SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni Volume 9. No 1. Maret 2021 p 1-7 Eksplorasi Gamelan Angklung dan Selonding Sebagai Media Ungkap Dalam Penciptaan Karya Musik AuKapetenganAy I Made Dwi Andika Putra Institut Seni Indonesia Denpasar dwiandikaputra999@gmail. Karya musik kapetengan merupakan sebuah garapan musik inovatif yang mengungkapkan sifat kesadaran dan ketidaksadaran yang ada dalam diri manusia. Rumusan ide penciptaan karya musik kapetengan difokuskan pada satu hal, yaitu bagaimanakah eksplorasi gamelan Angklung dan Selonding sebagai media ungkap dalam karya musik kapetengan. Untuk menjawab rumusan ide penciptaan ini, maka digunakan beberapa teori sebagai acuan dalam menggarap karya musik kapetengan, yaitu teori kreativitas, teori penciptaan menurut Alma M. Hawkins, dan teori estetika. Karya musik ini diharapkan dapat menjelaskan bahwa sifat kapetengan ada dalam setiap diri manusia dan dalam melakukan suatu tindakan, manusia hendaknya selalu menyadari serta dapat berpikir terlebih dahulu sehingga dapat diketahui segala konsekuensi dari setiap perbuatan yang Kata Kunci : kesadaran, ketidaksadaran, karya musik kapetengan The new gamelan compositions Kapetengan is composed by inovatif perspectife. The musical ideas came from conscious and consciusness concepts in Bali, there is tell about dualism in Balinese human life. Kapetengan new gamelan compositions are developing two kinds of Balinese gamelan that is Gamelan Angklung and Gamelan Selonding. Both of gamelan are also develop the melodic and rithme. On creatife procces composer used Alma M. Hawkins teories such is improvisations, explorations and forming. Gamelan compositions Kapetengan has given to and teach to human to aware about their human being according to conscious and consciousness concepts. Keywords : conscious, consciousness, kapetengan composition Proses review: 1 - 4 Mei 2021. Dinyatakan lolos 5 Mei 2021 I Made Dwi Andika Putra (Eksplorasi Gamelan. PENDAHULUAN Konsistensi sebagai komposer penulis menggarap karya musik dengan judul Kapetengan. Kapetengan adalah sifat di antara kesadaran dan ketidaksadaran. Sebuah dimensi sadar dan tidak sadar merangsang penulis tertarik dengan konsep ini karena sesungguhnya kapetengan selalu ada dalam diri setiap manusia. Terdapat kalanya manusia pernah mengalami kesadaran dan ketidaksadaran dalam melakukan suatu hal. Ketika manusia tidak sadar akan apa yang dilakukan, ia akan melakukan suatu perbuatan di luar nalarnya, sedangkan ketika manusia sadar akan apa yang dilakukan, ia akan melakukan segala perbuatan dengan pertimbanganpertimbangan berdasarkan pola pikir manusia itu sendiri dengan segala konsekuensinya. Berdasarkan uraian tersebut, manusia dengan kesadarannya mampu mengolah kreativitas dan potensi yang tercermin melalui ide yang dituangkan ke dalam wujud suatu karya seni yang original. Dalam konteks manusia dengan kesadarannya, penulis sebagai pelaku seni juga menjadi bagian di dalamnya. Namun, dalam proses kreativitas atau penciptaan karya musik kapetengan ini, pencipta juga tentunya akan merasakan bagaimana manusia mengalami ketidaksadaran, misalnya dalam mendapatkan suatu teknik yang secara tidak sengaja didapatkan ketika berproses. Melalui medium musik, gagasan kapetengan disampaikan kepada masyarakat sebagai penikmat seni. Konsep kapetengan inilah yang penulis pilih untuk ditransformasikan ke dalam wujud karya musik dengan media ungkap gamelan Angklung dan gamelan Selonding yang mampu mewakili rasa yang ada dalam karya musik Medium gamelan dipilih sebagai medium penyampaian pesan karena eratnya hubungan komunikasi antara gamelan dengan masyarakat. Karya musik yang memadukan gamelan Angklung dan gamelan Selonding ialah sebuah pemikiran sadar atas potensi dari kedua gamelan tersebut. Potensi dari gamelan Angklung dan gamelan Slonding yang paling dasar ialah pengolahan perbedaan saih yaitu saih slendro empat nada (Angklun. dan saih pelog tujuh nada dari gamelan Selonding. Perbedaan saih ini dijadikan bahan untuk mengolah melodi secara horizontal maupun vertikal. Pengolahan melodi secara horizontal dengan bentuk modulasi, serta melodi secara vertikal dengan bentuk membenturkan melodi dengan melodi. Hasil dari membenturkan Volume 9. Nomor 1. Maret 2021 melodi tersebut menghasilkan sebuah nada dengan frekuensi getaran baru, karena getaran/reng tidak hanya diperoleh dari membenturkan nada yang sama . istem ngumbang-ngise. Analisis dalam artikel ini bertujuan untuk menjelaskan eksplorasi gamelan Angklung dan gamelan Selonding dengan gagasan kesadaran dan ketidaksadaran itu sendiri pada karya musik Kapetengan dalam medium bahasa musikal. Gamelan ini dipilih sebagai media ungkap untuk menyampaikan pesan yang terkandung dalam karya musik Kapetengan, mengingat keberadaan gamelan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Manfaat dari penulisan artikel ini adalah agar nantinya antara media ungkap dengan konsep karya terjalin suatu keutuhan sebagai awal tahapan eksplorasi karya musik kapetengan. LANDASAN TEORI DAN METODE Landasan Teori Landasan teori yang penulis gunakan sebagai acuan dalam menggarap karya musik kapetengan adalah sebagai berikut. Teori Kreativitas Setiap orang tentu memiliki potensi kreativitas yang berbeda-beda, dan sikap kreatif sangat dibutuhkan ketika penulis ingin menghasilkan suatu karya. Seseorang yang kreatif akan berusaha untuk dapat menghasilkan gagasan-gagasan baru yang belum pernah dilakukan dan ditemukan orang lain. Penulis menggunakan teori kreativitas menurut Solso . dan Evans . yakni definisi kreativitas pada potensi kreatif atau sebagai proses kreatif. Artinya, apa saja sumber-sumber kemampuan seseorang dan aktivitas yang berpotensi besar untuk melahirkan gagasan-gagasan baru. Dengan demikian, karya musik kapetengan akan dihasilkan melalui proses kerja kreatif dan penulis akan mencoba untuk menghasilkan garapan musik dengan gagasan baru. Teori Alma M. Hawkins Untuk mendukung proses kreativitas, maka penulis juga akan menggunakan teori Alma M. Hawkins sebagai acuan penggarapan karya musik Alma M. Hawkins dalam bukunya Creating Through Dance, bahwa penciptaan suatu karya seni itu ditempuh melalui tiga tahapan yaitu, eksplorasi, improvisasi, dan forming (Hadi, 1990: Ketiga tahapan tersebut diaplikasikan dalam Volume 9. Nomor 1. Maret 2021 proses penggarapan karya musik kapetengan. Teori Estetika Estetika berasal dari kata aesthesis dalam bahasa Yunani yang berarti rasa, persepsi manusia atas Di dalamnya tidak hanya terkandung persepsi manusia tentang keindahan, melainkan segala macam rasa yang diperoleh melalui panca indera (Simatupang, 2013: . Berkaitan dengan estetika, maka penikmat karya musik kapetengan nantinya dapat dengan bebas mengungkapkan estetika yang terdapat dalam karya ini dengan rasa yang dirasakan oleh masing-masing orang. samping itu, penulis juga tetap menggunakan prinsipprinsip estetis yang dikemukakan oleh Djelantik, yaitu keseimbangan . , dan kesatuan . untuk mewujudkan karya musik kapetengan. Keseimbangan . akan diungkapkan melalui kesadaran dan ketidaksadaran, sedangkan kesatuan . akan diungkapkan melalui kesatuan dalam elemen-elemen seni karawitan yang membingkai karya musik kapetengan. Metode Penciptaan Metode penciptaan yang penulis gunakan sebagai metode dalam menciptakan dan mewujudkan karya musik kapetengan adalah sebagai berikut. Tahap eksplorasi adalah tahap awal dalam melakukan proses penggarapan karya seni. Pada tahap ini dilakukan pencarian dan penjajagan secara terus-menerus mulai dari pencarian ide atau media yang diwujudkan dalam tatanan sajian penggarapan. Pencarian ide adalah hal utama karena memerlukan proses dan waktu yang cukup lama. Berawal dari kejadian secara tidak sengaja, yaitu ketika melakukan pelatihan di Banjar Kalah. Paang Kelod Penatih untuk persiapan upacara piodalan. Gending tabuh telu Buaya Mangap yang awalnya berjalan dengan baik, tetapi ketika pada bagian pengecet dimainkan tiba-tiba lampu semua padam. Suasana kemudian menjadi kacau dan gending tersebut seakan-akan menjadi sebuah komposisi baru karena setiap orang memiliki ekspresi dan spontanitas yang berbeda dalam suasana mati lampu. Kejadian tersebut menginspirasi penulis untuk menciptakan sebuah karya dengan mengimplementasikan dua sifat yang berbeda namun tetap bersinergi. Kegiatan lain yang penulis lakukan setelah penentuan ide pada tahap ini adalah menentukan tema, judul, dan konsep melalui proses berpikir, berimajinasi, merasakan, serta Pencarian sumber-sumber baik tertulis SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni maupun tidak tertulis juga dilakukan agar mendapat wawasan tambahan yang berhubungan dengan karya Tahap improvisasi merupakan tahap kedua dalam proses penggarapan. Penuangan ide-ide dalam bentuk percobaan-percobaan secara intensif mulai Penulis mencari kemungkinan patetpatet yang dihasilkan dari gamelan Selonding dan mencari patet baru yang dihasilkan dari perpaduan gamelan Angklung dan gamelan Selonding yang nantinya digunakan untuk mengangkat suasana dan nuansa yang diinginkan sesuai konsep ciptaan. Selain itu penulis juga mencoba menggabungkan nada-nada dari gamelan selonding dan gamelan angklung hingga menemukan beberapa nada dengan frekuensi getaran yang berbeda. Kemudian penulis mencari teknik-teknik permainan yang tidak lazim dipergunakan pada gamelan tersebut, seperti memukul bagian ujung bilah dan memukul dengan alat pukul yang digunakan terbalik. Hal tersebut dilakukan agar mendapatkan kemungkinankemungkinan baru yang tidak terpikirkan dari gamelan yang sudah sering kita jumpai. Tahap ketiga penggarapan adalah forming. Tahap akhir dari karya musik kapetengan yaitu pembentukan menjadi sebuah karya musik yang Karya Musik ini dibagi menjadi tiga . bagian yaitu : bagian pertama adalah pengenalan nada dari gamelan Angklung dan gamelan Selonding, bagian kedua adalah memadukan melodi dengan melodi dari kedua gamelan tersebut, dan bagian ketiga adalah memainkan gamelan dengan memukul bagian ujung bilah dan memainkan instrumen dengan alat pemukul . Bagian per bagian yang telah dicari dirangkai menjadi satu kesatuan bentuk yang utuh walaupun terdapat bagian-bagian yang masih kasar. Dalam hal ini penulis juga perlu memperhatikan ngumbang ngisep . eras liri. berkaitan dengan masalah dinamika gending. HASIL DAN PEMBAHASAN Gamelan yang digunakan dalam proses penggarapan musik kapetengan adalah gamelan Angklung dan gamelan Selonding. Mengenai pengertian gamelan Angklung dijelaskan sebagai berikut. Menurut I Nyoman Kaler . Angklung berasal dari kata Angka . ebuah bilanga. , dan Lung . Jadi kata Angklung artinya angka yang I Made Dwi Andika Putra (Eksplorasi Gamelan. Di antara sembilan angka yang bentuknya patah-patah adalah angka empat. Jenis barungan gamelan yang menggunakan tungguhan gangsa empat bilah itulah yang disebut Angklung. Dalam rangkaian pada laras slendro biasanya terdapat lima Menurut I Nyoman Rembang mengatakan bahwa kata Angklung berasal dari kata AuaAy. AungAy, dan AuluhungAy jika digabungkan menjadi kata Angluhung yang artinya menjadi bertambah bagus atau indah. Angklung menggunakan empat bilah atau nada yang diambil dari gamelan yang menggunakan tujuh nada . aih pit. (Kaler dan Rembang dalam Sukerta, 2009:. Sedangkan pengertian gamelan Selonding menurut Pande Made Sukerta mengungkapkan, bahwa AuSelonding merupakan salah satu barungan gamelan berlaras pelog tujuh nada yang sebagian besar menggunakan tungguhan yang bahannya dari besi. Gamelan ini dianggap sakral dilihat dari fungsinya yang hanya digunakan untuk keperluan upacara. Maka dari itu, barungan gamelan Selonding sekarang ini di Bali sangat sedikit dibandingkan dengan jenisjenis barungan gamelan lainnya (Sukerta, 2009: Ay. Gamelan Angklung dan gamelan Selonding dijadikan sebagai media ungkap karena keterkaitannya dengan kesadaran dan ketidaksadaran. Maksud dari uraian ini adalah gamelan Angklung lebih mengarah pada lapisan jasmani karena realitasnya gamelan Angklung digunakan untuk mengiringi upacara Pitra Yadnya . pacara kematian di Desa Adat Penati. dan identik dengan aktivitas rasa panca indera seperti suasana sedih yang cenderung kepada sifat Sedangkan gamelan Selonding lebih bersifat religius khususnya terdapat di daerah Tenganan dan mengarah pada lapisan rohani yang cenderung kepada sifat ketidaksadaran. Kapetengan mampu menjangkau dua lapisan jasmani yakni kesadaran dan rohani yakni Dari pemaparan terhadap konsep kapetengan menggerakkan hasrat penulis untuk mentransformasikannya ke dalam wujud karya Media ungkap yang digunakan dalam mewujudkan karya musik kapetengan adalah gamelan Angklung dan gamelan Selonding. Gamelan Selonding yang digunakan sebagai media ungkap terdiri dari dua barungan dengan saih yang berbeda. Begitu pula halnya dengan gamelan Angklung yang terdiri dari dua barungan dengan saih yang berbeda. Volume 9. Nomor 1. Maret 2021 Gambar 1. Foto pementasan karya musik kapetengan I Durasi waktu pertunjukan yang direncanakan adalah sekitar 45 menit, yang akan disajikan di setra Desa Adat Penatih. Maka dari itu, ide penciptaan konsep kapetengan ini adalah menggunakan media ungkap gamelan Angklung dan Selonding sesuai dengan sifat dari gamelan tersebut. Ide merupakan sumber pemikiran seorang penulis ketika suatu karya akan diwujudkan. Ide penulis dalam mewujudkan garapan musik ini muncul secara tidak sengaja ketika melakukan pelatihan di Banjar Kalah. Paang Kelod Penatih yang awalnya berjalan dengan baik, tetapi ketika bagian pengecet dimainkan tiba-tiba lampu semua padam. Suasana kemudian menjadi kacau dan gending tersebut seakan-akan menjadi sebuah komposisi baru karena setiap orang memiliki ekspresi yang berbeda dalam suasana mati lampu tersebut. Dari pengalaman tersebut penulis mendapatkan suatu sifat, yaitu kapetengan. Karya musik kapetengan mengacu pada sajian musik inovatif karena adanya pengembangan pada pola-pola permainan, dan pengolahan unsur-unsur musikal seperti nada, melodi, irama . , tempo, harmoni dan dinamika. Sifat estetik seperti unity . , intensity . ekuatan, keyakina. , dan complexity . tetap dijadikan pijakan serta acuan dalam mewujudkan karya yang berkualitas. Eksplorasi gamelan Selonding sudah penulis lakukan pada kelas Penciptaan Seni I. Penulis mencoba mengungkapkan sifat kesadaran yang dituangkan dalam hitungan-hitungan genap dalam satu melodi dan sifat ketidaksadaran diungkapkan dengan menggunakan hitungan-hitungan ganjil sehingga penikmat tidak dapat menebak jatuhnya pukulan Gong dalam karya eksplorasi kapetengan I. Selain itu, penulis juga mempergunakan alat tambahan, seperti satu pasang kendang cedugan, satu pasang kendang krumpungan, satu buah kajar, satu buah ceng-ceng ricik, satu buah gong, dan satu buah kempur. Volume 9. Nomor 1. Maret 2021 SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni Tabel 1. Sistem Notasi ding, dong Nama Aksara Ulu Tedong Taleng Suku Ilut Suku Cecek/ Carik Pepet Simbol Dibaca Ndong Ndeng Ndeung Ndung Ndaing Tabel 2. Saih Dalam Pelarasan Saih Pitu Nada Standar Saih Slisir (SS) Slendro Gede (SG) Baro (BR) Tembung (TB) Sundaren (SD) Pengenter Alit (PA) Pengenter (PT) Lebeng (L) Tabel 3. Simbol alphabet Simbol Byot Sueng Ceng Teng Cek Sistem Notasi Simbol yang digunakan sebagai pencatatan notasi dalam karya musik Kapetengan menggunakan dua jenis yaitu huruf alphabet dan pengangening aksara Bali. Penganggening aksara Bali terdiri dari sistem notasi ding, dong, berupa ulu, tedong, taleng, suku ilut, suku, carik, dan pepet. Jika dibaca dalam karawitan Bali akan berbunyi nding, ndong, ndeng, ndeung, ndung, ndang, dan ndaing. Dalam penulisan simbol notasi hanya disampaikan melodi pokok saja, sedangkan isi instrumen lainnya merupakan pengembangan melodi pokok. Tanda-Tanda Musikal yang Digunakan Bunyi Elemen-Elemen Dasar Musikal Yang Diolah Dalam Karya Musik Kapetengan Ritme Ritme adalah rangkaian beberapa suara yang berbeda panjang-pendeknya. jika memakai nada-nada maka ia menjadi lagu dengan sifat-sifat nada : tinggi dan rendah (Aryasa, 1984: . Kapetengan merupakan karya musik baru dengan mengolah ritme yang bersumber dari timbre . arna suar. dengan media ungkap gamelan Angklung dan Gamelan Selonding. Tempo Tempo adalah sebuah pola untuk menentukan cepat lambatnya lagu yang diragakan (Aryasa, 1984:. Dalam pola permainan yang dimainkan/dilakukan dalam garapan memegang peran yang sangat Tempo yang digunakan dalam karya musik Kapetengan meliputi tempo lambat, sedang, dan tempo cepat. Tempo menjadi nafas dalam garapan ini. Nafas yang dimaksud ialah seluruh rangkaian pola, bentuk, dan I Made Dwi Andika Putra (Eksplorasi Gamelan. struktur disajikan dengan menggunakan beberapa jenis tempo cepat, sedang, dan lambat sesuai dengan karakter dan kebutuhan komposisi agar tidak menghasilkan kesan datar. Dinamika Dinamika berarti sebuah kesatuan untuk menyatakan volume keras lirih dari lagu yang dirasakan (Aryasa, 1984:. Dinamika merupakan salah satu bagian terpenting dalam garapan. Dinamika sebagai ekspresi dalam penggarapan, menyangkut aksen pada teknik permainan setiap instrumen, keras lirihnya suara, serta panjang pendeknya motif maupun teknik permainan instrumen yang dilakukan untuk menghasilkan kesan dinamis dalam sebuah garapan. Pengaturan dinamika pada karya musik kapetengan digunakan untuk menghadirkan kesan tebal tipis dari setiap pola yang disajikan. Tebal tipis dalam praktik gamelan sering disebut dengan aes-uncab . irih-kera. Aes-uncab selalu digunakan pada setiap permainan pola lagu di dalam garapan ini. Melodi Melodi merupakan rangkaian nada secara berurutan yang berbeda panjang-pendeknya dan berbeda pula tinggi-rendahnya, teratur susunannya dan memiliki irama (Aryasa, 1984:. Melodi sangat berperan penting dalam terwujudnya sebuah komposisi khususnya karya musik kapetengan. Pengolahan melodi yang digunakan pada karya musik kapetengan adalah membenturkan melodi dengan melodi sehingga mendapatkan frekuensi getaran dari nada yang dihasilkan oleeh gamelan dengan saih yang berbeda. Melodi yang digunakan didominasi dengan style melodi gending Selonding yang dikombinasikan dengan gaya melodi pindah saih dalam gending Semara Pegulingan saih pitu. Irama Irama adalah partikel dari ritme, yaitu nafas dari lagu itu sendiri (Aryasa, 1984:. Irama sangat berperan penting dalam terwujudnya sebuah komposisi khususnya karya musik kapetengan. Irama menjadi metode untuk mengolah sebuah pola ritme dalam tata penyajiannya. Irama yang digunakan ialah irama ngwilet dan priring. Irama ngwilet dan priring digunakan pada pengolahan sajian tungguhan nyonggong ageng dan nyongnyong alit pada gamelan Selonding. Volume 9. Nomor 1. Maret 2021 PENUTUP Dari apa yang telah diuraikan di atas menunjukkan bahwa bereksplorasi sangat diperlukan untuk penciptaan karya musik kapetengan. Eksplorasi dalam hubungannya dengan media ungkap, yaitu penggunaan gamelan Angklung dan gamelan Selonding bermanfaat untuk menjajagi dan mencari kemungkinan-kemungkinan baru yang ada pada gamelan tersebut. Dengan mendapatkan teknikteknik maupun frekuensi getaran baru pada karya musik ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan untuk berkreativitas dan berkarya sehingga mampu menunjukkan kebaruan dan originalitas dalam menciptakan suatu karya. Kejadian tidak terduga seperti yang penulis alami dan mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain dapat dijadikan ide untuk membuat suatu karya. Dengan tanpa disadari sifat kapetengan selalu ada pada diri setiap manusia, namun tergantung pada seseorang yang Hal baik akan didapat ketika seseorang mampu mempertimbangkan apa yang ingin dilakukannya, begitu pula hal buruk yang akan datang ketika pikiran kita tidak dapat dikendalikan. DAFTAR PUSTAKA