Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 The Invention: Journal Research and Education Studies is published three . times a year (March. July and Novembe. Focus : Education Management. Education Policy. Education Technology. Education Psychology. Curriculum Development. Learning Strategies. Islamic Education. Elementary Education LINK : https://pusdikra-publishing. com/index. php/jres Perencanaan Dan Pengelolaan Sarana Ibadah di SMP Dengan Keterbatasan Fasilitas Mushola Pipih SopiahA. Endin Mujahidin2. Ahmad Sastra3 1,2,3 Universitas Ibn Khaldun Bogor. Indonesia Kata Kunci ABSTRACT Sarana ibadah merupakan bagian penting dalam pembinaan karakter keagamaan siswa. Namun, tidak semua sekolah memiliki mushola yang memadai dari segi luas, kelengkapan dan kelayakan penggunaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan dan pengelolaan sarana ibadah di SMP Kemala Bhayangkari 3 Jakarta yang memiliki keterbatasan mushola, serta mengkaji strategi alternatif yang dilakukan sekolah untuk memastikan kegiatan keagamaan tetap berjalan Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa perencanaan sarana ibadah masih bersifat jangka pendek dan terbatas pada perawatan rutin, sementara pengelolaan belum sepenuhnya memenuhi standar kelayakan sarana dan prasarana pendidikan. Keterbatasan lahan menjadi hambatan utama dalam pengembangan mushola. Sebagai solusi, sekolah menjalin kerja sama dengan masjid warga di sekitar sekolah sebagai alternatif tempat pelaksanaan sholat berjamaah dan kegiatan keagamaan lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterbatasan sarana ibadah tidak menghambat program keagamaan sekolah selama didukung oleh strategi pengelolaan dan kemitraan yang efektif. Sarana Ibadah. Mushola Sekolah. Sarana Prasarana Pendidikan. Kegiatan Keagamaan Siswa Corresponding pipihsopiah@uika-bogor. Author: PENDAHULUAN Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai spiritual siswa. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan serta membentuk karakter dan peradaban bangsa yang bermartabat, termasuk membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembinaan karakter keagamaan di sekolah merupakan bagian penting dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 153-162 yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Salah satu faktor pendukung utama dalam pembinaan karakter keagamaan tersebut adalah tersedianya sarana dan prasarana ibadah, seperti mushola atau mesjid sekolah. Sarana ibadah di sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga sebagai media pembiasaan dan internalisasi nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari siswa. Keberadaan sarana prasarana pendidikan yang memadai berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan belajar yang kondusif dan bermakna bagi peserta didik(Mulyasa E, 2. Lingkungan yang mendukung praktik keagamaan secara berkelanjutan dapat membentuk pembiasaan keagamaan pada karakter siswa, terlihat diantaraya sikap disiplin, tanggung jawab, serta kesadaran spiritual siswa (Sukmah dkk. , 2. Oleh karena itu, sarana ibadah menjadi salah satu indikator penting dalam penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter religius. Lebih lanjut, keberadaan dan pemanfaatan sarana ibadah di sekolah perlu dikelola secara sistematis agar dapat memberikan kontribusi optimal terhadap proses Sarana ibadah yang tidak memadai, baik dari segi kelayakan fisik maupun kelengkapan fasilitas, berpotensi menghambat pelaksanaan kegiatan keagamaan dan pembinaan karakter keagamaan siswa (Barnawi & Arifin. Dengan demikian, sarana ibadah tidak dapat dipisahkan dari upaya sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan, khususnya pada aspek spiritual dan religius peserta didik. Perencanaan sarana ibadah merupakan tahap awal yang sangat penting dalam manajemen sarana dan prasarana pendidikan. Perencanaan yang baik berfungsi sebagai pedoman dalam penyediaan, pengembangan, dan pemanfaatan sarana ibadah agar sesuai dengan kebutuhan kegiatan keagamaan siswa serta tujuan pendidikan sekolah. Dalam konteks manajemen pendidikan, pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan tidak hanya berorientasi pada penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga mencakup perencanaan jangka panjang, pemeliharaan yang berkelanjutan, serta optimalisasi pemanfaatan sarana agar dapat mendukung pencapaian tujuan pendidikan secara efektif(Bafadal I, 2. Perencanaan yang tidak terstruktur dan bersifat sementara berpotensi menyebabkan sarana ibadah tidak berkembang dan kurang optimal dalam mendukung kegiatan keagamaan di Namun, pada sekolah dengan keterbatasan fasilitas, pengelolaan sarana ibadah sering menghadapi berbagai kendala diantaranya keterbatasan lahan, ruang, anggaran dan sumber daya manusia. Keterbatasan fasililitas dan ruang ibadah akan berdampak kepada keterlaksanaan kegiatan keagamaan seperti Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 153-162 sholat berjamaah, pembiasaan doa, pesantren kilat, maupun kegiatan pembinaan akhlak siswa(Mulyasa E, 2022. Barnawi & Arifin, 2. Apabila keterbatasan tersebut tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menjadi hambatan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembinaan karakter keagamaan siswa. Dalam kondisi demikian, diperlukan strategi pengelolaan yang adaftif agar keterbatasan tersebut tidak menghambat program kegiatan keagamaan. Salah satu bentuk strategi alternatif yang dapat dilakukan sekolah adalah menjalin kemitraan dengan pihak eksternal, seperti masjid atau mushola masyarakat sekitar. Kemitraan ini merupakan bentuk kerjasama antara sekolah dan lingkungan masyarakat yang bertujuan mendukung pelaksanaan program pendidikan, khususnya dalam bidang Suryosubroto . menyatakan bahwa kerja sama sekolah dengan masyarakat merupakan bagian dari manajemen berbasis sekolah yang berfungsi memperluas dukungan sumber daya pendidikan. SMP Kemala Bhayangkari 3 Jakarta merupakan salah satu sekolah yang menghadapi keterbatasan fasilitas ibadah. Keterbatasan lahan menjadi hambatan utama dalam pengembangan sarana ibadah secara fisik, kondisi ini menuntut pihak sekolah untuk melakukan perencanaan dan pengelolaan sarana ibadah secara adaptif agar kegiatan keagamaan tetap dapat dilaksanakan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan dan pengelolaan sarana ibadah di SMP Kemala Bhayangkari 3 Jakarta, serta mengkaji strategi yang diterapkan sekolah dalam menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan. Meskipun sekolah ini bukan sekolah berbasis keagamaan, namun memiliki komitmen yang kuat terhadap pembinaan karakter religius. Untuk mengatasi keterbatasan sarana ibadah, sekolah menjalin kerja sama dengan masjid warga yang berada di sekitar METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk mengeksplorasi strategi manajemen sarana prasarana pada lahan terbatas. Penelitian dilaksanakan di SMP Kemala Bhayangkari 3 Jakarta pada 5 Desember 2025. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive berdasarkan kriteria sekolah perkotaan dengan keterbatasan lahan namun memiliki program keagamaan yang aktif. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan kunci, meliputi Kepala Sekolah. Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana Prasarana. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), dan pengurus masjid mitra. Data sekunder dikumpulkan Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 153-162 melalui observasi lapangan terhadap kondisi fisik mushola dan dokumentasi aset sekolah. Untuk menjamin keabsahan data, peneliti melakukan triangulasi teknik dan sumber dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumen terkait (Sugiyono, 2018. Moleong, 2. Teknik analisis data dilakukan secara interaktif mengikuti model Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang mencakup tiga tahapan: . Kondensasi data . ata condensatio. untuk menyeleksi dan menyederhanakan data lapangan. Penyajian data . ata displa. dalam bentuk narasi deskriptif untuk melihat pola hubungan antar fenomena. Penarikan kesimpulan dan verifikasi . onclusion drawing/verificatio. untuk merumuskan temuan penelitian yang kredibel. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian, proses inventarisasi sarana dan prasarana sarpras keagamaan di SMP Kemala Bhayangkari 3 dilakukan secara Pendataan sarana ibadah pendukung seperti mukena, sajadah, dan Al-QurAoan dicatat ke dalam buku inventaris sekolah. Hal ini bertujuan agar seluruh fasilitas tetap terdata, terawat, dan memberikan manfaat maksimal bagi pengguna. Temuan ini sejalan dengan prinsip manajemen sarpras yang dikemukakan oleh Bafadal . , bahwa pencatatan yang tertib merupakan langkah awal dalam pengamanan dan pemeliharaan aset Pengelolaan yang dilakukan sekolah masih berada pada level pemanfaatan seadanya dan perawatan minimal. Hal ini dipengaruhi oleh tidak tersedianya lahan perluasan mushola serta minimnya anggaran khusus untuk sarana ibadah. Salah satu temuan kunci dalam penelitian ini adalah efektivitas komunikasi antara pihak sekolah dengan pengurus masjid warga sekitar yang terjalin secara baik dan intens. Karena keterbatasan prasarana internal, sekolah mengambil kebijakan kolaboratif dengan memanfaatkan masjid masyarakat. Penggunaan ini telah terjadwal secara teratur, meliputi kegiatan shalat Zhuhur berjamaah rutin, peringatan Hari Besar Islam (PHBI), hingga pelaksanaan pesantren kilat. Implementasi ini merupakan perwujudan dari strategi resource sharing atau berbagi sumber daya. Menurut Mulyasa . , kemampuan sekolah dalam membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat (School-Community Relation. adalah kunci keberhasilan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Melalui kemitraan ini, sekolah berhasil mengatasi keterbatasan ruang tanpa harus kehilangan momentum pendidikan karakter bagi siswa. Selain itu, interaksi langsung siswa di masjid warga menciptakan ekosistem belajar Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 153-162 yang riil, di mana siswa dapat mempraktikkan adab bermasyarakat secara langsung di tempat ibadah umum, yang memperkuat peran prasarana sebagai "laboratorium karakter" (Barnawi & Arifin, 2. Kerja sama dengan masjid warga menjadi langkah strategis yang efektif sehingga kegiatan keagamaan dapat tetap berjalan. Strategi kemitraan ini sejalan dengan konsep community involvement dalam pengembangan sarpras pendidikan, yaitu memanfaatkan sumber daya masyarakat untuk mendukung layanan Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah, diakui bahwa secara objektif kondisi sarana ibadah internal yang tersedia saat ini masih jauh dari sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Fasilitas yang ada belum mampu memenuhi kebutuhan ideal bagi seluruh siswa. Meskipun demikian, keterbatasan fisik tidak menghambat pihak sekolah dalam menyusun perencanaan kebutuhan ibadah siswa secara terstruktur. Kondisi tersebut dilatarbelakangi oleh komitmen kuat lembaga dalam mengembangkan aspek religius peserta didik melalui beragam program pembiasaan, pembacaan Al-QurAoan setiap hari, pembacaan surat Yasin setiap Jumat, serta setoran hafalan Al-QurAoan sebagai bagian dari agenda rutin Upaya pembinaan karakter keagamaan ini terbukti memberikan dampak positif yang pada perilaku siswa. Temuan di lapangan menunjukkan adanya peningkatan kedisiplinan dalam menjalankan sholat, terjaganya tata krama . , serta peningkatan kualitas bacaan Al-QurAoan Secara teoretis, hal ini memperkuat pandangan Barnawi & Arifin . bahwa prasarana pendidikan adalah "laboratorium karakter". Meskipun prasarana fisik di SMP Kemala Bhayangkari 3 terbatas. Manajemen sekolah dinilai mampu mengoptimalkan fungsi edukatif melalui pelaksanaan program habituasi yang berkesinambungan, sehingga proses internalisasi nilai-nilai religius dapat tercapai secara efektif. Keputusan strategis untuk menjalin kerja sama dengan masjid warga didasari oleh pertimbangan realistis terkait keterbatasan lahan sekolah. Kepala Sekolah mengungkapkan bahwa dalam rencana jangka panjang, belum terdapat agenda untuk membangun mushola atau masjid baru di dalam area sekolah karena ketiadaan ruang fisik yang memadai di lokasi saat ini. Kondisi geografis sekolah yang berada di lahan terbatas menuntut kreativitas manajerial agar program keagamaan tidak terhenti. Strategi ini sejalan dengan konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang menekankan pentingnya hubungan harmonis antara sekolah dan masyarakat (SchoolCommunity Relation. Menurut Mulyasa . , ketika sebuah institusi pendidikan menghadapi keterbatasan aset, maka jalan keluar yang paling Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 153-162 efektif adalah melalui resource sharing atau pemanfaatan sumber daya lingkungan sekitar. Dengan menjadikan masjid warga sebagai ekstensi dari sarana sekolah. SMP Kemala Bhayangkari 3 tidak hanya mengatasi masalah daya tampung, tetapi juga berhasil menjaga marwah pendidikan karakter tanpa harus terkendala oleh keterbatasan infrastruktur fisik permanen. Kemitraan ini menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan karakter lebih ditentukan oleh manajemen aktivitas dan komitmen pimpinan daripada sekadar kemegahan fasilitas sarana dan prasarana semata. Data hasil wawancara dengan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mempertegas kondisi ketimpangan antara prasarana dan jumlah pengguna. Dengan kapasitas mushola internal yang hanya mampu menampung sekitar 10 orang, terdapat kesenjangan yang sangat besar untuk melayani kebutuhan ibadah 400 siswa. Guna menyikapi keterbatasan ini, manajemen pembelajaran dilakukan secara kreatif dengan memanfaatkan teknologi dan ruang terbuka. Kegiatan pembiasaan membaca Al-QurAoan setiap pagi dilakukan di kelas masing-masing dengan bantuan panduan audio-visual melalui infocus, sementara kegiatan rutin Jumat memanfaatkan halaman Hal ini menunjukkan adanya upaya optimalisasi ruang multifungsi di tengah keterbatasan sarana permanen. Namun, untuk kegiatan yang bersifat massal dan membutuhkan kekhusyukan, ruangan yang luas tetap menjadi kebutuhan mendesak. Oleh karena itu, prosedur mobilisasi siswa ke masjid warga menjadi agenda rutin yang terstruktur. Guru PAI menjelaskan bahwa proses ini melibatkan koordinasi seluruh jajaran guru untuk menggiring dan mendampingi siswa secara tertib dari sekolah menuju masjid hingga kegiatan selesai. Pendampingan khusus dilakukan oleh guru PAI untuk memastikan aspek ibadah dan praktik keagamaan berjalan sesuai Strategi ini sejalan dengan teori Suryosubroto . yang menyatakan bahwa pemanfaatan fasilitas luar sekolah memerlukan manajemen pengawasan yang ketat agar tujuan pembelajaran tetap tercapai dalam lingkungan yang tidak terkontrol secara internal. Meskipun penggunaan masjid warga dinilai sangat membantu pelaksanaan ibadah dan praktik agama. Guru PAI mengidentifikasi adanya hambatan pada manajemen waktu istirahat, shalat, dan makan . Jarak tempuh dan kapasitas tempat wudhu di masjid mitra seringkali menyebabkan antrean panjang yang berimbas pada efisiensi waktu belajar. Solusi yang diterapkan adalah dengan memaksimalkan koordinasi antarguru pendamping dan melakukan penyesuaian jadwal secara dinamis. Dari sisi akuntabilitas sosial, pihak sekolah melakukan evaluasi secara berkala melalui diskusi dengan pihak pengurus masjid dan warga sekitar. Evaluasi Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 153-162 ini bertujuan untuk mendapatkan masukan mengenai perilaku peserta didik selama berada di tempat ibadah umum. Hal ini merupakan bentuk manajemen relasi sekolah-masyarakat yang positif untuk menjaga keberlanjutan kemitraan. Secara teoretis, keterlibatan warga dalam mengevaluasi siswa menciptakan ekosistem pendidikan karakter yang lebih luas, di mana kontrol sosial ikut berperan dalam membentuk moralitas siswa (Hafid & Amaly, 2. Sebagai rekomendasi ke depan. Guru PAI menekankan pentingnya sekolah untuk tetap mengupayakan penyediaan area khusus atau ruangan yang cukup luas untuk menjalankan program keagamaan secara mandiri di lingkungan sekolah. Hal ini bertujuan agar program pembiasaan karakter religius dapat berjalan lebih intensif tanpa terkendala hambatan teknis seperti manajemen waktu mobilisasi dan ketergantungan pada fasilitas luar. Temuan ini memberikan sinyal bagi manajemen sekolah untuk mempertimbangkan rekayasa ruang atau renovasi gedung yang lebih adaptif terhadap kebutuhan spiritual siswa meskipun di atas lahan yang terbatas. Untuk memvalidasi data manajemen kemitraan, peneliti melakukan wawancara dengan Takmir Masjid. Terungkap bahwa kerja sama ini telah terjalin sejak SMP Kemala Bhayangkari 3 memberlakukan jadwal masuk pagi bagi seluruh siswa. Secara administratif, kemitraan ini telah diperkuat melalui kesepakatan formal "hitam di atas putih" (MoU). Hal ini menunjukkan kepatuhan terhadap aspek legal-formal dalam pengelolaan sarana prasarana pendidikan sebagaimana ditekankan oleh Barnawi & Arifin . , di mana koordinasi penggunaan fasilitas luar sekolah harus didasarkan pada kesepakatan yang jelas guna menghindari konflik kepentingan. Pemanfaatan masjid mencakup kegiatan shalat berjamaah rutin, peringatan hari besar, hingga pesantren kilat. Dalam aspek teknis operasional, terdapat pengaturan jadwal yang adaptif. melaksanakan ibadah setelah jamaah warga selesai, sehingga tidak mengganggu hak ibadah masyarakat umum. Takmir masjid juga memberikan catatan positif bahwa siswa turut berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan masjid. Hal ini mengonfirmasi teori Bafadal . mengenai pentingnya sense of belonging . asa memilik. dan tanggung jawab pemeliharaan bersama dalam strategi resource sharing. Meskipun terdapat kendala teknis berupa antrean wudhu yang cukup panjang, pihak masjid memandang hal tersebut sebagai konsekuensi logis dari keterbatasan sarana air di tengah jumlah massa yang banyak. Namun, secara keseluruhan, pihak masjid berharap kemitraan ini tetap terjaga secara berkelanjutan. Dari sudut pandang sosiologis, kehadiran siswa di masjid warga dianggap memberikan nilai positif karena mampu "menghidupkan" suasana masjid Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 153-162 dengan aktivitas syiar Islam. Temuan ini menunjukkan adanya simbiosis mutualisme dalam manajemen sarpras. Sekolah mendapatkan solusi atas keterbatasan lahan, sementara masjid mendapatkan peran strategis sebagai pusat pendidikan karakter masyarakat. Sebagaimana dikemukakan oleh Hafid & Amaly . , penggunaan masjid oleh siswa menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih riil, di mana masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual tetapi juga sebagai laboratorium sosial tempat bertemunya institusi pendidikan dan masyarakat secara harmonis. Sinergi antara kebijakan sekolah dan dukungan formal dari pihak masjid membuktikan bahwa keterbatasan infrastruktur fisik sekolah bukan penghalang bagi pencapaian visi religius lembaga. Secara keseluruhan, temuan penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan prasarana ibadah di SMP Kemala Bhayangkari 3 Jakarta tidak menjadi penghalang bagi terlaksananya program pembinaan karakter religius siswa. Melalui strategi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang adaptif, sekolah berhasil mentransformasikan kendala keterbatasan lahan menjadi peluang kolaboratif melalui kemitraan strategis dengan masyarakat. Sinergi antara komitmen pimpinan sekolah, ketertiban administrasi inventaris oleh Wakasek Sapras, serta pendampingan intensif oleh Guru PAI menciptakan sebuah sistem pengelolaan yang solid. Validasi dari pihak Takmir Masjid yang didukung oleh kesepakatan formal (MoU) menegaskan bahwa model resource sharing ini bukan sekadar solusi sementara, melainkan sebuah bentuk integrasi pendidikan yang menciptakan simbiosis mutualisme antara institusi pendidikan dan lingkungan sosial sekitarnya. Meskipun tantangan teknis seperti manajemen waktu dan antrean wudhu masih memerlukan evaluasi berkelanjutan, dampak nyata pada kedisiplinan dan perubahan perilaku siswa membuktikan bahwa keberhasilan pendidikan karakter lebih ditentukan oleh kualitas manajemen aktivitas dan kekuatan kemitraan dibandingkan sekadar kemegahan fisik bangunan. Dengan demikian, model manajemen kolaboratif ini dapat menjadi referensi bagi sekolah-sekolah di wilayah perkotaan lainnya yang menghadapi tantangan serupa dalam optimalisasi sarana prasarana pada lahan yang Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 153-162 KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen sarana prasarana ibadah di SMP Kemala Bhayangkari 3 Jakarta pada lahan terbatas dilakukan melalui strategi Manajemen Kolaboratif dan Resource Sharing yang efektif. Meskipun secara internal kapasitas mushola sekolah sangat terbatas . anya mampu menampung 10 oran. , sekolah berhasil menjaga komitmen pembinaan karakter religius melalui pemanfaatan masjid warga sekitar yang didukung oleh kesepakatan formal (MoU). Poin-poin utama temuan penelitian meliputi: Efektivitas Inventarisasi: Pencatatan sarana ibadah telah dilakukan secara sistematis, namun masih memerlukan sinkronisasi yang lebih kuat dengan Rencana Kerja Sekolah (RKS) untuk menjamin pengadaan fasilitas yang lebih rutin dan berkelanjutan. Sinergi Operasional: Keterbatasan ruang diatasi dengan mobilisasi siswa yang terorganisir, di mana peran guru pendamping dan guru PAI menjadi kunci dalam menjaga ketertiban serta kekhusyukan ibadah di luar lingkungan sekolah. Simbiosis Mutualisme: Kemitraan dengan masjid warga tidak hanya menjadi solusi atas keterbatasan lahan, tetapi juga menciptakan ekosistem pendidikan karakter yang nyata. Pihak masjid menyambut baik kehadiran siswa karena dianggap menghidupkan syiar masjid, sementara sekolah mendapatkan akses prasarana yang memadai. Dampak Karakter: Strategi ini terbukti memberikan dampak positif pada kedisiplinan sholat dan peningkatan akhlak siswa, meskipun kendala teknis seperti manajemen waktu dan antrean wudhu masih menjadi tantangan yang perlu dievaluasi. Sebagai saran, sekolah perlu mempertimbangkan rekayasa ruang atau optimalisasi area multifungsi di masa depan untuk meminimalkan ketergantungan pada fasilitas luar, serta memperkuat koordinasi jadwal guna meningkatkan efisiensi waktu istirahat dan ibadah siswa. DAFTAR PUSTAKA