Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Gambaran Neuropati Diabetik Penderita Diabetes Melitus di Rumah Sakit X Jakarta Pusat Overview of Diabetic Neuropathy in Diabetes Mellitus Patients at Hospital X. Central Jakarta Fadhila Dyna Putri Maharani Iksir1. Lilian Batubara2. Eko Poerwanto3 Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia Corresponding author : lilian. rini93@gmail. KATA KUNCI Neuropati Diabetik. Usia. Jenis Kelamin. Terkontrol-tidaknya DM. Lamanya Menderita DM ABSTRAK Pendahuluan: Neuropati diabetik merupakan komplikasi umum pada pasien diabetes melitus yang dapat mempengaruhi kualitas Banyak faktor yang yang mempengaruhi timbulnya neuropati yaitu durasi menderita diabetes, terkontrol-tidaknya hemoglobin A1c (HbA1. , dan usia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana gambaran neuropati diabetik berdasarkan usia, jenis kelamin, terkontrol-tidaknya, dan lamanya menderita diabetes melitus pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit X Jakarta Pusat. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain cross Data yang dikumpulkan mencakup usia, jenis kelamin, durasi diabetes, dan kadar Hemoglobin A1c (HbA1. Data yang digunakan adalah data sekunder diperoleh dari data rekam medis populasi diabetes melitus pada poli penyakit dalam Rumah Sakit X Jakarta Pusat dan diolah menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan prevalensi neuropati pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit X Jakarta Pusat adalah sebanyak 1,68% dan prevalensi neuropati diabetik dari kejadian neuropati adalah 26,4%. Gambaran penderita neuropati diabetik adalah paling banyak terjadi pada perempuan dengan rentang usia 45-64 tahun, dengan kadar HbA1c tidak terkontrol (> 6,5%), dan durasi menderita DM selama < 2 tahun. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan prevalensi neuropati pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit X Jakarta Pusat adalah sebanyak 1,68% dan prevalensi neuropati diabetik dari kejadian neuropati adalah 26,4%. Kejadian neuropati paling banyak pada pasien perempuan dengan rentang usia 45-64 tahun, dengan kadar Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 HbA1c tidak terkontrol (> 6,5%), dan durasi menderita DM selama < 2 tahun. KEYWORDS Diabetic Neuropathy. Age. Sex. Control Status of DM. Duration of Suffering DM. ABSTRACT Background: Diabetic neuropathy is a common complication in patients with diabetes mellitus that can affect quality of life. Several factors influence the onset of neuropathy, including the duration of diabetes, control of hemoglobin A1c (HbA1. , and age. Objective: This study aims to describe diabetic neuropathy based on age, gender. HbA1c control, and the duration of diabetes in diabetes mellitus patients at Hospital X in Central Jakarta, and to review it from an Islamic Method: This is a descriptive-analytical study with a crosectional design. Collected data include age, gender, duration of diabetes, and hemoglobin A1c (HbA1. The data used are secondary data obtained from medical records of diabetes mellitus patients at the internal medicine clinic of Hospital X in Central Jakarta and processed using the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). Results: The study found that the prevalence of neuropathy among diabetes mellitus patients at Hospital X in Central Jakarta was 68%, and the prevalence of diabetic neuropathy among those with neuropathy was 26. Diabetic neuropathy was most prevalent among women aged 45-64 years, with uncontrolled HbA1c levels (>6. 5%) and a diabetes duration of less than 2 years. Conclusion: The study found that the prevalence of neuropathy among diabetes mellitus patients at Hospital X in Central Jakarta was 1. 68%, with a diabetic neuropathy prevalence rate of 26. 4% among neuropathy cases. Neuropathy occurred most frequently in female patients aged 45-64 years, with uncontrolled HbA1c levels (>6. 5%) and a diabetes duration of less than 2 years. PENDAHULUAN Neuropati penyakit neurodegeneratif pada sistem saraf tepi yang menargetkan akson sensorik, akson otonom, dan akson Durasi diabetes, dan kadar hemoglobin A1c (HbA1. merupakan prediktor utama neuropati diabetik. Faktor perkembangan neuropati diabetik adalah usia dan jenis kelamin. Pasien diabetes lebih sulit diobati jika sudah Dengan komplikasi neuropati diabetik dapat pengelolaan diabetes melitus. Untuk mengetahui gambaran klinis neuropati diabetik yang terjadi pada penderita diabetes melitus dan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya, maka dilakukan penelitian pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit X Jakarta Pusat. METODOLOGI Penelitian penelitian kuantitatif observasional deskriptif dengan desain cross sectional. Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Populasi dan sampel dari penelitian ini adalah semua pasien diabetes melitus dengan neuropati pada poli penyakit dalam Rumah Sakit X Jakarta Pusat pada periode April 2022 hingga Juni 2023 dengan kriteria inklusi. diabetes melitus yang mengalami pasien diabetes melitus yang mengalami penyakit neurologis selain Data digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari data rekam medis pasien diabetes melitus poli penyakit dalam Rumah Sakit X Jakarta Pusat dan diolah menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). HASIL Total jumlah rekam medis pasien diabetes melitus dengan neuropati yang terkumpul dalam penelitian ini sebanyak 53. Dari 53 pasien di atas terdapat 39 pasien mengalami gangguan neurologi lain yaitu hernia nukleus pulposus (HNP), carpal tunnel syndrome (CTS), dan epilepsi yang termasuk kriteria eksklusi pada penelitian ini. Sehingga jumlah total yang menjadi subjek penelitian ini adalah 14 orang. Hasil pengukuran neuropati diabetik berdasarkan usia, jenis kelamin, terkontrol-tidaknya, dan lamanya menderita DM sebagai Tabel 1. Distribusi pasien neuropati diabetik menurut usia Usia Frekuensi <25 tahun 25-44 tahun 45-64 tahun >64 tahun Tabel di atas menunjukkan bahwa kategori usia pasien diabetes melitus yang paling banyak adalah 4564 tahun yaitu sebanyak 10 . ,43%) Tabel 2. Distribusi pasien neuropati diabetik menurut jenis kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Laki-laki Perempuan Tabel di atas menunjukkan bahwa penderita diabetes melitus lebih banyak dialami oleh Perempuan dibanding laki-laki . ,43%:28,57%). Tabel 3. Distribusi pasien neuropati diabetik menurut terkontrol-tidaknya DM . adar HbA1. Terkontrol- Frekuensi tidaknya DM (Kadar HbA1. Terkontrol (< 6,. Tidak terkontrol (Ou 6,. Pada tabel di atas tampak bahwa . ,57%) termasuk kategori tidak terkontrol yang ditunjukkan oleh kadar HbA1c di atas 6,5. Tabel 4. Distribusi pasien neuropati diabetik menurut lamanya menderita Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Lama Menderita Frekuensi < 2 tahun 2-5 tahun > 5 tahun Usia Jenis HbA1c Kelamin Kelamin Correlation Sig. Pearson Correlation Sig. Tabel 5. Uji korelasi Pearson jenis kelamin dengan kontrol kadar HbA1c HbA1c Sig. Untuk melihat ada tidaknya hubungan antara variabel dilakukan uji korelasi Pearson antara variabel yaitu sebagai berikut: Pearson HbA1c Correlation Tabel di atas menunjukkan bahwa lama . pasien menderita diabetes melitus paling banyak adalah < 2 tahun sebanyak 6 orang dan lebih dari 5 tahun sebanyak 5 orang. Jenis Pearson Usia Dari hasil di atas, diperoleh nilai sig 0,862 yang menunjukkan bahwa kolerasi antara jenis kelamin dan kontrol kadar HbA1c tidak signifikan. Tabel 6. Uji korelasi Pearson usia dengan terkontrol-tidaknya diabetes melitus . adar HbA1. HbA1c Pearson Correlation Sig. Dari hasil di atas, diperoleh nilai sig 0,69 yang menunjukkan bahwa kolerasi antara usia dan terkontroltidaknya kadar HbA1c tidak signifikan. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pasien neuropati diabetik lebih banyak perempuan dibanding laki-laki . ,43%:28,57%). Umur penderita umumnya diatas 45 Sebagian besar penderita . ,57%) termasuk kategori tidak terkontrol dan lama . pasien menderita DM selama < 2 tahun dan > 5 tahun. Pada penelitian ini didapatkan bahwa usia dan jenis kelamin tidak berhubungan dengan kadar HbA1c. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya neuropati diabetik pada pasien diabetes melitus Usia Pada penelian ini didapatkan bahwa kelompok usia yang paling banyak menderita DM adalah 45-65 Sementara tidak ditemukan penderita dibawah 44 tahun. Penuaan komposisi tubuh yang menyebabkan Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 intoleransi glukosa, dan peningkatan risiko diabetes. Akibatnya, semakin banyak orang lanjut usia yang terkena Risiko seumur hidup terkena diabetes tinggi, mencapai 22,4% untuk wanita dan 18,9% untuk pria sejak usia 60 tahun. Diabetes pada usia lanjut resistensi insulin dan penurunan sekresi insulin. Peningkatan lemak visceral dikaitkan dengan peningkatan laju lipolisis yang menyebabkan tingginya kadar asam lemak bebas, yang berperan dalam mengurangi Pengurangan ketidakaktifan fisik dan, karena otot merupakan tempat utama konsumsi meningkatkan resistensi insulin. Sekresi insulin yang berkurang seiring bertambahnya usia dikaitkan dengan berkurangnya fungsi dan Penuaan juga dikaitkan dengan berkurangnya kadar dan fungsi peptide mirip glucagon 1 (GLP-. yang berfungsi meningkatkan sekresi insulin setelah makan (Holt & Flyvbjerg, 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Shamshirgaran et al pada tahun 2017 ditemukan bahwa pasien diabetes yang lebih tua juga memiliki persentase komplikasi yang lebih tinggi meskipun menunjukkan kontrol glikemik yang lebih baik. Hal ini diperkirakan karena kompleksitas manajemen diabetes di antara pasien yang lebih tua. (Shamshirgaran et al. , 2. Jenis Kelamin Pada penelitian didapatkan jumlah penderita neoropati diabetic perempuan 2 kali penderita laki-laki. Perbedaan gender dalam prevalensi diabetes menurut tahap kehidupan reproduksi adalah ada lebih banyak pria penderita diabetes sebelum masa pubertas sementara pada wanita ada lebih banyak penderita diabetes setelah usia menopause dan di usia tua. Neuropati diabetik, salah satu komplikasi kronis yang paling umum dan melumpuhkan dari penyakit diabetes, ditandai dengan spektrum luas perubahan fungsional dan proteiform, di antaranya neuropati perifer simetris distal adalah tipe yang paling umum. Wanita menunjukkan peningkatan risiko menderita gejala neuropati dengan nyeri, terutama yang bersifat algogenik dan nociceptif, dan gejala neuropati yang lebih sering terjadi seperti parestesia dan hilangnya sensasi pada kaki. (Ciarambino et al. Penelitian memberikan bukti bahwa wanita premenopause memiliki sensitivitas insulin otot rangka dan hati yang lebih tinggi dan sekresi insulin terstimulasi yang lebih tinggi sehingga nilai glukosa puasa dan HbA1c lebih rendah dibandingkan pria. Namun, pada masa menopause, tekanan darah, kolesterol LDL dan HbA1c meningkat seiring dengan perubahan dalam distribusi lemak tubuh, yang berkontribusi terhadap gangguan toleransi glukosa (IGT). Penelitian telah menunjukkan bahwa sebelum timbulnya diabetes tipe 2, wanita memiliki paparan dan beban yang lebih besar terhadap faktor risiko metabolik utama, seperti perubahan Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 yang lebih besar pada BMI, tekanan darah, glukosa puasa, dan lipid. Bukti perbedaan jenis kelamin dalam penyakit mikrovaskular masih sedikit dan inkonklusif. Pria dengan diabetes tipe 2 menunjukkan risiko neuropati sensorik lebih buruk daripada pria dengan normoglikemia, sementara ini tidak terbukti di antara wanita. Meskipun demikian, wanita dengan diabetes tipe 2 melaporkan nyeri neuropatik dan cedera saraf . yang lebih sering dan lebih besar daripada pria. (Kautzky-Willer et al. Terkontrol-tidaknya DM (Kadar Hba1. Pada penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar penderita neuropati diabetik merupakan pasien Hiperglikemi glukosa neuron hingga empat kali lipat. Jika hal ini terus-menerus terjadi, atau jika episode tersebut merupakan kejadian yang rutin, maka metabolisme glukosa intraseluler menyebabkan kerusakan neuron. Fenomena ini Hal konsekuensi serius dari diabetes jangka panjang, dan sindrom klinis ini disebut sebagai neuropati diabetik. (Tomlinson & Gardiner, 2. Kemudian, terdapat mekanisme stres oksidatif dan nitrosatif. Disfungsi endotel berkontribusi secara signifikan terhadap penyakit pembuluh darah diabetik, yang merupakan faktor neuropati perifer diabetik. Radikal O2Oe OHOe pembuluh darah dan berkurangnya vasodilatasi yang dimediasi NO. Penghambatan autoksidasi tingkat lanjut, sumber aminoguanidin dan khelator logam pemulung radikal bebas telah terbukti meningkatkan penurunan aliran darah endoneurial yang disebabkan diabetes dan meningkatkan disfungsi saraf seperti kecepatan konduksi saraf yang Diabetes Control Complications Trial (DCCT) dan United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS) yang berfokus pada diabetes tipe 1 dan tipe 2, masing-masing menunjukkan bahwa hiperglikemia merupakan faktor penyebab penting kerusakan saraf, terutama pada subjek dengan diabetes tipe 1. Namun, laporan/studi lain telah menunjukkan bahwa pengendalian glikemik yang baik memberikan sedikit manfaat terhadap neuropati perifer pada mereka yang menderita diabetes tipe 2 dan bukti terkini juga menunjukkan bahwa kerusakan serabut saraf kecil terjadi pada individu dengan gangguan hiperglikemia kronis dan diagnosis Dengan demikian, kondisi berkontribusi terhadap timbulnya dan diabetik pada subjek dengan diabetes (Tesfaye et al. , 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Hunaifi et al pada tahun 2021 ditemukan bahwa kadar HbA1c yang komplikasi neuropati. Pengendalian kadar glukosa sangat penting untuk mencegah dan mengurangi komplikasi akibat DM. Kadar HbA1c yang tinggi Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 dikaitkan dengan tingginya komplikasi mikrovaskular pada penderita DM. Pemantauan kadar HbA1c sangat penting untuk mencegah komplikasi DM lebih lanjut baik pada sistem saraf maupun organ lainnya. (Hunaifi et al. Kontrol glikemik dianggap Pedoman saat ini untuk manajemen diabetes di Jepang merekomendasikan kontrol glikemik yang ketat untuk perkembangan neuropati diabetik. Hal ini disebabkan karena fluktuasi glukosa berkontribusi lebih besar terhadap kerusakan DNA dan stres oksidatif, yang akan menyebabkan kerusakan sel hiperglikemia yang berkelanjutan. Hasil studi yang dilakukan oleh Nozawa et al pada tahun 2022 menunjukkan bahwa perkembangan atau perkembangan neuropati diabetik pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 dikaitkan dengan kadar HbA1c rata-rata 3 tahun, yang menunjukkan peran penting kadar HbA1c rata-rata jangka panjang, di antara berbagai parameter HbA1c, dalam neuropati diabetik pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2. (Nozawa et al. , 2. Lama Menderita Diabetes Melitus Pada penelitian didapatkan bahwa neuropati diabetik terajdi paling banyak pada pasien yang menderita DM sebelum 2 tahun dan setelah lebih dari 5 tahun. Diabetes mellitus yang telah terdiagnosis dalam jangka waktu penurunan fungsi sel beta pankreas. Komplikasi umumnya muncul pada pasien yang sudah didiagnosis DM selama 5 hingga 10 tahun. Penderita mengalami kerusakan jaringan akibat kadar glukosa darah yang tidak terkontrol secara berkelanjutan. Hal ini disebabkan oleh gangguan fungsi dan perubahan struktur pembuluh darah, yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke jaringan perifer. (Wayunah et al. , 2. Pada studi yang dilakukan di Etiopia Utara oleh Kebede et al. Dari total 463 peserta studi, 77 . ,63%), . % CI 13,23%, 20,03%) telah mengembangkan neuropati diabetik dengan 3716,71 orang-tahun (PY) Lebih dari setengah . ,95%) kejadian neuropati diabetik, terjadi dalam 6 tahun setelah diagnosis Penelitian mencatat bahwa risiko neuropati bertambahnya usia. Hal ini mungkin berkaitan dengan tiga perubahan utama yang berkontribusi pada diabetik, yaitu peradangan, stres oksidatif, dan disfungsi mitokondria, yang semuanya terkait dengan proses (Kebede et al. , 2. Pada penelitian yang dilakukan di Kab. Kuningan. Jawa Barat oleh Haris Munandar ditemukan bahwa penyakit diabetes melitus didapatkan paling lama 5-10 tahun. Terdapat hubungan yang signifikan antara lama menderita DM dengan keluhan neuropati diabetik. (Haris Munandar. Pada penelitian yang dilakukan oleh Pop-Busui et al, pasien dengan diabetes tipe 1 selama 5 tahun atau lebih dan semua pasien dengan diabetes tipe 2 harus dinilai setiap tahun untuk neuropati diabetik menggunakan riwayat medis dan tes Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 klinis sederhana. Hingga 50% pasien mungkin mengalami gejala neuropati polyneuropathy (DSPN), sedangkan Pasien mungkin tidak menunjukkan gejala penyelidikan terungkap bahwa mereka mengalami mati rasa atau gejala positif DSPN lainnya. Perkiraan insidensi dan prevalensi DSPN sangat bervariasi, tetapi bukti dari beberapa kohort observasional besar dan Diabetes Control and Complications Trial (DCCT) menunjukkan bahwa DSPN terjadi pada setidaknya 20% orang dengan diabetes tipe 1 setelah 20 tahun durasi Neuropati diabetik mungkin timbul pada setidaknya 1015% pasien yang baru didiagnosis dengan diabetes tipe 2, yang meningkat menjadi 50% setelah 10 tahun durasi (Pop-Busui et al. , 2. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pasien neuropati diabetik lebih banyak perempuan dibanding laki-laki . ,43%:28,57%). Umur penderita umumnya diatas 45 Sebagian besar penderita . ,57%) termasuk kategori tidak terkontrol dan lama . pasien menderita DM yang mengalami neuropati diabetik adalah < 2 tahun dan > 5 tahun. Pada penelitian ini didapatkan bahwa usia dan jenis kelamin tidak berhubungan dengan kadar HbA1c. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada dr. Lilian Batubara. Kes, sebagai dosen pembimbing atas bimbingan diberikan pada penelitian ini. Kemudian, terima kasih juga kepada Dr. Eko Poerwanto. Kes. AIFM selaku dosen penguji atas saran dan kritik yang Terakhir, peneliti ingin berterima kasih kepada Rumah Sakit X Jakarta Pusat atas kesediaan menjadi sumber dan tempat pengambilan data pada penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA