Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 1 No. 4 April - Juni 2024 Hal. https://jurnal. id/index. php/jkis/index ISSN : 3026-2003 Tafsir Kontemporer dan Hermeneutika Al-QurAoan: Memahami Teks Suci AlQur-an Dalam Konteks Kontemporer Umar Al-Faruq. Khoiru Turmudzi. Kartika Maulida. Salman Abdullah Hukum Tata Negara. Fakultas Syariah. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, umar alfaruq2002@uin malang acid Hukum Tata Negara. Fakultas Syariah. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, khoiruturmudzi@gmail. Hukum Tata Negara. Fakultas Syariah. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, bungaindah0421@gmail. Hukum Tata Negara. Fakultas Syariah. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Salmanabdullah@gmail. Abstract This article discusses the importance of Qur'Anic hermeneutics as a relevant method of interpretation in the understanding of sacred texts for Muslims. From the introduction to the conclusion, the article highlights the contribution of hermeneutics in broadening the horizons and understanding of the Qur'An. Hermeneutics is seen as an approach that enables a deep understanding of the sacred text through a process of interpretation that involves the subject and object in a communicative Hermeneutic figures, both from the West and the Islamic world, have made important contributions to the development of methods of Qur'Anic interpretation, emphasizing the importance of understanding the text from the author's point of view as well as its historical context. In addition, cross-cultural and age-appropriate understanding is also an integral part of Qur'Anic hermeneutics, where cross-cultural and age-appropriate communication is key to broadening insights and understanding of the sacred text. In the context of Islamic religious education, hermeneutics has become an important course in the curriculum structure of the Tafsir and Hadith Science study programs at State Islamic Religious Universities, showing the relevance and need for a deep understanding of the Qur'anic interpretation method. Thus, through the hermeneutic approach. Muslims can continue to develop a broader and deeper understanding of the teachings of the Qur'an in accordance with the demands of the evolving times. Keywords: Contemporary Tafsir. Qur'anic Hermeneutics. Sacred Text of the Qur'an Abstrak Artikel ini membahas pentingnya hermeneutika Al-Qur'an sebagai metode interpretasi yang relevan dalam pemahaman teks suci bagi umat Islam. Dari pendahuluan hingga kesimpulan, artikel ini menyoroti kontribusi hermeneutika dalam memperluas wawasan dan pemahaman terhadap Al-Qur'an. Hermeneutika dipandang sebagai pendekatan yang memungkinkan pemahaman mendalam terhadap teks suci melalui proses interpretasi yang melibatkan subjek dan objek dalam hubungan komunikatif. Para tokoh hermeneutika, baik dari Barat maupun dunia Islam, telah memberikan kontribusi penting dalam pengembangan metode interpretasi Al-Qur'an, dengan menekankan pentingnya memahami teks dari sudut pandang pengarang serta konteks historisnya. Selain itu, pemahaman lintas budaya dan usia juga menjadi bagian integral dalam hermeneutika Al-Qur'an, di mana komunikasi lintas budaya dan usia menjadi kunci untuk memperluas wawasan dan pemahaman terhadap teks suci. Dalam konteks pendidikan agama Islam, hermeneutika telah menjadi mata kuliah yang penting dalam struktur kurikulum prodi Ilmu Tafsir dan Hadis di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, menunjukkan relevansi dan kebutuhan akan pemahaman yang mendalam terhadap metode interpretasi Al-Qur'an. Dengan demikian, melalui pendekatan hermeneutika, umat Islam dapat terus mengembangkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam terhadap ajaran-ajaran Al-Qur'an sesuai dengan tuntutan zaman yang terus Kata Kunci : Tafsir Kontemporer. Hermeneutika Al-QurAoan. Teks Suci Al-QurAoan This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license PENDAHULUAN Tafsir Kontemporer merupakan salah satu metode diantara banyaknya metode penafsiran Al-QurAoan. Sebagiamana metode tafsir, metode ini mempunyai prinsip yang sama dan tidak menyimpang dari kaidah-kaidah penafsiran salaf. Tafsir kontemporer menggunakan metode pendekatan yang relevan dengan era modern dan globalisasi saat ini. Dengan metode ini, penafsiran teks Al-QurAoan dapat dipahami dengan konteks masa kini. Metode tafsir kontemporer memiliki ragam konsep dalam menafsirkan Al-QurAoan, adapun yang populer antara lain. Maudhu. Ilmi. Adabi ijtimaAoi. Ferminis. Kontekstual dan Hermenutika. Dalam Tafsir Kontemporer, metode hermeneutika adalah teori pemahaman guna menafsirkan teks yang mencakup peristiwa pemahaman terhadap teks dan persoalan yang mengacu pada pemahaman interpretasi tersebut. Dalam metode penafsiran Al-QurAoan. Hermeneutika menjadi landasan baru dalam perumusan metodologi pemikiran islam pada umumnya. Pada Era modern dan globalisasi, banyak sekali arus pemikiran liberal yang muncul dari kaum orientalis bahkan dari umat islam yang dipengaruhi oleh pemikiran barat. Dalam tafsir kontemporer, metode hermeutika memiliki perubahan yang cukup signifikan dalam memahami makna teks dan ajaran dari Al-QurAoan itu sendiri, berlanjut dari dinamika penafsiran yang terus berkembang dari setiap masanya. Hal ini merupakan tantangan tersendiri dari penggunaan metode Hermeneutika dalam penafsiran Al-QurAoan saat ini. Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 01 No. 04 April Ae Juni 2024 Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 1 No. 4 April - Juni 2024 Hal. https://jurnal. id/index. php/jkis/index ISSN : 3026-2003 Pada masa saat ini, hermeneutika Al-QurAoan memiliki banyak kritik negatif dari pandangan para ulama karena kontroversi dari metode hermeneutika itu sendiri. Hal ini menjadi perhatian khusus oleh para ulama, khususnya ulama ahli tafsir Al-QurAoan. Adanya pluralitas dalam proses pemahaan manusia adalah asumsi dasar dari hermeneutika ini. Pluralitas sendiri sifatnya niscaya, artinya keberagaman akan hidup manusia. Adanya keberagaman mufassir (Ahli Tafsi. yang berbeda memunculkan pemaknaan yang beragam pula sesuai dengan teks, konteks, dan kontekstual. Sehingga menurut ulama tafsir klasik memberikan solusi dari berbagai permasalahan yang mereka alami, baik dari segi ketuhanan ataupun dari segi kemanusiaan. Oleh karena itu, pesan Qurani yang lahir pun berbeda-beda dan plural. Namun, makna Al-QurAoan yang pluralitas itu menjadi punah ketika kreasi tafsir yang awalnya bersifat profan itu mulai AumenteologiAy dan dijadikan sebagai satu-satunya penafsiran yang paling benar. Hal ini menjadi tuntutan para mufassir untuk menggunakan tafsir klasik tersebut tanpa melihat kondisi kebutuhan umat islam secara nyata pada setiap ruang lingkup dan waktunya. Ditinjau secara kronologis, penafsiran Al-QurAoan kian kompleks dan terus berkembang sesuai konteks era modern dan globalisasi. Selain itu, konsidi saat ini yang mana tidak ada Rasul sebagaimana Nabi Muhammad SAW kepada umatnya, mengharuskan para tokoh-tokoh agama yang berilmu dan mengikuti jalan rasul, seperti tabiAoin, tabiAou at-tabiAoiin dan sebagainya atau biasa disebut ulama/wali untuk menjadi panutan dalam penafsiran agar tetap berpedoman pada Al-QurAoan dan Sunnah sebagaimana fatwa-fatwanya dalam ijmaAo dan ijtihadnya. Namun, tantangan penafsiran hermeneutika Al-QurAoan saat ini dipicu oleh kekhawatiran hingga penolakan sebagian besar ulama terhadap metode hermeneutika dengan alasan metode hermeneutika adalah metode yang digunakan untuk kitab bible (Al-kita. , maksudnya ketika penafsiran dilakukan secara tekstual, tentu hal ini akan mengabaikan situasi dan latar belakang turunnya suatu ayat sebagai data sejarah penting. Berangkat dari uraian diatas, artikel ini akan berusaha untuk membahas bagaimana hermeneutika AlQurAoan diterapkan untuk memahami teks suci Al-QurAoan di era kontemporer termasuk perkembangan dan probelematika dari hermneutika Al-QurAoan itu sendiri. Diharapkannya pengetahuan hermeneutika Al-QurAoan bisa menjadi wawasan dalam menyikapi banyaknya ragam tafsir kontemporer. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan kualitatif . enelitian kepustakaa. Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang mengumpulkan data atau menyempurnakan subjek penelitian dari berbagai sumber seperti buku, artikel, majalah, dan sebagainya. Dari sumber yang disebutkan, data yang diperoleh kemudian dianalisis secara mendalam mana yang relevan dengan topik masalah penelian dan sehingga bisa menjadi bahan pembahasan. (Sudianto. A 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Urgensi Tafsir Kontemporer Pandangan mendalam tentang Alquran menghasilkan dua jenis kebenaran. Pertama, kebenaran filsafat yang tidak dapat dicapai oleh pengetahuan konkret. kedua, kebenaran empiris yang didasarkan pada pengkajian dan penyelidikan mendalam. Kebenaran empirik didefinisikan dan dipahami melalui akal, sementara kebenaran yang terakhir masuk melalui ideologi. Kebenaran abstrak, yang tidak dapat dipastikan hanya melalui pengkajian netral rasional, merupakan definisi filsafat. Adapun contoh ayat penafsiran kontemporer: Ayat-ayat di atas merupakan seruan Allah kepada manusia untuk bermanifestasi melalui laut, darat, dan Selain itu, memberikan peringatan kepada mereka untuk memperhatikan keamanan dan keselamatan Bahtera dan kapal laut modern, kereta, dan mobil peti kemas adalah sarana transportasi yang dimaksud. Termasuk alat transportasi yang diciptakan seseorang, seperti mobil dan sepeda motor, yang digunakan sebagai pengganti kuda atau himar di masa lalu. Oleh karena itu, seperti yang ditunjukkan dalam ayat-ayat di atas, kemajuan teknologi yang dicapai pada masa kini tidak penting. (Sudianto 2. Mempelajari luasnya nash-nash Alquran mengenai karunia dan insAniyyah membutuhkan banyak ilmu, terutama ilmu pengetahuan alam dan sosial. Dinilai bahwa penerapan interpretasi lafeiah semata-mata tidak memenuhi syarat-syarat amanah ilmiah. Untuk kepentingan umat di masa lalu, karya-karya ulama tafsir klasik Ada kemungkinan bahwa ide-ide mereka tidak relevan dalam konteks saat ini. Oleh karena itu, interpretasi harus mengadopsi kerangka berpikir yang sah dan pragmatis, seperti tafsir konteksual kontemporer atau tafsir A-ahabi mengutip Magdalena, yang mengatakan bahwa Alquran mencakup semua ilmu yang ada di dunia. Secara statistik. Alquran mengisyaratkan lebih dari 70 ribu cabang ilmu. Ini menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara kemampuan mufasir dan interpretasi yang dilahirkannya. (Magdalena, 2. Jadi. Tafsir kontemporer menawarkan solusiuntuk masalah keumatan yang muncul karena perkembangan zaman, seperti yang ditunjukkan oleh tinjauan ilmiah yang telah dilakukan. Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 01 No. 04 April Ae Juni 2024 Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 1 No. 4 April - Juni 2024 Hal. https://jurnal. id/index. php/jkis/index ISSN : 3026-2003 Hermeneutika Secara etimologis, istilah "hermeneuein", yang berarti "menafsirkan," adalah asal pengertian hermeneutika. Kata hermeneuin memiliki tiga definisi utama yang terus berkembang. asalnya, yaitu to say . , to explain menjelaskan, dan to translate . Dengan kata kerja yang mereka tafsirkan, ketiga makna ini memiliki makna yang berbeda dan penting. (Syamsudin,S 2. Sehubungan dengan hermeneutika. Fahmi Salim mengatakan bahwa "Hermeneutika yakni studi tentang aturan standar untuk menafsirkan Alkitab, dan tujuan utamanya adalah untuk mengungkapkan kebenaran dan nilai Alkitab kepada metode penafsiran Yahudi dan Kristen sepanjang sejarah. " Beberapa studi juga menjelaskan bahwa hermeneutika adalah "proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi tahu dan mengerti". Definisi ini sepertinya mewakili definisi yang lebih luas Metode ini bertujuan untuk memahami makna teks. Oleh karena itu, hermeneutika terdiri dari tiga komponen yang tidak dapat dipisahkan: penggagas . atau pelaku pesan, teks, dan pembaca. (Richard. E 1. Dalam relasi inisiator-teks, teks berfungsi sebagai mediator untuk menyampaikan pesan pemrakarsa kepada Dalam hal ini, pemrakarsa tetap relevan dengan teks dan teks memiliki eksistensi sendiri. Tiga pola hubungan dapat diidentifikasi berdasarkan hubungan antara penggagas dan teks. Pola pertama, empirisismepositivisme, melihat teks sebagai alat untuk menyampaikan pesan inisiator kepada pendengar, tetapi teks tetap memiliki sifat unik yang berbeda dari inisiator. Kedua, fenomenologi pola pertama berbeda dengan pola kedua. Teks berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan pesan subjek kepada pendengar dalam bentuk yang kedua ini. Teks menunjukkan maksud Dari subjek yang dia bicarakan. tujuannya adalah untuk menghasilkan makna, atau tindakan pembentukan diri. Ketiga, pendekatan yang disebut pascastrukturalis atau pascamodern. Pada pola ini, bahasa dan teks dianggap sebagai media dominan daripada hanya alat untuk menyampaikan pesan subjek. (Rini,F 2. Para pendukung hermeneutika percaya bahwa alam semesta kita adalah sumber wawasan yang paling kuat dan penting. Pengetahuan objektif adalah dasar pemahaman para cendekiawan barat yang menganut empirisme. Perwakilan hermeneutika mencari cara untuk mendapatkan pengetahuan dasar melalui studi kepribadian manusia. Dari sudut pandang objektif, mereka menentang istilah tersebut karena objektivitas adalah abstraksi dan reduksi dari dunia nyata. Alam semesta fisik tidak sepenting dunia kita dan kehidupan alaminya. Jadi, untuk memahami gejala yang diteliti, pandangan umum dan kontekstual harus digunakan. Teori objektivitas mungkin mengasingkan gejala dari dunia nyata. Dunia ini digunakan untuk memahami dan memahami kenyataan, beberapa prinsip paham hermeneutika adalah Hermeneutika berfokus pada arti, sedangkan strukturalis berfokus pada struktur. Ini memiliki arti dalam bahasa Menurut teori fenomenologis, arti ada dalam kesadaran. Kekuatan manusia terletak pada bahasa. Gadamer berpendapat bahwa bahasa adalah "ada" yang dapat Tidak mungkin untuk memahami tanpa bahasa. Ini mengingatkan pada ekspresi lama zoo logo echon, yang menggambarkan manusia sebagai makhluk berbicara. Dalam bahasa Arab, al-Insan hayaw annathiq. Hermeneutika berpusat pada cara kita memahami dan berbicara. Mereka berusaha untuk mencapai pemahaman atau visi kolektif dengan bantuan bahasa. Salah satu hal yang paling penting adalah memahami teks. Bagaimana kita dapat memahami masalah dalam konteks kita saat ini dengan melihat apa yang ditulis dalam teks tradisional, yang sangat berbeda dari segi ruang dan waktu. Dalam tradisi hermeneutika, objek dan subjek berdiri dalam hubungan komunikatif daripada terpisah satu sama Konstruksi makna bergantung pada intersubjektivitas dan konteks fenomena. Kesimpulan subjektif dan orisinal tidak sepenting subjektivitas yang dibagikan secara kolektif. Karena bidang linguistik dipelajari, tema ditafsirkan dengan cara ini. Bahasa adalah bagian dari dunia, dan bahasa membentuk dunia kita. Untuk interpretasi yang baik, diperlukan interaksi dari kedua situasi tersebut. Ini adalah apa yang Gadamer sebut sebagai penggabungan cakrawala fusion of horizons. Pengertian ini digambarkan dalam budaya hermeneutika sebagai yang hidup atau eksistensial. itu dialami secara langsung daripada diisolasi oleh objektivitas. Tujuan terakhir hermeneutika adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara berbagai struktur yang ada, yang kemudian dipelajari untuk membantu orang lain memahaminya hingga akhirnya ada kesepakatan. Pemahaman lintas budaya dan lintas usia mencakup komunikasi lintas budaya dan lintas usia, sama seperti pemahaman teks. Karena setiap orang dibentuk oleh dunia bahasa dan budaya mereka sendiri, tidak mungkin ada tempat yang aman di mana orang dapat berkumpul untuk memahami satu sama lain. Namun, setiap individu dapat berusaha untuk memperoleh wawasan yang sebanyak mungkin. Sederhananya, hermeneutika membantu memahami kata, kalimat, dan teks serta menemukan tanda. Menurut Josef Bleicherr, ada tiga jenis peta hermeneutika: sebagai metodologi, sebagai filsafat atau filosofis, dan sebagai (Zahrani and Rubini 2. Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 01 No. 04 April Ae Juni 2024 Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 1 No. 4 April - Juni 2024 Hal. https://jurnal. id/index. php/jkis/index ISSN : 3026-2003 Pengaruh Para Tokoh Dalam Perkemabangan Hermeneutika Banyak tokoh hermeneutika yang memperkenalkan hermeneutika ini. Di antara tokoh-tokoh Islam dan orang Barat yang menggunakan metode ini adalah: Scehleiermacher Dalam bidang seni dan interpretasi. Scehleiermacher mencapai kesimpulan bahwa seni harus merekonstruksi sejarah dengan menggunakan dua sifat utama: optimisme, semangat, dan subyektif. Menurut Scehleiermacher, bagian penting dari hermeneutika adalah memahami teks dari sudut pandang pengarang secara akurat atau lebih mendalam serta memahami tulisan pengarang secara lebih mendalam daripada tulisan mereka Dia berpendapat bahwa ada perbedaan antara yang berbicara dan yang berpikir, di mana sifat ucapan sebenarnya berbeda dengan sifat internalnya. Kita harus memiliki kemampuan untuk mengolah pemikiran ke dalam corak dan tata bahasa yang unik. Setiap kalimat yang diucapkan memiliki dua titik pemahaman: teks yang dikatakan dan pembicara yang berbicara. Interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis adalah dua tugas hermeneutika yang pada dasarnya sama. Dalam psikologi, seseorang dapat melihat "setitik cahaya" pribadi penulis, sedangkan bahasa gramatikal merupakan syarat berpikir. Semakin memahami bahasa dan psikologi pengarang seseorang, semakin jelas penafsirannya. Wilhelm Dilthey Wilhelm, seorang filsuf yang berfokus pada hermeneutika filosofis, berusaha untuk membangun dasar epistemologis baru untuk pertimbangan sejarah dengan melihat dunia dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang luar dan sudut pandang dalam. Dilihat dari luar, suatu peristiwa memiliki waktu dan tempat tertentu. Secara internal, peristiwa dilihat dari perspektif kesadaran atau keadaan sadar. Dia menghadapi tantangan untuk menilai penyelidikan sejarah sebagai penelitian ilmiah. Karena penelitian ilmiah hanya melihat sudut pandang luar. Dia berpendapat bahwa pendekatan hermeneutika adalah metode untuk memahami ekspresi lisan kehidupan. Oleh karena itu, ia menekankan peristiwa dan karya sejarah dari pengalaman hidup sebelumnya. Memiliki kesamaan dengan pengarang dari pengalaman ini, dan kesamaan ini mengacu pada aspek psikologis dari scehleiermacher. Pengetahuan pribadi tentang maksud manusia adalah penting untuk pemahaman historis, menurutnya. Kant membangun Ide Crituque of Historical Reason sebelum menulis Crituque of Pure Reason. Dilthey awalnya membagi ilmu menjadi dua bidang: ilmu alam dan ilmu sosial-humaniora. Salah satu disiplin ilmu adalah meneliti alam, sedangkan disiplin kedua meneliti manusia. karena objek ilmu alam tidak disebut sebagai sesuatu yang masuk ke subjek atau berada di luar subjek. Sebaliknya, keduanya tidak dapat dipisahkan karena subjek ilmu sosial-humaniora berada di dalam subyek itu sendiri. Dithley menganggap ilmu alam menggunakan penjelasan secara epistemologi, yaitu menjelaskan hukum alam menurut penyebabnya dengan teori. Karena teori dan pengalaman berbeda, ilmu sosial humaniora menggunakan pemahaman, yang bertujuan untuk menemukan arti objek karena pencampuran antara pemahaman teoritis dan pengalaman. Makna teks dalam konteks sejarahnya dianggap sebagai makna obyektif dalam pendekatan ini. Akibatnya, pendekatan ini bertujuan untuk memahami teks sebagai ekspresi sejarah daripada ekspresi penggagas. Dithley menyatakan bahwa hermeneutika adalah dasar dari semua disiplin ilmu humaniora. Tujuannya adalah untuk mendorong penggunaan hermeneutika ke dalam segala disiplin ilmu humaniora. Ada kemungkinan bahwa perspektif hermeneutika WD ini telah melampaui masalah bahasa. Hans-George Gadamer Gadamer secara mendasar menyatakan bahwa persoalan hermeneutik bukan masalah tentang metode. Hermeneutik merupakan upaya memahami dan menginterpretasi sebuah teks. Pendekatan ini merupakan salah satu elemen dari keseluruhan pengalaman mengenai dunia ini. Pemahaman dasarnya berkaitan dengan relasi antar makna dalam sebuah teks, serta pemahaman tentang realitas yang dibicarakan. Dalam perkembangannya ada empat faktor yang terdapat dalam pemaknaan hermeneutik, yaitu: Bildung, yaitu pembentukan jalan pikiran, yang menggambarkan perilaku utama manusia dalam menangani masalah yang dihadapi. Sensus communis, pertimbangan praktis yang baik. Dengan faktor inilah kita dapat mengetahui hampir secara Pertimbangan, menggolongkan hal-hal yang khusus berdasarkan pandang yang universal, atau mengenali sesuatu sebagai contoh wujud hukum. Selera, yaitu antara kerawanan intelektual dan campur tangan pancaindra. Selera memiliki kekuatan untuk menginspirasi kita untuk mengejar hasrat kita dan mengingatkan kita untuk jujur pada diri kita sendiri saat kita menciptakan karya seni kita. Dengan kata lain, hermeneutika menurut Gadamer adalah keterbukaan terhadap yang lain, apapun bentuknya, baik sebuah teks, notasi musik maupun karya seni. Amin al-Khulli dan Bint SyatiAo Setahun yang lalu pada tahun 1960, pembicara memulai gerakannya dengan sikap radikal, artinya perubahan baru adalah menghilangkan kepercayaan lama. (Mujahidin. A 2. Al-Qur'an dikutip sebagai buku filsafat Arab yang paling penting dalam argumen ini. Syeikh Amin al-Khulli memberikan nasehat tentang konsep baru sastra, yang baru saja memasuki pemikiran Islam. Ini memiliki jumlah yang sangat besar yang biasanya disebut Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 01 No. 04 April Ae Juni 2024 Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 1 No. 4 April - Juni 2024 Hal. https://jurnal. id/index. php/jkis/index ISSN : 3026-2003 sebagai at-Tafsir al-Bayani untuk membaca Al-Qur'an. Ayat ini terdapat dalam kitab Tafsir al Bayani li al-Qur'an al-Karim. (Devi. M 2. Hasan Hanafi dan Farid Essack Hasan Hanafi mengemukakan pemikiran Hermeneutika melalui karyanya yaitu Religius Dialogue and Revolution. Ia memiliki pandangan Hermeneutika sebagai Aksiomatika, yaitu kasus Islam yang berkaitan dengan metodologi penafsiran dan pengaplikasiannya. Begitu pula dalam buku Dirasat Islamiyyah bab Ushul Fiqh dan buku Dirasat Falsafiyyah pembahasan QiraAoah al-Nash. 19 Pertengahan akhir dekade 1960 dipenuhi dengan munculnya disertasi Hassan Hanafi dengan judul Les Methods DAoexeges. Essai sur la Science des fordements d ela Comprehension. AoIlm Ushul al-Fiqh . Dalam disertasi tersebut dijelaskan bahwa hermeneutik al-QurAoan Ushul Fiqh merupakan suatu disiplin ilmu yang mampu menghantarkan realitas masyarakat dengan al-QurAoan dan Sunnah yang merupakan sumber rujukan umat Islam. Pandangan Hasan Hanafi tentang topik hermeneutik al-Qur'an dibangun atas dua topik: masalah metodologis, atau teori penafsiran, dan masalah filosofis, atau teori penafsiran. Secara metodologis. Hanafi menguraikan beberapa langkah baru untuk memahami Alquran, dengan fokus pada aspek pembebasan dan pembebasan Alquran. Di sisi lain, dalam agenda filosofis. Hanafi berperan sebagai komentator, kritikus, bahkan dekonstruksi teori-teori kuno yang dianggap benar dalam metodologi penafsiran Al-QurAoan. Beberapa alat penting yang digunakan dalam mengonstruksi hermeneutika Hasan Hanafi, yaitu ushur fiqh, fenomenologi, marxisme, dan hermeneutika itu sendiri, mengkonstruksi teori interpretatif yang mewujudkan ide pembebasan dalam Islam. Tafsir revolusioner yang memberikan landasan ideologis normatif bagi umat Islam untuk menghadapi segala bentuk penindasan, eksploitasi, dan ketidakadilan, memiliki hermeneutika yang lebih praktis, dan menjawab persoalan kronis umat saat ini. (Zahrani and Rubini 2. Pemikiran hermeneutik dari Hasan Hanafi yang paling menonjol adalah muatan ideologinya yang syarat dan maknanya sangat praktis. Padahal tipikal pemikiran revolusioner ini sangat berbeda dengan umat Islam arus utama yang masih terikat oleh institusi tradisionalis dan ortodoks. Syamsuk Asror. Moh. dan Arifin. AuPendekatan Hermeneutika Dalam Studi IslamAy (Syamsuk. A 2. Kenyataan yang dialami Farid Essack merupakan salah satu latar belakang munculnya pemikiran Essack yang mempercayai bahwa berteologi bukan tentang mengurusi Tuhan saja. surga, neraka dan lain-lain. Tetapi teologilah yang terlalu mengurus Tuhan, padahal Tuhan merupakan zat yang tidak perlu dirawat. Fazlur Rahman Pembaharuan metodologi tafsir al-QurAoan ditawarkan oleh Fazlur Rahman di dalam bukunya yang berjudul Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition terbit pada tahun 1982. Ia menjelaskan hermeneutika al-QurAoan secara konkret dan sistematis. Hermeneutika mengacu pada analisis sejarah, atau yang sering disebut sebagai gerakan bolak-balik, yaitu proses dialog antara masa kini dan masa ketika al-Qur'an diturunkan dengan latar belakang sosial budayanya. Ada tiga langkah dalam proses ini, yaitu: mempelajari teks Nuzulul dan konteks al-Qur'an secara sistematis dan komprehensif, . memahami realitas masa kini, . dialog masa lalu dan masa kini mengubah nilai-nilai moral al-Qur'an dalam konteks masa kini. Gagasan yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman ialah hermeneutika double movement . erak ganda interpretas. yaitu suatu metode yang logis, kritis, dan komprehensif. Metode ini memberikan pemahaman yang sistematis dan kontekstualis, sehingga menghasilkan suatu penafsiran yang tidak atomistik, literalis dan tekstualis, melainkan penafsiran yang mampu menjawab masalah kekinian. (Rahtikawati. Y & Rusman. Sahiron Syamsuddin Kemahiran Sahiron Syamsuddin dalam hermeneutika dan Ulumul QurAoan terlihat dari keberhasilannya menggabungkan dua kajian yang sebelumnya dianggap tidak sejalan. Salah satu ulama yang menjadi pembimbingnya dalam hal ini adalah Muhammad Quraish Shihab, seorang ahli tafsir Indonesia kontemporer yang berpendapat bahwa beberapa metode dan teori hermeneutika dapat digunakan untuk memahami pesan-pesan Al Qur'an. Dari situ ia mengambil beberapa teori dan metode hermeneutika yang dianggap cocok dan bermanfaat bagi pengembangan Ulumul QurAoan, khususnya untuk memahami ayat-ayat al-QurAoan. Sahiron Syamsuddin memecah aliran hermeneutik dari segi penafsirannya terhadap objek pemaknaan menjadi tiga, yaitu: objektivis, aliran subjektivis dan objektivis-cum-subjektivis. Menurutnya, dengan adanya kecenderungan mazhab penafsiran umum tersebut, ia berpendapat bahwa ada kesejajaran dalam penafsiran AlQur'an saat ini. Beliau menawarkan gagasan yang disebut MaAona-cum-Maghza. Yang mana istilah ini merupakan penggabungan antara bahasa Arab yaitu AuMaAona dan MaghzaAy, dan bahasa Latin yakni AucumAy. Gagasan ini ditawarkan sebagai metode untuk menemukan pesan utama dari al-QurAoan di ruang dan waktu yang berbeda yakni waktu diturunkannya al-QurAoan dengan waktu sekarang ini. Karena itu, ia pun mengkategorikan tafsir modern AlQur'an menjadi tiga jenis. Pandangan quasi-objektivis tradisionalis, pandangan quasi-objektif modernis, dan pandangan subjektivis. Ia menarik perhatian yang sama makna asal harafiah . l-maAona al-asl. dan pesan utama . di balik makna harafiah tersebut memperjelas artinya. Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 01 No. 04 April Ae Juni 2024 Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 1 No. 4 April - Juni 2024 Hal. https://jurnal. id/index. php/jkis/index ISSN : 3026-2003 Aliran yang pertama ialah quasi-objektivis-tradisionalis yang mengarah pada memahami al-QurAoan secara Kedua aliran subjektivis yang cenderung menafsirkan al-QurAoan sesuai kemauan penafsirnya, sedangkan yang ketiga adalah aliran quasi-objetivis-modernis yang mana merupakan aliran yang berupaya mencari makna historis dan makna utama al-QurAoan. (Sahiron. S 2. Muhammad Shahrur Muhammad Shahrur mengungkapkan konsep al-qirA'ah al-muntijah, yang merupakan pembacaan hermeneutis yang bermanfaat. Al-qirAAoah al-muAoAirah, atau hermeneutika modern, adalah kritik terhadap al-qirAAoah al-mustabiddah, atau hermeneutika tiranik. Ia menekankan dasar bahwa al-Qur'an diturunkan sebagai wahyu Allah Swt. agar semua orang dapat memahami dan mengamalkannya. Akibatnya. Allah Swt telah memberi manusia panduan tentang cara memahami makna dan rahasia pesan-Nya. Metode penafsiran al-Qur'an ini disebut manhaj altartl oleh Shahrur, yang juga dikenal sebagai pendekatan intra-tekstualitas. Metode iniAiyang disebutnya dengan istilah al-ta'wilAidianggap Shahrur sebagai salah satu dasar hermeneutika al Qur'an. Sementara itu, ia mengembangkan teori nadzariyAt al-hudd dalam kaitannya dengan ayat-ayat hukum. Problematika Penerapan Hermeneutika Sebagai Metode Tafsir Ilmu Al-QurAoan Hasan Hanafi menyatakan bahwa hermeneutik adalah pendekatan penafsiran kitab suci yang pertama kali digunakan sebelum Islam. Hermeneutik mengkaji kitab suci seperti Zabur. Taurat, dan Injil dengan menggunakan kritik sejarah untuk mengetahui maknanya. Penafsiran kitab suci yang dilakukan pada waktu itu menunjukkan rasa keberagamaan yang luar biasa terhadap ajaran yang terkandung dalam kitab suci mereka. Dengan demikian, kitab suci sebelum al-Qur'an diciptakan dalam masyarakat yang tidak berpengetahuan, sehingga kodifikasi wahyu dilakukan jauh setelah penerimanya wafat. Dengan jeda waktu yang sedemikian lama, sangat mungkin kandungan wahyu yang diturunkan akan berkurang. Sebagai contoh, dalam Injil Perjanjian Baru, konsili menganggap penuhanan Isa sebagai wahyu yang diturunkan Tuhan. Namun, dalam versi Injil yang berbeda, misalnya. Barnaba, pernyataan Isa sebagai Tuhan dianggap sebagai ayat yang "dipalsukan". Namun, pengukuhan bahwa Isa adalah salah satu unsur Tuhan adalah apa yang sebenarnya diakui oleh gereja sebagai keimanan. Metode hermeneutik muncul dari fenomena perbedaan versi Injil. Meskipun al-Qur'an dikodifikasi sejak awal diturunkannya. Rasul langsung mendektekan kepada "tim" penulisan al-Qur'an setiap kali wahyu turun. Selain itu, setiap sahabat memiliki catatan merekam al-Qur'an, dan banyak shabat menghafalkan al-Qur'an di dada mereka. Pertanyaannya adalah apakah hermeneutik dapat digunakan untuk menafsirkan al-Qur'an, apakah teks al-Qur'an sama dengan teks kitab lain, atau apakah Islam sudah memiliki cara tersendiri untuk menafsirkannya. (Hipni 2. Salah satu konsep yang pernah digunakan para tokoh hermeneutik dalam menafsirkan al-QurAoan adalah: Relativisme tafsir, metode dekonstruksi syariAoah dan menolak otoritas munfassir. Sehingga sebagaimana sebuah ungkapan dari tokoh hermeneutik terkenal dari timur tengah Muhammad Syahrur dalam karyanya yang berjudulkan Qiraah MuAoasiran akan terjadi pemahaman yang sangat menghancurkan sendi-sendi islam dari akarnya, diantaranya: pertama. Penafsiran tentang kata-kata yang ada sinonimnya dalam bahasa al-QurAoan ( al-Taradu. Kedua. Penafian mengenai konsep penurunan al-QurAoan (Inzal Wa Tanzi. atau penafsiran kepada Asbab an-Nuzul. Mengenai kemukjizatan al-QurAoan (IAojaz al-QurAoa. dan keempat. Mengenai dialektik dan pengetahuan . lJadaliyah wa al-MaAorifa. Dewasa ini menjadi problematika serius dalam dunia Ilmu tafsir khususnya dalam menafsirkan Al-QurAoan. (Mukmin 2. Penerapan Hermeneutika Al-QurAoan Hermeneutika, menurut istilah, adalah bidang dan teori penafsiran yang bertujuan untuk menjelaskan teks berdasarkan karakteristiknya, baik secara objektif maupun subjektif. Ada juga yang menggambarkannya sebagai "the art and science of interpreting especially authoritative writings. mainly in application to scared scripture and equivalent to exegesisAy . eni dan ilmu tafsir, khususnya yang berkaitan dengan kitab-kitab otoritatif, khususnya kitab suci, atau serupa dengan tafsi. Sebagaimana layaknya sebuah teks, al-QurAoan lahir tidak dengan sendirinya. Terdapat aspek-aspek yang mempengaruhi dan melatarbelakangi kemunculannya yang disebut dengan asbab an-nuzul. Dalam menggunakan hermenuetika, asbab an-nuzul hanya menjadi salah satu bagian dari sumber informasi. Maksudnya adalah hermeneutika masih membutuhkan banyak lagi sumber-sumber informasi yang lainnya. Maka dari itu Esack menjelaskan bahwa hermeneutika merupakan cara menafsirkan teks yang melibatkan berbagai keterangan dapat berupa: bahasa, budaya, sejarah dan sebagainya yang terkait dengan teks tersebut. (Esack. F, 2. Terlepas dari masalah mendasar tentang otentisitas teks Bibel dan makna asli yang terkandung di dalamnya (Muzayyin, 2. , hermeneutika tetap ada. Meskipun hermeneutika dapat digunakan sebagai alat untuk "menafsirkan" berbagai bidang kajian keilmuan, dengan mempertimbangkan asal-usulnya, perlu diakui bahwa fungsi hermeneutika yang paling penting adalah dalam ilmu sejarah dan kritik teks, terutama kitab suci. (Faiz, 2. Harley berpendapat bahwa ada tiga komponen yang selalu terkait dengan proses penafsiran. Yang pertama adalah tanda, pesan, atau teks yang berasal dari berbagai sumber (Penuli. Yang kedua adalah orang yang bertugas sebagai mediator untuk menerjemahkan tanda (Pembac. sehingga mudah dipahami, dan ketiga adalah audiensi yang merupakan tujuan sekaligus penerima hasil dari penafsiran. Proses pembentukan makna dibantu oleh ketiga Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 01 No. 04 April Ae Juni 2024 Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 1 No. 4 April - Juni 2024 Hal. https://jurnal. id/index. php/jkis/index ISSN : 3026-2003 komponen tersebut, yang saling berhubungan secara dialektis. Secara historis ini menjadi awal mula muncul Menafsirkan teks klasik atau teks yang asing adalah tugas utama hermeneutika. Dalam hal tugas hermeneutika. Roger Trigg menulis dalam buku Understading Social Science, "Pikiran tanpa bahasa menjadi tidak mungkin, dan pikiran yang berbeda akan dihasilkan oleh berbagai bahasa," seperti yang dikutip oleh Komaruddin Hidayat. Karena bahasa dan berpikir tidak dapat dipisahkan, produk pemikiran berbeda karena bahasa berbeda. Jika bahasa dan pikiran menentukan bagaimana seseorang berinteraksi dengan dunia sekitarnya, maka memahami teks membutuhkan pemahaman tradisi di mana teks diciptakan. Artinya, kita harus memahami teks dalam konteksnya. (Malik & Rif'atul 2. Pada masa saat ini, hermeneutika sudah masuk dalam studi keagamaan islam yakni dijadikannya mata kuliah yang menjadi bagian dari salah satu komponen struktur kurikulum prodi Ilmu Tafsir dan Hadis di PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Neger. Mata kuliah hermeneutika berisikan ajaran teori-teori tentang interpretasi yang sangat dibutuhkan bagi landasan ilmiah bagi studi Al-QurAoan dan Al-Hadis. Landasan tersebut berguna untuk menghindarkan studi yang bersifat ideologis serta menghasilkan truth claim atau penafsiran terhadap teks Al-QurAoan dan Hadis dengan klaim sebagai penafsiran utama yang paling benar. Secara berkelanjutan pengembangan teoritis dan metodologis studi Al-QurAoan Hadis akan membuat mahasiswa memahami teori-teori hermeneutika dalam filsafat, humaniora, dan studi teks (Al-QurAoan Hadi. , memiliki sikap apresiatif terhadap keragaman pemaknaan teks (Al-QurAoan Hadi. , dan mampu mengaplikasikannya dalam studi Al-QurAoan Hadis secara kontekstual dan kritis. Sehingga mencapai tujuan untuk menjawab persoalan-persoalan masyarakat masa kini. (Mujahidin. A, 2. Tujuan kelompok yang mendukung dan menentang hermeneutika adalah untuk menjelaskan maksud dan pesan Alquran sebagai kitab petunjuk yang sesuai untuk umat manusia di setiap waktu dan tempat. Namun, metode tafsir hermeneutika harus menjadi bagian dari pendekatan penafsiran modern. Mereka yang menerima Alquran berusaha untuk menginterpretasi sesuai dengan konteksnya, sedangkan mereka yang menolak menganggap bahwa Alquran harus diterapkan dalam kehidupan kaum muslimin sepanjang masa, seperti yang dipahami oleh ulama secara literal. Mereka mempertahankan metode tafsir dan takwil salafus shalih, yang tidak dapat dibandingkan dengan hermeneutika. (Victoria, 2. Dari persoalan-persoalan diatas, terjadinya pembuktian dari berbagai tafsir kontemporer terutama hermeneutika oleh kelompok yang menerima dan kelompok yang menolak. Adapun pembuktiaannya sebagai Metododogi hermeneutika dalam ayat Al-QurAoan tentang gender: Gender selalu menjadi subjek diskusi. Gender tidak terkait dengan cara wanita dan pria memiliki peran sosial yang sama, terutama di era modernisasi saat ini. Islam, sebagai agama universal, menjembatani fungsi dan peran sosial ini. Nilai-nilai ilahiyah menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peran dan fungsi yang Kesetaraan gender adalah hasil dari nilai-nilai penting ini. Metodologi yang berbeda dari sebelumnya telah berkembang sebagai hasil dari gerakan feminis yang mengangkat masalah gender dalam memahami Alquran. Ini membuat kaum feminis merasa "gerah" melihat bagaimana perempuan di masyarakat diperlakukan. Perempuan seringkali tidak dihargai dan dianggap subordinat. Dengan posisi yang tidak menguntungkan ini, perempuan harus tunduk kepada laki-laki, seolah-olah mereka mendapatkan legitimasi dari doktrin teologis atau agama, yang ditafsirkan dengan bias gender. Bahkan sistem patriarkhi yang melekat kuat di masyarakat kita mendukung hal ini. Perempuan diposisikan dalam posisi marginal dan subordinat di bawah kaum laki-laki karena kekuatan sistem budaya androsentris-patriarkhi yang didukung oleh teologis. Oleh karena itu, wajar jika muncul pertanyaanpertanyaan seperti apakah perempuan secara alami berada di bawah kaum laki-laki? Apakah sebenarnya itu hanyalah pembangunan sosial melalui proses sosio-historis yang lama karena sistem patriarkhi yang kuat, sehingga perempuan tidak dapat bersaing dengan kaum laki-laki dengan baik? Bagaimana persepsi Islam tentang perempuan? Dengan adanya beberapa pertanyaan di atas, penulis akan menjelaskan secara kritis wacana tafsir yang dianggap bias patriarkhi dengan menggunakan metodologi tafsir Riffat Hassan yang sesuai dengan hermeneutika. Bias gender terjadi karena pemahaman ayat yang buruk. Menurut penelitian Nasaruddin Umar, metode tafsir tahlili atau tajzi'i menunjukkan bias gender dalam menafsirkan Alquran karena cenderung bersifat parsial . epotong-sepoton. dan tidak utuh. Ini terlihat saat para mufassir menafsirkan ayat-ayat tentang poligami. Seolaholah metode tahlili lebih mudah untuk memungkinkan seseorang untuk berpoligami asal jika mereka memenuhi syarat adil. Misalnya, jika digunakan metode maudhu'i . , kesimpulan akan berbeda, karena di ayat lain dijelaskan bahwa syarat adil tidak dapat dilakukan oleh manusia. Ayat 129 surah an-Nisa' menunjukkan hal ini. AuDan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri. , walaupun kamu sangat ingin Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 01 No. 04 April Ae Juni 2024 Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 1 No. 4 April - Juni 2024 Hal. https://jurnal. id/index. php/jkis/index ISSN : 3026-2003 berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung . epada yang kamu cinta. , sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri . ari kecuranga. , maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha PenyayangAy. Riffat Hassan berusaha menawarkan pendekatan penafsiran baru yang dikenal sebagai histori-kritiskontekstual. Metode ini bekerja pertama-tama dengan memeriksa ketepatan makna kata atau bahasa (Language Accurac. , yaitu dengan memeriksa secara kritis sejarah kata dan akar katanya sesuai dengan konteksnya. Selanjutnya. Riffat melihat melalui analisis semantiknya . ang berkaitan dengan arti kat. , konteksnya, dan kondisi Kedua, menguji konsistensi filosofis dari penafsiran sebelumnya. Ketiga, prinsip etis didasarkan pada prinsip keadilan, yang merupakan representasi dari Keadilan Tuhan. Aplikasi dan implikasi teoretis dari metode Riffat Hassan adalah sebagai berikut: Teori Penciptaan (Theory of Creatio. Konsep penciptaan perempuan sangat penting dalam feminisme dan harus diteliti terlebih dahulu, baik secara filosofis maupun teologis. Konsep tentang kesetaraan atau ketidaksetaraan berasal dari gagasan tentang penciptaan Riffat menyatakan bahwa Adam dan Hawa diciptakan secara bersamaan dan memiliki subtansi yang sama dan cara yang sama. Sebagian besar mufassir, bahkan hampir semua orang Islam, berpendapat bahwa Adam tidak diciptakan pertama dari tanah, tetapi Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Istri Adam (Haw. adalah dari jenis yang sama, menurut Riffat. Kata nafs wahidah dapat ditafsirkan sebagai jinsun wahidun. Kedudukan Perempuan Menurut Riffat, beberapa alasan untuk asumsi teologis yang menyatakan bahwa perempuan tidak setara dengan laki-laki adalah sebagai berikut: . bahwa Adam, ciptaan Tuhan yang pertama, adalah laki-laki, bukan . perempuan digambarkan sebagai faktor utama yang menyebabkan manusia jatuh atau diusir dari Oleh karena itu, perempuan dipandang dengan benci, curiga, dan jijik. Laki-laki membuat perempuan bukan hanya dari laki-laki tetapi juga untuk laki-laki, yang membuat eksistensinya semata-mata berfungsi sebagai alat dan tidak memiliki makna dasar. Al-Musawah . osisi perempuan dan laki-laki setar. dijelaskan dalam Alquran, dan mereka ingin hidup bersama dalam kesalihan dan harmoni. Sebagai contoh. Riffat mengutip beberapa ayat dari Alquran Surah al-Imran: 195 dan an-NisaAo:124 : AuMaka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya . engan berfirma. : "Sesungguhnya Aku tidak menyianyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, . sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lainAy(Q. S al-Imran: . AuBarangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpunAy(Q. S an-NisaAo: . (Malik & Rif'atul 2. Dampak penerapan hermeneutika sebagai metode menafsirkan al-QurAoan Hermeneutika merupakan salah satu metode penafsiran, bukan hanya sekedar menyelami teks akan tetapi ia juga terdapat hal yang tidak dapat ditinggalkan yaitu berusaha menyelami kandungan maknanya. Lebih lagi dari hal itu, ia juga berusaha untuk menggali makna dengan mempertimbangkan horizon-horizon yang terdapat pada teks tersebut, baik pengarangnya, pembaca, maupun horizon teks itu sendiri. Hermeneutika mempertimbangkan tiga hal yang pentingsebagai komponen pokok dalam kegiatan penafsiran, yani teks, konteks dan kontektualisasi. Jadi, ketika konteks teks al-qurAoan dibongkardan dilepaskan dari tempatnya sebagai Aukalam AllahAy maka al-QurAoan dilakukan sebagai Auteks bahasaAy dan Auproduk budayaAy sehingga dapat dipahami lewat kajian historisitas, tanpa memperhatikan bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya untuk mengartikan makna ayat-ayat al-QurAoan dalam kehidupan mereka. Dengan dibongkarnya al-QurAoan sebagai kalam Allah maka metode ini memungkinkan digunakan untuk memahami al-QurAoan. Metide penafsiran ini memungkinkan penafsiran menjadi bias dan disesuaikan dengan tuntutan nilai-nilai budaya yang sedang dominan (Bara. (Adian Husaini dan Henri Salahuddin, 2004:. Hal inilah yang menyebabkan penerapan ilmu ini sebagai metode dalam penafsiran al-QurAoan. Contoh penafsiran ayat yang menggunakan metode Hermeneutika Allah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 3 yaitu: Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 01 No. 04 April Ae Juni 2024 Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan Vol. 1 No. 4 April - Juni 2024 Hal. https://jurnal. id/index. php/jkis/index ISSN : 3026-2003 Artinya: Audiharamkan bagimu . bangkai, darah, daging babi, . aging hewa. yang disembelih atas nama selain Allah. aging hewa. yang disembelih atas nama selain Allah. Ay Secara konteks ayat tersebut menurut tinjauan sosio historis babi itu diharamkan karna di Arab jarang terdapat binatang tersebutsehingga vmembuat orang susah untuk mendapatkannya dan membuat harganya menjadi mahal, padahal jika kita melihat dari konteks saat ini binatang tersebut merupakan binatang yang sangat menguntungkan jika dilihat dari kacamata perternakan sekalipun memiliki banyak dampak negatif yang ditimbulkan oleh berbagai penyakit, namun secara kontekstualisasi hal tersebut dapat diatasi yang penting konteksnya Analisis: jika diteliti dan diperdalam lebih jauh dalam ayat ini tidak menyebutkan siapa yang mengharamkan makanan-makanan yang disebut didalamnya. Hal ini menunjukkan hal itu bukan saja karna setiap orang islam pasti mengetahui bahwa yang memiliki kuasa untuk mengharamkan ialah hanya Allah semata, akan tetapi juga memberikan isyarat bahwa apa yang disebutlkan oleh Allah terdapat dampak negatif. Lebih lanjutnya dalam ayat ini hanya babi yang disebutkan secara tegas disertakan kata daging ketika keharamannya diuraikannya. Walaupun yang lain pada hakikatnya yang diharamkan adalah dagingnya. Tahir bin AoAsyur, penganut madhzhab Malik, berpendapat bahwa penggandengan itu memberikan isyarat bahwa yang haram adalah memakan babinya, karna apabila menyebutkan kata daging maka yang terlintas dalam benak adalah memakannya. Contoh lain lagi Mengenai Perkawinan Antar Agama. Allah SWT berkata dalam surat al-Mumtahanah ayat 10: Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, apabila perempuan-perempuan yang beriman datang berhijrah kepadamu, ujilah keimanan mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman, jangan kembalikan mereka kepada suami-suami mereka yang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir, dan orang-orang kafir juga tidak halal bagi mereka. Menurut Musdah Mulia dalam bukunya "Muslimah Reformis", ayat di atas tidak berlaku lagi dalam konteks saat ini karena, jika dilihat dari konteksnya, ayat tersebut diharamkan jika dunia sedang dalam perang. Namun, sekarang keadaan aman dan tidak ada peperangan lagi, jadi perempuan Muslimah dapat menikah dengan orang nonMuslim. Analisis: Allah swt menggunakan dua jenis kalimat dalam ayat di atas: Masdar . nfinitive nou. dan mudhari' . resent tens. Yang pertama mengatakan bahwa itu tidak halal sejak sekarang, dan yang kedua mengatakan bahwa itu juga tidak halal di masa depan. (Mukmin 2. Kesimpulan Didasarkan pada banyaknya diskusi tentang hermeneutika Al-Qur'an, dapat disimpulkan bahwa ini adalah pendekatan penting untuk memahami teks suci bagi umat Islam. Hermeneutika menganggap Al-Qur'an sebagai teks yang membutuhkan pemahaman mendalam melalui proses interpretasi yang melibatkan interaksi antara subjek dan objek dalam komunikasi. Konstruksi makna Al-Qur'an bergantung pada konteks fenomena dan intersubjektivitas, di mana pemahaman sekelompok orang lebih penting daripada kesimpulan pribadi. Seperti Schleiermacher dan Wilhelm Dilthey, tokoh hermeneutika dari Barat dan dunia Islam telah membantu mengembangkan metode interpretasi Al-Qur'an. Mereka menekankan betapa pentingnya memahami teks dari sudut pandang pengarang serta konteks historisnya. Selain itu, pemahaman lintas budaya dan usia juga menjadi bagian integral dalam hermeneutika Al-Qur'an, di mana komunikasi lintas budaya dan usia menjadi kunci untuk memperluas wawasan dan pemahaman terhadap teks suci. Dalam konteks pendidikan agama Islam, hermeneutika telah menjadi mata kuliah yang penting dalam struktur kurikulum prodi Ilmu Tafsir dan Hadis di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, menunjukkan relevansi dan kebutuhan akan pemahaman yang mendalam terhadap metode interpretasi Al-Qur'an. Dengan demikian, melalui pendekatan hermeneutika, umat Islam dapat terus mengembangkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam terhadap ajaran-ajaran Al-Qur'an sesuai dengan tuntutan zaman yang terus berkembang. Daftar Pustaka