Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 PERAN ORANG TUA DAN PENDIDIK DALAM MEMBENTUK KARAKTER ISLAMI ANAK USIA DINI: TINJAUAN KURIKULUM BERBASIS ALQURAN Hasnawati. Wahyu. Ismawati Saragih1 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al Washliyah Aceh Tengah. Takengon email koresponden: ismawatisaragih58@gmail. DOI : https://doi. org/10. 56406/jkim. ABSTRACT This study aims to analyze the role of parents and educators in the formation of Islamic character in early childhood by reviewing the implementation of the Al-Quran-based curriculum. The main focus of this study is to identify effective strategies that can be optimized in instilling Islamic values in children from an early age, both in the family environment and in educational institutions. This study uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Data were collected through literature studies, interviews with parents and educators, and observations of the implementation of Islamic character education in several Islamic-based early childhood education institutions. The results of the study indicate that parents have a major role in forming children's Islamic character through role models. Islamic parenting patterns, effective communication, and the habituation of Islamic values in everyday life. Meanwhile, educators play a role in integrating Islamic values into the curriculum, creating an Islamic educational environment, and using learning methods based on Islamic values that are in accordance with child development. Supporting factors in the formation of Islamic character include a religious family environment, a structured Islamic education curriculum, and a community that supports the development of Islamic values. However, this study also found several obstacles, such as lack of parental attention due to busyness, negative influence of media and socializing, and limited educators who understand the concept of Islamic education in depth. This study concludes that there is a need to increase awareness and involvement of parents in children's education through strengthening the curriculum based on the Qur'an, as well as creating a conducive learning environment so that children can grow into individuals who have noble morals and are able to face the challenges of the times based on Islamic values. Keywords: Role. Parents. Education. Islamic Character. Early Childhood ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran orang tua dan pendidik dalam pembentukan karakter Islami anak usia dini dengan meninjau implementasi kurikulum berbasis Alquran. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi strategi efektif yang dapat dioptimalkan dalam menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun di lembaga pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui studi literatur, wawancara dengan orang tua dan pendidik, serta observasi terhadap implementasi pendidikan karakter Islami di beberapa lembaga pendidikan anak usia dini berbasis Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua memiliki peran utama dalam membentuk karakter Islami anak melalui keteladanan, pola asuh Islami, komunikasi yang efektif, serta pembiasaan nilainilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, pendidik berperan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam kurikulum, menciptakan lingkungan pendidikan yang Islami, serta menggunakan metode pembelajaran berbasis nilai-nilai Islam yang sesuai dengan perkembangan anak. Faktor pendukung dalam pembentukan karakter Islami meliputi lingkungan keluarga yang religius, kurikulum pendidikan Islam yang terstruktur, serta komunitas yang mendukung pengembangan nilainilai Islam. Namun, dalam penelitian ini juga ditemukan beberapa hambatan, seperti kurangnya Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 perhatian orang tua akibat kesibukan, pengaruh negatif media dan pergaulan, serta keterbatasan tenaga pendidik yang memahami konsep pendidikan Islam secara mendalam. Penelitian ini menyimpulkan perlu adanya peningkatan kesadaran dan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak melalui penguatan kurikulum berbasis Alquran, serta penciptaan lingkungan belajar yang kondusif agar anak dapat tumbuh menjadi individu yang memiliki akhlakul karimah serta mampu menghadapi tantangan zaman dengan berlandaskan nilai-nilai Islam. Kata kunci: Peran. Orang Tua. Pendidikan. Karakter Islam. Anak Usia Dini PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan salah satu aspek penting dalam membentuk kepribadian anak sejak usia dini (Hadi & Ummah, 2. Dalam Islam, pembentukan karakter Islami memiliki landasan yang kuat dalam Alquran dan Hadis, yang mengajarkan nilai-nilai ketauhidan, akhlak mulia, serta adab dalam kehidupan sehari-hari (Al-Ghazali. Pembentukan karakter anak juga dilakukan sejak dini. Sebab Anak usia dini berada dalam fase emas pertumbuhan, di mana mereka lebih mudah menyerap nilai-nilai yang diajarkan oleh lingkungan sekitar, khususnya dari orang tua dan pendidik. Oleh karena itu, peran orang tua sebagai pendidik utama di rumah serta pendidik di lembaga pendidikan menjadi faktor krusial dalam menanamkan nilai-nilai Islami yang berlandaskan pada Alquran. Implementasi kurikulum pendidikan Islam berbasis Alquran diharapkan mampu menjadi pedoman dalam membentuk karakter Islami anak usia dini secara sistematis dan terarah. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat berbagai tantangan, seperti kurangnya pemahaman orang tua terhadap metode pendidikan berbasis Islam, serta keterbatasan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai Alquran secara optimal dalam pendidikan anak usia dini (Harahap. Fenomena degradasi nilai-nilai kesopanan dan budi pekerti semakin nyata terlihat di Interaksi antara anak-anak dengan orang yang lebih tua sering kali tidak mencerminkan penghormatan yang seharusnya, bahkan dalam beberapa kasus, nilai-nilai kesantunan seolah mulai luntur. Lebih jauh, melemahnya nilai-nilai spiritualitas dan pemahaman agama menjadi konsekuensi serius dari fenomena ini. Tentunya ini bila dibiarkan dan terus menjalar pada generasi selanjutnya, suatu hal yang berbahaya khususnya bagi agama. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berupaya menjawab beberapa pertanyaan utama bagaimana implementasi kurikulum berbasis Alquran dalam membentuk karakter Islami anak usia dini, bagaimana peran orang tua dan pendidik dalam menanamkan nilai-nilai Islam pada anak usia dini dan apa saja faktor pendukung juga hambatan dalam pembentukan karakter Islami anak usia dini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi kurikulum berbasis Alquran dalam membentuk karakter Islami anak usia dini, mengidentifikasi peran orang tua dan pendidik dalam menanamkan nilai-nilai Islam. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses pembentukan karakter Islami pada anak usia dini serta memberikan rekomendasi untuk optimalisasi peran orang tua dan pendidik dalam proses pendidikan karakter. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis maupun praktis. Secara teoritis, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pengembangan konsep pendidikan karakter Islami berbasis Alquran dalam pendidikan anak usia dini. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan solusi bagi orang tua, pendidik, serta penyusun kebijakan dalam meningkatkan efektivitas pendidikan karakter Islami anak sejak usia dini. Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Dengan demikian, diharapkan lahir generasi Muslim yang berakhlak mulia, cerdas, dan memiliki nilai-nilai keislaman yang kuat dalam kehidupan sehari-hari. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis untuk memahami secara mendalam peran orang tua dan pendidik dalam pembentukan karakter Islami anak usia dini serta implementasi kurikulum berbasis Alquran dalam proses pendidikan (Moleong. , 2. Metode ini dipilih karena mampu menggambarkan fenomena secara komprehensif dan menelaah bagaimana nilai-nilai Islam ditanamkan kepada anak dalam lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, wawancara mendalam dengan orang tua dan pendidik di beberapa lembaga pendidikan Islam, serta observasi terhadap praktik pendidikan karakter Islami di lingkungan anak usia dini. Wawancara dilakukan secara terstruktur untuk memperoleh perspektif langsung dari orang tua dan pendidik terkait strategi yang diterapkan dalam menanamkan nilai-nilai Islam serta tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut. Observasi dilakukan untuk mengamati pola interaksi antara pendidik dan anak di lembaga pendidikan, serta bagaimana nilai-nilai Islam diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Selain itu, studi literatur digunakan untuk mengkaji konsep pendidikan Islam, karakter Islami menurut Alquran, serta berbagai teori terkait pembentukan karakter anak usia dini (Darmawan & Latifah, 2. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan deskriptif, di mana informasi yang terkumpul dikategorikan berdasarkan tema utama, seperti peran orang tua, strategi pendidikan di lembaga formal, hambatan yang dihadapi, serta faktor pendukung dalam pembentukan karakter Islami anak. Analisis ini bertujuan untuk menemukan pola-pola yang dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam optimalisasi pendidikan karakter Islami bagi anak usia dini. Dengan metode ini, diharapkan penelitian dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai strategi terbaik dalam membentuk karakter Islami anak serta implikasi penerapan kurikulum berbasis Alquran dalam pendidikan anak usia dini. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Karakter Islami dalam Perspektif Alquran Pendidikan karakter Islami merupakan proses pembentukan kepribadian anak berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Hadis. Karakter Islami didefinisikan sebagai sifat, perilaku, dan moral yang mencerminkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kasih sayang, serta ketakwaan kepada Allah SWT. Karakter ini menjadi dasar dalam membentuk manusia yang berakhlakul karimah sesuai dengan tuntunan Islam (Majid. & Andayani. , 2. Dalam Alquran, terdapat banyak ayat yang menjelaskan tentang nilai-nilai karakter Islami yang harus ditanamkan dalam diri seorang Muslim (Firdaus, 2. Di antaranya adalah kejujuran (QS. Al-Ahzab: . , kesabaran (QS. Al-Baqarah: . , disiplin dalam menjalankan kewajiban (QS. Al-MuAominun: 1-. , serta kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama (QS. Al-Hujurat: . Nilai-nilai ini menjadi pedoman utama dalam pendidikan karakter Islami, terutama bagi anak usia dini yang berada dalam fase pembentukan kepribadian. Peran orang tua sangat penting dalam membentuk karakter Islami anak karena keluarga adalah lingkungan pertama yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan anak. Orang tua harus menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan seharihari. Dalam hal ini, pola asuh Islami menjadi kunci utama dalam membentuk karakter anak (Musfiroh. , 2. Pola asuh ini melibatkan pendidikan berbasis kasih sayang, keteladanan, pembiasaan ibadah, serta pemberian pemahaman tentang halal dan haram dalam kehidupan. Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Sebagaimana disebutkan dalam QS. Luqman: 13-19. Luqman Al-Hakim memberikan nasihat kepada anaknya tentang tauhid, kesabaran, dan akhlak mulia, yang menjadi prinsip utama dalam pola asuh Islami Untuk memastikan karakter Islami tertanam dengan baik, orang tua harus menerapkan strategi penanaman nilai-nilai Islam di rumah. Beberapa strategi yang dapat dilakukan meliputi membiasakan anak untuk salat berjamaah sejak dini, membacakan kisah-kisah inspiratif dari Alquran dan Hadis, serta menciptakan lingkungan rumah yang kondusif dengan nilai-nilai Islam. Selain itu, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak juga berperan dalam memperkuat pemahaman dan penerapan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari. Ki Hajar Dewantara, sebagai tokoh pendidikan Indonesia, juga memiliki pandangan yang sejalan dengan konsep ini. Ia menyatakan bahwa pendidikan yang baik harus bersifat ing ngarso sung tulodo . i depan memberi telada. , ing madyo mangun karso . i tengah memberi motivas. , dan tut wuri handayani . i belakang memberikan dukunga. Dalam konteks penanaman nilai-nilai Islam, orang tua harus menjadi teladan dalam menjalankan ajaran agama, memberikan motivasi kepada anak-anak untuk beribadah, serta terus membimbing mereka dengan komunikasi yang baik dan penuh kasih sayang (Ki Hajar Dewantara. , 2. Selain orang tua, seorang pendidik juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter Islami anak. Pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini bertugas untuk mengajarkan dan membiasakan anak dengan nilai-nilai Islam dalam kegiatan sehari-hari. Dalam konsep pendidikan Islam untuk anak usia dini, pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak serta menggunakan metode yang menyenangkan agar anak lebih mudah memahami dan menerapkan nilai-nilai Islam (Khotimah, 2. Metode pembelajaran berbasis nilai-nilai Islam meliputi pembelajaran berbasis cerita, metode keteladanan, serta pendekatan bermain sambil belajar. Metode bercerita, misalnya, digunakan untuk menyampaikan kisah-kisah Nabi yang mengajarkan akhlak mulia, sedangkan metode keteladanan mengharuskan pendidik menunjukkan sikap yang mencerminkan nilainilai Islam sehingga dapat dicontoh oleh anak-anak (Nadifa, 2. Dalam mendukung pembentukan karakter Islami anak usia dini ini, dalam pendidikan Islam diperlukan kurikulum pendidikan yang berbasis Alquran. Kurikulum ini disusun dengan mengacu pada prinsip-prinsip pendidikan Islam yang menekankan pembentukan akidah, ibadah, dan akhlak sejak usia dini. Prinsip kurikulum pendidikan Islam mencakup integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam, penguatan aspek spiritual dan moral, serta pembelajaran yang berorientasi pada praktik dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi kurikulum berbasis Alquran dalam pembentukan karakter dilakukan melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang mengajarkan nilai-nilai Islam secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan seperti hafalan surat pendek, doa harian, serta praktik ibadah seperti wudu dan salat, menjadi bagian dari pembelajaran yang bertujuan untuk membangun kebiasaan Islami dalam diri anak. Selain itu, interaksi sosial di dalam lingkungan sekolah juga diarahkan untuk membentuk sikap saling menghormati, tolong-menolong, dan menjaga adab dalam Dengan adanya peran orang tua dan pendidik yang kuat serta kurikulum pendidikan Islam yang berbasis Alquran, diharapkan anak usia dini dapat tumbuh menjadi individu yang memiliki karakter Islami yang kokoh, siap menghadapi tantangan kehidupan, serta mampu menjadi generasi Muslim yang berakhlakul karimah dan bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam membangun karakter Islami pada anak sangat bergantung pada keteladanan, lingkungan yang kondusif, serta pendekatan pendidikan yang berorientasi pada pembiasaan dan komunikasi yang baik. Jika strategi ini diterapkan secara konsisten di rumah, anak-anak akan tumbuh dengan pemahaman agama yang kuat. Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 memiliki akhlak yang baik, serta mampu menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi Kurikulum Berbasis Alquran dalam Membentuk Karakter Islami Anak Usia Dini Implementasi kurikulum berbasis Alquran dalam membentuk karakter Islami anak usia dini dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek pembelajaran, baik secara langsung melalui materi ajar maupun secara tidak langsung melalui lingkungan dan kebiasaan yang dibangun di dalam lembaga pendidikan. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang berbasis akidah, ibadah, dan akhlak, yang bertujuan untuk membentuk pribadi anak yang beriman, bertakwa, serta memiliki akhlak mulia sejak dini (Fatikhah et al. Dalam praktiknya, kurikulum berbasis Alquran diajarkan melalui kegiatan seperti hafalan dan pemahaman ayat-ayat Alquran, pembelajaran doa-doa harian, serta pengenalan kisah-kisah para Nabi dan Rasul sebagai teladan moral bagi anak. Selain itu, pembiasaan ibadah seperti salat berjamaah, wudu yang benar, serta membaca Alquran dengan tartil menjadi bagian dari kegiatan harian yang membentuk karakter Islami secara alami dalam kehidupan Contoh implementasi kurikulum berbasis Alquran dapat dilakukan seperti setiap pagi sebelum memulai kegiatan, anak-anak diajarkan untuk membaca doa, menghafal ayat-ayat pendek Al-Quran, dan mengikuti salat berjamaah. Hal ini bertujuan untuk membangun kesadaran akan pentingnya beribadah dan membentuk kebiasaan baik sejak dini. Dalam pembelajaran, guru menggunakan kisah-kisah inspiratif dari Alquran dan Hadis untuk mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang. Misalnya, kisah Nabi Ibrahim AS yang patuh kepada Allah SWT diajarkan untuk menanamkan sikap taat kepada orang tua dan Tuhan. Anak-anak didorong untuk menggunakan bahasa yang sopan, berinteraksi dengan teman secara baik, dan berbagi dengan sesama, yang diperkuat dengan ayat-ayat Alquran terkait akhlak mulia (Mufadilah, 2. Dari kegiatan ini pula nantinya dilakukan evaluasi dari pendidik tidak hanya dalam bentuk akademik tetapi juga dalam bentuk pengamatan karakter dan akhlak anak sehari-hari. Guru dan orang tua bekerja sama dalam memberikan penilaian terhadap kebiasaan baik anak, seperti kedisiplinan dalam shalat, kebaikan hati, dan kepedulian sosial. Selain pembelajaran akademik, lingkungan pendidikan juga memainkan peran penting dalam implementasi kurikulum berbasis Alquran (Ali, 2. Pendidik dan tenaga kependidikan bertindak sebagai teladan dalam menerapkan nilai-nilai Islam, seperti kejujuran, kesabaran, disiplin, dan kasih sayang dalam interaksi sehari-hari dengan anak-anak. Metode pembelajaran yang digunakan juga harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak usia dini, seperti metode bermain sambil belajar, bercerita, bernyanyi dengan lirik Islami, dan aktivitas sosial yang menanamkan rasa empati serta kepedulian terhadap sesama. Di samping itu, keterlibatan orang tua dalam mendukung implementasi kurikulum berbasis Alquran di rumah sangat diperlukan agar nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dapat terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, penerapan kurikulum berbasis Alquran tidak hanya menciptakan lingkungan belajar yang Islami, tetapi juga memastikan bahwa anak-anak tumbuh dengan karakter yang kuat, berbudi pekerti luhur, dan siap menghadapi kehidupan dengan berpegang teguh pada ajaran Islam (Harahap, 2. Peran Orang Tua dalam Menanamkan Nilai - Nilai Islam pada Anak Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai Islam pada anak, karena keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam proses pendidikan anak. Sejak lahir, anak belajar dari lingkungan sekitarnya, terutama dari orang tua yang menjadi role Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 model dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman nilai-nilai Islam dalam keluarga harus dimulai dengan menanamkan dasar keimanan . yang kuat, yaitu mengenalkan konsep tauhid kepada anak dengan cara yang mudah dipahami, seperti mengajarkan kalimat syahadat, mengenalkan nama-nama Allah melalui Asmaul Husna, serta membiasakan anak untuk berdoa dalam setiap aktivitas mereka. Dengan cara ini, anak akan tumbuh dengan kesadaran bahwa Allah adalah Sang Pencipta dan selalu mengawasi segala perbuatan mereka, sehingga menumbuhkan rasa cinta dan ketakwaan sejak dini (Fatikhah et al. , 2. Selain menanamkan akidah, orang tua juga berperan dalam membentuk kebiasaan ibadah anak agar menjadi bagian dari keseharian mereka. Membiasakan anak untuk salat lima waktu sejak kecil, mengajarkan doa-doa harian, serta membimbing mereka dalam membaca dan menghafal Alquran adalah langkah konkret dalam membangun karakter Islami. Hal ini dapat dilakukan melalui metode keteladanan, yaitu dengan memperlihatkan secara langsung bagaimana orang tua menjalankan ibadah dengan penuh khusyuk dan konsisten. Anak yang melihat orang tuanya melaksanakan ibadah secara rutin akan lebih mudah meniru dan menjadikannya sebagai kebiasaan dalam hidup mereka. Selain itu, penting bagi orang tua untuk menjelaskan makna di balik setiap ibadah yang dilakukan, agar anak tidak hanya menjalankan ritual secara mekanis, tetapi juga memahami esensi dari setiap ajaran Islam yang mereka Dalam aspek akhlak dan moral, peran orang tua sangat krusial dalam menanamkan sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, serta kasih sayang dalam interaksi sehari-hari. Anak usia dini cenderung meniru apa yang mereka lihat dan dengar dari lingkungan sekitar, sehingga orang tua harus berhati-hati dalam bersikap dan berbicara di hadapan anak-anak mereka (Sajirun. Sebagai contoh, jika orang tua ingin mengajarkan anak untuk berkata jujur, maka mereka harus membiasakan diri untuk selalu berkata jujur dalam setiap keadaan, meskipun dalam situasi sulit. Selain itu, orang tua juga dapat menanamkan nilai-nilai Islam melalui kisahkisah inspiratif dari Alquran dan Hadis, seperti kisah Nabi Muhammad SAW yang memiliki sifat jujur dan amanah, sehingga anak dapat mencontoh teladan yang baik sejak dini. Tidak hanya itu, orang tua juga perlu menciptakan suasana rumah yang Islami agar anak merasa nyaman dan terbiasa dengan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mendekorasi rumah dengan nuansa Islami, seperti menempelkan kaligrafi atau jadwal salat, membiasakan memperdengarkan lantunan Alquran, serta mengadakan aktivitas keagamaan bersama keluarga, seperti membaca Alquran bersama, berdiskusi tentang Islam, dan melakukan sedekah keluarga. Selain itu, penting bagi orang tua untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak, memberikan ruang bagi mereka untuk bertanya tentang agama, serta menjawabnya dengan bahasa yang mudah dipahami. Dengan pendekatan yang hangat dan penuh kasih sayang, anak akan merasa nyaman untuk berdiskusi dan memahami Islam sebagai bagian dari hidup mereka. Agar nilai-nilai Islam dapat tertanam secara maksimal, orang tua juga harus memberikan teladan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat (Alamin, 2. Mengajarkan anak untuk berbuat baik kepada tetangga, menyapa dengan salam, serta menanamkan rasa peduli kepada sesama adalah bagian dari pendidikan karakter Islami yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, membiasakan anak untuk berbagi kepada sesama, baik melalui sedekah, membantu orang yang membutuhkan, atau terlibat dalam kegiatan sosial, akan membentuk kepribadian yang penuh empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dengan menjalankan peran tersebut secara konsisten, orang tua tidak hanya menanamkan nilai-nilai Islam secara teoritis, tetapi juga membangun karakter Islami anak melalui pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang berbasis keteladanan, kebiasaan, dan komunikasi yang baik dalam keluarga akan membentuk anak yang memiliki Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 keimanan kuat, berakhlak mulia, serta siap menjadi generasi Muslim yang berkontribusi positif bagi masyarakat. Faktor Pendukung dan Hambatan dalam Pembentukan Karakter Islami Anak Pembentukan karakter Islami anak dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung yang berperan dalam menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini. Salah satu faktor utama adalah lingkungan keluarga yang Islami, di mana orang tua memiliki peran sentral dalam memberikan pendidikan agama kepada anak. Keteladanan yang diberikan oleh orang tua dalam menjalankan ibadah, bersikap jujur, disiplin, dan penuh kasih sayang akan menjadi contoh langsung bagi anak dalam membangun karakter Islami mereka. Selain itu, keberadaan kurikulum pendidikan Islam berbasis Alquran di lembaga pendidikan anak usia dini juga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter anak. Kurikulum yang dirancang dengan pendekatan integratif antara pembelajaran akademik dan nilai-nilai Islam akan memberikan pemahaman yang komprehensif kepada anak tentang ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Selain faktor keluarga dan pendidikan formal, lingkungan sosial yang mendukung nilainilai Islam juga berperan dalam membentuk karakter Islami anak. Kehadiran komunitas yang aktif dalam kegiatan keislaman, seperti masjid, kelompok belajar Alquran, atau organisasi keagamaan, akan membantu anak tumbuh dalam suasana yang kondusif untuk pengembangan nilai-nilai Islami. Teknologi dan media juga dapat menjadi faktor pendukung jika dimanfaatkan dengan baik, seperti melalui tontonan edukatif Islami, aplikasi pembelajaran Alquran, serta cerita-cerita Islami yang disampaikan dengan cara menarik sesuai dengan usia anak. Namun, dalam proses pembentukan karakter Islami anak, terdapat berbagai hambatan yang dapat menghambat optimalisasi nilai-nilai Islam dalam diri anak. Salah satu hambatan utama adalah kurangnya kesadaran dan komitmen orang tua dalam mendidik anak secara Islami. Di era modern ini, banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kurang memiliki waktu untuk mendidik anak secara langsung. Akibatnya, anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget atau lingkungan yang kurang Islami, sehingga pendidikan agama menjadi kurang maksimal. Selain itu, ada pula orang tua yang kurang memahami metode pendidikan Islam yang efektif, sehingga pembelajaran agama kepada anak cenderung bersifat instruktif tanpa memberikan pemahaman yang mendalam. Hambatan lainnya adalah pengaruh negatif dari media dan lingkungan sekitar. Dalam era globalisasi dan digitalisasi, anak-anak semakin mudah terpapar konten yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, baik melalui media sosial, televisi, maupun pergaulan yang tidak Jika orang tua tidak aktif dalam mengawasi dan mengarahkan penggunaan teknologi oleh anak, maka anak bisa dengan mudah mengadopsi gaya hidup yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu, pergaulan di luar lingkungan keluarga, seperti di sekolah atau masyarakat, juga dapat menjadi tantangan tersendiri jika anak tidak dibekali dengan pemahaman agama yang kuat. Dari segi pendidikan, kurangnya kurikulum berbasis Islam yang terstruktur dengan baik juga menjadi hambatan dalam pembentukan karakter Islami anak. Beberapa lembaga pendidikan anak usia dini masih mengutamakan aspek akademik tanpa mengintegrasikan nilainilai Islam secara menyeluruh dalam pembelajaran. Akibatnya, anak hanya mendapatkan pendidikan agama secara terbatas dalam bentuk pelajaran tertentu, tanpa adanya penerapan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, keterbatasan tenaga pendidik yang memiliki pemahaman mendalam tentang pendidikan Islam juga dapat menjadi kendala dalam mengajarkan nilai-nilai Islam kepada anak secara optimal. Berdasarkan faktor pendukung dan hambatan yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter Islami anak usia dini sangat bergantung pada sinergi antara keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, serta penggunaan teknologi yang bijak. Faktor Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 pendukung seperti keteladanan orang tua, kurikulum Islam yang baik, serta lingkungan sosial yang Islami harus dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkuat karakter anak sejak usia Sebaliknya, hambatan seperti kurangnya perhatian orang tua, pengaruh negatif dari media, serta kurangnya sistem pendidikan yang berbasis Islam harus segera diatasi dengan strategi yang tepat. Sebagai solusi, orang tua harus lebih proaktif dalam membimbing anak dengan memberikan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam secara konsisten dan tidak hanya mengandalkan lembaga pendidikan. Penggunaan teknologi juga harus diawasi dengan ketat, dan anak harus diarahkan untuk mengakses media yang mendukung pendidikan Islam. Selain itu, lembaga pendidikan Islam harus memperkuat kurikulum berbasis Alquran yang tidak hanya mengajarkan teori keislaman tetapi juga menerapkannya dalam praktik kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan yang holistik dan terintegrasi, diharapkan pembentukan karakter Islami anak dapat berjalan dengan baik, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi Muslim yang memiliki akhlakul karimah serta mampu menghadapi tantangan zaman dengan berlandaskan nilai-nilai Islam. Strategi Optimalisasi Peran Orang Tua dan Pendidik dalam Pendidikan Karakter Islami Pendidikan karakter Islami merupakan proses yang membutuhkan sinergi antara orang tua dan pendidik agar nilai-nilai Islam dapat tertanam secara optimal dalam diri anak. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan strategi yang sistematis dan berkelanjutan, baik di lingkungan keluarga maupun di lembaga pendidikan. Salah satu strategi utama yang harus dilakukan oleh orang tua adalah menjadi teladan bagi anak dalam kehidupan sehari-hari. Anak usia dini memiliki kemampuan meniru yang sangat kuat, sehingga perilaku dan sikap orang tua dalam menjalankan ajaran Islam akan menjadi contoh langsung bagi mereka. Oleh karena itu, orang tua harus menunjukkan konsistensi dalam beribadah, berkata jujur, bersikap sabar, serta menunjukkan akhlak mulia dalam interaksi sosial. Misalnya, ketika orang tua ingin menanamkan kebiasaan shalat tepat waktu, mereka harus melaksanakannya secara disiplin dan mengajak anak dengan penuh kasih sayang, bukan dengan paksaan. Selain keteladanan, komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak juga menjadi strategi penting dalam pendidikan karakter Islami (Rosada & Sasmanda, 2. Orang tua harus aktif mendiskusikan nilai-nilai Islam dengan anak melalui cara yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Misalnya, dalam membentuk sikap jujur dan amanah, orang tua dapat menyampaikan kisah-kisah Islami, seperti kisah Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan sifat Al-Amin . apat dipercay. Dengan pendekatan bercerita, anak akan lebih mudah memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Selain itu, membangun komunikasi yang terbuka dengan anak juga dapat membantu orang tua memahami permasalahan yang dihadapi anak dalam menerapkan nilai-nilai Islam, sehingga mereka bisa memberikan bimbingan yang tepat. Di sisi lain, peran pendidik di lembaga pendidikan sangat menentukan keberhasilan penanaman karakter Islami. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek pembelajaran, bukan hanya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) (Ki Hajar Dewantara. , 2. Sebagai contoh, dalam pelajaran matematika, pendidik dapat menyisipkan konsep kejujuran dalam berhitung atau dalam pelajaran sains, anak diajak untuk mengagumi kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Dengan cara ini, anak-anak akan terbiasa melihat Islam sebagai pedoman hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan, bukan hanya sebatas pelajaran di sekolah. Selain itu, penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan usia anak, seperti metode bermain sambil belajar, bercerita, dan simulasi peran, akan membuat nilai-nilai Islam lebih mudah dipahami dan dihayati oleh Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Selain pendekatan akademik, pendidik juga harus membangun lingkungan sekolah yang kondusif bagi pembentukan karakter Islami (Majid. & Andayani. , 2. Hal ini bisa dilakukan dengan menciptakan budaya sekolah yang Islami, seperti membiasakan salam saat bertemu, membangun kebiasaan berbagi dan tolong-menolong, serta memberikan penghargaan kepada anak yang menunjukkan sikap Islami dalam kesehariannya. Penguatan karakter juga bisa dilakukan melalui program ekstrakurikuler berbasis nilai-nilai Islam, seperti kajian keislaman untuk anak, kelompok hafalan Alquran, serta kegiatan sosial yang menanamkan nilai kepedulian dan empati terhadap sesama. Dengan adanya suasana yang mendukung, anak-anak akan lebih mudah menyerap dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka. Dengan ini pahamlah kita bahwa pendidikan karakter Islami membutuhkan keterlibatan aktif baik dari orang tua maupun pendidik secara simultan dan berkelanjutan. Faktor keteladanan, komunikasi yang baik, serta lingkungan yang mendukung sangat berperan dalam membentuk karakter Islami anak secara efektif. Namun, dalam implementasinya, terdapat beberapa tantangan yang harus diatasi, seperti kesibukan orang tua yang mengurangi interaksi dengan anak, kurangnya pemahaman orang tua dan pendidik tentang metode pendidikan Islam yang efektif, serta pengaruh lingkungan luar yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai Islam. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan upaya bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem pendidikan Islam yang kuat. Orang tua harus lebih proaktif dalam mengalokasikan waktu untuk mendidik anak dengan pendekatan yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan mereka. Pendidik juga harus terus meningkatkan kompetensinya dalam mendidik anak dengan metode yang inovatif dan sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu, pemanfaatan teknologi secara bijak juga dapat menjadi strategi efektif dalam pendidikan karakter Islami, seperti dengan memperkenalkan aplikasi pembelajaran Islam, video edukatif Islami, serta media interaktif yang menarik bagi anak. Dengan penerapan strategi yang tepat, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dengan keimanan yang kuat, memiliki akhlak yang baik, serta mampu menghadapi tantangan zaman dengan berlandaskan nilai-nilai Islam. Pendidikan karakter Islami yang optimal akan melahirkan generasi Muslim yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki spiritualitas dan moralitas yang tinggi, sehingga mereka mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan umat. SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter Islami anak usia dini merupakan proses yang kompleks dan membutuhkan sinergi antara orang tua, pendidik, serta lingkungan sosial. Orang tua memiliki peran utama sebagai pendidik pertama dalam menanamkan nilai-nilai Islam melalui keteladanan, komunikasi yang efektif, serta penerapan pola asuh Islami dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, pendidik di lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek pembelajaran dan menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung pembentukan karakter Islami. Strategi yang dapat dioptimalkan dalam proses ini meliputi pendekatan keteladanan, pembelajaran berbasis nilai-nilai Islam, pemanfaatan metode yang sesuai dengan usia anak, serta penggunaan teknologi secara bijak untuk memperkuat pemahaman agama. Meskipun terdapat berbagai faktor pendukung dalam pendidikan karakter Islami, seperti lingkungan keluarga yang Islami dan kurikulum berbasis Alquran, terdapat pula tantangan yang harus dihadapi, seperti kurangnya perhatian orang tua akibat kesibukan, pengaruh negatif dari media dan lingkungan, serta keterbatasan kurikulum yang mengakomodasi pembentukan karakter secara menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dalam mengatasi hambatan ini dengan meningkatkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, memperkuat Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 kurikulum Islam yang terintegrasi, serta menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif bagi perkembangan karakter Islami anak. Dengan penerapan strategi yang tepat dan berkelanjutan, diharapkan anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi Muslim yang memiliki keimanan kuat, akhlakul karimah, serta mampu menjalani kehidupan berdasarkan nilai-nilai Islam di tengah tantangan zaman. REFERENSI