Infotekmesin Vol. No. Juli 2025 p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 DOI: 10. 35970/infotekmesin. 2483, pp. Pengaruh Komposisi Bahan Baku dan Kadar Perekat Tepung Tapioka Terhadap Kualitas Briket dari Campuran Daun Ketapang dan Tempurung Kelapa Hanan Izdihar Rashif Hunsa1. Rosita Dwityaningsih2*. Ilma Fadlilah3. Zhilal Shadiq4. Sari Sekar Ningrum5 1Program Studi DIV Teknik Pengendalian Pencemaran Lingkungan. Politeknik Negeri Cilacap 2,3,4,5Program Studi DIV Teknologi Rekayasa Kimia Industri. Politeknik Negeri Cilacap 1,2,3,4,5Jln. Dr. Soetomo No. 1 Karangcengis Sidakaya. Kabupaten Cilacap, 53212. Indonesia E-mail: hirhusna@gmail. com1, rosita. dwityaningsih@pnc. id2, ilma. fadlilah@pnc. id3, zhilalshadiq@pnc. sarisekarningrum@pnc. Abstrak Info Naskah: Naskah masuk: 10 Oktober 2024 Direvisi: 6 Desember 2024 Diterima: 16 Desember 2024 Daun ketapang merupakan contoh biomassa yang dapat dimanfaatkan menjadi Namun, daun ketapang menghasilkan nilai kalor yang rendah sehingga membutuhkan bahan tambahan untuk meningkatkan nilai kalor, salah satunya adalah tempurung kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana variasi komposisi bahan baku dan kadar perekat tepung tapioka memengaruhi kualitas briket pada parameter nilai kalor, kadar air, kadar abu, zat mudah menguap, kadar karbon tetap dan densitas. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini melibatkan pencampuran arang daun ketapang dan arang tempurung kelapa, lalu ditambahkan perekat berupa tepung tapioka. Hasil studi menunjukkan bahwa semua briket yang diuji sudah memenuhi standar SNI 8966-2021 kecuali pada parameter densitas. Kesimpulan dari studi tersebut adalah semakin banyak komposisi bahan baku briket dan semakin rendah kadar perekat tepung tapioka maka kualitas briket akan semakin Briket campuran yang menghasilkan kualitas terbaik adalah pada komposisi 20% arang daun ketapang : 80% arang tempurung kelapa. Perekat tepung tapioka yang menghasilkan kualitas briket terbaik adalah pada persentase 5%. Abstract Keywords: coconut shell. ketapang leaves. Ketapang leaves are an example of biomass that can be used to make briquettes. However, ketapang leaves produce low calorific value so they require additional ingredients to increase the calorific value, one of which is coconut shell. This research aims to evaluate how variations in raw material composition and adhesive content of tapioca flour affect the quality of briquettes on the parameters of calorific value, water content, ash content, volatile substances, fixed carbon content and The method applied in this research involved mixing ketapang leaf charcoal and coconut shell charcoal, then adding adhesive in the form of tapioca flour. The study results showed that all the briquettes tested met SNI 8966-2021 standards except for the density parameter. The conclusion of this study is that the greater the composition of the briquette raw materials and the lower the adhesive content of tapioca flour, the better the quality of the briquettes. The mixed briquettes that produce the best quality are the composition of 20% Ketapang leaf charcoal: 80% coconut shell charcoal. The tapioca flour adhesive that produces the best quality briquettes is at a percentage of 5%. *Penulis korespondensi: Rosita Dwityaningsih E-mail: rosita. dwityaningsih@pnc. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Pendahuluan Penggunaan menyebabkan kelangkaan bahan bakar. Selain hal tersebut, adanya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2022 Tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik mendorong pengembangan bahan bakar alternatif yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui dan digunakan Biomassa adalah salah satu jenis energi terbarukan yang dapat digunakan sebagai pengganti batubara. Briket adalah contoh biomassa yang dapat digunakan sebagai bahan bakar tambahan . Briket merupakan sumber energi berbentuk blok bahan yang digunakan sebagai sumber energi serta untuk menjaga nyala api yang terbuat dari bahan baku yang mudah ditemukan . Contoh bahan baku yang dapat digunakan dalam pembuatan briket adalah daun ketapang dan tempurung kelapa. Kedua bahan ini merupakan limbah organik yang sering dijumpai di pantai dan di sekitar Daun ketapang kering biasanya hanya dibakar untuk mengatasi masalah penumpukan limbah daun kering dan menimbulkan polusi. Daun ketapang mengandung 16,6% selulosa, 24,7% hemiselulosa dan 43,46% lignin . yang berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan baku briket. Penelitian mengenai pemanfaatan daun ketapang kering sebagai bahan baku briket sebelumnya telah dilakukan oleh . dengan bahan perekat tepung tapioka 10% menghasilkan nilai kalor sebesar 4552 kal/g atau 19,05 MJ/kg. Nilai kalor dari briket dengan bahan baku daun ketapang kering telah memenuhi syarat SNI 8966-2021 namun belum masuk dalam kategori kelas satu sehingga membutuhkan bahan tambahan yang dapat membantu menaikan nilai kalor briket salah satunya adalah tempurung Penggunaan tempurung kelapa sebagai bahan tambahan dalam pembuatan briket yaitu untuk menaikkan nilai kalor dalam briket. Tempurung kelapa sendiri memiliki kalor sebesar 6. 600 kal/g . Briket yang dibuat membutuhkan perekat salah satunya adalah tepung tapioka. Perekat tepung tapioka memiliki daya rekat yang tinggi dan tahan lama serta menghasilkan briket dengan kandungan kadar air dan kadar abu yang rendah sehingga dapat meningkatkan kualitas dari briket itu sendiri . Penelitian mengenai pemanfaatan tepung tapioka sebagai perekat sebelumnya telah dilakukan oleh . dimana briket yang diuji menggunakan campuran perekat tepung tapioka dengan kadar 5%, 7% dan 9%. Briket dengan perekat tepung tapioka 7% memiliki nilai kalor tertinggi yaitu 7652,64 kal/g atau 32,04 MJ/kg. Briket dengan kualitas yang baik memiliki nilai kalor, kadar karbon tetap dan densitas yang tinggi akan tetapi memiliki kadar air, kadar abu, dan zat mudah menguap yang rendah sesuai SNI 8966-2021 tentang bahan bakar jumputan padat untuk pembangkit listrik yang dapat dilihat pada tabel 1 yang merupakan syarat mutu bahan bakar jumputan. Tabel 1. Syarat mutu bahan bakar jumputan SNI 8966-2021 Parameter Satuan Nilai Kalor MJ/kg Kadar Air Kadar Abu Kadar Zat Mudah Menguap Kadar Karbon Tetap Densitas %-berat %-berat %-berat, %-berat g/cm3 Ou2 <15 <15 Kelas Ou1 Ou1 <20 <25 <20 <25 >15 >10 Metode Alat dan Bahan Alat yang diperlukan untuk penelitian ini alat pirolisis, neraca analitik merk Shimadzu, grinder, ayakan 60 mesh, alat pencetak briket, oven merek Memmert. Desikator merek Duran, bomb calorimeter merek IKA C 3000, furnace merek Nabertherm, dan jangka sorong. Bahan yang diterapkan dalam penelitian ini meliputi daun ketapang kering, tempurung kelapa dan tepung tapioka. Untuk limbah daun ketapang kering diperoleh dari Pantai Teluk Penyu Cilacap. Limbah tempurung kelapa diperoleh dari pedagang kelapa parut di Pasar Tanjung Kabupaten Cilacap. Tepung tapioka diperoleh di pedagang penjual bahan makanan. Prosedur penelitian Pembuatan briket terdiri atas beberapa tahap yaitu persiapan bahan baku, pengarangan, penghalusan arang, pengayakan menggunakan ayakan 60 mesh, pencampuran, pencetakan, pengeringan, dan pengujian kualitas briket. Pengarangan bahan baku menggunakan metode karbonisasi Untuk pengarangan daun ketapang kering dilakukan dengan suhu 250EE selama 2 jam dan untuk pengarangan tempurung kelapa dilakukan dengan suhu 300EE selama 3 jam. Setelah proses pengarangan briket dibuat dengan dua variasi. Pada variasi pertama yaitu variasi komposisi bahan baku pembentuk briket arang daun ketapang kering dan arang tempurung kelapa dicampur dengan rasio perbandingan arang daun ketapang kering: arang tempurung kelapa yaitu 0%:100%, 20%:80%, 50%:50%, 80%:20%, dan 100%:0%. Kedua bahan tersebut dicampur dengan berat total 100 gram kemudian ditambahkan perekat tepung tapioka 7 gram. Variasi kedua yaitu variasi kadar perekat yang digunakan. Arang daun ketapang dan arang tempurung kelapa dicampur dengan rasio perbandingan kelapa yaitu 50%:50% dengan berat total 100 gram kemudian ditambahkan perekat tepung tapioka dengan persentase 5%, 7% dan 9%. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Briket yang telah terbentuk kemudian dianalisis parameter kualitas briket sesuai SNI 8966-2021 tentang bahan bakar jumputan padat untuk pembangkit listrik. Prosedur penelitian pembuatan briket dapat dilihat pada Gambar 1. Persiapan alat dan bahan Penjemuran daun ketapang kering dan tempurung kelapa selama satu minggu Proses karbonisasi menggunakan suhu 250EE selama 2 jam untuk daun ketapang kering dan 300EE selama 3 jam untuk tempurung kelapa Proses penghalusan dan pengayakan ADK dan ATK dengan ukuran 60 mesh Pencampuran briket dengan komposisi arang 0%:100%, 20%:80%, 50%:50%, 80%:20%, 100%:0% dan dengan variasi perekat 5%, 7% dan 9% tepung tapioka Pengujian Kadar Abu dan Zat Mudah Menguap Uji kadar abu dilakukan dengan menimbang 2 gram sampel briket ke dalam krus yang telah diketahui bobotnya. Kemudian sampel briket diabukan menggunakan furnace dengan suhu 900EE selama 2 jam. Apabila semua sampel telah mengabu, krus beserta isinya didinginkan dalam desikator dan ditimbang berat akhirnya. Perhitungan kadar abu briket dapat dilihat pada persamaan . Kadar abu (%) = = x 100% Dimana: W1 = Sisa pijar . W2 = Berat sampel . Pengujian kadar zat mudah menguap dilakukan dengan menimbang 2 gram sampel briket ke dalam krus yang sudah diketahui bobotnya, kemudian meletakkan krus lain diatas krus tersebut, sehingga sampel briket berada diantara kedua krus itu. Kemudian krus dan sampel briket dipanaskan sampai suhu 950EE dalam furnace. Selanjutnya krus dan isinya dibiarkan dingin dan dikeluarkan kemudian didinginkan dalam desikator. Setelah itu krus beserta isinya ditimbang menggunakan neraca analitik. Perhitungan zat mudah menguap dapat dilihat pada persamaan . Kadar zat mudah menguap (%) = Proses pencetakan adonan briket dengan alat cetak Briket dikeringkan dalam oven selama satu jam pada suhu 105EE Pengujian briket dengan parameter nilai kalor, kadar air, kadar abu, kadar zat mudah menguap, kadar karbon tetap dan densitas sesuai SNI 8966-2021 Gambar 1. Prosedur penelitian pembuatan briket Pengujian Kualitas Briket Pengujian Nilai Kalor dan Kadar Air Alat bomb calorimeter IKA C 3000 digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang terkandung dalam briket dan menentukan kualitas briket sebagai bahan bakar. Uji kadar air dilakukan dengan menimbang 5 gram sampel dalam cawan porselen yang telah diketahui berat kosongnya. sampel dikeringkan selama 3 jam dalam oven pada suhu 105EE. Dinginkan selama 15 menit dalam desikator dan ditimbang sampai tetap. Perhitungan kadar air briket dapat dilihat melalui persamaan . Kadar Air (%) = x 100% . x 100% . Dimana: W1 = Berat sampel awal . W2 = Berat sampel akhir . Pengujian Kadar Karbon Tetap dan Densitas Pengujian kadar karbon tetap melalui pengurangan 100% terhadap kadar zat mudah menguap dan kadar abu. Perhitungan kadar karbon tetap briket dapat dilihat pada persamaan . Kadar karbon tetap (%) = 100 Ae (A B) . Dimana: A = Kadar zat mudah menguap (%) B = Kadar abu (%) Pengujian densitas dilakukan dengan menimbang massa briket dengan menggunakan neraca analitik. Kemudian panjang, lebar dan tinggi briket diukur menggunakan jangka sorong untuk mengetahui volume Hasil pengujian dicatat kemudian dimasukkan ke dalam rumus perhitungan densitas yang dapat dilihat pada persamaan . Dimana: A : Densitas . /cm. M : Massa briket . V : Volume Briket . p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Pengaruh variasi komposisi bahan baku terhadap kualitas briket Bahan baku yang digunakan untuk membuat briket adalah salah satu komponen yang mempengaruhi Dalam penelitian ini menggunakan lima sampel briket dengan komposisi bahan baku yang berbeda serta menggunakan perekat tepung tapioka dengan kadar persentase 7% dari 100 gram arang bahan baku yang Hasil studi tentang hubungan antara komposisi bahan baku yang berbeda dan kualitas briket yang disesuaikan dengan SNI 8966-2021 dapat dilihat pada Tabel Tabel 2. Pengaruh variasi komposisi bahan baku terhadap kualitas Perbandingan Arang Daun Ketapang (ADK): Arang Tempurung Kelapa (ATK) Parameter Nilai Kalor (MJ/k. Kadar Air (%) Kadar Abu (%) Kadar Zat Mudah Menguap (%) Kadar Karbon Tetap (%) Densitas . /cm. ADK: ATK ADK: ATK ADK: ATK ADK: ATK ADK: ATK 23,13 5,14 6,91 7,79 1,17 6,62 14,49 32,47 39,26 72,23 62,83 56,38 46,25 0,77 0,73 0,75 0,64 0,54 1 Pengaruh variasi komposisi bahan baku terhadap nilai kalor briket Komposisi bahan baku yang digunakan untuk membuat briket mempengaruhi nilai kalor briket. Nilai kalor yang lebih tinggi pada briket menunjukkan bahwa bahan baku tersebut memiliki kualitas yang lebih baik . Nilai kalor yang dihasilkan dari produk briket diharapkan setinggi mungkin dan memenuhi standar SNI 8966-2021 agar saat dibakar, briket dengan nilai kalor tinggi akan mengeluarkan banyak panas, diperlihat pada Gambar 2. Briket dengan komposisi campuran 20%:80% (ADK:ATK) memiliki nilai kalor tertinggi dibandingkan dengan briket dengan komposisi campuran lain yaitu sebesar 26 MJ/kg. Briket dengan campuran 0%:100% (ADK:ATK) dan 100%:0% (ADK:ATK) dijadikan sebagai rujukan nilai kalor briket dari arang daun ketapang dan arang tempurung Dimana, briket yang terbuat dari 100% arang tempurung kelapa memiliki nilai kalor 28 MJ/kg dan memenuhi standar SNI 8966-2021 kategori kelas 1 sedangkan briket dengan komposisi 100% arang daun ketapang menghasilkan nilai kalor sebesar 19 MJ/kg. Nilai Kalor (MJ/k. Hasil dan Pembahasan Briket pada penelitian ini menggunakan bahan baku arang daun ketapang (ADK) dan arang tempurung kelapa (ATK) dengan perekat tepung tapioka. Terdapat dua variasi briket yang diteliti yaitu variasi komposisi bahan baku dan variasi kadar perekat. 0% : 100% 20% : 80% 50% : 50% 80% : 20% 100% : 0% ADK : ADK : ADK : ADK : ADK : ATK ATK ATK ATK ATK Sampel Gambar 2. Grafik pengaruh variasi komposisi bahan baku pada nilai Menambahkan arang tempurung kelapa ke dalam campuran briket akan meningkatkan nilai kalornya. Hal ini terjadi sebab arang tempurung kelapa memiliki nilai kalor yang lebih tinggi daripada arang daun ketapang. Kelima sampel briket variasi komposisi bahan baku tersebut telah memenuhi SNI 8966-2021 parameter nilai kalor kategori kelas 1 kecuali pada sampel briket dengan komposisi 100% ADK: 0% ATK tergolong kategori kelas 2. 2 Pengaruh variasi komposisi bahan baku terhadap kadar air briket Briket dengan kadar air tinggi akan sulit terbakar dan menghasilkan banyak asap sehingga mempengaruhi nialor kalor briket tersebut . , hasilnay diperlihatkan pada Gmabr Kadar Air (%) 0% : 20% : 50% : 80% : 100% : ADK : ADK : ADK : ADK : ADK : ATK ATK ATK ATK ATK Sampel Gambar 3. Grafik pengaruh variasi komposisi bahan baku pada kadar air Penambahan arang tempurung kelapa pada briket campuran dapat menurunkan kadar air briket tersebut. Hal ini terjadi sebab arang tempurung kelapa mengandung kadar air lebih rendah daripada arang daun ketapang. Briket dengan campuran 0%:100% (ADK:ATK) dan 100%:0% (ADK:ATK) merupakan acuan kadar air briket arang daun ketapang dan arang tempurung kelapa. Dimana, briket dengan komposisi 100% arang tempurung kelapa menghasilkan kadar air 5% sedangkan briket dengan komposisi 100% arang daun ketapang menghasilkan kadar air 7,79%. Briket dengan komposisi campuran yang memiliki kadar air terendah terdapat pada perbandingan 20%:80% (ADK:ATK). Melalui gambar 2 dapat diketahui bahwa kelima sampel briket variasi komposisi bahan baku tersebut telah memenuhi SNI 8966-2021 parameter kadar air kategori kelas 1. 3 Pengaruh variasi komposisi bahan baku terhadap kadar abu briket Uji kadar abu briket digunakan untuk mengetahui jumlah bagian yang belum terbakar. Jumlah bahan anorganik pada bahan baku mempengaruhi kadar abu . 0% : 20% : 50% : 80% : 100% : 100% 80% ADK : ADK : ADK : ADK : ADK : ATK ATK ATK ATK ATK Sampel Gambar 5. Grafik pengaruh variasi komposisi bahan baku pada kadar zat mudah menguap 0% : ADK : ATK 20% : ADK : ATK 50% : ADK : ATK 80% : ADK : ATK 100% : ADK : ATK Sampel Gambar 4. Grafik pengaruh variasi komposisi bahan baku pada kadar abu Melalui gambar 4 diketahui bahwa briket kelima sampel briket tersebut telah memenuhi SNI 8966-2021 parameter kadar abu kategori kelas 1 yaitu kadar abu yang terdapat pada briket harus kurang dari 15%. DImana, briket dengan komposisi 0%:100% dan 100%: 0% (ADK:ATK) dijadikan sebagai rujukan untuk mengetahui kadar abu dari briket arang daun ketapang dan arang tempurung kelapa. Briket yang terbuat 100% arang tempurung kelapa menghasilkan kadar abu sebesar 1,17% sedangkan briket yang terbuat dari 100% arang daun ketapang menghasilkan kadar abu sebesar 14,49%. Kadar abu paling rendah pada briket campuran ditunjukan oleh sampel dengan komposisi 20%:80% (ADK:ATK) sebesar 4,7%. Hal ini menunjukkan bahwa menambahkan arang tempurung kelapa dalam briket campuran akan mengurangi jumlah abu yang ada di 4 Pengaruh variasi komposisi bahan baku terhadap kadar zat mudah menguap briket Komposisi bahan baku dalam briket mempengaruhi tingkat kadar zat mudah menguap. Briket yang berkualitas baik biasanya memiliki kadar zat mudah menguap yang rendah, seperti pada Gambar 5. Parameter kadar zat mudah menguap kategori kelas 1 yang ditetapkan oleh SNI 8966-2021 telah dipenuhi oleh kelima sampel briket yang terdiri dari campuran arang daun ketapang dan arang tempurung kelapa. Dimana, briket dengan komposisi campuran 0%:100% (ADK:ATK) dan 100%:0% (ADK:ATK) dijadikan sebagai rujukan kadar zat mudah menguap dari briket arang daun ketapang dan arang tempurung kelapa. Briket yang terbuat dari 100% arang tempurung kelapa memiliki kadar zat mudah menguap 26,6% sedangkan briket yang terbuat dari 100% arang daun ketapang memiliki kadar zat mudah menguap 39,26%. Briket campuran dengan komposisi 20%:80% (ADK:ATK) memiliki kadar zat mudah menguap paling rendah daripada briket campuran lain yaitu sebesar 32,47%. 5 Pengaruh variasi komposisi bahan baku terhadap kadar karbon tetap briket Parameter kadar karbon tetap digunakan untuk mengukur jumlah padatan yang dapat terbakar. Semakin besar kadar karbon tetap briket, semakin sedikit asap yang dihasilkan saat pembakaran sehingga kualitas briket yang dihasilkan akan semakin baik . Kadar Karbon Tetap (%) Kadar Abu (%) Kadar Zat Mudah Menguap (%) p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 0% : 20% : 50% : 80% : 100% : 100% 80% ADK : ADK : ADK : ADK : ADK : ATK ATK ATK ATK ATK Sampel Gambar 6. Grafik pengaruh variasi komposisi bahan baku pada kadar karbon tetap Pada Gambar 6, briket campuran dengan perbandingan komposisi 20%:80% (ADK:ATK) menghasilkan kadar karbon tetap paling tinggi dibandingkan dengan briket campuran lainnya. Dimana, briket dengan komposisi campuran 100%:0% (ADK:ATK) dan 0%:100% (ADK:ATK) merupakan rujukan kadar karbon tetap briket p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Densitas . /cm. 6 Pengaruh variasi komposisi bahan baku terhadap densitas briket Densitas suatu briket adalah hasil perbandingan massa dan volumenya. Briket dengan densitas yang tinggi akan memiliki kualitas baik karena partikel antar arang penyusun briket lebih rapat . , seeperti pada Gambar 7. 0% : 20% : 50% : 80% : 100% : ADK : ADK : ADK : ADK : ADK : ATK ATK ATK ATK ATK Sampel Gambar 7. Grafik pengaruh variasi komposisi bahan baku pada Briket dengan komposisi 100% arang tempurung kelapa menghasilkan nilai densias tertinggi sebesar 0,77 Pada briket dengan campuran komposisi 20%:80% (ADK:ATK) menghasilkan nilai densitas lebih rendah daripada briket campuran dengan komposisi 50%:50% (ADK:ATK). Seharusnya briket campuran dengan komposisi 20%:80% (ADK:ATK) menghasilkan nilai densitas tertinggi. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pencampuran bahan baku dan perekat tidak sama rata. Berdasarkan gambar 7. dapat diketahui bahwa semua sampel briket campuran belum memenuhi SNI 8966-2021. Densitas dipengaruhi oleh kerapatan sampel dimana pada proses pencetakan briket masih menggunakan alat cetak manual yang menggunakan tenaga manusia sehingga menghasilkan tekanan yang kurang maksimal dan berbeda pada setiap Hal ini dapat menyebabkan densitas briket tersebut belum memenuhi SNI 8966-2021. Pengaruh Variasi Kadar Perekat Terhadap Kualitas Briket Kadar perekat yang digunakan untuk menyusun briket adalah komponen tambahan yang dapat mempengaruhi kualitas briket selain bahan baku. Penelitian ini melibatkan tiga sampel briket dengan komposisi bahan baku yang serupa, namun dengan variasi kadar perekat yang berbeda. Komposisi bahan baku yang diterapkan pada ketiga sampel briket adalah 50% arang daun ketapang (ADK):50% arang tempurung kelapa (ATK) dengan variasi perekat 5%, 7% dan Pembuatan perekat dilakukan dengan mencampurkan tepung tapioka dan air dengan perbandingan 1:10 selanjutnya dipanaskan hingga membentuk lem . Hasil penelitian pengaruh variasi kadar perekat terhadap kualitas briket yang mengacu pada SNI 8966-2021 dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Pengaruh variasi kadar perekat terhadap kualitas briket Kadar Perekat Tepung ADK : Tapioka Parameter ATK Nilai Kalor (MJ/k. Kadar Air (%) Kadar Abu (%) Kadar Zat Mudah Menguap (%) Kadar Karbon Tetap (%) Densitas . /cm. 50%:50% 23,43 23,13 6,28 6,64 5,93 6,62 6,72 25,84 27,67 34,16 68,23 65,71 59,12 0,69 0,75 0,73 Pengaruh variasi kadar perekat terhadap nilai kalor briket Nilai kalor briket dipengaruhi oleh kadar perekat tepung tapioka yang menyusunnya. Semakin besar kadar perekat tepung tapioka yang menyusun briket, semakin kecil nilai kalor briket . , seperti pada Gamabr 8. Nilai Kalor (MJ/k. arang daun ketapang dan arang tempurung kelapa. Briket yang terbuat dari 100% arang daun ketapang memiliki kadar karbon tetap yang lebih tinggi daripada briket yang terbuat dari 100% arang tempurung kelapa. Perekat Tepung Perekat Tepung Perekat Tepung Tapioka 5% Tapioka 7% Tapioka 9% Sampel Gambar 8. Grafik pengaruh kadar perekat pada nilai kalor Briket dengan kadar perekat 5% memiliki nilai kalor tertinggi 23,43 MJ/kg, sementara briket dengan kadar perekat 9% memiliki nilai kalor terendah 22 MJ/kg. Semakin rendah kadar perekat tepung tapioka yang menyusun suatu briket, nilai kalor yang dihasilkan briket tersebut semakin Ketiga sampel briket dengan variasi kadar perekat tersebut telah memenuhi SNI 8966-2021 kategori Pengaruh variasi kadar perekat terhadap kadar air briket Perekat tepung tapioka memiliki kemampuan untuk mengikat air selama proses pembuatan briket. Dengan demikian, semakin banyak perekat yang dipakai, semakin banyak air yang dihasilkan oleh briket . Kadar Zat Mudah Menguap (%) Sampel Sampel Pada Gambar 9, briket dengan kadar perekat tepung tapioka 5% menghasilkan kadar air terendah 6,28% seperti yang ditunjukkan pada gambar 9. Sebaliknya, briket dengan kadar perekat tepung tapioka 9% menghasilkan kadar air tertinggi 6,64%. Ketiga sampel briket tersebut sudah memenuhi SNI 8966-2021 dan masuk kedalam kategori Pengaruh variasi kadar perekat terhadap kadar abu briket Perekat tepung tapioka mengandung pati kadar cukup tinggi yaitu 72,17%, sehingga apabila terbakar dapat menghasilkan banyak abu karena pati merupakan serat tumbuhan . Kadar Abu (%) Perekat Tepung Perekat Tepung Perekat Tepung Tapioka 5% Tapioka 7% Tapioka 9% Gambar 9. Grafik pengaruh variasi kadar perekat pada kadar air Perekat Tepung Perekat Tepung Perekat Tepung Tapioka 5% Tapioka 7% Tapioka 9% Gambar 11. Grafik pengaruh variasi kadar perekat pada kadar zat mudah menguap Pada Gambar 11, kadar zat mudah menguap dari ketiga sampel tersebut memenuhi SNI 8966-2021 kategori kelas 1, seperti yang ditunjukkan pada gambar 11. Briket dengan kadar perekat tepung tapioka 9% menghasilkan kadar zat mudah menguap tertinggi sebesar 34,16% dan briket dengan kadar perekat tepung tapioka 5% menghasilkan kadar mudah menguap terendah sebesar 25,84%. Semakin tinggi kadar perekat yang menyusun briket, semakin tinggi kadar zat mudah menguapnya . Pengaruh variasi kadar perekat terhadap kadar karbon tetap briket Kadar karbon tetap berbanding terbalik dengan kadar zat mudah menguap dan kadar abu, sehingga kadar karbon tetap yang lebih besar sebanding dengan kadar zat mudah menguap dan kadar abu yang lebih kecil. Perekat Tepung Perekat Tepung Perekat Tepung Tapioka 5% Tapioka 7% Tapioka 9% Sampel Gambar 10. Grafik pengaruh kadar perekat pada kadar abu Pada Gambar 10, semakin banyak kadar perekat tepung tapioka yang digunakan, semakin banyak abu yang Briket dengan kadar perekat tepung tapioka 5% menghasilkan kadar abu terendah yaitu 5,93%, sedangkan briket dengan kadar perekat tepung tapioka 9% menghasilkan kadar tertinggi yaitu 6,72%. Ketiga sampel tersebut memenuhi persyaratan SNI 8966-2021 kelas 1, seperti yang ditunjukkan pada gambar 10. Pengaruh variasi kadar perekat terhadap kadar zat mudah menguap briket Gambar 11 menunjukkan bagaimana perbedaan dalam jumlah perekat tepung tapioka berdampak pada kadar zat mudah menguap briket. Semakin banyak perekat yang dipakai, semakin tinggi kandungan zat mudah menguap dan briket mengeluarkan banyak asap saat dinyalakan . Kadar Karbon Tetap (%) Kadar Air (%) p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Perekat Tepung Perekat Tepung Perekat Tepung Tapioka 5% Tapioka 7% Tapioka 9% Sampel Gambar 12. Grafik pengaruh kadar perekat pada kadar karbon tetap Pada gambar 12, briket dengan kadar perekat tepung tapioka 5% menghasilkan kadar karbon tetap tertinggi sebesar 68,23%, seperti yang ditunjukkan pada gambar 12. Sebaliknya, briket dengan kadar perekat tepung tapioka 9% menghasilkan kadar karbon tetap terendah sebesar 56,12%. Kadar karbon tetap briket akan semakin rendah seiring dengan meningkatnya kadar perekat tepung tapioka. Parameter kadar karbon tetap dari ketiga sampel briket dengan variasi kadar perekat tepung tapioka tersebut telah memenuhi SNI 8966-2021 kategori kelas 1. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Pengaruh variasi kadar perekat terhadap densitas Pengaruh variasi kadar perekat terhadap densitas briket dapat dilihat pada gambar 13. Nilai densitas dipengaruhi oleh penambahan bahan baku karena meningkatkan massa dan volume briket sehingga ikatan antar partikel akan semakin meningkat . Densitas . /cm. Daftar Pustaka