Indonesian Journal of Educational Development Volume 2 Nomor 4. Februari 2022 DOI: 10. 5281/zenodo. _________________________________________________________________________ IMPLEMENTASI MODEL QUANTUM TEACHING REALITIC (QTR) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN MEDIA SAMPAH Hasan SMA Negeri 1 Pringgasela. Lombok Timur. Indonesia. hajihasanspd87@gmail. Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran Matematika pada materi peluang kejadian saling lepas dengan media sampah melalui penerapan model pembelajaran Quantum Teaching Realistic (QTR). Subjek dalam penelitian adalah pada siswa kelas XII IPA 3 SMA Negeri 1 Pringgasela Semester 2 tahun pelajaran 2020/2021 berjumlah 30 orang. Objek penelitian adalah hasil belajar. Data hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika dikumpulkan menggunakan tes. Data dianalisis menggunakan teknik deskripsi kualitatif. Penelitian dikatakan berhasil bila memenuhi kriteria: . nilai rata-rata tes akhir pembelajaran Matematika materi materi peluang kejadian saling kepas minimal sebesar nilai KKM=75, dan . ketuntasan klasikal minimal 80%. Hasil analisis data menunjukkan terjadi peningkatan hasil belajar siswa setalah adanya penerapan model pembelajaran QTR. Pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik sebesar 69,33 dengan ketuntasan belajar sebesar 60% sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan yang cukup signifikan dengan nilai rata-rata siswa sebesar 84,00 dan ketuntasan belajar minimal sebesar 83,33%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelaran QTR dengan media sampah pada materi peluang berhasil dan mendapatkan hasil yang Selain itu juga dengan adanya implementasi ini selain hasil belajar siswa yang meningkat teryata keaktifan serta motivasi siswa untuk belajar juga Kata kunci: Quantum teaching realistic, media sampah, hasil belajar Abstract. The purpose of this study was to improve student learning outcomes in Mathematics subjects on the material of opportunities for mutually exclusive events with waste media through the application of the Quantum Teaching Realistic (QTR) learning model. The subjects in the study were students of class XII IPA 3 SMA Negeri 1 Pringgasela Semester 2 for the academic year 2020/2021 totaling 30 The object of research is learning outcomes. Data on student learning outcomes in Mathematics were collected using tests. The data were analyzed using a qualitative description technique. The research is said to be successful if it meets the following criteria: . the average value of the final test of Mathematics learning material for the probability of passing each other is a minimum of KKM = 75, and . classical completeness is at least 80%. The results of data analysis showed an increase in student learning outcomes after the implementation of the QTR learning In the first cycle the average value obtained by students was 69. 33 with a learning completeness of 60%, while in the second cycle there was a significant increase with an average student score of 84. 00 and a minimum learning mastery of So it can be concluded that the application of the QTR learning model with waste media on the material has the opportunity to succeed and get satisfactory In addition, with this implementation, in addition to increasing student learning outcomes, it turns out that student activity and motivation to learn has also ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Onlin. ISSN 2722-3671 (Prin. Indonesian Journal of Educational Development, 2. , hlm. Februari 2022 Key words: Quantum teaching realistic, waste media, learning outcomes PENDAHULUAN Matematika merupakan salah satu ilmu yang penting dipelajari (Munawaroh et al. , 2. Matematika telah menjadi penopang utama dalam kehidupan ilmu pengetahuan selama beberapa dekade ini. Matematika juga awal mula ilmu pengetahuan lain seperti fisika, kimia, hingga ilmu-ilmu pengetahuan lainnya bisa tercipta. Lebih tepatnya, matematika juga menjadi bagian paling essensial dalam perkembangan ilmu pegetahuan dan teknologi hal ini disebabkan karena tidak ada satu cabang ilmu pengetahuan pun yang tidak melibatkan matematika. Menurut Rijal & Sere . menjelaskan hal tersebut dapat dipahami karena disamping mengenai pengetahuan matematika itu sendiri, juga matematika memberikan bahasa, proses, dan teori yang memberikan ilmu menjadi suatu bentuk dan kekuasaan. Jadi, pada dasarnya matematika memberikan suatu bahasa simbol yang digunakan dalam setiap ilmu pengetahuan baik sifatnya ilmiah maupun Matematika juga memiliki paradigma dasar yang berupa bentuk suatu objek dasar yang meliputi: . sebuah konsep yang berhubungan erat dengan definisi, definisi disini ungkapan suatu konsep, dengan adanya definisi orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang . Prinsip adalah hubungan antara berbagai objek dasar matematika yang berupa aksioma, teorema dan sifat. Operasi adalah pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar, dan pengerjaan matematika lainnya, seperti penjumlahan, perkalian, gabungan, irisan (Hasratuddin, 2. Objek dasar matematika ini menjadi bahan kajian matematika bagi setiap jenjang dalam pendidikan dan pembelajaran. Pada kenyataannya objek dasar abstrak matematika ini menciptakan suatu kesulitan dalam pembelajaran bagi siswa, terutama kesulitan dalam memahami suatu konseptual, kesulitan dalam memahami prinsipal objek kajian matematika (Tanjungsari et al. Yusmin, 2. Matematika juga memerankan peran penting dalam kehidupan sehari-hari manusia dan telah menjadi faktor yang sangat diperlukan untuk kemajuan dunia kita saat ini. Dahiya . menjelaskan sebagian besar siswa di kelas ingin mengetahui mengapa mereka harus mempelajari berbagai konsep matematika. Guru biasanya tidak dapat memikirkan penerapan dalam kehidupan nyata untuk sebagian besar topik matematika atau bahkan contoh yang Guru miliki berada di luar level siswa. Matematika umumnya dianggap sebagai mata pelajaran paling tidak digemari di sekolah, karena matematikan terdiri dari rutinitas, sulit, membosankan, misterius dan kalkulasi tidak relevan yang tidak ada hubungannya dengan penemuan dan Hal ini bisa dimungkinkan terjadi karena Matematika yang diajarkan di sekolah-sekolah lebih mengedepankan metode tradisional. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Onlin. ISSN 2722-3671 (Prin. Indonesian Journal of Educational Development, 2. , hlm. Februari 2022 Pembelajaran matematika yang telah dilaksanakan di Indonesia selama ini masih menggunakan metode yang dalam kategorinya bisa dikatakan Pola pengajaran tradisional ini berupa pengajaran satu arah dengan guru lebih aktif menjelaskan dan memberi informasi, kemudian guru tidak membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir dan kecerdasan interpersonal yang baik. Istilah tradisional juga ini merujuk pada pembelajaran yang masih berpusat pada guru atau teacher-centered. Widana et al. menyatakan bahwa guru harusnya dapat berperan penuh dalam pembelajaran seperti menjelaskan materi, memberikan tugas, dan lain-lain. Disini peran dan keaktifan peserta didik sangat kurang karena hanya mendengarkan penjelasan materi, kemudian mengerjakan apa yang guru perintahkan sehingga pembelajaran yang ada terkesan monoton dan Hal ini juga diperburuk dengan persepsi Guru matematika di Indonesia yang hanya berfokus pada materi matematika itu sendiri dan kurang mempertimbangkan proses berpikir murid itu sendiri (Wijaya et al. Kemudian, banyak faktor lain yang menyebabkan siswa kesulitan dalam mempelajari matematika, diantaranya, ketidakmampuan guru dalam menciptakan pembelajaran matematika yang menarik, belum melibatkan siswa secara aktif menjadikan pembelajaran tidak efektif dan menyebabkan siswa kurang bersemangat, cepat bosan untuk belajar matematika serta kurang tepatnya guru mengelola pembelajaran dan menerapkan metodologi (Waskitoningtyas, 2. Jadi, dari beberapa pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika lebih fokus pada kemampuan prosedural, komunikasi satu arah, pengaturan kelas monoton. Lebih lanjut lagi. Wijaya et al. menjelaskan bahwa siswa tidak hanya mengalami kesulitan pada pemahaman konsep dan materi matematika tetapi juga memiliki kekurangan dalam hal motivasi, kemudian kurang memperhatikan pembelajaran yang ada. Hal ini berarti faktor dari pribadi siswa juga menyebabkan tantangan dalam pembelajaran matematika. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan selama pembelajaran semester ganjil di kelas XII IPA SMA Negeri 1 Pringgasela Tahun Ajaran 2020/2021, permasalahan seperti yang telah dipaparkan di atas juga terjadi di kelas XII IPA. Hal ini diasumsikan dapat terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor, yakni diantaranya peserta didik kurang termotivasi untuk belajar karena pembelajaran yang masih bersifat monoton dalam hal tidak ada pergantian model ataupun metode pembelajaran selama 1 semester, kurangnya variasi model pembelajaran yang digunakan oleh guru, kecenderungan guru untuk model pembelajaran yang selalu mengutamakan metode ceramah dengan peserta didik sehingga peserta didik cenderung tidak aktif, kurang kreatif dan kurang terampil. Padahal seharusnya seorang guru harus kreatif dalam mengelola pembelajaran guna memaksimalkan potensi peserta didik (Setyowati & Widana, 2. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Onlin. ISSN 2722-3671 (Prin. Indonesian Journal of Educational Development, 2. , hlm. Februari 2022 Kemudian, pre-test atau tes awal juga telah dilakukan sebelum pelaksanakan tindakan ataupun treatment dari penelitian ini. Hal ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melihat kemampuan awal siswa tanpa adanya penggunaan metode yang akan digunakan dalam penelitian ini. Peserta didik telah diajarkan materi yang dipilih peneliti dalam peneitian ini dengan menggunakan metode tradisional. Materi tersebut adalah materi peluang kejadian saling lepas. Kemudian, diperoleh rata-rata nilai pada tes awal pembelajaran yakni 32,67 degan nilai tertinggi 80 dan nilai teredah 0 serta ketuntasan belajar yang hanya sebesar 10% dari kesuluruhan siswa. Dengan hasil ini mendeskripsikan bahwa sebelum pelaksanaan tindakan peserta didik hanya memiliki ketuntasan belajar sebanyak 10 persen saja sehingga dapat dikatakan bahwa peserta didik tidak paham dan tidak mengerti materi yang diajarkan. Selain itu dengan nilai 0 yang diperoleh juga memperlihatkan kemampuan dan pemahaman siswa terhadap materi yang bisa dikatakan sangat kurang dan memprihatinkan. Dari hasil yang telah diperoleh dapat disimpulkan bahwa peserta didik belum memahami konsep dalam materi peluang kejadian saling lepas. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut dan data awal yang didapat maka perlu adanya inovasi pembelajaran, sehingga peserta didik dapat dengan mudah memahami konsep matematika dalam materi peluang kejadian saling Hal ini akan terwujud melalui bentuk pembelajaran alternatif yang dirancang sesuai dengan kondisi peserta didik sehingga mencerminkan keterlibatan peserta didik secara aktif, dalam pembelajaran. Peneliti mencoba dengan menggunakan model pembelajaran quantum teaching dalam bentuk lebih detailnya adalah model pembelajarannya Quantum Teaching Realistic (QTR) dalam kelas XII IPA tersebut. Model quantum teaching menurut De Porter . adalah konsep yang menguraikan cara-cara baru dalam memudahkan proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan. Quantum Teaching menjadikan segala sesuatu berarti dalam proses belajar mengajar, seperti kata, pikiran, tindakan dan sampai sejauh mana mengubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran. Selain itu juga, model pembelajaran Quatum teaching mampu mengkondisikan suatu lingkungan belajar yang efektif dan efisien dengan menggunakan berbagai unsur yag ada pada siswa, seperti rasa ingin tahu dan lingkungan belajarnya melalui interaksi-interaksi yang terjadi dalam kelas (Prasetya, 2. Kemudian, kata realistik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna bersifat nyata atau bersifat wajar. Dan istilah quantum teaching realistic atau dengan kata lain pengajaran kuatuk realistik adalah bagaimana metode pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan media nyata dan metode nyata dalam pembeljaran yang memungkinka terciptanya interaksi interaksi peserta didik di dalam kelas. Dalam penelitian ini penggunaan media sampah yang ada disetiap sudut sekolah dalam pembelajaran matematika materi peluang kejadian saling lepas. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Onlin. ISSN 2722-3671 (Prin. Indonesian Journal of Educational Development, 2. , hlm. Februari 2022 Media sampah yang digunakan berupa sampah organik dan anorgaik yang ada disekitar sekolah yang tentunya akan dbersihkan dahulu sebelum Alasan penggunaan media ini adalah yang pertama sampah hal yang paling dekat dengan manusia. Sampah juga merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh manusia. Sampah-sampah ini terkadang tidak terkendali jumlahnya dan berbagai macam jenisnya. Oleh karena itu, pada materi peluang kali ini, peserta didik akan diajak untuk memikirkan serta mempetimbangkan bersama-sama mengenai masalah sampah ini apakah sampah ini dapat didaur uang kembali ataukah sampah yang mereka dapat dapat dimanfaatkan kembali. Menurut Mayudana & Sukendra . media yang digunakan dalam proses pembelajaran dapat membantu proses pembelajaran dan akan meningkatkan hasil atau prestasi belajar peserta Melalui model quantum teaching realistic (QTR) peneliti bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Mengunakan QTR serta dengan media sampah yang ada disekitar peserta didik membantu menciptakan suasana belajar yang nyata dan membantu siswa untuk mengeluarkan potensi yang dimilikinya, karena QTR membangkitkan rasa ingin tahu dan membangkitkan interaksi dengan lingkungan belajar siswa. Model pembelajaran ini juga menciptakan hubungan emosional yang baik karena mengaktifkan kedua fungsi belahan otak kanan ataupun kiri. Model ini juga dirasa mampu membantu peningkatan hasil belajar siswa menjadi lebih baik dengan mengkaitkan antara daya pikir dengan kondisi lingkungan yang dihadapi dan selanjutnya akan diolah menjadi sebuah karya yang berdaya guna bagi Sehingga peserta didik dapat melihat urgesi sampah baik itu sampah anorganik maupun orgganik dilingkungan hidupnya sebagai sesuatu yag dapat dimanfaatkan. Berpikir kritis siswa akan distimulasi menggunakan model ini. Oleh karena itu, peneliti memilih model quantum teaching realistic (QTR) dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA SMA Negeri 1 Pringgasela pada mata pelajaran Matematika pada materi peluang kejadian saling lepas dengan media sampah. METODE Penelitian tindakan kelas digunakan dalam penelitian ini yang pelaksanaannya terjadi dua siklus. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Pringgasela. Lombok Timur. Nusa Tenggara Barat. Dengan subjek penelitian adalah peserta didik kelas XII IPA 3 semester 2 tahun pelajaran 2020/2021 dengan jumlah peserta didik putra sebanyak 8 orang dan peserta didik putri sebanyak 21 orang. Objek penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa, akibat penerapan model pembelajaran Quantum Teaching Realistics atau model pembelajaran kuantum realistik. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan, yakni sebagai berikut. perencanaan, . pelaksanaan tindakan, . observasi dan evaluasi tindakan, dan . Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah aktivitas dan hasil belajar siswa dengan metode pengumpulan data yang berupa tes dan instrumennya ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Onlin. ISSN 2722-3671 (Prin. Indonesian Journal of Educational Development, 2. , hlm. Februari 2022 berupa soa-soal tes untuk hasil belajar dan pedoman observasi untuk aktivitas belajar siswa. Data dianalisis menggunakan teknik deskripsi Penelitian dikatakan berhasil bila memenuhi kriteria: . nilai ratarata tes akhir pembelajaran Matematika materi materi peluang kejadian saling kepas minimal sebesar nilai KKM=75, dan . ketuntasan klasikal minimal 80%. Hasil analisis data akan menunjukkan terjadi atau tidaknya peningkatan hasil belajar siswa setalah adanya penerapan model pembelajaran QTR. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi model belajar pembelajaran Quantum Teaching Realistic secara general mendapat respon positif dari siswa. Hal ini dapat diinterpretasikan dari kecenderungan meningkatnya keaktifan siswa yang secara tidak langsung berimplikasi terhadap peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Dalam setiap siklus penelitian ini dilaksanakan empat tahapan, yakni: . perencanaan, . pelaksanaan tindakan, . observasi dan evaluasi tindakan, dan . Setelah dijalankan tahapan tersebut diperoleh data tentang aktivitas dan hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran matematika peserta didik kelas XII IPA 3 SMA Negeri 1 Pringgasela. Lombok Timur. Nusa Tenggara Barat pada semester 2 tahun pelajaran 2020/2021. Terkait dengan data hasil belajar siswa dari tahap pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 1. Berikut ini. Tabel 1. Data Hasil Belajar Matematika Data Nilai Pra Siklus Siklus I Siklus II Nilai Rata-Rata 32,67 69,33 Nilai Tertinggi Nilai Terendah Ketuntasan Belajar 83,33% Kegiatan penelitian ini diawali dari kegiatan pra siklus sebagai bahan refleksi Dalam kegiatan pra siklus ini pembelajaran dilaksanakan secara nilai rata rata siswa yang pada tes awal hanya 32,67 dengan ketuntasan belajar yang hanya 10 % dan siswa ada mendapatkan nilai 0 yang artinya sama sekali tidak ada jawabannya. Dapat dikatakan bahwa peserta didik belum memahami konsep dalam materi peluang kejadian saling lepas, hal ini sebagai akibat monotonnya guru dalam pembelajaran termasuk kurangnya variasi guru dalam pmbelajaran. Dengan permasalahan tersebut maka dijadikan refleksi awal untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan menerapkan model quantum teaching realistic (QTR) dengan media sampah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA SMA Negeri 1 Pringgasela pada mata pelajaran Matematika pada materi peluang kejadian saling lepas. Pada siklus I, tindakan yang diberikan pada kompetensi dasar mendeskripsikan dan menentukan peluang kejadian majemuk . ejadian saling lepa. dilakukan selama 3 kali tatap muka. sebelum datang ke kelas siswa sudah diminta terlebih dahulu utuk mengumpukan sampah baik ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Onlin. ISSN 2722-3671 (Prin. Indonesian Journal of Educational Development, 2. , hlm. Februari 2022 sampah anorganik dan organik yang ada dilingkungan rumah mereka dan memasukkannya ke dalam kotak, kemudian ketika pembelajaran dimulai siswa bekerja secara berkelompok untuk menyelesaikan lembar kerja serta siswa diminta untuk presentasi ke depan guna mempresentasikan idenya untuk penanggulangan sampah di daerah tempat tinggal, setelah itu siswa mulai berdiskusi mengenai materi peluang, seperti berapa peluang terambilnya sampah daun dari kotak ataupun berapa banyak terambilnya sampah plastik dari kotak dan seterusnya, ketika selesai pengerjaan lembar kerja siswa aka melaksanakan tes secara mandiri. Hasil yang diperoleh pada siklus I adalah hasil belajar siswa pada siklus I berupa nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 69,33 dengan ketuntasan belajar sebesar 60% dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 20, ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa ada peningkatan walaupun belum Ketuntasan belajar total belum tercapai, sebab siswa yang mendapatkan nilai lebih dari atau sama dengan 75 belum mencapai 80%. Dalam siklus ini aktivitas belajar dan keaktifan siswa masih rendah, sehingga masih perlu ditingkatkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti: . siswa masih bingung dengan alur pembelajaran Quantum Teachig Realistic (QTR). ada beberapa siswa yang kurang fokus dan kurang memperhatikan dalam pembelajaran karena selama pelaksanaan tindakan pada siklus I cuaca sedang hujan. belum ada keberanian dari peserta didik dan masih ragu-ragu untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, karena banyak kelompok yang belum menyelesaikan soal lembar kerja siswa yang diberikan guru. Dalam hal ini guru harus berperan aktif dalam membimbing siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian kualitas pembelajaran Matematika materi peluang kejadian lepas pada siklus I masih perlu ditingkatkan. Namun pada siklus I telah ada peningkatkan keaktifan beberapa siswa dalam menyelesaikan tugas untuk dapat menguasai materi pelajaran. Kondisi ini dapat dijadikan indikator, bahwa penerapan model pembelajaran tersebut cukup efektif dalam rangka meningkatkan ketrampilan siswa dalam menyelesaikan masalah. Jika dilihat dari kriteria keberhasilan penelitian tindakan kelas ini, menunjukkan bahwa siklus I belum berhasil. Untuk itu, perlu penyempurnaan-penyempurnaan dalam penerapannya sehingga perlu dilanjutkan ke siklus II. Efek tersebut akan lebih signifikan terwujud dalam pembelajaran siklus II. Secara umum pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dapat dikatakan berjalan dengan Terkait dengan pelaksanaan Siklus II, diterapkan kompetensi dasar kompetensi dasar Mendeskripsikan dan menentukan peluang kejadian majemuk . ejadian saling lepas dan kejadian tidak saling lepa. dilakukan selama 3 hari tatap muka. Pelaksanaan siklus II ini tidak terlalu berbeda dengan siklus I hanya perbedaannya terletak pada siswa sudah memiliki sampah sehingga tidak erlu mencari kembali, kemudian untuk bagian presentasi ide penangguangan sampah siswa diminta untuk ikut berpikir bagaimana pemanfaatan sampah di lingkungan sekitar rumahnya dapat membawa manfaat ekonomi untuk masyarakat. Dalam penelitian tindakan ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Onlin. ISSN 2722-3671 (Prin. Indonesian Journal of Educational Development, 2. , hlm. Februari 2022 kelas pada siklus II diperoleh nilai rata-rata siswa sebesar 84. 00 dengan nilai terendah 60 dan nilai tertiggi 100. Dengan nilai ini berarti pesera didik mengalami kenaikan dari siklus I dan sudah memenuhi syarat KKM, untuk ketuntasan belajar sebesar 83,33% sudah mencapai kriteria yang sudah ditentukan yaitu 80%. Maka hal ini menunjukkan bahwa Indikator kinerja telah tercapai. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, yaitu: . adanya beberapa perbaikan dari kelemahan proses pembelajaran pada siklus I, yang dikomunikasikan peserta didik. siswa telah mempunyai pengalaman mengikuti model pembelajaran QTR pada siklus I dan diperdalam disiklus II sehingga peserta didik sudah mampu beradaptasi dengan suasana pembelajaran. adanya informasi mengenai penjelasan teknis serta kelemahan-kelemahan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran oleh guru, menyebabkan siswa menerapkan strategi tertentu sebagai bentuk antisipasi. penyampaian hasil belajar siswa baik secara individual maupun kelompok untuk meningkatkan motivasi siswa dalam berkompetensi untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Dapat dikatakan bahwa siklus II secara menyeluruh aktivitas yang dilaksanakan daam pembelajaran berjalan sangat kondusif dan baik. Selama pembelajaran berlangsung, siswa juga tidak hanya nyaman dengan penggunaan model pebelajaran ini namun juga siswa menjadi lebih aktif dalam bertanya dan juga mampu berpikir kritis terhadap penanggulangan sampah di sekitar mereka. Selain itu juga siswa dapat memahami materi peluang ini dengan lebih baik dan lebi cepat terbukti dengan pengerjaan soal pada silus II yang selesai lebih cepat dibandingkan dengan tes awal. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa penerapan model pembelajaran Quantum Teaching Realistic (QTR) pada pembelajaran Matematika materi peluang kejadian saling lepas dengan media sampah dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas XII IPA 3 SMA Negeri 1 Pringgasela pada semester 2 tahun pelajaran 2020/2021 sudah berjalan dengan baik, ini dapat dilihat dari peningkatan ketuntasan belajar secara klasikal dari sebesar 10% pada pra siklus menjadi 60% pada siklus I dan 33% pada siklus II. Selain itu aktivitas belajar peserta didik juga terus meningkat menjadi baik pada siklus II. Hal ini sudah sesuai atau memenuhi kriteria keberhasilan dimana ketuntasan belajar secara klasikal minimal sebesar 80%. Ini sesuai dengan pendapat Mayudana & Sukendra . bahwa media dan model yang dipergunakan guru dapat mempengaruhi proses belajar dan meningkatkan hasil belajar peserta didik. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Quantum Teaching Realistic (QTR) pada pembelajaran Matematika materi peluang kejadian saling lepas dengan media sampah dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas XII IPA 3 SMA ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Onlin. ISSN 2722-3671 (Prin. Indonesian Journal of Educational Development, 2. , hlm. Februari 2022 Negeri 1 Pringgasela pada semester 2 tahun pelajaran 2020/2021. Selain itu juga Quantum Teaching Realistic (QTR) mampu menstimulasi keaktifan siswa dalam bertanya serta berpikir kritis siswa lebih baik dengan menggunakan model pembelajaran ini. Ini dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar peserta didik serta ketuntasan belajar secara klasikal minimal sebesar 80% dapat dipeubhi sebesar 83. 33% serta aktivitas beklajar berjalan baik pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat direkomendasikan terkait penerapan model Quantum Teaching Realistic (QTR) dan pemanfaatan media sampah sebagai upaya memaksimalkan hasil belajar peserta didik terutamanya dalam mata pelajaran matematika termasuk juga pemanfaatan model dan media ini dalam upaya mengoptimalkan hasil belajar peserta didik. DAFTAR PUSTAKA