntungan. Selain menguntungkan ikan kerapu mempunyai peluang menjadi bahan ekspor karena nilai pasarnya yang tinggi (Khasanah et al. , 2. Daging ikan kerapu yang lembut, memiliki rasa dan aroma yang lezat sehingga menjadi makanan laut populer di beberapa restoran yang berada di luar negeri. Beberapa negara di Asia yang mengekspor ikan kerapu cantang antara lain Malaysia. Vietnam. Thailand. Brunei. Taiwan. Singapura. Hong Kong, dan Cina (Ismi. Dadiono et al. Jawa Timur merupakan salah satu penyumbang produksi ikan kerapu, pada tahun 2022 produksi ikan kerapu budidaya di Jawa Timur mencapai 2. 050 ton (Badan Pusat Statistik, 2. Budidaya ikan kerapu di Jawa Timur selama ini terkonsentrasi di Situbondo karena daerah tersebut merupakan sentra pembenihan ikan kerapu dan penyumbang produksi ikan kerapu di Jawa Timur (Sofiatin et , 2. Desa Lembung, yang terletak di pesisir merupakan salah satu daerah penghasil garam. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani garam. Namun, pada saat musim penghujan, lahan garam tidak dapat digunakan untuk produksi garam. Kondisi ini menyebabkan terjadinya penurunan Oleh karena itu, petani garam memanfaatkan lahannya untuk budidaya perikanan. Salah satunya yaitu budidaya ikan kerapu cantang. Pilihan budidaya ikan kerapu cantang karena dapat hidup di air payau. Selain itu, ketiadaan pesaing lokal membuka peluang besar untuk mengembangkan komoditas ini. Menurut penelitian Meilina et al. ikan kerapu cantang dapat hidup di lingkungan perairan dengan salinitas tinggi. Mengingat potensi budidaya ikan kerapu yang cukup menjanjikan. Pemerintah Kabupaten Pamekasan mencoba mengembangkan daerahnya menjadi sentra budidaya ikan kerapu cantang. Dukungan dari pemerintah daerah dalam pengembangan budidaya ikan kerapu cantang dengan memberikan bantuan bibit dan sarana budidaya. Pada tahun 2024, pemerintah daerah memberikan bantuan untuk pengembangan budidaya ikan kerapu cantang di Desa Lembung. Kecamatan Galis, sebesar Rp. 000,- (Kutipan, 2. Bantuan ini diharapkan dapat menambah pendapatan masyarakat melalui pengembangan usaha budidaya kerapu cantang. Budidaya ikan kerapu cantang tidak hanya menjawab permasalahan musiman dalam produksi garam, tetapi juga membuka peluang baru untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendorong Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3110-3122 pertumbuhan ekonomi Desa Lembung. Menurut Trikobery et al. menyatakan bahwa lahan garam dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan, terutama usaha tambak air payau. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Palupi et al. , menunjukkan usaha pembenihan kerapu cantang layak secara finansial. Sementara itu, penelitian Rochmad . , menyimpulkan bahwa usaha pembesaran kerapu cantang layak secara finansial dan memiliki prospek untuk dikembangkan. Namun demikian, berdasarkan studi pendahuluan terdapat tantangan yang dihadapi dalam budidaya ikan kerapu cantang, yaitu pertumbuhan ikan yang belum optimal dan tingginya angka kematian hingga mencapai 64%. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini, sebagai berikut: . menganalisa kelayakan usaha budidaya kerapu cantang, dan . merumuskan strategi pengembangan usaha budidaya kerapu cantang. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Desa Lembung. Kecamatan Galis. Kabupaten Pamekasan. Penelitian berlangsung pada bulan Agustus sampai Desember 2024. Penelitian ini menggunakan data primer dengan teknik observasi dan wawancara. Wawancara dilakukan kepada responden terpilih, yaitu pembudidaya kerapu cantang yang terdiri dari satu pemilik usaha dan dua tenaga kerja. Wawancara dilakukan secara terstruktur dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Teknik analisis yang diterapkan dalam mengetahui kelayakan usaha budidaya ikan kerapu cantang, dengan analisa biaya, analisa pendapatan, analisa penerimaan, dan R/C ratio. Analisis Biaya Perhitungan biaya produksi dilakukan dengan mengurangi total biaya tetap dari total biaya variabel (Suratiyah, 2. = TFC TVC Keterangan: = Total Biaya TFC = Total Biaya Tetap TVC = Total Biaya Variabel Analisis Penerimaan Proses menghitung penerimaan total . otal revenu. dengan produksi (Y) dan harga jual (P. yang dikalikan (Suratiyah, 2. = Py. Keterangan: = Harga Produk = Jumlah Produk = Penerimaan Total Analisis Pendapatan Proses menghitung biaya produksi adalah mengurangi total biaya tetap dengan total biaya variabel (Suratiyah, 2. = TR-TC Keterangan: = Pendapatan = Total Penerimaan = Total Biaya Analisis Kelayakan Revenue Cost Ratio untuk membandingkan penerimaan total dengan biaya total yang digunakan (Suratiyah, 2. R/C sU = s Pengembangan Budidaya Kerapu Cantang (Ephinephelus s. sebagai Alternatif Pendapatan Pegaram Desa Lembung. Kecamatan Galis. Kabupaten Pamekasan Zuliati. Slamet Widodo. Amanatuz Zuhriyah. Jeter Donald Siwalette Keterangan: R/C = Perbandingan = Total Revenue/Penerimaan Total (R. = Total Cost/ Biaya Total (R. Kriteria keputusan: Nilai R/C ratio >1, usaha layak Nilai R/C ratio =1, usaha mencapai titik impas Nilai R/C ratio <1, usaha tidak dapat dilaksanakan atau tidak layak. Sedangkan untuk menentukan strategi pengembangan menggunakan analisis SWOT, tahap awal dengan menganalisa faktor dari dalam dan dari luar. Analisa SWOT merupakan alat untuk menilai strategi yang diterapkan dalam mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. (Quezada et al. , 2. Menurut Kumalasari . , tahap-tahap yang harus dilaksanakan untuk menganalisa SWOT dengan menyusun matriks IFAS (Internal Factors Analysis Summar. dan EFAS (External Factors Analysis Summar. Menganalisa faktor-faktor dari dalam yang mencakup kekuatan, kelemahan, serta peluang dan ancaman pada faktor-faktor dari luar . Menetapkan bobot dalam faktor dengan nilai 0,00 yaitu tidak penting sampai 1,00 yang berarti sangat penting. Memberikan nilai bobot dalam skala 1-4, yaitu: 1 berarti sangat tidak penting, 2 berarti tidak penting, 3 berarti penting, dan 4 berarti sangat penting. Menilai setiap faktor dari dalam dengan peringkat 1 berarti sangat lemah, 2 berarti lemah, 3 berarti kuat, atau 4 berarti sangat kuat, serta melakukan hal yang sama untuk faktor eksternal dengan peringkat 1 . , 2 . urang bai. , 3 . , atau 4 . angat bai. Untuk memperoleh skor masing-masing faktor, dihitung dengan mengalikan bobot dan rating. Total skor didapatkan melalui penjumlahan seluruh skor. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Budidaya Ikan Kerapu Cantang Masyarakat desa Desa Lembung. Kecamatan Galis. Kabupaten Pamekasan, sebagian besar menggantungkan kehidupannya dengan bekerja sebagai petani garam. Sebagian besar lahan produktifnya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memproduksi garam. Garam menjadi komoditas penting bagi masyarakat setempat karena merupakan sumber pendapatan utama. Namun, perubahan harga garam yang signifikan dari tahun ke tahun menjadi tantangan bagi petani garam (Zuraya. Fluktuasi harga garam disebabkan oleh faktor cuaca sehingga mengganggu proses produksi dan kebijakan impor garam. Perubahan iklim, khususnya peningkatan intensitas dan frekuensi curah hujan, telah mengganggu proses produksi garam secara signifikan. Selain itu, terdapat perubahan cuaca yang menyebabkan lamanya musim penghujan dan meningkatnya intensitas hujan dapat mengganggu masyarakat yang bermata pencaharian mengandalkan sumber daya alam terutama di pesisir. Kondisi ini menyebabkan penurunan kadar garam dan semakin panjangnya waktu penguapan, sehingga berdampak pada pasokan dan harga garam di pasaran. Penelitian Aldi et al. menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada proses produksi garam, tetapi juga menyebabkan fluktuasi harga. Musim penghujan yang tidak menentu mengganggu proses produksi, sehingga berdampak pada pasokan garam di pasaran dan memengaruhi pendapatan petani garam. Selain itu, penelitian Mustafa et al. menyatakan bahwa penurunan harga garam berdampak pada menurunnya tingkat kesejahteraan, karena petani garam mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menghadapi tantangan perubahan iklim, pengusahaan lahan garam yang dilakukan berupa pemanfaatan pada saat musim penghujan. Pada musim penghujan, lahan garam tidak dapat digunakan untuk produksi. Sebagaimana diketahui, proses produksi garam memerlukan proses penguapan air melalui pemanasan dan penyinaran sinar matahari. Oleh karena itu, pada saat musim penghujan, lahan garam dimanfaatkan untuk budidaya perikanan. Penelitian Hasanuddin et al. menyatakan lahan garam dapat dikonversi menjadi tambak ikan, terutama untuk spesies yang toleran Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3110-3122 terhadap salinitas tinggi. Langkah ini tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan pada produksi garam yang rentan terhadap perubahan iklim, tetapi juga dapat memberikan peluang penghasilan masyarakat pesisir. Potensi ekonomi dari lahan tambak garam semakin terbukti dengan adanya inisiatif salah satu penduduk Desa Lembung yang memulai budidaya ikan kerapu cantang pada tahun 2022. Pemilihan ikan kerapu cantang didasarkan pada kesesuaiannya dengan kondisi tambak garam yang mempunyai salinitas tinggi. Usaha budidaya ikan kerapu cantang ini diawali dengan pembentukan kelompok pembudidaya ikan (Pokdaka. AuBerkah Tambak SegaraAoAo yang beranggotakan 10 orang. Pembentukan kelompok ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi budidaya melalui kerja sama, berbagi pengetahuan, serta memperkuat akses terhadap sumber daya dan dukungan Pengembangan budidaya ikan kerapu cantang diharapkan dapat mendukung keberlanjutan sektor perikanan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu, budidaya ini juga berpotensi membuka peluang kerja baru yang dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Analisis Biaya Usaha Budidaya Ikan Kerapu Cantang Analisis biaya yang dibutuhkan pada usaha budidaya ikan kerapu cantang meliputi biaya tetap dan biaya variabel, yang mencakup seluruh pengeluaran dalam masa produksi satu kali masa panen. Biaya tetap merupakan pengeluaran yang tidak memberi dampak dari banyaknya produksi, artinya tetap sama meskipun jumlah ikan kerapu cantang yang dibudidayakan berbeda. Sedangkan biaya variabel dalam budidaya ikan mencakup berbagai pengeluaran yang berubah sesuai dengan tingkat produksi atau skala usaha (Dewi et al. , 2. Tabel 1 menunjukkan jenis biaya produksi yang digunakan usaha budidaya ikan kerapu cantang. Tabel 1. Jenis Biaya Produksi No Komponen Biaya Jumlah Biaya (R. Biaya Tetap (FC) 1 Penyusutan Alat 2 Pajak Lahan Total Biaya Tetap Biaya Variabel (VC) 1 Bibit 2 Tenaga Kerja 3 Ikan Rucah 4 Pakan Konsentrat . 5 Listrik Total Biaya Variabel Total Biaya (TC) Sumber: Data Primer Diolah . Berdasarkan Tabel 1, total biaya yang digunakan dalam siklus budidaya ikan kerapu cantang yang berlangsung selama empat bulan sebesar Rp. 999,-. Biaya produksi diantaranya biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap, terdiri dari penyusutan alat sebesar Rp. 999,-. Sementara biaya pajak lahan sebesar Rp. 000,- untuk setiap periode budidaya dengan luas lahan 20x20 m2. Biaya variabel paling banyak digunakan untuk membeli bibit, yang mencapai Rp. 000,-. Biaya ini untuk 5. 000 ekor bibit dengan harga satuan Rp. 000,-. Bibit ini kemudian ditebar pada tambak dengan luas 20x20 m2. Penelitian Astari . dan Gu . juga mengindikasikan bahwa biaya pembelian bibit merupakan biaya terbesar dalam total biaya produksi budidaya ikan kerapu. Bibit yang digunakan dalam proses budidaya ini diperoleh dari Situbondo. Daerah yang diketahui menjadi pusat produksi bibit kerapu di Jawa Timur. Pada proses pemeliharaan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan mencapai Rp. 000,- selama empat bulan, dengan melibatkan dua orang pekerja yang masing-masing menerima upah Rp. 000,-. per bulan. Tenaga kerja bertanggung jawab atas pemeliharaan harian, meliputi penggantian air setiap tiga hari sekali dan pemberian pakan dua kali sehari. Pergantian air secara rutin sangat penting dalam mempertahankan kualitas air, mengingat bahwa keadaan air yang buruk dapat meningkatkan risiko infeksi patogen pada ikan kerapu cantang. Temuan penelitian Rumondang et al. , . menunjukkan bahwa kualitas air yang tidak optimal dapat memicu berbagai Pengembangan Budidaya Kerapu Cantang (Ephinephelus s. sebagai Alternatif Pendapatan Pegaram Desa Lembung. Kecamatan Galis. Kabupaten Pamekasan Zuliati. Slamet Widodo. Amanatuz Zuhriyah. Jeter Donald Siwalette permasalahan kesehatan pada ikan, termasuk infeksi jamur, bakteri, dan virus. Mengatasi permasalahan tersebut, pengelolaan kualitas air yang baik menjadi sangat penting terutama pada pergantian air. Selama proses pembesaran kualitas air menjadi aspek penting dalam pertumbuhan ikan kerapu Kualitas air memengaruhi kesehatan dan kelangsungan hidup ikan, maka dari itu upaya yang dilakukan untuk menjaga kualitas air adalah dengan menggunakan aerasi mekanis melalui kincir air. Aerasi pada ikan memiliki manfaat untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut, mendukung proses respirasi ikan, dan mengurangi tingkat stres (Boyd et al. , 2. Pada tambak seluas 20x20 m2, tiga unit kincir air dioperasikan selama 15 jam per hari untuk menjaga kualitas air. Selain itu, pompa air listrik digunakan selama 2 jam per hari untuk menghasilkan gelembunggelembung udara guna meningkatkan suplai oksigen. Biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan kincir air dan pompa listrik mencapai Rp. 000,- per bulan. Pertumbuhan ikan kerapu cantang tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas air, namun juga sangat bergantung pada asupan nutrisi. Pada tahap awal pertumbuhan di bulan pertama, ikan diberi pakan konsentrat . sebanyak dua kali sehari untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Selanjutnya, memasuki fase pertumbuhan berikutnya di bulan kedua hingga panen, jenis pakan diganti menjadi ikan rucah segar dengan dosis pemberian 12 kg per hari yang diberikan dua kali sehari. Pilihan ikan rucah segar sebagai pakan alternatif didasarkan pada kandungan protein dan nutrisi alaminya yang lebih banyak jika dibandingkan dengan pakan komersial sehingga berpotensi mempercepat pertumbuhan ikan (Kang Chor et al. , 2. Pakan Ikan rucah ini diperoleh dari nelayan dengan harga Rp. 500,-/kilogram. Analisis Penerimaan Usaha Budidaya Kerapu Cantang Analisis penerimaan dalam usaha budidaya kerapu cantang bertujuan untuk mengukur pendapatan dari hasil produksi dan membandingkannya dengan biaya yang digunakan untuk proses budidaya. Penerimaan dihitung dari total penjualan ikan kerapu setelah panen, yang bergantung pada harga jual per kilogram dan jumlah ikan yang dipanen. Jika penerimaan lebih besar dari total biaya produksi, usaha memberikan keuntungan. Total penerimaan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Penerimaan Usaha Budidaya Komponen Jumlah 1 Jumlah Produksi . 2 Harga (R. Total Penerimaan (R. Sumber: Data Primer Diolah . Penerimaan budidaya ikan kerapu cantang selama empat bulan, sebesar Rp. 000,-. Angka ini diperoleh dari penjualan 600 kilogram ikan kerapu dengan ukuran 300-500 gram per ekor. Seluruh hasil panen dipasarkan ke pengepul di Situbondo dengan harga jual yakni Rp. 000,- per kilogram. Analisis Pendapatan Usaha Budidaya Kerapu Cantang Pendapatan usaha budidaya diukur melalui pengurangan total biaya produksi dari total penerimaan yang diperoleh. Pendapatan adalah untung bersih yang dihasilkan dari proses budidaya setelah semua pengeluaran selama satu siklus budidaya dikurangkan. Perhitungan pendapatan sangat penting untuk menilai seberapa efektif usaha menghasilkan laba. Hasil perhitungan pendapatan selama satu siklus produksi dapat tergambar pada Tabel 3. Tabel 3. Pendapatan Usaha Budidaya No Komponen Jumlah (R. 1 Penerimaan 2 Total Biaya Pendapatan Sumber: Data Primer Diolah . Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel 3, menampilkan total penerimaan budidaya kerapu cantang senilai Rp. 000,-, dengan total biaya produksi mencapai Rp. 999,-. Pendapatan bersih yang diperoleh Rp. 001,- selama empat bulan budidaya. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3110-3122 Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Kerapu Cantang Hasil perbandingan dari total penerimaan (TR) dan total biaya (TC) dikenal dengan R/C (Revenue Cost Rati. disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Analisis R/C Ratio Usaha Budidaya Komponen Jumlah (R. 1 Total Penerimaan 2 Total Biaya R/C 1,39 Sumber: Data Primer Diolah . R/C ratio menunjukkan nilai 1,39. Nilai ini diperoleh dari hasil perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya produksi selama empat bulan. Hasil analisis ini mengindikasikan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan dalam budidaya kerapu cantang menghasilkan penerimaan sebesar Rp. 1,39. Nilai R/C ratio (R/C > . diatas 1 mengartikan bahwa usaha budidaya kerapu cantang ini secara ekonomis berlangsung dengan layak. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh SaAoadah & Suyoto . yang menampilkan nilai R/C ratio yaitu 2,01 atau lebih tinggi yang mengindikasikan usaha budidaya ikan kerapu cantang layak dijalankan dan dikembangkan. Analisis Faktor Internal Usaha Budidaya Ikan Kerapu Cantang Analisis faktor internal merupakan proses evaluasi yang dilakukan terhadap kondisi di dalam suatu perusahaan (Benzaghta et al. , 2. Tujuannya adalah menganalisa kekuatan dan kelemahan yang memengaruhi usaha. Nilai evaluasi dari faktor internal dihitung melalui proses perkalian bobot dan rating dalam setiap faktor keunggulan dan kekurangan. Setelah itu, selisih dari keseluruhan skor faktor kekuatan dan kelemahan digunakan untuk menentukan hasil analisa faktor internal. Adapun hasil dari analisa dari dalam faktor usaha budidaya ikan kerapu cantang pada Tabel 5. Tabel 5. Analisis Faktor Internal Usaha Budidaya Ikan Kerapu Cantang Faktor Internal Bobot Rating Skor Kekuatan Ketersediaan lahan budidaya 0,15 2,00 0,30 Ketersediaan sumber daya perairan 0,17 2,33 0,39 Terbentuknya kelompok budidaya 0,17 1,33 0,22 Sub total 0,49 0,91 Kelemahan Keterbatasan pakan 0,15 2,00 0,30 Rendahnya pengetahuan budidaya 0,17 2,00 0,34 Terjadinya kanibalisme 0,19 3,00 0,57 Sub total 0,51 1,21 Total 1,00 2,12 Selisih -0,30 Sumber: Data Primer Diolah . Analisis faktor internal menunjukkan sumber daya perairan merupakan aspek utama yang mendukung keberhasilan budidaya ikan kerapu cantang. Lokasi yang berdekatan dengan pesisir menjadi faktor penting dalam proses budidaya. Selain itu, kualitas air, suhu, kadar oksigen terlarut, dan tingkat salinitas juga memiliki peran krusial dalam mendukung pertumbuhan ikan kerapu Kelemahan utama dalam budidaya ikan kerapu cantang adalah tingginya tingkat kanibalisme. Faktorfaktor seperti perbedaan ukuran tubuh yang signifikan antar ikan, kepadatan populasi yang terlalu tinggi, dan kekurangan pakan menjadi pemicu utama terjadinya kanibalisme. Dampak dari kondisi ini adalah menurunnya produktivitas budidaya akibat kematian ikan yang dimangsa oleh Ikan Menurut penelitian Anita & Dewin . menunjukkan keberlangsungan hidup ikan kerapu dapat dipengaruhi oleh faktor kanibalisme. Pengembangan Budidaya Kerapu Cantang (Ephinephelus s. sebagai Alternatif Pendapatan Pegaram Desa Lembung. Kecamatan Galis. Kabupaten Pamekasan Zuliati. Slamet Widodo. Amanatuz Zuhriyah. Jeter Donald Siwalette Analisis Faktor Eksternal Usaha Budidaya Ikan Kerapu Cantang Analisis faktor eksternal merupakan proses evaluasi yang dilakukan terhadap kondisi di luar suatu perusahaan (Benzaghta et al. , 2. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi peluang . dan ancaman . dimiliki suatu usaha. Nilai evaluasi dari beberapa faktor dari luar diketahui melalui proses perkalian bobot dan rating pada setiap faktor peluang dan ancaman. Selanjutnya, nilai itu didapatkan melalui perbedaan dari total skor faktor peluang dan ancaman. Adapun hasil dari analisis faktor dari luar usaha budidaya ikan kerapu cantang pada Tabel 6. Tabel 6. Analisis Faktor Eksternal Usaha Budidaya Ikan Kerapu Cantang Faktor Eksternal Bobot Rating Skor Peluang Tingkat persaingan rendah 0,15 2,33 0,34 Permintaan pasar kerapu 0,14 2,00 0,28 Bantuan dari pemerintah 0,14 2,00 0,28 Sub total 0,43 0,90 Ancaman Perubahan iklim 0,17 1,67 0,28 Serangan penyakit 0,20 2,00 0,40 Kenaikan harga pakan 0,20 1,67 0,33 Sub total 0,57 1,01 Total 1,00 1,91 Selisih -0,11 Sumber: Data Primer Diolah . Analisis faktor eksternal menunjukkan bahwa rendahnya tingkat persaingan dalam budidaya ikan, khususnya ikan kerapu cantang, berkaitan dengan jumlah kompetitor di pasar yang relatif sedikit dibandingkan dengan komoditas perikanan lainnya. Situasi ini memberikan peluang bagi pembudidaya ikan kerapu cantang untuk meraih keuntungan lebih besar tanpa harus menghadapi persaingan yang ketat. Selain itu, ancaman paling besar pada budidaya ikan kerapu cantang merupakan risiko timbulnya masalah kesehatan. Infeksi dari patogen dan parasit dapat memicu stres, menghambat pertumbuhan, menurunkan nafsu makan, serta meningkatkan tingkat kematian ikan. Menurut Rahayu et al. serangan parasit dapat menyebabkan luka, infeksi oleh virus maupun bakteri, yang berdampak terhadap kematian ikan. Dampak dari kondisi ini dapat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas dan profitabilitas usaha budidaya. Diagram Analisis SWOT Analisis SWOT adalah usaha untuk menganalisa kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dapat berpengaruh pada hasil pekerjaan (Wang & Wang, 2. Strategi pengembangan berdasarkan faktor dari dalam dan dari luar dapat dianalisis melalui matriks SWOT. Output dari matriks SWOT diantaranya empat bagian: Strategi ST (Strengths-Threat. SO (Strengths-Opportunitie. WT (Weaknesses-Threat. , dan WO (Weaknesses-Opportunitie. (Rizki et al. , 2. Posisi strategi yang berada di kuadran 1 seperti terlihat pada Gambar 1. Berdasarkan analisa faktor dari dalam dan dari luar, diperoleh skor X senilai -0,30 dan Y senilai 0,11, yang menempatkan usaha budidaya ikan kerapu cantang dalam kuadran IV dengan strategi Kondisi ini mencerminkan adanya kelemahan internal yang cukup besar serta tingginya ancaman eksternal. Strategi defensif mengharuskan pengelola usaha untuk berfokus pada pengendalian kerugian, peningkatan efisiensi operasional, serta penyesuaian terhadap ancaman melalui upaya pengurangan risiko dan pemanfaatan peluang dalam lingkungan usaha. Menurut Jenco & Lysa . , strategi ini bertujuan untuk melindungi usaha dari ancaman eksternal sekaligus meminimalkan dampak kelemahan internal. Oleh karena itu, strategi yang diterapkan dalam pengembangan usaha budidaya ikan kerapu cantang adalah strategi W-T. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3110-3122 Gambar 1. Grafik Kuadran SWOT Sumber: Data Primer Diolah . Matriks SWOT Matriks SWOT merupakan alat yang digunakan dalam merumuskan berbagai strategi dalam pengembangan bisnis. Metode ini membantu memahami besaran peluang dan ancaman dari faktor di luar dapat dihadapi oleh para pemangku kepentingan, serta menyesuaikan kekuatan dan kelemahan dalam bisnis tersebut. Matriks SWOT memberikan output berupa empat aspek, yaitu: Strategi ST (Strengths-Threat. SO (Strengths-Opportunitie. WT (Weaknesses-Threat. , dan WO (Weaknesses-Opportunitie. Setelah mengetahui faktor dari dalam . dan dari luar . pada budidaya ikan kerapu cantang, didapatkan beberapa strategi untuk mengembangkannya. Strategi pengembangan usaha budidaya ikan kerapu cantang yang disusun dalam Tabel 7. Tabel 7. Matriks SWOT Strengths Ketersediaan lahan Ketersediaan sumber daya Terbentuknya kelompok IFAS EFAS Opportunities Tingkat persaingan Permintaan pasar kerapu Dukungan dari Threats Perubahan iklim Kenaikan harga pakan Serangan penyakit Strategi SO Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar (S1. S2. O1 O. Strategi ST Memanfaatkan lahan yang tersedia untuk budidaya pakan alami (S1. S2. Melakukan pergantian air secara rutin (S2. S3. T1. Sumber: Data Primer Diolah . Weakness Keterbatasan pakan Kurangnya pengetahuan dan Terjadinya Strategi WO Mempromosikan produk (W2. O1. Menggunakan teknologi modern (W3. O1. O2. Strategi WT Melakukan pemantauan kesehatan dan pemberian pakan yang efisien untuk ikan (W3. Mengadakan pelatihan teknik budidaya ikan kerapu cantang (W1. W2. T1. T2. Pengembangan Budidaya Kerapu Cantang (Ephinephelus s. sebagai Alternatif Pendapatan Pegaram Desa Lembung. Kecamatan Galis. Kabupaten Pamekasan Zuliati. Slamet Widodo. Amanatuz Zuhriyah. Jeter Donald Siwalette Berdasarkan analisa matriks SWOT yang mengidentifikasi faktor dari dalam dan dari luar pada budidaya ikan kerapu cantang, terdapat strategi-strategi untuk mengembangkan yang dihasilkan antara lain: Strategi S-O (Strengths-Opportunitie. adalah pendekatan yang memanfaatkan keunggulan dari dalam guna mengambil peluang dari luar. Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah menambah kualitas dan kuantitas produksi dalam mencukupi permintaan pasar (S1. S2. O2. Strategi W-O (Weaknesses-Opportunitie. memiliki tujuan mengurangi kelemahan dari dalam melalui pengoptimalan peluang dari luar. Beberapa strategi yang mampu diterapkan antara lain: memanfaatkan platform media sosial sebagai sarana promosi guna memperkenalkan produk ke masyarakat (W3. O1. serta menggunakan teknologi modern, seperti sensor dan perangkat monitoring, untuk memastikan kualitas air tetap terjaga (W1. O1. O2. Strategi S-T (Strengths-Threat. adalah upaya memanfaatkan keunggulan dari dalam guna mengatasi ancaman dari luar. Beberapa langkah yang dapat diimplementasikan dengan menggunakan lahan yang tersedia untuk membudidayakan pakan alami, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada pakan komersial sekaligus menekan biaya produksi (S1. S2. Selain itu, melakukan pergantian air secara berkala juga menjadi strategi penting untuk mencegah penyebaran penyakit dan menjaga kesehatan ikan kerapu cantang (S2. S3. T1. Strategi W-T (Weaknesses-Threat. memiliki tujuan dalam meminimalisir kelemahan dari dalam dan menjauhkan ancaman dari luar. Langkah yang dapat diterapkan meliputi pemberian pakan yang cukup dan seimbang bagi ikan serta melakukan monitoring secara rutin (W3. Selain itu, peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan budidaya ikan kerapu cantang sangat diperlukan guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pembudidaya, serta mengurangi risiko serangan penyakit yang disebabkan oleh parasit dan patogen (W1. W2. T1. T2. KESIMPULAN Usaha budidaya ikan kerapu cantang di Desa Lembung. Kecamatan Galis. Kabupaten Pamekasan sebagai alternatif pendapatan bagi petani garam dalam menghadapi tantangan fluktuasi harga garam dan perubahan iklim. Usaha budidaya ikan kerapu cantang ini secara finansial layak untuk dijalankan dan dikembangkan. Sedangkan hasil dari analisis SWOT posisi usaha budidaya ikan kerapu cantang berada pada kuadran IV, yaitu di strategi W-T, merupakan strategi yang dapat diterapkan untuk meminimalkan kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal. Strategi yang dapat diterapkan antara lain adalah dengan pemberian pakan yang cukup dan seimbang untuk ikan serta melakukan monitoring (W3. Kemudian meningkatkan kemampuan SDM melalui pelatihan pembudidayaan ikan kerapu cantang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta mengatasi serangan penyakit pada ikan yang disebabkan oleh parasit dan patogen (W1. W2. T1. T2. DAFTAR PUSTAKA