Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Terakreditasi No: 79/E/KPT/2023 (Sinta . http://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/fidei Vol. 8 No. 2 (Des. hlm: 395-412 Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu e-ISSN: 2621-8135 p-ISSN: 2621-8151 DOI: https://doi. org/ 10. 34081/fidei. Gambaran Religiusitas Mahasiswa Kristen Protestan di Universitas Kristen X Natasya Kemala Dewi,. * Evans Garey2 1,. Universitas Kristen Krida Wacana. Indonesia *) Email: evans. garey@ukrida. Diterima: 26 Juni 2025 Direvisi: 08 September 2025 Disetujui: 08 September 2025 Abstract This study aims to describe the religiosity of Protestant Christian students at Christian University X with a descriptive quantitative approach, using the Duke University Religion Index (DUREL) scale. Participants were 339 students with an age range of 18-25 years. The results of the study indicate that the majority of students have a high level of religiosity. A total of 80. 8% of students are active in religious activities in groups/organizations (Organizational Religious Activit. , as many as 58. 4% of students are active in personal religious activities (NonOrganizational Religious Activit. And as many as 85% of students have high intrinsic motivation (Intrinsic Religiosit. Based on these findings, it shows that students are not only involved in religious activities in organizations or personally, but also have strong religious motivation and commitment that comes from within This study has implications for the development of literature on the religiosity of Protestant Christian students using the DUREL scale in Indonesia. addition, the results of the study can be used as input for universities and spiritual institutions to strengthen faith development programs, not only emphasizing group activities but also personal and deepening internal motivation in religion. Keywords: DUREL. Protestant Christians. Religious Activities. Students. Religiosity. Abstrak Penelitian ini bertujuan menggambarkan religiusitas mahasiswa Kristen Protestan di Universitas Kristen X dengan pendekatan kuantitatif deskriptif, menggunakan skala Duke University Religion Index (DUREL). Partisipan berjumlah 339 mahasiswa dengan rentang usia 18-25 tahun. Hasil penelitian CopyrightA2025. Natasya Kemala Dewi. Evans Garey. Lisensi karya ini di bawah: Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. | 395 Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki tingkat religiusitas yang Sebanyak 80,8% mahasiswa aktif dalam aktivitas keagamaan secara berkelompok/organisasi (Organizational Religious Activit. , sebanyak 58,4% mahasiswa aktif dalam aktivitas keagamaan pribadi (Non-Organizational Religious Activit. Dan sebanyak 85% mahasiswa memiliki motivasi intrinsik yang tinggi (Intrinsic Religiosit. Berdasarkan temuan ini, menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya terlibat dalam kegiatan keagamaan secara organisasi maupun secara personal, tetapi juga memiliki motivasi dan komitmen beragama yang kuat yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Penelitian ini berimplikasi pada pengembangan literatur mengenai religiusitas mahasiswa Kristen Protestan dengan menggunakan skala DUREL di Indonesia. Selain itu juga, hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan bagi Universitas dan lembaga kerohanian untuk memperkuat program pembinaan iman, bukan hanya menekankan pada kegiatan secara berkelompok tetapi juga secara personal dan pendalaman motivasi internal dalam Kata-Kata Kunci: Aktivitas Keagamaan. DUREL. Kristen Protestan. Mahasiswa. Religiusitas. Pendahuluan Religiusitas merupakan salah satu aspek di mana seseorang bisa mengekspresikan keyakinan, nilai, dan aktivitas keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Koenig dan Bussing adalah sejauh mana individu mempercayai, mengikuti dan mempraktikkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. 1 Kepercayaan tersebut melibatkan ritual atau praktik yang berhubungan dengan Tuhan Yang Mahakuasa. Pengertian tersebut menjadi dasar dalam memahami konsep religiusitas lebih dalam, yaitu bagaimana seseorang bisa mengekspresikan keyakinan, nilai, dan aktivitas keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. 2 Aktivitas religiusitas yang di maksud seperti beribadah, membaca kitab suci, belajar ajaran dan nilai keagamaan, menghayati doktrin dan ritus keagamaan, pada akhirnya akan membentuk diri untuk mengenal jati diri, memahami keterhubungan diri dengan lingkungan sekitar, dan berakhir pada eksistensi sikap sebagai bagian dari eksistensi spiritualitas yang terjadi di dalam Harold G. Koenig and Arndt Byssing. AuThe Duke University Religion Index (DUREL): A Five-Item Measure for Use in Epidemological Studies,Ay Religions 1, no. : 78Ae85. Said Alwi. Perkembangan Religiusitas Remaja, 1st ed. (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara. Gambaran Religiusitas, . (Natasya K. Dewi. Evans Gare. 3 DenganYuniant. A(Petrus demikian, religiusitas dapat dipahami sebagai proses menyeluruh . idak Santyhanya Sahartia. mencakup aspek aktivitas saja, namun juga pembentukan makna hidup dan identitas spiritual seseorang. Indonesia merupakan negara yang mayoritas masyarakatnya memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Survei yang telah dilakukan oleh Pew Research Center, yang menemukan bahwa aktivitas keagamaan tertinggi berada di negara Indonesia dengan persentase . %). Selain itu, sekitar 98% masyarakat Indonesia menyatakan bahwa agama sangat penting dalam kehidupan mereka dan juga terkait dengan berbagai praktik keagamaan. 4 Temuan ini menegaskan bahwa religiusitas telah menjadi bagian penting dalam masyarakat Indonesia, dan juga menjadi identitas yang dari kehidupan sosial masyarakat. Religiusitas masyarakat Indonesia tidak dapat dipisahkan dari berbagai bentuk ekspresi religiusitas yang akan terus membentuk tingkat religiusitas. Terlebih lagi, tingginya tingkat religiusitas yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia, mencerminkan bahwa keyakinan dalam beragama juga didukung oleh nilai kebudayaan yang beragam di Indonesia. 5 Adanya kesinambungan antara nilainilai agama dan budaya, membentuk proses internalisasi individu, yaitu pola pikir, sikap dan perilaku agar sesuai dengan nilai-nilai yang telah diajarkan dalam agama. Hal tersebut, dapat menjadi upaya agar individu dapat terarah dalam mengatasi berbagai tekanan dalam kehidupan dan mengarahkan kepada hal-hal tertentu. Dengan demikian, kolaborasi antara agama dan budaya menjadi dasar yang penting dalam membentuk identitas religiusitas dan kekuatan spiritual masyarakat Indonesia. Namun, survei secara global menunjukkan adanya penurunan religiusitas, terutama di konteks negara-negara Eropa. Hal ini ditemukan khususnya pada kelompok usia emerging adulthood. 7 Penurunan religiusitas pada generasi muda sebabkan karena adanya pergeseran akibat individualisme, modernisasi, dan Denny Najoan. AuMemahami Hubungan Religiusitas Dan Spiritualitas Di Era Milenial,Ay Jurnal Teologi Educatio Christi 1, no. : 64Ae74, https://ejournal. id/index. php/educatio-christi/article/view/11/8. Pew Research Center. Pew Research Center, 2018, accessed June 12, 2025, https://w. org/religion/2018/06/13/the-age-gap-in-religion-around-the-world/. Shirley Lasut et al. AuMembingkai Kemajemukan Melalui Pendidikan Agama Kristen Di Indonesia,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 4, no. : 206Ae225. A Gafar Hidayat and Tati Haryati. AuKearifan Lokal Kecamatan Bolo Kabupaten Bima,Ay Jurnal Pendidikan 9, no. : 15Ae28. Pew Res. Cent. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. perkembangan teknologi. 8 Adanya fenomena tersebut, menjadi salah satu ancaman bagi generasi muda dalam konteks religiusitas khususnya pada generasi muda di Indonesia. Meskipun secara umum, religiusitas di Indonesia tergolong tinggi, namun generasi muda penuh dengan tantangan di tengah-tengah kemajuan teknologi digital. 9 Fenomena ini bisa menjadi ancaman terhadap sikap, perilaku dan nilai-nilai religiusitas yang dimiliki oleh individu. 10 Dalam konteks ini, perhatian khusus perlu diberikan kepada mahasiswa Kristen Protestan sebagai bagian dari emerging adults di Indonesia. Sebagai kelompok yang berada pada masa transisi identitas dan pengambilan keputusan penting dalam hidup, mereka menghadapi tantangan sosial yang kompleks. 11 Berdasarkan hal tersebut, dengan memahami religiusitas mahasiswa Kristen Protestan menjadi sangat penting untuk melihat bagaimana masyarakat tersebut bisa mempertahankan nilai-nilai agama di tengah-tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi. Dalam konteks mahasiswa Kristen Protestan, religiusitas penting untuk membentuk perilaku mahasiswa, sehingga hal tersebut maka dari itu sangat penting bagi kampus untuk memahami bagaimana seharusnya mahasiswa berperilaku dalam keseharian secara religius, manfaat apa yang di dapatkan dari religiusitas 12 Hal tersebut diperlukan, karena individu perlu untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera, baik dari segi fisik, sosial, maupun psikologis di lingkungan kampus. Penelitian yang dilakukan oleh Khairani & Desky menunjukkan bahwa religiusitas berpengaruh pada generasi kaum muda. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa nilai-nilai religiusitas dapat mempengaruhi bagaimana Maciej Koscielniak. Agnieszka Bojanowska, and Agata Gasiorowska. AuReligiosity Decline in Europe: Age. Generation, and the Mediating Role of Shifting Human Values,Ay Journal of Religion and Health 63, no. : 1091Ae1116, https://doi. org/10. 1007/s10943-022-01670-x. Robert P Borrong et al. AuDampak Globalisasi Terhadap Pembentukan Karakter,Ay Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan . 4266Ae4276, https://jiip. id/jiip/index. php/JIIP/article/view/7627. Charles Mercier. Jayeel Cornelio, and Jean Philippe Warren. AuYoung People and Religious Actors in a Globalized World. Introduction,Ay Social Compass 71, no. : 3Ae25. Jeffrey Jensen Arnett. AuEmerging Adulthood: A Theory of Development from the Late Teens through the Twenties,Ay American Psychologist 55, no. : 469Ae480. Tumini Sipayung and Roma Sihombing. AuPeranan Mata Kuliah Agama Kristen Dalam MembentukAy . 1259Ae1266, https://jurnal. id/index. php/juwarta/article/view/5144/pdf. Helen Hardianti. Joko Wiyono, and Ragil Catur Adi Wibowo. AuHubungan Tingkat Religiusitas Dengan Kualitas Hidup Lansia Di Kelurahan Tlogomas Kota Malang,Ay Nursing News 3, no. : 576Ae585, https://publikasi. id/index. php/fikes/article/view/1366. Gambaran Religiusitas, . (Natasya K. Dewi. Evans Gare. A(Petrus Yuniant. perilaku dan emosinya dalam interaksi sosial. 14 Dengan ( Santy Sahartia. religiusitas penting untuk diterapkan pada individu yang berstatus sebagai mahasiswa, terutama dalam bersikap maupun berperilaku sehari-hari. Akan tetapi, sebagian besar penelitian masih berfokus pada konteks agama Islam, sementara kajian empiris mengenai mahasiswa Kristen Protestan masih sangat Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk memberikan kontribusi dalam memperkaya literatur mengenai religiusitas pada konteks yang spesifik mengenai mahasiswa Kristen Protestan di Universitas Kristen. Penelitian ini memiliki kebaruan karena secara khusus menggambarkan religiusitas mahasiswa Kristen Protestan disalah satu perguruan tinggi di Indonesia, dengan menggunakan pendekatan empiris, dengan menggunakan DUREL. DUREL telah diteliti dalam berbagai konteks budaya dan bahasa yang berbeda, dan terbukti menunjukkan validitas yang kuat untuk mengukur religiusitas individu. Penelitian-penelitian sebelumnya, secara umum banyak mengambil sampel pada individu dengan latar belakang agama Islam, seperti contohnya penelitian yang dilakukan oleh Fadila yang membahas mengenai gambaran kepercayaan dan ketaatan beragama Islam terhadap regulasi diri pada mahasiswa. 17 Terdapat juga penelitian yang telah dilakukan oleh Amalia, yang membahas terkait dengan pengaruh religiusitas terhadap integritas akademik pada mahasiswa di Universitas Islam. 18 Berdasarkan literatur yang sudah dilakukan, peneliti menemukan bahwa penelitian dengan fokus mahasiswa Kristen Protestan masih sangat terbatas, khususnya dalam penggunaan alat ukur DUREL. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang dapat mengukur religiusitas secara empiris pada mahasiswa Kristen Miftahul Khairani and Ahmed Fernanda Desky. AuThe Influence Fanaticsm and Religiosity on Verbal Aggressive Behavioe Among K-Pop Fans,Ay Abrahamic Religions: Jurnal Studi AgamaAgama . 1Ae12, https://jurnal. id/index. php/abrahamic/article/view/27493/pdf. Anita Djie and Jessica Ariela. AuReligiusitas Dan Ketidakjujuran Akademik Pada Mahasiswa Kristen Di Universitas Kristen Di Tangerang,Ay Indonesian Journal for The Psychology of Religion 1, no. : 33Ae46. Cecilia Toscanelli et al. AuReligiousness Worldwide: Translation of the Duke University Religion Index into 20 Languages and Validation across 27 Nations,Ay Measurement Instruments for the Social Sciences 4, no. , https://doi. org/10. 1186/s42409-022-00041-2. Naura Andini Fadhila. AuGambaran Jenis Kelamin. Usia. Asal Sekolah. Pola Asuh. Kepercayaan Dan Ketaatan Beragama Islam Terhadap Regulasi Diri Pada Mahasiswa Dan Mahasiswa Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,Ay 2018. Dhea Riski Amalia. AuPengaruh Fraud Triangle. Big Five Personality Traits Dan Religiustas Terhadap Integritas Akademik Pada Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah JakartaAy (Universitas Islam Negeri, 2. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Protestan, sehingga penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam memperkaya literatur mengenai religiusitas dalam konteks kekristenan di Indonesia. Penelitian empiris diperlukan karena mampu memberikan gambaran yang objektif, sehingga pengukuran mengenai religiusitas bukan sekedar asumsi, akan tetapi berdasarkan data lapangan yang sudah didapatkan. Berdasarkan literatur review yang sudah dilakukan untuk mengisi research gap, secara khusus menggambarkan religiusitas mahasiswa Kristen Protestan menggunakan instrumen Duke University Religion Index (DUREL) yang telah terbukti valid di berbagai budaya, sehingga mampu memberikan gambaran empiris mengenai dimensi religiusitas yang mencakup aktivitas keagamaan organisasi, aktivitas pribadi dan motivasi intrinsik. 19 Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengisi kekosongan literatur, tetapi juga memperkaya literatur religiusitas dalam konteks kekristenan di Indonesia serta memberikan masukan bagi pengembangan program pembinaan di perguruan tinggi Kristen. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : . bagaimana gambaran religiusitas pada mahasiswa di Universitas Kristen X?. bagaimana skor masing-masing dimensi dari skala DUREL, pada mahasiswa yang beragama Kristen Protestan?. dimensi religiusitas manakah yang paling dominan pada mahasiswa Kristen Protestan di Universitas Kristen X. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian secara teoritis adalah menambah literatur mengenai gambaran religiusitas mahasiswa yang beragama Kristen Protestan, tujuan penelitian secara praktis adalah membantu dalam melakukan pengembangan program pembinaan iman agar mahasiswa dapat menerapkan nilai-nilai yang sudah ada di Universitas Kristen X. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik deskriptif, untuk mengetahui gambaran religiusitas mahasiswa di Universitas Kristen X. Statistik deskriptif merupakan analisis deskriptif hanya melakukan analisis dan menyajikan data yang sudah didapatkan secara sistematik, yang sehingga lebih mudah untuk dipahami dan dibuat kesimpulan dari data 20 Analisis deskriptif dilakukan untuk menentukan kategori tinggi, sedang atau rendah serta menginterpretasikan dominan dimensi religiusitas. 21 Sampel pada Koenig and Byssing. AuThe Duke University Religion Index (DUREL): A Five-Item Measure for Use in Epidemological Studies. Ay Saifuddin Azwar. Metode Penelitian, 12th ed. (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2. Saifuddin Azwar. Reliabilitas Dan Validitas, 4th ed. (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2. Gambaran Religiusitas, . (Natasya K. Dewi. Evans Gare. A(Petrus ini Yuniant. adalah mahasiswa/i aktif yang berkuliah di Universitas Kristen X, ( Santy Sahartia. Karakteristik partisipasi yakni, berjenis kelamin pria dan wanita, beragama Kristen Protestan dan berada di rentang Usia 18-25 tahun. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 339 dengan menggunakan rumus besaran sampel slovin. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah insidental. Teknik ini dipilih dikarenakan penelitian membutuhkan jumlah sampel yang besar dalam waktu terbatas serta sesuai dengan kebutuhan penelitian, yaitu dengan karakteristik partisipan spesifik sudah sesuai dengan kriteria penelitian. Penelitian ini menggunakan metode survei untuk mengumpulkan data dalam bentuk kuesioner. Kuesioner yang digunakan adalah berdasarkan alat ukur DUREL (The Duke University Religion Indek. Survei dibagikan secara online dengan menggunakan situs google form. Pada isi survei yang sama, partisipan diminta untuk mengisi data demografis sebelum mengisi skala DUREL. Data demografis yang diisi adalah nama, usia, jenis kelamin, jurusan yang sedang ditempuh. Sebelum kuesioner disebarkan, alat ukur ini sudah melewati pengujian validitas Corrected Item-Total Correlation dengan nilai 0,829. 0,886. dan 0,804 (Vali. dan CronbachAos Alpha dengan nilai 0,918 (Reliabe. Untuk memenuhi etika penelitian, partisipan diwajibkan memberikan persetujuan secara sukarela melalui informed consent yang sudah peneliti cantumkan di dalam google form, sebelum mengisi kuesioner terkait dengan pertanyaan penelitian. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Peneliti menggunakan kategorisasi hipotetik untuk menganalisis hasil dalam penelitian ini. Berdasarkan tabel kategorisasi secara hipotetik, maka dimensi ORA dan NORA tergolong rendah jika skornya X < 2. 67, kemudian tergolong sedang jika skornya 2,67 < X < 4,33 dan tergolong tinggi jika skornya X > 4,33. Selanjutnya untuk dimensi IR, total skor dari X < 7 tergolong rendah, kemudian 7 < X < 11 tergolong sedang dan X > 11 tergolong tinggi. Tabel 1. Kategorisasi hipotetik skala DUREL Kategori Rumusan Skor Skala Skor Skala Skor Skala ORA NORA Tinggi X > M 1SD X > 4,33 X > 4,33 X > 11 Sedang M Ae 1SD < X < M 2,67 < X < 2,67 < X < 7 < X < 11 4,33 4,33 Rendah X < M Ae 1SD X < 2. X < 2. X<7 Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Berikut ini, peneliti menjelaskan hasil dari masing-masing dimensi religiusitas yang diukur dalam penelitian ini dengan menggunakan alat ukur DUREL, yang terdiri dari tiga dimensi utama : ORA (Organizational Religious Activit. NORA (Non-Organizational Religious Activit. dan IR (Intrinsic Religiosit. Dimensi Organizational Religious Activity (ORA) Hasil penelitian yang didapatkan terhadap dimensi ORA, bahwa sebanyak 80,8% dari partisipan memiliki kategori tinggi pada dimensi ORA. Sebanyak 17,40% partisipan berada di kategori sedang. Dan, sebanyak 1,8% partisipan berada di kategori rendah pada dimensi ORA, yang menunjukkan bahwa beberapa partisipan tidak aktif dalam aktivitas religius baik di dalam gereja maupun aktivitas keagamaan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa berada pada kategori tinggi dalam dimensi ORA. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa sangat aktif dalam aktivitas religius yang bersifat kelompok atau Aktivitas tersebut misalnya menghadiri kebaktian minggu di gereja, mengikuti persekutuan doa, mengikuti komunitas pengembangan kerohanian di Dengan demikian, tingginya persentase pada dimensi ini, menggambarkan bahwa mahasiswa cenderung memiliki keterikatan kuat dengan aktivitas keagamaan yang dilakukan bersama-sama. Table 2. Kategorisasi Organizational Religious Activity (ORA) Kategori Kriteria ORA Frekuensi Persentase (%) Tinggi X > 4,33 80,8% Sedang 2,67 < X < 4,33 17,40% Rendah X < 2. 1,8% Dimensi Non-Organizational Religious Activity (NORA) Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan terhadap dimensi NORA, sebanyak 58,4%. Sebanyak 28,9% partisipan berada di kategori sedang. Sedangkan, sebanyak 12,7% partisipan berada di kategori rendah pada dimensi NORA, yang menunjukkan bahwa individu yang memiliki kategori rendah cenderung tidak secara aktif dalam menjalankan aktivitas keagamaan secara Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa berada pada kategori tinggi dalam dimensi NORA. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa sangat aktif dalam aktivitas religius yang bersifat Aktivitas tersebut, misalnya membaca Alkitab, melakukan perenungan Gambaran Religiusitas, . (Natasya K. Dewi. Evans Gare. A(Petrus Yuniant. berdoa, mendengarkan lagu rohani atau mengikuti ( Santy Sahartia. khotbah/renungan Firman Tuhan. Dengan demikian, tingginya persentase pada dimensi ini, menggambarkan bahwa mahasiswa cenderung memiliki keterikatan kuat dengan aktivitas keagamaan yang dilakukan secara personal di luar aktivitas keagamaan yang bersifat komunitas. Tabel 3. Kategorisasi Non-Organizational Religious Activity (NORA) Kategori Kriteria NORA Frekuensi Persentase (%) Tinggi X > 4,33 58,4% Sedang 2,67 < X < 4,33 28,9% Rendah X < 2. 12,7% Dimensi Intrinsic Religiosity (IR) Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan, sebanyak 85% dari partisipan berada kategori tinggi pada dimensi IR. Sebanyak 14,7 % partisipan berada di kategori sedang. Sedangkan, sebanyak 0,3% partisipan berada di kategorisasi rendah pada dimensi IR, hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian kecil individu memiliki religiusitas intrinsik yang lemah. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa berada pada kategori tinggi dalam dimensi IR. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang memiliki religiusitas intrinsik yang sangat kuat. Hal ini tercermin dari keyakinan individu bahwa iman menjadi dasar dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Salah satu contoh konkretnya, berdoa ketika berdosa di masa sulit dalam masa perkuliahan, mengikuti perintah Tuhan untuk saling mengasihi terhadap sesama, menjadi penuntun untuk selalu berada di dalam yang benar, dan juga berperan penting sebagai sumber penguatan ketika menghadapi masa-masa sulit dalam dunia akademik. Dengan demikian, tingginya persentase pada dimensi IR, dapat dikatakan bahwa religiusitas tidak hanya tampak dalam aktivitas keagamaan bersifat formal, tetapi juga tertanam dalam nilai dan prinsip hidup individu. Tabel 4. Kategorisasi Intrinsic Religiosity (IR) Kategori Kriteria IR Frekuensi Persentase (%) Tinggi X > 11 Sedang 2,67 < X < 4,33 14,7% Rendah X<7 0,3% Setelah menjelaskan analisis masing-masing dimensi. Selanjutnya, peneliti menjelaskan hasil penelitian mengenai preferensi individu yakni terhadap jenis ibadah berdasarkan kelompok usia. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Jenis Ibadah Berdasarkan Kelompok Usia Mayoritas partisipan penelitian dari berbagai kelompok usia lebih cenderung beribadah secara on-site. Terdapat 2 kelompok usia yang menunjukkan persentase tertinggi pada ibadah secara on-site, di mulai dari kelompok usia 18 tahun menunjukkan persentase tertinggi dalam kategori ini, yaitu 24,3%, dan kelompok usia 19 tahun dengan 20,0%. Kelompok usia 20, 21, 22, dan 23 tahun memiliki persentase masing-masing sebesar 16,5%, 17,8%, 13,1%, dan 3,9%. Terdapat juga persentase rendah dalam ibadah on-site, pada kelompok usia 24 dan 25 tahun sebesar 2,2%. Sebaliknya, ibadah secara online murni jarang dipilih, hanya dua partisipan pada kelompok usia 19 tahun . ,7%) dan 1 partisipan pada kelompok usia 21 . ,3%). Sementara usia lainnya lebih banyak memilih cara ibadah on-site ataupun kombinasi . nline & on-sit. Cara ibadah kombinasi juga diminati oleh sebagian partisipan, dengan persentase tertinggi pada kelompok usia 18, 19 tahun dan 20 tahun, yang masingmasing persentasenya 17,9%, 23,6% dan 17,9%. Setelah itu, diikuti oleh kelompok usia kelompok usia 21 tahun, 22 tahun, 24 tahun yang masing-masing memiliki memiliki persentase sebesar 11,3%, 12,3%, 10,4%. Terdapat juga persentase rendah dalam ibadah kombinasi, pada kelompok usia 23 dan 25 tahun sebesar 4,7% dan 1,9%. Tabel 5. Jenis Ibadah Berdasarkan Kelompok Usia USIA Online On-site Kombinasi 0 / 0% 56 / 24,3% 19 /17,9% 2 / 66,7% 46/20,0% 25/ 23,6% 0 / 0% 38/16,5% 19 / 17,9% 1 / 33,3% 41/17,8% 12 / 11,3% 0 / 0% 30 / 13,1% 13 / 12,3% 0 / 0% 9 / 3,9% 5 / 4,7% 0 / 0% 5 / 2,2% 11 / 10,4% 0 / 0% 5 / 2,2% 2 / 1,9% Pembahasan Dalam bagian pembahasan ini, peneliti membahas mengenai temuan penelitian dan mengaitkannya dengan beberapa hasil penelitian lainnya yang serupa, dengan mempertimbangkan faktor-faktor sosial dan budaya. Selain itu, peneliti juga akan membahas mengenai beberapa keterbatasan dari penelitian ini. Organizational Religious Activity (ORA) merupakan dimensi yang melibatkan aktivitas keagamaan secara organisasi di publik seperti menghadiri kebaktian keagamaan atau berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan terkait Gambaran Religiusitas, . (Natasya K. Dewi. Evans Gare. A(Petrus Yuniant. elompok doa, kelompok studi Kitab Suci, dl. 22 Berdasarkan ( Santy Sahartia. menunjukkan yang skor tinggi pada aspek aktivitas religius secara organisasi dan menandakan bahwa mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan secara berkelompok. Untuk mendukung hasil penelitian, peneliti melakukan pengambilan data tambahan berupa, wawancara. Wawancara tersebut dilakukan kepada 2 mahasiswa yang beragama Kristen Protestan di Universitas Kristen X, pertanyaan yang disampaikan dalam wawancara mengenai kecenderungan individu dalam memilih ibadah secara berkelompok atau personal, serta faktor-faktor yang mempengaruhi dalam beribadah baik secara personal maupun berkelompok. Peneliti menggunakan hasil wawancara untuk membahas secara lanjut mengenai temuan penelitian terkait dengan tingginya persentase mahasiswa yang cenderung menyukai ibadah secara berkelompok/organisasi. Peneliti melakukan wawancara dengan seorang mahasiswa bernama RA, mengatakan bahwa ia lebih menyukai ibadah secara berkelompok di karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi dirinya sendiri dengan lingkungan sosial, dengan contoh bisa bertukar pikiran dengan sesama teman setelah mendengarkan firman Tuhan, bisa bertukar cerita, mendapatkan teman baru dan terbiasa untuk pergi beribadah dengan teman. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, menegaskan bahwa ibadah berkelompok dapat memberikan manfaat, berupa dukungan sosial, diskusi rohani dan peningkatan religiusitas yang dimiliki oleh individu tersebut. Temuan ini sangat sejalan dengan literatur yang membahas mengenai pentingnya komunitas keagamaan sebagai sarana pertumbuhan iman. 23 Dengan demikian, dapat disimpulkan secara singkat bahwa keterlibatan individu dalam ibadah berkelompok tidak hanya memberikan pengalaman spiritual, akan tetapi memperkuat dimensi sosial dan emosional. Namun, wawancara berikutnya menunjukkan adanya partisipan yang memiliki skor rendah pada aktivitas religius secara organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa partisipan cenderung tidak aktif dalam aktivitas keagamaan secara berkelompok. Untuk memahami fenomena ini secara mendalam, peneliti melakukan wawancara kepada mahasiswa yang berinisial CY. mengatakan bahwa lebih nyaman untuk melakukan ibadah secara pribadi dibanding Koenig and Byssing. AuThe Duke University Religion Index (DUREL): A Five-Item Measure for Use in Epidemological Studies. Ay Daniel Sutoyo. AuKomunitas Kecil Sebagai Tempat Pembelajaran Gaya Hidup Kristen,Ay Antusias : Jurnal Teologi dan pelayanan 2, no. : 1Ae26, https://ejournal. id/index. php/antusias/article/view/31/30. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. dengan aktif pada ibadah secara berkelompok. Hal tersebut dikarenakan, jika ibadah pribadi lebih fokus dan tenang serta tidak terganggu oleh orang lain dan juga jika ibadah secara berkelompok harus menyesuaikan jadwal yang sudah ada. Berdasarkan hasil wawancara yang sudah dilakukan, terdapat juga sebagian kecil mahasiswa memiliki skor yang rendah pada dimensi ORA, yang menunjukkan bahwa tidak semua individu merasa nyaman ketika beribadah secara Wawancara tersebut, mengungkapkan bahwa terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, hasil wawancara tersebut sejalan dengan temuan penelitian yang telah dilakukan oleh Padang dan kawan-kawan, yang menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi individu tersebut untuk pergi beribadah, salah satunya karena adanya faktor internal . ari dala. diri pemuda itu sendiri di antaranya adalah karena faktor kesibukan, menunggu ajakan teman, tidak percaya diri/pribadi yang susah bergaul . , dan juga karena bosan/kejenuhan. 24 Jadi, dapat disimpulkan bahwa motivasi internal maupun hambatan pribadi memainkan peran penting dalam menentukan tingkat keterlibatan seseorang dalam aktivitas keagamaan. Hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti mengenai individu yang kurang terlibat dalam ibadah secara organisasi, sejalan dengan survei yang dilakukan oleh BRC (Bilangan Research Cente. yang membahas terkait dengan religiusitas anak muda. Hasil penelitian dari BRC menemukan bahwa banyak partisipan yang mereka teliti mengatakan bahwa aktivitas di luar gereja lebih menarik, serta menilai kepemimpinan di dalam gereja terkadang kurang baik. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak muda menganggap gereja tidak lagi memiliki daya tarik yang menarik karena sudah tidak relevan dengan gaya hidup saat ini terlebih lagi pada konteks mahasiswa yang memiliki banyak kegiatan yang menarik lainnya. 25 Oleh karena itu, rendahnya keterlibatan mahasiswa dalam ibadah secara organisasi dapat dipahami sebagai adanya perubahan minat serta cara anak muda dalam mengekspresikan religiusitas dan Non-Organizational Religious Activity (NORA) adalah dimensi yang melibatkan aktivitas keagamaan yang dilakukan secara personal, seperti berdoa, mempelajari kitab suci, menonton TV yang bertemakan keagamaan, atau Delima Padang et al. AuAnalisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minimnya Kehadiran Pemuda Remaja Dalam Mengikuti Ibadah Penelaahan Alkitab ( PA ) Di GKPPD Mungkur Kecamatan Siempat,Ay Tri Tunggal: Jurnal Pendidikan Kristen dan Katolik 2, no. : 266Ae 279, https://journal. id/index. php/tritunggal/article/view/721/1127. AuGereja Sudah Tidak Menarik Bagi Kaum Muda,Ay Bilangan Research Center, last modified 2021, https://w. com/artikel/gereja-sudah-tidak-menarik. Gambaran Religiusitas, . (Natasya K. Dewi. Evans Gare. A(Petrus Yuniant. radio keagamaan. 26 Berdasarkan temuan penelitian, terdapat ( Santy Sahartia. yang menunjukkan skor yang tinggi pada dimensi NORA. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam aspek aktivitas keagamaan personal, sebagian besar partisipan dalam penelitian ini tergolong memiliki tingkat religiusitas yang tinggi untuk dimensi NORA. Untuk mendukung hasil penelitian, peneliti melakukan wawancara kepada 2 orang mahasiswa untuk menambah data Pertanyaan yang disampaikan dalam wawancara mengenai kecenderungan individu dalam memilih ibadah secara berkelompok atau personal, serta faktor-faktor yang mempengaruhi dalam beribadah baik secara personal maupun berkelompok. Berdasarkan hasil wawancara, mahasiswa dengan inisial CH, menyampaikan bahwa ia merasa lebih nyaman untuk melakukan ibadah secara pribadi dibandingkan pada ibadah secara berkelompok. Hal tersebut dikarenakan, lebih khusyuk dan lebih merasa bahwa ia benar-benar terhubung dengan Tuhan dan bisa lebih banyak refleksi terhadap diri sendiri seperti : Keluarga dan perkuliahan yang terkadang ada rasa tertekan dan stres terlebih lagi sekarang lagi fase mengerjakan Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, sejalan dengan temuan penelitian yang telah dilakukan oleh Rohmadani dan Setiyani, hasil penelitiannya menyatakan bahwa aktivitas religius secara personal dapat membantu efektif untuk meluapkan atau melepaskan rasa stres yang di rasakan. Sehingga bisa memiliki semangat kembali untuk menjalani perkuliahan. Akan tetapi, terdapat juga partisipan yang menunjukkan tingkat keterlibatan yang rendah dalam aktivitas keagamaan secara personal pada dimensi NORA. Melalui temuan penelitian tersebut, menunjukkan bahwa adanya partisipan yang tidak aktif melakukan religiusitas secara personal. Berdasarkan data tersebut, walau agama dianggap penting oleh 98% penduduk Indonesia, rupanya masih terdapat partisipan yang tidak terlibat secara aktif dalam menjalankan aktivitas keagamaan secara personal. Rendahnya keterlibatan keagamaan secara personal, memiliki keterkaitan dengan kemajuan teknologi, yang membuat individu tersebut kehilangan nilai-nilai religiusitas di dalam diri mereka. 28 Dengan demikian, meskipun agama dianggap penting oleh mayoritas masyarakat di Indonesia, namun Koenig and Byssing. AuThe Duke University Religion Index (DUREL): A Five-Item Measure for Use in Epidemological Studies. Ay Zahro Varisna Rohmadani and Ratna Yunita Setiyani. AuAktivitas Religius Untuk Menurunkan Tingkat Stres Mahasiswa Yang Sedang Skripsi,Ay Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan 1, no. : 108. Mercier. Cornelio, and Warren. AuYoung People and Religious Actors in a Globalized World. Introduction. Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. terkait dengan praktik religius baik personal dan organisasi sangat bervariasi antara Intrinsic Religiosity (IR) merupakan dimensi yang berkaitan dengan tingkat komitmen atau motivasi keagamaan individu. Koenig dan Bussing mendefinisikan IR dengan penjelasan bahwa orang dengan orientasi ini menemukan motif utama mereka dalam agama dan kebutuhan lain dianggap kurang penting. Setelah memeluk suatu keyakinan, setiap orang berupaya untuk mengikutinya dengan 29 Berdasarkan penjelasan tersebut, di dapatkan poin penting terkait dimensi IR bahwa secara dimensi ini berfokus kepada diri individu dalam beragama. Berdasarkan temuan penelitian, sebagian besar partisipan memiliki tingkat religiusitas intrinsik yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang beragama Kristen Protestan memiliki motivasi serta komitmen beragama yang berasal dari dalam dirinya sendiri dan tidak tergantung dari stimulus luar. Temuan dalam penelitian ini mengenai IR, sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Chagas dan Garcia didapatkan hasil bahwa penelitian ini yang menunjukkan individu dengan IR yang tinggi. Hal tersebut, membawa peran agama dengan kuat dan memiliki komitmen yang kuat, lebih memiliki tujuan hidup yang akan dijalani dengan didasarkan oleh ajaran agama yang dianutnya. 30 Namun, tingginya IR yang didapatkan berada di konteks pendidikan Kristen, dimana nilai kristiani menjadi dasar bagi mahasiswa itu sendiri dan diajarkan secara eksplisit. 31 Hal ini membedakan dengan temuan negara barat yang cenderung menunjukkan IR yang rendah akibat kebudayaan yang berbeda, salah satu contohnya adalah Berikutnya, peneliti membahas hasil penelitian pada kategori Aujenis ibadah berdasarkan kelompok usiaAy. Penelitian ini menunjukkan bahwa cara ibadah mahasiswa bervariasi berdasarkan kelompok usia. Mahasiswa dengan kelompok usia 18-19 tahun cenderung lebih memilih ibadah on-site di bandingkan online, namun ada juga yang memilih kombinasi ibadah. Pada kelompok usia 20-23 tahun, mahasiswa masih cenderung memilih ibadah secara on-site, namun ada juga Koenig and Byssing. AuThe Duke University Religion Index (DUREL): A Five-Item Measure for Use in Epidemological Studies. Ay Fernanda Augusta Lima das Chagas and Antonio Munoz Gracia. AuExamining the Influence of Meaning in Life and Religion/Spirituality on Student Engagement and Learning Satisfaction: A Comprehensive Analysis,Ay Religions 14, no. Novri. Gita Lestari, and Vincen Tonapa. AuPendidikan Agama Kristen (PAK) Berperan Sebagai Dasar Moral Dalam Membentuk Karakter Remaja Di Era Digital,Ay Sabar : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2, no. : 178Ae191. Sarah Wilkins-Laflamme. David Voas, and Kirstie Hewlett. AuReligious Polarization in Europe,Ay Sociology of Religion, no. June 2024 . : 303Ae330. Gambaran Religiusitas, . (Natasya K. Dewi. Evans Gare. A(Petrus Yuniant. yang masih memilih ibadah secara kombinasi . nline dan on. (Selanjutnya. Santy Sahartia. pada kelompok usia 24-25 tahun, terdapat penurunan partisipasi dalam beribadah baik secara on-site maupun kombinasi. Temuan ini menunjukkan bahwa anak muda saat ini lebih menyukai ibadah secara on-site . atap muk. Hal ini sejalan dengan survei yang dilakukan oleh Bilangan Research Center yang menyatakan bahwa generasi muda saat ini tidak menyukai suatu pembicaraan dan mendengarkan pengajaran hanya satu arah, tetapi mereka juga ingin dilibatkan dalam komunikasi yang bersifat dua arah. 33 Selain itu, penelitian ini sejalan dengan survei yang dilakukan BRC yang menemukan bahwa bertambahnya usia dari remaja hingga dewasa, kecenderungan untuk tidak rutin beribadah memiliki peningkatan. Peningkatan tersebut terjadi di masa tua karena semakin usia bertambah, individu semakin rentan untuk meninggalkan gereja. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa preferensi dan keterlibatan anak muda dalam ibadah dipengaruhi oleh kebutuhan sosial akan interaksi yang lebih ekspresif, serta perubahan usia yang mempengaruhi konsistensi dalam beribadah. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan kesamaan dengan literatur bahwa komunitas keagamaan dan ibadah personal penting bagi religiusitas Namun, terdapat perbedaan yang terlihat bahwa sebagian mahasiswa masih memiliki skor yang rendah pada ORA. NORA maupun IR. Hal tersebut dikarenakan adanya dinamika generasi muda yang terpapar individualisme, modernisasi dan perkembangan teknologi. Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu, pendekatan yang digunakan oleh peneliti bersifat deskriptif, sehingga penelitian ini tidak menggali secara lebih dalam terkait dengan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi religiusitas individu Selain itu, penelitian ini bersifat self-report, dimana partisipan memberikan penilaian terhadap dirinya sendiri terkait dengan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian dengan metode ini, memungkinkan terdapat bias dalam penilaian tersebut. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya perlu melakukan pengukuran secara jangka panjang dan juga melibatkan individu yang signifikan dalam kehidupan religius mereka. Hal tersebut diperlukan untuk mengatasi adanya kemungkinan bias dalam penilaian diri mereka. AuGereja Sudah Tidak Menarik Bagi Kaum Muda. Ay Ibid. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Simpulan Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang beragama Kristen Protestan di Universitas Kristen X dan berada dalam rentang usia 18-25 tahun, memiliki gambaran religiusitas yang tinggi. Partisipan memiliki frekuensi yang aktif baik dalam aspek aktivitas religius secara organisasi Organizational Religious Activity (ORA), aspek aktivitas religius secara pribadi Non-Organizational Religious Activity (NORA) maupun secara motivasi serta komitmen beragama yang berasal dari dalam dirinya sendiri yaitu. Intrinsic Religiosity (IR). Temuan ini menegaskan bahwa religiusitas berperan penting dalam kehidupan mahasiswa dan dapat menjadi salah satu langkah yang strategis dalam pengembangan iman kerohanian mahasiswa. Secara teoritis, implikasi penelitian ini memperkaya pengembangan literatur mengenai religiusitas mahasiswa Kristen Protestan dengan menambah gambaran empiris menggunakan skala DUREL di Indonesia. Secara praktis, hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan bagi Universitas dan lembaga kerohanian untuk memperkuat program pembinaan iman, bukan hanya menekankan pada kegiatan secara berkelompok tetapi juga secara personal dan pendalaman motivasi internal dalam Dengan demikian, hasil penelitian ini berdampak pada peningkatan pengembangan religiusitas di kampus, sehingga dapat mahasiswa dapat merasakan peningkatan religiusitas yang akan berdampak pada kehidupan akademik maupun Berdasarkan keterbatasan dari penelitian ini, peneliti menyarankan agar peneliti selanjutnya dapat membahas faktor-faktor yang dapat mempengaruhi religiusitas mahasiswa baik secara personal maupun organisasi dengan mempertimbangkan penggunaan metode penelitian mixed (Kuantitatif dan kualitati. untuk meminimalisir adanya bias di dalam hasil penelitian. Daftar Pustaka