Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (JEPA) Volume 10. Nomor 02 . : 610-624 ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . PENENTUAN KOMODITAS DAN KAWASAN UNGGULAN SUBSEKTOR TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN TANAH DATAR IDENTIFICATION OF PRIORITY COMMODITIES AND STRATEGIC AREAS IN THE FOO CROPS SUBSECTOR IN TANAH DATAR REGENCY 1,2,3 Erick Gunawan Bahar1*. Fajar Restuhadi2. Arifudin3 Jurusan Agribisnis. Program Pascasarjana. Universitas Riau Jl. Pattimura No. Gedung A - Pekanbaru Penulis korespondensi: erick. gunawan6965@grad. ABSTRACT One of the steps taken to improve the community's economy in an area is to apply a regional development strategy based on leading sectors by detecting and tracing the ability of the food crop sub-sector in an area. So that agricultural activities that are competitive and of high value provide benefits for improving the community's economy and regional income. The purpose of this research is to determine the commodities and superior areas in the food crops sub-sector in Tanah Datar Regency. The data used in this study is secondary data, namely time series data for the production of the food crops sub-sector for 5 years starting from 2017 Ae 2021 obtained from the Central Bureau of Statistics of Tanah Datar Regency. The commodities analyzed were rice, corn, soybeans, peanuts, green beans, cassava and sweet potatoes. The analytical methods used include Contribution Index Sectoral (CIS). Growth Ratio Model (GRM). Location Quotient (LQ). Dynamic Location Quotient (DLQ) and Composite Index (CI). The results showed that the leading food crop commodities in Tanah Datar Regency were peanuts and cassava. These two commodities are commodities that have the best average value for all sub-districts in Tanah Datar Regency. The leading areas for rice commodities are in Pariangan District, peanut commodities are in Tanjung Baru and Salimpaung Districts. The green bean commodity is located in Tanjung Emas District. Sweet potato commodity is found in Batipuh District. As for the commodities of corn, soybeans and cassava, there is not a single sub-district that forms a leading area. All identified superior areas are areas that are grouped significantly among other sub-districts in Tanah Datar District. Keywords: Commodity. Area. Prime. Food Crops ABSTRAK Salah satu langkah yang dilakukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di suatu daerah adalah dengan menerapkan strategi pembangunan daerah berbasis sektor unggulan https://doi. org/10. 21776/ub. Erick Gunawan Bahar Ae Penentuan Komoditas dan Kawasan Unggulan. dengan cara mendeteksi dan menelusuri kemampuan subsektor tanaman pangan di suatu Agar kegiatan pertanian yang berdaya saing dan bernilai tinggi memberikan manfaat bagi peningkatan perekonomian masyarakat dan pendapatan daerah. Tujuan dari penelitian ini menentukan komoditas dan kawasan unggulan pada subsektor tanaman pangan di Kabupaten Tanah Datar. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder, yaitu data time series produksi subsektor tanaman pangan selama 5 tahun mulai dari tahun 2017 Ae 2021 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Tanah Datar. Komoditas yang dianalisis adalah padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar. Metode analisis yang digunakan antara lain Indeks Kontribusi (IKS). Model Rasio Pertumbuhan (MRP). Location Quotient (LQ). Dynamic Location Quotient (DLQ) dan Indeks Komposit (IK). Hasil penelitian menunjukkan komoditas tanaman pangan yang menjadi unggulan di Kabupaten Tanah Datar adalah komoditas kacang tanah dan ubi kayu. Kedua komoditas ini merupakan komoditas yang memiliki nilai rata-rata terbaik untuk seluruh Kecamatan di Kabupaten Tanah Datar. Kawasan unggulan untuk komoditas padi terdapat di Kecamatan Pariangan, komoditas kacang tanah terdapat di Kecamatan Tanjung Baru dan Salimpaung. Komoditas kacang hijau terdapat di Kecamatan Tanjung Emas. Komoditas ubi jalar terdapat di Kecamatan Batipuh. Sedangkan untuk komoditas jagung, kedelai dan ubi kayu tidak terdapat satupun Kecamatan yang membentuk kawasan unggulan. Seluruh kawasan unggulan yang telah teridentifikasi merupakan kawasan yang berkelompok secara signifikan diantara Kecamatan lainnya di Kabupaten Tanah Datar. Kata Kunci: Komoditas. Kawasan. Unggulan. Tanaman Pangan PENDAHULUAN Latar Belakang Kabupaten Tanah Datar mempunyai keunggulan komparatif di bidang pertanian, dengan berbagai potensi yang yang dimiliki untuk mengembangkan berbagai komoditas seperti pangan, hortikultura, peternakan maupun perikanan. Potensi yang dimiliki antara lain iklim dan agroekosistem yang sesuai, tersedianya sumberdaya genetik yang melimpah, tersedianya SDM . etani dan petuga. , dukungan kebijakan pemerintah dan jumlah penduduk besar. Sektor pertanian yang ada di Kabupaten Tanah Datar terdiri dari 5 sub sektor, yaitu subsektor tanaman pangan dan hortikultura, subsektor perkebunan, subsektor peternakan, subsektor kehutanan dan subsektor perikanan. Dari 5 subsektor pertanian yang ada di Kabupaten Tanah Datar, terdapat 2 subsektor yang memiliki nilai distribusi tertinggi terhadap PDRB Kabupaten Tanah Datar, yakni subsektor tanaman pangan dan hortikultura, serta subsektor Pengoptimalan potensi sektor pertanian dapat dilakukan dengan menentukan komoditas pertanian yang menjadi basis di Kabupaten Tanah Datar. Berbagai komoditas pertanian yang dihasikan oleh Kabupaten Tanah Datar belum tentu memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Komoditas-komoditas pertanian yang mendapatkan prioritas untuk dikembangkan dapat menjadi pendorong perkembangan sektor perekonomian, sehingga percepatan pembangunan di Kabupaten Tanah Datar dapat tercapai tepat waktu dan tepat JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 610-624 Sektor unggulan daerah adalah sektor yang berpotensi untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah karena memiliki beberapa kriteria dan keunggulan dari sektor lain (Hajeri. Yurishintae, dan Dolorosa 2. Untuk itu dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka kebijakan pembangunan yang dilakukan harus didasarkan pada sektor apa yang menjadi unggulan pada suatu wilayah. Sebagai sektor yang sangat penting dalam pembangunan, sektor unggulan tidak hanya bergantung pada letak secara geografis akan tetapi letaknya menyebar pada sektor-sektor yang ada, dimana sektor tersebut mampu mendorong perekonomian secara menyeluruh. Hal ini didasarkan atas seberapa besar peranan sektor tersebut dalam perekonomian daerah, diantaranya : . sektor unggulan tersebut memiliki laju tumbuh yang tinggi. sektor tersebut memiliki angka penyerapan tenaga kerja yang relatif . sektor tersebut memiliki keterkaitan antar sektor yang tinggi baik kedepan maupun . dapat juga di artikan sebagai sektor yang mampu menciptakan nilai tambah yang tinggi (Hajeri et al. Sebagai daerah dengan sumber mata pencaharian penduduknya ada pada sektor pertanian, dibutuhkan perhatian dan keseriusan yang lebih besar agar mampu mengembangkan pembangunan kawasan sentra produksi. Salah satu langkah yang ditempuh untuk menaikkan perekonomian masyarakat disuatu daerah yaitu dengan menerapkan strategi pengembangan wilayah berdasarkan sektor unggulan. Untuk menopang perluasan kemampuan produksi tersebut maka perlu diketahui ada atau tidaknya konsentrasi spasial pada wilayah tersebut. Dengan mendeteksi dan menelusuri kemampuan subsektor tanaman pangan suatu wilayah dalam menghasilkan produksi maka kegiatan pertanian yang berdaya saing dan bernilai tinggi dapat diwujudkan. Sehingga memberi manfaat kepada petani bahkan ikut meningkatkan pendapatan daerah. Tujuan Penelitian Komoditas tanaman pangan yang menjadi unggulan di Kabupaten Tanah Datar ? Kawasan tanaman pangan yang menjadi unggulan di Kabupaten Tanah Datar ? METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Tanah Datar. Seubjek yang diteliti adalah komoditas tanaman pangan yang terdiri dari padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder, yaitu seluruh data time series . eret wakt. produksi subsektor tanaman pangan selama 5 tahun mulai dari tahun 2017 Ae 2021. Adapun sumber data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik dan Badan Informasi Geospasial berupa: - Statistik Daerah Kabupaten Tanah Datar Tahun 2025. - Produksi Subsektor Tanaman Pangan dalam Tabel Dinamis. JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Erick Gunawan Bahar Ae Penentuan Komoditas dan Kawasan Unggulan. Batas administrasi Kabupaten Tanah Datar dalam bentuk shapefile. Metode Analisis Analisis yang digunakan untuk menentukan komoditas unggulan ada empat yaitu. IKS (Indeks Kontribusi Sektora. MRP (Model Rasio Pertumbuha. LQ (Location Quotien. dan DLQ (Dynamic Location Quotien. Keempat indikator tersebut kemudian di skalakan yang bertujuan untuk mengstandarisasi nilai-nilai pada tiap indikator agar dapat di jumlahkan dan kemudian di rata-ratakan dalam bentuk IK (Indeks Komposi. Setelah nilai IK didapatkan kemudian dikategorikan kedalam 5 skala (Sangat Rendah Ae Sangat Tingg. Indeks Kontribusi Sektoral (IKS) Analisis Indeks Kontribusi Sektoral (IKS) merupakan analisis yang menyajikan informasi mengenai besaran produksi suatu komoditi dalam satu Kecamatan (Xi. dibandingkan dengan besaran produksi komoditi dalam satu Kabupaten (Xi. Angka produksi yang akan digunakan adalah produksi pada tahun 2021. Rumus analisis IKS ini adalah sebagai berikut (MutaAoali 2. ycyeOyeU ycycyc = ycyeOyea Keterangan : Xij = Nilai produksi komoditas i di tingkat Kecamatan pada Tahun 2017 -2021 Xin = Nilai produksi komoditas i di tingkat Kabupaten Tanah Datar pada Tahun 2017 - 2021. Hasil analisis IKS berkisar antara 0Ae1, yang interpretasinya adalah, semakin besar nilai proporsinya maka dapat dikatakan komoditi tersebut memiliki aspek keunggulan dari segi produksi yang lebih tinggi daripada Kecamatan yang lainnya. Kemudian nilai IKS diklasifikasi menjadi dua kriteria dengan interpretasi sebagai berikut: IKS = 0, artinya Kecamatan di Kabupaten tersebut tidak memiliki peran atau kontribusi dalam memproduksi komoditas. IKS = 1, artinya Kecamatan di Kabupaten tersebut berperan atau berkontribusi paling besar dan dominan dalam memproduksi komoditas. Model Rasio Pertumbuhan (MRP) Model Rasio Pertumbuhan (MRP) bertujuan menilai kualitas produksi suatu komoditas berdasarkan pada volume produksi dua periode waktu. Analisis ini memberikan gambaran potensi produksi komoditas unggulan secara temporal atau tidak hanya pada satu titik waktu Penilaian keunggulan produk menurut analisis ini bertumpu pada laju pertumbuhan produksi komoditi pada tingkat Kecamatan (OIXij/Xij. yang dibandingkan dengan laju pertumbuhan produksi komoditi serupa di tingkat Kabupaten (OIXin/Xin. Pada kajian ini data yang digunakan adalah nilai produksi komoditi tanaman pangan di Kabupaten Tanah Datar yang dipublikasikan oleh BPS dengan tahun yang ditentukan adalah tahun 2021 . ahun akhi. dan tahun 2017 . ahun awa. Rumus dari model ini adalah sebagai berikut (MutaAoali 2. OIycyeOyeU /ycyeOyeUyei ycycyc = OIycyeOyea /ycyeOyeayei JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 610-624 Keterangan: iXij = Selisih nilai produksi komoditi i di tingkat Kecamatan pada tahun 2017 Ae tahun 2021 Xijt = Nilai produksi komoditi i di tingkat Kecamatan pada tahun 2017 - 2021 iXin = Perubahan nilai produksi komoditi i di tingkat Kabupaten Tanah Datar pada tahun 2017 Ae tahun 2021 Xint = Nilai produksi komoditi i di tingkat Kabupaten Tanah Datar pada tahun 2017 Ae 2021 Hasil MRP menggambarkan komoditi unggulan dengan klasifikasi sebagai berikut : MRP ( ), artinya pertumbuhan produksi di Kecamatan dalam Kabupaten tersebut MRP (), artinya pertumbuhan produksi di Kecamatan dalam Kabupaten tersebut tidak Location Quotient (LQ) Analisis Location Quotient (LQ) seringkali digunakan sebagai analisis dalam menentukan komoditi unggulan karena dinilai efektif dalam menentukan keberagaman produksi komoditi dalam suatu wilayah. Selain itu, analisis ini juga dapat menyajikan gambaran tentang stabilitas dan fleksibilitas ekonomi suatu wilayah (Berawi et al. Penilaian komoditas unggulan menurut analisis ini bertumpu pada perbandingan produksi komoditi i dengan seluruh komoditi pada tingkat Kecamatan (Xij/X. yang dibandingkan dengan produksi komoditi i dengan seluruh komoditi pada tingkat Kabupaten (Yin/Y. Analisis LQ dapat digunakan untuk identifikasi basis ekonomi atau sektor unggulan dan secara spesifik dapat digunakan sebagai pendekatan untuk menentukan komoditas unggulan (MutaAoali 2. Secara matematis rumus LQ adalah seperti berikut: ycyeOyeU /ycyeU ycyc = yeAyeOyea /yeAyea Keterangan: Xij = Nilai produksi komoditas i di tingkat Kecamatan pada tahun 2017 - 2021 Xj = Nilai produksi subsektor tanaman pangan di tingkat Kecamatan pada tahun 2017 - 2021 Yin = Nilai produksi komoditas i di tingkat Kabupaten pada tahun 2017 - 2021 Yn = Nilai produksi subsektor tanaman pangan di tingkat Kabupaten pada tahun 2017 - 2021 Kemudian nilai LQ diklasifikasi menjadi tiga kriteria dengan interpretasi sebagai Nilai LQ > 1, artinya komoditas itu menjadi sumber pertumbuhan. Komoditas memiliki keunggulan komparatif, hasilnya tidak saja dapat memenuhi kebutuhan di wilayah bersangkutan akan tetapi juga dapat di ekspor keluar daerah. Nilai LQ = 1, artinya komoditas itu tidak memiliki keunggulan komparatif. Produksinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan wilayah sendiri. Nilai LQ < 1, artinya komoditas itu tidak memiliki keunggulan komparatif. Produksi komoditas di suatu wilayah tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri sehingga perlu pasokan dari luar wilayah tersebut. Dynamic Location Quotient (DLQ) JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Erick Gunawan Bahar Ae Penentuan Komoditas dan Kawasan Unggulan. Analisis DLQ atau Dynamic Location Quotient merupakan hasil dari pengembangan, sekaligus mampu mengatasi kelemahan analisis LQ yang cenderung bersifat statis, karena hanya menggambarkan kondisi pada satu titik waktu saja. Dalam hal ini, perkembangan DLQ bisa dilihat untuk suatu sektor tertentu pada kurun waktu yang berbeda apakah mengalami penurunan atau kenaikan. Tarigan dalam (Oksatriandhi dan Santoso 2. Secara matematis rumus DLQ adalah seperti berikut: 0ya yeOyeOyeU 4/0ya yeOyeU 4 ycycyc = . a ycyeOyea )/. a ycyea ) Keterangan : gij = Rata-rata laju pertumbuhan komoditas i di tingkat Kecamatan pada tahun 2017 - 2021 = Rata-rata laju pertumbuhan subsektor tanaman pangan di tingkat Kecamatan pada tahun 2017 - 2021 Gin = Rata-rata laju pertumbuhan komoditas i di tingkat Kabupaten pada tahun 2017 - 2021 Gn = Rata-rata laju pertumbuhan subsektor tanaman pangan di tingkat Kabupaten pada tahun 2017 -2021 Kemudian nilai DLQ diklasifikasi menjadi tiga kriteria dengan interpretasi sebagai . DLQ > 1. berarti proporsi laju pertumbuhan komoditas i terhadap laju pertumbuhan subsektor tanaman pangan di tingkat Kecamatan lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan komoditas i terhadap laju pertumbuhan subsektor tanaman pangan di tingkat Kabupaten. Komoditas i prospektif dan masih dapat diharapkan untuk menjadi basis ekonomi dimasa yang akan datang. DLQ < 1. berarti proporsi laju pertumbuhan komoditas i terhadap laju pertumbuhan subsektor tanaman pangan di tingkat Kecamatan lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan komoditi i terhadap subsektor tanaman pangan di tingkat Kabupaten. Komoditas i tidak prospektif sehingga sulit diharapkan untuk menjadi basis ekonomi dimasa yang akan datang. DLQ = 1. berarti proporsi laju pertumbuhan komoditas i terhadap laju pertumbuhan subsektor tanaman pangan di tingkat Kecamatan sebanding dengan laju pertumbuhan komoditi i terhadap subsektor tanaman pangan di tingkat Kabupaten. Indeks Komposit (IK) Hasil analisis Indeks Kontribusi Sektoral (IKS). Model Rasio Pertumbuhan (MRP). Location Quotient (LQ) dan Dynamic Location Quotient (DLQ) kemudian digabung menjadi Indeks Komposit dengan cara dijumlahkan dan dicari rata-ratanya. Sebelum menghitung nilai indeks komposit, nilai dari masing-masing analisis terlebih dahulu di skala-kan atau scaling. Teknik scaling dilakukan dengan mengubah nilai masing-masing hasil analisis ke dalam rentang antara 0 - 100, dimana angka 0 untuk nilai terendah dan angka 100 untuk nilai tertinggi. Perlu diketahui masing-masing indikator memiliki satuan yang berbeda-beda maka diperlukan adanya penyekalaan . untuk menyamakan satuan dari semua indikator sehingga dapat digabungkan untuk kemudian dicari tingkatannya (MutaAoali 2. Perhitungan untuk indikator tersebut dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 610-624 9 yeOyea Oe yc 9 yeOyeaycyeOyea ) . c yeo= 9 9 yeOyeaycyeOyea ) . cyeOyeaycyeCyeo Oe yc Keterangan : = Scaling 9 yaya ya = Rata-rata nilai metode pada komoditas i seluruh Kecamatan 9 yayayaUyaoya = Rata-rata nilai metode yang tertinggi pada komoditas i seluruh Kecamatan ya 9 yayayaUyaya = Rata-rata nilai metode yang terendah pada komoditas i seluruh Kecamatan ya Setelah semua indikator diskalakan maka hasil penyekalaan dapat dijumlahkan untuk kemudian dihitung rata-rata nilai skala yang nantinya hasil penilaian tersebut akan menentukan komoditas unggulan pada subsektor tanaman pangan di Kabupaten Tanah Datar. Perhitungan pada Indeks Komposit menggunakan rumus sebagai berikut (MutaAoali 2. ycya ycya ycyc ycye ycyc = ye Keterangan : IK = Indeks Komposit X1 = Indeks Kontribusi Sektoral X2 = Model Rasio Pertumbuhan X3 = Location Quotient X4 = Dynamic Location Quotient Lalu, penentuan komoditas unggulan akan dipilih berdasarkan tingkatan nilai dengan kategori sangat tinggi. Nilai indeks komposit kemudian diklasifikasikan ke dalam lima kelas. Pengkategorian indeks komposit kedalam 5 kelas menggunakan rumus sebagai berikut : ycAyeOyesyeCyeO ycyeIyeeyeiyeOyeayeOyeOyeO Oe ycAyeOyesyeCyeO ycyeIyeeyeIyeayeIyeCyeO ycyeCyeayeOyeI = ye Sehingga diperoleh rentang skala komoditas unggulan yang dimulai dari sangat tinggi sangat rendah. Skor masing-masing komoditi akan berbeda-beda karena masing-masing komoditi akan memiliki nilai tertinggi dan nilai terendahnya sendiri. Penentuan komoditas unggulan akan dipilih ketika suatu komoditas berada pada kategori sangat tinggi. Hot Spot (Getis-Ord Gi*) Analisis Hot Spot (Getis-Ord Gi*) merupakan analisis statistik spasial yang digunakan untuk mengetahui pola sebaran spasial (Kurniawan dan Sadali 2. Hasil pengolahan data dengan analisis Hot Spot (Getis-Ord Gi*) ditentukan berdasarkan nilai Z-Score yang merupakan nilai standar deviasi, sedangkan p-value adalah derajat kepercayaan atau probability. Secara matematis, rumus analisis Hot Spot (Getis-Ord Gi*) adalah: ycyeO Oe yc ycyeO O= ycyc Keterangan : Gi* = Hot Spot (Getis Ord-Gi*) = Produksi komoditas i di per Kecamatan pada tahun 2017 - 2021 (Ton/Tahu. ya = Rata-rata produksi komoditas i seluruh Kecamatan pada tahun 2021 (Ton/Tahu. JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Erick Gunawan Bahar Ae Penentuan Komoditas dan Kawasan Unggulan. = Standar deviasi Hasil analisis Hot Spot (Getis-Ord Gi*) yang signifikan secara statistik dapat dibagi menjadi dua. Semakin besar dan positif nilai Z-Score mengindikasikan adanya Hot Spot yang menunjukkan pola spasial mengelompok dengan nilai tinggi. Sedangkan apabila nilai Z-Score semakin rendah dan bernilai negatif maka mengindikasikan adanya pola spasial dengan nilai rendah atau Cold Spot (Jana dan Sar 2. Kurva pada Gambar 1 menunjukkan pola spasial bernilai rendah . old spo. yang terletak disebelah kiri ditunjukkan dengan nilai Z-Score lebih dari -1. Sedangkan pola spasial nilai tinggi (Hot Spo. yang terletak di sebelah kanan ditunjukkan dengan nilai Z- Score lebih dari 1,65. Analisis Hot Spot (Getis-Ord Gi*) dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui apakah Kecamatan-kecamatan di lokasi penelitian membentuk pola mengelompok secara signifikan atau tidak berdasarkan rata-rata nilai produksi subsektor tanaman pangan selama tahun 2017 - 2021. Gambar 1. Kurva Analisis Hot Spot (Getis-Ord Gi* HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan Komoditas Unggulan Dalam menentukan komoditas yang menjadi unggulan pada subsektor tanaman pangan, hasil analisis IKS. MRP. LQ & DLQ dirata-ratakan untuk seluruh Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Tanah Datar dan diskalakan kembali supaya nilai indeks komposit dapat menentukan komoditas apa yang menjadi unggulan di Kabupaten Tanah Datar. Hasil Scaling indikator (IKS. MRP. LQ. DLQ) dan perhitungan indeks komposit pada seluruh komoditas di Kabupaten Tanah Datar dapat dilihat pada Tabel 1. JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 610-624 Tabel 1. Rekapitulasi IKS. MRP. LQ. DLQ & IK Pada Komoditas Tanaman Pangan. Kabupaten Tanah Datar No. Komoditas Ubi Kayu 0,07 2,59 0,86 1,09 Kacang Tanah 0,07 1,68 1,02 1,11 70,92 64,82 73,17 76,65 71,39 Padi 0,07 0,89 1,05 1,00 71,43 34,32 75,44 69,32 62,63 Jagung 0,07 - 17,78 0,91 1,44 71,43 - 65,44 Kacang Hijau 0,06 - 0,16 1,39 1,07 57,14 100 74,42 57,89 Ubi Jalar 0,07 0,30 0,74 1,08 71,43 11,55 53 74,62 52,62 Kedelai 0,04 - 0,19 0,79 0,05 IKS MRP DLQ Skala Skala Skala Skala (Pera. (Laju Pert. ) (Basi. (Prospe. IKS MRP LQ DLQ 100 61,49 75,73 77,17 100 59,22 - 56,32 3,09 25,57 Sumber : Data Olahan, 2025. Penentuan komoditas unggulan akan dilakukan dengan mengkategorikan terlebih dahulu masing-masing nilai pada indeks komposit, nilai indeks komposit dikategorikan ke dalam lima Nilai tertinggi dan terendah ditentukan pada nilai yang terdapat pada indeks komposit subsektor tanaman pangan. Kategori indeks komposit dapat dilihat pada Tabel 2 : Tabel 2. Kategori indeks komposit pada subsektor tanaman pangan di Kabupaten Tanah Datar Tahun 2025. Indeks Komposit No. Komoditas Nilai Kategori Ubi Kayu 77,17 Sangat Tinggi Kacang Tanah 71,39 Sangat Tinggi Padi 62,63 Tinggi Jagung 59,22 Tinggi Kacang Hijau 57,89 Tinggi Ubi Jalar 52,62 Sedang Kedelai 25,57 Sangat Rendah Sumber : Data Olahan, 2025. Kategori dibagi kedalam 5 tingkatan yang terdiri dari sangat rendah Ae sangat tinggi dengan nilai kisaran sebagai berikut : Sangat Tinggi : . ,86 Ae 77,. Tinggi : . ,54 Ae 66,. Sedang : . ,22 Ae 56,. Rendah : . ,90 Ae 46,. Sangat Rendah : . ,57 Ae 35,. JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Erick Gunawan Bahar Ae Penentuan Komoditas dan Kawasan Unggulan. Nilai IK pada komoditas padi setelah dilakukan penskalaan pada masing-masing metode analisis (IKS. MRP. LQ. DLQ), dijumlahkan kemudian dirata-ratakan maka didapatkanlah skor IK sebesar 62,63. Skor ini berasal dari penyekalaan IKS dengan nilai . MRP . LQ . dan DLQ . Komoditas padi masuk kedalam kategori tinggi sebagai komoditas unggulan karena memiliki rata-rata kontribusi untuk seluruh Kecamatan sebesar 7%, rata-rata rasio pertumbuhan untuk seluruh Kecamatan menonjol, rata-rata seluruh Kecamatan menjadi sektor basis namun belum berpotensi menjadi sektor basis di masa yang akan datang. Nilai IK pada komoditas jagung setelah dilakukan penskalaan pada masing-masing metode analisis (IKS. MRP. LQ. DLQ), dijumlahkan kemudian dirata-ratakan maka didapatkanlah skor IK sebesar 59,22. Skor ini berasal dari penyekalaan IKS dengan nilai . MRP (-). LQ . dan DLQ . Komoditas jagung masuk kedalam kategori tinggi sebagai komoditas unggulan karena memiliki rata-rata kontribusi untuk seluruh Kecamatan sebesar 7%, rata-rata rasio pertumbuhan untuk seluruh Kecamatan tidak menonjol, rata-rata seluruh Kecamatan tidak menjadi sektor basis namun berpotensi menjadi sektor basis di masa yang akan Nilai IK pada komoditas kedelai setelah dilakukan penskalaan pada masing-masing metode analisis (IKS. MRP. LQ. DLQ), dijumlahkan kemudian dirata-ratakan maka didapatkanlah skor IK sebesar 25,57. Skor ini berasal dari penyekalaan IKS dengan nilai . MRP (-). LQ . dan DLQ . Komoditas kedelai masuk kedalam kategori sangat rendah sebagai komoditas unggulan karena memiliki rata-rata kontribusi untuk seluruh Kecamatan sebesar 4%, rata-rata rasio pertumbuhan untuk seluruh Kecamatan tidak menonjol, rata-rata seluruh Kecamatan tidak menjadi sektor basis dan juga tidak berpotensi menjadi sektor basis di masa yang akan datang. Nilai IK pada komoditas kacang tanah setelah dilakukan penskalaan pada masing-masing metode analisis (IKS. MRP. LQ. DLQ), dijumlahkan kemudian dirata-ratakan maka didapatkanlah skor IK sebesar 71,39. Skor ini berasal dari penyekalaan IKS dengan nilai . MRP . LQ . dan DLQ . Komoditas kacang tanah masuk kedalam kategori sangat tinggi sebagai komoditas unggulan karena memiliki rata-rata kontribusi untuk seluruh Kecamatan sebesar 7%, rata-rata rasio pertumbuhan untuk seluruh Kecamatan menonjol, ratarata seluruh Kecamatan menjadi sektor basis dan juga berpotensi menjadi sektor basis di masa yang akan datang. JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 610-624 Tabel 2. Rekapitulasi Nilai Gi* Z-Score Pada Seluruh Komoditas Tanaman Pangan di Kabupaten Tanah Datar Gi* Z-Score No. Kecamatan Kacang Kacang Ubi Ubi Padi Jagung Kedelai Tanah Hijau Kayu Jalar Batipuh 0,95 -1,61 -0,06 0,71 -0,80 -1,55 1,67 Batipuh Selatan 0,08 -1,04 -0,30 1,25 -0,32 -1,00 -0,38 Lima Kaum 1,24 1,19 0,29 -0,36 -0,38 1,44 0,87 Lintaubuo -0,65 0,01 1,44 -1,30 1,64 -0,22 -0,50 Lintaubuo Utara 0,06 0,55 1,33 -0,74 -0,28 0,13 -0,21 Padang Ganting -1,66 -0,66 0,15 -1,96 1,64 -1,02 -0,95 Pariangan 2,48 1,47 1,08 1,35 -0,14 1,24 1,34 Rambatan 0,95 0,32 -0,06 -0,99 0,13 0,48 1,18 Salimpaung -0,61 0,94 -0,48 1,84 -1,09 0,89 -0,39 Sepuluh Koto 1,22 -1,14 -0,30 0,67 -0,71 -1,00 -0,06 Sungai Tarab 0,06 0,33 -0,02 1,57 -1,50 0,11 1,24 Sungayang -0,11 0,55 -0,16 0,28 -1,29 0,19 -0,75 Tanjung Baru -0,26 1,42 0,06 2,07 -0,90 0,80 -0,23 Tanjung Emas -0,71 -0,10 -0,97 -1,91 1,73 0,69 -1,22 Nilai produksi yang akan dinalisis kedalam Hot Spot (Getis-Ord Gi*) adalah nilai produksi rata-rata komoditas padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar selama lima tahun . Pada Tabel 2 terlihat komoditas padi di Kecamatan Pariangan memiliki Hot Spot (Z-score = 2,. dan signifikan (P-Value = 0,. Pola Hot Spot tersebut menunjukkan bahwa mayoritas produksi padi tergolong mengelompok di Kecamatan Pariangan. Sedangkan di Kecamatan Padang Ganting terbentuk pola Cold Spot (Z-score = -1,. dan signifikan (P-Value = 0,. Pola Cold Spot tersebut menunjukkan bahwa mayoritas produksi padi tergolong menyebar di Kecamatan Padang Ganting. Gambar 2. Hot Spot (Getis-Ord Gi*) Pada Komoditas Padi JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Erick Gunawan Bahar Ae Penentuan Komoditas dan Kawasan Unggulan. Pada Tabel 2 terlihat komoditas jagung untuk seluruh Kecamatan di Kabupaten Tanah Datar memiliki pola Random (Z-Score = -1,65 Ae 1,. Pola Random tersebut menunjukkan bahwa mayoritas produksi jagung tergolong tidak mengelompok juga tidak menyebar dan tidak Namun masih terdapat 3 Kecamatan yang berkemungkinan menjadi kawasan unggulan berdasarkan nilai Z-Score yaitu Kecamatan Pariangan (Z-Score = 1,. Tanjung Baru (Z-Score = 1,. yang mendekati pola Hot Spot dan Kecamatan Batipuh (Z-Score = -1,. mendekati pola Cold Spot. Gambar 3. Hot Spot (Getis-Ord Gi*) Pada Komoditas Jagung Pada Tabel 2 terlihat komoditas kedelai untuk seluruh Kecamatan di Kabupaten Tanah Datar memiliki pola Random (Z-Score = -1,65 Ae 1,. Artinya, mayoritas produksi kedelai tergolong tidak mengelompok juga tidak menyebar dan tidak signifikan. Namun masih terdapat 1 Kecamatan yang berkemungkinan menjadi kawasan unggulan berdasarkan nilai Z-Score yaitu Kecamatan Lintau Buo (Z-Score = 1,. yang mendekati pola Hot Spot. Gambar 4. Hot Spot (Getis-Ord Gi*) Pada Komoditas Kedelai Pada Tabel 2 terlihat komoditas kacang tanah untuk Kecamatan Tanjung Baru memiliki Hot Spot (Z-score = 2,. dan signifikan (P-Value = 0,. dan Kecamatan Salimpaung memiliki Hot Spot (Z-score = 1,. dan signifikan (P-Value = 0,. Pola Hot Spot tersebut menunjukkan bahwa mayoritas produksi kacang tanah tergolong mengelompok di Kecamatan Tanjung Baru JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 610-624 dan Salimpaung. Sedangkan di Kecamatan Padang Ganting terbentuk pola Cold Spot (Z-score = -1,. dan signifikan (P-Value = 0,. dan Kecamatan Tanjung Emas terbentuk pola Cold Spot (Z-score = -1,. dan signifikan (P-Value = 0,. Pola Cold Spot tersebut menunjukkan bahwa mayoritas produksi kacang tanah tergolong menyebar di Kecamatan Padang Ganting. Gambar 5. Hot Spot (Getis-Ord Gi*) Pada Komoditas Kacang Tanah Pada Tabel 2 terlihat komoditas kacang hijau untuk Kecamatan Tanjung Emas memiliki Hot Spot (Z-score = 1,. dan signifikan (P-Value = 0,. Pola Hot Spot tersebut menunjukkan bahwa mayoritas produksi kacang hijau hanya mengelompok di Kecamatan Tanjung Emas. Gambar 6. Hot Spot (Getis-Ord Gi*) Pada Komoditas Kacang Hijau Pada Tabel 2 terlihat komoditas ubi kayu untuk seluruh Kecamatan di Kabupaten Tanah Datar memiliki pola Random (Z-Score = -1,65 Ae 1,. Artinya, mayoritas produksi ubi kayu tergolong tidak mengelompok juga tidak menyebar dan tidak signifikan. Namun masih terdapat 1 Kecamatan yang berkemungkinan menjadi kawasan unggulan berdasarkan nilai Z-Score yaitu Kecamatan Lima Kaum (Z-Score = 1,. yang mendekati pola Hot Spot. JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Erick Gunawan Bahar Ae Penentuan Komoditas dan Kawasan Unggulan. Gambar 7. Hot Spot (Getis-Ord Gi*) Pada Komoditas Ubi Kayu Pada Tabel 2 terlihat komoditas ubi jalar untuk Kecamatan Batipuh memiliki Hot Spot (Z-score = 1,. dan signifikan (P-Value = 0,. Pola Hot Spot tersebut menunjukkan bahwa mayoritas produksi ubi jalar tergolong mengelompok di Kecamatan Batipuh. Gambar 8. Hot Spot (Getis-Ord Gi*) Pada Komoditas Ubi Jalar KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Komoditas tanaman pangan yang menjadi unggulan di Kabupaten Tanah Datar adalah komoditas kacang tanah dan ubi kayu. Kedua komoditas ini merupakan komoditas yang memiliki nilai rata-rata terbaik untuk seluruh Kecamatan di Kabupaten Tanah Datar Kawasan unggulan untuk komoditas padi terdapat di Kecamatan Pariangan. Kawasan unggulan untuk komoditas kacang tanah terdapat di Kecamatan Tanjung Baru dan Salimpaung. Kawasan unggulan untuk komoditas kacang hijau terdapat di Kecamatan Tanjung Emas. Kawasan unggulan untuk komoditas ubi jalar terdapat di Kecamatan Batipuh. Sedangkan kawasan unggulan untuk komoditas jagung, kedelai dan ubi kayu tidak terdapat satupun Kecamatan yang membentuk kawasan unggulan. Seluruh kawasan JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 610-624 unggulan yang telah teridentifikasi merupakan kawasan yang berkelompok secara signifikan diantara Kecamatan lainnya di Kabupaten Tanah Datar untuk komoditas padi, kacang tanah, kacang hijau dan ubi jalar. Saran Potensi di setiap wilayah yang sudah diketahui menjadi dasar yang kuat dalam menyusun kebijakan pengembangan kawasan unggulan agropolitan perlu ditambahkan oleh Pemerintah Kabupaten Tanah Datar ke dalam program unggulan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2021 Ae 2026 dalam rangka peningkatan daya saing suatu wilayah sehingga memberi manfaat kepada petani dan juga ikut meningkatkan pendapatan Karena, perbedaan setiap kawasan dalam memproduksi subsektor tanaman pangan sudah teridentifikasi dan disesuaikan dengan pendekatan berdasarkan kontribusi, laju pertumbuhan, sektor basis dan sektor prospektif pada masing-masing wilayah. DAFTAR PUSTAKA