Ahmad SyaiAoin. Abdul Rahman Prasetyo Analisis Formalistik Lukisan Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X ANALISIS FORMALISTIK LUKISAN DJOKO PEKIK BERJUDUL PAWANG PUN KESURUPAN Ahmad SyaiAoin1. Abdul Rahman Prasetyo2 1,2 Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang Jl. Semarang No. Malang, 65145 Jawa Timur, 62 341-551312 e-mail: ahmad. 2002516@students. id 1, prasetyo. fs@um. Abstraksi Djoko Pekik memiliki gaya lukisannya yang beraliran realis ekspresif. Kerap membumbui nilai-nilai kerakyatan di hampir setiap lukisannya. Karyanya banyak memuat kritik sosial hingga tragedi politik. Oleh karena itu, lukisannya begitu berpengaruh. Memulai karier lukisnya sejak 1958 dengan masuk ke ASRI Yogyakarta. Djoko Pekik terus merevolusi diri hingga kini namanya begitu harum di dunia seni. Dia bahkan sempat mendirikan Sanggar Bumi Tarung pada 1961 bersama sejumlah kawannya. Ide kolektif kesenian itu kemudian diketahui berafilisasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekr. Tujuan kritik formalistik ini untuk menjabarkan konfigurasi aspek-aspek formal dan nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan unsur pembentukan karya lukis. Sasaran kritik seni akan lebih cenderung pada unsurunsur visual terdiri warna, garis, dan tekstur. Metode kritik seni yang digunakan berupa kritik formalistik dengan tahapan deskripsi, tahapan analisis formal, tahapan interpretasi, dan tahapan evaluasi. Hasil dari kritik formalistik ini berupa data analisis visual karya lukis dan interpretasi nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan unsur pembentukan karya lukis. Kata Kunci: Kritik, formalistik, seni lukis, djoko pekik, pawang pun kesurupan Abstract Djoko Pekik has an expressive realist painting style. He often embellishes populist values in almost every painting. Many of his works contain social criticism and political That is why his paintings are so influential. Starting his painting career in 1958 by entering ASRI Yogyakarta. Djoko Pekik continued to revolutionize himself until now his name is well known in the art world. He even founded Sanggar Bumi Tarung in 1961 with a number of his friends. The collective art idea was later known to be affiliated with the Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekr. The purpose of formalistic criticism is to describe the configuration of formal aspects and noble values related to the elements of painting formation. The target of art criticism will be more inclined to the visual elements consisting of color, line, and texture. The art criticism method used is formalistic criticism with description stages, formal analysis stages, interpretation stages, and evaluation stages. The results of this formalistic criticism are in the form of visual analysis data of paintings and interpretations of noble values related to the elements of the formation of paintings. Keywords: Criticism, formalism, painting, djoko pekik, pawang pun kesurupan __________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Seringkali menghayati suatu karya seni dimulai dengan perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama. Meskipun terdengar tidak logis, namun ada sesuatu yang misterius di Ketika kita melihat beberapa karya seni tertentu, muncul sebuah pertanyaan mengapa kita tertarik pada karya seni tersebut. Meskipun ada jawaban logis yang muncul sebagai sebuah isyarat pragmatis, akan tetapi ketika pilihan kita berbeda dengan pandangan orang lain, emosi, pengalaman estetik, visi, dan misi pengamat dalam menghayati sebuah karya seni. Seperti pendapat yang kemukakan oleh Tabrani . alam Indrawati, 2. bahwa apresiasi tidak hanya dimulai dengan cara objektif berdasarkan norma atau aturan yang kaku. 1 | Volume 06. Nomor 02. Oktober 2024 Citradirga: Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Ahmad SyaiAoin. Abdul Rahman Prasetyo Analisis Formalistik Lukisan Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Apresiasi sebuah karya seni bukanlah komputatif dan bukan hanya analisis serta sintesis atau Apresiasi sebuah karya seni yang sejati, wajar, alami, yang mungkin terjadi ketika melalui sebuah penghayatan. Ini berarti mengharuskan ada integrasi yang muncul antara rangsangan eksternal dari karya seni yang diapresiasi dan rangsangan internal, terciptanya sebuah kreativitas yang berupa apresiasi, baik hanya menimbulkan kejutan atau mampu menimbulkan perasaan terharu. Dalam menciptakan penilaian yang baik terhadap setiap karya seni, diperlukan penafsiran yang tepat (Ondira Asa, 2. Karya seni memiliki sifat multi-tafsir, yang berarti maknanya akan mengalami perbedaan antara penghayat dengan penghayat lainnya. Ini disebabkan oleh pengaruh pengalaman estetik dalam pemaknaan karya tersebut. Pengalaman estetik meliputi pengalaman perseptual, kultural, dan artistik (Martono, 2. Menurut Jerome Stolnitz. Mengapresiasi karya seni harus dilakukan dengan sikap yang terbuka dan tanpa prasangka atau kepentingan pribadi (Rondhi, 2. Apresiasi bukan merupakan suatu proses yang mudah dan gampang karena apresiasi sendiri merupakan suatu proses yang melibatkan kreativitas. Menjadi seorang penghayat seni perlu terus belajar serta mencari banyak pengalaman. Suatu proses apresiasi seni sering dikenal sebagai proses penghayatan seni atau kontemplasi estetik, pada dasarnya adalah sebuah bentuk kreasi estetik yaitu mengolah suatu impresi menjadi ekspresi, perolehan yang diubah menjadi sebuah curahan perasaan. Bahkan konteks apresiasi yang lebih lanjut dapat menuju ke arah kritik seni. Ricoeur . alam Indrawati, 2. berpendapat bahwa seorang penulis merupakan pembaca pertama dari sebuah karya seni sastra yang dihasilkannya kemudian diserahkan sepenuhnya kepada pembaca. Tugas memberikan sebuah penilaian terhadap karya tersebut menjadi tanggung jawab masyarakat, terutama kritikus. Meskipun hasil penilaian mungkin sesuai dengan harapan subjek pencipta, namun sering terjadinya perbedaan-perbedaan. Dari penilaian yang sama pada akhirnya akan memperoleh hasil sebuah makna tunggal, sedangkan perbedaan penilaian akan memperoleh hasil makna jamak, yang sesuai dengan proposisi poststrukturalisme tentang multikulturalisme. Kualitas estetik karya terkandung dalam bentuk penilaian terakhir, namun perlu dicatat bahwa perbedaan penilaian karya bukanlah masalah yang harus dicari melainkan merupakan interpretasi pengamat yang dihasilkan oleh karya tersebut. Banyak seniman Indonesia yang menggambarkan pengalaman pribadi mereka dalam bentuk lukisan. Salah satunya adalah Djoko Pekik, seorang seniman yang telah hidup pada masa Orde Lama, masa Orde Baru, masa Reformasi, dan masa kini. Karya-karyanya mengangkat tema kehidupan rakyat kelas bawah dan masalah dalam negeri, serta memperlihatkan nilai-nilai budaya Indonesia. Djoko Pekik menjadi terkenal sebagai seniman setelah karyanya yang berjudul Trilogi Celeng dihargai sebesar satu miliar rupiah. Karya tersebut berisi narasi tentang runtuhnya rezim Orde Baru pada masa itu. Selain Trilogi Celeng. Djoko Pekik juga menciptakan karya-karya dengan tema-tema Salah satunya adalah lukisan yang menggambarkan absurditas peradilan di Indonesia yang diwujudkan dalam lukisan berjudul Pawang Pun Kesurupan. Lukisan ini menggambarkan lembaga yang seharusnya menjadi penopang keadilan bagi rakyat juga terjerat dalam ketidakadilan. Dari lukisan ini. Djoko Pekik mendapatkan inspirasi untuk memberi judul pameran tunggalnya di Galeri Nasional Jakarta pada tanggal 10 hingga 17 Oktober 2013, yaitu Zaman Edan Kesurupan. Pameran ini menampilkan 25 lukisan dan satu karya tiga-dimensi yang merupakan kombinasi antara karya-karya lama dan baru, yang menggambarkan perjalanan panjang dan berat Djoko Pekik dalam dunia seni. Oleh karena itu, pendekatan kritik formalistik dianggap tepat untuk mengkaji karya Djoko Pekik, terutama dalam lukisan berjudul "Pawang Pun Kesurupan", karena tidak melibatkan informasi genetik dari sang pencipta. Untuk memahami karya tersebut secara visual, dapat dilihat melalui foto visualisasi berikut ini. Ada satu metode yang dapat digunakan untuk memahami makna tersirat dalam suatu karya seni dengan akurat. Metode tersebut merupakan metode dengan melalui pendekatan 2 | Volume 06. Nomor 02. Oktober 2024 Citradirga: Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Ahmad SyaiAoin. Abdul Rahman Prasetyo Analisis Formalistik Lukisan Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X kritik ilmiah terhadap suatu karya seni, terutama dalam kritik yang menggunakan pendekatan Hal ini bertujuan untuk menganalisis, menginterpretasi, dan menilai suatu karya Meskipun seorang penggemar seni dapat melakukan apresiasi suatu karya seni, akan tetapi tidak seorang penggemar seni dapat melakukan kritik seni dengan baik dan benar, di karena hal tersebut membutuhkan pengalaman serta pengetahuan seni yang luas dan lebih Pendapat tentang hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Indrawati bahwa penghayat seni memerlukan belajar serta mencari pengalaman lebih mendalam. Proses mengapresiasi seni juga dikenal sebagai proses penghayatan seni atau kontemplasi estetik, yang pada dasarnya merupakan sebuah bentuk kreasi estetik. Dalam proses ini impresi yang diperoleh diolah menjadi suatu ekspresi yang kemudian menjadi curahan perasaan. Dalam konteks apresiasi seni yang lebih mendalam, proses ini dapat berkembang menjadi kritik seni (Indrawati, 2018b, p. Kritik seni memiliki peran penting dalam mengungkap berbagai aspek-aspek dalam sebuah karya seni yang hal ini bahkan tidak disadari oleh para seniman itu sendiri. Pendapat ini sejalan dengan pandangan dasar kritikus dari pernyataan Kartika . alam Wilis et al. , 2. bahwa seorang kritikus seharusnya tidak menggunakan seni untuk menemukan sebuah pemikiran seniman, melainkan bertugas mengungkap gagasan-gagasan yang mungkin tidak disadari dari seniman tersebut. Pilihan penulis dalam mengkritik formalisme didasarkan pada sifatnya yang objektif, tanpa dipengaruhi oleh pendapat atau narasi dari seniman sebagai suatu data atau instrumen Penulis melakukan penjabaran serta penafsiran didasarkan dari data hasil observasi dan pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki di bidang kesenian, khususnya pada bidang seni lukis. Pengalaman seperti mendengarkan pendapat dari seniman memiliki peranan yang sangat penting dalam pengumpulan sebuah data. Akan tetapi dalam kritik seni sangat penting untuk menghindari sebuah kritik yang bersifat subjektif atau memihak seniman karena adanya pengaruh oleh seniman tersebut. Dalam mengkritiki menggunkan pendekatan formalistik menitikberatkan pada karya seni serta meyakini bahwa karya seni tersebut harus memiliki kemandirian (Tauriska et al. , 2. Pooke. & Whitman menyatakan bahwa karateristik formal dapat memvisualkan karakter serta perwatakan . alam Saad et al. , 2. Ghazali menyatakan bahwa analisis visual adalah studi yang mendalam dan terperinci terhadap gambar atau gambaran. Namun analisis visual bukan hanya mampu menafsirkan gambar semata (Ghazali et al. , 2. Formalisme sebenarnya adalah pendekatan yang digunakan untuk membuat, melihat, dan menafsirkan seni. Pendekatan ini memberikan perhatian khusus pada warna, bentuk tekstur, ruang, garis serta elemen desain seni seperti keseimbangan, perpaduan, harmoni, dan Melalui kajian analisis unsur formalistik, termasuk elemen dan prinsip seni, nilai estetik dapat dinilai dan berdiri sendiri sesuai dengan teori formalistik, yang berfokus pada aspek-aspek eksternal secara formal, bukan pada isi kandungan. Tujuan kritik formalistik ini untuk menjabarkan konfigurasi aspek-aspek formal dan nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan unsur pembentukan karya lukis. Sasaran kritik seni akan lebih cenderung pada unsur-unsur visual terdiri warna, garis, dan tekstur. Metode kritik seni yang digunakan berupa kritik formalistik dengan tahapan deskripsi, tahapan analisis formal, tahapan interpretasi, dan tahapan evaluasi. Hasil dari kritik formalistik ini berupa data analisis visual karya lukis dan interpretasi nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan unsur pembentukan karya lukis. Karya-karya seniman lukis Djoko Pekik menunjukkan ciri khas yang unik dalam pemilihan bentuk penggambaran karakter, dalam pemilihan warna, dan pengolahan Gaya lukisan terbentuk melalui pengalaman serta kemampuan seniman dalam mengolah objek. (Swastika, 2. Gaya ekspresionis yang divisualkan dalam lukisan-lukisan Djoko Pekik ditandai dengan menggunakan goresan kuas cat minyak yang lebar dan masih Keunikan ini menjadikan karya-karya lukisnya sangat menarik, sehingga muncul keinginan untuk lebih mempelajari aspek visual seperti komposisi, bentuk objek, dan estetika lain yang dipilih oleh seniman tersebut. Selain itu, hal ini juga mendorong untuk menggali 3 | Volume 06. Nomor 02. Oktober 2024 Citradirga: Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Ahmad SyaiAoin. Abdul Rahman Prasetyo Analisis Formalistik Lukisan Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X makna atau melakukan penafsiran terhadap aspek visual yang ditampilkan dalam karya-karya Seni rupa memiliki potensi sebagai sarana untuk menggambarkan situasi atau keadaan dan kegelisahan tentang apa yang terjadi di lingkungan sekitar (Saputra, 2. Djoko Pekik menunjukkan kepekaan yang luar biasa dalam merespons fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia mampu mengambil inspirasi dari fenomena-fenomena yang ada di luar dirinya sebagai seniman, dan mengubahnya menjadi karya seni yang unik dan berarti(Justian & Munaf, 2. Menganalisis karya-karya Djoko Pekik, membuat penulis sadar akan adanya aspek-aspek kehidupan sosial yang kelam. Kehidupan dalam sebuah masyarakat adalah keaadaan realitas sebagai rangsangan atau kreativitas yang dihadapi langsung oleh seniman (Indrawati, 2. Gambar 1. AuDjoko Pekik. Pawang Pun Kesurupan . : kanvas cat minyak, 150 x 2. 000 cmAy (Sumber: silviagalikano. Apabila melihat lukisan Djoko Pekik di atas, tahap awal dalam memulai kritik formalistik adalah melakukan deskripsi terhadap objek yang terdapat dalam lukisan tersebut. Terdapat beberapa aturan yang harus diikuti dalam struktur kritik formalistik untuk menjelaskan deskripsi tersebut. Joseph Derracot . alam Indrawati, 2. menegaskan bahwa fokus utama dari pemapaparan kritik dengan cara deskriptif yaitu objek dalam sebuah karya sebagai pusat perhatian. Penafsiran unsur bukanlah persoalan yang paling penting dalam pemapaparan deskriptif. Dalam pempaparan deskriptif juga menjelaskan tantang tema karya, judul karya, serta unsur yang menjelaskan tema karya dan judul karya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada tahap deskripsi merupakan suatu langkah penting dalam proses sebuah inventarisasi, di mana kita mencatat dengan cermat dari apa yang terlihat pada sebuah karya tersebut. Pada tahapan ini sebaiknya kita menghindari membuat kesimpulan berdasarkan gambar yang terlihat. Selain itu, judul juga sebaiknya tidak dijadikan acuan utama, karena terkadang judul karya tidak selalu relevan dengan apa yang divisualisasikan dalam karya tersebut. Tahapan deskripsi ini seharusnya dapat memberi informasi yang jelas mengenai sebuah inventarisasi dari apa yang tampak pada karya tersebut, termasuk teknik yang digunakan atau deskripsi mengenai proses pembuatan karya tersebut. METODE Metode yang diterapkan merupakan metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif ialah sebuah metode yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang fenomena yang diteliti. Tidak melibatkan perbandingan antara variabel, melainkan fokus pada pemahaman nilai variabel mandiri (Sugiyono, 2. Dengan pendekatan deskriptif analitik digunakan untuk mendapatkan suatu data yang lebih spesifik dan lebih mendalam. Pendekatan kritik formalistik menggunakan analisis pada unsur-unsur serta prinsip seni sebagai acuan untuk mengkaji lukisan Djoko berjudul Pawang Pun Kesurupan. Selain itu data 4 | Volume 06. Nomor 02. Oktober 2024 Citradirga: Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Ahmad SyaiAoin. Abdul Rahman Prasetyo Analisis Formalistik Lukisan Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X tambahan yang digunakan berupa buku-buku, jurnal penelitian, artikel penelitian, dan lain Teknik pengumpulan data yang diterapkan merupakan observasi serta Berdasarkan fakta yang diperoleh dari sebuah hasil pengamatan (Sugiyono. Observasi diterapkan dengan cara melihat serta menganalisis lukisan Djoko Pekik "Pawang Pun Kesurupan . Sedangkan dokumentasi dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan tulisan dan gambar (Sugiyono, 2. Sudut pandang tinjauan formalistik digunakan untuk membahas suatu karya dari segi bentuk seperti keseimbangan, kesatuan, irama, penekanan, gradasi, dan kesebandingan. Sudut pandang ini memungkinkan untuk menganalisis elemen-elemen visual yang ada dalam sebuah karya seni. Dengan memperhatikan aspek-aspek formal dapat memahami bagaimana elemen-elemen tersebut saling berinteraksi dan menciptakan keselarasan visual yang harmonis. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi terhadap Luksian Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan Tampak 3 sosok objek manusia . eperti laki-lak. tampak sedang duduk dikursinya masing-masing. Sosok objek manusia yang duduk di kursi sebelah kiri tampak mengangkat kedua tangannya dengan tangan kanannya memengan objek hewan . eperti seekor tiku. Sosok objek manusia yang duduk dikursi bagian tengah tampak mengangkat satu tangannya yang sedang memegang objek hewan . eperti seekor tiku. Sosok objek manusia yang duduk dikursi sebelah kanan sedang memangku sosok objek manusia . eperti perempua. dengan berpegangan tangan dan saling berhadapan. Tampak 2 sosok objek manusia yang duduk pada sebelah kanan sedang memperhatikan 3 sosok objek manusia disebelah kirinya. Tampak 20 sosok objek seperti manusia yang duduk di belakang. 3 sosok objek manusia . eperti penari, seperti 2 perempuan dan 1 laki-lak. yang yang menunggangi objek benda . eperti kuda lumpin. 1 sosok objek manusia . eperti penari, seperti perempua. dibagian sebelah kiri tampak sedang duduk. 1 sosok objek manusia . eperti penari, seperti laki-lak. dibagian tengah tampak sedang memakan objek benda . eperti bara ap. 1 sosok objek manusia . eperti penari, seperti perempua. dibagian sebelah kanan tampak sedang makan objek hewan . eperti ayam hidu. 1 sosok objek manusia dibagian kiri depan tampak sedang makan objek hewan . eperti burung hidu. Tampak dari ke 3 sosok objek manusia . eperti penar. yang menunggangi objek benda . eperti kuda lumpin. , objek manusia . eperti penar. pada bagian tengah dan sebelah kanan tampak membawa objek benda . eperti pecu. Pada bagian belakang atas tampak seperti lahan yang luas. Pada sebelah kiri atas tampak 3 sosok objek manusia . eperti petan. sedang bekerja. Pada sebelah kanan atas tampak seperti bangunan pabrik yang mengeluarkan seperti asap polusi. Analisis Formal terhadap Luksian Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan Shape pada lukisan Djoko Pekik terbentuk oleh penggambaran figur yang dibuat dengan jelas. Figur pada luksian tidak dibentuk oleh kontur serta garis, akan tetapi pengulangan shape pada lukisan terjadi dengan perbedaan warna yang digunakan. Dalam karya lukis ini, objek utama yang berupa seekor buaya diwujudkan dengan bentuk-bentuk figur tergambar dengan jelas dalam bentuk bidang datar dua dimensi. Namun, kesan garis tidak diwujudkan langsung dalam bentuk unsur garis melainkan dengan cara melalui perbedaan warna yang pada lukisan atau disebut dengan garis struktural. Pada karya lukis Djoko Pekik ini tampak kontras dan tajam dalam penggambarannya meskipun tanpa menggunakan unsur garis nyata pada lukisan, karena objek utama diberi value shade dan background diberi value Objek yang tampak tajam tersebut menjadi pusat perhatian pada lukisan atau point of interest yang menjadi sentral karya lukisan Djoko Pekik. Garis yang terdapat pada lukisan bukanlah garis linier yang tampak nyata melainkan sebuah garis struktural yang semu, yang terjadi karena adanya perbedaan warna dari objek yang dilukis. Lukisan karya Djoko Pekik menampilkan sebuah goresan-goresan dari kuas yang sangat ekspresif dengan penggunaan tone warna yang sangat dominan pada value shade, sehingga memberikan kesan merana 5 | Volume 06. Nomor 02. Oktober 2024 Citradirga: Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Ahmad SyaiAoin. Abdul Rahman Prasetyo Analisis Formalistik Lukisan Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X yang sangat kuat pada lukisan. Figur yang digambar sentral yang selalu menonjol dalam lukisan ini, ditambah dengan penggunaan hiperbola yang membuatnya terlihat besar dari proporsi normalnya yang membuat lukisan ini menjadi sangat terfokus pada objek dalam satu Selain itu pada penataan figur tambahan yang dibuat secara masif namun tampak tidak terlalu terlihat tajam dan detail, juga membantu mempertahankan fokus pada figur utama dan tidak membuat kesan lukisan terlalu mendalam. Lukisan ini menunjukkan adanya tekstur yang terkesan kasar. Namun pada tekstur lukisan tersebut bukanlah tekstur nyata melainkan hanya tekstur semu yang dihasilkan dari sebuah teknik sapuan kuas yang diaplikasikan pada lukisan Pemusatan keseimbangan dalam lukisan ini juga didukung oleh objek utama yang ditempatkan pada bagian tengah media. Proporsi yang divisualkan antara objek dan luas media tampak terlihat seimbang karena objek-objek yang dilukis merupakan objek yang tidak terlalu besar maupun kecil, sehingga pada lukisan masih terdapat ruang kosong yang dapat diisi dengan background pendukung pada latar tempat. Kesan komposisi yang disusun memusat makin diperkuat dengan cara pemanfaatan yang penuh pada objek. Warna yang digunakan dalam lukisan tersebut adalah perpaduan dari warna hijau, coklat, merah, abu-abu, hitam dengan jingga. Tetapi didominasi warna merah, jingga, coklat dan hijau. Interpretasi terhadap Luksian Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan Langkah berikutnya dalam mengkritik formalistik suatu karya seni ialah tahapan Tahap ini bertujuan untuk mengungkapkan makna sebuah karya dengan cara melalui suatu penyelidikan. Kritikus tidaklah tertarik menemukan kesesuaian ide dengan persepsi pandangan dari seniman atau mencari tahu sesuatu yang dipikirkan dari seniman. Sebaliknya kritikus menyelidiki bahwa suatu objek seni memiliki sebuah beban ide yang mungkin tidak disadari oleh seniman (Indrawati, 2018b, p. Tampak 3 orang hakim sedang duduk dikursinya masing-masing. Menggambarkan manusia yang memiliki kekuasaan. Hakim sebelah kiri mengangkat kedua tangannya dengan tangan kanannya memengan seekor tikus. Menggambarkan sifat manusai saat memiliki keuasaan menjadi rakus dan tamak. Hakim di tengah mengangkat satu tangannya yang sedang memegang seekor tikus. Menggambarkan sifat manusia saat memiliki kekuasaan menjadi rakus. Hakim sebelah kanan sedang memangku seorang perempuan dengan berpegangan tangan dan saling berhadapan. Menggambarkan sifat manusia saat memiliki kekuasaan menyalahgunakan wewenangnya. Tampak 2 orang pengacara sedang memperhatikan sang hakim. Menggambarkan manusia yang diam seolah tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Tampak 20 orang yang duduk di belakang hakim dan pengacara. Menggambarkan manusia yang bersekongkol dalam kekuasaan. 3 orang penari yang yang menunggangi kuda lumping. Menggambarkan sebuah tontonan atas peristiwa dari orang yang menyalahgunakan kekuasaannya. 1 orang penari dibagian sebelah kiri sedang duduk. Menggambarkan keterlibatan oknum dalam meperlancar aksi. 1 orang penari dibagian tengan sedang memakan bara api. Menggambarkan sifat manusai yang kehilangan kewarasannya akan kekuasaan apa yang tampak menarik baginya. 1 orang penari dibagian sebelah kanan sedang makan ayam hidup. Menggambarkan orang yang sudah hilang akal sehatnya. 1 orang hakim dibagian kiri depan sedang makan burung hidup. Menggambarkan sifat manusia gila dan rakus akan kekuasaan. Tampak dari ke 3 orang penari yang menunggangi kuda lumping, penari tengah dan sebelah kanan membawa pecut. Menggambarkan politik yang digunakan dalam kekuasaan. Pada bagian belakang atas tampak lahan yang luas. Menggambarkan oligarki dari kekuasaan yang menyita hak-hak rakyat. Pada sebelah kiri atas tampak 3 orang petani sedang bekerja. Menggambarkan rakyat yang menderita atas peyalahgunaan orang yang berkuasa. Pada sebelah kanan atas tampak bangunan pablik yang mengeluarkan asap Menggambarkan orang yang berkuasa yang ingin untung atas penderitaan orang lain. 6 | Volume 06. Nomor 02. Oktober 2024 Citradirga: Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Ahmad SyaiAoin. Abdul Rahman Prasetyo Analisis Formalistik Lukisan Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Evaluasi terhadap Luksian Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan Gambar 2. AuDjoko Pekik. Berburu Celeng . : kanvas cat minyak, 300 x 500 cmAy (Sumber: jawapos. Dalam kritik formalistik tahapan evaluasi pada karya Djoko Pekik berjudul Pawang Pun Kesurupan akan dilakukan perbandingan dengan karya-karya sebelumnya. Jika dibandingkan dengan karyanya Berburu Celeng pada tahun 1998, terlihat beberapa perubahan dari aspek visual yang terdapat pada kaya Djoko Pekik. Penggunan anatomi tubuh objek manusia pada karya Berburu Celeng dibuat lebih kontras dengan cara menggunakan cat hitam sebagai garis outline pada bagian-bagian tertentu sehingga tampak terlihat tajam. Sedangkan pada karya lukisan Pawang Pun Kesurupan penggunaan garis outline dikurangi dan cenderung mengandalkan pada perbedaan warna yang digunakan sebagai pembatas sehingga terciptanya garis semu pada objek yang di gambar. Selain itu pada penggambaran figur manusia yang terdapat dilukisan Berburu Celeng tampak terlihat lebih ekspresif dari penggayaan seluruh pose badan. Sedangkan karya Pawang Pun Kesurupan penggambaran figur manusia hampir semua sama. Namun tetap terdapat beberapa aspek-aspek yang tetap sama berupa pemilihan sebuah warna serta sentuhan kebudayaan Indonesia terdapat pada karya Berburu Celeng. Sejumlah objek manusia yang terdapat dalam karya tersebut juga ada sentuhan seni budaya Indonesia semacam ada topeng dan tarian daerah. Ketika memperhatikan karya-karya Djoko Pekik sebelumnya dengan karya yang sedang dianalisis kedua karya tersebut masing masing memiliki tone warna yang tampak cukup serupa akan tetepi terdapat perbedaan yang terletak pada suhu warna. Karya Berburu Celeng memiliki kesan suhu warna yang dingin dibandingkan dengan karya Pawang Pun Kesurupan yang terkesan lebih hangat. Ide serta gagasan yang diterapkan pada karya Djoko Pekik masih tetap konsisten, tanpa adanya sebuah perubahan dari apa yang dapat diamati. Karya Djoko Pekik masih mengusung serta mengangkat tematema yang sama, yaitu mengkritisi persoalan tentang pemerintahan. Selain itu, terdapat persamaan lainnya, yaitu adanya jenis objek manusia yang dilukiskan secara masif dan berkumpul dalam kedua karya tersebut. KESIMPULAN Dalam upaya mengkritisi karya Djoko Pekik yang berjudul Pawang Pun Kesurupan, pendekatan kritik formalistik diterapkan untuk menghasilkan sebuah aspek hasil penelitian yang telah dijabarkan pada tahapan evaluasi. Penulis memperoleh sebuah data kesimpulan dari proses membandingkan karya Djoko Pekik yang dikritik dengan karya lain Djoko Pekik yang sejenis. Dengan melalui tahapan evaluasi dapat diketahui bahwa Djoko Pekik serta karyanya pada tahun 2012 masih tetap konsisten dalam merespon sebuah fenomena atau tagedi sosial serta politik Indonesia yang telah Djoko Pekik digaungkan sejak pada masa orde Djoko Pekik juga masih tetap konsisten dalam menggunakan objek-objek yang masif yaitu kerumunan dari sebuah figur manusia dalam karyanya. Selain itu Djoko Pekik masih 7 | Volume 06. Nomor 02. Oktober 2024 Citradirga: Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Ahmad SyaiAoin. Abdul Rahman Prasetyo Analisis Formalistik Lukisan Djoko Pekik Berjudul Pawang Pun Kesurupan ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X tetap konsisten dalam memotret keadaan atau suasana pilu serta gerakan perjuangan masyarakat-masyarakat kecil kalangan bawah. Ditemukan pada lukisan terdapat konsistensi Djoko Peki terhadap gaya lukis yang digunakan yaitu berupa gaya ekspresif dengan menggunakan ciri khas sapuan basah yang tampak lebar menggunakan cat minyak. Konsistensi juga diperlihatkan Djoko Pekik dalam memasukkan sebuah aspek kebudayaan tradisional yang bersifat kedaerahan. Terdapat suatu transformasi Djojo Pekik dari aspek visual yang terdapat dalam karya seni lukisnya seperti yang tampak pada karya Djoko Pekik tahun 2012 Pawang Pun Kesurupan sudah tidak menggunakan kesan-kesan shading pada objek-objek yang kuat atau garis outline berupa garis nyata melainkan dalam karyanya penggunaan outlining Djoko Pekik beralih menjadi garis semu. Penerapan tone warna yang digunakan pada karya lukisnya juga masih tergolong sama dan tidak ada perubahan akan tetapi ada perbedaan terdapat pada temperature warna yang diterapkan. DAFTAR RUJUKAN Ghazali. Azura. Yahya. Akmar. Ahmad. , & Zainon. Perpaduan dalam Seni Lukis Kartun: Analisis Semiotik Unity In Cartoon Drawings: A Semiotic Analysis. Indrawati. Pemetaan Sejarah Perkembangan Seni rupa modern dan seni rupa kontemporer Di kota malang. Seminar Nasional Seni Dan Desain: AuMembangun Tradisi Inovasi Melalui Riset Berbasis Praktik Seni Dan DesainAy FBS Unesa. Indrawati. Mempersoalkan Figur-Figur Dalam Karya Gunawan Bagea. Imajinasi. Indrawati. Mempersoalkan Figur-Figur dalam Karya Gunawan Bagea. Imajinasi. Justian. , & Munaf. Eksistensi Jangkoi dalam Karya Seni Grafis. Gorga Jurnal Seni Rupa. Rondhi. Apresiasi Seni dalam Konteks Pendidikan Seni. Jurnal Imajinasi. Ondira Asa. Kehidupan Surau di Minangkabau Sebagai Inspirasi dalam Karya Seni Lukis. Gorga Jurnal Seni Rupa. Martono. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP UNTIRTA. Saad. Mohd Adnan. Azahar Harun &. Mohd. , & Abstrak. Analisis Formalistik dalam Kartun Politik Zunar Formalistic Analysis in Zunar Political Cartoons. International Journal of the Malay World and Civilisation. Saputra. Konflik Sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis Program Studi Seni Rupa Murni Jurusan Seni Murni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sugiyono. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif. R&D. Bandung: Alfabeta. Swastika. Komposisi Warna dalam Bidang Sebagai Ekspresi Penciptaan Karya Seni Lukis Jurnal Penciptaan Karya Seni Program Studi Seni Rupa Murni. Tauriska. Sumarwahyudi. , & Anggraini. Kritik Holistik pada Lukisan Paranoid Karya Gatot Pujiarto Tahun 2021. JoLLA: Journal of Language. Literature, and Arts, 2. , 765Ae781. Wilis. Ayuningtari. , & Seni. A Formalism Critique Of Djoko PekikAos Paintings Entitled Go To Hell Crocodile. JURNAL PAKARENA, 7. 8 | Volume 06. Nomor 02. Oktober 2024