JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. KOMPARASI PELAKSANAAN KURIKULUM MERDEKA DAN K13 DI MTSN 2 SIDOARJO Izza NazaliaA*. IksanA A,2UIN Sunan Ampel Surabaya *Email: izzanazalia@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis komperasi kurikulum Merdeka dan K13 di MTsN 2 Sidoarjo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan metode studi Berdasakan hasil analisis. Kurikulum 2013 dengan kepadatan materi yang tinggi, tidak lagi relevan untuk diterapkan dalam konteks saat ini. Oleh karena itu. Pendidikan Indonesia memerlukan penyesuaian dalam berbagai aspek agar tetap mencapai tujuan nasional Pendidikan. Sebaliknya. Kurikulum Merdeka lebih berfokus pada materi esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik sesuai dengan tahap perkembangannya. Hal ini bertujuan agar pembelajaran tidak terburu-buru dalam menyelesaikan materi sehingga peserta didik dapat merasakan kepuasan dalam proses belajar yang Salah satu aspek yang menonjol dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah pengembangan karakter peserta didik yang terinci dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. , hal itu lah yang di adopsi MTsN 2 Sidoarjo. Kata Kunci: Komperasi. Kurikulum Merdeka. dan K13. ABSTRACT The point of this examination is to dissect the correlation of the Merdeka and K13 educational plan at Mtsn 2 Sidoarjo. This exploration is a subjective elucidating research that utilizes the contextual investigation strategy. view of the examination results, the 2013 Educational plan, with its high material thickness, is presently not pertinent to be applied in the ongoing setting. Along these lines. Indonesian training requires changes in different viewpoints to keep on accomplishing public schooling objectives. Interestingly, the Free Educational plan zeros in additional on fundamental material and fostering understudies' capabilities as per their transformative phase. This expects to guarantee that learning isn't hurried in finishing the material so understudies can feel fulfillment in a significant growing experience. One of the perspectives that hangs out in the execution of the Autonomous Educational plan is the improvement of understudy character as definite in the Pancasila Understudy Profile Reinforcing Undertaking (P. , this is the thing Mtsn 2 Sidoarjo embraced. Keywords: Comparison. Curriculum Merdeka. and K13. PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu proses teratur yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan moral individu, serta membantu mereka memahami lingkungan sekitarnya sehingga siap menghadapi kehidupan bersama. Setiap orang memiliki potensi yang DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. dapat dikembangkan melalui pendidikan yang diadakan oleh pemerintah atau swasta. Pendidikan memainkan peran penting dalam mengoptimalkan potensi individu dan membantu mereka mencapai kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan (Anwar & Erwin 2. Pendidikan juga berperan kunci dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan dapat bersaing di tingkat global. Pemerintah memiliki tanggung jawab sentral dalam meningkatkan SDM melalui kebijakan pendidikan, yang mencakup penyediaan fasilitas pendidikan yang memadai, peningkatan kualitas guru, program bantuan kepada siswa, dan program wajib belajar selama 12 tahun. Meskipun masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya, upaya ini masih harus ditingkatkan agar menjadi lebih optimal dan menyeluruh (Hernawan & Dkk, 2. Pendidikan berperan penting dalam persiapan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan dapat bersaing secara global. Proses pendidikan dimulai di lingkungan keluarga, dilanjutkan di sekolah, dan terakhir di lingkungan Pendidikan keluarga merupakan tahap pertama dan paling fundamental dalam perkembangan seorang anak. Sekolah kemudian menjadi tempat kedua di mana anak mendapatkan pendidikan. Di sekolah, interaksi dengan guru dalam proses pembelajaran memiliki dampak besar terhadap pengembangan potensi siswa. Peran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik yang memberikan pengalaman pendidikan yang berarti bagi siswa (Subayani & Umam, 2. Proses pendidikan tidak menghasilkan perubahan secara cepat atau instan. dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk melihat hasilnya dan dampak sebenarnya dari penerapan kurikulum. Implementasi kurikulum di setiap lembaga pendidikan dalam suatu negara merupakan salah satu faktor utama dalam mencapai kesetaraan Dengan adanya landasan yang kokoh melalui kurikulum, para praktisi pendidikan dari tingkat dasar hingga tinggi memiliki pedoman yang jelas dalam menjalankan tugas mereka, menjaga konsistensi, dan kesinambungan pendidikan di seluruh sistem. Konsistensi dalam penerapan kurikulum yang sama memastikan DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. pengalaman belajar yang seragam bagi peserta didik, mengurangi disparitas antara sekolah satu dengan yang lainnya, sehingga setiap peserta didik memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas (Supriatna & Dewi, 2. Kurikulum merupakan suatu perencanaan yang mengatur materi pembelajaran, metode pengajaran, tujuan pendidikan, dan evaluasi dalam sistem pendidikan, dan memegang peran kunci dalam proses pendidikan (Supriatna & Dewi, 2. Pendidikan tidak bisa dilakukan tanpa kurikulum karena kurikulum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pendidikan, menjadi landasan untuk pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Kurikulum tidak hanya menentukan arah, materi, dan metode pembelajaran, tetapi juga memengaruhi jenis dan kualitas lulusan suatu lembaga pendidikan. Pentingnya penyesuaian kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini sangatlah besar agar tidak tertinggal. Kurikulum pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan seiring waktu, disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat serta disesuaikan dengan tuntutan global dan zaman. Pergantian dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka tidak disebabkan oleh kegagalan implementasi Kurikulum 2013 di sekolah, tetapi merupakan upaya untuk menyempurnakan implementasi Kurikulum 2013. Beberapa analisis menyebutkan bahwa penerapan Kurikulum 2013 terlalu kompleks, seperti dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), penerapan pembelajaran saintifik, dan penilaian pembelajaran, sehingga pemerintah mengambil langkah dengan merumuskan Kurikulum Merdeka (Putra & Sajidah, 2. Kurikulum Merdeka adalah inisiatif pemerintah Indonesia yang diambil sebagai respons terhadap dampak pandemi COVID-19 terhadap sistem pendidikan di negara Tujuan dari Kurikulum Merdeka adalah mengatasi tantangan pembelajaran yang muncul selama pandemi, terutama dalam konteks pembelajaran jarak jauh, rendahnya kualitas pembelajaran di Indonesia, dan keterbatasan fisik di sekolah (IrtifaAoFathuddin & Zahra, 2. Kebijakan ini mendorong pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. dan adaptif, dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung proses pembelajaran. Kurikulum Merdeka menitikberatkan pengembangan kompetensi dan keterampilan peserta didik yang relevan dengan tuntutan saat ini, seperti literasi digital, pemahaman teknologi, keterampilan kolaborasi, dan adaptasi terhadap perubahan. Meskipun perubahan dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka menimbulkan kebingungan di kalangan pelaksana pendidikan, kemampuan guru dalam menerapkan Kurikulum Merdeka masih perlu ditingkatkan, dan mereka membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam (Jojor & Sihotang, 2. Perubahan Kurikulum Merdeka merupakan evolusi dari kurikulum sebelumnya. Meskipun terdapat kesamaan dengan pendekatan sebelumnya, ada perbedaan yang signifikan, terutama dalam kerangka dasar dan tujuan kompetensi yang ingin dicapai. Ini melibatkan penyederhanaan materi agar hanya mencakup inti yang paling penting serta pendekatan pembelajaran yang lebih berfokus pada aktivitas literasi dan Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan yang lebih besar kepada siswa untuk memilih materi pembelajaran sesuai minat mereka. Dengan pendekatan ini, proses pembelajaran diharapkan menjadi lebih efektif karena siswa memiliki lebih konsep-konsep mengembangkan kompetensi yang dimiliki (Firmansyah, 2. Perubahan cepat dalam penerapan kurikulum menimbulkan kebingungan dan spekulasi karena pelatihan dan pengetahuan baru yang baru saja diperoleh harus digantikan dengan skema baru, yang kemudian harus dihadapkan kepada para peserta Perubahan kebijakan kurikulum ini menimbulkan tantangan bagi sekolah dan Implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah terbagi menjadi tiga opsi: mandiri belajar, mandiri berubah, dan mandiri berbagi. Sekolah dengan opsi mandiri Kurikulum Merdeka, mengembangkannya, dan berbagi dengan sekolah lain. Sekolah dengan opsi mandiri DOI : a. berubah JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. Merdeka Kurikulum menggunakan perangkat ajar yang telah disediakan, sedangkan mandiri belajar adalah tahap mempelajari dan menerapkan prinsip pembelajaran tanpa mengubah struktur kurikulum (Wahyudi & Dewi, 2. Namun, dalam pelaksanaannya, guru masih belum sepenuhnya siap dalam hal keterampilan dan pemahaman menerapkan Kurikulum Merdeka yang berbeda dengan Kurikulum 2013, sehingga mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan perubahan Kurangnya pemahaman guru dan pihak sekolah dapat mengganggu Perbedaan antara penerapan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka mencakup beberapa aspek, termasuk pendekatan pengajaran, penekanan pada keterampilan, dan fleksibilitas dalam pengembangan program pembelajaran serta penilaian dalam pembelajaran (Putri & Rezania, 2. Namun, pada Kurikulum Merdeka, fokusnya lebih pada penilaian formatif dan pemanfaatan hasil penilaian tersebut untuk menyesuaikan pembelajaran dengan tingkat perkembangan siswa. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang perbedaan implementasi Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum 2013, yang tidak hanya memahami tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara optimal. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan menemukan solusi terhadap tantangan dalam pembelajaran di sekolah terutama di MTsN 2 Sidoarjo. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan metode studi kasus, yakni penelitian yang memfokuskan pada individu, kelompok, atau satu organisasi dalam konteks tertentu (Sugiyono, 2. Penelitian ini dilakukan di MTsN 2 Sidoarjo. Intrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar observasi dan DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. Data yang diperoleh kemudian dipersentasekan berdasarkan indikator yang digunakan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Setelah dipilih sebagai Sekolah Penggerak pada tahun 2021, sekolah mulai menerapkan Kurikulum Operasional Sekolah Penggerak, yang merupakan kurikulum baru atau prototipe yang kemudian dikenal sebagai Kurikulum Merdeka. Pada bulan Juli, sekolah telah mengatur operasional pendidikan atau Kurikulum Merdeka. Namun, karena ini merupakan pengalaman baru dalam menyusun kurikulum, langkahnya adalah melibatkan semua guru dengan bimbingan pendamping dan kelompok belajar antar sesama Sekolah Penggerak. Meskipun penerapannya masih terbilang baru dan belum optimal, namun sudah dilaksanakan, dan seiring waktu, pemahaman guru terus Kepala Sekolah menyadari bahwa meskipun penerapan Kurikulum Merdeka belum mencapai 100% sesuai harapan, namun terdapat perkembangan positif dari waktu ke waktu. Dari hasil yang telah dicapai, diperkirakan bahwa baru mencapai 55% dari targetnya, dengan target pencapaian sebesar 70% pada tahun kedua, dan 100% pada tahun ketiga. Sebelum penyusunan Kurikulum Merdeka di sekolah, dilakukan pelatihan bagi Sekolah Penggerak. Cara penyusunannya melibatkan beberapa langkah, termasuk pemberian panduan, bimbingan oleh Pelatih Ahli, diskusi dengan sesama Sekolah Penggerak, pemberian contoh-contoh oleh Pelatih Ahli, pembuatan sesuai dengan kondisi sekolah, dan seluruh tahapan ini telah selesai pada bulan Oktober 2021 meskipun masih membutuhkan penyempurnaan. Dalam proses penyusunan dokumen Kurikulum Merdeka, sekolah mengikuti pedoman dari pusat seperti perumusan capaian pembelajaran, peta kurikulum, penilaian, dan sebagainya (Fitriani & Alfiansyah, 2. DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 Sekolah Penggerak . -ISSN. -ISSN. mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Pada tahun pertama, implementasinya ditujukan untuk kelas 1 dan 4, tahun kedua untuk kelas 2 dan 5, dan tahun ketiga untuk kelas 3 dan 6. Sekolah berharap dapat menerapkan Kurikulum Merdeka untuk semua jenjang kelas pada tahun 2022. Menurut Kepala Sekolah, pemerintah menawarkan beberapa pilihan Kurikulum Merdeka kepada sekolah di seluruh Indonesia, seperti Kurikulum 2013 secara utuh. Kurikulum Darurat. Kurikulum 2013 yang disederhanakan, dan Kurikulum Merdeka dengan pilihan Mandiri Belajar. Mandiri Berubah, dan Mandiri Berbagi. Kepala Sekolah percaya bahwa jika semua sekolah memahami esensi Kurikulum Merdeka, maka semua akan ingin menerapkannya karena sangat memudahkan dan tidak membatasi dengan aturan yang kaku seperti Kurikulum 2013. Kelebihan Kurikulum Merdeka adalah memungkinkan guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran, dengan adanya proyek kelas yang menantang siswa untuk Meskipun penerapan Kurikulum Merdeka di kelas VII dan Vi telah menunjukkan pengalaman baik dan buruk, banyak kesulitan yang dihadapi karena situasi pandemi. Idealnya, pembelajaran tatap muka akan lebih efektif, namun di tengah pandemi, sekolah terpaksa memaksimalkan pembelajaran daring. Meskipun demikian. Kurikulum Merdeka mendapat respons positif dari peserta didik karena memberikan kebebasan dalam pembelajaran. Materi pembelajaran diberikan dengan fleksibilitas, disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. Konsep RPP diganti dengan Modul Ajar, yang bisa disesuaikan dengan modul yang dikeluarkan pemerintah atau disusun oleh guru sendiri. Capaian pembelajaran dan tujuan diperinci dalam modul ajar. Meskipun konsep awal Kurikulum Merdeka diterapkan pada kelas Vi dan IX pada tahun pertama, asesmen dilakukan saat siswa berada di kelas Vi. Sumber pembelajaran yang disediakan oleh pemerintah telah disertakan dalam modul ajar dengan tautan langsung ke platform Google atau YouTube, memperkaya DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. materi pembelajaran. Guru hanya perlu menggunakan proyektor untuk menyampaikan materi tersebut. Selain itu, sumber pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka juga dipersiapkan oleh guru melalui buku-buku perpustakaan dan penelusuran di internet. Namun. Guru mengalami beberapa kendala saat menerapkan Kurikulum Merdeka, termasuk: . Tantangan pembelajaran yang tidak optimal akibat pandemi. Kurangnya fasilitas pembelajaran, misalnya hanya separuh dari siswa yang memiliki perangkat untuk pembelajaran daring. Ketersediaan buku paket sebagai sumber belajar masih belum lengkap, dengan hanya buku panduan guru yang tersedia secara Selain itu, ada juga tantangan dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, yaitu mengembangkan soft skills siswa melalui berbagai kegiatan sekolah dan pembelajaran. (Yusuf, 2. Dampak dari penerapan Kurikulum Merdeka yang dirasakan oleh guru termasuk: . Guru diharuskan untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam metode, media, dan teknik pembelajaran. Terjadi perubahan pola pikir guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Sementara itu, bagi siswa, dampaknya mencakup: . Pengalaman belajar yang menyenangkan bagi siswa. Siswa menunjukkan lebih banyak antusiasme ketika ada pembelajaran tatap muka. Ada pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, seperti proyek pengelolaan sampah yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diberi kesempatan untuk (Irawan & Dkk, 2. Fitur unik dari Kurikulum Merdeka adalah sebagai berikut: . Durasi belajar per tahun adalah 144 jam. Adopsi Capaian Pembelajaran. Implementasi Alur Tujuan Pembelajaran. Penerapan Modul Ajar. Guru merancang pembelajaran setiap minggu dengan 20% dari waktu untuk proyek intrakurikuler, seperti contoh PKn dengan 4 jam per minggu, dengan 3 jam untuk materi intrakurikuler dan 1 jam untuk . Memungkinkan DOI : a. sistem block, yang memungkinkan JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. Sebagai contoh, dalam satu semester dapat mencakup PKn, sementara semester berikutnya tidak, asalkan total jam pembelajaran dalam setahun tercapai. Penggabungan mata pelajaran IPA dan IPS menjadi IPAS. Berbasis proyek namun tidak mengurangi fokus pada pembelajaran intrakurikuler. Mata Pelajaran SBdP hanya diajarkan dalam satu bidang spesifik, seperti seni rupa, seni tari, atau seni suara. Pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. Setiap kelas dibagi menjadi beberapa fase. (Abdulkarim, 2. Implementasi Kurikulum Merdeka memiliki keunggulan dan kelemahan. Sebagai pendidik, penting bagi kita untuk memperhatikan karakteristik alami dan kebutuhan zaman dari siswa. Oleh karena itu, pemerintah telah menggantikan Kurikulum 2013 dengan Kurikulum Merdeka, yang disesuaikan dengan tantangan yang dihadapi pada masa kini. Jika guru telah memahami esensi dari Kurikulum Merdeka, penggunaannya akan menjadi lebih mudah karena Kurikulum Merdeka merupakan perubahan dari Kurikulum 2013 dengan berbagai peningkatan yang bertujuan untuk mengatasi kelemahan yang ada dalam Kurikulum 2013 (Nafisah & Rasyid, 2. Dengan adopsi Kurikulum Merdeka, pemerintah mendorong guru untuk mengembangkan berbagai kreativitas dan inovasi dalam proses pembelajaran, sehingga dapat menerapkan konsep Merdeka Belajar untuk mencapai Profil Pelajar Pancasila. Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas bagi setiap lembaga pendidikan untuk menyesuaikan kurikulum sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah mereka sendiri. Dokumen Kurikulum 2013 disusun dengan bimbingan dari Pengawas Sekolah, terutama saat sekolah hendak menghadapi proses Akreditasi. Kurikulum 2013 kemudian diterapkan di berbagai kelas, namun menghadapi banyak hambatan dan tantangan dalam pelaksanaannya, menyebabkan kelancaran implementasi di lapangan (Sari, 2. DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. Karena kurangnya pengenalan dan bimbingan yang memadai terkait dengan Kurikulum 2013, banyak guru yang mengalami kesulitan atau kurang memahami bagaimana mereka harus melaksanakan pembelajaran dengan kurikulum tersebut. Akibatnya, banyak guru yang menjalankan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan siswa tanpa mengacu atau mencerminkan prinsip dan dasar filosofis dari Kurikulum Mereka mungkin mengikuti pendekatan pembelajaran mereka sendiri, dan beberapa bahkan masih menerapkan metode yang mirip dengan Kurikulum KTSP secara sebagian. Karena Kurikulum 2013 bersifat integratif, banyak guru merasa sulit untuk menerapkannya di kelas masing-masing. Budiwati dan rekan . menyatakan bahwa tantangan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 disebabkan oleh kurangnya kesiapan para pendidik untuk mengimplementasikannya. Selain itu, mereka belum mendapatkan pelatihan yang memadai untuk menerapkan kurikulum ini dengan baik di kelas (Mubarokah & Hakim, 2. Implementasi Kurikulum 2013 memberikan konsekuensi bagi guru dan siswa. Guru dihadapkan pada tuntutan untuk menampilkan kreativitas dan inovasi dalam penyampaian materi pembelajaran. Namun, di tingkat yang lebih tinggi, guru mungkin merasa bingung karena materi yang harus diajarkan memerlukan perluasan dan pemahaman yang lebih dalam, sehingga mereka harus mencari sumber belajar tambahan, seperti internet, atau bahkan menggunakan kembali buku-buku kurikulum lama (KTSP). Bagi siswa, penerapan Kurikulum 2013 menimbulkan rasa antusiasme dan kegembiraan dalam pembelajaran karena mereka sering diberi tugas atau proyek di luar kelas. Berbagai media pembelajaran yang beragam juga mampu menarik minat siswa, meskipun beberapa guru mungkin merasa kesulitan mengelola hal ini, terutama di kelas awal . elas VII-V. (Hamna & Wulandari, 2. Namun, bagi siswa di kelas yang lebih tinggi, penerapan Kurikulum 2013 dapat menimbulkan kebingungan karena mereka harus mencari sumber belajar tambahan, belum terbiasa dengan mandiri, dan masih bergantung pada materi yang ada dalam buku. Beberapa siswa lebih memilih DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. menggunakan buku KTSP daripada buku tema yang digunakan dalam Kurikulum Selain itu, jumlah aktivitas pembelajaran yang banyak di kelas tinggi dapat menyebabkan kebosanan dan ketidaksemangan dalam belajar. Dampak positif Kurikulum 2013 adalah meningkatnya kemampuan siswa dalam berpikir kritis dalam setiap pelajaran, sementara dampak negatifnya adalah terjadinya penurunan akibat pergantian kurikulum. (Hamna & Wulandari, 2. Sebagian mengimplementasikan Kurikulum 2013. Proses perencanaan pembelajaran masih sering mengandalkan materi yang diunduh dari internet, meskipun telah mengalami sedikit revisi. Bahkan, beberapa sekolah mengambil jalan pintas dengan memesan atau membeli rencana pembelajaran langsung dari penyedia layanan atau penjual. Di dalam pelaksanaan pembelajaran, masih banyak yang mengadopsi pendekatan klasikal, sehingga pendekatan saintifik belum sepenuhnya diterapkan atau terlihat. Selain itu, kompleksitas dalam penilaian membuat guru merasa overwhelmed dan kesulitan dalam mengimplementasinya, bahkan ada yang tidak memahaminya sama sekali. Kebanyakan guru merasa terbebani dengan berbagai format administratif yang diperlukan oleh Kurikulum 2013, sehingga mereka hanya mengandalkan sumber daya terbatas untuk melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas. Pendidik merasakan kesulitan terutama dalam menyusun Rencana Pembelajaran (RPP), terutama dalam aspek penilaian yang dianggap rumit. (Puspita & Kartiwi, 2. Pengawasan terhadap pelaksanaan Kurikulum 2013 di tiap sekolah kurang Pengawas dan Kepala Sekolah belum secara memadai memberikan bimbingan kepada guru untuk meningkatkan pemahaman tentang Kurikulum 2013. Lebih sering, pengawasan dilakukan dalam bentuk inspeksi mendadak dan menyalahkan guru, daripada memberikan bimbingan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensi Pengawasan terhadap penerapan Kurikulum 2013 di sekolah dilakukan oleh Pengawas Sekolah dan Kepala Sekolah. Kegiatan pengawasan ini bertujuan untuk DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. mengevaluasi sejauh mana pembelajaran yang dilakukan oleh guru bersama peserta didik telah efektif. (Turmuzi & Kurniati, 2. Kurikulum merupakan serangkaian pedoman yang mengatur jalannya proses Peranannya sangat penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan serta efektivitas proses pembelajaran bagi guru dan peserta didik sebagai pelaksana pendidikan, dengan tujuan mencapai tujuan pendidikan tersebut. Oleh karena itu, posisi kurikulum menjadi sangat vital sebagai instrumen yang menentukan kesuksesan Jika kurikulum tidak sesuai, akan menghambat pencapaian tujuan dan target pendidikan yang diinginkan. Sebelum adopsi Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran baru 2022. Kurikulum 2013, atau K-13, adalah kurikulum yang berlaku di Indonesia. K-13 menekankan pendekatan ilmiah dalam proses pembelajaran, dirancang untuk mengutamakan pengembangan karakter peserta didik, dengan harapan menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki karakter, inovatif, kreatif, dan Desain Kurikulum 2013 menitikberatkan pada pengembangan kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik secara holistik. (Wahyono & Ahid. Kurikulum Merdeka merupakan inovasi terbaru dalam ranah pendidikan di Indonesia, menggantikan peran Kurikulum 2013. Diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Kurikulum Merdeka dirancang sebagai respons terhadap tantangan yang dihadapi dalam dunia COVID-19 pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Tujuan implementasi Kurikulum Merdeka adalah untuk memupuk potensi peserta didik, mendorong sikap produktif, kreatif, dan Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka menekankan pada materi esensial (Adla & Maulia, 2. Menanggapi fenomena "learning loss" yang muncul akibat pandemi COVID-19. UNESCO merekomendasikan serangkaian DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. kebijakan, termasuk desain pembelajaran yang lebih terfokus dan penyesuaian terhadap kebutuhan belajar peserta didik, melalui penyusunan kurikulum yang lebih Upaya tersebut sejalan dengan evaluasi pendidikan di Indonesia yang diimplementasikan, dan fleksibel, yang kemudian menghasilkan lahirnya Kurikulum Merdeka pada tahun 2021. (Nadhiroh & Anshori, 2. Dari perspektif kompetensi yang dikejar. Kurikulum 2013 mengenal Kompetensi Inti (KI), mencakup sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan (KI-. , yang kemudian diterjemahkan menjadi Kompetensi Dasar (KD) dalam tiap mata pelajaran, sebagai standar minimum yang harus dipenuhi oleh peserta didik berdasarkan tingkat kelas mereka (Nugroho & Narawaty, 2. Sebaliknya. Kurikulum Merdeka mengadopsi istilah Capaian Pembelajaran (CP) untuk menyatakan kompetensi yang Mirip dengan KD dalam Kurikulum 2013. CP merupakan standar minimum yang harus dicapai oleh peserta didik sesuai dengan tingkatan mereka, mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk meningkatkan kompetensi (Puskur Dikbud Ristek, 2. Perbedaan utama antara kedua bentuk kompetensi tersebut adalah bahwa KD disajikan dalam format poin yang diurutkan untuk mencapai KI, yang diorganisir berdasarkan tahun. Sementara itu. CP diungkapkan dalam bentuk paragraf. (Illahi & Utama, 2. Perbedaan dalam kurikulum juga mencakup pendekatan pengorganisasian pembelajaran, di mana Kurikulum 2013 menerapkan pendekatan tematik integratif, di mana beberapa mata pelajaran disatukan dalam satu tema pembelajaran. Dalam pendekatan ini, beberapa mata pelajaran yang berkaitan secara tematik digabungkan dalam satu tema pembelajaran. Konsep atau topik yang dipelajari disatukan melintasi berbagai mata pelajaran, memungkinkan siswa untuk melihat hubungan dan aplikasi praktis antara konsep-konsep tersebut dalam konteks yang lebih luas. (Setioyuliani & Andaryani, 2. DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. Sebaliknya. Kurikulum Merdeka menawarkan fleksibilitas dalam pendekatan pengorganisasian pembelajaran. Dalam kurikulum ini, pendekatan pembelajaran dapat dilakukan secara tematik integratif, di mana beberapa mata pelajaran yang terkait dapat disatukan dalam satu tema. Namun, kurikulum ini juga mengizinkan pendekatan pembelajaran per mata pelajaran, di mana setiap mata pelajaran diajarkan secara terpisah dengan fokus pada kompetensi dan tujuan pembelajaran yang spesifik untuk mata pelajaran tersebut. Pilihan pendekatan pengorganisasian pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada sekolah dan guru untuk menentukan strategi pembelajaran yang paling sesuai dengan kebutuhan siswa dan konteks sekolah. Ini memungkinkan variasi dalam pendekatan pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa, sumber daya sekolah, dan lingkungan pembelajaran yang ada. (Anwar & Jannah, 2. Di samping itu, terdapat beberapa perbedaan dalam muatan mata pelajaran. Pertama, dalam Kurikulum 2013, pembelajaran IPS dan IPA dijalankan secara terpisah, sedangkan dalam Kurikulum Merdeka, kedua mata pelajaran tersebut digabung menjadi IPAS. Kedua, dalam Kurikulum 2013, mata pelajaran seni digabung menjadi satu dengan nama SBdP, namun dalam Kurikulum Merdeka, mata pelajaran seni dibagi menjadi Seni Musik. Seni Tari. Seni Teater, dan Seni Rupa. Dalam Kurikulum Merdeka, peserta didik memiliki kebebasan untuk memilih salah satu dari empat mata pelajaran seni tersebut sesuai minat mereka, yang berbeda dengan Kurikulum 2013 yang mengharuskan mereka mempelajari semua mata pelajaran seni. Ketiga. Kurikulum 2013 tidak mencakup mata pelajaran Bahasa Inggris, sedangkan dalam Kurikulum Merdeka. Bahasa Inggris ditawarkan sebagai mata pelajaran pilihan. Keempat. Kurikulum 2013 memiliki muatan pembelajaran yang padat, sedangkan dalam Kurikulum Merdeka, materi pembelajaran lebih difokuskan pada yang esensial. (Anwar & Jannah, 2. DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. Dilihat dari segi implementasi pembelajaran. Kurikulum 2013 menekankan pendekatan saintifik di setiap mata pelajaran. Namun. Kurikulum Merdeka lebih menekankan pendekatan pembelajaran yang berdiferensiasi sesuai dengan tahap capaian pembelajaran. Selain itu, kegiatan pembelajaran dalam Kurikulum 2013 cenderung berfokus pada kegiatan intrakurikuler, yang terkait langsung dengan materi pelajaran di kelas. Sedangkan dalam Kurikulum Merdeka, kedua jenis kegiatan, baik intrakurikuler maupun kokurikuler, memiliki porsi yang jelas. Intrakurikuler mencakup sekitar 70-80 persen dari total kegiatan, sementara kokurikuler mencakup 20-30 persen. Ini berarti bahwa kegiatan kokurikuler dalam Kurikulum Merdeka menjadi bagian yang terintegrasi secara lebih kuat dalam kurikulum dan dianggap sebagai komponen penting dalam pembelajaran. (Shalihudin & Khojir, 2. Dengan porsi yang lebih terdefinisi bagi kegiatan kokurikuler dalam Kurikulum Merdeka, mengembangkan minat, bakat, dan potensi mereka di berbagai bidang. Selain itu, kegiatan kokurikuler diharapkan dapat berperan dalam membentuk karakter, meningkatkan interaksi sosial, dan mengasah keterampilan siswa secara menyeluruh. Dari segi asesmen, baik Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka menggunakan metode penilaian autentik. Penekanan penilaian pada kedua kurikulum ini mencakup berbagai aspek, termasuk pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Keduanya juga mengaplikasikan asesmen formatif dan sumatif. Perbedaan utama terletak pada pendekatan penilaian terhadap pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Kurikulum 2013 memisahkan penilaian untuk setiap aspek tersebut, sementara Kurikulum Merdeka mengintegrasikannya sebagai satu kesatuan dalam penilaian yang menyeluruh. SIMPULAN Secara esensial, kedua kurikulum tersebut memiliki dasar yang sama dalam mencapai tujuan Sistem Pendidikan Nasional, yaitu untuk mendorong peserta didik DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. mengembangkan potensi mereka agar memiliki sikap spiritual keagamaan, cerdas, dan berbudi pekerti luhur. Namun, dampak dari pandemi COVID-19 yang melanda dunia telah menyebabkan fenomena learning loss di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Kurikulum 2013, dengan kepadatan materi yang tinggi, tidak lagi relevan untuk diterapkan dalam konteks saat ini. Oleh karena itu. Pendidikan Indonesia memerlukan penyesuaian dalam berbagai aspek agar tetap mencapai tujuan nasional Pendidikan. Sebaliknya. Kurikulum Merdeka pengembangan kompetensi peserta didik sesuai dengan tahap perkembangannya. Hal ini bertujuan agar pembelajaran tidak terburu-buru dalam menyelesaikan materi sehingga peserta didik dapat merasakan kepuasan dalam proses belajar yang Salah satu aspek yang menonjol dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah pengembangan karakter peserta didik yang terinci dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. , hal itu lah yang di adopsi MTsN 2 Sidoarjo. Selain itu, pendekatan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka lebih mempertimbangkan perbedaan dalam kebutuhan belajar peserta didik . embelajaran berdiferensias. , sehingga prinsip "pembelajaran berpusat pada peserta didik" dapat diwujudkan dengan lebih efektif. REFRENSI Adla. , & Maulia. Transisi kurikulum K13 dengan kurikulum merdeka terhadap hasil belajar siswa. Lencana: Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan, 1. , 262-270. Angga. Suryana. Nurwahidah. Hernawan. , & Prihantini. Komparasi implementasi kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka di sekolah dasar Kabupaten Garut. Jurnal basicedu, 6. , 5877-5889. Anwar. Sukino. , & Erwin. Komparasi penerapan kurikulum merdeka dan k-13di sma abdussalam. Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora, 2. Anwar. , & Jannah. Telaah Kurikulum 13 dan Kurikulum Merdeka di SD/MI. Mentari: Journal of Islamic Primary School, 1. , 151-162. DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. Belia. Lubis. Aprina. Nurfaiza. Illahi. , & Utama. The Problem of Orientation of Development Merdeka Belajar Curriculum. TOFEDU: The Future of Education Journal, 2. , 496-500. Firmansyah. Proses Perubahan Kurikulum K-13 Menjadi Kurikulum Merdeka. EDUKATIF: JURNAL ILMU PENDIDIKAN, 5. , 1230-1240. Fitriani. , & Alfiansyah. Analisis Efektivitas Implementasi Antara Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. SAP (Susunan Artikel Pendidika. , 8. , 250-263. Fuad. Lailiyah. Wahyono. , & Ahid. Analisis Dan Perbandingan Kurikulum Indonesia Abad KeAe20. JoEMS (Journal of Education and Management Studie. , 6. , 1-8. Hamna. Muliyani. , & Wulandari. Menganalisis Penerapan Pembelajaran Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah Dasar Negeri 3 Tambun. SOKO GURU: Jurnal Ilmu Pendidikan, 4. , 26-38. Jannah. IrtifaAoFathuddin. , & Zahra. Problematika penerapan kurikulum merdeka belajar 2022. Al Yazidiy: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan, 4. , 55-65. Jiyantari. Hayati. Turmuzi. , & Kurniati. Pandangan guru matematika terhadap kurikulum belajar siswa di Kecamatan Labuhan Haji Tahun Pelajaran 2022/2023 (Study komparasi kurikulum 2013 dan merdeka Journal of Classroom Action Research, 5. , 42-48. Jojor. , & Sihotang. Analisis kurikulum merdeka dalam mengatasi learning loss di masa pandemi Covid-19 . nalisis studi kasus kebijakan Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 4. , 5150-5161. Lestari. Shalihudin. , & Khojir. Perbandingan Pendidikan: Kurikulum Pendidikan Antara Pendidikan di Indonesia dan Finlandia. Borneo Journal of Islamic Education, 3. , 129-141. Mubarokah. , & Hakim. Perbandingan Penilaian Akhir Pembelajaran Matematika Berdasarkan Penerapan Kurikulum 2013 Dan Kurikulum Merdeka. EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika, 5. , 188-197. Nadhiroh. , & Anshori. Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar dalam Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Fitrah: Journal of Islamic Education, 4. , 56-68. DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. Nafisah. , & Rasyid. Analisis Peralihan Kurikulum K 13 Ke Merdeka Belajar Dalam Pembelajaran Ips Di Mts. Nur Ilahi. Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial, 1. , 8-14. Puspita. , & Kartiwi. Transformasi Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Kurikulum Merdeka. Manajer Pendidikan: Jurnal Ilmiah Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana, 17. , 13-24. Putra. Rohmani. , & Sajidah. Perbandingan Implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran IPA di SMP Negeri 5 Ngawi. Konstruktivisme: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 16. , 55-63. Putri. Subayani. , & Umam. Analisis Perbandingan Implementasi Kurikulum 2013 dengan Kurikulum Merdeka pada Kelas 4 di MI Nurul Huda. Jurnal Review Pendidikan Dasar: Jurnal Kajian Pendidikan Dan Hasil Penelitian, 9. , 213-219. Putri. , & Rezania. Analisis Perbandingan Hasil Belajar pada Kurikulum 2013 dengan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Muhammadiyah Kecamatan Tulangan. Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar, 5. , 179-187. Sari. Komparasi Problematika Implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka di SMPN Tasikmalaya. Journal of Islamic Education, 1. , 105118. Setioyuliani. , & Andaryani. Permasalahan Kurikulum Merdeka dan Dampak Pergantian Kurikulum K13 dan Kurikulum Merdeka. Pedagogika: Jurnal Ilmu-Ilmu Kependidikan, 3. , 157-162. Sugiyono. Metode Penelitian. Jakarta:Alfabeta, 2018. Supriatna. Diyanti. , & Dewi. Analisis Perbandingan Kurikulum KTSP. K13 dan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Journal on Education, 6. , 9163-9172. Suyitno. Rukhmana. Nurmiati. Romadhon. Irawan. , & Mokodenseho, . Penerapan Kurikulum Merdeka Sebagai Upaya Dalam Mengatasi Krisis Pembelajaran (Learning Los. Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas X Di SMA Negeri 12 Bandar Lampung. Journal on Education, 6. , 35883600. Wahyudi. , & Dewi. Perbandingan Konsep Pembelajaran PAI berdasarkan Kurikulum KBK. K13 dan MBKM. Tarbawi Ngabar: Jurnal of Education, 4. , 61-77. DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. Yusuf. Implementasi Kurikulum 2013 (K-. Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar (SD). Jurnal Al-Murabbi, 3. , 263-278. DOI : a.